Rabu, 09 Oktober 2013

Khotbah Minggu 13 Oktober 2013 Yeremia 31: 31-34

Pendahuluan Yeremia dilahirkan di Anatot sekitar tahun 650 sM. Ia itu putera Imam Hilkia. Dalam tahun ke-3 pemerintahan raja Yosia (627) ia dipanggil menjadi nabi. Kata-kata kenabiannya yang terakhir diucapkan setelah hancurnya Yerusalem (587/586, bnd: Yeremia 44:1-30). Kata-kata kenabiannya tidak ada yang diucapkan pada kurun waktu antara tahun 622 dan 609 (tahun raja Yosia meninggal). Boleh jadi pembaharuan ibadat deuteronomis dipandangnya sebagai pemenuhan tuntutan-tuntutannya. Kita banyak diberitahu oleh Kitab Yeremia tentang keadaan para raja Yehuda yang terakhir, terlebih-lebih perihal pengepungan Yerusalem. Orang kerajaan Yehuda diancam dengan hukuman oleh Yeremia karena dosa-dosa mereka. Pandangan salah yang hidup dikalangan luas di tengah rakyat juga dikecamnya. Ditentangnya politik yang resmi. Ia juga berusaha, agar Zedekia (597-587) memutuskan untuk menyerah pada Babilon. Setelah kota Yerusalem direbut, Yeremia dibebaskan oleh orang-orang Masduk dan sahabatnya Gedalya dijadikan penguasa kota. Setelah Gedalya dibunuh, orang-orang Israel memaksa Yeremia untuk ikut pergi mengungsi. Dengan demikian berakhirlah berita-berita tentang Yeremia. -- Di dalam pengakuan-pengakuan atau monolog-monolognya (Yeremia 11:18-12:6; Yer 15:10-21; 17:12-18; 18:18-23; 20:7-18) Yeremia menunjukkan dirinya sebagai orang saleh dan peka atas sesuatu. Ia seorang yang jujur dan terbawa pada panggilan kenabiannya secara mutlak (Yeremia 16:1-9). -- Kitab-kitab yang dilakukan padanya adalah: 1.Kitab Yeremia 2. Surat Yeremia (Kitab Barukh, Deuteronanika). 3.Ratapan (1). Isi dan naskah. Corak khas dari tulisan Yeremia adalah hubungan "kata" kenabian yang dikaitkan dengan cerita-cerita. Beberapa di antaranya dibuat dalam bentuk-Aku. Kebanyakan dibuat dalam bentuk-dia. Menyolok sekali perbedaan bentuk naskah pada naskah Masorit. Bukan semua penghapusan dibebankan pada kesalahan-kesalahan terjemahan ataupun salinan. Sebab bagian dari penghapusan itu dibuat dengan sengaja. Adapun garis besar tradisi naskah Masorit adalah: (a) 1-39 mengungkapkan peristiwa sampai pada jatuhnya Yerusalem (Urutan kronologisnya: 1- 25; janji-janji hari depan: 26-35; penderitaan Yeremia : 36-39). (b) 40-45 mengungkapkan waktu-waktu berikutnya. (c) 46-51: Nubuat soal para bangsa asing. (d) Tambahan historis 52 (2 Raja 24:18-20; 25:21,27-30). Perbedaan-perbedaan corak, sifat serta sebagian theologi dari bagian perincian itu tergantung dari perbedaan berbagai-macam sumber. Menurut pandangan tradisionil dikatakan, bahwa kata-kata Yeremia dan catatan-catatan autobiografi Kitab itu dikumpulkan oleh --> Barukh (badingkan: bab 36). Para penyelidik modern membagi paraah Kitab itu dalam tiga sampai empat sumber (dengan tambahan-tambahan yang dilakukan di kemudian harinya). Keadaan yang pasti mengenai "naskah aslinya" tidak dapat ditetapkan secara tepat. Arti teologis Yeremia terutama terletak pada pengertian Tuhan yang jelas dan mirip dengan Hosea. Tuhan adalah mempelai pria bangsa murtad, yang dicintainya dengan kasih abadi. Rakhmat ditawarkanNya sebagai pengganti keadilan. Hubungan perjanjian yang biasanya lebih mudah dipandang yuristis diberi pengertian rokhani dan pribadi oleh Yeremia. Dalam keadaan demikian hubungan perjanjian tidak didasarkan atas suatu ikatan nasional, tetapi didasarkan pada ikatan pribadi dengan Tuhan. Perjanjian yang baru tidak mengenal perintah-perintah dan kewajiban-kewajiban, sebab isinya (mengenal Tuhan) tanpa batas seperti kasih itu sendiri yang tidak terbatasi. Penjelasan: “Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku” (Yer 31:33), demikian perjanjian dari Allah kepada umat terpilih, kepada kita semua umat beriman melalui nabi Yeremia. Aneka aturan dan tatanan hidup yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing ‘ada di dalam batin dan tertulis dalam hati’ kita, itulah yang diharapkan oleh Allah bagi kita semua, umat beriman, sehingga juga layak disebut sebagai umat Allah. Apa yang ada di dalam batin dan hati kita masing-masing pada saat ini? Keingingan pribadi atau bersama? Keselamatan jiwa atau penumpukan uang atau harbenda? Agar aturan atau tatanan ada dalam batin dan tertulis di hati kita masing-masing, hendaknya aneka aturan dan tatanan tersebut sering dibaca dan direnungkan, didiskusikan. Atau mungkin baik kita merenungkan dan meresapkan kata atau ayat dari Kitab Suci yang sungguh mengesan bagi, misalnya sabda Yesus hari ini “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagiKu, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia”. Bacakan berkali-kali entah untuk diri sendiri atau orang lain kutipan ayat di atas ini sampai anda sendiri atau orang lain entah membencinya atau terpesona olehnya, agar menjadi jelas apakah kita berpikiran seperti Allah, secara spiritual, atau hanya secara manusiawi belaka! Kami mendambakan anda akan terpesona oleh sabda tersebut dan kemudian menghayatinya dalam hidup sehari-hari, sehingga senantiasa dimanapun dan kapapun berpikiran secara spiritual, berpedoman pada keselamatan jiwa dalam cara hidup dan cara bertindak. Kami berharap rekan-rekan yang disebut sebagai ‘rohaniwan atau rohaniwati’ dapat menjadi teladan dalam hal berpikiran seperti Allah. “Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku! Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela! Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.” (Mzm 51:12-15) Walaupun Israel berkali kali melanggar perintah Tuhan,tetapi Allah melalui nabi Jeremia menubuatkan akan datang waktunya,Allah akan membebaskan mereka dan mengadakan perjanjian baru dengan Israel dan kaum Yehuda. Bukan seperti perjanjiantelah kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah mesir,dan perjanjian itu telah mereka ingkari. Allah mempertegas bahwa Israel telah gagal menepati janji mereka dengan Allah. BangsaIsrael yang telah menerima perjanjian di Gunung(taurat Musa),tapi tak henti hentinya bangsaIsrael melanggar hukum tersebut. Mereka meninggalkan Allah mereka dan pergi menyembah allah allah lain,menyembah berhala berhala yang dilarang oleh Allah. Namun demikian Allah tetap mengadakan pendekatan dengan Israel,dan sekali ini pendekatan yang dilakukan Allah dengan Israel adalah :Aku akan menaruh TauratKu dalam batin mereka,dan menuliskannya dalamhati mereka ;maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka menjadi umatKu. Perjanjian tersebut betul betul menjamin pengampunan sepenuhnya terhadap dosa dosa bangsa Israel,serta mengikat dan mempererat hubungan antara Allah dan bangsa Israel. Allah yang berinisyatif untuk mempedulikan Israel,karena Allah sangat mengasihi bangsaNya .Dia tidak mau kalau bangsaNya terus menderita,seperti orangtua yang baik,walaupun anaknya selalu melawan,tetapi orangtua sangat mengharapkan anak itu bertobat dari kejahatannya,orangtua pasti begitu sabar menunggu kapan anaknya bertobat.Karena orangtua tidak suka hidup anaknya menderita terus karena perbuatannya yang jahat. Apalagi kasih Allah kepada bangsaNya tentu lebih besar dari kasih orangtua kepada anaknya. Demikianlah harapan Allah kepada bangsaNya sangat berharap supaya bangsaNya patuh terhadap perintah Tuhan. Aku akan menaruh tauratKu dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati merereka, itu berarti Tuhan yang berinisyatif menanamkan Firmannya kedalam hati bangsaNya,sehingga bangsaNya patuh kepada perintahNya.Tuhan yang membuat firman itu berakar dalam hati bangsaNya sehingga bangsaNya patuh kepada undang undang Tuhan. Menuliskan dalam hati sehingga tetap dapat dibaca dan diingat akan perintah Tuhan itu.Firman Tuhan itu akan mendarah daging dalam kehidupan mereka. Perjanjian Baru telah digenapi yang di ikat dengan penebusan darah AnakNya Yesus Kristus.Perjanjian yang baru ini bukan hanya berlaku bagi bangsa Israel saja melainkan bagi semua yang percayakepadaNya. Kita semua yang telah ditebus oleh Yesus Kristus,tentu kita mengingat pengorbananNya yang begitu besar untuk kita,Dia mengasihi kita dengan kasih yang tiada bandingnya,Dia juga tetap setia terhadap kita,walaupun kita sering berbuat jahat melalui perbuatan,fikiran dan perkataan kita tetapi Allah tetap mengampuni kita.KasihNya dan kesetianNyakepada kita anak anakNya begitu luar biasa sehingga kita diampini dari dosa dosa kita. Sebagaimana bangsa Israel tadi berkali kali mereka melanggar perentah Allah,sebanarnya kita juga didalam perjalanan hidup kita sekarang ini demikian juga,mungkin bentuk pelanggaran itu yang berbeda,kalau dulu bangsa Israel menyembah berhala berhala,mungkin sekarang berhalanya dalam bentuk materi,jabatan dll. Perjanjian yang baru itu,memotivasi kita supaya kita berjuang melawan dosa dan mematuhi perentahTuhan sebagai jawaban iman percaya kita kepada Tuhan.Kita lebih bersemangat lagi untuk bersaksi tentang Kebaikan Tuhan didalam hidup kita. Lebih giat lagi memberitakan Firman Tuhan,dan menyatakan tidak allah allah yang lain yang kita sembah seyakatan Allah yang telah memilih kita menjadi anakNya. Amen

