Jumat, 24 Agustus 2012

Khotbah Minggu 26 Agustus 2012 Mazmur 34 : 15 – 22 “Jadilah orang jujur dan benar, Tuhan pasti melindungi”

Pendahuluan Dalam setiap kesempatan, kita sering berkata, “Tuhanlah perlindunganku”. Kalimat ini di satu sisi mau menunjukkan keyakinan dari dalam diri seseorang bahwa Tuhanlah sumber perlindungannya. Dari sisi yang berbeda, kita juga dapat melihat kalimat ini sebagai permohonan, agar Tuhan senantiasa melindungi kita dalam berbagai persoalan dan pergumulan yang mungkin kita hadapi dalam kehidupan ini. Demikian hal dengan dengan penulis Mazmur 34 ini. Dia ingin menggambarkan bagaimana Tuhan melindungi dirinya dari berbagai bahaya dan ancaman dalam hidupnya. Imannya ingin bersaksi, Tuhanlah sumber perlindungannya! Dalam berbagai tantangan dan ancaman, pemazmur juga berseru, agar Tuhan melindunginya senantiasa. Dan ketika Allah menunjukkan kuasa perlindunganNya bagi orang percaya yang berseru kepadaNya, apa yang mau menjadi respon kita? Pemazmur berseru, “jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya!” (ayat 15). Hidup dalam kebenaran dan kedamaian yang berasal dari Tuhan! Itulah yang harus menjadi jawaban setiap orang percaya atas anugerah perlindungan dari Allah. Mengapa itu harus dilakukan? Sebab sesungguhnya Allah tidak akan pernah meninggalkan kita, entah dalam situasi yang bagaimanapun dalam hidup kita, Tuhan selalu hadir! Dalam susah, Tuhan menopang kita, dalam kesesakan Tuhan melegakan kita, dalam teriak minta tolong, Tuhan menjawab kita, dalam sukacita, Tuhan mengingatkan kita untuk bersyukur, dalam segala hal, Tuhan hadir! Menjadi orang jujur, orang baik, orang benar adalah cita-cita dan keinginan, harapan semua orang. Tidak ada seorang pun di dunia ini ingin di sebut sebagai orang yang tidak baik, tidak jujur, tidak benar. Sebab itu manusia berusaha untuk selalu mendapatkan sebutan sebagai orang jujur, orang baik dan orang benar. Namun ketika kita membaca Roma 3 : 10 – 18 tentu kita akan tersentak...(baca). Timbul pertanyaan masih adakah harapan bagi manusia yang adalah debu tanah ini untuk dapat melakukan kebaikan, kejujuran dan kebenaran yang pada gilirannya dapat disebut sebagai orang baik, orang jujur dan orang benar ? Pepatah kuno yang menjadi salah satu falsafah orang Cina mengatakan : ”Sekali lancung di ujian, selama hidup tidak dipercaya lagi”. Sekali saja manusia berbuat salah, berlaku tidak jujur, bekerja tidak benar maka selama hidupnya tidak akan dipercaya lagi. Dari sisi yang lain kita akan menilai bahwa ini sungguh tidak adil namun itulah kenyataan yang sering kita saksikan dalam kehidupan bermasyarakat bahkan berjemaat. Apa bila seseorang pernah berbuat salah, berbuat kekeliruan, berbuat ketidak jujuran maka untuk selama-lamanya dianggap tidak ada lagi yang baik dari dirinya. Segala sesuatu yang diperbuatnya pasti dinilai tidak baik bahkan semua hal-hal baik yang pernah dilakukannya tidak akan diingat lagi selain kejahatannya saja. Ini sangat ironis ! Ini masih fenomena diantara manusia biasa, masih memiliki standar penilaian