Jumat, 20 Juli 2012

Khotbah Minggu 22 Juli 2012 Efesus 2:11-22 Kita semua adalah Keluarga di hadapan Allah.

Saya mau mengajak kita untuk membayangkan sejenak, apa bila peristiwa yang terjadi dalam perikop kita hari ini, terjadi juga dalam kehidupan kita: ditengah-tengah keluarga, jemaat, masyarakat, atau antar suku bangsa lainnya …apa kita ngak merasa ngeri ?? Ketika ada orang-orang yang merasa dirinya itu paling benar, paling hebat, paling bisa, paling dekat, paling suci dan semua yang pake paling-paling lagi … dan kemudian menganggap orang-orang lain disekitarnya itu lebih rendah, lebih buruk, lebih dibawah … lebih-lebih yang gak enak lah … Terbayangkan apa jadinya. Prasangka rasial mengandung dan melahirkan jauh lebih banyak kekejian, kekejaman dan kebencian, dibandingkan kejahatan lainya. Alkitab mencatat peristiwa dimana orang-orang Yahudi Kristen dalam perikop kita dalam kehidupan berjemaat pernah merasa diri lebih dibanding orang Kristen bukan Yahudi. Gimana rasanya hidup berjemaat ditengah-tengah prasangka seperti itu … ke gereja datang, ketemu, beribadah, tapi dalam hatinya: "Ni orang gak se-Level dengan saya!! Berani macam-macam, tak sikat nanti!!" … Ada rasa tak nyaman. Contoh yang lain: Sejarah mencatat peristiwa MahatmaGandhi, tokoh besar umat Hindu di India, yang sangat mengidolakan ajaran cinta kasih Yesus suatu kali pernah datang ke gereja, tapi apa yang terjadi … di depan gereja dia disambut oleh MJ-nya “Pak kalau mau ke gereja, jangan ke sini …. Ke sana aja, disana gereja khusus orang kulit hitam, disini khusus kulit putih”. Gandhi yang awalnya bersemangat ikut Yesus jadi mikir lagi: “buat apa jadi Kristen, kalo orang Kristennya aja gak mencerminkan Kasih Kristus!" Pulang Dia! … Hari ini, tantangan Firman Tuhan kepada kita mari kita lihat hidup kita saat ini … Kehidupan macam apa yang sedang kita bangun ditengah-tengah kebersamaan dengan orang lain disekitar kita!! Apakah kita sedang membangun jalan untuk bisa memberitakan cinta kasih Tuhan kepada yang lain atau ... justru kita sedang membangun tembok pemisah: disini calon sorga, diluar sana calon neraka!! Dalam suratnya ini, nampak jelas Paulus menekankan pentingnya persatuan di dalam tubuh gereja karena bila gereja terpecah karena perbedaan yang ada, maka hal itu sama sekali tidak berguna. Gereja adalah persekutuan orang-orang percaya yang di dalamnya tidak ada lagi pembedaan meskipun adanya perbedaan merupakan realitas yang tidak dapat dipungkiri. Gereja adalah tubuh Kristus. Semua anggota gereja, baik orang Yahudi maupun non Yahudi dipersatukan oleh kasih Kristus dengan darahnya yang kudus. Gereja dipanggil menjadi alat Tuhan yang menyaksikan kasih Kristus di tengah dunia Gereja seharusnya menghargai perbedaan. Paulus melihat dan menggambarkan keragaman sebagai dasar untuk membentuk satu kesatuan. Keragaman dalam jemaat bukan untuk membuat anggota jemaat membandingkan diri satu dengan yang lain, bukan juga untuk menciptakan persaingan dan perpecahan, melainkan membentuk kesatuan yang dianalogikan sebagai satu tubuh Kristus. Tugas Gereja, yakni bersekutu, bersaksi dan melayani akan semakin bertumbuh dan berkembang jika seluruh umat Kristen tidak mempersoalkan perbedaan-perbedaan yang ada namun memaknai perbedaan itu sebagai satu kekuatan yang sangat berguna bagi orang lain. Dan pada akhirnya, gereja yang sejati adalah gereja yang meletakkan Kristus sebagai batu penjuru, penopang yang membuat ”bangunan” tersebut dapat kokoh berdiri. Jika Kristus mati di kayu salib juga untuk memperdamaikan bukan hanya antara manusia dengan Allah, tapi antara manusia dengan sesamanya, mengapakah kita mau memisah-misahkannya kembali? Jangan karena kita berbeda suku, bahasa, ras, budaya, bahkan hanya karena berbeda denominasi gereja, menganggap diri yang paling baik dan benar dihadapan Tuhan sementara yang lain itu jauh. Jangan ciptakan tembok pemisah lagi karena itu sudah dilenyapkan di kayu salib. Jika kita membangun kembali tembok pemisah di dalam gereja, itu sama saja menghina pengorbanan Kristus. Refleksi Pada tahun 1945 usai Perang Dunia II, kota Berlin dibagi empat ; dibawah kekuasaan Rusia, Amerika, Inggeris dan Perancis. Pada Agustus 1961 dibangun satu tembok tebal yang panjangnya ± 46 km memisahkan antara Berlin Barat yang dikuasai Amerika, Inggeris, Perancis dengan Berlin Timur yang dikuasai Rusia (Uni Soviet). Sehingga sejak tahun 1961 antara orang Berlin Barat dengan Berlin Timur tidak bisa saling bertemu. Tembok Berlin dikenal seluruh dunia dan tembok ini menjadi lambang pemisahan. Pemisahan antara anak dan orangtua, pemisahan keluarga dengan keluarga, pemisahan Saudara dengan saudara. Banyak orang berpikir apa mungkin tembok ini bisa runtuh. Tetapi pada bulan November 1989 kekuasaan komunis di Berlin Timur beramai-ramai merobohkan tembok itu sampai akhirnya rubuh total. Dan pada bulan Oktober 1990 Jerman Timur dan Jerman Barat menjadi satu negara. Ini sejarah yang luar biasa karena tembok yang menjadi lambang pemisahan itu roboh. Iblis juga membangun tembok tetapi bukan tembok yang kelihatan melainkan tembok yang tidak kelihatan. Tembok itu adalah perseteruan, pemisahan, permusuhan antara orang Yahudi dan orang non Yahudi, antara orang yang memegang hukum Taurat dengan orang yang disebut kafir. Sehingga tidak ada DAMAI SEJAHTERA antara keduanya tetapi justru permusuhan. Di dunia ini banyak permusuhan dan yang membangunnya adalah Iblis. Iblis membangun tembok-tembok permusuhan antara orang kulit putih dan kulit hitam, antara negara dan negara, antara bangsa dan bangsa, antara anak dan orang tua, antara gereja dengan gereja, antara organisasi dengan organisasi, dsb. Iblis tidak menghendaki adanya damai sejahtera. Iblis adalah anti damai sejahtera. Tetapi perlu kita ketahui bahwa tembok permusuhan bisa roboh oleh Damai Sejahtera Kristus (ayat 14). Dalam perikop di atas kata DAMAI SEJAHTERA diulang sebanyak 5 kali. Damai sejahtera tidak bisa kita peroleh dari manusia atau suatu lembaga yang didirikan manusia. Sebab satu-satunya Sumber damai sejahtera adalah Yesus Kristus. Iblis selalu memasang strategi untuk membangun tembok antara orang tua dan anak agar tidak cocok, antara suami dan istri agar tidak rukun. Tetapi di dalam Yesus tembok itu bisa dirobohkan. Yang jauh menjadi dekat, yang bermusuhan menjadi rukun. Tugas kita adalah meruntuhkan setiap tembok pemisah yang dibangun oleh iblis itu dengan pendamaian dan perdamaian di dalam kasih Kristus. Doa kita melalui Nats ini, kita tidak tertular dengan 2 virus ini: 1. Virus Menganggap diri lebih hebat. Aku yang paling hebat, keluargaku, suku-ku, agamaku … Bangsa kita terjangkit virus ini, dan kita sedang berusaha sama-sama menyembuhkan diri kita mulai terbuka mata ketika bencana di Wasior, di Mentawai, di Yogya, bahwa tembok pemisah itu harus diruntuhkan perbedaan suku, agama, tidak lagi jadi pemisah karena bencana datang tidak pandang bulu!! Ingat cerita tentang 10 orang Kusta: 9 orang Yahudi, 1 Orang Samaria. Kalo gak ada penderitaan mereka gak mungkin jalan bareng. Mungkin itu sebabnya Tuhan mengizinkan 1 penderitaan datang ditengah-tengah keluarga, jemaat atau bahkan bangsa .. Karena melalui penderitaan kita bisa belajar tentang arti kebersamaan, persatuan, dan menghilangkan virus SUPERIORITAS . 2, Virus Rendah diri. Itu sebabnya Paulus nulis surat ini kepada jemaat di Efesus: yang Yahudi Kristen kena Virus SUPERIORITAS, yang bukan Yahudi kena Virus Minderitas!! Merasa diri gak sebaik orang lain: minder. Makanya banyak orang suka lagu D’Masiv: "syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah, tetap jalani hidup kita, menjalani yang terbaik” Bersyukur Lakukan yang terbaik yang kita bisa!! Tuhan pasti tolong kita!! Ambil kesempatan yang diberikan Nya, Tuhan memang ada dan menolong kita yang mau menjawab panggilan Nya itu. Amen Dikutip dari berbagai sumber.

