Kamis, 19 September 2013

"Berdamai dengan Alam Berdamai dengan Tuhan"

Pendahuluan: Bumi telah memasuki babak baru yang menggelisahkan. Pemanasan global yang kini menjadi isu bersama yang menghentakkan sehingga kita dalam posisi penuh tanya. Apakah betul manusia diberi kuasa atas bumi? Berdamai dengan Alam,adalah satu bukti bahwa kita Berdamai dengan Pencipta-Nya Alam yang sekian tahun dikelola dan seperti “terkendali” di tangan manusia kini bergerak liar. Hujan, badai, erosi, longsor yang tidak terduga seperti mempertanyakan ulang hubungan manusia dengan alam. Apakah perintah Allah dalam Kej. 1:28b,“penuhilah bumi dan taklukanlah itu,” . Semuanya Baik Seharusnya orang Kristen pahami bahwa ketika menciptakan alam semesta, Allah melihat semuanya baik. Itulah kata kunci dari segala keluhan manusia. Dalam perkembangannya teologi Kristen menginterpretasikan dengan keliru. Kata kuasai dikonotasikan bebas untuk mengeksploitasi alam. Akibatnya melewati ambang batas ekosistem dan rusak. Tentang hal ini, ada dua hal yang perlu dimengerti. Zaman dahulu, kosa kata yang bisa diterjemahkan ke arah pelestarian belum ada. Yang kedua, dalam suasana yang masih utuh dan berlimpah terjadi kepicikan manusia yang kurang perduli. Sebetulnya, dalam Kej. 2:17, ketika Allah melarang manusia memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, Dia telah meletakkan dasar-dasar ilmu Ekologi. Bahwa ada sesuatu yang tidak boleh dilanggar. Kalau dilanggar ada akibatnya. Ternyata manusia melanggar dan kita semua merasakan akibatnya. Musuh Berbahaya Beberapa bulan belakangan ini banjir merendam sebagian wilayah Indonesia. Meski tidak sedahsyat beberapa tahun yang lalu. Ini harus disadari sebagai konsekuensi pelanggaran manusia. Mayoritas wilayah Indonesia berada dalam daerah tangkapan hujan. Seharusnya air yang turun dari atas, jatuh ke pohon. Energi kinetisnya yang turun dari atas melambat. Kemudian mengalir lewat batang dan turun masuk ke akar. Akar membantu menginfiltrasi air masuk ke dalam tanah. Infiltrasi itu masuk ke dalam perut bumi. Nah, seharusnya inilah yang terjadi. Akan tetapi, karena penebangan liar oleh manusia, tanah menjadi gundul. Air hujan yang turun mengalir di atas tanah. Karena debu-debu menutup pori-pori tanah. Sehingga penyerapan tidak terjadi. Dengan kecenderungan mencari tempat yang rendah terjadilah banjir. Proses hujan berlangsung begitu terus. Longsor, erosi, dan lain sebagainya yang ditimbulkan alam disebabkan oleh tangan manusia yang tidak mau melestarikan alam. Alam adalah sekutu manusia. Ditemani akan bersahabat, dijahati akan menjadi musuh. Bukan hanya berhenti sampai menjadi musuh, namun menjadi musuh yang berbahaya. Maka manusia harus berdamai dengan alam. Akal Budi Ketika manusia hidup dalam Tuhan, menuruti Alkitab sebagai aturan-Nya, akal budi yang dari Tuhan akan mengantarkan manusia untuk bijaksana memanfaatkan alam. Contohnya adalah Yusuf dalam Kej. 41. Putra kesayangan Yakub ini menghindarkan Mesir dan dunia pada masa itu dari kelaparan. Tujuh tahun masa berlimpah, Yusuf membangun gudang dan mengisinya dengan gandum di banyak tempat. Ketika musim kemarau tiba dan mencekik manusia, Yusuf sudah punya solusinya. Kembali ke awal penciptaan. Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. (Kej. 1:31b). Jangan melanggar! Terkait dengan konteks kita sekarang berdamai dengan alam harus kita lakukan. Berdamai dengan alam berarti juga berdamai dengan pencipta-Nya. Tuhan mau kita berdamai dengan alam, kita harus menghormati alam. Karena alam pun ciptaan-Nya. Alam ditaklukkan bukan untuk dihancurkan. Tetapi juga dikelola untuk manusia. Dan manusia bukan hanya kita, melainkan masih ada anak, cucu, dan keturunan kita. Seharusnya manusia bertanggung jawab mengelola yang Tuhan kuasakan kepada kita.

Selasa, 10 September 2013

Khotbah Minggu 29 September 2013 Matius 25:34-40 Thema: “Melakukan Kebajikan Bagi Orang yang Hina”

Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Ayat 40) Nats Khotbah kita ini seringkali dijadikan landasan atau dasar rujukan dalam mengingatkan dan mendorong orang kristen untuk melaksanakan perintah agung Tuhan Yesus yang kedua yakni mengasihi sesama manusia (Mat. 22:39). [Bagian ini (Mat. 25:31-46) menekankan bahwa Injil selalu berkaitan dengan berbagai implikasi sosial]. Dengan demikian, orang percaya mempunyai kewajiban untuk menunjukkan kepedulian sosialnya terhadap kaum yang kurang beruntung secara sosial dan ekonomi. Mereka yang berstatus sosial rendah karena dibelenggu oleh kemiskinan, berpendidikan minim sebab tidak ada biaya untuk membayar uang sekolah, kekurangan makanan dan minuman, yang hidup di gubuk reyot atau tuna wisma, menjadi pengangguran karena tidak ada kesempatan kerja, dan berbagai kondisi sosial mengenaskan lainnya adalah objek yang patut untuk merasakan kehangatan kasih kristiani secara konkret. Di manakah mereka? Ada dekat di sekitar kita! Namun kerapkali terlupakan dan terlewatkan oleh lawatan kasih para pengikut Kristus. Secara lebih spesifik, ayat yang dipakai untuk menggugah kesadaran sosial dan mengetuk pintu nurani orang kristen supaya tergerak melakukan tindakan kasih ialah ayat 40 yang berbunyi, “...sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (lihat juga ayat 45). Perkataan Kristus inilah yang menjadi titik tolak lahirnya penafsiran dari perspektif sosial. Di sini terbaca dengan jelas bahwa Tuhan Yesus mengidentikkan diri-Nya dengan mereka yang dililit oleh kekurangan (the needy). Bahkan realita yang lebih menggetarkan hati adalah kaum miskin ini telah diterima dan diakui sebagai saudara oleh Kristus sendiri. Pada saat sekarang ini, Tuhan Yesus adalah satu pribadi yang tidak terlihat secara lahiriah oleh mata jasmani kita. Tetapi itu tidak berarti Ia absen dalam dunia ini. Kristus tetap hadir, dan terlebih penting lagi Ia telah menampilkan kehadiran-Nya di dalam dan melalui keberadaan rakyat jelata yang hidupnya jauh berada di bawah garis kecukupan. Dengan jiwa yang dipenuhi oleh luapan pergolakan simpati sosial, Tuhan Yesus dapat merasakan kelaparan dan kehausan tatkala orang miskin menderita kekurangan makanan dan minuman untuk mempertahankan hidup mereka. Kristus menjadi orang asing yang tidak memiliki tempat berteduh dalam diri mereka yang “homeless” (tuna wisma). Ia juga menggigil kedinginan di tengah mereka yang tidak mempunyai selembar baju untuk menutupi ketelanjangannya. Yesus mengerang kesakitan di antara pribadi-pribadi yang sedang sekarat di rumah sakit atau tempat-tempat lainnya. Ia juga mengalami kesendirian yang sepi dan kesepian yang tersendiri pada diri orang-orang yang terhukum dalam penjara pengap karena ketidakadilan. Kenyataan pahit dan memilukan hati inilah yang dirasakan oleh Kristus dalam pengalaman pengidentikkan diri-Nya dengan golongan papah. Nyatalah bahwa Ia tidak hanya berkenosis untuk tujuan soteriologis melainkan juga demi untuk misi sosial, yaitu keberpihakan pada golongan yang diremehkan oleh dunia. Ayat-ayat dalam perikop ini, khususnya ayat 40 dan 45, nampaknya memiliki daya dorong psikologis yang kuat untuk menggedor pintu hati orang kristen agar terbuka, berkomitmen dan terlibat dalam tindakan nyata yang dapat meningkatkan harkat dan martabat kaum prasejahtera melalui perbaikan kondisi kehidupan mereka (pengentasan kemiskinan). Jika orang miskin yang hina karena berada pada posisi terendah menurut skala sosial masyarakat adalah saudara-Nya Kristus dan Ia menjadi akrab dengan pergumulan dan penderitaan mereka, apakah realita ini tidak cukup keras berbicara untuk membuat hati kita tersentuh dan mau berbuat sesuatu yang terbaik bagi-Nya? Benarkah kita sungguh-sungguh mengasihi Kristus? Kalau kita mengasihi Dia dengan segenap hati dan sepenuh jiwa, maka, akankah Dia dibiarkan menderita kelaparan dan kehausan? Masakan kita menelantarkan-Nya sebagai orang asing yang tidak punya tempat tinggal? Tegakah kita melihat-Nya gemetar kedinginan karena tidak berpakaian? Tidakkah kita akan melawat-Nya dengan pelayanan yang sebaik-baiknya? Seorang pengikut Kristus sejati pastilah memiliki kerinduan jiwa yang kuat untuk berusaha secara maksimal melakukan hal-hal yang terbaik dalam menyenangkan hati-Nya. Bagaimana caranya? Dengan menunjukkan caring terhadap saudara-Nya, yakni orang-orang miskin. Karena, melalui kenosis sosial-Nya, maka semua tindakan, perhatian dan kepedulian kita terhadap orang miskin pada hakikatnya adalah “…kamu telah melakukannya untuk Aku,” demikian kata Kristus. Namun, apakah hal-hal terindah dan terbaik sudah dialami oleh Kristus? Ternyata tidak! Karena masalah kemiskinan tetap menjadi fakta yang menyolok dalam realita kehidupan saat ini. Penutup: Sekalipun Tuhan telah berjanji kepada Nuh tidak akan mendatangkan air bah lagi, tetapi hujan lebat sering membuat beberapa daerah seakan tenggelam, ini menjadi satu tanda peringatan bahwa manusia semakin serakah dan tidak pernah merasa cukup. Melalui bencana2 itu Tuhan mempunyai maksud supaya kita berbagi kasih. Perhatian dan kepedulian kita sebagai orang percaya haruslah nyata kepada siapapun yang terkena musibah dan bencana. Dalam matius 25:34-40 "Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang disebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku". Ayat-ayat ini sedang berbicara kepada kita tentang kepedulian yang harus kita tunjukkan kepada sesama kita bahkan kepada orang-orang yang paling hina dan membutuhkan pertolongan. Kasih yang nyata lebih kuat dari ribuan khotbah tentang kasih. 1. Kasih dan bentuk kepeduliaan seperti apa yang diinginkan oleh Yesus? 2. Sudahkah saudara mempraktekkan jenis kasih ini dalam hidupmu? Dalam Yesaya 58:6-7 "Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdakakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa kerumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engaku melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!". Sudahkan kita mengasihi secara horizontal yaitu sesama manusia? Tuhan mau memperingatkan kita semua, tidak peduli yang belum bertobat ataupun anak Tuhan, supaya jangan serakah. Sekrang saatnya kita diberi kesempatan mempraktekkan kasih Tuhan yang ada dalam kita secara kongkrit yang dapat dilihat dunia. Doa: Tuhan Yesus, saya mau mengulurkan tangan saya dengan apa yang saya miliki untuk dibagi kepada mereka yang membutuhkannya. Amin

Minggu, 08 September 2013

Khotbah Minggu 22 September 2013 Kisras 4: 23-31 Thema: “Memberitakan Firman di Tengah2 Bangsa Yang Lain”

