Perdamaian sangat dibutuhkan pada jaman ini, bagaimana kita bisa berdamai dengan sesama, dengan Tuhan dan diri sendiri.Semua ini hanya dapat kita peroleh dari Dia dan FirmanNya sebagai Madu Surgawi.
Kamis, 27 Juni 2013
Khotbah Minggu 30 Juni 2013 "Orang Kristen Yang manakah Anda"….? Mat. 8:18-22
Dalam Mat 8:18-22 ini hanya diceritakan tentang 2 orang (dalam Luk 9:57-62 yang merupakan bagian paralelnya ada 3 orang).
1) Orang pertama (ay 19-20).
• orang ini adalah seorang ahli Taurat dan ia mau ikut Yesus. Kata-katanya kelihatannya menunjukkan bahwa ia adalah orang yang rohani. Tetapi dari jawaban Yesus pada ay 20 bisa disimpulkan bahwa orang ini ingin ikut Yesus karena ia mengira bahwa ikut Yesus itu bakal enak (karena Yesus bisa melakukan segala macam mujijat). Orang ini tidak tahu apa-apa tentang penyangkalan diri, pemikulan salib, penderitaan karena / demi Kristus dan sebagainya.
• Jawaban Yesus kepada orang pertama ini (ay 20):
* ay 20 menunjukkan Yesus tidak punya tempat tinggal. Ia ditolak dimana-mana.
* Orang Kristen yang menganggap bahwa ikut Yesus itu enak tok, perlu memperhatikan dan merenungkan ay 20 ini! Juga ayat-ayat seperti Mat 10:16 Mark 13:12-13 Yoh 15:18-19 Yoh 16:33 Fil 1:29 2Tim 3:12).
* Yesus tidak melakukan propaganda bahwa ikut Dia itu enak. Ia langsung memberitahu bahwa ikut Dia itu berat dan ada ‘ongkos yang harus dibayar’. Ini jelas bertentangan dengan banyak ajaran pada saat ini yang mengatakan bahwa ikut Yesus pasti kaya, sembuh dari sakit, bebas dari problem dan sebagainya. Yesus tidak pernah mengajarkan ajaran yang seperti ini!
2) Orang kedua (ay 21-22).
Ada orang-orang yang menafsirkan bahwa ayah orang itu memang baru saja mati. Tetapi rasanya tidak mungkin Yesus melarang orang itu untuk mengubur ayahnya kalau ayahnya betul-betul baru mati. Penafsir yang lain menganggap bahwa tradisi saat itu adalah bahwa seorang anak harus menguburkan ayahnya. Jadi, biasanya anak tidak mau pergi jauh sebelum ayahnya mati dan ia kuburkan. Jadi, yang diminta oleh orang ini adalah penundaan untuk ikut Yesus sampai ayahnya mati, barulah ia mau ikut Yesus.
Apa yang ingin dilakukan oleh orang itu (mengubur ayah) adalah sesuatu yang baik (bdk. Mat 15:3-9). Tetapi ia mengutamakan hal itu lebih dari ikut Yesus. Ini yang salah!
Penundaan yang ingin ia lakukan menunjukkan bahwa ia tidak mempunyai kesadaran bahwa ikut Yesus / melayani Yesus adalah sesuatu yang sangat mendesak dan tidak boleh ditunda. Tetapi banyak orang Kristen seperti itu. Mereka menunda untuk belajar Firman Tuhan, melayani Tuhan dan sebagainya dengan piliran: ‘Lain kali toh masih bisa’. Apakah saudara juga berpikir seperti itu? Bertobatlah!
Ay 22 artinya: orang yang mati rohani bisa menguburkan ayahmu, tetapi kamu harus ikut Aku dan mengabarkan Injil (Lukas 9:60). Ada tugas-tugas yang bisa dilakukan oleh orang lain, yang tidak Kristen sekalipun. Tetapi ada tugas-tugas yang hanya bisa dilakukan oleh orang Kristen yang sungguh-sungguh. Misalnya memberitakan Injil. Ini harus diprioritaskan!
Penerapan:
Apakah saudara punya aktivitas-aktivitas dunia (sekalipun itu baik) sehingga saudara lalu tidak mempunyai waktu untuk melayani Tuhan? Ingat bahwa aktivitas duniawi itu bisa dilakukan oleh orang lain, yang kafir sekalipun. Tetapi pelayanan di gereja tidak bisa dilakukan oleh orang kafir. Kapan saudara mau meninggalkan aktivitas duniawi itu dan mulai melayani Tuhan?
Dalam pelayananpun ada hal-hal yang bisa dilakukan oleh banyak orang, misalnya jadi bendahara, penulis, dan sebagainya. Ada hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh sedikit orang, misalnya menjadi liturgist, organist dan sebagainya. Ada hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh sangat sedikit orang, misalnya berkhotbah / mengajar. Saudara harus berusaha untuk lebih menggunakan karunia-karunia yang jarang ada!
3) Perbandingan antara orang pertama dan orang kedua:
Orang pertama : too ready to follow Jesus (= terlalu siap untuk mengikut Yesus).
Orang kedua : too unready to follow Jesus (= terlalu tidak siap untuk mengikut Yesus).
Sdr/I yang dikasihi Tuhan…!
Pada saat ini banyak sekali barang-barang tiruan yang meniru produk-produk terkenal. Misalnya: Hp Blackberry yang lagi ngetop-ngetopnya dan menjamur di berbagai kalangan (sampe Presiden Obama dan WaPres Jusuf Kalla memakainya) ditiru oleh hp Nexian. Bentuknya sama persis, hampir ga ada bedanya. Sandal Crocs yang lagi heboh, yang banyak bolongnya kayak kotak sabun, ditiru oleh merek-merek lain. Apalagi Negeri Tirai Bambu, yang begitu terkenal dengan plagiatisme. Jam rolex merek terbaru yang belum dikeluarkan saja sudah ditiru dan dipasarkan oleh negeri China. Bukan hanya produk, bukankah sering kita dengar terjadi pemalsuan uang sehingga ada iklan yang mengajarkan untuk “dilihat, diterawang dan diraba”, untuk mengetahui apakah itu uang palsu.
Mengapa mereka meniru? Alasan utama ialah karena mereka akan mendapatkan keuntungan jika mereka dapat meniru barang-barang tersebut. Nilai jual bertambah, dan nama produk mereka semakin naik. Tentunya barang-barang yang ditiru adalah barang-barang yang memang layak atau pantas serta menarik untuk ditiru.
Namun bagaimanapun juga, sekali barang tiruan-tetaplah tiruan. Ia tidak mungkin bisa menyerupai sama persis dengan aslinya. Nexian tidak memiliki kemampuan seperti BB, hanya tampilannya aja. Jam rolex palsu tidak memiliki kualitas sebaik aslinya, dan mudah rusak.
Uang palsu tidak mempunyai nilainya. Tiruan bukan asli, dan asli bukan tiruan. Yang asli dapat ditiru, tapi yang tiruan tidak dapat diaslikan.