normal. Bagaimana lagi dimata orang-orang yang sok suci, sok baik, sok jujur, sok hebat yang menganggap diri lebih benar, lebih dan lebih. Pastilah penilaian ini akan lebih parah. Pendalaman Nats Ef 6 : 10 – 20; Mzm 34 : 15 – 22 secara garis besar dapat kita catat antara lain: 1. Rasul Paulus dalam surat peringatannya kepada Jemaat di Efesus agar mereka memahami penggunaan segala perlengkapan hidup, perlengkapan bertingkah laku yang disebutnya dengan perlengkapan rohani. Orang-orang Efesus mengenal dengan baik apa yang disebut dengan perlengkapan perang dan strategi perang untuk mengalahkan musuh bahkan membunuh musuh sekalipun yaitu : senjata, politik tipuan. Dan sekarang karena sudah mengenal perlengkapan perang jasmani maka kenalilah perlengkapan rohani yaitu seluruh senjata Allah dan segala komponennya yang tidak boleh lalai untuk menggunakannya (Ikat pinggang, bajuzirah, kasut kaki, perisai untuk menangkis panah, ketopong, pedang Roh serta berjaga). 2. Apabila segenap perlengkapan perang pada poin diatas itu di gunakan, diaktifkan dengan baik dan benar pada tempatnya maka semua itu akan memberi arti dan manfaat yang besar. Semuanya akan menjadi pelindung bahkan pengantar pada kemenangan demi kemenangan. 3. Mazmur 34 sebagai bahan utama khotbah ini menampilkan salah satu senjata kemenangan Daud untuk mendapatkan keselamatan hidupnya menghadapai Abimelekh dimana kunci utama disana adalah berada dalam lindungan Tuhan. Sehebat apapun musuh yang di hadapi namun ketika ada dalam lindungan Tuhan itu pasti aman. 4. Tentu semua orang rindu untuk berada dalam lindungan Tuhan yang menjadikan hidupnya, keluarganya, usahanya aman. Maka kunci yang harus di pegang adalah : jauhilah yang jahat karena yang jahat itu sangat dekat dengan kehidupan manusia, Tuhan pasti akan menjadi lawan orang yang berbuat jahat (Mzm 34:17). Lakukanlah yang baik (band Gal 5:22), Tuhan mau mendengar doa dan seruan orang yang melakukan kebenaran yang sesungguhnya (Mzm34:18, 20) dan carilah dan usahakan, upayakan, ikut campurtangan demi perdamaian (Mzm 34 : 15) yang pada kenyataannya sungguh susah dilakukan. Coba kita perhatikan berapa banyak waktu dan biaya yang dihabiskan di meja perundingan untuk sebuah perdamaian? – Tuhan dekat, Tuhan peduli, Tuhan memiliki rasa solidaritas yang tinggi (bukan sekedar teori dan pemanis bibir) buat orang-orang yang patah hati, putus cinta, terpinggirkan. Aplikasi 1. Hidup yang berkemenangan adalah ketika menggunakan senjata rohani dengan baik dan benar. 2. Hidup yang diberkati adalah saat kita mengusahakan kebenaran, kejujuran dan kebaikan di mata Tuhan. 3. Wariskan kebenaran kepada anak cucu kita (3 Yoh 1:4, Amsal 11 : 25; 19 : 22) 4. Dalam kehidupan dewasa ini, kita punya banyak musuh! Kita bermusuh dengan kekecewaan, kita bermusuh dengan kesedihan, kita bermusuh dengan kesusahan, kita bermusuh dengan keputusasaan dan masih banyak lagi. oleh sebab itu, siapa yang mampu mengalahkan semua musuh kita itu? Hanya dalam naungan kekuatan yang berasal dari Tuhanlah kita mampu mengalahkannya! Amen

