Senin, 12 Agustus 2013

Khotbah Minggu 01 September 2013 Daniel 3: 13-18. Thema: “Hanya Kepada Allah saja kami Menyembah”

KETEGUHAN IMAN DIBUKTIKAN DALAM KESETIAAN KEPADA ALLAH Bacaan: Daniel 3:12, Roma 13:1-7, 1 Timotius 2:1-2, 1 Petrus 2:13-17 Bayangkan jika kita dihadapkan pada situasi seperti apa yang dialami Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Mereka bertiga dihadapkan pada raja Nebukadnezar karena mereka tidak mau menyembah patung yang didirikan raja Nebukadnezar. Dalam marah dan geramnya, Nebukadnezar memerintahkan ketiga orang tersebut untuk menghadap dirinya (ay. 13). Perlu diketahui bahwa pada saat itu posisi Sadrakh, Mesakh, dan Abednego sudah tinggi, yaitu sebagai penguasa pemerintahan wilayah Babel (Dan 2:49). Akan tetapi mereka tetap takut kepada Allah dan tidak mau menyembah patung tersebut. Nebukadnear bertanya kepada mereka bertiga, mengapa mereka tidak mau sujud menyembah kepada patung emas yang didirikan raja Nebukadnezar (ay. 14). Dalam pembicaraan itu pun raja Nebukadnezar menawarkan kesempatan sekali lagi bagi Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Dalam bahasa sehari-hari mungkin raja berkata, “Ayolah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, kalian cukup sujud saja kok, tidak perlu macam-macam, yang penting orang banyak bisa melihat kalian tunduk terhadap perintahku. Setelah itu kamu pasti akan kuberi harta dan posisi yang bagus bagimu” (ay. 15a). Raja Nebukadnezar pun mungkin sudah membujuk ketiga orang tersebut agar mau menyembah patung itu, dan ketika mereka tetap bersikukuh tidak mau menyembah, maka raja pun mengancam akan menghukum mereka dengan mencampakkan ke perapian yang menyala-nyala (ay. 15b). Nebukadnezar merupakan raja Babel, dimana pada saat itu bangsa Babel menyembah banyak dewa, terlebih karena bangsa Babel saat itu merupakan bangsa yang besar, yang telah mengalahkan banyak bangsa-bangsa lain, sehingga bangsa Babel mungkin saja mengenal banyak dewa-dewa, baik dari kebudayaan asli mereka sendiri, maupun dari bangsa-bangsa yang mereka jajah. Itulah mengapa Nebukadnezar sampai berkata, “Dewa manakah yang dapat melepaskan umatNya dari perapian yang menyala-nyala tersebut?” (ay. 15c). Itu adalah pikiran logis seorang manusia, apalagi seorang raja yang berkuasa. Akan tetapi Sadrakh, Mesakh dan Abednego punya pandangan yang berbeda. Mereka bertiga tahu bahwa mereka tidak akan mungkin menang berdebat kepada raja (ay. 16). Akan tetapi di balik itu semua mereka bertiga pun tahu bahwa Allah mereka yang mereka sembah adalah Allah yang berbeda dengan dewa-dewa lain. Mereka tahu bahwa Allah mereka adalah Allah yang berkuasa, yang tidak ada bandingannya dengan allah manapun di dunia ini. Perhatikan jawaban Sadrakh, Mesakh dan Abednego: “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja” (ay. 17). Mereka percaya Allah sanggup melepaskan mereka dari perapian yang menyala itu, tetapi semuanya kembali lagi kepada kehendak Allah. Jika Allah mau, maka apa yang diinginkan Allah pasti terlaksana. Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil (Yer 32:17 & 27). Namun perhatikan kembali ayat selanjutnya: “Tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu” (ay. 17). Ini adalah sikap yang luar biasa dari Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Mereka tidak memaksakan kehendak mereka akan tetapi berserah kepada kehendak Allah. Jika Allah mau melepaskan, mereka pasti akan selamat. Jika tidak pun, mereka akan tetap beribadah kepada Allah dan menjaga kekudusan mereka dengan tidak menyembah patung yang ada. Inilah tingkatan doa atau permintaan yang tertinggi, yaitu membiarkan kehendak Allah yang terjadi dan tidak memaksakan kehendak kita. Pada intinya, apa yang dilakukan Sadrakh, Mesakh, dan Abednego hampir mirip dengan doa Yesus di taman Getsemani (Mat 26:39). Jika kita mau jujur, berapa kali kita berdoa dengan memaksakan kehendak kita? Berapa kali kita memaksa: “Tuhan, jawab doa kami”. Bagaimana jika ternyata Tuhan tidak menjawab doa kita? Ingat bahwa Sadrakh, Mesakh dan Abednego pastilah ingin agar Allah mereka melepaskan mereka. Mereka adalah orang-orang yang luar biasa, yang sangat taat kepada Tuhan walaupun risikonya adalah kehilangan nyawa mereka. Apakah ketika mereka tidak ditolong Tuhan maka Tuhan itu tidak berkuasa? Tidak, Tuhan tetap adalah Tuhan yang berkuasa apapun nanti jawaban Tuhan atas permintaan mereka. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego tahu akan hal itu, dan mereka percaya sepenuhnya kedalam tangan Tuhan, sekalipun doa mereka tidak dijawab Tuhan pun. Sudahkah kita juga memiliki pola pikir seperti ini? Biarlah kehendakMu yang jadi Tuhan, dan jangan kehendak kami. Penutup: Posisi kesetiaan iman (pistis) dalam keselamatan. Ternyata melalui kesetiaan iman kepada Tuhan Yesus kristus, orang-orang yang percaya mendapat perlindungan dan penjagaan oleh kekuatan Allah kepada keselamatan yang disediakan dann dinyatakan pada akhir zaman. Jadi warga negara Surgawi adalah orang-orang yang senantiasa setia pada imannya dan yang tidak akan meninggalkan imannya walau apapun yang terjadi. Banyak orang yang tidak setia dengan Tuhan hanya gara-gara harta dunia yang tidak kekal. Bahkan ada yang rela meninggalkan Tuhan karena sesuap nasi. Tetapi orang yang menjadi warga negara Surga tidak pernah meninggalkan Imannya dan terus setia, walau resiko yang dihadapi adalah persoalan yang sangat berat. Orang-orang yang seperti inilah yang akan menerima perlindungan dari Tuhan. Sadrakh, Mesakh dan Abednego dalam kitab Daniel 3:13-18 adalah salah satu contoh kisah yang luar biasa tentang kesetiaan iman. Mereka adalah orang biasa yang memiliki kesetiaan yang luar biasa. Bentuk dari kesetiaan mereka yang luar biasa adalah mereka adalah orang yang tetap tidak akan menyembah pada apapun juga selain pada Allah yang mereka sembah, walaupun saat itu mendapat ancaman yang berakibat kematian. Bahkan sekalipun mereka tidak mendapat pertolongan dari Tuhan, mereka tetap mempertahankan kesetiaan mereka. Ini adalah kesetiaan iman yang luar biasa! Amin