Namun, bukan hanya produk-produk bermerek yang ditiru, ternyata orang Kristen pun ada yang tiruan. Kita katakan mereka adalah orang Kristen samaran. Mereka adalah orang-orang yang mengaku percaya Tuhan namun sebenarnya rasa percaya itu tidak ada dalam dirinya. Mereka yang mungkin setiap hari kegereja, sudah di babptis, bahkan yang mengambil atau terlibat dalam pelayanan, namun dalam kehidupan sehari-hari mereka tidak pernah memiliki relasi yang intim dengan Tuhan. Orang-orang Kristen seperti ini dapat kita katakan sebagai orang Kristen samaran. Alkitab sendiri pernah menulis dalam Matius 7:22-23 “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”. Tuhan mengingatkan bahwa akan ada orang-orang kristen samaran atau tiruan, namun sebenarnya bukan Kristen.
Seperti apa orang-orang itu? Apakah mungkin kita yang duduk saat ini juga bukan seorang Kristen sejati? Bagaimana cara mengetahuinya? Sama seperti petugas bank, bila ingin mengenali yang palsu, ia harus mengenali aslinya terlebih dahulu. Demikian juga kita dapat mengetahui apakah kita adalah Kristen samaran atau bukan yaitu dengan mengenal seperti apa sih Kristen sejati itu.
Matius 8:18-22 merupakan perikop yang berbicara tentang pemuridan. Kita tahu bahwa semua orang yang percaya kepada Tuhan secara otomatis akan menjadi murid-murid Kristus, tidak mungkin tidak. Oleh karena itu kita harus mengetahui bagaimanakah ciri-ciri murid Kristus itu. Dalam perikop inilah kita akan belajar langsung dari perkataan Yesus sendiri tentang ciri-ciri seorang murid Kristus yang sejati. Dengan mengetahui ciri-ciri murid Kristus yang sejati kita akan dapat mengetahui ciri-ciri murid-murid Kristus samaran, atau dapat juga dibilang orang Kristen samaran.
Seorang murid sejati atau Kristen sejati itu harus memiliki sikap rela berkorban
Pada ayat 18 dikatakan bahwa “ketika Yesus melihat orang banyak mengelilinginya, bertolaklah Ia keseberang”. Sesampainya di seberang ia bertemu dengan seorang ahli Taurat, dan ahli Taurat itu berkata “Guru, aku akan mengikuti Engkau, ke mana saja Engkau pergi”. Ii, sebenarnya peristiwa ini merupakan suatu peristiwa yang unik.
Mengapa?
Ahli taurat merupakan seorang yang memelihara hukum Taurat mengajarkan hukum Taurat pada waktu itu. Mereka sangat dihormati dan dihargai. Banyak orang yang segan dengan keberadaan mereka, karena mereka dianggap sebagai wakil Allah yang mengerti tentang hukum-hukum Taurat. Pada umumnya hampir tidak ada seorang ahli Taurat yang mau mengikuti Yesus. Apalagi ketika Yesus di dunia, Yesus sangat mengecam para ahli Taurat yang bersikap munafik, penuh tipuan, tidak memiliki kasih, dsb. Oleh karena itu kebanyakan para ahli Taurat ini sangat membenci Yesus. Mereka selalu mencari cela untuk mencari kesalahan-kesalahan Yesus. Dan kita tau bahwa pada akhirnya, merekalah yang menyalibkan Yesus. Jika kita melihat dalam keseluruhan Injil Matius, kita akan melihat begitu banyak konfrontasi yang dilakukan oleh Ahli Taurat kepada Yesus. Inilah yang menjadi letak kejanggalannya. Di ayat 19 di katakan bahwa ada seorang ahli Taurat yang hendak mengikuti Yesus, dan memanggil Yesus “guru”. Bukankah ini aneh?
Namun apa jawab Yesus? Dalam Ayat 20 Yesus segera menjawab “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya”. Ini merupakan majas ironi yang Yesus berikan. Serigala itu merupakan hewan yang licik, tidak berperasaan, dan seringkali orang-orang yang kejam dilambangkan sebagai seekor serigala (seperti herodes). Namun hewan seperti ini dikatakan mempunyai liang untuk beristirahat. Sedangkan burung merupakan hewan yang murah, lemah, dan tidak berdaya. Namun hewan seperti ini juga memiliki sarangnya. Lalu Yesus mengontraskan dengan dirinya “tetapi Anak Manusia (yang adalah Yesus sendiri) tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala.” Apa maksudnya? Yesus hendak memberitahukan kepada ahli taurat itu: “jika kamu mau mengikuti aku, kamu harus rela berkorban, rela hidup tidak enak, rela menderita sama seperti aku”. Kita tahu sendiri bahwa selama hidup-Nya, Yesus banyak menghadapi penderitaan. Sejak awal ia ditolak, tidak mempunyai tempat tinggal, dihina, dikhianati, bahkan di bunuh di kayu Salib. Inilah pesan yang ingin Tuhan berikan pada ahli Taurat itu.
Mungkin awalnya Ahli Taurat itu hendak mengikuti Yesus karena jika kita melihat perikop sebelumnya, Yesus sudah melakukan banyak mujizat, dan Ia sudah terkenal; sehingga jika ia bisa menjadi murid Yesus, namanya bisa ikut mengambung dan ia bisa hidup enak, karena Yesus mampu melakukan apa saja. Tapi Yesus mengajar lain. Menjadi pengikut Kristus itu bukanya hidup enak-enak, tapi hidup susah dan harus rela bekorban.
Pada tahun 1600 penganiayaan terjadi begitu keras terhadap orang-orang Kristen yang ada di Jepang. Tanggal 20 Feb 1627 seorang misionari Kristen yang bernama Paulo ditahan karena menampung orang-orang Kristen dirumahnya. Dalam penahanan itu ia disiksa. Ia dipukul, ditelanjangi, dan diseret. Namun Paulo tetap tegar.
Pemerintah Jepang menggunakan cara yang lebih keji untuk menyiksanya. Mereka berkata bahwa mungkin orang ini dapat kuat dalam menghadapi siksaan, namun ia tidak akan kuat jika melihat anak-anaknya disiksa. Lalu mereka menghampiri Paulo dengan membawa anak-anaknya, sambil berkata “berapa banyak jari anakmu yang harus saya ambil atau kamu mau menyangkal Tuhanmu” Paulo sempat bingung, bayangkan saja jika anak kita menderita, bukankah itu jauh lebih menderita dibandingkan jika kita yang menderita? Namun dengan tegar Paulo berkata “semua terserah padamu, anakku sudah kuserahkan dalam tangan Tuhan”. Akhirnya semua anaknya jari-jarinya dipotong semua, yang disisain hanya jempol dan kelingking, dengan anggapan bahwa mereka harus lebih buruk daripada hewan. Dan akhirnya ia harus mati karena penganiayaan itu. Namun sebelum ia mati, ia mengangkat tangannya ke atas sambil menyerahkan nyawanya.