Pendahuluan: Para pengkritik Alkitab menyatakan bahwa mujizat adalah sesuatu yang tidak masuk akal, jadi tidak mungkin terjadi. Atau kalaupun terjadi, itu dulu. Sekarang mujizat sudah tidak dikerjakan Tuhan lagi. Tentu saja anggapan-angapan itu adalah anggapan kosong yang dibantah oleh banyak ayat di dalam Alkitab yang menegaskan tentang mujizat. Kita percaya bahwa mujizat masih berlangsung sampai akhir zaman. Bagaimana mujizat bisa terjadi? 1. FAKTOR KEMAHAKUASAAN ALLAH Dalam ayat 24 disebut tentang Allah yang “menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya.” Ini adalah pengakuan tentang kemahakuasaanNya. Ia tidak dibatasi oleh apapun untuk mengerjakan mujizatNya. Kalau Allah mahakuasa maka mustahil Ia tidak bisa melakukan mujizat. Sebaliknya, justru karena Ia mahakuasa, maka harapan kita akan mujizatNya tidak akan sia-sia. Ia melakukan mujizat yang kreatif. Ceritakanlah pengalaman tentang mujizat yang dibuat Allah dalam hidup Anda! 2. FAKTOR KERINDUAN MANUSIA Kemahakuasaan Allah akan termanifestasi dalam kerinduan manusia. Kerinduan kita muncul dalam dua hal: a. IMAN. Dalam pengajaran Yesus kepada murid-muridNya terdapat beberapa contoh tentang pentingnya iman. Seorang perempuan yang sembuh dari pendarahan, kesembuhan hamba seorang perwira, pohon ara yang kering, dan masih banyak hal lain; menegaskan bahwa mujizat terjadi jika manusia percaya dan beriman. Iman bukan saja masalah percaya, tetapi mempercayakan. Beban apakah yang sedang Anda hadapi? Sharingkan di dalam kelompok! b. DOA. Petrus dan Yohanes dalam nats ini menceritakan tentang pergumulan yang terjadi dalam kehidupan gereja mula-mula. Lalu mereka mengambil langkah untuk berseru kepada Allah di dalam doa. Dan doa yang mereka naikkan tersebut membawa hasil yang sangat luar biasa. Ketika umat-Nya berseru dalam doa, Allah turun tangan menyatakan jawaban-Nya. Kuasa itu turun saat mereka berdoa. Roh Kudus bekerja luar biasa, saat mereka tekun bersehati didalam doa saat itu Roh Kudus mencurahkan kuasaNya dan keberanian itu timbul, bukan saja keberanian tetapi juga tanda-tanda dan mujizat, sehingga banyak orang dijamah oleh kuasa tersebut dan mereka bertobat. Dalam Kisah Rasul 5:12-16, menuliskan betapa hebatnya kuasa yang bekerja didalam hidup mereka. Demikian juga dengan kita saat ini, Roh Kudus bukan sudah undur, tetapi tetap sama seperti saat pertama kali dicurahkan diatas loteng Yerusalem. KuasaNya tetap sama seperti sedia kala, tetapi bedanya sekarang sudah jarang umatNya yang sehati didalam doa (Yesaya 30:15). Seberapa penting doa, didalam pertemuan ibadah? Doa hanya sebuah hiasan disaat pembukaan liturgi ibadah dan penutup liturgi ibadah, segelintir orang ditugaskan berdoa dengan sebutan doa kawal. Apa yang dikawal? Bukankah pertemuan ibadah itu adalah pertemuan didalam doa-doa sehati? Dapatkah petemuan ibadah kita jaman ini membangkitkan kuasa Allah? Banyak umat Kristen memberitakan injil bukan dengan kuasa, tetapi dengan hikmat, ilmiah, masuk akal dan dengan cara-cara yang “smart”. Pernakah rasul-rasul dan Yesus mengajarkan memberitakan injil dengan cara hiburan? Mengadakan pertunjukan enterteiment untuk menarik hati anak manusia sehingga mau mengenal Yesus? Memewahkan tempat pertemuan sehingga menarik kaum tersesat? Memasukan hiburan dan selera muda untuk menjangkau orang muda? Bacalah 2 Timotius 2:22, kita malah diajarkan untuk menjauhi nafsu orang muda, tetapi sekarang gereja telah “dilengkapi” dengan nafsu orang muda, penuh dengan selera muda, nuansa club dan pub. Dapatkah semua itu menobatkan orang, membawa mereka didamaikan dengan Allah lewat Yesus Kristus? Hanya kuasa Roh Kudus yang dapat menjamah dan mengubah hidup seseorang. Ya hanya kuasaNya saja. Yesus bukan subtitusi hiburan duniawi, tetapi Yesus adalah jalan menuju kehidupan. Penutup/Kesimpulan Jangan pernah takut memberitakan Injil ini pesan moral yang kita dapatkan. Injil harus diberitakan, karena : • Perintah Tuhan Yesus (Mrk 1 : 17, Mat 28 : 19-20) • Keselamatan hanya ada dalam Yesus Kristus (Yoh 14:6; Kis 4:12) tugas setiap orang percaya untuk memberitakannya. • Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan (Roma 1: 16) • Penginjilan adalah focus pelayanan Kristus “Bersaksi sebagai gaya hidup“ Amen

Khotbah Minggu 15 September 2013 I TIMOTIUS 1:12-17 Thema: "Hidup yang Kekal"

