Perdamaian sangat dibutuhkan pada jaman ini, bagaimana kita bisa berdamai dengan sesama, dengan Tuhan dan diri sendiri.Semua ini hanya dapat kita peroleh dari Dia dan FirmanNya sebagai Madu Surgawi.
Minggu, 14 Oktober 2012
"CITRA PENDETA DAN ETIKA PELAYANAN'
I. Pendahuluan
Sebagai pelayan Yesus Kristus, yang dipanggil Allah untuk mewartakan Injil dan beroleh karunia Roh Kudus untuk menggembalakan gereja, setiap pelayan membaktikan diri untuk menunaikan pelayanan harus sesuai dengan pedoman etis dan prinsip-prinsip yang dinyatakan dalam kode etik pelayanan, supaya pelayanan diperkenan di hadapan Tuhan, dan apa yang dikerjakan menjadi keuntungan bagi persekutuan Kristiani, dan hidup pelayan menjadi saksi bagi dunia.
Bagi seorang yang telah mengalami kelahiran baru di dalam Yesus Kristus, hidupnya tidak akan lepas dari apa yang disebut pelayanan. Pelayanan menjadi life style, gaya hidup, yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan itu sendiri. Setiap orang percaya dipanggil untuk melayani (Galatia 5:13). Penggalangan kaum awam untuk melayani memiliki dasar yang kuat dalam Alkitab. Pelayanan bukan hanya monopoli hamba-hamba Tuhan yang menyerahkan segenap hidupnya melayani purna waktu (fulltime) melainkan juga milik jemaat awam (1 Petrus 2:9). Yang dibutuhkan disini adalah bagaimana kaum awam tersebut dilengkapi agar pelayanannnya mendukung pelayanan hamba-hamba Tuhan, dan bukan menghambat. Salah satu hal yang seyogianya dipahami oleh para pelayan Tuhan adalah etika pelayanan, yaitu sikap yang baik dan benar sebagai pelayan Tuhan terhadap Tuhan yang dilayani, terhadap manusia, dan terhadap sistem pelayanan yang ada.
II. Sikap Terhadap Tuhan
Untuk dapat memiliki sikap yang baik dan benar terhadap Tuhan, seseorang harus mengenal-Nya dengan baik sesuai dengan pernyataan Alkitab itu sendiri. Pengenalan ini tidak hanya didasarkan pada pengetahuan teoritis melainkan juga melalui pengalaman hidup sehari-hari. Sikap Yesaya dalam pelayanannya sebagai nabi berubah ketika ia melihat Tuhan dalam suatu penglihatan yang maha dahsyat (Yes. 6:1-8). Sikap kita terhadap Tuhan dan pelayanan yang dipercayakan-Nya kepada kita akan berubah jika kita lebih mengenal-Nya. Dalam bukunya Knowing God, J.I. Packer memaparkan tentang Diri Allah , sifat-sifat-Nya, tentang rencana dan karya-karya-Nya. Beberapa sikap kita sebagai pelayan Tuhan terhadap Dia, Kepala Gereja, antara lain :
1. Mengagungkan dan meninggikan Tuhan dalam seluruh aspek kehidupan, baik dalam ibadah maupun dalam hidup sosial kemasyarakatan.
2. Bersyukur atas segala karya-Nya dalam hidup kita dengan percaya akan kasih-Nya yang pasti mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi-Nya (Roma 8:28). Kedewasaan rohani seseorang dapat dilihat dari sikapnya ketika menghadapi berbagai warna kehidupan yang Tuhan ijinkan terjadi.
3. Bersedia hidup dalam ketaatan akan perintah-perintah-Nya sebagai tanda kasih kepada-Nya (Yoh 14:15)
4. Hidup dalam kerendahan hati di hadapan Tuhan dengan menyadari bahwa segala kemauan dan kemampuan kita dalam pelayanan adalah pekerjaan Allah sendiri (2 Kor 3:5; Fil 2:13).
5. Bersedia terus menerus diperbaharui oleh Roh Kudus (Efs 4:21-24), dengan terus menjaga kemurnian hati (1 Tim 1:18).
III. Sikap terhadap Tugas Pelayanan.
Banyak orang keliru dalam memandang setiap tugas pelayanan yang dilakukannya. Ada yang menganggapnya begitu sepele sehingga tidak pernah serius melakukannya. Pelayanan dianggap sebagai sambilan dan pengisi waktu luang belaka. Ada pula yang melihat pelayanan sebagai ibadah formal keagamaan yang kaku sehingga cenderung merupakan beban. Beberapa sikap terhadap tugas pelayanan yang dikehendaki Tuhan antara lain :
1. Tugas pelayanan harus dipandang sebagai kepercayaan yang dianugerahkan Allah kepada kita (Kol 1:25)
2. Tugas pelayanan yang dipilih disesuaikan dengan talenta dan karunia Roh yang kita miliki; tak ada pelayanan yang tidak penting di hadapan Tuhan, semuanya penting dan saling melengkapi.
3. Sikap penuh disiplin dan setia terhadap tugas pelayanan yang dipercayakan sangat dihargai Tuhan (Mat 25:23).
4. Sikap menyeimbangkan pelayanan dengan karier dan keluarga juga harus diperhatikan; pelayanan tidak boleh menjadi alasan dan dikambinghitamkan untuk menutupi kekurangan dalam penanganan karier dan keluarga.
5. Sikap percaya bahwa setiap pelayanan yang kita lakukan tidak akan sia-sia selama kita melakukannya dengan hati yang mengasihi Tuhan (1 Kor 15:58); pelayanan kita bisa menjadi berkat bagi orang lain, dan kepada kitapun Allah telah menyediakan mahkota kebenaran (2 Tim 4:8)
IV. Sikap terhadap Rekan Sepelayanan
Sebagai anggota tubuh Kristus kita harus menyadari peran kita dan juga peran rekan sepelayanan lainnya. Dalam Alkitab dicatat adanya pelayanan yang kurang harmonis dalam kebersamaan karena ada motivasi yang kurang murni dalam melayani.