Sabtu, 07 Juli 2012

"Khotbah Minggu Tgl. 08 Juli 2012" Yeheskiel 2: 1-5

Yehezkiel adalah seorang nabi yang dipanggil oleh Tuhan dengan cara yang unik. Ia mengalami penampakan dari Sang Mahakuasa yang menakutkan dan menggentarkan. Kejadian ini membuat nabi yang masih muda itu bersujud. Cahaya, roda, sayap dan suara merupakan sebentuk perwujudan dari kuasa, kekuatan, keagungan, kemuliaan, kemahatahuan, dan kemahahadiran Allah yang Mahakuasa. Dalam panggilan dan penugasan Yehezkiel, Allah memberikan sejumlah petunjuk kepada Yehezkiel tentang apa yang tersedia untuk dia sebagai nabi bagi bangsa Israel. Dia dipenuhi dengan firman Tuhan yang terlihat pahit tetapi rasanya manis. Roh Kudus masuk ke dalam diri Yehezkiel, membawanya berdiri kembali. Kejadian ini merupakan pangggilannya untuk melayani sebagai nabi. Sikap yang dituntut dari Yehezkiel adalah siap dan sigap (ayat 1), yang menandakan ketaatan yang tidak hanya emosional namun ketaatan yang cerdas. Ini diperlukan sebab tugas yang akan diemban bukanlah tugas yang ringan dan mudah. Allah juga menegaskan bahwa Yehezkiel mesti melaksanakan tugas dengan setia (ayat 5), yang sekaligus menegaskan agar bangsa Israel mengetahui bahwa ada seorang nabi Allah di antara mereka dan bahwa mereka sudah diberi kesempatan untuk bertobat. Suatu saat Allah akan datang untuk menghakiminya. Tentu ini bukan tugas yang menyenangkan dan mudah bagi Yehezkiel karena yang dihadapinya adalah bangsa yang sedang hidup dalam pemberontakan kepada Allah bahkan disebutkan sebagai bangsa yang keras kepala dan tegar hati (Yehezkiel 2:3-4). Allah sendiri menyebutkan berkali-kali karakteristik bangsa yang akan dilayani Yehezkiel (ayat 3-8). Ya, dia Dia dipanggil untuk pergi kepada bangsanya sendiri, Israel yang ”Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya” (bdk. Mat. 13:57). Yang tidak kalah unik, Allah menyebut Yehezkiel dengan istilah "anak manusia" lebih daripada 90 kali. Sebutan ini menekankan kemanusiaan dan kelemahan sang nabi sehingga mengingatkannya bahwa dia tergantung pada kuasa Roh untuk melaksanakan pelayananya. Yesus juga memakai sebutan ini untuk mengacu kepada diri-Nya sendiri (Mat 8:20; 9:6; 11:19; Mr 2:28; 8:31,38; 9:9; Luk 5:24; Yoh 3:13). Yehezkiel dikuasai oleh Roh Allah untuk memberitakan berita Allah. Ketika itu dan saat ini, Allah menuntut bahwa umat-Nya diberi kuasa oleh Roh Kudus untuk memberitakan Injil dengan efektif kepada semua bangsa (lih. Kis 1:8; Kis 2:4). Respons Yehezkiel terhadap firman dan panggilan Allah sangat indah yaitu ia taat secara total ketika diperintahkan untuk memakan seluruh gulungan kitab (ayat 3:1-3). Apa yang dihasilkan oleh ketaatan Yehezkiel? Kekuatan Ilahi untuk mewartakan firman-Nya walaupun isinya bertentangan dengan pengharapan bangsa Israel (ayat 3:1) serta kedamaian di dalam hidupnya (ayat 3:3). Bagaimana Yehezkiel bisa mempertahankan pelayanan di antara orang-orang seperti ini? Hanya keyakinan bahwa Allah telah memanggilnya untuk tugas ini! Kunci kekuatan rohani Yehezkiel adalah mengetahui bahwa dia tidaklah sendirian, melainkan telah dipanggil dan diutus oleh Allah. ”Gulungan kitab” (Yeh. 2:9) jelas menopangnya secara rohani di masa-masa itu. Firman Tuhan yang kudus adalah makanan dan minuman rohani yang melindunginya sebagai hamba TUHAN. Saudara, situasi sulit yang dihadapi Yehezkiel tidak beda jauh dengan situasi yang dihadapi kekristenan masa kini. Kita pun seolah hidup di tengah bangsa pemberontak, keras kepala, dan tegar hati, walaupun Tuhan telah menegur dengan berbagai cara: deraan gempa bumi, malapetaka alam maupun buatan manusia, dan keterpurukan ekonomi yang semakin menjadi-jadi, dst. Sama seperti kepada Yehezkiel, kita diperintahkan untuk tidak takut kepada manusia, sebaliknya taat, tidak memberontak kepada penugasan Tuhan. Tugas Yehezkiel memang berat sekali. Ia harus memberitakan firman penghukuman pada bangsanya sendiri. Untuk masa kini, bagaimanakah anda memahami arti "panggilan Allah" dalam kehidupan pribadi anda, khususnya sebagai orang percaya dan peran penting yang dapat dan akan anda lakukan untuk keluarga, gereja, masyarakat, dan negara? Pada dasarnya setiap orang percaya dipanggil oleh Tuhan untuk menyatakan kebenaran, sebab setiap orang yang merespon panggilan Allah, menerima kebenaran supaya kebenaran tersebut diteruskan kepada orang lain, sehingga orang lain ikut diselamatkan juga. Hidup kekristenan kita adalah sebuah panggilan dari Allah. Kita dipilih dan dipanggil untuk menjadi perpanjangan lidah Allah. Ada sesuatu yang Tuhan mau atas hidup kita seturut dengan panggilan kita. Kita harus berbeda, tampil beda dengan dunia ini. Ini adalah tantangan sebuah panggilan! Kita harus berdiri tegak dalam sebuah kebenaran! Panggilan dan penugasan Allah tidak pernah salah bagi setiap orang percaya yang dipilih-Nya menjadi umat kepunyaan-nya. Ia yang memanggil dan memperlengkapi kita. Kita dipanggil untuk memberitakan kabar baik, kabar keselamatan kepada orang-orang yang belum diselamatkan. Perubahan-perubahan apakah yang telah anda alami ketika melakukan tugas dan panggilan yang telah anda mengerti dan lakukan dengan baik? Sudahkah kita melakukannya dengan sepenuh hati? Mari, lakukanlah tugas dan panggilan kita sebagai orang percaya dengan keberanian dan kebenaran. Jadilah sebagai “penjaga” bagi sesama. Mulailah dalam komunitas kecil, baik dalam keluarga, persekutuan gereja, dan dalam lingkungan masyarakat. Saling menjadi satu dengan yang lainnya dengan cara saling mendoakan, saling menghibur, saling menguatkan, saling menasihati, dan saling membangun. Secara manusia kita semua pasti mendambakan suatu kehidupan yang mulus dan bebas dari berbagai kesulitan. Realistiskah? Kehidupan tidaklah lepas dari kesulitan, bahkan sering kita dengar paradigma bahwa kehidupan identik dengan kesulitan, hidup adalah penderitaan. Apakah Tuhan memang menciptakan kita semua hanya untuk menderita? Untuk menjawab semua ini kita dapat berpedoman pada Yeremia 29:11, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” AMIN.