Kamis, 16 Agustus 2012

http://www.youtube.com/watch?v=43SrQLFiE84&feature=player_embedded

"Mengampuni Itu Indah" Mateus 5: 22-25; 6:12

Seorang guru membawa sekeranjang kentang ke dalam kelas. Setiap anak diminta untuk mengambil kentang. Masing-masing satu kentang untuk setiap orang yang pernah membuat mereka sakit hati. “Bawalah kentang ini kemanapun kalian pergi; ke sekolah, ke gereja, mandi,tidur. Pokoknya jangan dilepas. Sampai minggu depan,” perintah sang guru. Para murid melakukannya. Seminggu kemudia mereka kembali ke kelas. Sang guru bertanya, “bagaimana perasaan kalian dengan kentang itu?”. Para murid komplain. Ada yang bilang tidak enak. Bikin repot. Kentangnya jadi busuk dan berbau tidak sedap. Pokoknya semua murid sangat terganggu dengan kehadiran kentang itu. Gurunya berkata, “begitulah juga kalau kita terus memendam rasa sakit hati. Kita sendiri yang tidak enak. Seperti membawa kentang-kentang itu”. Pernah dibuat kesal sama seseorang? Pernah merasakan sakit hati? Dikecewakan? Kebencian? Amarah yang sampai ke ubun-ubun? Pada saat seperti itu, kata maaf seolah lenyap dari kamus hidup kita. Tiada maaf bagimu. Seperti diungkap oleh grup musik Chicago: “It’s hard to say I’m sorry”. Tidak jarang yang terlintas malah keinginan untuk balas dendam. Bahkan kerap menggunakan istilah yang rohani: “biar Tuhan yang membalas semua perbuatan jahatnya”. Tuhan malah diajak “berkolusi” dalam dendam. Kekecewaan, kesedihan, kebencian, amarah, dan sakit hati adalah rasa yang paling mengobrak-abrik jiwa. Ada sebuah ungkapan bernada canda dalam sebuah lagu: lebih baik sakit gigi, daripada sakit hati. Sakit fisik seolah lebih mudah dihadapi daripada sakit batin. Konon orang lebih gampang kurus kalau makan hati. Dalam doa Bapa Kami, ada bagian “dan ampunilah kami atas segala kesalahan kami, seperti kamu juga telah mengampuni yang bersalah kepada kami”. Mungkin saking terbiasanya orang mengucapkan doa Bapa Kami, termasuk bagian ini. Sehingga kurang terhayati. Terucap tanpa tekad untuk melaksanakan. Tapi ada juga yang rada “sadar diri”. Karena masih punya dendam dengan sesama, masih tidak bisa memaafkan saudara, kolega, atau sahabatnya, maka ketika diajak mengucapkan doa Bapa Kami, dan sampai pada bagian tersebut, ia memilih tidak menyebutkannya. Biar tidak merasa berdosa kepada Tuhan. Padahal megampuni adalah panggilan kita orang percaya. Mengapa? Karena Tuhan sudah lebih dulu mengampuni. Dengan kata lain, kalau saat ini kita tidak dapat mengampuni orang lain, maka pastikan dulu diri kita adalah orang yang sama sekali tidak pernah berbuat dosa.

"Menggapai Hari Esok Bersama DIA " Bilangan 13-14:38

Hari Minggu pertama di tahun baru, kita rayakan dengan Perjamuan Kudus. Ini tentu bukan sekadar tradisi tanpa makna. Ini sungguh-sungguh merupakan pengungkapan iman kita. Perjamuan Kudus ada peringatan akan kasih dan pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib. Untuk kita. Demi kita. Itu artinya sedemikian besar Dia mengasihi dan peduli dengan kita. Kita sudah melewati tahun yaang lama. Tahun yang baru di depan menunggu kita gapai. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti. Apakah langit kan cerah ataukah langit kan “runtuh”? Kita tidak tahu. Dan tidak ada seorang punyang tahu. Tapi toh dengan kenyataan betapa besar kasih Kristus di masa lalu, itu akan menjadi dorongan dan kekuatan untuk kita melangkah ke depan. Dalam Bilangan 13-14:38 dikisahkan tentang 12 orang pengintai yang diutus Musa untuk mengintai negeri terjanji. Satu kenyataan yagn sama, dilihat dua pandangan yang berbeda. Yang 10 orang begitu apatis. Dan ingin kembali. Yang dua orang, Yosua dan Kaleb, betul melihat tantangan yang besar di depan mereka. Tapi kedua orang itu fokus pada kasih dan pemeliharaan Allah di masa lalu. Itulah sebabnya mereka berkata, "Jika Tuhan berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu. Hanya janganlah memberontak kepada Tuhan dan jangan takut kepada bangsa negeri itu, sebab Tuhan menyertai kita." Bagaimana dengan kita? Saat ini kita kita memulai tahun yang baru. Di depan kita sudah menunggu kehidupan baru. Bisa jadi di sana tantangan tidak menjadi lebih ringan, rintangan tidak menjadi lebih kecil, dan tanggung jawab tidak menjadi lebih sedikit. Tetapi seperti Yosua dan Kaleb, kita juga dapat tetap berpegang pada janji pemeliharaan dan penyertaan Tuhan. Tentu kita jangan membutakan diri terhadap kesulitan dan tantangan yang mungkin akan kita hadapi. Tetapi percayalah, kalau Tuhan sudah menyertai kita sampai saat ini, tentu Dia pun akan menyertai kita pada saat selanjutnya. Bersama Yosua dan Kaleb, kita bisa berkata: "Jika Tuhan berkenan kepada kita, maka Ia pun akan membawa kita melewati tahun yang akan datang. Hanya, janganlah memberontak kepada Tuhan, dan jangan takut kepada segala rintangan yang akan kita hadapi. Sebab Tuhan menyertai kita."