"Hiduplah di dalam Roh” Roma 8:1-10

Ada dua hal yang menghinggapi manusia yang saling bertentangan dan kedua kubu itu sangat bertolak belakang yakni antara Daging – Roh. 1. Daging menggambarkan manusia yang terikat, apabila dibiarkan manusia itu tidak dapat lepas dan tetap terikat, kalau dengan kemampuan sendiri manusia tidak akan mungkin dapat menolong dirinya. Ciri manusia yang hidup didalam keinginan daging adalah orang yang hanya mencukupkan diri dengan hidupnya yang hanya berpusat pada dirinya sendiri. Hidup dalam daging hanya berpusat kepada penghayatan hidup yang mengantar kepada kematian. Karena makna kematian, adalah merupakan pengasingan definitif dari Allah. Kematian adalah kekekalan berpisah dari Kasih Allah. Ciri kehidupan orang yang berorientasi pada keinginan daging adalah : tidak memerlukan Allah, tidak tunduk kepada seluruh perintah Allah, tidak ada ketaatan kepada Allah dan tidak memikirkan untuk menyenangkan hati Allah hidupnya untuk menyenangkan dirinya dan orang yang ada disekitarnya. 2. Roh menggambarkan pribadi yang terikat tetapi dipimpin oleh kekuatan yang memberi hidup yaitu Roh Allah. Manusia yang hidup didalam Roh Allah berpengharapan bahwa tiba saatnya ada kebangkitan dan yang membangkitkan semua manusia untuk dihakimi tetapi bagi yang mengenal Yesus akan bersama sama dengan Dia dalam kekekalan disebelah kanan Allah Bapa di surga. Konflik antara Daging dan Roh itu selalu terjadi walaupun kita sudah mengikut Yesus. Ada yang menyatakan bahwa bagi pengikut Yesus konflik antara daging dan roh akan hilang dan manusia hanya dipimpin oleh Roh Allah, pernyataan itu tidaklah benar. Mari kita perhatikan surat-surat Paulus penuh dengan indikasi perang rohani yang selalu terjadi dalam diri orang percaya. (lih. Rm7). Benar bahwa pada kenyataannya kegagalan demi kegagalan sering kita perbuat. Memang ada kemenangan yang tersedia bilamana kita memberi diri dipimpin oleh Roh Allah. 3. Apa makna “orang percaya dimpimpin oleh Roh Allah?” Dengan memberi diri kita dipimpin Roh, kita tidak hidup dibawah hukum Taurat artinya: Hukum Taurat tidak lagi mendakwa mereka yang dipimpin oleh Roh Kudus. Artinya selama kita dipimpin oleh Roh Kudus, hidup kita berkenan kepada Allah, bahkan sesuai dengan tuntutan hukum Taurat. Bukan karena kita tidak berbuat dosa tetapi karena kita tersembunyi didalam Kristus. Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh oleh tiap tiap orang percaya. (Rm 10:4) Dengan kata lain barang siapa yang ada didalam Kristus dia sudah menggenapi hukum Taurat. Karena itu Paulus didalam Rm 8:1 “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada dalam didalam Kristus.” Kuasa dosa sudah disingkirkan dari mereka yang dipimpin oleh Roh Kudus. Kutuk hukum Taurat telah diambil oleh Yesus Kristus di kayu salib, atau dengan kata lain selama kita dipimpin oleh Roh Kudus kita tidak perlu diombang ambingkan oleh dosa. Oleh sebab itu hidup kekristenan yang sebenarnya adalah hidup dalam kemenangan atas dosa. 4. Apakah ”keinginan daging” itu ? Kalau dilihat dari segi tingkah laku dan perbuatan manusia maka: Perbuatan daging adalah perbuatan yang nyata disaksikan semua manusia yang merefleksikan daging manusia yang keluar dari hati yang jahat sebagaimana manusia keturunan Adam. Bisa jadi perbuatan daging tidak sama pada semua orang namun demikian daging tetap daging apabila tidak dipimpin Roh Kudus. Malahan firman Tuhan justru sebaliknya, manusia jahat najis dari lahir dan juga akan mati dalam keadaan itu, kecuali ia bertobat dan menerima Roh Kudus. Atas dasar ini kita menolak ajaran humanisme yang mengajarkan bahwa pada dasarnya manusia itu baik. Mari kita perhatikan pada : Roma 5:12 “Sebab itu sama seperti dosa telah masuk kedalam dunia oleh satu orang (maksudnya Adam), dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.” Secara rinci Paulus menjelaskan ini di Gal 5:19-21: Paulus memberikan daftarPerbuatan Daging ada 15 point : Perbuatan2 Seks : 1. Percabulan , 2. Kecemaran , 3 Hawa nafsu Perbuatan2 Agamis :4. Penyembahan berhala 5. Sihir Perbuatan2 yang berhubungan dengan orang lain : 6. Perseteruan, 7. Perselisihan 8. Iri hati 9. Amarah 10. Kepentingan diri sendiri 11. Percideraan 12. Roh pemecah 13.Kedengkian Perbuatan2 Semberono:14. Kemabukan 15. Pesta pora, dan sebagainya. Dengan kata lain: Barang siapa melakukan hal-hal tersebut diatas membuktikan bahwa mereka dikuasai oleh daging, mereka belum menjadi milik Kristus yang dipimpin Roh Kudus dan tidak berhak menerima Kerajaan Allah. Kalau kita mau jujur maka kita semua akan gemetar atas hal itu karena dalam daftar tadi pasti ada yang yang menjadi pergumulan kita. Walaupun kita sudah menerima Yesus Kristus secara pribadi dan meyakini pengampunan dosa. Kita pernah gagal didalam perang melawan keinginan daging, masih ada kemenangan kalau kita mau kembali dipimpin oleh Roh, lain soal dengan mereka yang sengaja hidup didalam perbuatan-perbuatan daging sebagai kebiasaan yang tidak mau ditinggalkan. 5. Apakah ”keinginan Roh” itu ? Keinginan Roh diimputasikan kepada kita pada waktu kita dilahirkan kembali atau ketika kita mengaku bahwa pemilik kita adalah Yesus Kristus. Keinginan roh adalah kebalikan keinginan daging kita perhatikan Gal 5: ayat 24 : “ Barang siapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.” Tanda – tanda sesorang dipimpin oleh Roh Kudus adalah hubungannya yang baru dengan orang lain yakni janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki “ Tidak gila hormat, tidak saling menantang, tidak saling mendengki, artinya saling menanggung bebanlah kamu, saling hormat menghormatilah kamu, saling mendukunglah kamu, saling mengasihilah kamu. Apakah kita sudah mempunyai hubungan seperti ini ? Kalau kita sebagai anggota sudah berbuah Roh tentu persekutuan jemaat kita juga berbuah Roh, Gereja kita penuh dengan buah Roh. Apakah Gereja kita sudah penuh dengan buah Roh ? Dengan demikian apabila kita mau hidup dalam Roh yang menuntun kita melewati kehidupan tiba pada kematian didunia tetapi Yesus membangkitkan maka tidak bisa ditawar lagi bahwa: Kita harus menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Kitalah secara aktif melakukan penyaliban daging itu, kalau tidak kita lakukan maka buah-buah roh itu terhalang pertumbuhannya. Yesus berkata yang dicatat di Mrk 8:34. “ Setiap orang yang mau mengikut aku, ia harus menyangkal dirinya sendiri, memikul salibnya dan mengikut aku”. Pada zaman Tuhan Yesus hidup penjahat yang dihukum mati yang disuruh memikul salibnya sendiri sampai ditempat hukuman mati. Kematian di kayu salib adalah kematian yang mengerikan dan menyakitkan dan jarang langsung mati dan dilakukan bagi penjahat yang pengampunan hukumnya tidak ada lagi. Setiap pengikut Kristus harus melakukan persis seperti penjahat yang dihukum mati, memikul salib sampai diekskusi, dipakukan dibiarkan sampai mati. Bedanya penjahat dan kita adalah penjahat dipaksa oleh eksekutor, sedangkan kita atas kesadaran sendiri. 6. Apakah yang menjadi ”pegangan kita”saat ini ? Yang harus kita fahami dan pegang teguh adalah: Selama kita didunia ini kita akan selalu mengalami tarikan antara ”keinginan daging” dan ”keinginan Roh” yang saling berlawanan. Kemenangan masih tersedia bagi kita yang mau ”menyalibkan keinginan daging” berupa segala hawa nafsu dan kita membuka diri untuk ”didiami oleh Roh Kudus”. Tugas kita setiap hari mengambil waktu untuk merenungkan apa yang sudah dianugrahkan oleh Allah yang telah menjadi milik kita dan taatlah serta hiduplah menurutNya. Kalau memang benar kita sudah menyalibkan daging kita baiklah kita biarkan keinginan daging itu terpaku di kayu salib. Jangan lagi coba-coba untuk melepaskan paku-paku itu. Kalau kita merasa bahwa kita belum menyalibkan daging kita sekarang segeralah salibkan karena waktu Tuhan tidak sama dengan waktu kita. Oleh sebab itu kalau kita dicobai oleh iblis untuk melakukan kehendak daging kita harus berkata dengan tegas : “Aku ini milik Kristus, aku telah menyalibkan keinginan dagingku. Tak ada lagi pikiranku untuk menurunkannya dari salib itu” Kiranya Tuhan Yesus menguatkan kita melawan keinginan daging itu. Amin

Kamis, 19 September 2013

"Berdamai dengan Alam Berdamai dengan Tuhan"

