Perdamaian sangat dibutuhkan pada jaman ini, bagaimana kita bisa berdamai dengan sesama, dengan Tuhan dan diri sendiri.Semua ini hanya dapat kita peroleh dari Dia dan FirmanNya sebagai Madu Surgawi.
Senin, 25 Februari 2013
Khotbah Minggu Palmarum 24 Maret 2013 Filipi 2: 5-11 TIADA KETAATAN TANPA PENGORBANAN KARENA ITU PAKAI PIKIRAN DAN PERASAAN KRISTUS.
Pengantar:
Mengapa saat lampu merah menyala, kita taat untuk berhenti? Tentu ada diantara kita akan menjawab: karena takut ditilang. Ini sebuah contoh: ketaatan yang semu. Taat karena takut kena hukuman. Karena itu mereka yang memiliki kuasa dan kebal terhadap hukum atau dapat membeli hukum, tidak takut untuk melanggar alias tidak taat.
Saat membaca Filipi 2:5-11 kita dapat menghayati suatu teladan ketaatan yang akan membangkitkan kecintaan kita pada Tuhan Yesus. Dan ketaatan itu bukan ketaatan semu, tetapi didasari oleh kesadaran dan cinta kasih yang tulus.
Khotbah:
Tuhan Yesus menunjukkan pada kita, bahwa ketaatan itu memerlukan:
1. Kesadaran akan kedudukan atau posisi diri.
Di Filipi 2:6 dikatakan: yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
Tuhan Yesus sadar betul bahwa Dia adalah Allah yang sungguh mengasihi manusia. Dia tidak ingin manusia binasa, karena itu Dia rela menanggalkan status ke-Allah-annya untuk dapat menjadi Juruselamat manusia.
Dengan menyadari kedudukan atau posisi diri, akan memampukan kita untuk dapat menempatkan diri dengan benar.
2. Penyangkalan diri
Tuhan Yesus sadar, bahwa untuk menyelamatkan manusia bukan perkara mudah. Dia berkata kepada para murid yang diminta untuk menemaniNya: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah.” (Mrk.14:32). Ada kegentaran dari diri Yesus, saat menjelang hari H. Tetapi Ia berkata: “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” (Mrk.14:36). Yesus mampu melawan keakuannya, keinginan diriNya untuk terus dengan taat melaksanakan kehendak Bapa.
Penyangkalan diri itu berarti melawan keakuan: kesombongan, kemalasan, rasa mengasihi diri dan takut.
3. Ketulusan dan kerendahan hati
Tidak ada yang menyangkal, kalau Tuhan Yesus mau, Dia dapat untuk tidak menuju salib. Tetapi karena cintaNya pada manusia, Dia rela merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati di kayu salib (Filipi 2:8).
Ketulusan hati itu berarti tindakan untuk tidak mencari keuntungan pribadi.
dengan meneladani KERENDAHAN HATI YESUS KRISTUS. Sikap rendah hati, itulah yang dapat menunjukkan pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus , yang walaupun punya “hak” (priviledge) sebagai anak Allah, yang setara dengan Allah, namun mau merendahkan diri, menjadi manusia sama seperti kita, menerima hinaan dan siksaan hingga mati di kayu salib. Dengan semua itu, Yesus membuang kepentingan diri-Nya sendiri, dan melakukan itu semua hanya untuk kepentingan orang lain, yaitu kita orang berdosa ini. Kerendahan hati yang luar biasa, yang tiada taranya . Kerendahan hati yang dapat menjadi teladan yang sempurna.
Kerendahan hati, seperti yang Paulus terangkan di ayat 3b, adalah: menganggap yang lain lebih utama dari diri kita sendiri. Dan Firman Tuhan sangat banyak mengajak orang percaya agar senantiasa bersikap rendah hati (bukan rendah diri), karena orang rendah hati adalah sahabat Tuhan, sedangkan orang yang tinggi hati adalah musuh Tuhan (baca Ef. 4: 2; 1 Pet 5:5; Yak 4:6). Dan, sikap rendah hati inilah perekat persekutuan. Malah ada seorang pengkotbah berkata., bahwa sikap rendah hati itu bagaikan oli (minyak pelumas), yang melumaskan gesekan-gesekan pergaulan. Besi-besi mesin terus bergesekan untuk menggerakkan mobil, tetapi tidak saling menyakiti. Mengapa? Karena ada minyak pelumas atau oli. Demikian terjadi bila semua anggota persekutuan bersikap rendah hati. Walaupun terus menerus ada “gesekan” karena interaksi, namun tidak akan pernah saling menyakiti.
Ternyata, sikap rendah hati memberi kita lebih banyak. Buktinya: Mengapa air laut lebih banyak dari air sungai? Jawabnya, pasti, karena laut mau lebih rendah dari sungai. Karena itulah Firman Tuhan, Mazmur 37:11 berkata: “Orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kEsejahteraan yang berlimpah-limpah”. Mazmur 22:27 berkata: “Orang yang rendah hati akan makan dan kenyang …” 1 Petrus 5:5 “Tuhan mengasihi orang yang rendah hati”. Itulah yang diberikan Tuhan kepada Yesus Kristus. Ketika Yesus mau merendahkan diri, justru disitulah Tuhan meninggikan Dia: dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah, Bapa! (ay. 10-11). Dengan demikian jelaslah, ternyata, kemuliaan tidak lahir dari kesombongan, melainkan dari kerendahan hati. Malah Dranath Tagore berkata “Kita bertemu dengan Allah ketika kita mau RENDAH HATI’.
Karena itu saudaraku, agar kesatuan dan persatuan persekutuan kita semakin kuat, mari, teladanilah Kristus.
4. Ketaatan yang konsisten untuk bertumbuh
Di Yesaya 50:5 tertulis: Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. Aku disini menunjuk pada Yesus. Dan pada kenyataannya Yesus terus maju, dengan taat Dia melaksanakan apa yang dikehendaki Bapa.
Iblis tidak menghendaki Tuhan Yesus disalib, bila itu terjadi, maka kehendak Bapa untuk menebus manusia terwujud. Dengan berbagai upaya, Iblis berusaha menggagalkan rencana itu. Pada sebuah penangkapan yang terjadi di sebuah taman, yang berawal dari sebuah ciuman. Ini bukan ciuman biasa, kata Yunani untuk ciuman ini ialah katafilein yang mengandung maknaseorang kekasih mencium orang yang dikasihinya. Kesengsaraan dan penyaliban Yesus berawal dari ciuman seorang kekasih. Ini merupakan hal memilukan dan menyakitkan. Tetapi Tuhan Yesus tidak terpengaruh dengan ciuman itu, Dia terus maju, dengan ketaatan penuh pada Bapa, Dia membiarkan diri ditangkap untuk menyatakan kasihNya pada manusia.
5. Ketika kita menyatakan diri untuk mau taat, berarti siap untuk mau atau rela terluka.
Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi. (Yes. 50:6)
Tuhan Yesus telah menunjukkan pada kita, bahwa tiada ketaatan tanpa pengorbanan. Dia taat pada kehendak Bapa karena kasih-Nya pada manusia. Tuhan Yesus tidak menghendaki kita binasa, tetapi Dia ingin kita beroleh hidup yang kekal (Yoh.3:16).
Mungkin kita berkata: ”Sulit untuk taat.” Betul, tidak ada yang menyangkal bahwa untuk taat itu sulit dan bukan hanya sulit, tetapi menyakitkan. Tetapi sadarilah bahwa kebahagiaan yang tak terkatakan telah menanti kita yang taat pada kehendak Bapa sampai akhir. Tuhan Yesus sudah mengalami itu untuk memberi kebahagiaan pada manusia.
Amen. RHLT. Dari berbagai Sumber.
Khotbah Minggu 17 Maret 2013 Nats: "Mazmur 126:1-6" “PEMULIHAN ALLAH BAGI ORANG YANG MENDERITA”
Pengantar:
Pengharapan Ditengah Penderitaan Mazmur 126:1-6 Setiap orang hampir tidak pernah luput dari persoalan kehidupan, baik yang sifatnya ringan sampai yang berat. Ketika menghadapi masalah yang sangat berat, seseorang dapat dilanda keputus asaan dan tidak tahu harus berbuat apa. Sehingga tidak sedikit orang mengambil jalan pintas dengan bunuh diri. Jika kita sedang dilanda kondisi yang berat karena masalah yang sepertinya tidak ada jalan keluar, apakah yang harus dilakukan?