PENDAHULUAN Kesaksian dan Injil Paulus (1:12-16). Terdiri atas dua bagian; (1) 12-14 dan (2) 15, 16. Kedua bagian ini kedudukannya sejajar dengan menekankan keadaan Paulus pra-pertobatan; dan kemudian di dalam masing-masing bagian titik balik dan kontrasnya dikemukakan dengan, “Tetapi aku telah dikasihani-Nya.” Doksologi yang dihayatinya dalam bagian Pendahuluan surat ini (ay. 17) tampil sebagai klimaks yang cocok dalam kesaksian Paulus ini. Ayat 13. Ganas. Orang yang bengis, angkuh, penuh angkara; si “pembenci Allah”. Ayat 14, 16. Aku dikasihani. Kembali Paulus menyajikan kontras yang dramatis di antara ketidaklayakannya dengan kemurahan Kristus, dengan tambahan karena itu yang menjelaskan kata agar: agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Renungan: Dalam renungan kita pada pagi ini, dijelaskan bahwa Paulus dalam kehidupannya, sebelum menerima Kristus penuh dengan dosa, kejahatan, menganiaya orang-orang Kristen, dan tidak percaya kepada Kristus (Kis. 8-1-3) I) Kristus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa (ay 15). 1) Ay 15 ini menunjukkan bahwa orang berdosa membutuhkan keselamatan, dan kalau tidak mendapatkannya, mereka akan terhilang / masuk ke neraka selama-lamanya! Disamping itu, secara tidak langsung 1Tim 1:15 ini menunjukkan bahwa kalau Yesus tidak datang ke dunia, maka umat manusia tidak akan bisa selamat. Penerapan: Jangan mencari jalan keselamatan di luar Kristus. Kalau mau selamat, datanglah dan percayalah kepada Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan. 2) Kristus datang untuk menyelamatkan orang berdosa, bukan orang baik (bdk. Mat 9:9-13). Sebetulnya, ditinjau dari standard Allah, yaitu Kitab Suci, tidak ada orang baik (Roma 3:10-12,23). Tetapi ada banyak orang, yang sekalipun berdosa, tetapi tidak merasakan dosa-dosanya. Orang seperti ini tidak bisa diselamatkan (bdk. Luk 18:9-14 Yoh 9:39-41). 3) Kata-kata ‘menyelamatkan orang berdosa’ (bdk. Mat 1:21) mencakup penebusan dan pengampunan dosa, dan juga pembebasan dari perbudakan dosa (Ro 7:24-25 Gal 5:1 Yoh 8:34-36 1Pet 2:24). II) Paulus ikut diselamatkan sekalipun ia yang paling berdosa. 1) Kejahatan / dosa-dosa Paulus. Kata ‘penghujat’ (ay 13a) menunjukkan bahwa ia dulunya mengucapkan kata-kata yang menghina Kristus; sedangkan ‘penganiaya’ dan ‘orang ganas’ (ay 13a) menunjukkan bahwa ia dahulu adalah seorang penganiaya dan bahkan pembunuh orang kristen (bdk. Kis 7:58 8:1a 9:1-2,5,13-14 22:3-5 26:4-12 Fil 3:6). 2) Sekalipun Paulus jahat, ia tidak sampai menghujat Roh Kudus. Kata-kata ‘semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman’ dalam ay 13b menunjukkan bahwa sekalipun Paulus menganiaya dan menghujat, tetapi ia tidak sampai menghujat Roh Kudus (bdk. Mat 12:31-32), karena ia melakukan semua itu tanpa pengetahuan, atau di luar iman. Bandingkan kata-kata ‘tanpa pengetahuan’ ini dengan: • Luk 23:34 - “Yesus berkata: ‘Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat’.”. • Kis 3:17 - “Hai saudara-saudara, aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena ketidaktahuan, sama seperti semua pemimpin kamu”. Dalam kasus Paulus ini, ketika ia melakukan penganiayaan, ia mengira bahwa ia sedang melayani Tuhan (Kis 26:9-10 bdk. Yoh 16:2). 3) Paulus mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang paling berdosa. Ay 15b: ‘dan di antara mereka akulah yang paling berdosa’. Macam-macam penafsiran tentang bagian ini: a) Paulus terlalu keras kepada dirinya sendiri. Ia menganggap dirinya adalah orang yang paling berdosa, padahal sebetulnya tidak demikian. Tetapi pandangan ini bertentangan dengan ‘infallibility of the Scripture’(= Ketidakbersalahan Kitab Suci). b) Aku termasuk dalam grup orang yang paling berdosa. Bdk. Kis 28:17 dimana kata ‘terkemuka’ di sana menggunakan kata Yunani yang sama. c) Kata-kata Paulus di sini merupakan suatu Hyperbole. Bandingkan dengan 2 Raja 17:10 yang juga merupakan suatu Hyperbole. Penafsiran ini sesuai dengan kata-kata ‘dan di antara mereka’ dalam ay 15b, karena kata ‘mereka’ menunjuk pada orang-orang yang diselamatkan oleh Kristus. 