Beberapa diantaranya adalah :
1. Jemaat Korintus yang senang membentuk kelompok-kelompok; kelompok Kefas/Petrus, kelompok Apolos, kelompok Paulus, kelompok Kristus, sehingga tidak ada kesatuan (1 Kor 1:10-17).
2. Motivasi dari beberapa pemberita Injil yang justru bermaksud memperberat pemenjaraan Rasul Paulus. (Fil 1:17)
3. Motivasi pelayanan untuk lebih menyenangkan hati manusia daripada hati Tuhan (Galatia 1:10)
Oleh sebab itu kita harus memiliki sikap yang baik dan benar terhadap rekan sepelayanan kita, yakni :
1. Menghargai sesama rekan sepelayanan, apapun profesinya dan apapun bentuk pelayanannya, bahkan yang satu menganggap yang lain lebih utama (Fil 2:1-4)
2. Mempunyai sikap saling membutuhkan baik dalam saling tukar menukar informasi, saling mendoakan, saling menolong dan memberi penghiburan (Gal 6:2)
3. Mau bersikap terbuka tanpa takut terluka dalam menyelesaikan masalah yang timbul dalam pelayanan; bersedia mengakui kesalahan dan meminta maaf, dan juga bersedia mengampuni mereka yang bersalah.
4. Bersikap mau menegur dalam kasih apabila melihat atau mendengar ada rekan sepelayanan yang menyimpang dari kebenaran Firman Tuhan (Amsal 28:23)
V. Sikap terhadap Organisasi dan Pemimpin Rohani
Demi tertibnya pelayanan dalam gereja Tuhan dibutuhkan adanya aturan organisasi. Hal ini tidak berarti mempersempit karya Roh Kudus atau bersifat duniawi, melainkan justru mendatangkan ketertiban asalkan tetap berazaskan Alkitab. Alkitab sendiri menghendaki segala sesuatunya berjalan dengan tertib (1 Kor 14:33, 40), bahkan Roh Kudus adalah Roh yang mendatangkan ketertiban (2 Tim 1:7)
Dalam organisasi yang baik biasanya ada orang-orang yang ditempatkan dalam struktur organisasi yang bertanggungjawab atas pelayanan yang dipercayakan kepadanya secara organisatoris. Seringkali dijumpai adanya miskomunikasi antara pemimpin ini dengan rekan sepelayanan yang dibinanya. Untuk itu perlu diperhatikan panduan berikut :
1. Menghormati pemimpin yang telah ditetapkan Allah (1 Tim 5:17). Daud yang terus dikejar-kejar oleh Raja Saul tetap menghormatinya sebagai raja Israel sampai Allah sendiri berurusan dengan dia.
2. Mau berbicara dengan terbuka akan berbagai kebijakan dalam pelayanan sesuai dengan status anak-anak terang. Sama sekali tidak dibenarkan adanya tehnik-tehnik adu domba, agitasi dan intimidasi, surat kaleng, dan sebagainya.
3.Usul-usul peningkatan pelayanan yang baik dapat disampaikan menurut tata tertib gereja yang ada
4. Promosi ke tingkat kepemimpinan harus dilakukan dengan tertib yang ada, penuh kerendahan hati dengan memahami waktu Tuhan (Pengkhotbah 3:11), dan rela mengalami penolakan seperti halnya Samuel (1 Sam 12:23).
5. Memahami pentingnya regenerasi dalam pelayanan secara struktural, agar menghasilkan atmosfer pelayanan yang sehat.
VI. Penutup.
Dengan telah dipahaminya prinsip-prinsip etika pelayanan dalam pelajaran ini tidak secara praktis menjadikan kita langsung melayani tanpa cacat. Kita masih akan masuk dalam pemproses hidup yang cukup panjang dalam pelayanan. Roh Kuduslah yang menjadi Penolong kita. Setidaknya dengan panduan etika pelayanan ini kita bisa lebih mengadakan koreksi dan evaluasi secara jujur di hadapan Tuhan & manusia. Akhirnya, “….mereka yang melayani dengan baik beroleh kedudukan yang baik sehingga dalam iman kepada Kristus Yesus mereka dapat bersaksi dengan leluasa.” (1 Tim 3:13).
Disampaikan pada Konven Pdt2 POUK PGI Wilayah DKI di Lembah Nyiur Bogor.
Jumat, 28 September 2012
Khotbah Minggu 30 September 2012 Mazmur 19:8-14 Thema: "FIRMAN TUHAN MENYEGARKAN JIWA "
Pendahuluan:
Karena mengalami sakit pada pinggang saya memutuskan untuk dipijat. Ini adalah sesuatu yang sangat jarang saya lakukan, karena sejak kecil saya tidak terbiasa untuk dipijat secara teratur seperti kebanyakan orang. Tidaklah heran ketika si tukang pijat tertawa dan mengatakan bahwa ada banyak otot dan urat yang sudah mengeras, yang rasanya sakit ketika ditekan apalagi dipijat olehnya. "Mobil saja butuh tune up pak, coba mobil dipakai terus tanpa di service, bakalan gimana.." katanya sambil tertawa. Dan hari ini seluruh badan saya rasanya remuk redam karenanya. Tukang pijat pun menganjurkan agar saya melakukannya secara berkala agar urat-urat di tubuh saya bisa lebih terjaga dan tidak harus terlalu sakit lagi ketika dipijat. Ya, tubuh kita memang butuh pemeliharaan seperti halnya mobil yang dicontohkannya. Kita terus sibuk setiap hari sehingga jika kondisi tidak dijaga, kita bisa mengalami "turun mesin" dan harus masuk "bengkel" seperti halnya mobil.