Khotbah:
Ada 3 nasehat yang diberikan oleh penulis kitab mazmur yaitu raja Daud:
1. Memiliki impian dan Pengharapan. Musuh dan lawan dari keputus asaan adalah impian dan harapan. Setiap orang harus memiliki impian dan harapan dalam hidupnya. Karena itulah yang membuat dia mampu bertahan dan berjalan terus ditengah-tengah kesulitan. Dikala anda kehilangan impian dan harapan, maka anda harus terlebih dahulu untuk kembali memiliki impian dan harapan tersebut. Impian dan harapan dimulai dengan pikiran. Isi pikiran anda dengan hal-hal yang baik, yang indha, yang mulia. Impian adalah hal-hal yang indah, yang mulia, yang besar yang kita inginkan. Pikirkanlah itu kembali. Jangan memikirkan tentang kegagalan atau ketidak mungkinan. Tetapai mulailah berpikir tentang hal-hal yang besar. Tuhan adalah sumber kita untuk dapat memikirkan hal-hal yang besar, yang indah, yang mulia. Tumbuhkan keyakinan dalam hatimu, bahwa Tuhan sanggup dan bisa menolong anda untuk mewujudkan impian dan harapan anda tersebut. Karena Dia adalah Tuhan yang hidup, Maha Kuasa, dan tidak pernah berdusta.
2. Bersukacita Bagaimana kita dapat menghadapi penderitaan adalah dengan menjaga sukacita. Mungkin kita bertanya bagaimana bersukacita sementara saya sedang menderita? Bersukacita adalah pilihan kita, tidak dipengaruhi oleh situasi dan keadaan kita.
3. Menabur Kebaikan Ada hukum yang bersifat universal yaitu Hukum Tabur Tuai; apa yang kita tabur akan kita tuai. Dengan perkataan lain, apa yang kita harapkan untuk kita tuai maka kita harus menaburnya terlebih dahulu. Seorang petani yang mengharapkan dirinya akan menuai buah mangga, maka dia terlebih dahulu menanam biji mangga. Hal ini juga berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Bila kita mengharapkan kebaikan datang dalam hidup kita, ada pertolongan yang kita terima, atau kita mengharapkan keberhasilan dalam hidup kita, maka kita harus terlebih dahulu menaburkan benih-benih kebaikan tersebut dalam diri orang lain. Orang lain mengatakan perubahan itu tidak mungkin bisa terjadi di dalam hidupmu tetapi saya percaya Tuhan bisa merubah situasi yang buat orang mustahil adanya. Banyak di antara kita mungkin merasa mana bisa keadaan dan situasi hidup kita mengalami perubahan yang drastis? Itu bisa dan mungkin, sebab kita memiliki Tuhan yang sanggup mengadakan perubahan di luar dari apa yang pernah kita bayangkan dan pikirkan. Terlepas dari campur tangan Tuhan yang ajaib dan perkasa, Mazmur 126 juga mengajarkan kepada kita prinsip yang sangat indah dan sangat menarik.
Dimana pemazmur menolak untuk give up kepada situasi hidupnya. Walaupun situasi hidupnya digambarkan dengan lukisan yang sangat menyedihkan sekali, bagaimana bisa tanah Negeb itu mendapat air? It is impossible. Kalau sdr belajar latar belakangnya, kita menemukan ini adalah salah satu tempat yang paling kering di atas muka bumi ini. Probabilitas terjadinya hujan, probabilitas ada air di situ kecil sekali. Itu situasi dia. Tetapi Alkitab mencatat dia harus berjalan maju. DR. Les Parrott mengatakan hal yang satu ini harus kita tangani lebih dulu, baru yang lain akan menjadi lebih mudah, yaitu attitude kita. Bagaimana kita bersikap, begitu kita sudah menaruh negative attitude maka semua yang kita lihat menjadi negatif. Di satu pihak dia penuh dengan sukacita tetapi di sisi lain dia menangis tersedu-sedu. Di dalam keadaan yang susah dan sulit, air mataku mengalir. Tetapi pada waktu Tuhan merubah situasi itu aku sungguh-sungguh bersukacita sehingga orang lain juga bisa melihat perbuatan Tuhan yang luar biasa itu kepadaku. Dalam 2 Kor.4:8 Paulus mengatakan ”...kami ditindas namun tidak terjepit, kami habis akal namun tidak putus asa.” Dalam keadaan tertindas, dia tidak putus asa. Mzm.42:12 mengatakan “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku? Mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah, Penolongku dan Allahku.” Kunci jawabannya ada di sini. Tibalah saatnya kemudian pemazmur menyatakan cambukan dan cetusan itu kepada kesadaran dirinya sendiri dengan mengatakan, mengapa engkau tertekan? Mengapa engkau gelisah? Bangun! Berjalan! Dan bersandarlah kepada Allah. Perjalanan iman Kristen kita tidak boleh melepaskan prinsip ini. Karena itulah kita akan melihat bagaimana kekuatan pengharapan dan percaya itu menjadi hal yang penting sekali di dalam iman orang Kristen. Dietrich Bonhoeffer di dalam suratnya di penjara menulis: saya bukan orang yang pesimis, yaitu berpikir bahwa segala sesuatu yang saya alami akan menjadi lebih buruk. Tetapi saya juga bukan seorang yang optimis yang percaya bahwa someday saya akan keluar dari penjara ini dan situasi menjadi lebih baik. Tetapi saya hidup hari demi hari dengan pengharapan. Artinya, di sini saya berjuang melakukan segala sesuatu di dalam kekuatan dan kemampuan yang saya bisa, tetapi saya tidak pernah melepaskan tangan Tuhan yang berdaulat untuk campur tangan di situ. Dia berjalan karena dia punya pengharapan, tetapi dia berjalan dengan air mata. Dia berjalan dengan kesedihan tetapi dia menolak untuk berhenti dan tangannya tetap menabur benih. Dia berjalan di atas tanah yang kering dan tidak ada airnya. Kakinya hari demi hari menginjak padang pasir yang kering dan panas, tetapi itu tidak melunturkan hatinya untuk terus menabur karena dia percaya satu saat ada hasil dan buahnya. Gal.6:9 “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik karena apabila sudah datang waktunya kita akan menuai jika kita tidak menjadi lemah…” Kita boleh menangis, tetapi harus terus menabur. Tetapi di dalam proses perjalanan menabur itu mungkin akhirnya tidak sampai berhasil dan sukses sebab ada suatu kendala emosi terjadi di sini yaitu menjadi jemu. Fil.2:14 “Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan.” Bersungut-sungut kepada diri sendiri. Gerutu dan jemu adalah reaksi emosi bukan karena kehilangan kemauan berjalan tetapi kehilangan sukacita berjalan. Filipi adalah salah satu jemaat yang terbaik. Paulus sendiri memuji jemaat ini karena mereka terus membantu Paulus di dalam mendukung pelayanan misi Paulus (Fil.4:10). Filipi dikatakan oleh Paulus sebagai jemaat setia, partnership dengan Paulus di dalam pemberitaan Injil. Bahkan di dalam Fil.1:30 dikatakan mereka rela menderita karena Injil. Tetapi di pasal 2 Paulus mengingatkan semua yang mereka lakukan itu jangan dilakukan dengan bersungut-sungut. Kita lihat perbedaannya? Bukan mereka tidak melakukan, tetapi mereka bersungut-sungut dan menjadi berbantah-bantahan, kita bertemu di situlah bagaimana emosi kita mengontrol hidup kita. Mungkin kita pikir lebih baik berhenti di tengah jalan tidak melakukannya sebab kita bertanya buat apa saya melakukan hal ini.. toh tidak ada hasilnya?! Tanah ini kering. Buat apa saya terus keluar setiap hari, padahal tidak ada sukacita dan kegembiraan untuk itu? Ini ayat yang indah luar biasa. Kalau kita berada di dalam situasi seperti itu, buat apa menangis? Buat apa keluar menabur? Pemazmur tetap menangis karena itu memang sulit tetapi itu tidak mengontrol dia. Tempatkan emosinya dengan tepat. Orang mungkin bilang tidak ada gunanya. Mungkin memang tidak berhasil, atau mungkin hasilnya tidak kita lihat dengan mata kita, tetapi kita tidak boleh berhenti. Sebab sekali lagi, kita berjalan dengan kita beriman kepada Dia. Kita tidak bisa meragukan iman orang lain. Dalam Mzm.126 ini seolah terjadi pengulangan, tetapi di ayat 1 “Tuhan memulihkan keadaan kami…” Itu satu deklarasi, satu statement, satu pengakuan ini terjadi sebab Tuhan yang campur tangan. Sedangkan di ayat 4 “Pulihkanlah keadaan kami…” Ini adalah satu permohonan dan satu doa. Kita tahu orang itu beriman karena kita menemukan bagaimana orang itu bersikap dan berdoa kepada Tuhan. Dimana bedanya orang yang berdosa dan yang tidak berdoa? Orang yang tidak berdoa sudah tidak punya pengharapan. Orang yang berdoa sebab dia punya pengharapan. Dia berdoa, menyegarkan semangat hidupnya. Bedanya cuma itu. “Pulihkan keadaan kami…” menjadi satu cetusan doa bahwa tidak ada campur tangan lain lagi, tidak ada yang bisa mendatangkan air di padang pasir Negeb kecuali mujizat Tuhan menurunkan hujan. Tetapi karena hanya itu pengharapan saya maka menjadikan saya orang Kristen yang berlutut berdoa dan bersandar kepada Tuhan. Tahun ini mari kita juga merevolusi hidup doa kita di hadapan Tuhan. Kenapa itu semua bisa hilang? Kita bisa give up, kita bisa kecewa, kita bisa akhirnya membiarkan emosi kita membuat kita terhambat di tengah perjalanan. Atau mungkin kita terlalu ingin situasi kita bisa berubah secara mendadak dan tak terduga. Kita selalu bersukacita kalau kita melihat ada hal-hal yang tak terduga terjadi. Tetapi kalau kita menjalani semua ini lalu kemudian kita kehilangan sukacita itu, mungkin kita memerlukan kalimat ini: “kita bersukacita untuk hal-hal surprise terjadi, tetapi kita harus setia untuk hal-hal yang rutin.” Pemazmur bersukacita sebab Tuhan mendatangkan perubahan besar, tetapi itu tidak boleh melupakan kerutinan dia. Benih yang berlipat ganda datang bukan karena hujan yang dinanti akhirnya datang dengan berlimpah, tetapi di tengah air mata yang mengalir deras yang tidak bisa menumbuhkan benih karena asin, dia tetap berjalan menabur dan menabur. Yang perlu dikerjakan dengan rutin memerlukan semangat yang setia dan pengharapan yang pasti kepada Tuhan. Mari kita seperti pemazmur mengatakan, hai jiwaku, jangan tertekan, bersandar kepada Tuhan. Amen RHL Dari Berbagai Sumber.