Inilah ciri Seorang Kristen sejati yaitu rela bekorban. Sebaliknya, orang Kristen samaran adalah orang yang inginnya hidup senang saja, yang hanya meminta berkat dan berkat, tapi tidak pernah mau bekorban untuk Tuhan. Saudara ada di posisi manakah kita saat ini? Apakah kita merupakan orang Kristen sejati ataukah samaran? Jika kita mengatakan bahwa kita adalah orang Kristen sejati, sejauh mana kita sudah bekorban untuk Kristus. Tidak perlu jauh-jauh berbicara untuk menjadi martir bagi Kristus. Dalam kehidupan pelayanan kita, sudahkah kita melayani Tuhan di gereja? Siapkah kita meluangkan waktu lebih untuk pelayanan? Atau kita lebih suka untuk menyibukkan diri di rumah dan keluarga, dan mengabaikan pelayanan sama sekali. Sudahkah kita mengerahkan tenaga lebih untuk Tuhan? Sudahkah kita menguras pikiran kita bahkan hati kita demi kepentingan Kristus? Atau mungkin selama ini kita mengikuti Yesus dengan motivasi agar kita diberkati terus menerus, namun tidak ada sedikitpun motif untuk melayani Dia. Saudara, Yesus sendiri pernah berkata “barangsiapa yang mengikuti Aku ia harus siap menyangkali dirinya, memikul salibnya, dan mengikuti Aku.” Hidup mengikut Yesus penuh dengan kesusahan, ada kalanya kita harus memikul salib yang begitu berat. Namun itulah ciri untuk menjadi murid Yesus yang sejati. Jika Yesus menderita, maka murid-muridnya juga harus siap menderita. Amen. Dari berbagai Sumber
https://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=ctmZy1emPFE
Minggu, 23 Juni 2013
Roma 8: 14-18 "Menjadi Anggota Keluarga Allah"
Pendahuluan
Nas perikop ini ada baiknya dibaca dengan latar belakang ayat-ayat sebelumnya, khususnya ayat 9-11. Pada ketiga ayat itu Paulus menegaskan bahwa kita yang percaya kepada Kristus tidak lagi hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, yang telah menghidupkan tubuh kita dan sekarang Roh itu tinggal di dalam diri kita. Keadaan yang baru ini, yaitu hidup oleh dan di dalam Roh, menghasilkan sebuah perbedaan yang amat nyata dalam kehidupan kita.
Perikop ini merupakan kesimpulan dari ayat-ayat yang mendahuluinya yaitu mulai dari ayat 1. Dalam perikop ini Paulus mau mengggambarkan hubungan baru antara orang percaya dengan Allah. Melalui sebuah kiasan, orang percaya itu di angkat (diadopsi) menjadi anggota keluarga Allah, dan hal ini merupakan anugerah Allah kepada setiap orang percaya.
Penjelasan:
Ayat 14-17:
1. Hidup Sebagai Anak-anak Allah.
Konsep “patria potestas” (Latin: 'kekuasaan seorang ayah') adalah sistem adopsi anak di lingkungan kerajaan Romawi. Isinya memaparkan kuasa mutlak seorang ayah atas keluarganya. Seorang ayah berkuasa atas hidup-mati anak-anaknya, dan sepertinya tidak pernah meranjak dewasa atau mandiri sebab meskipun sudah tua ia tetap berada di bawah kerangkeng patria potestas. Agar bisa diangkat menjadi anak, seseorang harus lebih dahulu keluar dari kungkunganpatria potestas itu. Prosesnya sangat berat dan sulit serta sangat mengesankan. Konsekuensi pengangkatan seperti inilah yang ditekankan oleh Paulus dalam perikop ini, orang percaya telah di angkat menjadi anak-anak Allah.
Orang yang telah diadopsi mendapat hak sebagai anak yang sah dan mengikat dalam keluarga barunya. Dia telah menjadi ahli waris atas harta ayah barunya. Haknya tidak dapat dicabut, dan akan mewarisi harta ayahnya bersama-sama saudara-saudaranya yaitu anak kandung dari ayah barunya. Secara hokum, kehidupan lama dari anak yang diadopsi ini telah dihapuskan termasuk hutang-hutangnya. Dia menjadi orang baru dalam kehidupannya yang baru.
2. Roh Kudus sebagai Saksi
Dalam budaya Romawi pengangkatan seorang anak harus juga disaksikan oleh beberapa saksi (Band. Dalam budaya Batak, pengangkatan seorang anak harus disaksikan oleh pihak keluarga;Hula-hula, Boru dan Dongantubu). Pengangkatan kita sebagai anggota keluarga Allah disaksikan oleh Roh Kudus. Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita benar-benar telah menjadi anak-anak Allah. Roh itu bersaksi, bahwa pengangkatan itu benar adanya.
3. Hidup Yang Dipimpin Oleh Roh
Sebagai anak-anak Allah, kita tidak lagi boleh hidup di dalam “ketakutan”. Kita harus berani bersaksi kepada dunia bahwa Allah adalah Bapa kita. Juga berani berseru dalam penghormatan kepada kepada Allah sebagai Bapa kita. Sebagai anak Allah, kita juga harus menanggalkan manusia lama kita yang dulu hidup bergelimang dosa (hidup dalam daging) dan mengenakan manusia baru kita, yaitu hidup yang dituntun oleh Roh Allah, Bapa kita. Megikuti aturan main yang telah Dia tetapkan untuk kita (Band. 2 Tim. 1:7-8)
Ayat 18:
Kemuliaan Yang Akan Datang Setelah Tahan dalam Penderitaan
Paulus selalu memandang kepada 3 zaman atau masa, yaitu: masa yang lalu, sekarang dan masa depan. Dalam perikop ini Paulus memperlihatkan zaman sekarang, dimana mungkin saja orang percaya akan mengalami penderitaan sebagai anak-anak Allah. Akan tetapi anak-naka Allah selalu bersama-sama dengan Tuhan Yesus (yang telah berjanji akan menyertai senantiasa), karena itu anak-anak Allah harus bersabar menghadapi penderitaan itu. Paulus menghibur dengan perbandingan, bahwa penderitaan zaman sekarang yang dialami oleh anak-anak Allah tidaklah berarti apa-apa bila dibandingkan dengan kemuliaan yang akan diterima kelak. Dalam Roma 5:2b Paulus berkata, “Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.” Pada zaman sekarang kita harus bertahan dan bersabar dalam penderitaan sebab kelak, Allah akan memuliakan anak-anak-Nya.
Refleksi
1. Kita harus menanggalkan manusia lama yang akan menemui kebinasaan karena kita sudah diangkat Allah menjadi anak-anak-Nya.
2. Roh Kudus yang menolong kita untuk meninggalkan sifat-sifat manausia lama kita.
3. Kita harus dibaharui dalam roh dan pikiran.
4. Kita harus mengenakan manusia baru yang sesuai dengan kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.
5. Sebagai anak-anak Allah kita harus bersabar dalam penderitaan karena kita mengharapkan kemuliaan kelak yang jauh lebih besar artinya.
Warisan mempunyai arti yang berbeda di perjanjian lama dan perjanjian baru. Di perjanjian lama
warisan sering kali di artikan tanah, harta, kuasa, dan sejenisnya. Tetapi di perjanjian baru warisan
indentik dengan suatu hubungan ayah dan anak.
Di perumpamaan kebun anggur (Markus 12: 1-11), dapat kita simpulkan bahwa Tuhan Yesus
adalah ahli waris tunggal, sedangkan dari Galatia 4: 6-7 Gereja (kita semua orang percaya) adalah
ahli waris bersama. Sekarang pertanyaanya adalah berupa apakah warisan Tuhan itu?
1. Kerajaan Allah (Matius 21:43, Matius 25: 34, 1Korintus 6: 9, 1 Korintus 15: 50).
Kerajaan disini bukan berarti suatu tempat, negara, atau semacam itu. Tetapi kerajaan Allah disini adalah suatu nuansa dimana Yesus adalah Raja dan kita sebagai rakyatNya. Dalam hidup kita siapakah yang menjadi raja atas hidup kita? Masih diri kita sendiri atau sudahkah kita menjadikan Yesus sebagai Raja atas hidup kita?