Tidak hanya tubuh, tapi kondisi spiritual pun sama. Setiap hari kita terus berperang baik melawan berbagai keinginan daging dari diri sendiri maupun berbagai godaan iblis yang terus berusaha untuk menjatuhkan kita. Kondisi ini kita hadapi setiap hari, dan jika tidak dijaga, keadaan rohani kita pun bisa kehabisan energi, drained out. Betapa berbahayanya jika kita membiarkan jiwa kita mengalami kekeringan. Tidak lagi punya daya tahan kuat untuk menghadapi berbagai tantangan yang bisa melemahkan bahkan menghancurkan kondisi spiritual kita. Just like our body, our spirit needs to be restored and refreshed as well.
Penerapan:
Tidak berlebihan jika Daud sudah mengatakan bahwa orang yang mencintai Taurat Tuhan dan mau merenungkannya siang dan malam akan "seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:1-3). Tidak akan layu, terus berbuah dan berhasil dalam segala yang dilakukan. Kondisi tubuh kita bisa kita jaga dengan menjaga pola makan, berolahraga atau mungkin pijat teratur, tetapi untuk menjaga kebugaran rohani kita butuh asupan firman Tuhan setiap hari. Firman Tuhan akan selalu menguatkan, meneguhkan, memberi kelegaan... dan menyegarkan. Menyegarkan? Ya, menyegarkan. Dan jiwa kita, seperti halnya tubuh kita butuh penyegaran setiap saat. Seperti yang tertulis dalam Mazmur:"Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman." (Mazmur 19:8). Firman Tuhan mampu menjawab kebutuhan akan kesegaran jiwa.
Hidup di dunia yang sulit ini akan membuat stamina rohani kita terus terkuras. Karenanya kita sangat membutuhkan percikan air yang akan mengembalikan kesegaran jiwa kita. Dalam Yesaya kita bisa melihat janji Tuhan yang begitu indah buat kita: "Sebab Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus, dan hujan lebat ke atas tempat yang kering. Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas keturunanmu, dan berkat-Ku ke atas anak cucumu. Mereka akan tumbuh seperti rumput di tengah-tengah air, seperti pohon-pohon gandarusa di tepi sungai." (Yesaya 44:3-4). Pengenalan yang kontinu, terus menerus akan Tuhan pun akan memberikan kita kesegaran seperti ini. Dalam Hosea kita bisa membaca:"Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi." (Hosea 6:3) Betapa menyegarkannya hujan yang turun di saat kemarau, dan itulah janji Tuhan untuk kita yang mau bersungguh-sungguh mau mengenalNya.
Adalah sangat penting bagi kita untuk terus membekali jiwa kita dengan firman Tuhan. Daud tahu bagaimana bahagianya jika ia tetap berada dekat dengan firman Tuhan yang penuh dengan kuasa. Bacalah Mazmur 119 dimana Daud mendeskripsikan dengan panjang lebar dan lengkap mengenai bahagianya orang yang hidup menurut Taurat Tuhan. Berkali-kali pula Daud memberikan testimoni dari pengalamannya hidup dekat dengan firman Tuhan. Salah satunya berbunyi seperti ini: "Aku mendapatkan kebahagiaan dalam mentaati perintah-perintah-Mu." (Mazmur 119:55).
Melalui nas hari ini, umat Tuhan diajak untuk mematuhi aturan Tuhan. Ketaatan terhadap peraturan Tuhan ini bukan soal ditangkap atau tidak tetapi menyangkut bagaimana manusia menikmati hidup ini. Disebutkan, firman Tuhan itu sempurna dan tepat. Aturan Tuhan itu memang cukup banyak sebagai pengembangan dari Hukum Taurat. Tetapi, aturan itu tidak usah dihafalkan.Sesungguhnya semuanya itu sudah Tuhan masukkan di dalam hati setiap orang-orang percaya. Maksudnya, kita sebenarnya sudah tahu akan firman Tuhan itu, tapi apakah kita mau menjalankan atau tidak. Itu sangat tergantung pada kemauan hati kita. Bagi setiap orang yang mau merenungkan dan memberlakukan Taurat Tuhan akan memperoleh manfaat langsung di dalam hidupnya. Melalui renungan ini ada 4 manfaat bagi kehidupan manusia.
1. menyegarkan jiwa (8)…….memberikan hikmat.
Taurat Tuhan itu bukan sekedar aturan yang menilai benar atau salah. Lebih dalam lagi, firman Tuhan itu mengingatkan manusia itu pada hakekatnya. Manusia itu adalah gambaran Allah, manusia itu memiliki jiwa yang Allah kehendaki. Kehendak Allah itu dituangkan dalam firmanNya yang setiap saat dapat kita nikmati. Firman Tuhan penuh dengan hikmat yang dapat memberi pengetahuan baru bagi yang berkenan merenungkannya. Firman Tuhan menyadarkan manusia akan segala perbuatan yang telah dan akan dilakukan. Mungkin manusia itu sudah jauh melangkah atau mengejar yang tak bermanfaat, yang hanya melelahkan dirinya sendiri. Manusia menjadi stress. Atau, manusia itu merasa jenuh menjalani hidup ini karena menurutnya tidak ada lagi yang baru. Tidak ada lagi pengharapan.
Firman Tuhan mengingatkan manusia yang jauh dari Tuhan, agar berkenan melepaskan berbagai beban hidupnya. Firman Tuhan juga memberikan hikmat, agar manusia tahu apa yang perlu dilakukannya. Dengan demikian, manusia itu memiliki pengharapan baru dan menjadi dinamis dalam hidupnya. Itu sebabnya disebutkan, firman Tuhan menyegarkan jiwa. Manusia itu di-refresh dari stressnya. Orang yang merenungkan firman Tuhan akan memperoleh kesegaran jiwa.