Kamis, 05 Juli 2012

SIKAP PELAYAN TUHAN (Matius 20:26-28)

“Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” (2Tim. 4:2) "Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa." Yohanes 10:27-29. PENDAHULUAN : • Di dalam gereja diperlukan orang-orang yang melayani dan memimpin jemaat dijalankan berdasarkan jiwa seorang pelayan yang memiliki sikap hati melayani orang lain, sama seperti Kristus. • Selain Yesus, seorang yang dapat menjadi contoh atau teladan dalam hal pelayanan dan kehambaannya adalah Rasul Paulus. Dahulu ia adalah seorang keras, punya otoritas dan memegang kuat hukum Taurat dan adat Yahudi, namun setelah bertemu dengan Tuhan Yesus, ia mengalami perubahan hidup yang radikal, kemudian kita mengenalnya sebagai rasul Paulus, hamba Kristus Yesus (Roma 1:1). Oleh anugerah Tuhan, Paulus melakukan pekerjaan baik (Efesus 2:10) dan melayani jemaat Kristus (2 Korintus 11:23-28) . I S I : Bagaimana karakteristik seorang pelayan Tuhan? Ada 3 karakteristik pelayan Tuhan : I. TRANSPARAN (I Korintus 2:1-3)  Saulus yang akhirnya menjadi Paulus sebelum ia bertobat adalah orang yang arogan. Akan tetapi setelah bertobat ia menjadi orang yang apa adanya. Paulus bukanlah seorang yang munafik dan ia tidak menutupi kelemahan-kelemahannya. Di hadapan jemaat Korintus ia mengakui bahwa ia lemah, takut dan gemetar ketika berdiri di hadapan mereka (2 Korintus 10:10).  Paulus adalah seorang hamba Kristus yang transparan. Secara figur ia jauh dari semua harapan, tentang seorang yang hebat di masyarakat modern. Ia bukanlah seorang yang sempurna dan ia menyatakan keadaan dirinya yang sebenarnya. (Galatia 6:11, Roma 7). Rasul Paulus melayani karena kasih karunia Tuhan. II. RENDAH HATI (I Korintus 2:4-5)  Apabila seorang pemimpin mencari nama besar, maka pemimpin itulah yang akan diagungkan dan dipuja. Dalam pelayanan, rasul Paulus tidak ingin dikenal, ia selalu memperkenalkan Yesus Kristus yang telah menyelamatkan manusia dari kuasa dosa dan maut. Pelayanannya tidak bergantung pada hikmat manusia, tetapi kepada kekuatan Allah. Pelayanan Paulus membawa banyak orang untuk melihat Kristus dan percaya kepada-Nya.  Pemimpin yang rendah hati akan mengagungkan dan mengutamakan Yesus sebagai Tuhan, dia akan berbicara tentang kuasa Tuhan, kasih Tuhan, firman Tuhan, pekerjaan Tuhan dll semua hanya untuk kemuliaan Tuhan. III. J U J U R (2 Korintus 4:1-2)  Dalam pelayanannya, Tuhan mengajarkan hal tentang kejujuran, sebuah integritas. Banyak orang hanya melihat reputasi, yaitu pandangan orang dari sisi luar tentang kehidupan seseorang, namun Tuhan melihat karakter dalam diri seseorang, yaitu integritas – kejujuran. Pepatah mengatakan: Kita yang sesungguhnya adalah kita pada saat kita sendirian.  Seorang yang memiliki kejujuran akan menjadi pelayan Tuhan yang sejati. Tidak ada motivasi yang lain untuk kepentingan diri sendiri, tidak ada kepura-puraan, tidak ada maksud tersembunyi, tidak ada kemunafikan, tidak ada permainan politik, tidak ada kata-kata yang dibuat-buat, tidak akan memanipulasi orang lain, tidak ada kepalsuan. Kejujuran hati akan memperlihatkan ”keaslian” dan kemurnian. KESIMPULAN : Sebagai seorang hamba Kristus, kita telah menerima kasih dan anugerah keselamatan dari Bapa, sehingga kita pun ingin banyak orang juga menerima kasih dan anugerah ini. Dalam pelayanan, Kristus Yesus harus menjadi yang utama, bukanlah diri kita; sehingga kita dapat melayani sebagai hamba Kristus yang melayani secara transparan (tanpa kemunafikan), dengan kerendahan hati yang tulus dan kejujuran (kemurnian).