Khotbah Minggu 10 Maret 2013 Lukas 15:11-32 “SUKACITA ATAS KEMBALINGA ORANG BERDOSA”
Pengantar:
Merasa bersukacita ketika kita berada dalam kondisi baik itu wajar dan tidak salah sama sekali. Siapa yang tidak bergembira jika segalanya berjalan dengan lancar tepat seperti yang diinginkan? Lebih dari itu, bersukacitapun seharusnya ada pada kita ketika kita menyadari atau merasakan kebaikan Tuhan serta penyertaanNya dalam hidup kita. Segala yang telah Dia anugerahkan bagi kita termasuk di dalamnya yaitu keselamatan sudah sepantasnya membuat kita bersyukur dan dipenuhi rasa sukacita. Dalam keterbatasan dan kesederhanaan hidup saya bersukacita. Bersukacita untuk kesehatan yang diberikan Tuhan, bersukacita karena saya masih bisa bekerja dalam kondisi baik, bersukacita untuk istri yang luar biasa dan rumah tangga yang hangat. Meski saya baru saja pulang sehabis bekerja hingga lewat tengah malam, meski rasa lelah terasa, tetapi saya saat ini tersenyum sambil menulis renungan ini karena merasakan sukacita tersebut. Dan memang Tuhan menginginkan kita agar senantiasa bersukacita.
“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah (Fil 4:4).
Khotbah:
Perumpamaan anak yang hilang adalah satu kisah sangat terkenal dari Alkitab. Biasanya yang menjadi fokus adalah si anak bungsu. Ia menuntut harta warisan bagiannya, pergi dari rumahnya, menghamburkan harta miliknya, jatuh miskin, menyadari dan menyesali perbuatannya, lalu kembali ke rumah ayahnya. Itu adalah gambaran yang dekat dengan kita. Kita terjerumus ke dalam dosa, lalu bertobat, dan mendapat pengasihan Bapa Sorgawi. Sadar atau tidak, bukankah kehidupan nyata kita juga tidak ubahnya seperti anak bungsu dalam perumpamaan ini? Kita datang kepada Allah dalam segala doa dan permohonan, dalam berbagai bentuk tuntutan kita kepada-Nya, layaknya si anak bungsu berkata, “Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku.” (ay.11).
Lalu bagaimana setelah berbagai “hak” kita diberikan oleh Allah? Sembuh dari sakit, lulus test, naik pangkat, kedudukan, dan berbagai kelimpahan berkat? Oh, tidak jarang kita menjadi terlalu sibuk menghamburkan waktu dan talenta yang kita punya seolah-olah itulah sekarang yang menjadi “tuhan” kita! Terkadang kita malah jadi lupa pintu gereja jadinya! Si “anak bungsu” di jaman modern sekarang terkadang lebih rela menghabiskan biaya berjuta-juta di meja judi, atau menyogok segala macam, tetapi tidak di kantong-kantong persembahan. Atau malah merusak diri dalam berbagai bentuk kejahatan moral yang berujung pada kisah akhir hidup memilukan!
Namun, sebetulnya sosok si anak sulung pun tidak kurang jauh dari gambaran kita. Bahkan, mungin kita lebih kerap seperti itu. Kita memang tidak sampai “terhilang”; kita tetap ke gereja, aktif dalam pelayanan, pendeknya kita adalah orang baik-baik, tidak pernah terjerumus dalam “kemabukan duniawi”. Tetapi, kita hidup dalam ketidaktulusan! Kita melakukan semua kebaikan itu dengan pamrih memperoleh “upah”. Sebab kita merasa lebih layak, lebih baik. Diam-diam kita telah menjadi hakim atas sesama kita. Bahkan tidak jarang, berbagai intrik busuk dilakukan untuk menjatuhkan orang.
Kathleen Norris, dalam The Cloister Walk, bercerita tentang pengalamannya bergereja. Suatu ketika ia ditanyai oleh seorang mahasiswa, mengapa ia terus pergi ke gereja dan bisa tahan menghadapi kemunafikan orang-orang Krtisten. Ia merasa memperoleh ilham yang jitu, dan menjawab, “Satu-satunya orang munafik yang perlu saya cemaskan pada hari Minggu pagi adalah diri saya sendiri.” Kathleen mengelakkan kecenderungan untuk mempersalahkan orang lain, dan memilih untuk berintrospeksi diri.
Sifat manusia si “anak sulung” cenderung gampang melemparkan kesalahan kepada pihak lain. Ia dapat melihat dan menghakimi pelanggaran orang lain, tetapi buta terhadap pelanggarannya sendiri. Ketika dirinya yang melakukan pelanggaran, ia segera sibuk menuding orang lain sebagai penyebab pelanggarannya itu.Itulah sebabnya ketika ada “pendosa” yang bertobat dan kemudian mendapat pengasihan Tuhan, si anak sulung protes, “Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku,” (ay.29), begitu protes si sulung kepada ayahnya. Tidak tulus, bersungut-sungut, dan tentu saja itu juga dosa.
Perumpaman “anak yang hilang” melalui nas ini hendak mengajarkan kepada kita tentang suatu kebenaran rohani, menggambarkan betapa kasih bapa terhadap anak-anaknya, bahwa kasih Allah itu tidak terbatas! Perhatian Allah yang tulus, bukan hanya kepada orang berdosa tetapi juga kepada anak-Nya yang taat. Karena itu, entah kita sebagai si bungsau atau si sulung, kita ini tetap si anak yang hilang. Tidakkah kita rindu kembali kepada Bapa?
Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” Amen RHLT
Rabu, 12 Desember 2012
"Khotbah Minggu 16 Desember 2012 Zepanya 3: 14-20"
BERSUKACITALAH – BERGEMBIRALAH – BERSORAK-SORAILAH
Dalam Minggu-Minggu Advent ini kita diajak merenungkan Firman Tuhan sebagai respon tindakan nyata sebagai persiapan kita dan Jemaat Tuhan akan peristiwa Natal yaitu tidakan Allah untuk menyelamatkan Dunia melalui kedatangan Yesus Kristus.
Minggu ini kita diajak merenungkan kitab Nabi Zefanya dalam pasal 3 : 14 -20, Zefanya bernubuat selama pemerintahan Raja Josia (sekitar tahun 639 – 609 SM) Dia bernubuat sebagai peringatan kepada Yehuda dan Yerusalem akan datangnya hukuman dari Allah karena dosa-dosa bangsa itu mengabaikan Allah dan hidup dalam kekerasan suatu waktu nanti, tiba saatnya bahwa Tuhan Allah akan mengumpulkan kembali umatnya, menebus dan memulihkannya. UmatNya yang setia akan dihibur dan akan bersorak-sorak bergembira sebagai penyembah Tuhan yang sejati dan Allah akan ada ditengah-tengah mereka sebagai pahlawan perang yang menang.