Ada kisah seorang Bapak, yang selama hidupnya bekerja keras. Selama bekerja ia mengabaikan banyak hal ; keluarga, sosial, bahkan kerohanian/gereja. Setelah mengakhiri masa kerjanya, ia berhasil mengumpulkan banyak harta ; dan puji Tuhan, anak-anaknya juga berhasil dalam berbagai hal. Tapi setelah beberapa lama pensiun, ia menjadi bingung, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia tidak diperhitungkan di dalam komunitas (keluarga, parsahutaon, parmargaon, bahkan di gereja ia menjadi kikuk). Semua ini terjadi karena sejak aktif ia tidak membiasakan diri berkumonitas. Si Bapak ini makin bingung ketika ia membicarakan hartanya pada anak-anaknya, tetapi tidak ada anak-anaknya yang tertarik. Sebab semuanya memang sudah mapan. Bapak ini memandang hidup ini telah gelap gulita. Hidup stagnan, tiada perubahan dan pengharapan. Kesaksian Bapak ini, ia kemudian sering membaca firman Tuhan. Ia merasa memperoleh hikmat, sehingga ia kembali memiliki semangat hidup. Salah satu Nas menjadi pegangan, yang membuatnya bersemangat dan diberlakukannya di dalam hidupnya adalah (Kisah 20:35) : “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." Ia kemudian beraktifitas dalam kegiatan sosial, dengan membantu banyak orang-orang yang lemah. Dengan pelayanannya itu, ia mengalami pembaharuan. Ia memperoleh kesegaran jiwa.
2. menyukakan hati (9)…….membuat mata bercahaya.
Tuhan memberikan hati bagi manusia, supaya manusia bertindak (bekerja, melayani, berbuat sesuatu) didorong oleh hati itu. Semua firman Tuhan itu sudah melekat dalam hati manusia itu. Itu sebabnya, firman Tuhan itu menyukakan hati manusia. Misalnya. Firman Tuhan berkata : ‘Kasihilah sesamamu manusia’. Manusia tentu meng-ya-kan dan meng-amin-kan itu, sebab firman itu sesuai dengan hati manusia. Tetapi karena terlalu mengandalkan pikiran, maka kita sering gagal mengasihi, padahal itu yang Tuhan kehendaki dari manusia. Mestinya manusia memberlakukan firman Tuhan sebab itulah yang membuat kita bersukacita. Hati yang bersukacita akan terpancar melalui wajah/mata kita.
3. takut akan Tuhan (10-11).
Orang yang takut akan Tuhan adalah orang yang malu melakukan dosa, yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Ia bebas dari kungkungan dosa, merdeka, melampaui hidup duniawi, hidup yang penuh sukacita. Ia berkenan bagi Tuhan. Hidup yang demikian disebutkan (11) ‘lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah.’
4. Bebas dari yang tak disadari (13).
Tuhan sesungguhnya memberikan manusia kesadaran. Tindakan yang dilakukan dengan penuh kesadaran akan memberi manfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain. Tetapi perbuatan yang tidak disadari dapat menimbulkan kekacauan. Kacau karena terjadi kesalahan, kesesatan, tidak sopan, dapat menyakiti orang lain.
Kesalahan yang tidak disadari sebenarnya bisa dimaafkan orang lain. Tetapi kesalahan yang berulang-ulang apalagi menyakiti orang lain tentu sangat berbahaya. Suatu saat, orang yang tersakiti itu akan menegur orang yang melakukan kesalahan itu. Namun, karena ia tidak sadar akan kesalahannya, maka ia tidak akan pernah mengakuinya. maka terjadilah ‘perang argumen’. Firman ini mengungkapkan, orang yang diterangi firman Tuhan akan bebas dari kesesatan yang tidak disadari.
Dengan demikian, orang-orang yang taat pada peraturan, Taurat Tuhan akan hidup dengan dinamis, memperoleh kehendak hatinya, tidak berbuat dosa, dan bebas dari kesesatan. Ia hidup dalam anugerah Tuhan. Ia menikmati manisnya kehidupan ini. Hidup ini menjadi indah.
Pemazmur mulanya memandang kehidupan dunia ini penuh pergumulan ; kegelisahan, tak terpuaskan, bagaikan tanah yang tandus dan kering, tanpa pengharapan. Pemazmur sadar, bahwa hidup yang demikian akibat manusia tidak taat pada firman Tuhan. Pemazmur bersaksi, bahwa hanya ketaatan pada firman Tuhanlah maka manusia ciptaanNya dapat mengalami kesegaran jiwa dan hati yang penuh sukacita.
Kesaksian pemazmur ini mengajak kita juga untuk hidup dalam firman Tuhan. Kita mau membaca, merenungkan dan memberlakukan firman Tuhan di dalam seluruh kehidupan kita, sebab firman Tuhan itu bagaiman emas yang indah dan lebih manis dari madu. AMIN
Dikutip dari beberapa sumber
Rabu, 29 Agustus 2012
Khotbah Kebaktian Rumah Tangga "PAKAILAH SENJATA ALLAH" Efesus 6:10-20
Tidak dapat dipungkuri bahwa roh jahat itu sebuah realitas yang ada disekitar kita, roh itu jugalah yang berusaha menjauhkan kita dari persekutuan dengan Allah. Ketika dia berhasil menjauhkan kita dari Allah, maka saat itu juga dia akan dengan leluasa menghancurkan hidup kita, termasuk didalamnya semua berkat-berkat Allah yang sudah kita miliki maupun yang akan kita miliki. Dalam Alkitab, realitas kuasa atau roh jahat juga diakui. Hal ini kita jumpai dalam Efesus 6: 10-20. Bagian Alkitab ini, relevan dengan kehidupan kita disegala zaman, termasuk kita yang hidup diakhir zaman ini.
Perhatikan ayat 10 yang berbunyi "Akhirnya, hendaklah kamu kuat didalam Tuhan, didalam kekuatan kuasa-Nya. Perhatikan baik-baik ayat ini karena didalamnya ada sebuah kebenaran yang perlu kita renungan bersama bahwa : Tuhan menghendaki agar kita menjadi pribadi yang kuat didalam Dia. Mengapa demikian? Ada beberapa alasan : Pertama, karena hanya orang yang kuatlah yang mampu mengangkat beban yang berat. Kedua, hanya orang kuat yang dapat memenangkan peperangan. Ketiga, orang kuat adalah pribadi yang tahu strategi bagaimana menerobos dan meraih berkat Tuhan.