MENERIMA PENGAMPUNAN (Hosea 1:1-3)

PENDAHULUAN : • Ketika firman Tuhan datang kepada Hosea untuk mengawini Gomer, seorang wanita sundal. Tentu Tuhan mempunyai alasan tersendiri melalui kisah ini. Dan bila kita membaca keseluruhan kitab Hosea, maka kita dapat menemukan makna (pesan) Tuhan bahwa Ia adalah Tuhan yang sangat mengasihi kita dan Ia sudah menebus kita dari keterikatan dosa. Hosea melambangkan Yesus, dan mempunyai arti yang sama, yaitu Tuhan adalah keselamatanku. Sedangkan Gomer itu melambangkan kita, yang berdosa, tidak setia, tidak mempunyai keintiman, suka memikirkan kesenangan dunia, lebih mementingkan mengejar uang dan kekayaan daripada Tuhan. • Apakah ada SPIRIT OF GOMER (roh Gomer) di dalam kehidupan kita? Gomer melahirkan 3 anak, yaitu Yizreel, Lo-Ruhama dan Lo-Ami. Ketiga anaknya itu melambangkan keadaan tentang kehidupan kita, jika tetap hidup seperti Gomer (Bacalah Hosea 1). I S I : Apakah arti dari simbol nama-nama anak-anak Gomer bagi kita? Ada tiga arti, yaitu : I. YIZREEL (Hosea 1:3-4)  Yizreel mempunyai arti Tempat Penghukuman, Place where Israel Military Power is going to be destroyed. Sebelum Yesus menebus hidup kita, keadaan kita seperti halnya tempat penghukuman. Hidup kita terhukum oleh karena dosa. Upah dan hukuman dosa telah dijatuhkan bagi kita yaitu maut. Kita binasa karena dosa yang terus mengikat hidup kita. Namun Yesus telah menanggung hukuman dosa kita, Ia telah menebus hidup kita, dan sekarang kita telah dibebaskan, diampuni dan tidak dihukum lagi (Hosea 3:2-3). Kita menjadi tempat berkat.  Ceritakan, bagaimana Saudara diampuni dan diberkati ? Ucapkan: “Saya menerima pengampunan dan saya diberkati” II. LO-RUHAMA (Hosea 1:6)  Lo-Ruhama mempunyai arti Tidak Dikasihi, Tidak Disayangi, No Pity. Dosa membuat kita tidak dikasihi. Tuhan tidak membenci kita tetapi Ia membenci dosa kita. Ia sangat mengasihi kita dan Ia telah menebus hidup kita. Tuhan membawa kita kembali ke dalam persekutuan dengan Bapa. Ia menginginkan kita memiliki keintiman dengan Dia setiap saat. Semakin kita banyak diampuni dan dikasihi maka semakin kita banyak memberikan kasih. Penebusan Yesus dikayu salib membuktikan betapa besar kasih-Nya kepada kita. Kita menjadi target dari kasih karunia Tuhan yang berlimpah-limpah. Kita sudah diampuni dan dikasihi Tuhan.  Ceritakan, bagaimana Saudara diampuni dan dikasihi ? Ucapkan : “Saya menerima pengampunan dan saya dikasihi” III. LO-AMI (Hosea 1:9)  Lo-Ami mempunyai arti bukan Umat-Ku. Karena dosa, maka Tuhan memalingkan wajah-Nya dari hidup kita. Kehidupan kita yang berdosa membuat diri kita tidak menjadi umat Tuhan sebab kita sendiri tidak menjadikan Ia sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Namun setelah hidup kita ditebus oleh Yesus, maka kita menjadikan Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat kita secara pribadi. Kita telah menjadi umat Tuhan dan Ia telah menjadi Tuhan kita. Kita memiliki hubungan, keintiman dengan Tuhan. Menjadi sebuah kebanggaan bagi kita jika kita diakui, diterima menjadi anak-anak Allah yang hidup di dalam Yesus. Kita sudah menjadi umat-Nya.  Ceritakan, bagaimana Saudara diampuni dan diterima menjadi umat-Nya? Ucapkan : “Saya menerima pengampunan dan saya adalah umat-Nya” KESIMPULAN : Seperti halnya Hosea telah menebus Gomer, demikianlah Yesus telah melakukan hal yang sama terhadap hidup kita. Ia menebus dan menyelamatkan kita. Sebelumnya kita seperti anak-anak Gomer, kita menjadi tempat penghukuman (Yizreel), tetapi karena Yesus sudah meebbus kita sekarang menjadi tempat berkat, sebelumnya kita menjadi anak yang tidak disayangi, tetapi sekarang kita disayangi, sebelumnya kita bukanlah umat Tuhan, tetapi sekarang menjadi umat-Nya. Gomer telah diampuni Hosea, kita pun telah menerima pengampunan dari Yesus.