"ROTI KEHIDUPAN" Yesus berkata: "Akulah Roti Hidup" (Yohanes 6 : 48)

Yesus tak mengatakan bahwa Dia 'Taart' atau 'Kue Keju' hidup, karena makanan ini enak tapi dinikmati oleh sebagian orang saja. Kristus menamakan diriNya "Roti" yang adalah makanan umum semua orang dan dapat disajikan kepada orang miskin dan kaya, raja dan buruh. Roti selalu dapat ditemukan, memuaskan dan menyehatkan. Dalam Yesus Kristus kita dapatkan semua yang diperlukan untuk membaharui dan menguatkan jiwa, roh kita. Dalam Keluaran 16 : 14 - 21 orang Israel diberi manna dari Surga, mereka tinggal memungut saja dan memakannya. Manna dimakan oleh orang tua dan muda, merupakan makanan yang sehat dan satu-satunya. Yesus dapat dihampiri oleh semua orang. BerkatNya ditawarkan dengan cuma-cuma bagi jiwa-jiwa yang lapar. Syukur bagi Allah! DirmanNya diberikan dengan gratis dan mudah dimengerti semua orang. Firman Allah merupakan makanan utama. "Roti" bagi kehidupan spiritual kita. "Barangsiapa makan dagingku dan minum darahku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman" (Yohanes 6 : 54). "Barangsiapa makan dgingku dan minum darahku, ia tinggal di dalam Aku dan AKu di dalam dia." (Yohanes 6 : 56) "Roti", yaitu Firman Allah, memberi kepuasan bagi setiap jiwa dan roh. Roti Kehidupan ini sudah disediakan bagi kita. Hanya Roti Hidup, yaitu Yesus Kristus, yang sanggup memuaskan jiwa kita.

Khotbah Minggu Yohanes 6:30-35 Tema: "Yesus adalah Roti kehidupan"