4) Sekalipun Paulus begitu jahat ia tetap diselamatkan (ay 13b,15,16a). III) Kalau Paulus bisa diselamatkan, kitapun bisa diselamatkan. Ay 16 menunjukkan bahwa Paulus telah menjadi contoh bahwa orang yang sangat berdosapun bisa diselamatkan asal mau datang kepada Yesus. Calvin berkata: ketika ia, yang dahulunya adalah binatang yang galak dan buas, diubah menjadi seorang Pendeta / Pelayan, Kristus memberikan pertunjukan yang luar biasa tentang kasih karuniaNya, dari mana semua bisa dibimbing untuk mempunyai kepercayaan yang teguh bahwa tidak ada orang berdosa, bagaimanapun mengerikan dan buruknya pelanggarannya, mendapati bahwa pintu gerbang keselamatan telah tertutup baginya) . Pikiran kita selalu terdorong untuk melihat pada kelayakan kita; dan begitu ketidak-layakan kita terlihat, keyakinan kita tenggelam. Karena itu, makin seseorang tertekan / tertindas oleh dosa-dosanya, biarlah ia dengan makin berani membawa dirinya sendiri kepada Kristus, bersandar pada doktrin / ajaran ini, bahwa Ia datang untuk membawa keselamatan bukan bagi orang benar tetapi bagi ‘orang-orang berdosa. Catatan: kata-kata ini tentu tak boleh diartikan bahwa M. Luther menyuruh kita sengaja berbuat dosa. Kalau diartikan demikian akan bertentangan dengan Rom 6:1-2. Maksudnya adalah: sekalipun kita adalah orang yang sangat berdosa, iman kepada Kristus bisa mengatasi semua itu, dan karenanya kita harus tetap bersukacita. Penerapan: apakah saudara menyedari bahwa diri saudara sangat berdosa? Jangan menganggap bahwa itu merupakan keadaan tanpa harapan. Kalau orang seperti Paulus bisa diselamatkan, maka saudara juga bisa, asal saudara mau datang kepada Yesus. Maukah saudara datang kepada Yesus? IV) Orang yang sudah diselamatkan. Paulus yang sudah diselamatkan ternyata berubah! Dari mana kita melihat hal itu? 1) Sekarang ada iman dan kasih (ay 14b). Kata ‘iman’ dalam ay 14 bertentangan dengan ‘ketidaktahuan’ dan ‘diluar iman’ dalam ay 13, dan kata ‘kasih’ dalam ay 14 bertentangan dengan kata ‘penganiaya’ dan ‘seorang ganas’ dalam ay 13. 2) Juga dari ay 12 terlihat bahwa Paulus melayani Tuhan (bdk. Gal 1:23) dan ia bahkan bersyukur karena pelayanan yang dipercayakan kepadanya! Penerapan: Ada banyak orang yang mengaku sebagai orang Kristen yang tidak mempunyai cerita pertobatan untuk diceritakan. Tentu saya mengakui fakta bahwa sebagian orang datang kepada Kristus pada masa kecil, sebagai anak-anak; dan mereka hanya mempunyai ingatan yang kabur / tak jelas, atau tidak ada sama sekali, tentang apa yang terjadi pada saat itu. Kita tidak boleh mengabaikan pertobatan mereka karena mereka tidak bisa memberikan cerita yang jelas tentang hal itu. ... Jika seseorang melewati masa kanak-kanak dan menjadi remaja atau dewasa tanpa menerima Kristus, dan lalu akhirnya diyakinkan oleh Roh Allah tentang dosa, kebenaran, dan penghakiman, dan ia berbalik kepada Tuhan dan mempercayaiNya sebagai Juruselamat, mereka harus mempunyai cerita pertobatan yang pasti / tertentu untuk diceritakan Dalam ay 17 Paulus memuji Tuhan. Pada umumnya orang kristen terlalu banyak meminta dan bersungut-sungut, tetapi kurang dalam memuji Tuhan, padahal sudah mendapatkan keselamatan. Marilah kita lebih banyak merenungkan keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita, dan juga ketidak-layakan kita untuk diselamatkan, supaya kita bisa lebih banyak bersyukur dan memuji Tuhan. Kesimpulan / penutup. Kalau saudara adalah orang yang belum diselamatkan, datanglah kepada Tuhan Yesus saat ini juga. Kalau saudara sudah diselamatkan, berubahlah, atau makin berubahlah, supaya hidup dan pelayanan saudara bisa lebih menyenangkan dan lebih memuliakan Tuhan. Amen.