“HARTA YANG TERINDAH” Luk 12:32-40

Bacaan lainnya menurut Leksionari:Yes 1:1, 10-20 atau Mzm 50:1-8, 22-23 atau Mzm 33:12-22; Ibr 11:1-3, 8-16) Pendahuluan Sdr/I sering kali manusia tidak menyadari bahwa sewaktu-waktu hidupnya dapat berakhir, sebab umur manusia ada di tangan Tuhan. Dari nats yang kita baca di atas, kita diberi hikmat kehidupan sebagai berikut. Pertama: janganlah takut dan juallah hartamu (ayat 32-33a) Merencanakan adalah sesuatu yang baik. Firman Tuhan juga menekankan bahwa perencanaan itu penting (Luk 14:28). Ada nasehat yang mengatakan, mereka yang merencanakan dengan baik, sudah melakukan setengah pekerjaannya. Artinya, semua masa depan menjadi tertata dan teratur, sehingga saat itu tiba, segalanya menjadi lebih mudah dan enak. Perencanaan juga secara otomatis membuat kita lebih tidak kuatir dan takut. Memang selalu ada faktor atau hal yang tidak terperhitungkan, sesuai dengan keterbatasan manusia, tapi biarlah itu masuk dalam wilayah kehendak Tuhan. Kita hanya mempesiapkan yang terbaik, dan mengakui Tuhan dapat memberi yang lebih baik meski kemungkinan yang diberi jauh dari rencana juga bisa terjadi. Tapi, iman kita harus menerima, keputusan Tuhan itu pasti yang terbaik bagi kita. Merencanakan memiliki harta yang cukup, jelas suatu hal yang baik. Seseorang yang bekerja keras demi untuk menghasilkan “banyak uang dan harta” bukanlah sesuatu yang buruk. Tetapi banyak itu harus ada ukuran dan batasan. Seseorang yang membeli polis asuransi untuk kematian, kesehatan, pendidikan anak, bahkan membeli lahan kuburan saat dia masih hidup (dengan pertimbangan untuk tidak merepotkan anak atau orang lain saat dia meninggal), adalah suatu pilihan yang bijak. Akan tetapi jika seseorang menumpuk kekayaan dengan berpikir ia memerlukan semua itu untuk bekal anak-cucunya hingga generasi ketujuh, jelas itu salah, terlebih jika semangat berbagi tidak dimilikinya. Seorang pengusaha yang berhasil pun biasanya motivasinya bukanlah untuk menumpuk kekayaan, melainkan mengalahkan tantangan dan kepuasan membuat nilai tambah atas kerja atau produk yang dibuat serta dapat melayani orang lain. Itu lebih bernilai dibandingkan harta dan kekayaan yang diperolehnya. Puncak ekspresi dari kepemilikan itu adalah tidak kuatir apabila Tuhan mengambil itu semua, baik karena kesalahannya maupun oleh karena izin-Nya (bandingkan kisah Ayub). Ketergantungan dan mengandalkan masa depan pada harta benda itu yang salah. Oleh karena itu, sebenarnya orang atheis itu tidak ada. Semua orang prinsipnya mengaku ada “tuhan”. Akan tetapi ada yang mengaku dengan benar bahwa Tuhannya adalah Yesus Kristus yang memelihara dirinya dan memberi keselamatan, tetapi ada juga yang mengaku dengan salah yakni tuhannya adalah hartanya atau dirinya sendiri. Ini yang ditekankan oleh Tuhan Yesus, kalau itu terjadi maka juallah harta kita, agar kita jangan mempertuhankannya dan menempatkan ketergantungan masa depan pada harta benda itu, bukan kepada-Nya, Roh Allah kita yang hidup. Kedua: hati kepada harta dan terus berikat pinggang (ayat 33b-35a) Tuhan Yesus mengatakan, “di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada", mengingatkan agar kita jangan terlalu mengutamakan harta dan kekayaan. Hati kita menjadi lebih terpikat dan juga menjadi ikut diperbudak oleh perkara-perkara duniawi itu. Kita harus menyadari, ada pepatah romawi yang mengatakan, memiliki uang (dan harta) itu bagaikan meminum air laut, semakin diminum maka akan semakin haus. Kedahagaan kita sebaiknya justru kepada perkara sorgawi, yakni berdiri dan kokohnya Kerajaan Allah dalam hidup pribadi, keluarga, masyarakat dan bangsa. Bapa di sorga telah memberi kerajaan damai sejahtera kepada kita dan itulah yang harus kita jaga dan rawat. Hati kita yang terdiri dari perasaan, pikiran dan kehendak mesti terpusat pada Kristus dan iman kepada-Nya yang membebaskan kita dari ketakutan dan mencintai dunia ini. Zaman dahulu orang Timur Tengah umumnya memakai jubah, sehingga tanpa ikat pinggang maka akan merepotkan untuk bergerak apalagi untuk bekerja. Tuhan Yesus memberi perumpamaan dalam perintah, “hendaklah pinggangmu tetap terikat” menandakan bahwa kita harus tetap bekerja produktif untuk terus berbuah. Istilah yang sama kita pakai adalah agar kita selalu menyingsingkan lengan baju untuk lebih sigap. Kesigapan dengan pikiran kepada sorgawi akan mengantarkan kita pada kepedulian kepada sesama. Kemerdekaan dari rasa kuatir membuat kita lebih mementingkan orang lain dan bukan hanya untuk diri sendiri atau keluarga kecil saja. Ini juga akan mendorong kita pada pikiran bahwa kekayaan dan harta adalah amanah dan merupakan pinjaman dari Allah. Buah yang dihasilkan bukan untuk dinikmati sendiri, melainkan untuk berbagi dalam mewujudkan lingkungan dan dunia yang lebih makmur sejahtera. Semangat berbagi itulah yang menjadi harta sorgawi kita, Ini yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus agar kita menyimpan harta di sorga (band. Mat 6:19-21). Menumpuk harta di dunia memang akan menimbulkan kekuatiran, akan tetapi membangun pundi-pundi harta di sorga itu tidak akan habis, tidak dapat diambil oleh pencuri, dan tidak akan dirusakkan oleh ngengat rayap. Ada pepatah yang mengatakan bahwa dalam baju mati tidak terdapat kantong-kantong, memberi pengertian kita tidak bisa bawa harta benda ke alam berikutnya. Melawan kekuatiran memerlukan