Akibat tindakan penyelamatan dari Tuhan, maka Umatnya bersorak sorai bersuka ria, dan itu semua terjadi karena umatnya telah di ampuni dan tidak penyembahan berhala. Karena itu Nabi Zefanya menghimbau agar Bangsa itu bertobat dan mencari Tuhan dengan kerendahan hati, sebelum hukuman itu datang ( Bd.ayat 2 ).
Dalam sejarah Israel pertobatan massal itu terjadi didalam pembaharuan rohani yang dipelopori Raja Josia (Thn 627 – 609 SM ) Setelah mengkritisi dosa-dosa bangsa itu nabi Zefanya menubuatkan bahwa akan dihukum lagi karena dosa-dosanya ( bd. Ayat 15 ) musuh-musuhnya telah dikalahkan yaitu dibebaskan dari perbudakan iblis dan dosa, dan mereka tidak lagi mendapat malu tapi sebaliknya kepujian dan membuat mereka menjadi kenamaan diantara segala bangsa dan keadaan mereka dipulihkan. Itulah tindakan perbuatan Allah yang luar biasa bagi umatNya.
Secara khusus:
Nas di minggu advend ke 3 ini mengajak kita untuk Bersukacitalah – Bergembiralah – Bersorak-sorailah. Pertanyaanya adalah: Apakah yang bisa membuat kita bersukacita, bergembira, bersorak-sorai? Jawabannya, ada dalam nas ini. Yaitu: karena kita punya Allah yang Mahapengampun, Mahakasih, Mahabaik. Allah yang tidak pernah berhenti mengasihi kita. Allah kita adalah Allah yang mengasihi. Pemahaman inilah yang memicu harapan Israel, sehingga mereka dapat bersukacita.
Mari kita simak apa yang terjadi pada Israel. Nabi Zefanya ini diduga bekerja pada pemulaan pemerintahan Raja Yosia di Yehuda (Israel Selatan) sekitar tahun 639 – 609 seb Masehi. Pokok pemberitaannya adalah tentang kedatangan “Hari Tuhan” (1:7 + 14). Hari Tuhan merupakan ancaman bagi dosa-dosa Yehuda dan dosa bangsa-bangsa. Bila kita membaca mulai dari pasal pertama kitab ini, kita akan gemetar membayangkan betapa dahsyatnya hari tersebut. Hari itu merupakan hari yang mengejutkan dan gelap gulita, merupakan hari kegemasan .. kesusahan dan kesulitan ... kemusnahan dan pemusnahan ... kegelapan dan kesuraman - kebinasaan (1:14 – 18). Simak beberapa perkataan Allah di pasal 1: Aku akan menyapu bersih ... dari atas muka bumi ... merebahkan ... melenyapkan ...mengacungkan tanganKu ... menghukum ... menggeledah.
Mengapa begitu dahsyatnya hukuman yang akan diterima Yehuda dan bangsa-bangsa pada Hari Tuhan itu. Jawabannya, tidak lain tidak bukan adalah karena dosa Yehuda dan bangsa-bangsa yang sangat menjijikkan Allah. Nabi Zefanya dengan keras menegor dosa mereka yang melacurkan diri dengan menyembah dewa-dewa: Baal, Milkom, tentara langit, dan kuasa kegelapan lainnya. Padahal itu merupakan kekejian di mata Tuhan (Ul. 7:25; 2Raja 21:11). Menyembah ilah lain selain Allah akan menimbulkan murka Allah. Walau kita sangat rajin ke gereja, membaca Alkitab, atau memberi sumbangan untuk gereja, tetapi bila kita masih memegang, menyimpan dan memercayai kuasa kegelapan (ajimat, ulpuhan ni datu, panjaga ni daging, pelaris, dll), bagi Allah, kita tetap menjijikkan. Di samping itu masih banyak lagi dosa-dosa Yeuhuda dan bangsa-bangsa yang membuat Allah harus murka., terutama perilaku mereka di masyarakat yang tidak mencerminkan bahwa mereka adalah bangsa Allah yang kudus.
Ini menjadi pergumulan kita. Setiap orang hendaknya memeriksa diri sendiri. Apakah Tuhan tidak sedang murka sekarang melihat segala tingkah laku kita? Bencana demi bencana menimpa bukan hanya negeri ini tetapi juga dunia. Topan, gempa bumi, longsor menjadi momok yang menyebabkan derita memilukan bagi banyak orang; harta benda yang telah dikumpulkan dan dibangun musnah seketika; banyak nyawa melayang tanpa pesan. Kejahatan merajalela. Bangsa kita terpukul dengan kasus rekaman Anggodo, yang memilukan hati penduduk negeri yang masih punya hati nurani. Ternyata, kondisi bangsa ini begitu bobroknya. Sementara pemimpin masih asyik merayakan pengangkatannya menjadi anggota dewan terhormat dan menteri, padahal rakyat gelisah menanti keadilan dan bantuan. Oh negeriku .... bila hari Tuhan datang, apa yang akan terjadi kepadamu?
Yang lebih perlu, secara pribadi mari kita mengoreksi diri, apakah perilakumu akan memaksa Allah untuk mendatangkan murkaNya? Tanya dirimu, apakah kita masih memiliki atau percaya pada kuasa kegelapan, dukun, mantera, panjaga ni daging, yang merupakan kekejian di mata Tuhan? Apakah perilaku kita di kantor, di pasar, di sekolah, di perjalanan, sudah mendukakan hati Tuhan? Apakah keluarga kita masih berkenan di hati Tuhan? Gumulilah itu setiap saat
Karena itulah, sebelum Hari Tuhan itu datang, Allah melalui Zefanya dengan keras menghimbau dan mengajak Yehuda dan semua bangsa agar BERTOBAT. “Carilah Tuhan, lakukan hukum-Nya – carilah keadilan – kerendahan hati – (pasal 2).
1. Dan hal yang mensukacitakan kita adalah, janji Allah yang pasti, bahwa bila kita mau bertobat, pasti, pasti dan pasti, Allah mau menerima kita kembali.
Tidak banyak atau hampir tidak ada orang yang mau menerima kembali isterinya yang sudah beberapa kali tertangkap basah berselingkuh. Biasanya, suaminya akan langsung menjatuhkan talak tiga, cerai. Tetapi Allah kita, tidak. Walau Israel, sebagai umat-Nya selalu berselingkuh dengan dewa-dewa dan ilah-ilah lain, tetapi Allah menunggu dengan setia, dan selalu membuka pintu maaf bagi Israel. Memang, Tuhan mau menghukum umat-Nya atas kesalahan itu, namun itu bukan talak tiga, bukan kata terakhir. Hukuman dari Tuhan hanyalah peringatan, agar Israel dan kita sadar akan dosa-dosa kita; hukuman Allah adalah cara untuk membawa kembali umatNya yang sudah terlanjur membelot dari jalan-Nya. Hukuman Allah adalah bagaikan gada dan cambuk seorang gembala untuk membawa dombanya kembali ke jalan yang benar. Allah kita selalu membuka pintu dan tangan-Nya, kapan kita mau kembali, Allah akan menyambut kita dengan tangan terbuka dan sukacita (Ingat Perumpamaan tentang Anak hilang)
Itulah sumber sukacita kita. Isteri mana yang tidak bersukacita, bila suaminya masih mengasihi dan mau menerima kembali, dia yang selalu berselingkuh? Ternyata, kasih setia Allah (khesed) jauh lebih besar melampaui dosa-dosa kita. Di Yesaya 54:8 Tuhan berkata: Dalam murka yang meluap Aku telah menyembunyikan wajah-Ku terhadap engkau sesaat lamanya, tetapi dalam kasih setia abadi Aku telah mengasihani engkau, firman TUHAN, Penebusmu. Dengan jaminan pengampunan inilah, Allah menyerukan: Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bertempik-soraklah, hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem!
Kepastian akan pengampunan oleh kasih Allah inilah yang paling menonjol bagi iman orang Kristen. Di Yohannes 3:16 disampaikan: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Bagi orang Kristen yang percaya, dengan terang benderang dinyatakan bahwa kasih Allah jauh lebih besar dari murka-Nya. Ini paling nyata didemonstrasikan Allah di kayu salib Tuhan Yesus di Golgata. Di salib itu, Tuhan meproklamasikan kepada dunia bahwa Allah kita adalah Allah yang Mahapengampun, karena yang ditanggung (dipikul) oleh Yesus di sana tidak lain tidak bukan adalah dosa seluruh manusia.