“ARAHKAN PANDANGAN MU KE DEPAN” Bacaan: Filipi 3:13-17

Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka- Amsal 4:25 Mark Twain pernah mengatakan, “Kalau seekor kucing pernah duduk di atas tungku panas, kucing itu tidak akan duduk di atas tungku panas lagi. Kucing itu juga tidak akan duduk lagi di atas tungku dingin.” Kesimpulannya adalah kucing tersebut mengasosiasikan tungku dengan pengalaman yang buruk dan panas. Pengalaman yang buruk tersebut dibawanya terus, hingga ia menganggap setiap tungku (tidak peduli bahwa tungku itu dingin) adalah panas dan berbahaya. Maaf… Sedikit banyak kita juga seperti kucing tersebut. Sikap kita pada hari ini terbentuk dari pengalaman-pengalaman yang terjadi di waktu lalu. Jika dalam sebuah situasi yang terjadi di masa lalu kita mengalami kegagalan, maka pada situasi yang sama di waktu yang berbeda pun, kita sering percaya bahwa kita akan gagal lagi. Sederet pengalaman buruk di masa lalu mungkin pernah kita alami. Kegagalan-kegagalan yang terjadi di sepanjang perjalanan hidup kita. Kesalahan-kesalahan fatal yang sebenarnya bisa dihindarkan. Pengambilan keputusan yang salah, yang menyisakan sederet akibat sampai hari ini. Juga masa kecil yang buruk, tindakan-tindakan kekerasan yang kita terima, baik secara fisik maupun psikis, ucapan atau tindakan yang merendahkan, miskinnya kasih sayang dari orang tua dan masih banyak hal yang menimbulkan kepahitan dalam hati. Jadikan pengalaman masa lalu sebagai pelajaran berharga bagi kita. Namun jangan pernah biarkan diri kita hidup di masa lalu. Jangan sampai pengalaman buruk di masa lalu menghantui dan membayangi kehidupan kita di masa kini. Jika tidak, hidup kita hanya akan dikuasai oleh ketakutan dan kekuatiran. Kita takut untuk mencoba hal-hal yang baru (yang mirip dengan kejadian buruk yang pernah kita alami). Kita takut untuk melihat masa depan, karena hidup kita masih dikuasai buruknya masa lalu. Kita takut untuk bersikap optimis. Kita takut menatap hidup dengan keberanian. Tapi, orang yang hidup dengan ketakutan tidak akan pernah sukses. Jadi, tinggalkan pengalaman buruk di masa lalu kita. Saya lebih menyukai mimpi masa depan daripada sejarah masa lalu “JANGAN ANGGAP ENTENG KEPADA YANG KECIL” Kisah Baut Kecil Bacaan: Filipi 2:1-11 Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; - Filipi 2:3 Sebuah baut kecil bersama ribuan baut seukurannya dipasang untuk menahan lempengan-lempengan baja di lambung sebuah kapal besar. Saat melintasi samudera Hindia yang ganas, baut kecil itu terancam lepas. Hal itu membuat ribuan baut lain terancam lepas pula. Baut-baut kecil lain berteriak menguatkan, "Awas! Berpeganglah erat-erat! Jika kamu lepas kami juga akan lepas!" Teriakan itu didengar oleh lempengan-lempengan baja yang membuat mereka menyerukan hal yang sama. Bahkan seluruh bagian kapal turut memberi dorongan semangat pada satu baut kecil itu untuk bertahan. Mereka mengingatkan bahwa baut kecil itu sangat penting bagi keselamatan kapal. Jika ia menyerah dan melepaskan pegangannya, seluruh isi kapal akan tenggelam. Dukungan itu membuat baut kecil kembali menemukan arti penting dirinya di antara komponen kapal lainnya. Dengan sekuat tenaga, ia pun berusaha tetap bertahan demi keselamatan seisi kapal. Sayang, dunia kerja termasuk di gereja seringkali berkebalikan dengan ilustrasi di atas. Kita malah cenderung girang melihat rekan sekerja "jatuh", bahkan kita akan merasa bangga apabila kita sendiri yang membuat rekan kerja gagal dalam tanggung jawabnya. Jika itu dibiarkan, artinya perpecahan sedang dimulai dan tanpa sadar kita menggali lubang kubur sendiri. Apa yang disebut gaya hidup seorang Kristen seakan tidak berlaku di tempat kerja. Padahal setiap tindakan yang kita lakukan akan selalu disorot oleh Sang Atasan. Bagaimana sikap kita dengan rekan kerja? Mungkin saat rekan kerja menghadapi masalah, kita menganggap itu risiko yang harus ia hadapi sendiri. Tapi sebagai tim, kegagalan satu orang akan selalu membawa dampak pada keseluruhan. Jadi mengapa kita harus saling menjatuhkan? Bukankah hasilnya tentu jauh lebih baik jika kita saling mendukung dan bekerjasama menghadapi persoalan? Kristus mengajarkan bahwa kita adalah satu tubuh. Jika satu anggota mengalami masalah, yang lainnya harus mendorong dan menguatkannya. Jangan sampai masalah yang dialami rekan kerja malah membuat kita senang. Tapi baiklah kita berseru, "Berpeganglah erat-erat! Tanpa kamu, kami akan tenggelam!" Kegagalan atau kesuksesan rekan sekerja akan selalu mempengaruhi diri kita juga. Amin. Pdt. RHL. Tobing (Korwil GKPI Jabodetabek)

Minggu, 01 Juli 2012

"ORANG BERIMAN MEMBERI DENGAN SUKACITA" Khotbah Kebaktian R. Tangga 2 Korintus 8:7-15