kepercayaan penuh kepada Allah, melakukan perencanaan bagi masa depan termasuk dalam penyelesaian masalah, dan memohon dukungan moril dan doa dari berbagai pihak agar semua berjalan baik. Ketiga: berbahagialah mereka yang berjaga-jaga (ayat 35b-39) Pesan Tuhan Yesus tentang “pelitamu tetap menyala” menjelaskan bahwa kita harus siaga dan terus sadar untuk tidak terlena dan tidak tertidur. Kita dikaruniakan kekayaan sorgawi untuk tidak kuatir terhadap apa pun juga. Kita manusia adalah ciptaan Allah yang maha sempurna dan Allah pasti tidak akan pernah melupakan ciptaan-Nya. Pekerjaan tangan-Nya dalam diri kita dan alam semesta memastikan kita pasti dapat mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, sebagaimana doa utama kita Doa Bapa Kami. Akan tetapi kemalasan manusia dan penjagaan imej (jaim) membuat manusia itu sering menghadapi kesulitan bagi diri sendiri. Apalagi, tanah air kita adalah kaya dan subur. Tidak ada alasan untuk takut dan kuatir. Orang percaya harus terikat erat dengan Tuhannya dan hubungan itulah harta terbesar kita. Mengenal seorang pejabat tinggi saja sudah kebanggaan, apalagi mengenal Allah yang Maha Agung dan Kaya. Memang pejabat bisa memberikan uang atau barang bekal untuk hidup, akan tetapi Allah memberikan yang lebih dahsyat yakni Roh Kudus yang memampukan kita untuk berkarya optimal. Itulah sebabnya, dalam nats berikutnya dijelaskan juga soal promosi bagi mereka yang berjaga-jaga, dan menghukum mereka yang tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. Mereka yang berpengharapan dan rindu akan kedatangan Tuhan Yesus, akan dijadikan anak-anak yang istimewa dan diberkati. Gambaran lain dalam nats ini diberikan tentang seorang hamba yang terus menanti kedatangan tuannya yang akan kembali dari pesta perkawinan. Hamba yang baik adalah yang sigap membukakan pintu dan menyambut tuannya dengan baik dan sigap atas keperluannya, apakah itu untuk makan minum atau lainnya, bahkan di tengah malam sekali pun. Pesan ini juga diberikan pada kitab lain tentang gadis-gadis yang menantikan mempelai. Ada lima gadis yang bijaksana mempersiapkan diri dengan pelita yang terus menyala, dan lima gadis lainnya yang bodoh tidak mempersiapkan minyak dan pelita mereka (Mat 25:1-13). Marilah kita siaga setiap saat secara rohani, berpikir bahwa Ia akan datang segera, dan kita siap menyambut kedatangan-Nya kembali untuk menggenapkan kerajaan sorgawi yang indah tidak terbayangkan oleh mata dan pikiran itu (1Kor 2:9). Keempat: kedatangan-Nya tidak disangka-sangka (ayat 40) Sebenarnya kerajaan sorga dalam wujud damai sejahtera itu sudah diberikan sejak Kristus datang ke dunia 2000 tahun yang lalu (band. Luk 2:14; Yoh 14:27; Rm 14:17), serta anugerah keselamatan diberikan kepada mereka yang percaya dan mengikuti-Nya. Memang kerajaan sorga kadang tampak tersembunyi, namun itu mudah terwujud dalam damai sejahtera di hati kita. Penggenapan kerajaan-Nya dan damai sejahtera yang sesungguhnya itulah yang perlu kita nantikan, dinubuatkan dengan akan datangnya Kristus kembali dan digambarkan sebagai akhir zaman, serta terbentuknya bumi dan langit baru (Why 21:1). Saat Alkitab ditulis, sebagian berpendapat bahwa saat kedatangan-Nya sudah sangat dekat (1Tes 5:2; 2Tes 2:1 dab dan 3:11-12). Meski sudah 2000 tahun berlalu dan Kristus belum datang, bukan berarti kita boleh berpikir bahwa Ia tidak mungkin datang dalam 2000 tahun ke depan. Pikiran seperti itu jelas salah secara rohani. Apalagi, kedatangan kembali Kristus (K4) juga dapat diartikan sempit, atau berjangka pendek, yakni ketika kita dipanggil menghadap-Nya, saat keberadaan dan tugas kita di dunia ini dinyatakan sudah selesai dan tidak ada lagi yang bisa kita perbuat (Yoh 9:4). Bukankah itu menjadi ironi, ketika waktunya sudah habis tapi misi belum tuntas? Apalagi, tugas yang tidak selesai (mission uncomplete) itu karena kesalahan kita, bukan karena keputusan Tuhan. Oleh karena itu, hal yang utama adalah menjaga baik hubungan dengan Allah dan memelihara damai sejahtera itu di dalam hati, kepada Dia dan sesama. Sikap cuek tidak peduli, dengan berpikir kita bebas berbuat apa saja karena kerajaan-Nya tidak ada, atau berpikir masih banyak waktu sampai Ia datang, jelas tidak berkenan kepada-Nya. Orang percaya harus siap menantikan waktu kedatangan Kristus yang tidak diketahui saatnya, dalam ungkapan lain seperti datangnya pencuri di waktu malam, dan kita siap memberi pertanggungjawaban. Kita selalu siap sedia bertemu dengan Tuhan dan kitalah yang diminta untuk mencarinya. Sikap hidup inilah yang penting bagi orang percaya dalam penantian tersebut. Kesimpulan Pada minggu ini kembali kita diajarkan tentang tidak baiknya menempatkan harta duniawi sebagai perhatian utama kita, sehingga membuat hati kita selalu tertuju ke perkara duniawi itu. Mencari kebutuhan hidup dan membuat perencanaan masa depan termasuk anak, adalah sesuatu yang baik. Kita juga diminta sebagai orang percaya untuk melepaskan dari kekuatiran, yang mendorong kita berbuat hal yang tidak berkenan kepada Tuhan untuk memperolehnya. Akan tetapi, ditengah-tengah kesibukan sehari-hari dalam menggeluti hidup, pusat perhatian kita haruslah tetap kerajaan sorga, menempatkan Allah sebagai jaminan hidup kita dan terus berjaga-jaga akan kedatangan-Nya. Sebab, kedatangan Kristus adalah hal yang tidak terduga, jangan sampai kita tidak mempersiapkan diri.