2. Hidup yang kekal (Matius 19:29, Lukas 10: 25, 1 Timotius 6: 18-19).
Hidup yang kekal tidak hanya berbicara tentang lamanya jangka waktu, tetapi juga berbicara tentang kualitas hidup yang sebenarnya. Hidup yang kekal adalah kualitas kehidupan dimana kehendak Allah terjadi dalam hidup kita, yaitu hidup di bawah pimpinan Tuhan (Kerajaan Allah). Kapankah kita memperoleh warisan hidup yang kekal ini? Sekarang juga pada saat kita percaya dan taat pada Tuhan (Yohanes 3: 16, 36).
Ada banyak lagi warisan-warisan Tuhan yang lain, tetapi point-point diatas adalah dua dari yang terutama. Kita sudah mendapatkan sebagian dari warisan-warisan Tuhan, belum semuanya. Tetapi Tuhan sudah memberikan jaminanNya kepada kita, yaitu Roh Kudus (Efesus 1: 14, 2 Korintus 1: 21-22, 2 Korintus 5: 5).
Tuhan Yesus memberkati. Amen RHL
"YANG MAHAMULIA" Yehezkiel 1:15-28
Begitulah kelihatan gambar kemuliaan TUHAN. Tatkala aku melihatnya aku sembah sujud, lalu kudengar suara Dia yang berfirman. (Yehezkiel 1:28b)
Jika kita mencoba membayangkan atau berimajinasi mengenai kemuliaan Tuhan, kita akan menemui kesulitan karena keterbatasan kita. Pengarang atau penyair terbaik sekalipun tak akan dapat mengungkapkannya dengan kata-kata. Pelukis sekaliber Picasso juga tak akan mampu menuangkannya di atas kanvas. Pencipta lagu dan penyanyi tak akan bisa melantunkannya. Pemahat patung kelas dunia pun tak akan sanggup memahat sosok mulia ilahi.
Begitu juga yang dialami Yehezkiel. Betapa ia terbata-bata ketika melihat kemuliaan Tuhan. Kemuliaan Tuhan terlalu dahsyat untuk dapat diuraikan. Tidak heran, ketika kita membaca upaya Yehezkiel menggambarkannya, semakin banyak kata digunakan justru semakin bingung kita membayangkannya. Coba bayangkan ay. 15-28a, misalnya. Sangat sulit, bukan? Karena itu, hanya satu hal yang Yehezkiel perbuat tatkala diperhadapkan pada kemuliaan Tuhan yang begitu dahsyat: sujud menyembah dalam kerendahan hati (ay. 28).
Allah yang Mahamulia, yang jauh melampaui pikiran manusia, tidak bisa digambarkan oleh apa pun di muka bumi ini. Manusialah satu-satunya ciptaan Allah yang disebut gambar Allah (Kej. 1:26-27). Manusia diciptakan Allah dengan menyandang citra Allah (imago Dei), untuk menyatakan kemuliaan Allah. Nah, apakah hidup kita—perkataan, pikiran, dan perbuatan kita—sudah memuliakan Tuhan? Oleh Yesus Kristus, Sang Manusia Sejati, kita dikuduskan agar layak memuliakan Allah dan mengasihiNya! Mari kita yakinkan diri kita dahulu bahwa Yesus benar-benar Tuhan dan Allah yang kita kasihi ditengah-tengah kehidupan kita dan tiada yang lain selain dari pada Dia yang telah mati dan bangkit untuk kita. “Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ulangan 6:5).
Kasih adalah dasar bagi kita mengenal Kemuliaan Kristus, jika kita memang benar mengasihi Yesus, maka sesulit apapun hidup yang akan kita jalani kita akan tetap setia; apapun yang kita lakukan akan menjadi kemuliaan bagi Tuhan. Semua yang akan kita perbuat adalah karena kasih kita kepada Allah. Hidup baru di dalam Kristus adalah: “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku” (Galatia 2:20). RHL
MULIAKANLAH ALLAH DENGAN SELURUH ASPEK KEHIDUPAN KITA KARENA HANYA DIA YANG PATUT DISEMBAH
Khotbah Kebaktian Keluarga "MENGAPA KEMBALI KE PERHAMBAAN"….? Pelayanan Roh! Bukan Pelayanan Daging. Galatia 3:3-4, 4:4-9
Pengantar:
Ada satu kekuatiran dalam diri Paulus tentang jemaat Galatia,yaitu kalau jemaat Galatia kembali kepada kehidupan yang lama,kehidupan anak-anak Tuhan yang telah mengerti Firman Allah namun kembali melakukan kehidupanya yang lama,hal ini sangatlah berbahaya,karena seumpama seseorang yang yang membangun rumah sudah sampai setengah,lalu dirobohkan kembali dengan alasan pekerjaan asalnya,pondasinya salah,maka kerugian besar yang dialaminya.
Ibrani 6:4-8.
Seorang yang MURTAD: artinya,seseorang yang sebelumnya tidak mengenal Yesus lalu mengenal dan mendapatkan kasih karunia,dan mendapat terang dari Firman Allah,kemudian meninggalkan Tuhan dan kembali kepada kehidupan yang semula,maka inilah murtad dan orang tersebut sama saja dengan menyalibkan Yesus untuk kedua kalinya,kehidupan yang demikian sudah disiapkan api kekekalan untuk menghukumnya.
Orang yang murtad adalah sama seperti tanah yang menghasilkan semak duri,tetapi yang melakukan Firman Tuhan dengan setia ya akan menghasilkan buah-buah yang manis bagi Allah dan manusia,jadi marilah kita berusaha untuk terus dibangun dengan Firman Tuhan,janganlah sampai kembali kepada kehidupan yang lama,Petrus menuliskan yang demikian sama dengan anjing yang kembali kemuntahnya,keadaannya semakin jahat dari sebelum mengenal Tuhan,karena bagaikan rumah kosong yang ditinggalkan penghuni,sehingga didatangi lagi oleh roh jahat yang pernah meninggalkan rumah tersebut(Matius 12:43-45).
Penjelasan:
“Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu?
Kata ‘bodoh’ dalam bahasa Inggris memakai dua kata,
yaitu stupid dan foolish. Orang Eropah tidak berani berkata stupid kepada anak atau orang yang dikasihinya, sebab pengertian stupid adalah bego. Alkitab juga tidak memakai kata stupid untuk kata bodoh dalam bahasa Indonesia yang ditujukan kepada jemaat Galatia, tetapi menggunakan kata foolish yang maknanya seseorang yang memiliki akal sehat, mempunyai pengetahuan banyak, tetapi minim pengetahuan akan firman Tuhan.
Paulus dengan keras mengingatkan jemaat Galatia dengan kata bodoh. Sebab mereka tidak melakukan kebenaran Firman Tuhan dengan setia dan benar. Saya yakin bahwa jemaat Maranatha bukanlah orang bego (stupid), sebab kita adalah anak-anak Tuhan. Bahkan ada yang sudah puluhan tahun menjadi anak Tuhan. Namun saya ingatkan bahwa ukuran anak Tuhan bukan dilihat dari segi waktu atau lamanya menjadi anak Tuhan, melainkan diukur dari kebenaran Firman Tuhan yang kita lakukan dengan setia.