Pentingkah perlengkapan senjata rohani? Apa perbedaan antara kita menggunakannya dan tidak? Apakah itu cukup kuat menolong kita berjuang melawan dosa? Apakah harus menggunakan semuanya? Apa tidak cukup kalau kita menggunakan sebagian dan tidak menggunakan yang lain? Apa untungnya kita menggunakan perlengkapan ini? Efesus 6:10-20. Perhatikan 2 ayat ini :
• Ayat 11 “Kenakanlah seluruh senjata Allah supaya kamu dapat bertahan melawan tipu daya Iblis”.
• Ayat 13 “Sebab itu ambilah seluruh perlengkapan senjata Allah supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada…..”
Ayat 11 menggambarkan tindakan pasif (bertahan) dan ayat 13 menggambarkan tindakan yang aktif (Mengadakan perlawanan). Yang menarik dari kedua ayat itu, baik bertahan maupun mengadakan perlawanan, ternyata Paulus tetap memberi pesan untuk mengenakanseluruh perlengkapan senjata Allah. Apa artinya? Artinya dalam perjuangan kita melawan kuasa Iblis, aspek bertahan dan menyerang merupakan satu kesatuan. Kita tidak akan bisa menang hanya dengan bertahan. Tapi kita tidak mungkin menang juga hanya dengan menyerang tanpa berpikir untuk bertahan. Dalam peperangan-peperangan, maupun dalam pertandingan olahraga seperti sepakbola, aspek menyerang dan bertahan harus dijalankan bersama jika kita ingin menang.
Untuk menggunakan seluruh senjata itu dengan benar tentu saja tidak mudah. Seorang prajurit tentu harus dilatih untuk terbiasa menggunakan pedang dan perisai. Senjata-senjata itu tidak bisa hanya kita pegang tanpa melatihnya. Tapi ketika kita berhasil menguasainya, bukan berarti kita hebat. Kita lihat pada ayat 10 “Hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalamkekuatan kausa-Nya”. Artinya tentu saja kemampuan kita adalah di dalam TUHAN. Bukan dalam kekuatan kita sendiri. Melalui ayat-ayat ini Paulus ingin menjelaskan pada ayat-ayat selanjutnya begaimana Perlengkapan senjata ini membawa kita pada pengandalan akan TUHAN.
Berikatpinggangkan kebenaran (ayat 14).
Apa maksudnya? Kenapa kebenaran dipakai sebagai ikat pinggang? Apa manfaat ikat pinggang?
• Menjaga agar pakaian tetap pada posisinya. Bayangkan kalau celana longgar dan tiba2 jatuh? Bukankah itu mempermalukan? Bukan hanya mempermalukan, tapi itu akan sangat mengganggu kita dalam pertempuran. Dari sini bisa diambil kesimpulan, kebenaran membuat sesuatu tetap pada posisi yang seharusnya. Justru ketika kita tidak mengenakan kebenaran, akibatnya bisa saja mempermalukan diri kita sendiri. Ikat pinggang yang tidak terpasang dengan benar, bisa mengacaukan “Baju Zirah”. Dan tentu saja akan menghambat kita dalam peperangan rohani.
• Berpengaruh pada kerapian/penampilan. Ketika kita mempertahankan kebenaran, itu akan terlihat di mata orang. Pasti orang akan melihat perbedaannya. Dan itu mempengaruhi cara orang memandang diri kita dan memandang Kristus.
• Memberi rasa nyaman pada pemakai. Seharusnya ketika kita melakukan kebenaran, justru kita merasa nyaman. Karena kita melakukan kehendak yang seharusnya. Dunia saat ini seolah-olah telah terbalik. Ketika kita melakukan yang benar, justru kita dianggap aneh. Bukankah kita sering mendengar istilah “semua orang juga melakukannya”?. Saat ini banyak sekali daerah abu-abu. Akhirnya ketidakbenaran menjadi sesuatu yang lumrah. Misalkan seks bebas menjadi sesuatu yang lumrah. Akibatnya, orang-orang yang berusaha menjaga kekudusan seksualnya seringkali justru merasa “tidak nyaman”, karena kata-kata “semua orang juga melakukannya”. Aneh bukan?
Berbajuzirahkan keadilan (ayat 14)
Apa manfaat Baju Zirah?
Yang terutama adalah melindungi diri kita dari senjata lawan. Apa kaitannya dengan keadilan? Apa makna adil? Adil tidak selalu berarti sama untuk semua orang, tapi lebih tepat masing-masing orang memperoleh sesuai dengan kapasitas dan kebutuhannya. Apa bahayanya jika kita tidak melakukan keadilan? Apa dengan tidak melakukan keadilan kita jadi lebih mudah diserang oleh iblis? Mungkin secara tidak langsung. Kita sebagai orang Kristen ngomong mengenai keadilan tapi tidak berlaku demikian, bukankah tidak menjadi kesaksian? Tapi itu dampak tidak langsung. Mungkin juga dalam arti lain. Ketika kita tidak berlaku adil, memancing permusuhan diantara orang-orang yang seharusnya kita perlakukan adil. Akhirnya iblis bisa merusak banyak hal. Contohnya perlakuan yang berbeda Abraham terhadap Ismail dan Ishak, perlakuan berbeda Ishak terhadap Esau dan Yakub, perlakuan berbeda Yakub terhadap Yusuf dan saudara-saudaranya, ternyata berpengaruh, bahkan sampai zaman sekarang. Dimulai dari ketidakadilan, mengakibatkan permusuhan, bahkan peperangan turun temurun. Jadi hati-hati terhadap tindakan kita. Karena kita tidak tahu betapa besar dampak yang bisa dihasilkan dari ketidakadilan.
Ketidakadilan sangat berpotensi merusak persekutuan Kristen. Itu bisa menjadi titik lemah bagi serangan iblis untuk mengacaukan semuanya.