Khotbah Kebaktian. Rumah Tangga "Lukas 16:19-31"

Pengantar: Peraturan di sebuah travel biasanya mengharuskan calon penumpangnya untuk sudah tiba di pangkalan paling lambat 15 menit sebelum keberangkatan. Saya tahu itu, tetapi ternyata nikmatnya kasur membuat saya keterusan tidur. Ketika terbangun, ternyata waktu yang tersisa tinggal setengah jam sementara rumah saya jauh dari tempat keberangkatan. Saya pun buru-buru mandi dan langsung berangkat kesana. Ketika saya tiba, ternyata saya terlambat 5 menit, dan mobil travel sudah keburu berangkat. Gara-gara 5 menit itu saya kemudian harus menunggu 2 jam kemudian. Karena travel yang satu ini menuju area kota Jakarta lain, saya pun harus menyambung lagi dengan taksi di Jakarta dan harus mengeluarkan biaya hampir seratus lima puluh ribu. Gara-gara 5 menit telat saya harus membayar harga yang cukup lumayan. Kata terlambat memang bisa menimbulkan banyak masalah. Apa yang terjadi jika anda terlambat ke sekolah atau kampus, apalagi di saat ujian? Apa yang terjadi jika reaksi anda terlambat sedetik saja ketika mobil di depan anda tiba-tiba mengerem? Ada banyak hal yang akhirnya kita sesali hanya karena sebuah kata: terlambat. Dalam contoh keterlambatan saya di atas, masih untung itu bukanlah sebuah keterlambatan yang fatal akibatnya. Artinya saya masih punya kesempatan untuk mengambil jadwal keberangkatan lainnya. Ada keterlambatan-keterlambatan yang berakibat fatal dimana penyesalan tidak ada gunanya lagi, yang bisa menimpa diri kita jika kita terus membuang-buang atau menyia-nyiakan waktu. Khotbah: Perumpamaan ini sering disebut dengan judul Perumpamaan tentang Orang Kaya dan Lazarus. Si orang kaya itu kadang kala dinamai "Devas", yang sebenarnya adalah istilah dalam bahasa Latin yang berarti 'orang kaya'. Jadi, perumpamaan ini sering diberi judul Perumpamaan tentang Devas dan Lazarus. Kisah "Orang kaya dan Lazarus yang miskin" dalam Lukas 16:19-31? mengajarkan mengenai pentingnya menghargai waktu yang masih dipercayakan Tuhan kepada kita. Tersebutlah seorang pengemis bernama Lazarus, penuh borok dan sangat menderita. Ia menetap tepat di depan pintu rumah seorang kaya yang setiap hari bersukaria dalam kemewahan. Apakah Lazarus diperhatikan? Tampaknya tidak. Si orang kaya mungkin berpikir, "Masih syukur kamu tidak diusir. Aku mencari uang dengan keringatku sendiri, mengapa aku harus memberi kepadamu?" Dan Lazarus pun diabaikan begitu saja. Ia bahkan harus makan dari remah-remah yang jatuh dari atas meja si orang kaya, sambil membiarkan boroknya dijilati anjing-anjing. Benar-benar sebuah pemandangan yang kontras dan ironis. Lalu kemudian Lazarus mati. Demikian pula si orang kaya tersebut. Pemandangan kontras kembali tersaji di atas sana, tetapi keadaan kini berbalik! "..Dan sementara ia (orang kaya itu) menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya." (ay 23). Melihat hal itu, si orang kaya pun meratap. "Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini." (ay 24). "Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang." (ay 25-26). Betapa menyesalnya si orang kaya itu, tetapi nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan sekarang untuk mengubah keadaan. Semua sudah berakhir. Terlambat. Itulah satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan kenyataan yang dihadapi si orang kaya. Ia terlambat untuk berbuat baik, terlambat untuk mengasihi sesamanya. Ia terlena hidup dalam kemewahan dan lupa untuk memanfaatkan waktu yang tersedia. Apakah ia punya kesempatan? Tentu saja. Bahkan ia tidak perlu repot-repot atau jauh-jauh pergi untuk menunjukkan kasih dalam perbuatan nyata karena Lazarus berbaring tepat di depan pintunya. Ia punya kesempatan, ia punya sesuatu yang bisa ia berikan, tetapi ia tidak melakukannya. Dan pada akhirnya ketika semua sudah terlambat ia pun menyesal. Sebuah penyesalan yang sayangnya tidak bisa lagi diperbaiki. Ketika waktu masih dipercayakan Tuhan kepada kita saat ini, hendaklah kita memakai hikmat untuk mempergunakan waktu-waktu yang ada sebaik mungkin. Paulus berkata "Dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat." (Efesus 5:16). Jangan sia-siakan waktu yang ada, karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kemudian. Kita tidak bisa melihat masa depan, kita tidak tahu kapan kesempatan bagi kita untuk bertobat akan berakhir. Kita harus benar-benar belajar menghargai waktu, mengisinya dengan segala perbuatan baik berdasarkan kasih dan terus memakainya untuk belajar untuk lebih dekat dan lebih taat lagi kepada Tuhan. Kita harus senantiasa berjaga-jaga sebab kita tidak akan pernah tahu kapan hari maupun saatnya akan tiba. (Matius 25:13). Ada begitu banyak yang ditawarkan dunia hari ini yang akan dengan mudah membuat kita terlena dan lupa melakukan apa yang seharusnya kita lakukan sebagai anak-anak Terang, sebagai ahli waris Tuhan di muka bumi ini. Sungguh kita hidup di hari-hari yang jahat, penuh dengan penyesatan. Ada keterlambatan yang masih bisa ditebus dengan sejumlah harga, tetapi ada pula keterlambatan yang benar-benar tidak bisa lagi kita tebus walau dengan harga sebesar apapun. Oleh karena itu kita harus benar-benar mewaspadai setiap langkah hidup kita dan berhenti menyia-nyiakan waktu. Pergunakanlah waktu yang tersisa ini untuk mengambil langkah nyata dalam ketaatan, dan lakukanlah segala sesuatu seperti apa yang dikehendaki Tuhan. Hendaklah kita dipenuhi kebijaksanaan dan kearifan dalam hikmat agar mampu menghitung hari-hari kita menghargai setiap detik yang Tuhan masih berikan kepada kita. Orang kaya itu tidak lagi punya kesempatan, tetapi kita masih punya. Jangan tunda lagi, mulailah hari ini juga agar kita tidak sampai berakhir di tempat yang sama dengan si kaya. Hargai waktu sebaik mungkin karena ada keterlambatan tidak bisa lagi diperbaiki

Rabu, 31 Juli 2013

"APA YANG KITA PERBUAT UNTUK HIDUP BENAR"