Selasa, 13 Agustus 2013

Khotbah Minggu 08 September 2013. "Matius, 7: 15-23"

Nabi-nabi palsu ada di tengah jemaat Yesus berkata kepada para muridnya, "Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu." Orang-orang itu akan masuk ke tengah jemaat dengan memakai bulu domba. Namun di balik jubah domba itu, jauh di dalam hati mereka, mereka itu ganas dan kejam. Mereka ganas, rakus dan serakah sama seperti serigala. Dari luarnya para nabi palsu itu akan terlihat persis seperti domba. Jika Anda mengamati mereka di tengah kawanan domba, Anda tidak akan dapat membedakan mana domba dan mana serigala. Inilah hal yang menakutkan karena Anda tidak tahu bahwa di bawah jubah domba itu, mereka sebenarnya adalah serigala yang ganas. Seperti contoh klasik dari Yunani, mereka itu seperti kuda Troya yang berhasil menyusup ke dalam kota musuh. Dari luar, yang terlihat adalah sebuah patung kuda yang sangat besar dan tidak berbahaya. Penduduk kota menemukan kuda ini di luar pintu gerbang kota lalu membawanya masuk tanpa mengetahui bahwa di dalam patung itu bersembunyi pasukan musuh yang bersenjata lengkap. Demikianlah kota Troya akhirnya jatuh ke tangan musuh. Yesus telah mengingatkan kita bahwa, "Tidak semua yang terlihat seperti domba adalah domba." Alkitab menggambarkan orang Kristen sebagai domba. Jadi, jika Yesus berkata bahwa mereka terlihat seperti domba, itu berarti bahwa mereka terlihat benar-benar seperti orang Kristen. Yang paling menyedihkan adalah bukan hanya orang non-Kristen, tetapi orang Kristen sekalipun tidak dapat membedakan mereka. Karena itu, ketika domba palsu ini mengeluarkan taring serigala mereka dan mulai memangsa domba-domba yang lain, maka orang non-Kristen akan berkata, "Lihat apa yang dilakukan oleh kalian orang-orang Kristen." Bagaimana Anda dapat berkata kepada mereka, "Yang ini bukan orang Kristen tapi serigala"? Dari peringatan Yesus ini, kita dapat melihat bahwa musuh yang berada di luar itu tidak seberapa berbahaya dibandingkan dengan musuh yang berada di dalam jemaat. Terhadap serigala yang berada di luar, si gembala bisa bersiaga dan melindungi kawanan dombanya. Namun, biasanya, serigala yang berada di tengah kumpulan domba baru ketahuan setelah terlambat. Pada saat ketahuan, mereka sudah menelan beberapa domba. Tuhan Yesus menggambarkan para nabi palsu seperti domba yang halus dalam penampilannya, namun sesungguhnya keberadaannya sangat mengancam seperti serigala buas. Yang dimaksud dengan nabi palsu di sini adalah orang –orang yang mengaku diutus Tuhan, padahal sebenarnya tidak. Tuhan mengatakan bahwa untuk membedakan mana yang domba dan mana yang serigala adalah dengan memperhatikan buah yang dihasilkan dari tindakan/perkataan mereka. Sebab orang yang berasal dari Tuhan pasti akan menghasilkan buah yang baik, demikian pula sebaliknya. Bukan setiap orang yang berseru, Tuhan, Tuhan!, atau yang bernubuat demi nama Tuhan, mengusir setan demi nama Tuhan dan mengadakan banyak mujizat yang Tuhan cari, melainkan orang-orang yang melakukan kehendak Allah dengan taat, dengan takut akan Tuhan. Sehingga akhirnya hidup dan pekerjaan orang itu menghasilkan buah. Berkaitan dengan suasana pergantian tahun, renungan hari ini mengajak kita mengevaluasi hidup kita sebagai orang Kristen. Walau kita bukan nabi palsu, namun Tuhan tetap tidak menghendaki adanya kepalsuan-kepalsuan dalam hidup kita. Tuhan menginginkan adanya kekonsistenan antara iman kita dengan perkataan, pengajaran, dan tindakan ketaatan kepadaNya. Tuhan menghendaki hidup kita makin hari makin serupa dengan ‘pohonnya’ yaitu Tuhan sendiri. Kita tidak disebut orang Kristen karena kita hidup di keluarga Kristen/daerah Kristen, karena kita melayani di Paduan Suara atau kepanitiaan dan komisi, karena kita tidak melakukan kejahatan, melainkan karena kita adalah anak-anak Allah. Dan itu berarti hidup kita terus dalam peningkatan kualitas untuk mencerminkan karakter Allah. Renungkanlah dalam hal-hal apa hidup Anda masih nampak jauh dari keserupaan dengan Kristus, apakah itu dalam cara-cara Anda menyatakan kemarahan, dalam mendidik putra-putri Anda, dalam kejujuran Anda? Jawaban Anda menjadi PR Anda untuk seterusnya agar kelak ketika kita berdiri di penghakiman Allah, kita kedapatan apa adanya, tanpa ada kepalsuan di hadapanNya. Di mana ada nabi-nabi yang benar, di situ juga ada nabi-nabi palsu. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengingatkan agar waspada terhadap bahaya penyesatan dari nabi-nabi palsu. Ketika mereka berseru atas Nama Tuhan, mengusir setan dan melakukan mujizat demi nama Tuhan, orang yang melihatnya bisa dengan mudah tertipu. Ada nabi (hamba Tuhan) yang secara lahiriah tampak rohani dan benar, pada hal hatinya penuh dengan kemunafikan dan kedurjanaan (Mat. 23:28). Nabi yang menyamar layaknya seorang rasul Kristus, pada hal hati mereka dikuasai hawa nafsu, kebejatan, keserakahan, kepentingan diri sendiri. Yesus menggambarkan nabi palsu itu seperti domba dari luarnya, tetapi ternyata mereka adalah serigala yang sangat buas. Penampilan mereka tidak mudah dikenali, sehingga banyak orang yang terjebak, tertipu, dan disesatkan. Bagaimana kita mengenal nabi palsu dengan nabi yang sejati? Untuk membedakan mana domba dan mana serigala, adalah dengan memperhatikan buah yang dihasilkan melalui tindakan atau perbuatan mereka. Pohon dikenal dari buahnya. Pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik, dan pohon yang tidak baik akan menghasilkan buah yang tidak baik pula. Demikianlah nabi yang benar (yang berasal dari Allah) pasti akan menghasilkan buah yang baik, dan yang tidak berasal dari Allah akan menghasilkan buah yang tidak baik. Nabi yang sejati memberitakan Firman Tuhan dengan benar, bukan untuk mencari puji-pujian bagi dirinya, bukan pula untuk memperkaya diri sendiri, melainkan untuk puji-pujian dan kemuliaan bagi Allah. Yesus berkata: “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga”(ay.21). Banyak orang yang kelihatanya rajin, punya banyak aktivitas di gereja, rajin membaca firman Tuhan, aktif melayani, namun kelakuannya jauh dari kehendak Tuhan. Bahkan ada orang yang memanggil nama Yesus dan mengaku percaya kepada-Nya, namun kelakuanya tidak seperti orang yang percaya kepada Yesus. Kata-kata yang indah tidak menjamin perbuatan baik, tetapi iman yang sejati akan menghasilkan perbuatan-perbuatan yang baik (bnd. Gal 5:22). Tuhan tidak menghendaki adanya kepalsuan dalam hidup kita sebagai orang yang percaya kepada-Nya. Tuhan menginginkan adanya kekonsistenan antara iman kita dengan perbuatan. Amen

Khotbah Keb. R. Tangga 29 Ags 2013 LUKAS 13:10-17 "Anda Kerasukan Roh Apa"..?