Pendahuluan Surat 2 Korintus 8 ini dituliskan oleh Paulus kepada jemaat di Korintus, dengan maksud ingin mengingatkan mereka akan janji jemaat Korintus. Jemaat Korintus pernah berjanji kepada Paulus untuk memberikan berkat yang mereka miliki berupa sumbangan dana bagi Yerusalem. Namun, dengan berjalannya hari, mereka mulai undur dari janji mereka sendiri dan Paulus melalui surat ini ingin kembali menegaskan apa yang menjadi janji jemaat Korintus. Berlimpah Karunia, Tetapi Miskin Hati Jemaat di Korintus merupakan umat yang sangat lengkap dianugerahi dengan berbagai karunia. Rasul Paulus menyebut jemaat Korintus sebagai umat yang kaya dalam segala sesuatu. Rasul Paulus memerinci kekayaan dan karunia dari jemaat Korintus, yaitu: “Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, --dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami--demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini” (II Kor. 8:7). Sebagai jemaat yang tinggal di kota yang begitu strategis dan terkemuka dalam perdagangan, maka para penduduknya kebanyakan adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi dan mapan secara ekonomis. Jarak kota Korintus dengan Athena Barat hanya 65 km, sehingga mereka memiliki akses untuk memperoleh pengetahuan filsafat dan berbagai informasi termasuk pengajaran iman Kristen. Selain itu 9 karunia Roh yang diuraikan oleh rasul Paulus di I Kor. 12:1-11 ditempatkan dalam konteks jemaat Korintus. Jadi sebenarnya jemaat di Korintus merupakan model dari jemaat yang ideal sebab mereka memiliki berbagai karunia Roh, progresif dalam pertumbuhannya dan tidak kekurangan secara materi. Dari sudut komitmen, mereka juga menunjukkan kesungguhan untuk membantu jemaat yang berkekurangan. Kepada jemaat di Yerusalem yang saat itu sedang mengalami kekurangan dana, mereka berjanji untuk memberi bantuan yang diperlukan. Jadi tepatlah jikalau potret jemaat Korintus merupakan dambaan dan teladan bagi jemaat-jemaat di sekitarnya. Namun faktualnya, jemaat Korintus yang kaya dalam segala hal tersebut dan telah berkomitmen untuk memberi bantuan ternyata hanya tinggal janji. Bantuan yang mereka janjikan kepada jemaat di Yerusalem tidak pernah terwujud. Mereka cenderung menunda-nunda dan tidak ada kejelasan kapan mereka mengirimkan dana bantuan yang diperlukan, padahal kemungkinan jemaat di Yerusalem saat itu berada dalam kondisi yang sangat kritis. Semula jemaat Korintus sangat antusias dan berjanji untuk memberi, tetapi tampaknya mereka tidak ikhlas. Itu sebabnya rasul Paulus menghimbau agar jemaat Korintus dapat memenuhi janji komitmen untuk membantu jemaat di Yerusalem, yaitu: “Aku mengatakan hal itu bukan sebagai perintah, melainkan, dengan menunjukkan usaha orang-orang lain untuk membantu, aku mau menguji keikhlasan kasih kamu” (II Kor. 8:8). Dengan mengirimkan surat pastoral kepada jemaat Korintus, rasul Paulus hendak menguji keikhlasan kasih mereka. Sebab apa artinya mereka telah memperoleh seluruh karunia Roh dan berbagai berkat Allah serta janji iman yang muluk, tetapi secara faktual mereka cenderung menutup mata terhadap penderitaan dan pergumulan sesamanya. Karena Allah mengaruniakan segala karunia dan berkat kepada umatNya adalah agar umat juga mau membagikan kepada sesama yang berkekurangan dan sedang mengalami penderitaan. Jadi tujuan karunia dan berkat Allah yang dianugerahkan adalah setiap umat mampu memberdayakan sesama yang lemah, mengangkat orang yang sedang jatuh dan memulihkan mereka yang sedang sekarat. Tetapi tampaknya jemaat Korintus beranggapan bahwa seluruh karunia dan berkat yang dianugerahkan oleh Allah hanya untuk menunjang seluruh kepentingan komunitas mereka sendiri. Spiritualitas jemaat Korintus seperti Laut Mati yang hanya mau menerima seluruh berkat Allah yang dialirkan oleh sungai Yordan, tetapi enggan untuk menyalurkan ke wilayah lain. Ciri dari spiritualitas Laut Mati adalah kecenderungan untuk terus menampung dan menyimpan segala karunia dan berkat ilahi, dan kemudian menutupnya erat-erat agar tidak diminta atau diambil oleh orang lain. Sangat menarik bahwa di Laut Mati tidak memungkinkan seluruh mahluk atau organisme dapat hidup, sebab kadar garamnya terlalu tinggi. Banyak orang berpikir bagaimana dengan kesetaraan didalam perbedaan antara yang satu dengan yang lain dalam realitas hidup ini. Kehidupan yang kita temuai sekarang adalah indikasi kurangnya hubungan yang baik antara yang satu dengan yang lain. Homo Homini Lupus lebih jelas konsepnya kelihatan, terutama dalam bidang ekonomi, sosial dan politik. Yang satu menjadi harimau pemangsa bagi yang lain, yang satu lebih mengutamakan dirinya sendiri tanpa memperhatikan hak dan hidup orang lain. Permasalahan ini menjadi gambaran yang perlu kita pertimbangkan ketika sudah jelas-jelas masuk kedalam ranah gereja. Kapan gereja melakukan tugas sosial dan kepeduliaannya terhadap gereja lain? yang masih ada ketika gereja tersebut masuk dalam lembaga oikumenis saja tanpa sadar bahwa itu adalah tugas sebagai warga yang beriman kepada Yesus Kristus. Penjelasan Nast 1. Pelayanan Kasih Adalah Tugas Iman Banyak contoh-contoh pribadi yang mengaplikasikan perdamaian dengan tindakan-tindakan kasih sosial, seperti Mother Theresa yang luar biasa dalam melaksanakan misi kasih Tuhan yang nyata bagi orang-orang yang berkekurangan. Hal ini juga sama dengan yang dikatakan Rasul Yakobus yang mengatakan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati sama dengan tubuh tanpa roh juga mati. Seluruh orang yang menyatakan dirinya percaya kepadaNya adalah orang-orang yang pantas disebut percaya, namun belum tentu dengan mengatakan dirinya percaya sudah mengindikasikan orang tersebut adalah orang yang beriman dan melakukan tugas imannya dalam pelayanan kasih. Orang percaya dan beriman seharusnya sadar bahwa Tuhan telah mengasihi setiap pribadi, Tuhan bahkan telah rela menjadi miskin sekalipun Tuhan itu Maha kaya (band.ayt.9), namun ia melaksanakannya bagi kita dan demi kita. Dari pemahaman yang begitu saja kita telah dituntut untuk melakukan apa yang Tuhan kehendaki yakni menunjukkan bahwa kita ini telah Tuhan berikan kekayaan untuk dapat membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan dari Tuhan, dan orang Percaya menjadi jalan Tuhan untuk membantu setiap pribadi yang membutuhkan. 2. Memberi Dengan Suka Rela adalah Ujian Iman Iman yang benar adalah iman yang tahan uji, iman yang tidak gampang diombang-ambingkan kebenarannya. Memberi yang baik harus dilaksanakan dengan sukarela, dasarnya ialah iman yang benar. Jika selama ini kita memberi dengan mengharapkan imabalan itu bukan iklas/sukarela, Jika memberi dengan paksaaan dan menyatakan bahwa memberi adalah kewajiban yang menjadi pengikat itu juga tidak iklas, Jika memberi yang kita laksanakan selama ini untuk kemegahan diri sendiri (terindikasi pada saat praktek lelang) itu juga tidak iklas. Oleh karenanya yang memberi dengan iklas adalah mereka yang memberi dengan tidak mengharapkan imbalan, tetapi ucapan syukur atas kasih Tuhan. Memberi yang ikas juga bukan dengan keterpaksaan, sebab Tuhan memberikan diriNya sebagai persembahan dengan suka rela. Dan memberi dengan iklas juga bukan untuk membanggakan diri namun untuk memuji dan memuliakan serta berbangga bagi Kasih Tuhan yang sudah kita terima. pada saat itulah iman kita diuji dalam memberi iklas atau tidak iklas. 3. Memberi adalah Awal Keseimbangan Hidup Banyak orang menuntut keadilan dengan berbagai konsep keadilan yang mereka pahami, namun juga banyak orang memiliki bangunan konsep keadilan dengan subyektif. Dengan konsep yang demikian akhirnya banyak kedilan yang dibangun hanya mementingkan pihak/golongan tertetu saja. Memberi yang baik dan sesuai dengan kehendak Tuhan yang kita imani ialah dengan menyadari bahwa diri kita juga tidak berlebihan dan tidak berkekurangan (Baca. ayat 14-15). Dengan demikian memberi dengan kemampuan yang tidak mempermiskin orang lain atau diri kita sendiri. Salah satu memberi dengan praktik rentenirisme adalah bentuk memberi yang bertujuan untuk memonopoli dan memiskinkan orang lain dan dirinya sendiri juga akan miskin dalam iman. Maka dengan demikian memberi yang berpihak pada keseimbangan harus menyadari bahwa semua orang memiliki kelebihan dan memiliki kekurangan. Dengan demikian aplikasi yang harus dilaksanakan ialah: a. Kita memberi kekayaan kita yang tidak dimiliki orang yang akan kita tolong b. Kita menerima pertolongan dari dari kekayaan yang ada pada orang lain dan tidak ada pada kita. Kekayaan yang dimaksud bukanlah hanya harta benda, tetapi mencakup seluruh hal keperluan kehidupan manusia (fisik, psikis, ratio, dan iman). Kesimpulan Melalalui pemaparan pemahaman iman senderhana diatas hendaknya kita merubah mintset yang salah selama ini dalam memberi. Jadikanlah seluruh tindakan kita sesuai dengan iman yang benar, dengan iman yang benar kita juga akan dimampukan bertindak yang benar dalam segala hal termasuk memberi. Tunjukkanlah bahwa Tuhan itu adil dalam kehidupan persekutuan orang beriman sebab Tuhan mencipkan dengan amat baik dengan berbagai perbedaan, didalam perbedaan kita kaya dalam melakukan tindakan kasih Tuhan, didalam perbedaan kita melaksanakan Tugas Kasih Tuhan yang telah diberikanNya bagi kita. Jadi memberi adalah tugas iman seluruh orang yang beriman, semua kita kaya dan semua pribadi adalah miskin dengan kesadaran itu kita kaya dalam kebersamaan dan iman yang saling peduli dan bertindak dalam kasih dan iman. Termulialah Tuhan. Amin