Kita kini hidup di era yang menganut nilai relativisme, suatu masa di mana berlaku ungkapan, “Tidak ada kemutlakan!” Dalam banyak hal, garis pemisah antara kebenaran dan kekeliruan telah menjadi kabur, jika tidak ingin dikatakan terhapus sama sekali. Tetapi, jauh di dalam lubuk hati, kebanyakan dari kita masih tetap dapat membedakan mana yang benar dan yang salah - paling tidak dalam beberapa aspek kehidupan. Misalnya, tidak ada satu pun di antara kita yang rela seseorang mengambil sesuatu yang menjadi milik kita. Kita tidak suka dibohongi, dan ketidakjujuran cenderung menghancurkan hubungan di tempat kerja, di rumah, dalam jalinan persahabatan, dan dalam organisasi kemasyarakatan. namun tampaknya kita semua mempunyai perasaan naluriah mengenai cara yang benar menjalani hidup - apa yang oleh Alkitab disebut sebagai, “kebenaran”. Namun, dalam banyak aspek kehidupan masalah benar dan salah tidak selalu dapat dengan mudah dibedakan. Lalu bagaimana kita merumuskan apa yang diperlukan untuk membangun suatu “hidup yang benar” manakala hal yang awalnya terpisah secara jelas dalam pola hitam-putih bergeser menjadi daerah “abu-abu” yang meragukan? Kitab Amsal memang tidak secara eksplisit memberikan panduan rinci menghadapi setiap kondisi, namun Kitab ini menyediakan prinsip dan panduan yang sangat membantu, yaitu: Hidup dengan benar ditandai oleh pemilihan jalan yang benar. Tidak jarang kita berusaha mencontoh perilaku terpuji para tokoh panutan karena bagi kita mereka telah meletakkan standar menjalani kehidupan dengan benar. Seperti diungkapkan dalam Amsal 4:18-19, “Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari. Jalan orang fasik itu seperti kegelapan; mereka tidak tahu apa yang menyebabkan mereka tersandung.” Hidup dengan benar berarti setia berada pada jalan yang benar. Mereka yang sudah memutuskan untuk melakukan apa yang benar tidak terusik oleh hal-hal sepele atau menyimpang karena memilih jalan alternatif yang tampaknya lebih menggiurkan. Komitmen untuk hidup dengan benar menyebabkan mereka tetap berjalan di jalan yang sempit, dan tidak memilih jalan yang lebih menarik atau menguntungkan. Sebagaimana dicatat dalam Amsal 4:26-27, “Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan.” dalam Amsal 21:21, “Siapa mengejar kebenaran dan kasih akan memperoleh kehidupan, kebenaran dan kehormatan”. Hidup dengan benar tidak dibangun di atas dasar perasaan. Ungkapan masa kini berbunyi, “Jika Anda rasa baik, lakukan saja.” Emosi, tidak selalu dapat diandalkan. Emosi tak jarang memberi arahan yang keliru. Amarah dapat menyebabkan kita menyerang seseorang, dan itu bukan hal yang benar. Mungkin perasaan bahwa besar gaji yang kita terima tidak memadai itu benar, tetapi tidak berarti kita diperkenankan mencuri uang perusahaan. Amsal 16:25 mengingatkan: “Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” Amin

Khotbah Minggu 25 Agustus 2013 Yesaya 58: 9-14. Thema:" Kesalehan yang palsu dan yang sejati"

Pendalaman Nas: Kalau kita memperhatikan pembagian kitab Yesaya, nas kita dikelompokkan pada bagian Trito Yesaya (Psl.55-66), yang menceritakan kehidupan bangsa Israel setelah pulang dari pembuangan Babel. Nas kita (Yesaya 58:4-14) merupakan kritikan terhadap ibadah umat Israel, dalam hal ini sehubungan dengan cara mereka berpuasa. Satu hal yang positif bahwa umat Israel sekembali mereka dari pembuangan Babil, mereka masih melakukan ibadah dengan rajin, rajin mengkaji kebenaran di dalam hukum Allah (ayat 2-3) dan juga rajin berpuasa tentunya dengan harapan besar agar Tuhan mengabulkan atau memberikan apa yang menjadi harapan mereka sebagai bangsa yang baru “merdeka” yakni untuk hidup sejahtera. Tidak disebutkan apakah puasa dilakukan secara bersama-sama (keseluruhan umat), secara kelompok atau pribadi-pribadi, juga jenis puasa yang dilakaukan dan lamanya berpuasa. Hal ini dikemukakan karena dalam Perjanjian Lama hanya ada satu praktek puasa yang ditentukan yaitu pada saat hari Pendamaian (hari pengampunan dosa – Im 16; 23:26-32). Saat itu, seluruh bangsa Israel merayakan hari itu dengan berpuasa dan beristirahat. Namun sebagaimana telah disebutkan bahwa praktek puasa sudah biasa dilakukan dalam kehidupan umat Israel sejak nabi Musa, baik secara perorangan (mis, 2 Samuel 12:22) mapun kadang-kadang secara bersama-sama (mis, Hakim 20:26; Yoel 1:14). Selain kewajiban hukum agama, biasanya ada dua alasan seseorang atau sekelompok orang berpuasa, yaitu: bukti lahiriah dukacita dan pernyataan pertobatan. Berpuasa juga kerap kali dilakukan dengan tujuan memperoleh bimbingan dan pertolongan Allah atau meminta kuasa dalam memerangi setan. Ada juga orang yang berpuasa demi orang lain. Apapun tujuannya, praktek puasa harus diikuti penyerahan diri kepada Tuhan yang tampak dalam kelakuan hidup yang baik. Sebab praktek puasa tanpa diikuti sikap hidup yang benar adalah sia-sia. Artinya doa mereka, harapan mereka tidak akan dikabulkan Tuhan (ayat 4b). Hal inilah yang dikeritik nabi Yesaya dalam perikop kita sebab nampak kecendrungan praktek puasa yang dilakukan umat telah merosot menjadi kebiasaan leglistik - sekedar upacara ritual tanpa penyerahan diri kepada Tuhan (bd. Zakaria 7:5), dan menjadi perilaku yang munafik (Matius 16:6) demi untuk membenarkan diri sendiri (Lukas 18:12). Puasa telah kehilangan maknanya. Itulah sebabnya dalam ayat 6-7 nabi Yesaya dengan keras menekankan arti puasa yang benar. Memang puasa dilakuakan dalam relasi antara manusia dengan Tuhannya, namun relasi dengan Tuhan itu seharusnya juga berdampak positif dalam relasi dengan sesama. Bila puasa demikian yang dilakukan, lebih dari yang diharapkan akan diberikan Allah kepada umatNya, juga diberikan kepada kita. Itulah janji yang terkandung dalam ayat 8-12: (a) Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu (kesehatan jasmani dan rohani). (b) Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! (hubungan yang mesra dengan Tuhan, diumpamakan hubungan bapa dan anak) (c) TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan. (d) Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan "yang memperbaiki tembok yang tembus", "yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni". Renungan: "Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah,apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan" (Yes 58:9-58). Yesaya mengingatkan kita semua untuk tidak dengan mudah menyalahkan atau mencari kesalahan dan kekurangan orang lain, melainkan 'memuaskan hati orang yang tertindas'. Menyalahkan atau mencari kesalahan dan kekurangan orang lain merupakan bentuk penindasan yang halus. "Duduk di kursi tinggi sambil menggoyangkan kaki memang enak dan nikmat, namun kasihan mereka yang kena sepakan goyangan kaki', demikian kata sebuah pepatah. Para petinggi atau atasan sering berusaha menunjukkan kewibawaannya dengan menunjukkan kesalahan dan kekurangan bawahan atau anggotanya. Semakin menunjuk kesalahan dan kekurangan orang lain, maka pada giliran berikutnya pada umumnya semakin hebat menunjuk kesalahan dan kekurangan orang lain. Orang yang bersikap mental demikian pasti akan mengalami kekeringan atau frustrasi, serba tidak puas. Kita semua mendambakan kepuasan hati dalam cara hidup dan cara bertindak kita, maka baiklah kami ajak memuaskan hati orang tertindas. Maka baiklah dengan rendah hati kita dekati dan sapa saudara-saudari kita yang tertindas untuk memperoleh apa yang mereka dambakan, dan kemudian dengan jiwa besar dan hati rela berkorban kita tanggapi dambaan hati mereka. Semoga pepatah "jatuh tertimpa tangga" tidak menjadi kenyataan dalam diri saudara-saudari kita yang tertindas: hidup miskin, berkekurangan serta tertindas selalu dilecehkan dan diolok-olok atau bahkan digusur dari tempat mereka berteduh dengan kekerasan. "Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, jawablah aku, sebab sengsara dan miskin aku. Peliharalah nyawaku, sebab aku orang yang Kaukasihi, selamatkanlah hamba-Mu yang percaya kepada-Mu. Engkau adalah Allahku, kasihanilah aku, ya Tuhan, sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari. Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku." (Mzm 86:1-4). Amen