Seorang penulis pernah mengatakan: Sikap dan kelakuanmu tidak mengubah kasih Allah terhadapmu. Jika kamu berpaling dari-Allah, atau memutuskan hubungan dengan-Allah, Allah ingin tetap bersamamu. Itu seperti halnya bila kamu menutup keran. Apakah airnya juga menghilang dari pipa? Tidak, tetapi tetap berada di situ, menunggumu memutar keran lagi. Allah seperti air itu, menunggu kamu kembali menjadi anak-Nya. Tiada ketidak-patuhan atau pemberontakan darimu yang bisa mengubahnya.
Itulah sumber sukacita orang percaya. Bila kita semakin menghayati pengorbanan Yesus di salib, terutama dengan kemenangan-Nya di dalam kebangkitan-Nya, tidak mungkin lagi ada orang Kristen yang mau terbenam dalam susah hati. Yang ada hanyalah sukacita, karena di dalam Yesus, Allah memberi jaminan bahwa Allah mau mengampuni dosa kita
2. Setelah Allah mau mengampuni dosa kita, Dia tidak menjauh, tetapi justru mau dekat dengan kita.
Kita baca di ayat 17 : “TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai. Wahh... luar biasa! Coba bayangkan, bila Allah ada di dekat-Mu, menjadi pahlawan yang memberi kemenangan, dan selalu bergembira karena engkau”. Mungkin, tidak ada lagi hal lain yang mensukacitakan hati selain dari hal ini. Sebuah jaminan penyertaan dan pengawalan yang luar biasa. Karena itu, Allah melalui Zefanya terus menerus menyerukan: Jangan takut – jangan takut (ayat 15, 16).
Janji penyertaan ini telah terwujud dengan kehadiran Yesus, yang adalah Immanuel, Allah yang beserta kita. Dan walau Yesus telah berangkat ke surga, Dia memberi jaminan: “Aku akan menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat; 28:20).
Karena itu, orang percaya tidak perlu takut terhadap apapun selain kepada Allah. Jangan pernah mau diperbudak dan dikalahkan oleh Allah. Dan sebenarnya, di dalam Yesus kita lebih dari sekedar pemenang (Rm. 8, 37). We are the winners. Bila Anda kalah, bukan karena Yesus tidak mampu membantu Anda, tetapi, Anda yang telah memilih dan menyerahkan diri Anda untuk kalah. Karena itu jangan pernah mau kalah. Jangan takut. Tetapi bergembiralah, bersukacitalah.
3. Dan selanjutnya yang membuat Israel bersukacita adalah janji akan ADANYA PEMULIHAN dari Allah.
Israel akan dipulihkan (ayat 20), bukan lagi sebagai bangsa yang dihina, dilecehkan oleh kuasa dan bangsa lain. Tetapi Tuhan akan mengangkat malapetaka dari mereka (ayat 18) – Tuhan akan memukul habis bangsa yang menindas Israel (ayat 19) – Tuhan akan mengembalikan nama baik dan kehormatan dan membuat Israel menjadi kepujian dan kenamaan di seluruh bumi (ay. 19)
Ini jugalah jaminan agar kita bisa bersukacita. Mungkin sekarang memang kita susah karena disusahi pihak lain. Izin membangun gereja dipersulit (walau menurut Undang-undag sangatlah mudah). Jabatan strategis ditutup bagi murid Kristus (sehingga banyak orang Kristen menjual imannya demi jabatan) – kita dilecehkan dan dianggap sebelah mata (sehingga banyak orang yang “monjap” – bersikap bunglon – suam-suam kuku tentang imannya). Kita sering menangis menghadapi “penyesahan” (pangaleleon) terselubung ini.
Tetapi, Tuhan Yesus yang bangkit menyerukan: jangan pernah takut. Kita akan dipulihkan – musuh-musuh Kristus akan dikalahkan. Tiada kuasa manapun yang bertahan terhadap kekuasaanNya. Karena itu jangan pernah kecut, takut atau minder. Di dalam Yesus, kita bukanlah pecundang yang mau kalah, tetapi kita lebih dari sekedar pemenang.
Karena itu, agar kita benar-benar dapat bersukacita, pilihan ada pada kita. Mereka yang mengenal dosanya tetapi tidak mau bertobat, akan dibebani, ditimpa, “didondoni” oleh dosanya; sukacitanya akan terkuras habis oleh dakwan-dakwan dosa di dalam hati nuraninya. Tetapi mereka yang mau mengaku dosa dan bertobat, Tuhan menjamin bahwa dosamu pasti akan diampuni, dan Tuhan mengasihiMu. Itu membuat sukacitanya akan berlimpah.
Mereka yang tidak mengenal kasih setia Allah akan takut, kecut, dan kalah; sukacitanya akan habis. Tetapi yang percaya dan mengimani kasih setia Allah yang nampak dalam kemenangan Kristus dalam kebangkitanNya, akan terus bersukacita walau didera derita – tetap semangat dan tidak takut walau musuh Kristus menghadang. Bukan karena nekat. Tetapi karena ada jaminan penyertaan Allah.
Karena itu, camkanlah seruan Paulus dalam Filipi 4:4 “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!”
Amen. Dari berbagai sumber
Rabu, 05 Desember 2012
"Khotbah Natal Desember 2012"
“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” (1 Yohanes 4:19)
Kita diciptakan dalam gambar Allah untuk melakukan dua hal dalam dunia ini: Belajar mengasihi Allah dan belajar mengasihi sesama. Hidup sebenarnya semata-mata tentang kasih.
Tapi kasih selalu dimulai dari Allah.. Ia mengasihi kita terlebih dahulu, dan itu membuat kita mampu mengasihi orang lain (1 Yohanes 4:19). Satu-satunya alasan Anda dapat mengasihi Allah atau orang lain adalah karena Allah telah terlebih dahulu mengasihi Anda. Dan Ia menunjukkan kasih itu dengan mengirimkan Yesus Kristus ke dalam dunia ini untuk mati bagi Anda. Ia menunjukkan kasih itu dengan menciptakan Anda. Ia menunjukkan kasih itu melalui segala sesuatu yang Anda miliki dalam hidup; semuanya adalah pemberian kasih Allah.
Untuk mengasihi orang lain dan menjadi orang yang penuh kasih, pertama-tama kita perlu memahami dan maerasakan betapa besarnya kasih Allah bagi kita. Tidak cukup hanya berbicara tentang kasih, membaca tentang kasih, atau membahas kasih, kita perlu mengalami kasih Allah.
Kita perlu sampai pada satu titik ketika kita, pada akhirnya, sepenuhnya mengerti betapa Allah mengasihi kita secara sempurna dan tak bersyarat. Perlu benar-benar tertanam dalam hati kita kebenaran bahwa kita tidak dapat membuat Allah berhenti mengasihi kita.
Setelah kita merasa mantap dalam kasih Allah yang tak bersyarat, kita dapat mulai menerima orang lain. Kita tidak akan mudah marah seperti sebelumnya.
Pada masa Natal ini, pikirkanlah hal-hal berikut:
• Siapa yang memerlukan lebih banyak kesabaran dari Anda?
• Siapa yang memerlukan lebih banyak waktu dari Anda?
• Siapa yang memerlukan pengampunan Anda?
• Siapa yang memerlukan belas kasihan dan kebaikan Anda?
Apa yang akan Anda lakukan selama masa Natal yang penuh kasih ini?
Sudahkah Anda Yakin Dengan Keselamatan Anda?
Setiap orang tentunya akan menyelesaikan garis akhir hidupnya di dunia. Garis akhir hidup setiap orang bisa dalam bentuk kedatangan Kristus yang kedua kali maupun dalam bentuk kematian. Kedua momentum ini tidak seorang pun tahu pasti kapan waktu terjadinya. Dan tidak seorang pun dapat luput dari kenyataan tsb.
Tetapi satu pertanyaan sangat mendasar yang perlu kita renungkan adalah : “Apakah saudara sudah yakin dengan keselamatan saudara sendiri ?” Sehingga pada saatnya tiba, saudara dapat bertemu muka dengan Tuhan Yesus di sorga (Flp 1 :23). Dalam Rat 3 : 40 kita diingatkan untuk menyelidiki dan memeriksa kembali hidup kita, dan berpaling kepada Kristus. Mengapa ? Karena hari-hari ini banyak orang Kristen yang merasa dirinya sudah selamat padahal belum diselamatkan, merasa dirinya sudah pulih padahal belum sepenuhnya dipulihkan, merasa dirinya sudah menjadi manusia rohani padahal masih hidup dalam kedagingan, merasa dirinya sudah menjadi orang Kristen yang diurapi padahal ia tidak hidup di dalam Roh, dipimpin oleh Roh dan berjalan bersama Roh Kudus, merasa dirinya sudah menjadi orang Kristen yang baik padahal belum menjadi orang Kristen seperti yang Tuhan kehendaki.