Kisah Injil menarik untuk direnungkan. Yesus berjumpa dengan seorang perempuan yang sudah 18 tahun sakit sampai bungkuk punggungnya sehingga tidak lagi dapat berdiri dengan tegak. Kata orang keadaan perempuan itu yang demikian dipercaya karena dirasuki roh (kepercayaan Yahudi: sakit, derita identik dengan kutuk dan dosa). Kata-kata yang keluar dari mulut Yesus saat memanggil dan menyembuhkan perempuan itu membantu kita memahami apa sebenarnya yang dialami perempuan itu, apakah dia kerasukan setan atau tidak, kalau ya, setan macam mana? “ Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.” Yesus mau mengatakan bahwa si ibu sungguh-sungguh mengalami sakit jasmani, yang selalu mungkin menimpa siapa saja…Kiranya rasa minder, putus asa; malu harus menanggung cemoohan sebagai pendosa dan orang yang dikutuk, memang bisa saja membuat ibu ini tidak lagi bisa menerima dirinya; tidak lagi percaya pada belas kasih Tuhan..Wanita ini tentu sangat menderita dalam hidupnya. Satu jam saja kita bungkuk badan terasa pegal, apalagi wanita ini bungkuknya sudah 18 tahun. Tetapi menarik sebab wanita ini hadir dalam kebaktian yang diadakan Yesus. Berarti wanita ini percaya kepada Yesus, menerima FirmanNya yang menimbulkan iman. Ada beberapa penyebab orang menjadi bungkuk. Pertama, karena sakit/penyakit. Orang tua biasanya bungkuk karena osteoporosis. Tulang belakang keropos dan tidak mampu menahan tubuhnya. Sebagian lagi karena penyakit kanker menyerang tulang belakangnya sehingga tubuhnya bungkuk, dlsb. Kedua, bungkuk karena beban hidup. Masalah yang terlalu berat dalam keluarga atau dalam pekerjaan bisa mengakibatkan hidup terasa sakit bungkuk. Ketiga, bungkuk karena kesibukan atau bisnis. Orang banyak mengejar jabatan dan untung, tetapi setelah mendapat yang diinginkannya menjadi jarang bertemu dengan keluarga. Hari-harinya penuh dengan kesibukan, untuk karir, untuk mencari uang. Kesibukannya menyebabkan dia bungkuk. Keempat, bungkuk karena dirasuk Iblis, seperti wanita dalam perikop di atas. Ada roh jahat masuk ke dalam tubuhnya, menjadi penyakit, merusakkan organ-organ tertentu dalam tubuhnya sehingga bungkuk. Mata orang yang bungkuk biasanya lebih banyak mengarah ke tanah. Orang Kristen yang bungkuk rohani lebih banyak melihat ke dunia dan jarang melihat ke surga. Jadi, bisa saja kita tidak bungkuk secara fisik tetapi mungkin bungkuk secara rohani, artinya lebih banyak memikirkan perkara dan kekuatiran dunia. Yesus sangat peduli kepada orang bungkuk : Yesus melihat. Lukas 13: 12 – “....Yesus melihat perempuan itu..” Yesus melihat dan mengetahui keadaan kita. Waktu kita menderita, Yesus tahu penderitaan kita. Namun wanita itu dilihat Yesus karena ia hadir dalam ibadah. Mata Tuhan selalu tertuju kepada orang yang selalu mencari Tuhan. Karena itu, kalau dalam percobaan banyaklah beribadah dan berdoa. Sebab Yesus melihat hati yang mencari Tuhan. Yesus memanggil dan menyatakan kesembuhan. Ayat 12 – “Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: "Hai ibu, penyakitmu telah sembuh." Kalau Yesus memanggil, maka Tuhan memberikan Firman. Firman Tuhan selalu menyembuhkan, menyelamatkan dan memulihkan. Tuhan selalu membangkitkan semangat dan gairah hidup kita. Karena itu kita perlu selalu mendengar suara Tuhan. Setiap Firman Tuhan adalah pesan Tuhan yang spesial bagi hidup kita. Yesus menjamah. Ayat 13 “Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu”. Banyak cara Yesus menyembuhkan orang banyak. Tetapi yang lebih banyak dilakukan adalah meletakkan tangan pada orang sakit. Kita selalu ingin dijamah dan ditolong Tuhan. Setiap waktu kita membutuhkan jamahan Tuhan, menolong dan menguatkan kita. Tuhan tahu wanita itu menderita selama 18 tahun dan saat itu adalah waktunya Tuhan menjamah dan menyembuhkannnya. Yesus menyembuhkan/memulihkan. Ayat 13 – setelah dijamah, tubuhnya segera menjadi tegak kembali. Setelah 18 tahun bungkuk, waktu Tuhan jamah, tubuhnya menjadi tegak lurus. Ini mujizat Tuhan. Kita perlu mujizat Tuhan setiap hari. Mujizat bukan hanya waktu sakit keras atau masalah berat, tetapi setiap hari. Karena itu setiap hari, setiap pagi, minta belas kasihan dan mujizat Tuhan terjadi dalam hidup kita. Ketika perempuan itu sembuh, ia memuliakan Allah. Segala pertolongan Tuhan yang kita terima harus disambut dengan kemuliaan bagi Tuhan. Orang-orang Farisi yang melihat mujizat kesembuhan itu protes. Pertanyaan mereka : kenapa perempuan itu disembuhkan, bahkan tepat pada hari Sabat? Namun, Yesus menjawabnya dengan menyatakan mengapa Ia peduli dan mau menyembuhkan wanita bungkuk itu. Lukas 13:16 – “Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?" Yesus peduli kepada wanita itu sebab ia adalah keturunan Abraham. Galatia 3:8-9. Keturunan Abraham adalah keturunan yang diberkati Tuhan. Tetapi bukan karena kita orang Israel tetapi karena kita orang percaya. Abraham adalah bapa segala orang percaya. Karena kita adalah keturunan atau anak-anak Abraham maka kita berhak menerima berkat janji-janji Tuhan kepada Abraham, yaitu janji berkat, janji keselamatan, janji kemakmuran, janji kesembuhan, dll. Siapa lagi yang disebut keturunan Abraham? Galatia 3:29. Kalau kita milik Kristus, percaya kepada Kristus, maka kita juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Tuhan. Kita berhak menerima berkat keberhasilan di sekolah, di pekerjaan, di bisnis, dan juga dalam keluarga. Jadi tidak salah kalau kita hidup penuh berkat di dunia ini. Di bumi ini kita menerima berkat sama seperti Abraham diberkati luar biasa dalam hidupnya. Pengkhotbah 9:9. Nikmatilah hidup di dunia ini bersama Tuhan. Banyak orang menerima banyak berkat tetapi tidak dinikmati. Uangnya dibelikan emas, atau menjadi deposito. Nikmatilah dengan istri yang kau kasihi. Sekali-sekali ajak keluargamu untuk makan di restoran. Ini perintah Tuhan bagi kita. Hidup ini harus dinikmati. Jangan kecilkan berkat Tuhan dengan gaya hidup miskin. Mungkin hari-hari ini Anda bungkuk karena kesibukan, karena penyakit, karena percobaan berat, tetapi hari ini mintalah jamahan Tuhan supaya anda menang dan tegak kembali. Tuhan memberkati! Amen,

Khotbah Kebaktian R. Tangga ”ORANG KRISTEN SUDAH MERDEKA” Jangan Kehilangan Kasih Karuniamu Galatia 5: 1-15