Pendahuluan Orang yang belum pernah lapar,pasti tidak bisa membayangkan derita yang ditanggung oleh mereka yang tidak mempunyai makanan apa-apa.Pikirkan saja sejenak mereka yang terbawa ombak laut ganas sesudah terbakarnya kapal,mereka pasti haus dan lapar luar biasa. Dengan alasan lapar kita sering mendengar orang melakukan hal-hal yang tidak baik dan melanggar hukum,Kita juga sering mendengar betapa banyak orang mati setiap tahun dibumi ini dengan satu alasan yaitu lapar. Yesus bukan orang kaya,selama berkarya didunia ini,Dia berjalan kaki sebagai pengajar dan pemberita kabar baik,Ia pasti kekurangan,dan pasti juga pernah merasa kelaparan. Oleh karena itu dalam nats ini diceritakan mengenai pengalaman Yesus ketika ia melayani orang-orang yang lapar,yang rasa laparnya yang telah membawa mereka pada sikap duniawi yang salah. Pendalaman Nast Yesus tahu begitu banyak diantara mereka yang mengikut Yesus dan mendengarkan pengajaranNya hanya bertujuan menyaksikan tanda-tanda mujizat dan sekedar mendapatkan makanan selama mengikut Yesus.Hal ini dapat dilihat pada ayat 30….tanda apakah yang Engkau perbuat supaya kami dapat melihatnya dan percaya kepadaMu?..Padahal dalam ayat-ayat sebelumnya dapat di lihat bahwa Yesus telah banyak melakukan tanda mujizat,misalnya Yesus mengubah air menjadi anggur pada pesta di Kana (Yoh 2:1-12),Yesus juga menyembuhkan anak menteri raja (Yoh 4:43),Yesus menyembuhkan orang sakit ditepi kolam betesda (Yoh 5:1),Yesus memberi makan 5000 orang (Yoh 6:1),Yesus berjalan di atas air (Yoh 6:16).Yesus telah banyak melakukan mujizat tapi menurut orang banyak itu terjadi hanya sebagai kebetulan saja.Ini adalah gambaran orang-orang yang mengatakan mengikut Yesus tapi perjuangan dan keinginan mereka sendiri yang diutamakan, mereka mengikut Yesus dengan memuaskan kepentingan-kepentingan pribadi sekaligus mendapatkan keuntungan pribadi juga. Ayat 31 mengatakan mereka kembali meminta makanan “gratis”kepada Yesus dengan alasan bahwa dulu nenek moyang mereka selalu diberi makanan oleh Musa selama di padang gurun.Ayat 32 dan 33 Yesus menjelaskan bahwa yang memberi nenek moyang mereka roti manna bukanlah Musa tapi itu adalah pemberian dari Allah.Hal ini menegaskan bahwa semua pemberian yang kita terima dalam hidup bukan dari manusia tapi itu adalah pemberian dari Allah (bnd Yakobus 1:17)Ayat 34 dan 35 mereka mengira dengan pemberian roti oleh Yesus yang secara terus menerus mereka terima pasti akan menjamin hidup mereka bahwa selama mereka mengikut Yesus mereka pasti terhindar dari rasa lapar dan dengan begitu mereka tidak akan pernah kelaparan. Yang menarik bagi mereka adalah roti nya bukan kepada Yesus,kemudian Yesus mengatakan “Akulah roti hidup;barang siapa datang kepadaKu,ia tidak akan lapar lagi dan barangsiapa percaya kepadaKu ia tidak akan haus lagi”.Yesus meluruskan cara pandang mereka yang berusaha mengikut Yesus bahwa yang mereka butuhkan lebih dari makanan secara fisik yaitu makanan rohani.Dalam Mat.4:4 ketika Yesus dicobai oleh iblis dengan tegas Yesus mengatakan bahwa manusia tidak hidup dari roti saja..Manusia tidak dapat dipuaskan oleh makanan saja,seberapa banyak pun makanan yang kita makan kita pasti akan merasa lapar kembali.Yesus adalah roti kehidupan,orang yang percaya dan mengikut Yesus tidak akan mengalami rasa lapar dan haus,karena Dia adalah “roti”yang diperlukan oleh manusia yang mampu mengatasi rasa lapar dan haus melalui kekuatan dan pengharapan hidup,oleh karena itu hidup ini akan sempurna jika kita hidup dengan menerima Yesus serta hidup alam kehendak Sang Roti Kkehidupan. Pointer 1. Keyakinan kita akan ke maha kuasaan Allah di dalam hidup tidak tergantung kepada seberapa sering kita menyaksikan adanya mujizat serta berapa kali Dia mendengarkan doa permohonan kita tapi kita meyakini bahwa Yesus adalah juruselamat dengan cara adanya relasi pribadi yang intim denganNya.Relasi yang intim ditandai dengan apa yang menjadi tujuan kita percaya dan mengikut Yesus. 2. Percaya dan mengikut Yesus berarti kita akan menerima keselamatan.Kita perlu mengevaluasi diri dalam mengikut Yesus sebab tidak semua yang mengikut dan percaya akan mendapatkan keselamatan.Yang patut kita lakukan adalah seperti dalam Mazmur 119:16..Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapanMu,FirmanMu tidak akan ku lupakan.Kehendak Tuhan yang kita jalankan bukan kehendak kita. 3. Rasa lapar kita akan kehendah Tuhan dalam kehidupan harus diutamakan daripada rasa lapar kita terhadap kebutuhan-kebutuhan hidup.Sebab hakekat utama dari manusia adalah hal yang rohani bukan yang jasmani.