Pendahuluan: Bumi telah memasuki babak baru yang menggelisahkan. Pemanasan global yang kini menjadi isu bersama yang menghentakkan sehingga kita dalam posisi penuh tanya. Apakah betul manusia diberi kuasa atas bumi? Berdamai dengan Alam,adalah satu bukti bahwa kita Berdamai dengan Pencipta-Nya Alam yang sekian tahun dikelola dan seperti “terkendali” di tangan manusia kini bergerak liar. Hujan, badai, erosi, longsor yang tidak terduga seperti mempertanyakan ulang hubungan manusia dengan alam. Apakah perintah Allah dalam Kej. 1:28b,“penuhilah bumi dan taklukanlah itu,” . Semuanya Baik Seharusnya orang Kristen pahami bahwa ketika menciptakan alam semesta, Allah melihat semuanya baik. Itulah kata kunci dari segala keluhan manusia. Dalam perkembangannya teologi Kristen menginterpretasikan dengan keliru. Kata kuasai dikonotasikan bebas untuk mengeksploitasi alam. Akibatnya melewati ambang batas ekosistem dan rusak. Tentang hal ini, ada dua hal yang perlu dimengerti. Zaman dahulu, kosa kata yang bisa diterjemahkan ke arah pelestarian belum ada. Yang kedua, dalam suasana yang masih utuh dan berlimpah terjadi kepicikan manusia yang kurang perduli. Sebetulnya, dalam Kej. 2:17, ketika Allah melarang manusia memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, Dia telah meletakkan dasar-dasar ilmu Ekologi. Bahwa ada sesuatu yang tidak boleh dilanggar. Kalau dilanggar ada akibatnya. Ternyata manusia melanggar dan kita semua merasakan akibatnya. Musuh Berbahaya Beberapa bulan belakangan ini banjir merendam sebagian wilayah Indonesia. Meski tidak sedahsyat beberapa tahun yang lalu. Ini harus disadari sebagai konsekuensi pelanggaran manusia. Mayoritas wilayah Indonesia berada dalam daerah tangkapan hujan. Seharusnya air yang turun dari atas, jatuh ke pohon. Energi kinetisnya yang turun dari atas melambat. Kemudian mengalir lewat batang dan turun masuk ke akar. Akar membantu menginfiltrasi air masuk ke dalam tanah. Infiltrasi itu masuk ke dalam perut bumi. Nah, seharusnya inilah yang terjadi. Akan tetapi, karena penebangan liar oleh manusia, tanah menjadi gundul. Air hujan yang turun mengalir di atas tanah. Karena debu-debu menutup pori-pori tanah. Sehingga penyerapan tidak terjadi. Dengan kecenderungan mencari tempat yang rendah terjadilah banjir. Proses hujan berlangsung begitu terus. Longsor, erosi, dan lain sebagainya yang ditimbulkan alam disebabkan oleh tangan manusia yang tidak mau melestarikan alam. Alam adalah sekutu manusia. Ditemani akan bersahabat, dijahati akan menjadi musuh. Bukan hanya berhenti sampai menjadi musuh, namun menjadi musuh yang berbahaya. Maka manusia harus berdamai dengan alam. Akal Budi Ketika manusia hidup dalam Tuhan, menuruti Alkitab sebagai aturan-Nya, akal budi yang dari Tuhan akan mengantarkan manusia untuk bijaksana memanfaatkan alam. Contohnya adalah Yusuf dalam Kej. 41. Putra kesayangan Yakub ini menghindarkan Mesir dan dunia pada masa itu dari kelaparan. Tujuh tahun masa berlimpah, Yusuf membangun gudang dan mengisinya dengan gandum di banyak tempat. Ketika musim kemarau tiba dan mencekik manusia, Yusuf sudah punya solusinya. Kembali ke awal penciptaan. Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. (Kej. 1:31b). Jangan melanggar! Terkait dengan konteks kita sekarang berdamai dengan alam harus kita lakukan. Berdamai dengan alam berarti juga berdamai dengan pencipta-Nya. Tuhan mau kita berdamai dengan alam, kita harus menghormati alam. Karena alam pun ciptaan-Nya. Alam ditaklukkan bukan untuk dihancurkan. Tetapi juga dikelola untuk manusia. Dan manusia bukan hanya kita, melainkan masih ada anak, cucu, dan keturunan kita. Seharusnya manusia bertanggung jawab mengelola yang Tuhan kuasakan kepada kita.

Selasa, 10 September 2013

Khotbah Minggu 29 September 2013 Matius 25:34-40 Thema: “Melakukan Kebajikan Bagi Orang yang Hina”

Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Ayat 40) Nats Khotbah kita ini seringkali dijadikan landasan atau dasar rujukan dalam mengingatkan dan mendorong orang kristen untuk melaksanakan perintah agung Tuhan Yesus yang kedua yakni mengasihi sesama manusia (Mat. 22:39). [Bagian ini (Mat. 25:31-46) menekankan bahwa Injil selalu berkaitan dengan berbagai implikasi sosial]. Dengan demikian, orang percaya mempunyai kewajiban untuk menunjukkan kepedulian sosialnya terhadap kaum yang kurang beruntung secara sosial dan ekonomi. Mereka yang berstatus sosial rendah karena dibelenggu oleh kemiskinan, berpendidikan minim sebab tidak ada biaya untuk membayar uang sekolah, kekurangan makanan dan minuman, yang hidup di gubuk reyot atau tuna wisma, menjadi pengangguran karena tidak ada kesempatan kerja, dan berbagai kondisi sosial mengenaskan lainnya adalah objek yang patut untuk merasakan kehangatan kasih kristiani secara konkret. Di manakah mereka? Ada dekat di sekitar kita! Namun kerapkali terlupakan dan terlewatkan oleh lawatan kasih para pengikut Kristus. Secara lebih spesifik, ayat yang dipakai untuk menggugah kesadaran sosial dan mengetuk pintu nurani orang kristen supaya tergerak melakukan tindakan kasih ialah ayat 40 yang berbunyi, “...sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (lihat juga ayat 45). Perkataan Kristus inilah yang menjadi titik tolak lahirnya penafsiran dari perspektif sosial. Di sini terbaca dengan jelas bahwa Tuhan Yesus mengidentikkan diri-Nya dengan mereka yang dililit oleh kekurangan (the needy). Bahkan realita yang lebih menggetarkan hati adalah kaum miskin ini telah diterima dan diakui sebagai saudara oleh Kristus sendiri. Pada saat sekarang ini, Tuhan Yesus adalah satu pribadi yang tidak terlihat secara lahiriah oleh mata jasmani kita. Tetapi itu tidak berarti Ia absen dalam dunia ini. Kristus tetap hadir, dan terlebih penting lagi Ia telah menampilkan kehadiran-Nya di dalam dan melalui keberadaan rakyat jelata yang hidupnya jauh berada di bawah garis kecukupan. Dengan jiwa yang dipenuhi oleh luapan pergolakan simpati sosial, Tuhan Yesus dapat merasakan kelaparan dan kehausan tatkala orang miskin menderita kekurangan makanan dan minuman untuk mempertahankan hidup mereka. Kristus menjadi orang asing yang tidak memiliki tempat berteduh dalam diri mereka yang “homeless” (tuna wisma). Ia juga menggigil kedinginan di tengah mereka yang tidak mempunyai selembar baju untuk menutupi ketelanjangannya. Yesus mengerang kesakitan di antara pribadi-pribadi yang sedang sekarat di rumah sakit atau tempat-tempat lainnya. Ia juga mengalami kesendirian yang sepi dan kesepian yang tersendiri pada diri orang-orang yang terhukum dalam penjara pengap karena ketidakadilan. Kenyataan pahit dan memilukan hati inilah yang dirasakan oleh Kristus dalam pengalaman pengidentikkan diri-Nya dengan golongan papah. Nyatalah bahwa Ia tidak hanya berkenosis untuk tujuan soteriologis melainkan juga demi untuk misi sosial, yaitu keberpihakan pada golongan yang diremehkan oleh dunia. Ayat-ayat dalam perikop ini, khususnya ayat 40 dan 45, nampaknya memiliki daya dorong psikologis yang kuat untuk menggedor pintu hati orang kristen agar terbuka, berkomitmen dan terlibat dalam tindakan nyata yang dapat meningkatkan harkat dan martabat kaum prasejahtera melalui perbaikan kondisi kehidupan mereka (pengentasan kemiskinan). Jika orang miskin yang hina karena berada pada posisi terendah menurut skala sosial masyarakat adalah saudara-Nya Kristus dan Ia menjadi akrab dengan pergumulan dan penderitaan mereka, apakah realita ini tidak cukup keras berbicara untuk membuat hati kita tersentuh dan mau berbuat sesuatu yang terbaik bagi-Nya? Benarkah kita sungguh-sungguh mengasihi Kristus? Kalau kita mengasihi Dia dengan segenap hati dan sepenuh jiwa, maka, akankah Dia dibiarkan menderita kelaparan dan kehausan? Masakan kita menelantarkan-Nya sebagai orang asing yang tidak punya tempat tinggal? Tegakah kita melihat-Nya gemetar kedinginan karena tidak berpakaian? Tidakkah kita akan melawat-Nya dengan pelayanan yang sebaik-baiknya? Seorang pengikut Kristus sejati pastilah memiliki kerinduan jiwa yang kuat untuk berusaha secara maksimal melakukan hal-hal yang terbaik dalam menyenangkan hati-Nya. Bagaimana caranya? Dengan menunjukkan caring terhadap saudara-Nya, yakni orang-orang miskin. Karena, melalui kenosis sosial-Nya, maka semua tindakan, perhatian dan kepedulian kita terhadap orang miskin pada hakikatnya adalah “…kamu telah melakukannya untuk Aku,” demikian kata Kristus. Namun, apakah hal-hal terindah dan terbaik sudah dialami oleh Kristus? Ternyata tidak! Karena masalah kemiskinan tetap menjadi fakta yang menyolok dalam realita kehidupan saat ini. Penutup: Sekalipun Tuhan telah berjanji kepada Nuh tidak akan mendatangkan air bah lagi, tetapi hujan lebat sering membuat beberapa daerah seakan tenggelam, ini menjadi satu tanda peringatan bahwa manusia semakin serakah dan tidak pernah merasa cukup. Melalui bencana2 itu Tuhan mempunyai maksud supaya kita berbagi kasih. Perhatian dan kepedulian kita sebagai orang percaya haruslah nyata kepada siapapun yang terkena musibah dan bencana. Dalam matius 25:34-40 "Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang disebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku". Ayat-ayat ini sedang berbicara kepada kita tentang kepedulian yang harus kita tunjukkan kepada sesama kita bahkan kepada orang-orang yang paling hina dan membutuhkan pertolongan. Kasih yang nyata lebih kuat dari ribuan khotbah tentang kasih. 1. Kasih dan bentuk kepeduliaan seperti apa yang diinginkan oleh Yesus? 2. Sudahkah saudara mempraktekkan jenis kasih ini dalam hidupmu? Dalam Yesaya 58:6-7 "Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdakakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa kerumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engaku melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!". Sudahkan kita mengasihi secara horizontal yaitu sesama manusia? Tuhan mau memperingatkan kita semua, tidak peduli yang belum bertobat ataupun anak Tuhan, supaya jangan serakah. Sekrang saatnya kita diberi kesempatan mempraktekkan kasih Tuhan yang ada dalam kita secara kongkrit yang dapat dilihat dunia. Doa: Tuhan Yesus, saya mau mengulurkan tangan saya dengan apa yang saya miliki untuk dibagi kepada mereka yang membutuhkannya. Amin

Minggu, 08 September 2013

Khotbah Minggu 22 September 2013 Kisras 4: 23-31 Thema: “Memberitakan Firman di Tengah2 Bangsa Yang Lain”