Paulus berkata : “Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging?” Banyak sekali anak Tuhan yang di awalnya bersemangat, berapi-api, tetapi kemudian menjadi lemah, tidak setia lagi. Salah satu contoh dalam Alkitab, orang yang dulunya berapi-api tetapi kemudian menyangkal Tuhan adalah Petrus. Petrus adalah murid yang dekat dengan Yesus. Petrus termasuk orang yang unggul dalam pelayanan Yesus. Tetapi ketika Petrus diperhadapkan dengan situasi yang belum pernah dihadapi, hal-hal yang tidak masuk akal, dimana Yesus ditangkap, disiksa dan akan disalibkan, ia menyangkal Yesus. Matius 26:69-74. Tiga setengah tahun bersama Yesus : makan sehidangan dengan Yesus, melayani bersama Yesus, setiap hari menyaksikan mujizat Yesus. Bahkan ketika Yesus menyampaikan tentang penderitaan yang akan dialaminya kelak, Petrus dengan lantang berkata bahwa ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi kepada Yesus. Tetapi ternyata ketika diperhadapkan dengan salib, ia menyangkal Yesus. Petrus membela Yesus hanya karena hidupnya yang selama ini nyaman bersama Yesus.
Ada tiga kekuatan besar di dunia ini yang berpotensi menghancurkan kerohanian kita seperti tertulis dalam 1 Yohanes 2:16 yaitu : (1) Keinginan daging, (2) Keinginan mata, (3) Keangkuhan hidup. Tiga tantangan ini kita hadapi setiap hari di dunia ini. Memang kita adalah anak-anak Tuhan, warga Kerajaan Allah, tetapi jangan lupa bahwa sekarang kita masih tinggal di kota Metropolitan, warga negara Indonesia. Kita masih hidup berdampingan dengan orang yang belum percaya. Kita masih melihat banyaknya godaan-godaan yang disuguhkan dunia untuk menggeser iman kita. Sebab dunia ini dikuasai oleh roh-roh jahat. Banyak anak Tuhan menjadi undur karena fokus kepada pelayanan daging. Pandangan mereka hanya kepada kepentingan daging. Padahal Alkitab sudah memberikan banyak contoh tentang pahlawan-pahlawan iman yang hidupnya berhasil dalam mengikuti Tuhan. Ibrani 11. Namun walaupun demikian kita seringkali salah, fokus kita lebih besar kepada dunia. Karena itu kita perlu mewaspadai pelayanan kita kepada Tuhan ; apakah pelayanan roh atau pelayanan daging.
Galatia 5:19-21. Mungkin kita sudah lama menjadi anak Tuhan, aktif dalam berbagai aktivitas pelayanan. Tetapi apakah pelayanan yang kita berikan adalah pelayanan Roh? Atukah perbuatan-perbuatan daging masih melekat dalam hidup kita. Ingat, jangan sampai pelayanan kita hanya terfokus kepada diri kita saja, kepentingan diri sendiri. Bertahun-tahun Petrus melayani Yesus, tetapi ketika Yesus ditangkap, ia mencabut pisau dan memenggal kuping salahseorang tentara Romawi. Melayani tetapi belum bertobat. Kita harus bertobat dari karakter lama. Matius 26:30-33. Pelayan tanpa pertobatan hanya akan memberikan pelayanan daging. Pelayanan tanpa pertobatan tidak akan bertahan dalam pekerjaan Tuhan.
Galatia 5:22-23. Tuhan menghendaki kita memberikan pelayanan Roh. Tetapi bagaimana kita memberikan pelayanan Roh kalau belum dipenuhkan Roh Kudus. Pelayanan Roh dihasilkan oleh Roh Kudus yang ada dalam hidup kita.
Biarlah pelayanan yang kita berikan adalah pelayanan yang disertai kasih, sukacita dan damai sejahtera. Rumah tangga yang ingin memiliki kebahagiaan dan damai sejahtera, berikanlah pelayanan roh terhadap suami, istri dan anak-anakmu. Sebab ada suami atau istri yang di gereja kelihatan rohani, tetapi kalau di rumah gampang marah, mudah mengeluarkan kata-kata kotor, bahkan perabotan bisa ‘melayang’. Saya yakin tidak ada rumah tangga atau pasangan suami istri yang sempurna. Selalu ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tetapi semua kekurangan itu akan ditutupi oleh kasih Roh Kudus yang ada dalam kita . Rumah tangga kita akan penuh damai sejahtera apabila kita selalu berusaha untuk memberikan pelayanan roh di tengah-tengah keluarga.
Sebelumnya Petrus hanya sebagai Kristen KTP alias Kristen Tanpa Pertobatan. Tetapi ketika dipulihkan, ketika dipenuhi Roh Kudus, hidupnya berubah. Yohanes 21:15-17. Sebelumnya selalu sok jago, temperamental, tetapi kemudian ketika ditanya Yesus sikapnya berubah, sopan dan lemah lembut.
Karena itu, berikanlah pelayanan roh di gereja ini, di rumah tanggamu, di pekerjaanmu, di mana pun engkau berada, maka mujizat Tuhan pasti terjadi. Tuhan Yesus memberkati . RHL
Jumat, 03 Mei 2013
DARI HIDUP YANG BERUBAH KEPADA DUNIA YANG DIUBAHKAN Nats : Roma 12:1-13
Pendahuluan:
Berbicara mengenai tranforming the world atau mentransformasi dunia ini maka ada 3 tokoh yang berbicara mengenai mempengaruhi dunia ini, yaitu :
1. Francis Schaeffer
Seorang pemikir kristen yang dikenal dengan semboyannya dan jikalau kita ingin mempengaruhi dunia ini maka ada 4 hal yang mutlak penting yang disebut two contens and two realities. Two Contens itu adalah :
a. Sound Doctrine yaitu ajaran yang sehat
b. Give Honest Answer to Honest Question yaitu memberikan jawaban yang jujur kepada pertanyaan yang jujur. Bagaimana kita menjawab semua pertanyaan hidup dalam kehdupan sehari-hari khususnya dalam segala apek hidup kita yaitu berdasarkan Firman Tuhan. Cara ini adalah yang paling sederhana dan praktis untuk kita membentuk apa yang disebut Christian World View. Christian World View adalah berpikir bersama Tuhan Yesus dan kita membentuk pikiran kristen yang dalam arti keseluruhan hidup kita dalam menjawab pertanyaan hidup sehari-hari. Ini merupakan cara sederhana yaitu dengan membaca Firman Tuhan lalu kita menjawab pertanyaan hidup sehari-hari atau dapat dikatakan keyakinan-keyakinan yang kita pegang.
Two Realities adalah :
a. True Spirituality atau kerohanian yang sejati.
Maksudnya adalah menemukan dan mengalami arti darah Tuhan Yesus Kristus melalui pekejaan Roh Kudus, artinya mengalami lahir baru.
Lahir Baru adalah hidup baru yang kita terima dari Allah Bapa di dalam Tuhan Yesus Kristus melalui iman karena pekerjaan Roh Kudus pada saat Firman Tuhan diberitakan. Hidup baru yang kita terima ini seringkali disebut Keselamatan, hidup kekal, beih ilahi, atau kodrat ilahi. Inilah hidup yang berubah. Sudahkah kita mengalami akan hidup berubah ini, hidup yang diubahkan oleh Allah.
b. The Beauty of The Human Relationship Among Christian
Suatu keindahan hubungan di antara sesama manusia. Hubungan yang manusiawi ditengah-tengah anak Tuhan, ditengah-tengah orang kristen.