Selasa, 31 Juli 2012

Khotbah Minggu 05 Agustus 2012. "Yohanes 6:24-35 "

I. Pendahuluan 1. Penulis buku Yohanes ini adalah Yohanes anak kedua Zebedeus (Mrk 1:19-20). Ibunya bernama Salome, saudaranya adalah Yakobus. Mereka orang Galilea dari desa Betsaida. 2. Yohannes bertujuan untuk memperkenalkan Yesus dengan sejelas-jelasnya kepada para pembacanya. Berbeda dengan ketiga injil yang lain, Yohannes tidak memperkenalkan Yesus sebagai Yesus sejarah, tetapi di awal tulisannya ia langsung memperkenalkan Yesus sebagai Firman yang telah menjadi manusia, dan selanjutnya ia menyebut Yesus sebagai Anak Domba Allah, Mesias, Raja orang Israel, roti hidup, dan air hidup. 3. Tujuan utama injil ini adalah agar semua orang percaya bahwa Yesus Kristus adalah anak Allah, agar kita semua mendapat kehidupan yang kekal (Yoh 20:31). 4. Barang siapa yang menaruh kepercayaan kepadaNya akan memperoleh kehidupan yang kekal (Joh. 3: 16) Dan barang siapa yang berjaga-jaga serta siap akan kedatanganNya, dialah yang mendapat tempat di sisiNya (Joh 3:28). Orang yang mempercayainya, secara langsung maupun tidak, diperhadapkan kepada suatu pertanggung jawaban yang Historis dan Religius. Hal ini sangat perlu dan sangat esensial, sebab sampai saat ini juga masih banyak orang yang tidak mempercayaiNya, walaupun sebenarnya sudah menerima Kristus sebagai Juru SelamatNya. Kristus hadir dalam sejarah, dalam konteks kehidupan, kehadiranNya nyata sejak kelahiranNya, dan akan hadir kelak pada kedatanganNya yang kedua kali (parusia) II. Penjelasan Nats renungan kita adalah lanjutan dari peristiwa “Yesus memberi makan 5000 orang dan dilanjutkan dengan peristiwa “Yesus berjalan di atas air”, satu rangkaian peristiwa yang luar biasa atau sering dikatakan dengan mujizat . Menurut pandangan Yesus, orang banyak mencari-Nya bukan sungguh-sungguh mencari Yesus tetapi yang mereka cari adalah karena mereka telah makan roti. Yesus mengingatkan mereka supaya bekerja untuk makanan yang tidak dapat binasa, tetapi untuk makanan yang bertahan sampai pada kehidupan yang kekal, yaitu “Anak Manusia yang telah di meteraikan dan disahkan oleh Bapa Allah. Mendengar perkataan Yesus, lalu mereka bertanya “Apakah yang harus kami perbuat supaya dapat mengerjakan apa yang dikehendaki oleh Allah ? Lalu dijawab oleh Yesus “kamu harus ‘Percaya’ kepada Dia yang telah diutus Allah.Disini jelas Yesus mau mengatakan “percayalah kepada-Ku”itulah yang dikehendaki oleh Allah. Lalu mereka bertanya, tanda apa yang kamu buat supaya kami percaya kepada-Mu, mereka membandingakan Yesus dengan Musa, karena menurut mereka Musa itu jauh lebih besar dari Yesus, karena ketika nenek moyang mereka di padang gurun diberi makan roti sorga. Lalu Yesus menjawab, bukan Musa yang memberikan roti itu, melainkan Bapa-Ku yang memberikan “kamu” roti yang benar dari sorga. Orang banyak berbicara tentang zaman Musa tetapi Yesus berbicara masa ini, dengan mengatakan “memberikan kamu” (Yesus tidak bercerita tentang nenek moyang Isarel, karena Yesus tidak berbicara tentang “mereka (orang ketiga, nenek moyang Israel) tetapi berbicara kepada orang kedua (kamu)” ini adalah usaha Yesus untuk memusatkan perhatian mereka pada diri-Nya. Sehingga mereka spontan mengatakan “Tuhan, berikan kami roti itu senantiasa” sebutan “Tuhan” disini adalah ungkapan pengakuan mereka bahwa Yesus jauh melebihi Musa, karena Musa tidak pernah dipanggil dengan sebutan Tuhan. Yesus mengatakan “Akulah roti hidup” Pernyataan “Akulah Roti Hidup” adalah yang oertama dari tujuh pernyataan “Aku adalah” yang dicatat dalam Injil Yohanes, setiap pernyataan itu menampilkan suatu aspek penting dari pelayanan pribadi Yesus. Pernyataan ini memberitahukan kita bahwa Kristus adalah makanan yang memelihara kehidupan rohani. Sehingga setiap orang yang datang kepada-Nya tidak akan lapar lagi. Lapar dan haus adalah situasi “yang paling tidak menyenangkan”, situasi yang sangat menyiksa, dalam Yesus semuanya aman. III. Aplikasi 1. Apa motivasi kita menjadi seorang kristen (pengikut Kristus), Tuhan ingin mengetahuinya, apakah kita ingin hanya untuk makan minum saja ? Motivasi yang benar mengikuti kristus bukan karena untuk mendapatkan makanan, kesembuhan, atau untuk mendapatkan apa yang kita ingini, tetapi karena Dialah roti kehidupan yang dapat memberikan hidup yang kekal kepada kita. Cintailah Yesus lebih dari pemberian-Nya (berkat-Nya), banyak orang mau mengikut Yesus hanya berfokus ke hal-hal duniawi. 2. Jangan kita sibuk, capek dan lelah oleh karena roti dunia ini, sehingga kita tidak mendapatkan roti yang kekal itu. Dunia ini sedang gencar-gencarnya menawarkan roti/minuman dunia ini (dalam arti bisa dikonsumsi oleh mata, mulut dsb, dengan reklame dan ) Kita harus arif dan bijaksana untuk dapat memilah-milah mana roti dunia dan roti surga itu (Ep 5:10) 3. Orang yang selalu rutin makan makanan roti surgawi, ia akan hidup dengan semangat, gairah dan penuh sukacita, tidak hanya selama berada di dunia ini juga hingga kepada kehidupan yang kekal. 4. Ralph Washington berkata, “ kasih kita kepada Tuhan diuji dengan pertanyaan apakah kita mencari Dia atau mencari pemberianNya” 5. Ketika hidup kita memfokuskan diri kita kepada roti hidup itu (kekekalan) maka otomatis nilai-nilai kita berubah. Kita akan lebih menghargai lebih tinggi pada hubungan dan karakter daripada kepopuleran atau kekayaan atau prestasi atau bahkan kesenangan. Prioritas-prioritas yang kita miliki akan ditata ulang, sehingga mode, trend, nilai-nilai populer dunia ini tidak menjadi hal yang penting lagi bagi kita. Sebagaimana Paulus juga mengalaminya, ketika ia lebih memprioritaskan ‘roti surga’ itu, ia mengatakan, “ Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus”(Flp 3:7-8) 6. Kehidupan yang baik, sukses, penuh sukacita apabila kita mau menerima Yesus selaku roti kehidupan kita. Yesus mutlak sangat perlu bagi kita, seperti perlunya kita makan dan minum. Yesus adalah kebutuhan dasar hidup kita, supaya kita kenyang dan puas dalam hidup ini. Manusia tidak dapat dikenyangkan dan dipuaskan hanya dengan harta, uang, jabatan, hiburan, bakat dsb., kita masih tetap lapar dan haus (ada saja yang kurang, tidak pas/puas, putus asa, ketakutan, stress, sombong, kebencian dsb.) Yesus roti hidp, hanya dalam Dia saja kita ada kepenuhan hidup yang sesungguhnya, bukan kepenuhan hidup yang sementara, Yesus mengatakan dalam Yoh 11:25, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” Amen. Dikutip dari berbagai sumber