Yesus melalui kematian-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya dari kubur telah memerdekakan setiap orang yang percaya kepada-Nya dari perbudakan kutuk dosa. Dosa sebagai tuan tidak memiliki kuasa lagi atas kita manusia yang mewarisi dosa Adam. Kristus dengan darah-Nya yang tercurah di kayu salib telah membersihkan setiap orang yang percaya kepada-Nya dari penjajahan dosa. Kita tahu “semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaaan Allah” dan upah dosa adalah maut. Yesus melalui kebangkitan-Nya setelah mati telah mengalahkan kuasa maut, dan maut tidak berkuasa lagi bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya, kita pasti bangkit , karena Yesus sudah bangkit. Yesus juga telah mengalahkan kuasa Iblis dan kita yang percaya kepada-Nya telah menerima Roh yang lebih besar dari roh dunia ini. Kita juga dibenarkan oleh Yesus Kristus karena anugerah kasih karunia melalui iman bukan karena melakukan hukum Taurat. Orang Kristen adalah orang yang bebas merdeka secara rohani, dalam arti merdeka dari kutuk dosa, dari maut, dari iblis dan dari melakukan hukum Taurat sebagai syarat keselamatan.Masalahnya kemerdekan rohani yang diberikan Allah kepada kita yang percaya bisa diselewengkan menjadi kemerdekaan yang tanpa disiplin rohani, kebebasan yang tanpa kebenaran dan keadilan, kemerdekaan rohani yang dilecehkan oleh orang Kristen sendiri. Bagaimanapun kemerdekaan orang Kristen itu adalah kemerdekaan yang terkendali bukan kemerdekaan yang semaunya tanpa control disiplin rohani.. Maka Paulus menjelaskan apa yang dimaksud dengan kemerdekaan orang Kristen : 1. Kemerdekaan orang Kristen bukanlah kemerdekaan untuk menuruti keinginan daging Merdeka dalam Kristus bukan berarti bebas merdeka melakukan dosa, Gal 5: 24:Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Gal 5: 13 Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. Apa itu keinginan daging? Kata daging dari kata Sarkos: Rom. 6:19; 7:18) Kelemahan manusia karena kejatuhan manusia Adam yg tergoda oleh Iblis di taman Eden ( Kej 3). Keinginan daging yang ada pada manusia yg adalah kelemahan manusiawi jika tidak dikendalikan oleh Roh Kudus, itu akan muncul menjadi perbuatan daging seperti yang Paulus daftarkan dalam Gal 5: 19-21: Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, (dosa seksual,pornografi,free sex) 20 penyembahan berhala, sihir, (okkultisme) perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, 21 kedengkian,(egoisme) kemabukan, pesta pora (hedonisme) dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu — seperti yang telah kubuat dahulu — bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. (diulang) . 2. Kemerdekaan orang Kristen bukanlah kemerdekan untuk merugikan sesama …melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. ( Gal 5: 13) . ay. 14-16 Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” 15 Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan. Ay.26. dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki. …janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. ( Fil 1: 12) 3.Kemerdekaan orang Kristen bukanlah kemerdekaan untuk mengabaikan hukum Allah (antinomianisme) Kalau pada ayat 2- dst Paulus menegur orang Kristen yang mau kembali kepada hukum sunat sebagai syarat keselamatan (legalisme) bukan melalui anugerah dengan iman kepada Kristus maka sebaliknya Paulus pada ayat 13 menegur orang Kristen yang justru ingin bebas dari disiplin rohani, dari menjaga kekudusan dengan pertolongan Roh Kudus dan firman Tuhan. Sehingga kemerdekaan orang Kristen sepertinya bebas semaunya tanpa mentaati hukum moral Allah. Penutup: Kita semua dapat beroleh keselamatan bukan melalui hukum Taurat, melainkan karena kasih karunia Tuhan kepada kita. Oleh karena itu baiklah kita semua berjaga-jaga janganlah kita sampai kehilangan kasih karunia itu. Tanda-tanda orang yang kehilangan kasih karunianya. 1. Kehilangan rasa syukur. Kasih karunia yang bahasa Inggrisnya adalah “grace” adalah di layak-kan untuk menerima sesuatu yang sebenarnya seseorang tidak layak menerimanya. Orang yg menerima kasih karunia penuh dengan ucapan syukur kepada Tuhan. Ketika seseorang mulai kehilangan kasih karunianya, dia mulai kehilangan rasa syukurnya dan mulai banyak menghakimi orang lain. 2. Kehilangan damai sejahtera. Damai sejahtera yang berasal dari kata “shallom” berarti harmoni. Untuk punya damai sejahtera dalam hidup ini seseorang harus mempunya harmoni dengan: Tuhan. Diri sendiri. Orang lain. 3. Kehilangan kasih mula-mula (Wahyu 2:4-5). Jemaat di Effesus mendapatkan pujian karena semua yang mereka lakukan dalam pelayanan dan ibadah mereka sudah baik, tetapi walaupun begitu mereka mendapat teguran karena mereka telah kehilangan kasih mula-mula mereka pada Tuhan. Salah satu tanda kasih adalah rasa rindu pada yg dikasihi. Kalau kita sudah tidah lagi selalu merinduhkan berhubungan dengan Tuhan, berarti kita sudah mulai kehilangan kasih mula-mula kita pada Tuhan. 4. Kehilangan beban bagi yang terhilang (Kisah 5:42). Misi utama Tuhan Yesus datang ke dunia ini adalah untuk menyelamatkan orang-orang yang terhilang. Dan itu juga adalah amanat agung Tuhan Yesus kepada kita semua. Jangan sampai kita kehilangan “passion for the lost”, dan tidak peduli lagi kalau orang lain binasa. Marilah kita semua menyelidiki diri kita sendiri masing-masing, adakah diantara kita yang telah kehilangan rasa syukur, damai sejahtera, kasih mula-mula, atau beban bagi yang terhilang. Kalau dari empat itu ada yang terhilang, baiklah secepetnya kita kembali pada kasih karuniah Tuhan dan berjaga-jaga. Amen