Mari kita telaah kembali beberapa hal dibawah ini untuk mengetahui sejauhmana keyakinan kita akan keselamatan :
1. Apakah saudara sudah sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Yesus Kristus (1 Yoh 5 : 13; 4:15-16; 5:1-5)
2. Apakah kita sudah sungguh-sungguh menghormati Kristus sebagai Tuhan dalam hidup keseharian kita? Kalau kita menghormati Dia, maka seharusnya Dial ah yang menjadi prioritas terutama dan terpenting dalam hidup kita. Dia adalah segala-galanya dalam hidup kita. Dia yang kita sembah, kita agungkan dan dimuliakan dalam hidup kita.
Untuk bisa menghormati Kristus dengan benar, kita harus mengenal Dia dengan benar dan berjalan dalam ketaatan yang seutuhnya.
Firman Tuhan berkata : “Dan inilah tandanya bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintahNya. Barangsiapa berkata : Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui bahwa kita ada di dalam Dia “ (1 Yoh 2:3-5, 3:2-4, 5:2, Yoh 5:9-14, 14:21-24).
3. Apakah kita sudah sungguh-sungguh mengasihi Bapa, Anak dan Roh Kudus ?
Kalau kita masih mengasihi dunia lebih daripada kasih kita kepada Bapa, Anak dan Roh Kudus, maka kasih akan Bapa tidak ada dalam diri kita. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Kalau kita mengasihi Bapa dan Anak, maka selain kita harus berjalan dalam ketaatan dan kesetiaan, bertindak hati-hati dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri, kita juga akan selalu menjaga kekudusan. Dan kalau kita mengasihi Roh Kudus, kita akan selalu menjaga hati kita, pikiran kita, ucapan kita, cara hidup kita, ibadah kita, pelayanan kita untuk tidak melecehkan Roh Kudus apalagi mendukakan Roh Kudus.
4. Apakah kita sudah bertekun melakukan kebenaran dan tidak berbuat dosa.
Sebab firman Tuhan berkata :”Jikalau kamu tahu, bahwa Ia adalah benar, kamu harus tahu juga, bahwa setiap orang yang berbuat kebenaran, lahir daripada-Nya (1 Yoh 2:29). Dan “Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah (1 Yoh 3:9) “Barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis (1 Yoh 3:8).
5. Apakah kita sudah bersungguh-sungguh mengasihi sesama kita ?
Firman Tuhan berkata : ”Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita….Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah (1 Yoh 3:14, 19; bd 2:9-11, 3:23, 4:8, 11-12,16,20). Setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya (1 Yoh 3:10).
6. Apakah Roh Kudus sudah berdiam di dalam kita dan kita di dalam Dia?
Firman Tuhan dalam 1 Yoh 3:24 berkata : “Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.”
Selanjutnya dalam 1 Yoh 4:12-13 dikatakan : “ Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita. Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya.”
Dalam 1 Yoh 4 :19-21 firman Tuhan berkata :
19 Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.
20 Jikalau seorang berkata : “Aku mengasihi Allah” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.
21 Dan perintah ini kita terima dari Dia : Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.
7. Apakah kita sudah bersungguh-sungguuh mengikuti teladan Yesus dan hidup seperti Dia, “Barangsiapa mengatakan, bahwa Ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1 Yoh 2:6). Dalam 1 Ptr 2: 21-23 firman Tuhan berkata :
21 Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu, dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.
22 Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya.
23 Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.
8. Apakah kita sudah memberi diri sepenuhnya untuk dipulihkan ?
Karena yang layak diangkat dan berkenan kepada Tuhan pada saat Kristus datang kembali menjemput kita di awan-awan, hanya orang-orang yang sudah dipulihkan roh-jiwa dan tubuhnya, sehingga tidak bercacat dan tidak bercela di hadapan Tuhan. Karena itu kita harus memberi diri kita untuk dipulihkan dan dibaharui terus menerus oleh Roh Kudus. Dalam 1 Yoh 5 : 6 dikatakan, bahwa kita dipulihkan bukan hanya dengan air (baptisan air), tetapi dengan air (baptisan air), darah (Darah Tuhan Yesus) dan Roh Kudus.
9. Apakah kita sudah melakukan kehendak Bapa dan sedang menyelesaikan pekerjaan yang Bapa percayakan kepada kita ?
Dalam Yoh 14:12 dikatakan:
12 Aku berkata kepadamu : Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa.
10. Apakah kita masih merasa sulit menjadi orang Kristen yang benar dan merasa berat melakukan perintah-perintah Tuhan ?
Kalau kita berpikir, bahwa yang penting kita berbuat baik dan sudah jadi orang Kristen dan cukuplah menjadi orang Kristen seadanya, yang penting selamat masuk sorga. Firman Tuhan mengingatkan kita, bahwa kita diselamatkan bukan karena perbuatan baik kita, melainkan karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus (Tit 3:5). Tuhan menghendaki supaya kita mempergunakan sisa waktu yang ada untuk benar-benar menyempurnakan hidup kita di dalam Kristus (Kol 1:28). Tuhan mau supaya kita tidak menjadi orang Kristen yang sekedarnya (yang hanya menjalankan hidup kekristenannya sebatas kewajiban agama), tapi hendaklah berusaha selama hidup kita ini menjadi orang Kristen yang bukan cuma layak, tetapi juga harus berkenan kepada Tuhan dan sempurna (Rm 12:2).
Apakah saudara merasa berat melakukannya ? 1 Yoh 5 : 3 mengingatkan : “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat.
Bagaimana dengan saudara ?
Amen
"Khotbah Minggu 09 Desember 2012 Maleaki 3: 1-4"
Pengantar:
Kitab Maleakhi ditulis dalam abad ke-5 SM, sesudah Rumah Allah di Yerusalem dibangun kembali. Buku ini terutama dimaksudkan untuk mendorong para imam dan rakyat supaya membaharui kesetiaan mereka kepada perjanjian dengan TUHAN. Sudah jelas bahwa ada kemerosotan dalam kehidupan dan cara beribadat umat Allah ketika itu. Para imam dan rakyat menipu TUHAN: Mereka tidak memberikan kepada TUHAN apa yang harus mereka persembahkan kepada-Nya dan tidak hidup sesuai dengan ajaran-Nya. Lewat Nabi Maleakhi dinubuatkan bahwa TUHAN akan datang untuk mengadili dan menyucikan umat-Nya. Ia akan mengirim utusan-Nya untuk menyiapkan jalan dan mewartakan perjanjian TUHAN.
Pada Minggu Advent II ini, kembali kita diingatkan akan makna kedatangan Yesus. Dalam Alkitab kedatangan Yesus Kristus dibagi menjadi 2 fase.
Kedatangan yang sudah terjadi melalui Kelahirannya (Natal) 2000 tahun yang lalu. Dalam kontek ini, Advent berarti mengingatkan kita sehubungan dengan bagaimana memperingati dan mensyukuri peristiwa kedatangan yang pertama, yang sudah terjadi. Penekanan agar persiapan dalam memperingati dan merayakan Natal janganlah factor fisik atau lahiriah lebih diutamakan dari masalah spiritual. Sudah saatnya bukan factor sermonial lebih diutamakan tetapi aksi kasih.
Advent juga berbicara tentang kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali. Pertanyaannya adalah kapan hal itu akan terjadi? Alkitab berkata hanya Bapa yang tahu pasti, tetapi kita tidak, bahkan anak juga tidak tahu (Mat. 24:36). Kita hanya diberi tahu tanda-tanda. Oleh karena itu Advent mengingatkan kita agar mewaspadai hari kedatangan tersebut serta menyikapinya dengan sungguh-sungguh dengan hidup setia dan hidup kudus.
Maleakhi 3:1-4 merupakan nubuatan kedatangan Mesias yakni Yesus Kristus. Nubuatan ini disampaikan atau dibuat pada masa sesudah pembuangan, ketika banyak orang Yahudi telah kembali ke tanah air mereka. Waktu itu terjadi kemerosotan rohani, yaitu ketika agama orang Yahudi telah menjadi formalitas semata, dengan kata lain mereka beribadah tetapi mereka melakukan apa yang jahat dimata Tuhan seperti: mempersembahkan binatang cacat (1:6-14), pengajaran yang tidak benar dari para imam (2:1-9), kawin campur dan perceraian (2:10-16), tidak memberikan persembahan persepuluhan (3:6-12), dosa-dosa lain (3:5,13-14).
Khotbah:
1. Advent kedua merupakan bagian minggu penantian dalam tradisi kalender gereja. Tradisi yang kuat dalam semangat dan pengharapan akan datangnya Mesias Anak Allah, yaitu Yesus Kristus. Anak Allah akan datang untuk menyelamatkan manusia.