2. Richard Niebuhr
Seorang tokoh yang terkenal dengan bukunya Christ and Culture. Ada 5 sikap terhadap kebudayaan.
a. Christ Above Culture yaitu Kristus di atas kebudayaan
b. Christ against Culture yaitu Kristus melawan kebudayaan
c. Christ Paralel Culture yaitu Kristus sejajar dengan kebudayaan
d. Christ of Culture yaitu Kristus hasil kebudayaan
e. Christ The Transformer of Culture yaitu Kristus mengubahkan kebudayaan
3. Peter L. Berger
Terkenal dengan The Sociology of Knowledge yaitu bagaimana seseorang yang telah diselamatkan melewati 3 tahap.
a. Mengalami Eksternalisasi yaitu bagaimana seseorang pada waktu dia percaya kepada Tuhan dan mengalami sesuatu di dalam dirinya lalu dia menuangkan kemanusiaannya dalam dirinya ke dunia ini.
b. Objektivasi yaitu bagaimana proses setelah kita menuangkan diri kita dan dunia kembali bertanya kepada diri kita.
c. Internalisasi yaitu pada waktu dunia mempengaruhi diri kita kembali.
Eksternalisasi dan internalisasi adalah bagaimana kita menuangkan kesaksian kita ke tengah dunia ini. Kalau kita gagal dalam proses ini maka kita akan mengalami stagnasi rohani. Kita menjadi orang kristen yang tidak bepengaruh, tapi kalau kita berhasil maka kita akan terus maju dan relevan, mantap dan dinamis dalam jaman ini.
Isi
Bagaimana kita bawa hidup kita setelah kita diubahkan oleh Tuhan untuk mempengaruhi dunia ini. Kalau kita mau mempengaruhi dunia ini maka kita harus mengalami :
1. The Grace Dimension
Kita harus mengalami dimensi anugerah Allah. Sudahkah kita mengalami anugerah Tuhan?kalau sudah maka ada satu tanda yaitu ada semacam kehangatan sukacita, ada semacam tanda syukur karena anugerah. Pada saat kita menerima anugerah Allah maka seluruh aspek kehidupan kita mengalami dimensi anugerah. Ini yang disebut pertobatan karena anugerah. Kalau kita mau mengubah dunia ini maka biarlah kita diubah oleh anugerah Allah. Grace dimension membawa orang kepada beberapa hal :
a. Renewing the mind yaitu memperbaharui pikiran atau pembaharuan budi
b. Touching the heart yaitu menyentuh hati
c. Transforming the life yaitu mengubah hidup
Orang yang sudah menerima anugerah Tuhan paling sedikit mengalami 4 aspek :
a. Kita mengetahui bahwa Allah sudah mengasihi kita. Tuhan itu Allah dan Dia mengasihi kita.
b. Kita akan mengalami bahwa anugerah itu sudah diberikan.
c. Menerima apa yang kita tidak layak.
d. Mereka paling suka merenungkan jaminan tertulis dari kasih Allah yaitu Firman-Nya.
2. Bagaimana Kekristenan itu membentuk kita.
Kita sudah mengalami anugerah, hadir di dunia ini sebagai murid Kristus. Dengan kata lain dikatakan humble obedience atau ketaatan yang rendah hati. Kerohanian sejati adalah pada waktu kita mentaati Tuhan. Kita menyadari kita tidak layak. Itu karena anugerah-Nya yang membuat kita merenungkan kasih-Nya, mengenal kasih karunia-Nya dan mengenal Dia. Untuk melaksanakan ketaatan itu maka perlu adanya spiritual disciplines atau disiplin rohani yaitu disiplin-disiplin yang dipegang oleh orang kristen atau jemaat Tuhan di dalam perjalanan gereja Tuhan yang dijalankan sehingga membuat rohani bertumbuh. Pada saat kita menempatkan diri di dalam disiplin rohani, dalam rangka ingin di bentuk agar semakin menyerupai Kristus, dalam rangka kita ingin bersekutu dengan Tuhan Yesus, dalam rangka kita ingin menjadi murid-Nya maka anugerah Tuhan akan mengalir dan kita akan berubah.
3. An Always Reforming Ministry
Bila disederhanakan maka dapat dikatakan dengan Joyfull Love atau kasih yang sukacita. Setelah menjadi murid Tuhan. Kita berhubungan dengan Tuhan Yesus di dalam disiplin rohani yang kita jalankan dan anugerah Tuhan terus bekerja maka disitulah kita melakukan pelayanan dengan sukacita.
Phillip Brooks mengatakan kewajiban membuat kita melakukan suatu hal dengan baik tetapi kasih menjadikan kita melakukan hal-hal yang indah dan hikmat membuat kita mengerti bagaimana melakukannya.
Penutup
Maukah kita mengubah dunia ini setelah hidup kita diubahkan oleh Tuhan? Kita harus memiliki ajaran yang sehat dan kita juga menjawab pertanyaan hidup sehari-hari berdasarkan Firman Tuhan. Allah memberikan anugerah-Nya dengan menebus kita tapi bukan hanya untuk hidup kita sendiri tetapi untuk menjadi berkat merubah dunia ini. Untuk mengubah dunia maka kita harus mengalami anugerah Tuhan terlebih dahulu, ikut dibentuk menjadi murid-Nya dan mengalami joffull love.
Khotbah pada Hari Kenaikan Kisah Para Rasul 1: 6-14. Thema : “Kamu akan menerima Kuasa”
Hari Kenaikan Yesus ke sorga adalah merupakan peristiwa penting yang tiap tahunnya kita peringati dan dirayakan oleh seluruh umat kristiani. Peristiwa ini penting karena bagian dari pada peristiwa sejarah keselamatan di dalam Yesus Kristus. Kenaikan Yesus ke sorga merupakan puncak dari pada pengangkatan Kristus dalam kemuliaan Allah. Dia diangkat, ditinggikan, dan dimuliakan oleh Allah dengan duduk disebelah kanan Allah(Markus 16:19,Ibrani 1:3-4).
Kenaikan Kristus ke sorga membuka jalan dan menjadi jaminan bagi orang percaya bahwa kita akan turut diangkat dan ditinggikan. Hal ini menjadi harapan yang pasti bagi setiap orang percaya, Kristus telah menyediakan tempat di pangkuan Allah Bapa. Inilah kepastian kehidupan yang kekal bagi setiap orang percaya. Sebagaimana Kristus telah diangkat dan di tinggikan maka demikianlah kita sebagai orang yang percaya kepadaNya juga di angkat dan ditinggikan dalam kehidupannya. Kenaikan Kristus ke sorga telah mengangkat status setiap orang percaya menjadi pewaris kerajaan Allah. Sebagai pewaris kerajaan Allah hendaknya kita menunjukkan citra diri warga kerajaan Allah sebab kita adalah saksi Kristus di dunia ini (Thema Khotbah).
Melalui teks khotbah dalam Kisah Para Rasul 1 : 6 – 14, di ceritakan tentang proses kenaikan Yesus ke sorga. Dalam peristiwa ini ada beberapa hal yang menjadi perenungan bagi kita sebagai saksi Kristus antaralain:
Pertama, Sebelum Yesus diangkat kesorga, Ia menjannjikan bahwa Para Rasul akan menerima kuasa dari Roh Kudus dan sekaligus perintah : “Kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi”(Introitus). Janji tersebut mengandung makna,Perlengkapan,perlindunga dan peneguhan akan tugas pelayanan yang di embankan kepada Rasul-rasul untuk menjadi saksi tentang apa yang mereka lihat dan alami bersama Yesus. Tugas pelayanan telah dipercayakan kepada Rasul- Rasul supaya diteruskan dan dilakukan dengan penuh tanggung jawab . Demikian juga halnya dengan kita sebagai orang yang percaya yang sekaligus terlibat dalam tugas panggilan itu sampai ahir hidup kita di dunia ini.