Senin, 29 Juli 2013

Khotbah Minggu 18 Agustus 2013 "Yohanes 8:30-36" Thema : ”Kemerdekaan yang sesungguhnya”

Pengantar. “Jikalau kamu tetap dalam Firman Ku, kamu benar – benar adalah murid Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekaan kamu” Apa itu kebenaran? Dimerdekakan oleh siapa? Kebenaran itu adalah dasar Firman (Maz 119:160). 1. Kebenaran itu adalah Injil (Kol 1:5) 2. Kebenaran itu adalah Yesus (yoh 14:6) Jadi kebenaran itu adalah Firman dan Yesus itu sendiri (Yoh 1:1). Sejak adam dan hawa jatuh kedalam dosa, semua manusia telah berdosa (Rm 5:12), namun demikian Tuhan masih mengasihi manusia itu, dengan memberikan anak-Nya untuk menyelamatkan kita (1 yoh 4: 9-14). Jadi yang memerdekakan manusia itu adalah Yesus Kristus itulah Kemerdekaan yang sesungguhnya. “Tetapi orang yang memancarkan kemuliaan Allah, senantiasa makin mengaku dirinya berdosa dan tidak layak”, disamping mereka (orang jahudi) diperhamba manusia mereka juga di perhamba dosa. Pada umumnya manusia tidak mau mengaku dirinya diperhamba, mereka berfikir bahwa berdosa atau tidak berdosa menurut kemauan mereka sendiri, seolah – olah mereka berkuasa atas dosa ini. Sangat jarang manusia menyadari perbuatan berdosanya karena setiap melakukan dosa, berarti meyerah kepada dosa, artinya semakin menambah ikatan dosa atas dirinya, dan akhirnya semakin taat / tunduk kepada dosa itu, dan akan menikmatinya nanti. Firman mengatakan setiap orang yang melakukan dosa adalah hamba dosa (yoh 8:34; 1 yoh 3:8,10) dan setiap hamba tidak tinggal dalam rumah, hanya anaklah yang tinggal dalam rumah (yoh 8:35). Kelepasan dari dosa harus datang dari orang lain, harus ada yang melepaskannya, bukan lepas sendiri. Niat baik, doa – doa, penyesalan, tangisan, tidak dapat melepaskan dari dosa, hamba, budak itu harus ada yang melepaskan. Untuk itulah Yesus anak ALLAh itu datang kedunia untuk melepaskan kita dari belenggu dosa, dia juruslamat kita dan hanya Yesus yang bisa melepaskan kita, dan selain dia tidak ada yang bisa mengampuni dosa kita. Setelah dibebaskan dari dosa, kita merdeka artinya bukan merdeka melakukan dosa, bisa sesuka hati, tapi justru jangan berbuat dosa lagi. kemaren pada tanggal 17 Agustus 2013, kita telah memperingati kemerdekaan Negara kita Republik Indonesia yang ke 68. Kita bersyukur buat kemerdekaan yang telah dianugrahkan Tuhan bagi kita. Tapi oleh karena situasi politik yang tidak sepenuhnya menghadirkan damai sejahtera kepada masyarakat dan beragam persoalan yang ada di tengah-tengah bangsa ini, kadang terdengar keluhan yang mempertanyakan “Sudahkah kita merdeka??!!!” Kemiskinan, kemelaratan, ketidak adilan di mana-mana. Model kejahatan kian menakutkan, sulit mendapatkan pekerjaan, biaya pendidikan dan harga-harga kebutuhan pokok semakin tinggi dll. Benarkah yang di maksud kemerdekaan berarti tidak ada lagi penderitaan, tidak ada lagi kejahatan, sekolah gratis, harga murah, kesehatan masyarakat dijamini sepenuhnya oleh pemerintah dll. Mungkinkah semuanya itu akan terjadi di Indonesia? Diatas semua persoalan itu orang percaya harus tegas dan tanpa ragu tetap mengatakan “Kita sudah merdeka. Tumbuh kembangkanlah jiwa merdeka, baik dalam cara pandang dan sikap hidup. Kalau kadang ada perasaan kita ini belum merdeka sebab masih di perlakukan tidak adil, masih di gilas kemelaratan dll, semua itu terjadi hanyalah karena di sekeliling kita masih banyak orang yang jahat dan orang yang tidak bertanggung jawab berkeliaran. Jadi waspadalah dan jaga diri jangan menjadi penjajah di dalam Negara yang merdeka ini. Sebagai warga Kerajaan Allah orang percaya adalah umat yang merdeka sepenuhnya, yang di merdekakan dari perhambaan dosa dan tradisi, tetapi orang percaya masih di dalam dunia (lingkungan penuh dosa). Kehidupan Kristen yang merdeka harus bebas dari kuasa dan perbuatan dosa; ibarat ikan di lautan, mereka hidup di air asin tetapi dagingnya tidak menjadi asin. Hendaknya demikian juga yang terjadi kepada orang percaya; orang percaya hidup di dunia dengan lingkungan yang penuh dosa, tetapi hidup orang percaya jangan di warnai atau di kuasai dosa. Pokok Permasalahan. Teks bahasan Firman Tuhan hari ini tentang bagaimana Yesus menerangkan dan meyakinkan orang Yahudi bahwa kemerdekaan orang percaya dinyatakan di dalam diri Yesus. Teks firman Tuhan ini di latar belakangi ketika orang-orang Farisi membawa kepada Yesus seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah dan mereka hendak menguji sikap Yesus, mencari kesalahan Yesus, apakah Yesus akan taat kepada pengajaran hukum Taurat yang disampaikan Musa, yang memerintahkan melempari perempuan-perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Tentang hal itu Yesus berkata “Barang siapa diantara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Mendengar jawaban Yesus seorang demi seorang orang Farsi itu pergi meninggalkan Yesus dan wanita itu (8:1-11). Pada mulanya orang-orang Farisi menganggap dirinya benar dan lebih layak, tetapi ketika Yesus mengajarkan kebenaran baru, mereka tidak dapat mengelak bahwa mereka juga orang berdosa, yang membangga-banggakan kebenaran palsu, hidup dalam kebohongan dan keinginan kuat untuk membunuh Yesus. Di dalam ayat 44, lebih keras Yesus mengatakan kepada orang Yahudi “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu.” Iblis adalah bapa dari segala dusta (seperti pencobaan kepada Hawa di taman Eden (Kejadian 2:1-6)), dan membunuh (seperti ia mendorong Kain membunuh adiknya Abil (1 Yohanes 3:12)). Pengajaran Yesus membuat orang orang Farisi menyadari pemahamannya yang salah, tetapi bukan berarti mereka menerima Yesus. Situasinya semakin memanas, Yesus menegor mereka, bahwa keselamatan terjadi bukan seperti keyakinan mereka menganggap bahwa hanya merekalah umat pilihan Allah yang layak untuk Kerajaan Sorga, sebab mereka adalah orang-orang yang di sunatkan sebagai keturunan Abraham yang tidak pernah menjadi hamba siapapun. Orang-orang Yahudi merasa sudah merdeka (bebas) dan tidak butuh Yesus. Karena itu Yesus menentang pemahaman Yahudi, bahwa keselamatan bukan pada tanda sunat (tradisi), sunat tidak punya kekuatan mendatangkan keselamatan (kebebasan) demikian juga keberadaan sebagai keturunan Abraham. Tentang pengakuan orang Yahudi sebagai keturunan Abraham, Yesus menegor mereka: “Kalau kamu keturunan Abraham maka kamu akan mengerjakan pekerjaan yang di kerjakan Abraham. Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku seorang yang mengerjakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak di kerjakan Abraham. Yang kamu kerjakan pekerjaan bapamu sendiri (nenek moyangmu yang bebal atau yang dimksud Yesus Iblis bapa segala dusta dan pembunuh).” (8:39b-41a). Yesus menegor mereka mengajarkan penolakan kepada Firman yang disampaikan Yesus adalah penolakan terhadap kebenaran Allah, berarti juga menolak kemerdekaan. Firman itu adalah Allah (Yohanes 1:1), Firman menjadi daging di dalam Yesus dan Ia-lah yang memerdekakan. Karena itu orang yang menolak Firman sama dengan menolak Allah, menolak Yesus, menolak kemerdekaan, menolak keselamatan. Renungan: Sering kita mendengar atau bahkan kita juga mengatakan bahwa ketika kita menjadi Kristen; dengan di babtis atau di sidikan maka kita telah di merdekakan. Tapi benarkah kita telah merdeka? Jika orang masih menyimpan dan memelihara amarah, maka mereka adalah orang yang terjajah oleh amarahnya. Jika orang masih memelihara dendam maka mereka adalah orang yang terjajah oleh dendamnya. Jika orang masih memelihara kebiasaan dosa maka mereka terjajah oleh kebiasaan dosa tersebut. Jika orang masih cinta uang maka hati mereka terikat oleh keinginan mengumpulkan leibih banyak lagi. Jika orang yang masih suka menyalahkan masa lalunya (“nasibnya”) maka mereka terjajah ketidak mauannya menerima kenyataan dan lebih baik dll. Mari kita renungkan lebih dalam lagi, supaya kita tidak sama seperti orang-orang Yahudi yang di hadapi Yesus, yang merasa dirinya benar sehingga menutup diri terhadap kebenaran yang sesungguhnya. Mengakui kebenaran pengajaran dan hikmat Yesus tetapi menolak Yesus sehingga tidak mengubah sikap hidupnya. Kemerdekaan hanya akan terjadi jika manusia mau menerima Yesus (Firman Tuhan), yaitu menerima hidup Yesus dan “menghidupkannya” di dalam hidup dan perbuatannya. Apa yang di ajarkan dan dilakukan Yesus; yaitu mengasihi sesama dan senantiasa membagi syalom melayani setiap orang dengan penuh kasih. Hendaknya kehidupan warga Kerajaan Allah yang merdeka nyata dalam ketaatan, bukan kepatuhan kepada tradisi. Umpamanya Paulus mengajarkan, yang di butuhkan dalam keselamatan bukan sunat jasmani tetapi besunat hati, dan pendengaran (bdg Kis 7:51). Mengalami kemerdekaan di dalam Kristus berarti tidak bebal atau keras hati. Mau menjaga supaya keinginan dan penilaian hati tetap bersih. Mau menjaga telinga mendengar dan menerima segala pengajaran dari Fiman Tuhan. Orang percaya janganlah berprilaku seperti orang Yahudi dalam latarbelakang teks khotbah hari ini, ketika orang-orang Farisi membawa perempuan yang kedapatan berbuat zinah kepada Yesus dengan maksud menjebak Yesus, namun Yesus menyampaikan hikmat dari Firman Tuhan dan orang-orang Farisi pergi satu persatu meninggalkan Yesus dan wanita tersebut, adalah bukti mereka mengakui kebenaran Yesus dan pengakuan dirinya belum benar, masih dikuasai dosa namun mereka tidak mau dibebaskan dari perbudakan dosa. Pada akhirnya orang-orang Yahudi menyalibkan Yesus walau tanpa bukti kesalahan. Penutup: Kemerdekaan Kristen itu bukan kebebasan yang sebebas-bebasnya tanpa batasan. Kemerdekaan Kristen itu kira-kira seperti gerbong kereta api yang berjalan di relnya dan jika kereta api keluar dari relnya akan tergelincir. Atau seperti ikan yang tetap berada di dalam air, sebab jika ikan keluar dari dalam air akan kekurangan oksigen, kekeringan, lemas tidak berdaya dan mati. Kemerdekaan Kristen adalah kebebasan berekspresi melakukan kasih dengan landasan kasih Kristus. Orang percaya hendaknya selalu mengingat dan menghargai proklamasi kemerdekaannya yang sudah di kumandangkan Yesus dalam peristiwa salib dan kebangkitannya. Karena itu hendaklah senantiasa berdiri teguh sebagai pemenang dan menolak segala kuk perhambaan. Ia bukan hamba siap-siapa tetapi ia menjadikan dirinya menjadi hamba kepada semua orang supaya dapat melayaninya dan memenangkannya untuk Tuhan. Pembebasan di dalam Kristus telah mengangkat orang percaya menjadi anak-anak Tuhan, yang berhak tinggal di rumah Bapa dan sebagai ahli waris Kerajaan Allah. Amen Dari berbagai sumber