2. Dalam masa Perjanjian Lama, semangat Advent ini diperlihatkan dalam episode pembuangan di Babel, yang di dalamnya terdapat kerinduan akan tindakan Allah untuk menyelamatkan mereka. Di awal masa Perjanjian Baru, Adven ini ditandai oleh situasi penjajahan Romawi dan pemerintahan boneka dinasi Herodes yang tidak menghadirkan pemerintahan yang adil. Muncullah pengharapan Messianik yang kuat di kalangan bangsa Israel.
3. Renungan kita Minggu ini sangat relevan jika membandingkan dengan suasana keagamaan dan kehidupan masyarakat saat ini. Dimana kehidupan keberagamaan “yang semarak” ternyata tidak membuat kejahatan semakin berkurang, demikian juga ada kecendrungan melakukan perbuatan tercela seolah bukan lagi sesuatu yang memalukan. Oleh karena itu Firman Tuhan ini kiranya juga menjadi peringatan serius kepada kita. Sebagai umat Tuhan, kita dituntut hidup KPP (hidup Kudus, hidup dalam Penyembahan dan Persembahan). Ungkapan dalam ayat 3 dan 4 mengenai mentahirkan orang Lewi dan persembahan Yehuda dan Yerusalem menyenangkan hati Tuhan mengisiaratkan pentingnya hal tersebut. Yang pasti hihadapan Allah pada kedatangannya yang kedua kali hanya ada dua kelompok, yang sudah bersih dan murni atau tidak. Dan hanya yang murni dan bersihlah yang berkenan kepada Allah.
4. Dalam situasi seperti pembuangan Babel dan penjajahan Romawi, kerinduan akan kehadiran Juru Selamat [Allah yang menyelamatkan], memuncak di tengah pergulatan penderitaan. Harapan itu sedemikian besar dan membuat banyak yang berputus-asa dan ragu.
5. Ketika orang meragu-ragukan, apakah TUHAN masih mengasihi umatNya (1:2) dan berpendapat bahwa tidak ada gunanya beribadah kepada TUHAN karena orang yang berbuat jahat lebih berhasil dari pada orang saleh (3:14-15), bangkitlah seorang Nabi yang disebut “utusanku” (Maleakhi: ibr. Mal’akhi) yang disuruh TUHAN mempersiapkan jalan di hadapanNya (3:1; bndk Yes 40:3, 57:14; 62:10). Utusan TUHAN ini datang karena praktek formalism keagamaan Israel sudah jauh menyimpang dari subsatansinya (para imam sedaang “merusak perjanjian Allah dengan Lewi” Mal.2:4,8 karena mengorbankan binatang cacat, sakit, luka dan pelayanan di Bait Allah dipandang sebagai “susah payah’ dan tidak lagi sebagai kehormatan yang menggembirakan, umat Israelpun sedang menajiskan perjanjian bapa leluhurnya (2:10): mereka kawin dengan wanita yang menyembah dewa-dewa (2:10-15), bersumpah palsu, melanggar hak-hak orang lemah, bukan saja lalai memberikan perpuluhan, tetapi “menipu TUHAN” 3:8-9 ). Karena itu, Israel sangat wajar mendapatkan “pengajaran” dari TUHAN.
6. Orang merasa bahwa TUHAN jauh dan kurang prihatin terhadap nasib mereka, tetapi nabi yakin bahwa dalam perkembangan yang sedang terjadi, TUHAN sendirilah yang akan bertindak dan menyelamatkan, sekaligus mengembalikan seluruh pratek keagamaan pada tempatnya.
7. Mempersiapkan jalan bagiNya. Lalu: Tindakan pertama yang dilakukan oleh TUHAN adalah: datang! Datang ke dunia ini. Utusannya yaitu Nabi Maleakhi ini diperintahkan mempersiapkan jalan untuk kedatangan TUHAN. Banyak para teolog yang merujuk nats ini kepada Yohanes Pembaptis yang merintis jalan bagi Kristus. Jelas sekali seruan pertama Yohanes adalah: pertobatan! Dan ini juga yang sedang terjadi dalam konteks perikop ini, Israel harus bertobat (lih. 3:7 bnd Za 1:4; 8:14 dan Mal. 3:6-12). Mempersiapkan jalan disini adalah: proses memperbaiki diri melalui pertobatan. Minggu-minggu Advent ini kita sudah disibukkan dengan segala pernak-pernik Natal: rutinitas menghias pohon natal, latihan natal dll, inipun cara mempersiapkan jalan bagiNya. Tapi, lebih dari itu, memperbaharui diri, memperbaiki diri, membersihkan diri dalam bungkus pertobatan adalah makna hakiki dari jalan yang akan di lalui Kristus. Mengapa?
8. Siapakah yang masih setia? Menantikan datangnya Tuhan, sungguh membutuhkan kesiapan, kesabaran dan kesetiaan. Nabi Maleakhi menggambarkan Mesias yang akan dang itu seperti: 1.api tukang pemurni logam, 2.sabun tukang penatu, 3.orang yang memurnikan dan mentahirkan perak dan emas. Untuk memurnikan logam, perak dan emas melalui proses peleburan dengan suhu yang panas, agar terdapat kualitas yang murni. Inilah gambaran penderitaan Israel di pembuangan, juga gambaran kehidupan sekarang dengan seluruh gayanya. Proses pemurnian ini dilakukan untuk menemukan umat Allah yang sejati dan setia sampai akhir. Pertanyaannya adalah: apakah siapa yang bertahan, dapat berdiri? Untuk itu, Maelakhi menghendaki keseriusan proses ini, bukan hanya formalisme agama yang semu tapi ketaatan untuk mengikuti Kritus.
9. Berilah persembahan yang benar dan menyenangkan Tuhan! Agaknya Malekahi sangat terganggu dengan cara imam dan umat dalam memberikan persembahan kepada TUHAN (baca fs 2). Jelas TUHAN tidak menyukai gaya persembahan seperti Israel lakukan. Selain kualitas dari persembahan yang penuh cacat, mereka secara bersamaan hidup dengan kepura-puraan sebab kualitas iman mereka sudah cacat (tukang sihir, zinah, saksi dusta, menindas orang upahan, janda dan anak piatu, menindas orang asing dan dilakukan dengan tidak takut kepadaTuhan ay.5. lengkaplah sudah, bahwa bukan saja kualias persembahan yang dipersoalkan tapi sudah menyangkut prilaku sehari-hari. Bila ini dipersembahkan, Maleakhi berkata: bukankah itu jahat? (fs.1:8). Untuk itu, jalan sudah dibuka/dirintis, Maleakhi menghimbau bahwa proses pemurnian itu akan menghasilkan persembahan yang murni dan harum sekaligus menyenangkan hai Tuhan (ay.3-4). Segala penyimpangan dari ketetapan-ketetapan Tuhan dalam ayat 5 di tegaskan akan dihakimi dan TUHAN akan menjadi saksi bagi orang-orang yang terzalimi. Sekali lagi, inilah makna dari proses pemurniaan iu. Toh, menjadi emas murni akan melalui proses tersebut.
10. Membersihkan rumah, menghias pohon Natal, berlatih drama, koor, liturgi selalu akrab menjelang natal tiba. Firman Tuhan ini juga berpesan bahwa: membersihkan hati, pikiran, tindakan dari hal-hal yang kotor, menghias iman, prilaku yang santun dan benar, berlatih untuk semakin taat merupakan proses pemurnian untuk: mempersiapkan jalan bagi TUHAN. Amen. Diambil dari berbagai sumber
Rabu, 14 November 2012
Khotbah Minggu 18 Nopember 2012 Ibrani 10:19-25 “Datanglah dengan tulus kepada Pengampunan Darah Kristus”
Pengantar:
Satu mil dari garis finis lomba maraton London, ribuan penonton yang memegang papan-papan slogan berbaris di sepanjang jalur lomba. Ketika penonton melihat seorang anggota keluarga atau teman mereka yang mengikuti lomba sudah tampak dari kejauhan, mereka meneriakkan nama orang itu, melambaikan tangan, dan memberikan semangat: “Tinggal sedikit lagi! Teruslah berlari! Sudah hampir mencapai finis.” Setelah berlari 25 mil, banyak peserta lomba tidak lagi berlari dan mulai berjalan, bahkan bersiap-siap untuk menyerah. Sungguh menakjubkan ketika melihat para pelari yang kehabisan tenaga itu mulai bersemangat lagi dan mempercepat langkahnya ketika mereka melihat seseorang yang dikenalnya atau mendengar nama mereka dipanggil.