Kedua, Setelah Yesus terangkat ke sorga, Para Rasul berdiri melihat dan menatap kelangit dan dua orang yang berpakaian putih adalah malaikat Tuhan berkata kepada mereka bahwa Yesus akan datang kembali dengan cara yang sama seperti Ia naik ke sorga. Lukas 21: 27,”Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaanNya”.
Sebagai saksi Kristus, kita tidaklah hanya berdiam diri, melihat dan meratapi tapi pergi untuk memberitakan injil sampai kepada ahir Zaman atau kedatangan Yesus yang keduakali. Dalam Wahyu 22: 11- 12, : “Barang siapa yang berbuat jahat, biarlah ia terus berbuat jahat, barang siapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barang siapa yang benar, biarlah ia terus berbuat kebenaran; barang siapa yang kudus, biarlah ia menguduskan dirinya ! Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upahku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya”.
Ketiga, Para Rasul dan beserta beberapa perempuan serta Maria ibu Yesus kembali ke Yerusalem dari bukit Zaitun yaitu di seberang lembah Kidron sekitar 2,5 km sebelah timur kawasan Bait Allah di Yerusalem.
Mereka semua bertekun dengan sehati berdoa bersama-sama. Doa adalah kekuatan dalam membangun kebersamaan dan persekutuan .
Doa adalah dasar kekuatan kita dalam melakukan pelayanan serta segala tantangan dan pergumulan yang kita hadapi.
Pengenaan:
Melalui khotbah Kenaikan hari ini, saya ingin memasti-kan kita semua bahwa kenaikan-Nya sesungguhnya adalah jaminan pengharapan hidup kita! Kenaikan Kristus ke surga menandai akhir masa penghinaan Kristus dan masuknya ke suatu masa pemuliaan. Setelah kenaikan ke surga berlalu, Kristus kemudian siap memulai pelayanan-pelayanan lain baik untuk kepentingan-Nya sendiri maupun untuk kepentingan dunia. Beberapa catatan tentang makna kenaikan Kristus bagi kita pada masa kini adalah:
Pertama, kenaikan Kristus adalah pelengkap bagi kebangkitan-Nya. Meskipun dari beberapa pernyataan dalam PB mungkin dapat ditarik kesimpulan bahwa pemuliaan Kristus terjadi bersamaan dengan kebangkitan-Nya, namun kebangkitan itu tetap dimengerti sebagai penaklukan atas maut sedangkan kenaikan dan pemuliaan merupakan pengertian tersendiri yang menonjolkan status surgawi Kristus. Sebagai penakluk maut, Kristus menjadi yang sulung di antara umat-Nya. Sedangkan seba-gai Kristus yang sudah naik, Ia meneruskan kemenangan kebang-kitan-Nya itu sehingga menjadi suatu pelayanan yang mulia demi umat-Nya. Maka dapat dikatakan bahwa kebangkitan tanpa kenaikan akan menyebabkan beberapa unsur penting dalam ajaran Kristen tidak dapat dijelaskan.
Kedua, kenaikan Kristus adalah permulaan pemuliaan dan penobatan-Nya sebagai Raja. Pernyataan di dalam Surat Filipi pasal dua bahwa Yesus sangat ditinggikan dan diberi nama Tuhan memperlihatkan akibat yang penting dan langsung dari kenaikan-Nya. Penobatan Kristus sebagai Raja dimaksudkan sebagai cara menun-jukkan kedaulatan-Nya atas seluruh ciptaan. Dan pada akhirnya, sebagai hasil dari penobatan ini, Kristus dijamin akan memperoleh penghormatan dari seluruh makh-luk. Oleh karena itu, kedudukan Kristus sekarang yang berada di sebelah kanan Allah Bapa sangat penting bagi orang-orang percaya sebagai dasar yang memberi kekuatan iman kita. Dengan demikian Kristus tidak hanya dilihat sebagai pencipta dunia, tapi sekarang Dia adalah sebagai penopang-Nya.
Ketiga, kenaikan Kristus adalah permulaan pelayanan-Nya sebagai pengantara atau Juru Syafaat. Sama seperti halnya dengan imam besar bangsa Yahudi yang pekerjaannya sebagai pengantara bergantung pada diperolehnya kesempatan untuk masuk ke dalam tempat yang mahakudus, demikian pula pekerja-an Kristus sebagai pengantara antara Allah dan manusia bergan-tung pada masuknya pengantara itu ke surga.
Keempat, kenaikan Kristus adalah penggenapan misi-Nya. Misi Kristus di dunia yang dimulai dengan inkarnasi diakhiri dengan asensi atau kenaikan. Oleh karena tujuan misi itu ialah penebusan dosa manusia, maka kenaikan Kristus menandakan selesainya misi tersebut. Dalam inkarnasi Allah menjadi manusia; dalam asensi manusia Ilahi kembali kepada Allah. Kristus bukan hanya menebus dosa manusia melalui kematian-Nya, tetapi dengan kenaikan-Nya Ia membawa bukti penebusan itu ke dalam hadirat Bapa.
Kelima, kenaikan Kristus adalah penentu penganugerahan Roh Kudus. Yesus sendiri menya-takan di dalam Yohanes 7:39 bahwa Roh Kudus baru diberikan apabila Ia telah dimuliakan. Hal ini sesuai dengan Efesus 4:8 (yang didasarkan pada Mazmur 68:19) yang mengatakan bahwa pemberian-pemberian diberikan sesudah kenaikan. Karena itu, Pentakosta baru dapat terjadi sesudah kenaikan Yesus.
Keenam, kenaikan Kristus adalah pembuka jalan masuk bagi orang-orang percaya. Sebagai akibat kebangkitan-Nya, Kristus dinyatakan sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Dengan demikian Ia melibatkan semua orang percaya dalam kebangkitan dan kenaikan-Nya sendiri. Ia yang memperoleh jalan masuk kepada Bapa sudah memperoleh hak itu juga bagi semua orang yang dipersatukan dengan Dia. Inilah sumber keyakinan kita yang datang sebagai hasil dari pekerjaan-Nya, suatu jalan “yang baru dan yang hidup” (Ibrani 12:20), yang dibuat dan dijadikan pasti melalui penebusan dosa.
Ketujuh atau yang terakhir, kenaikan Kristus adalah permulaan zaman baru. Zaman sekarang ini dibatasi oleh dua peristiwa, yaitu kenaikan Kristus pada mulanya dan kedatangan-Nya kembali ke dunia ini pada akhirnya. PB melihat sejarah dunia ini dalam sorotan kedua peristiwa kristologis ini. Kunci zaman sekarang ini terdapat dalam pemberitahuan malaikat di dalam Kisah Para Rasul 1:11, yang menghubungkan kenaikan Kristus dengan kedatangan-Nya kembali. Zaman ini ialah zaman Tuhan yang sudah bangkit dan dinobatkan sebagai Raja, Tuhan yang sedang berkarya sebagai pengantara bagi umat-Nya, Tuhan yang akan datang kembali pada akhir zaman untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.