Kaki yang berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil Damai Sejahtera (ayat 15)
mungkin ini yang paling jelas. Kenapa bagian memberitakan injil diumpamakan sebagai kasut? Dengan kata lain alas kaki? Bayangkan kalau dalam tiap langkah hidup kita selalu ada jejak-jejak pemberitaan injil itu? Kaki untuk berjalan. Memberitakan injil membutuhkan keberanian untuk berjalan. pergi. Tapi kenapa bukan diibaratkan dengan mulut tapi dengan kaki? Padahal memberitakan injil bisa lewat mulut? Tidak juga. Artinya jauh lebih dalam ketika diletakan pada kaki. Kemanapun orang Kristen melangkah, seharusnya ada jejak-jejak pemberitaan injil. Kalau mulut, ada pilihan untuk digunakan atau tidak. Sedangkan kaki? Pilihannya 1. meninggalkan jejak. Meninggalkan jejak tidak selalu berarti kita harus berkata-kata tentang Kristus kepada siapapun yang kita temui. Tapi apakah lewat kehadiran kita orang lain bisa melihat “jejak Kristus” itu? Apakah ada perbedaan yang akhirnya membuat orang-orang bertanya-tanya, apa yang menyebabkan kita “berbeda”? Dan tentu saja akan jadi kesaksian kalau mereka tahu bahwa kita adalah Kristen. Pengikut Kristus.
Perisai Iman (ayat 16)
“dalam segala keadaaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api si jahat.”
Perisai, sesuai dengan fungsinya untuk melindungi dari serangan musuh. Iman di sini ditempatkan sebagai perisai yang mampu melindungi dari serangan iblis. Bagaimana caranya iman bisa melindungi?Misalnya ketika kita jatuh dalam dosa, seringkali kita merasa tidak layak untuk datang kepada TUHAN. Pada kondisi seperti itu iblis bisa saja mengintimidasi kita untuk tidak datang, dan akhirnya makin jauh dari TUHAN. Tapi ternyata lebih baik kalau kita tetap datang dan mengakui di hadapan TUHAN, serta memiliki iman bahwa Dia akan mengampuni kita, disertai komitmen untuk kembali berjalan pada kehendak-Nya. Tapi apa hanya itu? Itu kondisi ketika kita sudah jatuh. Coba lihat teladan Kristus. Kenapa Yesus mampu mengalahkan serangan Iblis? Apa sekedar karena pengetahuan akan firman TUHAN? Tidak. Pengetahuan akan firman TUHAN memang membantu. Tapi itu bukan satu-satunya kunci kemenangan Kristus. Kunci kemenangan Kristus ada pada iman-Nya, sehingga menjadi kuat untuk bertahan atas serangan iblis. Yesus bertahan dalam iman
Ketopong Keselamatan dan Pedang Roh (Ayat 17-18)
“Dan terimalah ketopong keselamatan dan Pedang Roh, yaitu Firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus”
apa fungsi ketopong? Melindungi bagian yang mengontrol segala sesuatu dari tubuh. Kepala. Apa artinya? Ketika kamu belum mengenakan ketopong itu, jangan berharap kamu bisa mengontrol dengan baik perilaku tubuhmu dan keingingan-keinginanmu, karena dosa masih menguasai kita. Artinya dengan menerima keselamatan dalam Kristus, merupakan modal awal yang berharga untuk menang terhadap kuasa iblis. Mana mungkin orang yang belum selamat bisa menang terhadap iblis?
Bagaimana dengan pedang Roh? Di sini yang menjadi pedang Roh adalah firman Allah, doa dan permohonan.
Firman Tuhan menjadi kekuatan yang sangat berharga untuk bertahan dan menyerang seperti pedang. Ingat, Tuhan Yesus dalam pencobaan di padang gurun selalu menjawab tipu daya iblis dengan firman Tuhan.
Bukan hanya firman saja. Tapi juga doa dan permohonan. Di sini dikatakan doa dan permohonan yang tidak putus-putus. Jadi senjata untuk menyerang balik iblis adalah firman TUHAN dan doa. “Berdoalah setiap waktu didalam Roh”. Setiap waktu? Apa artinya selalu? ya. Tentu saja. Iblis selalu menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Kalau kita tidak selalu siap, pasti mudah untuk diserang.
“berjaga-jagalah di dalam doamu dengan permohonan yang tak putus-putus untuk segala orang kudus.”. ini pentingnya mendoakan orang-orang dalam komunitas rohani. Karena semuanya sedang berperang dengan perangnya masing-masing.
Alkitab sudah menyediakan senjata yang komplit untuk menghadapi peperangan rohani. Walaupun itu sudah kita kenakan, tapi seperti tadi dikatakan di awal, tidak akan efektif tanpa latihan. Mari kita melatih diri kita dengan penuh kedisiplinan untuk menggunakan perlengkapan senjata Allah.
Amen. RHL. Tobing
Jumat, 24 Agustus 2012
Khotbah Minggu 26 Agustus 2012 Mazmur 34 : 15 – 22 “Jadilah orang jujur dan benar, Tuhan pasti melindungi”
Pendahuluan
Dalam setiap kesempatan, kita sering berkata, “Tuhanlah perlindunganku”. Kalimat ini di satu sisi mau menunjukkan keyakinan dari dalam diri seseorang bahwa Tuhanlah sumber perlindungannya. Dari sisi yang berbeda, kita juga dapat melihat kalimat ini sebagai permohonan, agar Tuhan senantiasa melindungi kita dalam berbagai persoalan dan pergumulan yang mungkin kita hadapi dalam kehidupan ini.