Pendahuluan: Para pengkritik Alkitab menyatakan bahwa mujizat adalah sesuatu yang tidak masuk akal, jadi tidak mungkin terjadi. Atau kalaupun terjadi, itu dulu. Sekarang mujizat sudah tidak dikerjakan Tuhan lagi. Tentu saja anggapan-angapan itu adalah anggapan kosong yang dibantah oleh banyak ayat di dalam Alkitab yang menegaskan tentang mujizat. Kita percaya bahwa mujizat masih berlangsung sampai akhir zaman. Bagaimana mujizat bisa terjadi? 1. FAKTOR KEMAHAKUASAAN ALLAH Dalam ayat 24 disebut tentang Allah yang “menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya.” Ini adalah pengakuan tentang kemahakuasaanNya. Ia tidak dibatasi oleh apapun untuk mengerjakan mujizatNya. Kalau Allah mahakuasa maka mustahil Ia tidak bisa melakukan mujizat. Sebaliknya, justru karena Ia mahakuasa, maka harapan kita akan mujizatNya tidak akan sia-sia. Ia melakukan mujizat yang kreatif. Ceritakanlah pengalaman tentang mujizat yang dibuat Allah dalam hidup Anda! 2. FAKTOR KERINDUAN MANUSIA Kemahakuasaan Allah akan termanifestasi dalam kerinduan manusia. Kerinduan kita muncul dalam dua hal: a. IMAN. Dalam pengajaran Yesus kepada murid-muridNya terdapat beberapa contoh tentang pentingnya iman. Seorang perempuan yang sembuh dari pendarahan, kesembuhan hamba seorang perwira, pohon ara yang kering, dan masih banyak hal lain; menegaskan bahwa mujizat terjadi jika manusia percaya dan beriman. Iman bukan saja masalah percaya, tetapi mempercayakan. Beban apakah yang sedang Anda hadapi? Sharingkan di dalam kelompok! b. DOA. Petrus dan Yohanes dalam nats ini menceritakan tentang pergumulan yang terjadi dalam kehidupan gereja mula-mula. Lalu mereka mengambil langkah untuk berseru kepada Allah di dalam doa. Dan doa yang mereka naikkan tersebut membawa hasil yang sangat luar biasa. Ketika umat-Nya berseru dalam doa, Allah turun tangan menyatakan jawaban-Nya. Kuasa itu turun saat mereka berdoa. Roh Kudus bekerja luar biasa, saat mereka tekun bersehati didalam doa saat itu Roh Kudus mencurahkan kuasaNya dan keberanian itu timbul, bukan saja keberanian tetapi juga tanda-tanda dan mujizat, sehingga banyak orang dijamah oleh kuasa tersebut dan mereka bertobat. Dalam Kisah Rasul 5:12-16, menuliskan betapa hebatnya kuasa yang bekerja didalam hidup mereka. Demikian juga dengan kita saat ini, Roh Kudus bukan sudah undur, tetapi tetap sama seperti saat pertama kali dicurahkan diatas loteng Yerusalem. KuasaNya tetap sama seperti sedia kala, tetapi bedanya sekarang sudah jarang umatNya yang sehati didalam doa (Yesaya 30:15). Seberapa penting doa, didalam pertemuan ibadah? Doa hanya sebuah hiasan disaat pembukaan liturgi ibadah dan penutup liturgi ibadah, segelintir orang ditugaskan berdoa dengan sebutan doa kawal. Apa yang dikawal? Bukankah pertemuan ibadah itu adalah pertemuan didalam doa-doa sehati? Dapatkah petemuan ibadah kita jaman ini membangkitkan kuasa Allah? Banyak umat Kristen memberitakan injil bukan dengan kuasa, tetapi dengan hikmat, ilmiah, masuk akal dan dengan cara-cara yang “smart”. Pernakah rasul-rasul dan Yesus mengajarkan memberitakan injil dengan cara hiburan? Mengadakan pertunjukan enterteiment untuk menarik hati anak manusia sehingga mau mengenal Yesus? Memewahkan tempat pertemuan sehingga menarik kaum tersesat? Memasukan hiburan dan selera muda untuk menjangkau orang muda? Bacalah 2 Timotius 2:22, kita malah diajarkan untuk menjauhi nafsu orang muda, tetapi sekarang gereja telah “dilengkapi” dengan nafsu orang muda, penuh dengan selera muda, nuansa club dan pub. Dapatkah semua itu menobatkan orang, membawa mereka didamaikan dengan Allah lewat Yesus Kristus? Hanya kuasa Roh Kudus yang dapat menjamah dan mengubah hidup seseorang. Ya hanya kuasaNya saja. Yesus bukan subtitusi hiburan duniawi, tetapi Yesus adalah jalan menuju kehidupan. Penutup/Kesimpulan Jangan pernah takut memberitakan Injil ini pesan moral yang kita dapatkan. Injil harus diberitakan, karena : • Perintah Tuhan Yesus (Mrk 1 : 17, Mat 28 : 19-20) • Keselamatan hanya ada dalam Yesus Kristus (Yoh 14:6; Kis 4:12) tugas setiap orang percaya untuk memberitakannya. • Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan (Roma 1: 16) • Penginjilan adalah focus pelayanan Kristus “Bersaksi sebagai gaya hidup“ Amen

Khotbah Minggu 15 September 2013 I TIMOTIUS 1:12-17 Thema: "Hidup yang Kekal"