Jumat, 18 Mei 2012

Khotbah Minggu 20 Mei 2012 Rahasia Hidup Bahagia Mazmur 1:1-6

HARI ULANG TAHUN GKPI BEKASI KE:28 Pertama-tama ijinkanlah kami atas nama seluruh gereja GKPI Wil. Jabodetabek mengucapkan Selamat HUT, kepada warga jemaat GKPI Bekasi, Pdt. BPH dan Majelis Jemaat. Setiap kali kita memperingati HUT Gereja, kita patut bersyukur sambil mengenang pemimpin dan pelayan Tuhan dan tokoh2 pendiri yang dengan visi yang jelas telah berjuang tanpa pamrih dan meletakkan landasan yang kokoh bagi keberlangsungan pelayanan ini sehingga berdiri gereja GKPI Perumnas II Bks.. Mereka telah mengorbankan: waktu, tenaga, uang dan masa depan mereka, bahkan nyawa mereka bagi pelayanan ini dan hasilnya kita bisa lihat hari ini, yaitu berdiri dengan kokohnya Gereja Kristen Protestan Indonesia Res. Bekasi. Tentu kita semua percaya sesuai dengan janji Tuhan bahwa jerih payah mereka dalam Tuhan tidak sia-sia (1 Kor 15:58). Kiranya perjuangan mereka dalam Tuhan akan terus memotivasi kita yang sedang hidup dan melayani di Gereja ini. Memang kita patut mengucapkan syukur atas pertolongan Tuhan bagi Gereja kita sejak berdirinya 28 Thn yang lalu hingga kini. Tidak sedikit masalah dan hambatan yang telah kita alami sebagai Gereja, namun hingga kini kita masih ada dan tetap melayani di negeri ini. Siapa yang tak mau hidup bahagia? Setiap orang pasti ingin hidup berbahagia. Tapi pertanyaannya, seperti apakah hidup yang disebut berbahagia itu? Ada yang berpendapat bahwa hidup bahagia itu jika memiliki kekayaan yang berlimpah. Ada juga yang mengatakan bahwa hidup berbahagia itu hidup selalu sehat dan aman. Yang lainnya menunjukkan keluarga yang harmonis sebagai pertanda hidup bahagia. Orang lain mengatakan bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang selalu tertawa. Apakah semua itu menjamin kebahagiaan? Kenyataannya, ada orang kaya yang jika ditanya apakah mereka berbahagia, mereka menggelengkan kepala. Orang sehat pun belum tentu merasa sudah bebhagia. Mengapa begitu? Karena selama ini kita memiliki pandangan yang keliru terhadap arti kebahagian. Pertama, kita sering keliru dengan menganggap bahwa kebahagiaan itu berarti bersenang-senang. Hatinya selalu bergembira. Itu sebabnya banyak orang kemudian berusaha menciptakan acara pesta-pesta atau lari ke obat penenang untuk menciptakan kegembiraan. Kedua, kita sering berpikiran keliru dengan menganggap bahwa kita dapat mengejar kebahagiaan. Kita harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan kebahagiaan itu. Padahal kebahagiaan sebenarnya merupakan akibat atau hasil dari sesuatu yang kita lakukan. Ketiga, ada anggapan keliru bahwa kebahagiaan itu selalu ditemukan di luar diri kita atau ada pada orang lain. Kita sering berkata pada diri sendiri, “Dengan berganti pekerjaan, mungkin saya akan menjadi bahagia”, “Saya tidak betah hidup di sini. Kalau saya pindah rumah ke kompleks yang lebih elit mungin saya akan lebih bahagia.” Atau berpikir begini, “Kalau saya menikahi orang ini, hidup saya pasti akan berbahagia.” Ada seorang pria yang selalu memohon segala sesuatu pada Tuhan. Suatu hari, Tuhan berkata kepadanya: “Aku sudah bosan. Ajukanlah tiga permohonan. Aku akan mengabulkannya, tapi setelah itu jangan minta lagi.” Pria itu tercengan tak percaya. “Tuhan meskipun aku malu mengatakannya, tapi aku ingin Tuhan mengambil istriku. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku tidak bisa hidup lagi bersamanya.” “Baik, tidak masalah” jawab Tuhan, “Terjadilan seperti yang kau minta.” Maka matilah isterinya. Pria ini sebenarnya merasa bersalah, tapi sesaat kemudian dia merasa bahagia dan lega. Pikirnya, “Aku akan menikahi wanita yang lebih muda dan cantik.” Pada saat upacara penguburan, tiba pria ini berubah pikiran. Tuhan, dulu istriku ini adalah wanita yang baik. Selama dia hidup, aku tidak pernah menghargainya. Tuhan tolong hidupkan dia lagi.” Tuhan menjawab, “Baik, permohonanmu yang kedua sudah terkabul.” Sekarang tinggal satu permohonan lagi. Apa yang dia minta lagi. Dia bingung, lalu minta pertimbangan teman-temannya. “Minta uang saja. Kalau kamu punya uang, kamu dapat memiliki apa saja.” “Apa untungnya punya uang alau kamu tidak sehat? Minta kesehatan saja” “Apa gunanya kesehatan jika suatu saat nanti kamu akan mati? Minta keabadiaan saja? “Apa gunanya keabadian jika kamu tidak seorang pun untuk dicintai? Mintalah cinta” Pria ini malah tambah bingung. Lima tahun, sepuluh tahun, limabelas tahun berlalu. Suatu hari Tuha bertanya, “Kapan kami akan menggunakan permohonan ketigamu?” Pria ini tertawa kecit, “Tuhan saya ini bingung. Saya tidak tahu apa yang harus kuminta! Dapatkah Engkau katakan apa yang harus kuminta?” Tuhan tertawa keras mendengar dia mengatakan hal itu, “Baik Aku akan memberitahukan apa yang harus kau minta. Mintalah untuk menjadi bahagia tanpa peduli seperti apa pun keadaanmu. Itulah rahasianya.” Kebahagiaan tidak ada kaitannya dengan hal-hal di luar kita. Uang dan kekuasaan memang menjanjikan kebahagiaan. Namun kenyataannya, orang miskin pun bisa bahagia. Ada seorang mahasiswa yang berjalan-jalan di pantai pada siang hari. Dia mendapati seorang bapak sedang tidur-tiduran santai di bawah pohon kelapa. “Maaf, mengapa Bapak tidak melaut?” tanya mahasiswa. “Memangnya kenapa, dik?” tanya Bapak itu enggan. “Kalau Bapak bisa menangkap banyak ikan, Bapak ‘kan punya uang banyak?” jawab Mahasiswa. “Kalau saya sudah punya uang banyak, memangnya kenapa?” tanya Bapa itu lagi. Mahasiswa mulai jengkel, “Lho, dengan uang itu Bapak bisa membeli dan memiliki banyak kapal?” “Kalau saya punya banyak kapal, memangnya kenapa?” “Bapak ‘kan bisa memperkerjakan banyak orang sebagai anak buah kapal?” “Kalau saya punya banyak anak buah kapal, memangnya kenapa?” “Bapak ‘kan tidak perlu kerja lagi. Bapak tinggal terima setoran. Bapak bisa hidup dengan santai,” jawab mahasiswa dengan nada tinggi. “Lho memangnya apa yang sedang saya lakukan ini? Saya sedang bersantai ‘kan?” Kekayaan tidak menjamin datangnya kebahagiaan. Kebahagiaan itu tidak terdapat di luar. Hilangkan