Nah! Itulah 7 implikasi dari kenaikan Kristus ke surga. Oleh karena itu, dalam bagian penutup khotbah ini, ijinkanlah saya memas-tikan Anda semua bahwa kenaikan-Nya tidak hanya menjamin kesela-matan bagi kehidupan kita kini dan di sini saja, tapi juga jaminan pengharapan bagi kehidupan kita di masa yang akan datang.
Di dalam Yohanes 14:1-3, Tuhan Yesus berkata, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab aku pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat di mana Aku berada, kamupun berada.”
Rasul Paulus juga berkata di dalam Surat Roma 8:32, “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?”
Jikalau pada zaman sekarang ini begitu banyak orang yang kuatir dan bingung soal rumah tinggal atau harta benda, tidaklah demikian dengan kita. Orang Kristen tidak boleh kuatir dan bingung tentang rumah atau harta benda. Mengapa? Sebab Yesus, dengan kenaikan-Nya ke surga, telah menyediakan semuanya dan segalanya bagi kita! Amen. Dari berbagai sumber
Jumat, 05 April 2013
Khotbah Minggu 7 Apr 2013 ”Kasih adalah dasar saksi Kristus yang berani” Lebih Taat kepada Allah Kisah Para Rasul 5: 27-32
Pengantar:
Sebelum bagian ini Petrus dan Yohanes sudah dilarang mengajar dalam nama Yesus (Kis. 4: 17). Tetapi didorong oleh ketaatannya kepada panggilan Kristus untuk menjadi saksiNya dan ketaatannya kepada pimpinan Roh Kudus, mereka tetap dan terus mengajarkan Yesus. Karena itu, dalam bagian ini, mereka ditegor kembali oleh Sanhedrin (Mahkamah Agama). Tetapi dua rasul ini, dengan tenang, menegaskan kembali ketaatan mereka kepada panggilan dan pimpinanNya itu. Mereka kembali menegaskan bahwa Yesus yang mereka bunuh dengan hukuman mati di kayu salib itu sudah dibangkitkan oleh Allah. Dia dihidupkan kembali menjadi Mesias (Raja yang diurapi Alah). Sebagai saksi peristiwa itu, mereka menyaksikan, melihat dan bahkan merasakan dampak peristiwa kematian dan kebangkitanNya itu. Karena itu, tidak mungkin bagi mereka untuk tidak memberitakan berita kebenaran itu.
Renungan:
Minggu Quasimodogeniti: Seperti bayi yang baru lahir.
Ketika kita meletakkan dasar iman kepercayaan kita kepada Tuhan Yesus melalui kebangkitanNya dan memasuki hidup baru bersama Tuhan, maka kita di utus oleh Allah ketengah-tengah dunia ini menjadi saksiNya. Menjadi saksi Kristus bukanlah hal yang mudah, Tuhan Yesus memperingatkan kepada kita bahwa kita akan dibenci dan teraniaya karena nama Yesus (Luk. 21:17), namun Tuhan memberikan kepastian dan kekuatan kepada kita: “dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16: 33); “Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Luk. 21: 18-19). Sumber kekuatan kita adalah Tuhan dan tiada yang lain, jika kita tanggung-tanggung menjadi pengikut Yesus tentulah sangat menyakitkan menjadi saksi Kristus di tengah dunia ini. Ada kalimat dalam sebuah iklan yang mengatakan “Kamu bilang itu Rintangan, aku bilang hanya Tantangan”. Jika dikatakan “Rintangan” berarti sesuatu yang menyurutkan niat kita untuk bertindak karena sesuatu yang merintangi; namun jika dikatakan “Tantangan” adalah kesulitan akan semakin meningkatkan kita berusaha mencapai kesuksesan. Kita bisa ambil contoh sederhananya, ketika ada kegiatan PA di gereja, namun hujan tiba-tiba turun dengan derasnya, jika memang kita tidak mempunyai niat yang kuat untuk mengikuti PA tersebut, maka kita akan mengurungkan niat untuk mengikutinya karena hujan itu menjadi rintangan bagi kita. Namun jika niat memang sudah kuat ingin mengikuti PA tersebut, hujan selebat apapun akan menjadi tantangan buat kita. Untuk mampu mengalahkan dunia tidak boleh memiliki iman yang tanggung-tanggung sebab yang terjadi adalah menganggap sesuatu sebagai sebuah rintangan dan bukan menjadi tantangan. Menjadi saksi Kristus itu adalah sulit karena harus melawan perbuatan-perbuatan duniawi yang bertentangan dengan Firman Allah, namun mari kita anggap kesulitan itu adalah suatu tantangan buat kita. Dalam 1 Yohanes 5: 4 dikatakan “Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita”. Firman ini adalah kekuatan kita untuk menjadi saksi Kristus, ketika Tuhan memberikan kepada kita iman di dalam Yesus Kristus, maka disitupulalah kita menemukan kekuatan dari Allah untuk mengalahkan dunia ini. Jika kita melihat bagaimana keberanian para Rasul mengatakan “Kita harus lebih takut kepada Allah dari pada kepada manusia” adalah karena menganggap yang dihadapi mereka adalah sebuah tantangan yang harus ditahlukkan karena mereka mengandalkan iman dalam menghadapi kesulitan apapun. Jika kita melihat di ayat 41 dikatakan “Rasul-rasul itumeninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus”. Penolakan yang mereka alami menjadi suatu kegembiraan dan bukan menyurutkan semangat mereka, sebab itu adalah suatu tantangan yang semakin melayakkan diri mereka menjadi saksi Kristus. Apakah kita sudah siap menjadi saksi Kristus? Apakah kita sudah siap menghadapi dunia ini dengan iman kita? Kita jangan terlalu jauh berfikir menjadi saksi Kristus kepada orang banyak, menjadi saksi Kristus bagi diri sendiri pun jika bisa dilakukan adalah sudah menjadi susuatu yang luar biasa. Jika kita mampu meyakinkan diri kita akan kekuatan Tuhan, maka tiada yang mustahil kamu akan menjadi saksi Kristus bagi dunia. Apakah kita masih seperti Petrus yang lama yang menyangkal Yesus tiga kali ataukah kita sudah menjadi Petrus yang baru yang menyatakan tiga kali “aku mengasihi Engkau” Mari kita yakinkan diri kita dahulu bahwa Yesus benar-benar Tuhan dan Allah yang kita kasihi ditengah-tengah kehidupan kita dan tiada yang lain selain dari pada Dia yang telah mati dan bangkit untuk kita. “Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ulangan 6:5). Kasih adalah dasar bagi kita menjadi saksi Kristus, jika kita memang benar mengasihi Yesus, maka sesulit apapun hidup yang akan kita jalani kita akan tetap setia; apapun yang kita lakukan akan menjadi kemuliaan bagi Tuhan. Semua yang akan kita perbuat adalah karena kasih kita kepada Allah. Hidup baru di dalam Kristus adalah: “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku” (Galatia 2:20). Untuk menjadi saksi Kristus, maka Tuhan akan bertanya kepada kita saat ini “Apakah engkau mengasihi Aku?” dan jika kita menjawab pertanyaan Tuhan dalam hidup kita “aku mengasihi Engkau”, maka kita akan mampu menyatakan dengan tegas dan keras kepada dunia ini “Kita harus lebih takut kepada Allah daripada manusia, dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu”. Amin....Selamat bersaksi. RHL
Langganan:
Postingan (Atom)