Demikian hal dengan dengan penulis Mazmur 34 ini. Dia ingin menggambarkan bagaimana Tuhan melindungi dirinya dari berbagai bahaya dan ancaman dalam hidupnya. Imannya ingin bersaksi, Tuhanlah sumber perlindungannya! Dalam berbagai tantangan dan ancaman, pemazmur juga berseru, agar Tuhan melindunginya senantiasa. Dan ketika Allah menunjukkan kuasa perlindunganNya bagi orang percaya yang berseru kepadaNya, apa yang mau menjadi respon kita? Pemazmur berseru, “jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya!” (ayat 15). Hidup dalam kebenaran dan kedamaian yang berasal dari Tuhan! Itulah yang harus menjadi jawaban setiap orang percaya atas anugerah perlindungan dari Allah. Mengapa itu harus dilakukan? Sebab sesungguhnya Allah tidak akan pernah meninggalkan kita, entah dalam situasi yang bagaimanapun dalam hidup kita, Tuhan selalu hadir! Dalam susah, Tuhan menopang kita, dalam kesesakan Tuhan melegakan kita, dalam teriak minta tolong, Tuhan menjawab kita, dalam sukacita, Tuhan mengingatkan kita untuk bersyukur, dalam segala hal, Tuhan hadir!
Menjadi orang jujur, orang baik, orang benar adalah cita-cita dan keinginan, harapan semua orang. Tidak ada seorang pun di dunia ini ingin di sebut sebagai orang yang tidak baik, tidak jujur, tidak benar. Sebab itu manusia berusaha untuk selalu mendapatkan sebutan sebagai orang jujur, orang baik dan orang benar.
Namun ketika kita membaca Roma 3 : 10 – 18 tentu kita akan tersentak...(baca). Timbul pertanyaan masih adakah harapan bagi manusia yang adalah debu tanah ini untuk dapat melakukan kebaikan, kejujuran dan kebenaran yang pada gilirannya dapat disebut sebagai orang baik, orang jujur dan orang benar ?
Pepatah kuno yang menjadi salah satu falsafah orang Cina mengatakan : ”Sekali lancung di ujian, selama hidup tidak dipercaya lagi”. Sekali saja manusia berbuat salah, berlaku tidak jujur, bekerja tidak benar maka selama hidupnya tidak akan dipercaya lagi. Dari sisi yang lain kita akan menilai bahwa ini sungguh tidak adil namun itulah kenyataan yang sering kita saksikan dalam kehidupan bermasyarakat bahkan berjemaat. Apa bila seseorang pernah berbuat salah, berbuat kekeliruan, berbuat ketidak jujuran maka untuk selama-lamanya dianggap tidak ada lagi yang baik dari dirinya. Segala sesuatu yang diperbuatnya pasti dinilai tidak baik bahkan semua hal-hal baik yang pernah dilakukannya tidak akan diingat lagi selain kejahatannya saja. Ini sangat ironis ! Ini masih fenomena diantara manusia biasa, masih memiliki standar penilaian normal. Bagaimana lagi dimata orang-orang yang sok suci, sok baik, sok jujur, sok hebat yang menganggap diri lebih benar, lebih dan lebih. Pastilah penilaian ini akan lebih parah.
Pendalaman Nats Ef 6 : 10 – 20; Mzm 34 : 15 – 22 secara garis besar dapat kita catat antara lain:
1. Rasul Paulus dalam surat peringatannya kepada Jemaat di Efesus agar mereka memahami penggunaan segala perlengkapan hidup, perlengkapan bertingkah laku yang disebutnya dengan perlengkapan rohani. Orang-orang Efesus mengenal dengan baik apa yang disebut dengan perlengkapan perang dan strategi perang untuk mengalahkan musuh bahkan membunuh musuh sekalipun yaitu : senjata, politik tipuan. Dan sekarang karena sudah mengenal perlengkapan perang jasmani maka kenalilah perlengkapan rohani yaitu seluruh senjata Allah dan segala komponennya yang tidak boleh lalai untuk menggunakannya (Ikat pinggang, bajuzirah, kasut kaki, perisai untuk menangkis panah, ketopong, pedang Roh serta berjaga).
2. Apabila segenap perlengkapan perang pada poin diatas itu di gunakan, diaktifkan dengan baik dan benar pada tempatnya maka semua itu akan memberi arti dan manfaat yang besar. Semuanya akan menjadi pelindung bahkan pengantar pada kemenangan demi kemenangan.
3. Mazmur 34 sebagai bahan utama khotbah ini menampilkan salah satu senjata kemenangan Daud untuk mendapatkan keselamatan hidupnya menghadapai Abimelekh dimana kunci utama disana adalah berada dalam lindungan Tuhan. Sehebat apapun musuh yang di hadapi namun ketika ada dalam lindungan Tuhan itu pasti aman.
4. Tentu semua orang rindu untuk berada dalam lindungan Tuhan yang menjadikan hidupnya, keluarganya, usahanya aman. Maka kunci yang harus di pegang adalah : jauhilah yang jahat karena yang jahat itu sangat dekat dengan kehidupan manusia, Tuhan pasti akan menjadi lawan orang yang berbuat jahat (Mzm 34:17). Lakukanlah yang baik (band Gal 5:22), Tuhan mau mendengar doa dan seruan orang yang melakukan kebenaran yang sesungguhnya (Mzm34:18, 20) dan carilah dan usahakan, upayakan, ikut campurtangan demi perdamaian (Mzm 34 : 15) yang pada kenyataannya sungguh susah dilakukan. Coba kita perhatikan berapa banyak waktu dan biaya yang dihabiskan di meja perundingan untuk sebuah perdamaian? – Tuhan dekat, Tuhan peduli, Tuhan memiliki rasa solidaritas yang tinggi (bukan sekedar teori dan pemanis bibir) buat orang-orang yang patah hati, putus cinta, terpinggirkan.