pemikiran keliru itu. Kalau tidak, Anda tidak pernah mendapatkan kebahagiaan. Sikap keliru yang lain adalah kelekatan ita terhadap sesuatu, terutama pada emosi negatif. Jika Anda terikat pada emosi negatif, maka Anda tidak akan pernah merasakan bahagia. Itu tidak berarti bahwa kita tidak boleh memiliki emosi negatif. Sepanjang kita menjadi manusia normal maka kita pasti memiliki emosi negatif: seperti kesedihan, kekhawatiran, stress, depresi, kemarahan, kebencian. Yang terpenting kita tidak larut dan terikat dalam emosi negatif ini. Lalu bagaimana cara mencari kebahagiaan? Pemazmur mengatakan, orang yang berbahagia adalah orang yang “kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” Dengan kata lain, orang itu suka melakukan Perintah TUHAN dan merenungkannya siang malam.” Ciri-ciri orang yang sudah melakukan perintah Tuhan dan merenungkannya siang malam adalah seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya. Orang itu berhasil dalam segala usahanya. Pertama, tidak egois. Buah yang dihasilkan oleh sebatang pohon, selalu diberikan pada pihak lain. Pohon tidak pernah memakai buahnya untuk kepentingan diri sendiri. Dengan kata lain, orang yang berbahagia adalah orang yang tidak egois. Orang yang egois itu seperti anak kecil, “Kalau kamu tidak mau meminjamkan mainanmu, aku pulang lho.” Coba kita ingat-ingat, apakah kita pernah mengatakan hal seperti itu: “Kalau mereka memberiku ini atau itu, aku akan berbahagia” atau begini, “Kalau aku tidak memperoleh ini atau itu, maka aku tidak akan berbahagia.” Banyak orang yang tidak merasa berbahagia karena mereka memaksakan kondisi-kondisi kebahagiaan untuk diri mereka sendiri. “Aku akan merasa bahagia jika aku punya mobil”; “Aku tidak akan berbahagia jika gagal membangun usaha ini.” Banyak orang yang merasa berbahagia ketika dia mau berbagi berkat dengan orang lain. Kedua, Bersyukur dan menghitung berkat. Coba kataan “Betapa beruntungnya aku. Aku bersyukur sekali!” Sungguh tidak mungkin merasa bersyukur, tetapi tidak berbahagia. “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (Mazmur 42:11 TB) Pembahasan Nats Mazmur 1:1-6 Pertama, Nats khobah membandingkan perjalanan hidup orang yang benar dan perjalanan hidup orang yang fasik (ay.1). Hanya ada dua jenis orang yang diakui Allah yaitu orang benar dan orang Fasik. Orang benar atau orang saleh adalah orang yang jalan hidupnya bercirikan (tanda-tandanya) adalah : kebenaran, kasih, ketaaatan kepada Firman Allah, dan terpisah dari persekutuan orang yang kesukaanya berbuat dosa. Tetapi kesukaannya adalah Taurat Tuhan (ay.2) Orang Fasik adalah orang yang tidak tinggal dalam Firman Allah, yang kesukaannya berbuat dosa (dosa adalah melakukan apa yang dilarang Tuhan dan tidak melakukan apa yang diperintahkan Tuhan). Perjalanan hidup orang yang benar dapat diketahui dari apa yang tidak dia lakukan yaitu: tidak menuruti nasehat orang Fasik (jalan orang Fasik), tempat yang tidak mereka kunjungi (orang pencemooh) dan kesukaannya adalah ialah Taurat Tuhan (hidup dekat dengan Tuhan/sekitar Firman Tuhan) dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menaatinya (ay. 2). Kedua, hasil perjalanan hidup orang yang benar. Ia seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya dan tidak layu daunya daan apa yang diperbuatnya berhasil (ay. 3). Orang yang benar menerima sumber hidup yang tidak habis-habisnya (Joh. 15: 1-8, khusus ay. 8 : jikalau kamu tinggal di dalam Aku, dan hukumku tinggal di dalam kamu, mintalah saja apa yang kamu kehendaki, dan kamju akan menerimanya). Apa yang diperbuatnya berhasil bukan berarti tidak pernah akan mempunyai masalah atau kegagalan, tetapi orang benar akan mengetahui kehendak Allah dan berkat Allah (Rm. 8:28). Ketiga, hasil perjalanan hidup orang Fasik digambarkan dengan tiga gambaran yang mengerikan: 1. Mereka seperti sekam yang ditiupkan angin (ay3). Ini suatu gambaran berbagai kekuatan yang tidak mereka lihat yang akan menghancurkan perjalanan hidup mereka. Mereka terlepas dari kasih karunia Allah dan berada di bawah penghukuman Allah (bd. Efesus 2:2 kamu hidup di dalamnya (dosa-dosa), karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sedang bekerja diantara orang-orang yang durhaka. 2. Tidak tahan dalam penghakiman dan dan tidak tahan dalam perkumpulan orang benar. Tidak ada orang fasik yang dapat bertahan saat Allah murka (Mazmur 76:8), dan penghakiman terakhir Mat. 25:31-46, khusus ay. 46 dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang yang benar ke dalam hidup yang kekal). 3. Menuju kebinasaan. Alkitab mengajarkan bahwa ada hukuman atas orang yang berbuat kejahatan adalah pasti. Hukuman itu berupa kutukan, penderitaan, dan pemisahan dari Allah tanpa jangka waktu tidak terbatas. Aplikasi: 1. Jalan Tuhan adalah jalan yang menuju kebahagiaan dan jalan yang menawarkan sampai ke tujuan. Ibarat orang yang mengadakan perjalanan jauh yang mengikuti route yang benar, walaupun banyak tantangan akan sampai ke tujuan dengan dengan selamat atau pengemudi yang patuh dalam berlalu lintas; mengiikuti rambu-rambu lalu lintas maka kemungkinan untuk sampai ke tujuan lebih besar daripada pengemudi yang ugal-ugalan. 2. Mungkin saja kita melihat jalan orang fasik lebih (jalan yang lebar) mudah daripada jalan orang benar (korupsi, tidak adil, penjinah, penipu, tidak punya kasih, egois, mau menang sendiri) tidak perlu iri, sebab mereka tidak mencapai kebahagian seperti jalan orang benar. Mereka seperti sekam, mereka tidak dapat bettahan di pengadilan dan mereka akan dihukum Allah, Tetaplah di jalan yang sempit karena itu adalah jalan keselamatan. Umat Tuhan tidak mencari jalan yang gampang, tetapi bertentangan dengan Firman Tuhan. 3. Agar tetap kita memmilih jalan Tuhan, kita harus dekat dengan Firman Tuhan itu sendiri (dekat dengan Allah=sahabat Allah=menyenangkan Allah). Apa yang kita rasakan, pikirkan dan lakukan harus sesuai (sejajar) dengan Firman Allah, untuk itu Roh kuduslah yang berkuasa dalam hati kita (bd. Ibr, 3:15, suara Tuhan memanggil untuk bertobat …Amin.