Khotbah Minggu 11 Agustus 2013 "Amos 8: 4-7"

Pengantar: Standard etis-moral iman Kristen mengacu kepada Sepuluh Firman Allah. Standard etis-moral tersebut sangat tepat. Karena melalui Sepuluh Firman tersebut kita dapat bercermin bagaimanakah kita harus mengasihi Allah dan sesama. Itulah hukum kasih yang utama. Namun ternyata melaksanakan Sepuluh Firman Allah tidak menjamin kita untuk melaksanakan kasih secara utuh. Sebab Sepuluh Firman merupakan hukum-hukum Allah yang hanya melarang kita untuk melakukan dosa-dosa yang kelihatan. Namun dosa-dosa yang tidak kelihatan namun potensial untuk kita lakukan tidak terakomodasikan kecuali hukum ke sepuluh, yaitu: “Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu" (Kel. 20:17). Jenis dosa-dosa yang tidak kelihatan namun potensial untuk kita lakukan merupakan 7 dosa maut (“Seven deadly sin”), yaitu: kesombongan, iri-hati, amarah, serakah, nafsu-birahi, rakus, dan malas. Karena itu bisa terjadi umat tidak pernah melanggar Sepuluh Firman Allah secara formal dan ritual, tetapi mereka justru secara intensif melakukan 7 dosa maut tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Keterangan/Khotbah: Allah Pemilik Kehidupan Kitab Amos bukan sekedar suatu berita tentang gerakan sosial yang membela keadilan bagi orang-orang yang tertindas. Walaupun berita kitab Amos menyampaikan perlawanan kepada ketidakadilan dan penindasan kepada sesama yang lemah. Namun kitab Amos tetap menempatkan Allah sebagai pemilik kehidupan dan pencipta seluruh umat manusia. Karena itu kitab Amos menyebut nama Allah sebagai Allah semesta alam (Am. 5:27). Prinsip keadilan dan kebenaran yang seharusnya terjadi dalam kehidupan ini ditempatkan dalam kerangka Allah semesta alam, sehingga seluruh umat manusia tanpa terkecuali adalah milik Allah. Apabila Allah adalah pemilik kehidupan, maka Allah menentang setiap umat yang menindas sesamanya. Di Am. 8:4 diawali dengan perkataan “Dengarlah ini”. Pernyataan ini mengingatkan kita ketika Allah berfirman di Ul. 6:4-5, yaitu: “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu”. Dengan ungkapan “dengarlah” (syema) di Ul. 6:4-5 menegaskan 2 prinsip utama, yaitu: prinsip pertama tentang pengakuan iman (kredo) bahwa Tuhan itu esa. Allah itu satu-satunya, dan tidak ada yang lain. Dan juga prinsip kedua adalah implementasi dari pengakuan iman, yaitu panggilan dan kewajiban etis-moral setiap umat untuk mengasihi Allah dengan segenap kedirian mereka. Sedang di Am. 8:4, kata “dengarlah” ditempatkan sebagai suatu teguran Allah kepada umat yang mengaku percaya dan beriman kepada Allah yang esa, namun mereka menginjak-injak orang miskin dan membinasakan orang sengsara. Jelas sikap ambigu atau mendua bukanlah sikap yang berkenan kepada Allah. Kita tidak mungin mempermuliakan Allah dengan menyengsarakan orang lain baik secara batin maupun secara fisik. Sikap umat Israel khususnya para pedagang dan orang-orang kaya yang berbisnis pada zaman Amos sedemikian loba untuk memperoleh keuntungan, sehingga mereka kurang mendukung umat Tuhan secara keseluruhan melaksanakan ibadah di bulan baru dan hari Sabat. Mereka berharap ibadah di bulan baru dan Sabat dapat cepat berlalu agar mereka dapat segera menjual gandum dan terigu. Mereka merasa waktu yang tersedia selama 6 hari tidaklah cukup untuk memperoleh keuntungan. Karena itumereka berharap dapat memperoleh keuntungan juga pada hari ketujuh, yakni hari Sabat. Selain itu mereka berharap dapat menggunakan bulan baru yang mengawali setiap bulan sebagai kesempatan untuk memperoleh “keuntungan tambahan”. Karena setiap bulan baru umat Israel ke Bait Allah untuk mempersembahkan kurban ucapan syukur atau perayaan ibadah. Selama ibadah hari Sabat atau perayaan bulan baru mereka manfaatkan untuk mengkorup hari-hari yang dikuduskan bagi Tuhan. Dengan demikian para pedagang atau orang-orang yang kaya yang berbisnis itu telah bersikap serakah, loba atau tamak terhadap kekayaan. Walaupun mereka telah memperoleh kekayaan yang berlimpah, mereka masih menganggap belum mampu memenuhi keinginan yang diharapkan. Mereka kemudian memperlakukan orang-orang miskin dengan cara menindas, menginjak-injak dan membinasakan mereka. Hawa-nafsu serakah telah menutup hati-nurani, sehingga mereka berlaku kejam dan sewenang-wenang kepada sesamanya. Tepatnya sikap serakah akan membuat seseorang melihat sesama yang lebih lemah sebagai pihak yang dapat dijadikan korban sebagai pemuas hawa-nafsunya. Penutup: Menegaskan kepada kita, bahwa Tuhan semesta alam adalah satu-satunya pemilik kehidupan ini, maka Tuhan menentang setiap ketidakadilan. Perilaku umat Israel yang tidak adil terhadap sesamanya yang dinyatakan dalam bentuk keserakahan, kelicikan, kecurangan, pemerasan dan kekejaman mengeksploitasi sesama yang miskin dan lemah itu mendatangkan murka Tuhan. Tuhan menentang dan murka kepada setiap umat yang berperilaku tidak adil dan tidak jujur terhadap sesamanya. "Dengarlah ini, kamu yang menginjak-injak orang miskin, dan yang membinasakan orang sengsara di negeri ini dan berpikir: "Bilakah bulan baru berlalu, supaya kita boleh menjual gandum dan bilakah hari Sabat berlalu, supaya kita boleh menawarkan terigu dengan mengecilkan efa, membesarkan syikal, berbuat curang dengan neraca palsu, supaya kita membeli orang lemah karena uang dan orang yang miskin karena sepasang kasut; dan menjual terigu rosokan?" TUHAN telah bersumpah demi kebanggaan Yakub: "Bahwasanya Aku tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuatan mereka!" (Amos 8: 4-7). Para pedagang demikian materialistis sehingga mereka menginginkan hari Sabat cepat berlalu supaya mereka dapat melanjutkan perdagangan mereka. Kita harus bertanya pada diri sendiri: Apakah saya demikian terlibat dalam mencari uang sehingga hampir tidak memperhatikan firman Allah dan kemajuan kerajaan-Nya? Menurut Tuhan Yesus sendiri, kita tidak dapat melayani Allah dan Mamon sekaligus. Amen. RHL