Aplikasi
1. Hidup yang berkemenangan adalah ketika menggunakan senjata rohani dengan baik dan benar.
2. Hidup yang diberkati adalah saat kita mengusahakan kebenaran, kejujuran dan kebaikan di mata Tuhan.
3. Wariskan kebenaran kepada anak cucu kita (3 Yoh 1:4, Amsal 11 : 25; 19 : 22)
4. Dalam kehidupan dewasa ini, kita punya banyak musuh! Kita bermusuh dengan kekecewaan, kita bermusuh dengan kesedihan, kita bermusuh dengan kesusahan, kita bermusuh dengan keputusasaan dan masih banyak lagi. oleh sebab itu, siapa yang mampu mengalahkan semua musuh kita itu? Hanya dalam naungan kekuatan yang berasal dari Tuhanlah kita mampu mengalahkannya! Amen
Kamis, 16 Agustus 2012
"Mengampuni Itu Indah" Mateus 5: 22-25; 6:12
Seorang guru membawa sekeranjang kentang ke dalam kelas. Setiap anak diminta untuk mengambil kentang. Masing-masing satu kentang untuk setiap orang yang pernah membuat mereka sakit hati. “Bawalah kentang ini kemanapun kalian pergi; ke sekolah, ke gereja, mandi,tidur. Pokoknya jangan dilepas. Sampai minggu depan,” perintah sang guru.
Para murid melakukannya. Seminggu kemudia mereka kembali ke kelas. Sang guru bertanya, “bagaimana perasaan kalian dengan kentang itu?”. Para murid komplain. Ada yang bilang tidak enak. Bikin repot. Kentangnya jadi busuk dan berbau tidak sedap. Pokoknya semua murid sangat terganggu dengan kehadiran kentang itu. Gurunya berkata, “begitulah juga kalau kita terus memendam rasa sakit hati. Kita sendiri yang tidak enak. Seperti membawa kentang-kentang itu”.
Pernah dibuat kesal sama seseorang? Pernah merasakan sakit hati? Dikecewakan? Kebencian? Amarah yang sampai ke ubun-ubun? Pada saat seperti itu, kata maaf seolah lenyap dari kamus hidup kita. Tiada maaf bagimu. Seperti diungkap oleh grup musik Chicago: “It’s hard to say I’m sorry”. Tidak jarang yang terlintas malah keinginan untuk balas dendam. Bahkan kerap menggunakan istilah yang rohani: “biar Tuhan yang membalas semua perbuatan jahatnya”. Tuhan malah diajak “berkolusi” dalam dendam.
Kekecewaan, kesedihan, kebencian, amarah, dan sakit hati adalah rasa yang paling mengobrak-abrik jiwa. Ada sebuah ungkapan bernada canda dalam sebuah lagu: lebih baik sakit gigi, daripada sakit hati. Sakit fisik seolah lebih mudah dihadapi daripada sakit batin. Konon orang lebih gampang kurus kalau makan hati.
Dalam doa Bapa Kami, ada bagian “dan ampunilah kami atas segala kesalahan kami, seperti kamu juga telah mengampuni yang bersalah kepada kami”. Mungkin saking terbiasanya orang mengucapkan doa Bapa Kami, termasuk bagian ini. Sehingga kurang terhayati. Terucap tanpa tekad untuk melaksanakan.
Tapi ada juga yang rada “sadar diri”. Karena masih punya dendam dengan sesama, masih tidak bisa memaafkan saudara, kolega, atau sahabatnya, maka ketika diajak mengucapkan doa Bapa Kami, dan sampai pada bagian tersebut, ia memilih tidak menyebutkannya. Biar tidak merasa berdosa kepada Tuhan.
Padahal megampuni adalah panggilan kita orang percaya. Mengapa? Karena Tuhan sudah lebih dulu mengampuni. Dengan kata lain, kalau saat ini kita tidak dapat mengampuni orang lain, maka pastikan dulu diri kita adalah orang yang sama sekali tidak pernah berbuat dosa.
"Menggapai Hari Esok Bersama DIA " Bilangan 13-14:38
Hari Minggu pertama di tahun baru, kita rayakan dengan Perjamuan Kudus. Ini tentu bukan sekadar tradisi tanpa makna. Ini sungguh-sungguh merupakan pengungkapan iman kita.
Perjamuan Kudus ada peringatan akan kasih dan pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib. Untuk kita. Demi kita. Itu artinya sedemikian besar Dia mengasihi dan peduli dengan kita.
Kita sudah melewati tahun yaang lama. Tahun yang baru di depan menunggu kita gapai. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti. Apakah langit kan cerah ataukah langit kan “runtuh”? Kita tidak tahu. Dan tidak ada seorang punyang tahu. Tapi toh dengan kenyataan betapa besar kasih Kristus di masa lalu, itu akan menjadi dorongan dan kekuatan untuk kita melangkah ke depan.
Dalam Bilangan 13-14:38 dikisahkan tentang 12 orang pengintai yang diutus Musa untuk mengintai negeri terjanji. Satu kenyataan yagn sama, dilihat dua pandangan yang berbeda. Yang 10 orang begitu apatis. Dan ingin kembali. Yang dua orang, Yosua dan Kaleb, betul melihat tantangan yang besar di depan mereka. Tapi kedua orang itu fokus pada kasih dan pemeliharaan Allah di masa lalu.
Itulah sebabnya mereka berkata, "Jika Tuhan berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu. Hanya janganlah memberontak kepada Tuhan dan jangan takut kepada bangsa negeri itu, sebab Tuhan menyertai kita."
Bagaimana dengan kita? Saat ini kita kita memulai tahun yang baru. Di depan kita sudah menunggu kehidupan baru. Bisa jadi di sana tantangan tidak menjadi lebih ringan, rintangan tidak menjadi lebih kecil, dan tanggung jawab tidak menjadi lebih sedikit. Tetapi seperti Yosua dan Kaleb, kita juga dapat tetap berpegang pada janji pemeliharaan dan penyertaan Tuhan. Tentu kita jangan membutakan diri terhadap kesulitan dan tantangan yang mungkin akan kita hadapi. Tetapi percayalah, kalau Tuhan sudah menyertai kita sampai saat ini, tentu Dia pun akan menyertai kita pada saat selanjutnya.
Bersama Yosua dan Kaleb, kita bisa berkata: "Jika Tuhan berkenan kepada kita, maka Ia pun akan membawa kita melewati tahun yang akan datang. Hanya, janganlah memberontak kepada Tuhan, dan jangan takut kepada segala rintangan yang akan kita hadapi. Sebab Tuhan menyertai kita."
Langganan:
Postingan (Atom)