Dorongan semangat! Kita semua membutuhkannya, khususnya dalam perjalanan iman kita. Kitab Ibrani memberitahu kita untuk saling mendorong. “Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan- pertemuan ibadah kita, . . . tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat” (10:24-25).
Perjanjian Baru penuh dengan kepastian bahwa Kristus akan segera datang. “Tuhan sudah dekat!” (Flp. 4:5). “Kedatangan Tuhan sudah dekat!” (Yak. 5:8). “Sesungguhnya Aku datang segera” (Why. 22:12).
Renungan:
Nats Khotbah hari ini memberikan berita sukacita dan penghiburan kepada setiap orang Kristen yang mengalami penderitaan, tantangan dan cobaan, bahwa apa yang dialami oleh orang percaya yang menerima TUHAN Yesus sebagai Juruselamat pribadinya tidak aka nada lagi. Mengapa? Sebab dalam ayat 19-21 kita menemukan alasan yang kuat untuk menemui TUHAN, Allah tanpa melalui seorang Imam Besar dalam budaya Yahudi, namun dapat bertemu dengan bebas menikmati Kasih Bapa lewat peran TUHAN Yesus yang telah membuka jalan itu bagi kita. Bagaimana peran Tuhan Yesus itu dilakukan? Ada beberapa hal, yakni:
1. Perhatikan ayat 19. Tuhan Yesus menyucikan kita dengan darahNya sehingga kita menjadi kudus. Kekudusan kita terjadi bukan karena kita kudus namun karena anugerah pengudusan melalui pengorbanan Tuhan Yesus dan curahan darahNya. Otomatis, jika kita sudah kudus, maka kita dengan bebas dapat menjumpai Bapa yang Mahakudus itu tanpa perlu diwakili lagi.
2. Perhatikan ayat 20. Tuhan Yesus bukan hanya menguduskan kita, namun Ia telah merobek tirai pemisah kepada TUHAN, Allah lewat menjadikan diriNya sebagai jalan masuk atau akses masuk kepada Bapa. Tuhan Yesus pernah berkata: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6). Hal ini berarti, bahwa kita dapat menjumpai BAPA kapan pun dan dimanapun melalui TUHAN Yesus.
3. Perhatikan ayat 21. Alasan mengapa hal itu terjadi karena Tuhan Yesus telah berperan sebagai Seorang Imam besar yang bersaksi kepada Bapanya bahwa kita layak untuk mmperoleh kasih karunia itu dan menemui anugerah kasihNya. Bukankah ketiga hal ini adalah anugerah besar dalam hidup kita?
Bedasarkan anugerah istimewa yang dilakukan Kristus di ayat 19-21, penulis kitab Ibrani mengajak kita meresponi hal itu dengan tiga langkah praktis, yakni:
a. Menghadap Allah dengan hati tulus dalam iman yang teguh (ayat 22)
Kata “menghadap Allah” dalam teks Yunani secara hurufiah berarti “datang menuju”. Karena menggunakan tensis “present Tense” istilah menghadap Allah ini bermakna:“Datang terus-menerus kepada Allah” (band. Ibr 10:25). Kalau bangsa Israel dahulu tidak bisa langsung masuk ke ruang maha kudus dan hanya diwakili oleh imam besar setahun sekali, sekarang kita harus menghargai jalan yang baru dan yang hidup dengan cara terus-menerus mendekat pada Allah.
Bagaimana cara menghadap Allah itu? Akses yang sudah dibuka oleh Yesus bukan berarti membuat kita boleh sembarangan mendekat kepada Allah. Setiap kali ibadah kita mendekat kepada Allah yang kudus di tempat yang maha kudus, karena itu kita harus mendekat dengan “hati yang tulus ikhlas” atau dengan hati yang benar. Artinya ibadah harus dilakukan dengan penuh ketulusan dan kebenaran bukan hanya karena suatu kewajiban dan rutinitas semata.
b. Memegang teguh pengakuan pengharapan (ayat 23)
Hal ini mau ditegaskan oleh kitab Ibrani, sebab pada zaman itu banyak sekali ajaran sesat dan tidak benar yang membingungkan mereka. Karena itu umat diminta untuk tatap teguh dalam ajaran Kristus; tidak tergoyahkan oleh berbagai ajaran yang menyesatkan.
Selanjutnya apabila umat Tuhan mengalami ketidak-nyamanan oleh karena berbagai perlakukan buruk; tekanan; dan ketidak-adilan akibat iman percaya mereka, maka keteguhan iman mereka itu haruslah ditopang dengan pengharapan bahwa TUHAN, Allah mereka adalah Pribadi Mahakuasa yang setia dan tidak akan meninggalkan mereka.
c. Saling memperhatikan antar saudara seiman (ayat 24-25)
Pada ayat 25 kitab Ibrani menyatakan bahwa menghadap Allah itu juga harus dilakukan dengan cara saling memperhatikan orang lain (ay.24). Ayat ini mau menegaskan bahwa kita harusnya ketika menghadap Allah tidak hanya memandang Kristus saja (3:1), melainkan juga perlu memperhatikan satu dengan yang lain (10:24). Tujuan dari tindakan ini adalah untuk mendorong dalam kasih dan perbuatan baik. Banyak orang memahami bahwa menghadap Allah berarti memberikan perhatian khusus kepada Allah saja. Namun bacaan kita saat ini mengingatkan bahwa barang siapa menghadap Allah, ia juga harus tidak mengabaikan sesama dalam hal berbuat baik kepada mereka.
Di sisi lain, ayat 25 juga menyatakan bahwa tindakan saling memperhati-kan satu dengan yang lain untuk membangkitkan kasih dan perbuatan baik itu tidak akan tercapai apabila kita menjauhkan diri dari pertemuan ibadah. Banyak orang melakukan kebajikan dan kebaikan kepada sesama, namun apakah juga dia melakukan kebaikan lewat cara beribadah kepada Allah? Hal ini perlu menjadi perhatian penting. Ayat 24 dan 25 ini memberi definisi baru tentang Ibadah, yakni: Ibadah bukan hanya terjalin hubungan dengan Allah, tapi juga hubungan baik dengan sesama.
Berdasarkan Firman Tuhan ini, maka ada beberapa hal penting yang dapat kita renungkan dan terapkan dalam hidup beriman kita, yakni:
1. Kita harusnya bersyukur bahwa karena Kristus kita beroleh kesempatan dengan bebas dan tanpa halangan untuk menghadap dan menjumpai Allah. Semua itu terjadi dengan Gratis dan Cuma-Cuma namun mahal harganya. Harga yang mahal itu senilai dengan Nyawa Putera Allah yakni Yesus Kristus, Tuhan kita. Namun sayangnya, banyak orang menganggap sesuatu yang gratis itu berarti tidak bernilai. Kalaupun bernilai namun kadarnya murahan saja. Sehingga dapat ditebak, bahwa sering kali pengorbanan Kristus kurang dihargai.
Kita lebih menghargai waktu sibuk kita dibandingkan dengan waktu beribadah kita; kita cendrung menilai waktu adalah uang dan bukan waktu adalah untuk Tuhan. Banyak orang sangat betah membaca novel atau buku cerita dibanding membaca dengan tekun Firman Allah. Bahkan harus diakui, setuju atau tidak, kita lebih betah becakap dan berbagi cerita dengan sahabat dan teman dari pada berbagi waktu untuk TUHAN lewat bercakap-cakap dengaNya dalam doa pribadinya.
Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa kita dapat dengan bebas menghadap TUHAN oleh karena anugerahNya. Karena itu, marilah kita untuk tidak menyia-nyiakan anugerah itu.
2. Menghadap Tuhan, bukan hanya berarti menjalin hubungan secara vertikal dengan Allah; namun juga harusnya membangun hubungan dengan sesama kita. Ibadah yang benar bukan soal hubungan dengan TUHAN yang harmonis, namun apakah juga hubungan kita dengan suami, anak2 dan orang lain juga adalah hubungan yang harmonis.
Walaupun kita begitu rajin dan taat datang beribadah kepada Tuhan; membaca alkitab dengan sungguh; dan doa khusuk pada TUHAN, namun masih ada perselisihan dengan sesama yang belum diselesaikan; tidak peduli pada orang lain, maka sesungguhnya kita gagal menghadap TUHAN dengan sempurna dan benar.
Karena itu, marilah menjadi pribadi yang elah ditebus dan dianugerahi Tuhan, lewat beribadah kepadaNya dan membangun hidup benar dengan sesama, menopang dan menolong orang lain sehingga kita menjadi orang yang berkenan kepada TUHAN. Selamat merespon anugerah Tuhan ini dalam hidup beriman kita. Amin Dari berbagai sumber
Langganan:
Postingan (Atom)