PENDAHULUAN Kesaksian dan Injil Paulus (1:12-16). Terdiri atas dua bagian; (1) 12-14 dan (2) 15, 16. Kedua bagian ini kedudukannya sejajar dengan menekankan keadaan Paulus pra-pertobatan; dan kemudian di dalam masing-masing bagian titik balik dan kontrasnya dikemukakan dengan, “Tetapi aku telah dikasihani-Nya.” Doksologi yang dihayatinya dalam bagian Pendahuluan surat ini (ay. 17) tampil sebagai klimaks yang cocok dalam kesaksian Paulus ini. Ayat 13. Ganas. Orang yang bengis, angkuh, penuh angkara; si “pembenci Allah”. Ayat 14, 16. Aku dikasihani. Kembali Paulus menyajikan kontras yang dramatis di antara ketidaklayakannya dengan kemurahan Kristus, dengan tambahan karena itu yang menjelaskan kata agar: agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Renungan: Dalam renungan kita pada pagi ini, dijelaskan bahwa Paulus dalam kehidupannya, sebelum menerima Kristus penuh dengan dosa, kejahatan, menganiaya orang-orang Kristen, dan tidak percaya kepada Kristus (Kis. 8-1-3) I) Kristus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa (ay 15). 1) Ay 15 ini menunjukkan bahwa orang berdosa membutuhkan keselamatan, dan kalau tidak mendapatkannya, mereka akan terhilang / masuk ke neraka selama-lamanya! Disamping itu, secara tidak langsung 1Tim 1:15 ini menunjukkan bahwa kalau Yesus tidak datang ke dunia, maka umat manusia tidak akan bisa selamat. Penerapan: Jangan mencari jalan keselamatan di luar Kristus. Kalau mau selamat, datanglah dan percayalah kepada Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan. 2) Kristus datang untuk menyelamatkan orang berdosa, bukan orang baik (bdk. Mat 9:9-13). Sebetulnya, ditinjau dari standard Allah, yaitu Kitab Suci, tidak ada orang baik (Roma 3:10-12,23). Tetapi ada banyak orang, yang sekalipun berdosa, tetapi tidak merasakan dosa-dosanya. Orang seperti ini tidak bisa diselamatkan (bdk. Luk 18:9-14 Yoh 9:39-41). 3) Kata-kata ‘menyelamatkan orang berdosa’ (bdk. Mat 1:21) mencakup penebusan dan pengampunan dosa, dan juga pembebasan dari perbudakan dosa (Ro 7:24-25 Gal 5:1 Yoh 8:34-36 1Pet 2:24). II) Paulus ikut diselamatkan sekalipun ia yang paling berdosa. 1) Kejahatan / dosa-dosa Paulus. Kata ‘penghujat’ (ay 13a) menunjukkan bahwa ia dulunya mengucapkan kata-kata yang menghina Kristus; sedangkan ‘penganiaya’ dan ‘orang ganas’ (ay 13a) menunjukkan bahwa ia dahulu adalah seorang penganiaya dan bahkan pembunuh orang kristen (bdk. Kis 7:58 8:1a 9:1-2,5,13-14 22:3-5 26:4-12 Fil 3:6). 2) Sekalipun Paulus jahat, ia tidak sampai menghujat Roh Kudus. Kata-kata ‘semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman’ dalam ay 13b menunjukkan bahwa sekalipun Paulus menganiaya dan menghujat, tetapi ia tidak sampai menghujat Roh Kudus (bdk. Mat 12:31-32), karena ia melakukan semua itu tanpa pengetahuan, atau di luar iman. Bandingkan kata-kata ‘tanpa pengetahuan’ ini dengan: • Luk 23:34 - “Yesus berkata: ‘Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat’.”. • Kis 3:17 - “Hai saudara-saudara, aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena ketidaktahuan, sama seperti semua pemimpin kamu”. Dalam kasus Paulus ini, ketika ia melakukan penganiayaan, ia mengira bahwa ia sedang melayani Tuhan (Kis 26:9-10 bdk. Yoh 16:2). 3) Paulus mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang paling berdosa. Ay 15b: ‘dan di antara mereka akulah yang paling berdosa’. Macam-macam penafsiran tentang bagian ini: a) Paulus terlalu keras kepada dirinya sendiri. Ia menganggap dirinya adalah orang yang paling berdosa, padahal sebetulnya tidak demikian. Tetapi pandangan ini bertentangan dengan ‘infallibility of the Scripture’(= Ketidakbersalahan Kitab Suci). b) Aku termasuk dalam grup orang yang paling berdosa. Bdk. Kis 28:17 dimana kata ‘terkemuka’ di sana menggunakan kata Yunani yang sama. c) Kata-kata Paulus di sini merupakan suatu Hyperbole. Bandingkan dengan 2 Raja 17:10 yang juga merupakan suatu Hyperbole. Penafsiran ini sesuai dengan kata-kata ‘dan di antara mereka’ dalam ay 15b, karena kata ‘mereka’ menunjuk pada orang-orang yang diselamatkan oleh Kristus. 4) Sekalipun Paulus begitu jahat ia tetap diselamatkan (ay 13b,15,16a). III) Kalau Paulus bisa diselamatkan, kitapun bisa diselamatkan. Ay 16 menunjukkan bahwa Paulus telah menjadi contoh bahwa orang yang sangat berdosapun bisa diselamatkan asal mau datang kepada Yesus. Calvin berkata: ketika ia, yang dahulunya adalah binatang yang galak dan buas, diubah menjadi seorang Pendeta / Pelayan, Kristus memberikan pertunjukan yang luar biasa tentang kasih karuniaNya, dari mana semua bisa dibimbing untuk mempunyai kepercayaan yang teguh bahwa tidak ada orang berdosa, bagaimanapun mengerikan dan buruknya pelanggarannya, mendapati bahwa pintu gerbang keselamatan telah tertutup baginya) . Pikiran kita selalu terdorong untuk melihat pada kelayakan kita; dan begitu ketidak-layakan kita terlihat, keyakinan kita tenggelam. Karena itu, makin seseorang tertekan / tertindas oleh dosa-dosanya, biarlah ia dengan makin berani membawa dirinya sendiri kepada Kristus, bersandar pada doktrin / ajaran ini, bahwa Ia datang untuk membawa keselamatan bukan bagi orang benar tetapi bagi ‘orang-orang berdosa. Catatan: kata-kata ini tentu tak boleh diartikan bahwa M. Luther menyuruh kita sengaja berbuat dosa. Kalau diartikan demikian akan bertentangan dengan Rom 6:1-2. Maksudnya adalah: sekalipun kita adalah orang yang sangat berdosa, iman kepada Kristus bisa mengatasi semua itu, dan karenanya kita harus tetap bersukacita. Penerapan: apakah saudara menyedari bahwa diri saudara sangat berdosa? Jangan menganggap bahwa itu merupakan keadaan tanpa harapan. Kalau orang seperti Paulus bisa diselamatkan, maka saudara juga bisa, asal saudara mau datang kepada Yesus. Maukah saudara datang kepada Yesus? IV) Orang yang sudah diselamatkan. Paulus yang sudah diselamatkan ternyata berubah! Dari mana kita melihat hal itu? 1) Sekarang ada iman dan kasih (ay 14b). Kata ‘iman’ dalam ay 14 bertentangan dengan ‘ketidaktahuan’ dan ‘diluar iman’ dalam ay 13, dan kata ‘kasih’ dalam ay 14 bertentangan dengan kata ‘penganiaya’ dan ‘seorang ganas’ dalam ay 13. 2) Juga dari ay 12 terlihat bahwa Paulus melayani Tuhan (bdk. Gal 1:23) dan ia bahkan bersyukur karena pelayanan yang dipercayakan kepadanya! Penerapan: Ada banyak orang yang mengaku sebagai orang Kristen yang tidak mempunyai cerita pertobatan untuk diceritakan. Tentu saya mengakui fakta bahwa sebagian orang datang kepada Kristus pada masa kecil, sebagai anak-anak; dan mereka hanya mempunyai ingatan yang kabur / tak jelas, atau tidak ada sama sekali, tentang apa yang terjadi pada saat itu. Kita tidak boleh mengabaikan pertobatan mereka karena mereka tidak bisa memberikan cerita yang jelas tentang hal itu. ... Jika seseorang melewati masa kanak-kanak dan menjadi remaja atau dewasa tanpa menerima Kristus, dan lalu akhirnya diyakinkan oleh Roh Allah tentang dosa, kebenaran, dan penghakiman, dan ia berbalik kepada Tuhan dan mempercayaiNya sebagai Juruselamat, mereka harus mempunyai cerita pertobatan yang pasti / tertentu untuk diceritakan Dalam ay 17 Paulus memuji Tuhan. Pada umumnya orang kristen terlalu banyak meminta dan bersungut-sungut, tetapi kurang dalam memuji Tuhan, padahal sudah mendapatkan keselamatan. Marilah kita lebih banyak merenungkan keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita, dan juga ketidak-layakan kita untuk diselamatkan, supaya kita bisa lebih banyak bersyukur dan memuji Tuhan. Kesimpulan / penutup. Kalau saudara adalah orang yang belum diselamatkan, datanglah kepada Tuhan Yesus saat ini juga. Kalau saudara sudah diselamatkan, berubahlah, atau makin berubahlah, supaya hidup dan pelayanan saudara bisa lebih menyenangkan dan lebih memuliakan Tuhan. Amen.

Selasa, 13 Agustus 2013

Khotbah Minggu 08 September 2013. "Matius, 7: 15-23"

Nabi-nabi palsu ada di tengah jemaat Yesus berkata kepada para muridnya, "Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu." Orang-orang itu akan masuk ke tengah jemaat dengan memakai bulu domba. Namun di balik jubah domba itu, jauh di dalam hati mereka, mereka itu ganas dan kejam. Mereka ganas, rakus dan serakah sama seperti serigala. Dari luarnya para nabi palsu itu akan terlihat persis seperti domba. Jika Anda mengamati mereka di tengah kawanan domba, Anda tidak akan dapat membedakan mana domba dan mana serigala. Inilah hal yang menakutkan karena Anda tidak tahu bahwa di bawah jubah domba itu, mereka sebenarnya adalah serigala yang ganas. Seperti contoh klasik dari Yunani, mereka itu seperti kuda Troya yang berhasil menyusup ke dalam kota musuh. Dari luar, yang terlihat adalah sebuah patung kuda yang sangat besar dan tidak berbahaya. Penduduk kota menemukan kuda ini di luar pintu gerbang kota lalu membawanya masuk tanpa mengetahui bahwa di dalam patung itu bersembunyi pasukan musuh yang bersenjata lengkap. Demikianlah kota Troya akhirnya jatuh ke tangan musuh. Yesus telah mengingatkan kita bahwa, "Tidak semua yang terlihat seperti domba adalah domba." Alkitab menggambarkan orang Kristen sebagai domba. Jadi, jika Yesus berkata bahwa mereka terlihat seperti domba, itu berarti bahwa mereka terlihat benar-benar seperti orang Kristen. Yang paling menyedihkan adalah bukan hanya orang non-Kristen, tetapi orang Kristen sekalipun tidak dapat membedakan mereka. Karena itu, ketika domba palsu ini mengeluarkan taring serigala mereka dan mulai memangsa domba-domba yang lain, maka orang non-Kristen akan berkata, "Lihat apa yang dilakukan oleh kalian orang-orang Kristen." Bagaimana Anda dapat berkata kepada mereka, "Yang ini bukan orang Kristen tapi serigala"? Dari peringatan Yesus ini, kita dapat melihat bahwa musuh yang berada di luar itu tidak seberapa berbahaya dibandingkan dengan musuh yang berada di dalam jemaat. Terhadap serigala yang berada di luar, si gembala bisa bersiaga dan melindungi kawanan dombanya. Namun, biasanya, serigala yang berada di tengah kumpulan domba baru ketahuan setelah terlambat. Pada saat ketahuan, mereka sudah menelan beberapa domba. Tuhan Yesus menggambarkan para nabi palsu seperti domba yang halus dalam penampilannya, namun sesungguhnya keberadaannya sangat mengancam seperti serigala buas. Yang dimaksud dengan nabi palsu di sini adalah orang –orang yang mengaku diutus Tuhan, padahal sebenarnya tidak. Tuhan mengatakan bahwa untuk membedakan mana yang domba dan mana yang serigala adalah dengan memperhatikan buah yang dihasilkan dari tindakan/perkataan mereka. Sebab orang yang berasal dari Tuhan pasti akan menghasilkan buah yang baik, demikian pula sebaliknya. Bukan setiap orang yang berseru, Tuhan, Tuhan!, atau yang bernubuat demi nama Tuhan, mengusir setan demi nama Tuhan dan mengadakan banyak mujizat yang Tuhan cari, melainkan orang-orang yang melakukan kehendak Allah dengan taat, dengan takut akan Tuhan. Sehingga akhirnya hidup dan pekerjaan orang itu menghasilkan buah. Berkaitan dengan suasana pergantian tahun, renungan hari ini mengajak kita mengevaluasi hidup kita sebagai orang Kristen. Walau kita bukan nabi palsu, namun Tuhan tetap tidak menghendaki adanya kepalsuan-kepalsuan dalam hidup kita. Tuhan menginginkan adanya kekonsistenan antara iman kita dengan perkataan, pengajaran, dan tindakan ketaatan kepadaNya. Tuhan menghendaki hidup kita makin hari makin serupa dengan ‘pohonnya’ yaitu Tuhan sendiri. Kita tidak disebut orang Kristen karena kita hidup di keluarga Kristen/daerah Kristen, karena kita melayani di Paduan Suara atau kepanitiaan dan komisi, karena kita tidak melakukan kejahatan, melainkan karena kita adalah anak-anak Allah. Dan itu berarti hidup kita terus dalam peningkatan kualitas untuk mencerminkan karakter Allah. Renungkanlah dalam hal-hal apa hidup Anda masih nampak jauh dari keserupaan dengan Kristus, apakah itu dalam cara-cara Anda menyatakan kemarahan, dalam mendidik putra-putri Anda, dalam kejujuran Anda? Jawaban Anda menjadi PR Anda untuk seterusnya agar kelak ketika kita berdiri di penghakiman Allah, kita kedapatan apa adanya, tanpa ada kepalsuan di hadapanNya. Di mana ada nabi-nabi yang benar, di situ juga ada nabi-nabi palsu. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengingatkan agar waspada terhadap bahaya penyesatan dari nabi-nabi palsu. Ketika mereka berseru atas Nama Tuhan, mengusir setan dan melakukan mujizat demi nama Tuhan, orang yang melihatnya bisa dengan mudah tertipu. Ada nabi (hamba Tuhan) yang secara lahiriah tampak rohani dan benar, pada hal hatinya penuh dengan kemunafikan dan kedurjanaan (Mat. 23:28). Nabi yang menyamar layaknya seorang rasul Kristus, pada hal hati mereka dikuasai hawa nafsu, kebejatan, keserakahan, kepentingan diri sendiri. Yesus menggambarkan nabi palsu itu seperti domba dari luarnya, tetapi ternyata mereka adalah serigala yang sangat buas. Penampilan mereka tidak mudah dikenali, sehingga banyak orang yang terjebak, tertipu, dan disesatkan. Bagaimana kita mengenal nabi palsu dengan nabi yang sejati? Untuk membedakan mana domba dan mana serigala, adalah dengan memperhatikan buah yang dihasilkan melalui tindakan atau perbuatan mereka. Pohon dikenal dari buahnya. Pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik, dan pohon yang tidak baik akan menghasilkan buah yang tidak baik pula. Demikianlah nabi yang benar (yang berasal dari Allah) pasti akan menghasilkan buah yang baik, dan yang tidak berasal dari Allah akan menghasilkan buah yang tidak baik. Nabi yang sejati memberitakan Firman Tuhan dengan benar, bukan untuk mencari puji-pujian bagi dirinya, bukan pula untuk memperkaya diri sendiri, melainkan untuk puji-pujian dan kemuliaan bagi Allah. Yesus berkata: “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga”(ay.21). Banyak orang yang kelihatanya rajin, punya banyak aktivitas di gereja, rajin membaca firman Tuhan, aktif melayani, namun kelakuannya jauh dari kehendak Tuhan. Bahkan ada orang yang memanggil nama Yesus dan mengaku percaya kepada-Nya, namun kelakuanya tidak seperti orang yang percaya kepada Yesus. Kata-kata yang indah tidak menjamin perbuatan baik, tetapi iman yang sejati akan menghasilkan perbuatan-perbuatan yang baik (bnd. Gal 5:22). Tuhan tidak menghendaki adanya kepalsuan dalam hidup kita sebagai orang yang percaya kepada-Nya. Tuhan menginginkan adanya kekonsistenan antara iman kita dengan perbuatan. Amen