Perdamaian sangat dibutuhkan pada jaman ini, bagaimana kita bisa berdamai dengan sesama, dengan Tuhan dan diri sendiri.Semua ini hanya dapat kita peroleh dari Dia dan FirmanNya sebagai Madu Surgawi.
Sabtu, 12 Mei 2012
Khotbah Minggu 13 Mei 2012. 1 Johannes 5: 1-6 Iman Kepada Yesus Kristus Mengalahkan Dunia
Pendahuluan.
Tidak hanya sekedar ketaatan, tetapi ketaatan yang penuh sukacita sangat diperlukan…sebab Perintah-perintahNya itu tidak berat (3).
Hidup adalah perjuangan. Alkitab mengajarkan bahwa kita berada dalam suatu pertempuran. Alternatifnya jelas, di satu sisi ada kekalahan, di sisi lain ada kemenangan. Pilihannya adalah antara menjadi seorang ‘pecundang’, orang yang selalu dikuasai keadaan, atau menjadi ‘pemenang’, orang yang menguasai dan mengatasi keadaan. Kita dapat diatasi atau kita bisa mengatasi.
Musuh jiwa kita, iblis, telah dan sedang mengerahkan semua kekuatan jahatnya untuk tujuan tunggal yaitu, mengalahkan iman kita; sdh banyak sekarang serigala berbulu domba; bahkan maaf Babi berbulu domba pun sdh ada sekarang; di TV di sebut bahwa di Inggris sekarang ada babi berbulu domba. Di sisi lain, Tuhan telah menempatkan strategi untuk kita gunakan agar dapat menjadi seorang ‘pemenang, melawan penyesat dan ibblis yg berbulu domba ini.
Penjelasan
Ayat 1-3
Percaya pada Yesus adalah pekerjaan Allah bukan hanya keputusan manusia (ayat 1). Ketika manusia percaya pada Yesus, saat itu ia dilahirkan dari Allah. Kata kerja ‘dilahirkan’ pada ayat 1 dipakai dalam bentuk pasif bukan aktif. Di sini terlihat hubungan tak terpisahkan antara tindakan manusia untuk percaya dan karya Allah melahirkannya menjadi anak-anak Allah yang pertama adalah akibat dan tanda dari yang kedua.
Dilahirkan menjadi anak-anak Allah berarti dipersilahkan masuk ke dalam relasi kasih. Relasi kasih dengan Allah melalui Yesus inilah yang mendorong kita untuk mengasihi saudara seiman. Mereka menjadi saudara kita di dalam Kristus, tanpa memandang ras, bahasa, budaya, strata ekonomi, atau pendidikan. Maka kita tidak selayaknya membedakan orang berdasarkan hal-hal tersebut, melainkan pandanglah sebagai orang yang sudah sama-sama diselamatkan oleh Tuhan. Meskipun di antara kita terdapat perbedaan, kita dapat tetap saling mengasihi karena kita berasal dari keluarga yang sama.
Bukti seseorang mengasihi Allah adalah mengasihi saudara seiman. Mengasihi saudara seiman berarti mengasihi Allah dan melakukan perintah-perintah-Nya (ayat 2). Yohanes menghubungkan tiga hal sekaligus yakni mengasihi Allah, melakukan perintah Allah dan mengasihi saudara seiman ketiganya harus ada dalam hidup kita.
Untuk melaksanakan ketiga perintah ini sekaligus, ada langkah-langkah yang harus kita tempuh, perhatikan dan pahami. Pertama, sifat perintah Allah. Perintah Allah tidak berat karena beban yang diberikan kepada kita tidak melebihi kemampuan kita. Kedua, iman kita. Orang percaya mampu melakukan perintah Allah karena ia memiliki iman yang mengalahkan dunia.
Ayat 4-6
Kata Yunani untuk dunia dalam ayat kita ini adalah Kosmos. Biasanya, bila kita berpikir tentang Kosmos, kita berpikir tentang planet, bintang, galaksi, dan semua alam semesta yang diciptakan oleh Allah. Tapi Yohanes menitik-beratkan arti kata ini sebagai ‘dunia yang sesat dan bahkan yang berseteru dengan Allah’. Istilah "dunia" disini lebih merujuk pada kualitas ketimbang kuantitas. (Lih. ay 5).
Di tengah arena pertandingan, seseorang harus tahu terlebih dahulu: kekuatan musuh yang dihadapi dan kekuatannya untuk menghadapi musuh. Demikian pula kita sebagai anak-anak Allah yang setiap saat hidup di kancah pertandingan dunia. Kita bersyukur karena ada yang mengontrol pertandingan ini, yakni Allah yang berdaulat mengizinkan setiap tantangan yang kita hadapi, bersama itu pula Allah memberikan kekuatan-Nya sehingga kita pasti menang. Kemenangan ini pasti karena Allah sendiri yang berperang melawan kuasa dunia. Setiap anak Allah diberi kuasa untuk menang, inilah iman kita kepada Yesus Kristus, Anak-Nya. Memiliki iman berarti memiliki relasi dengan Yesus Anak Allah (ayat 5).
Untuk dapat mengatasi dunia ini, kita membutuhkan lebih dari usaha sendiri. Kenyataan yang mengagumkan adalah bahwa kita telah diubah pada inti dari keberadaan kita. Kita telah diubah, dari makhluk yang ditakdirkan untuk kalah, menjadi makhluk ditakdirkan untuk menang. Kita telah erat bersatu dengan Juruselamat kita, yang telah mengalahkan dunia.
Tuhan Yesus telah mengalahkan musuh manusia yang paling ditakuti yaitu kematian. Logikanya, jika kematian dapat dikalahkan-Nya apalagi hal-hal lainnya. Seandainya saat ini kita berada dalam berbagai penderitaan, kesusahan dan pergumulan berat, bersyukurlah! Mengapa bersyukur? Karena iman yang kita miliki adalah iman yang mengalahkan dunia.
Refleksi
Apakah rahasia ketaatan yang penuh sukacita…? Rahasianya ialah dengan mengenal bahwa ketaatan adalah suatu persoalan keluarga. Kita melayani Bapa yang penuh Kasih dan menolong sdr2 kita dalam Kristus. Kita telah di lahirkan dari Allah; kita mengasihi Allah, karena itu kita harus mengasihi anak-anak Allah. Dan kita membuktikan kasih ini dengan melakukan perintah-perintahNya.
Kehidupan iman adalah hidup dalam keluarga. Tuhan adalah orang tua dalam keluarga ini. Beriman adalah saudara dan saudari. Seperti dalam setiap keluarga yang sehat, masyarakat tumbuh baik di antara orang tua dan saudara dalam kasih dan loyalitas. Semuanya dimulai dengan mencintai Allah. Dimulai dengan mengasihi Allah. Jika kita mengasihi Allah, dan jika kita lahir dari Allah, kita akan mengasihi Allah, maka kita tidak bisa tidak mengasihi orang yang juga lahir dari diriNya. Seharusnya tidak ada perang saudara dalam keluarga Allah. Tapi kadang-kadang tampaknya bahwa keluarga Allah sangat rentan patah dan terus-menerus dikalahkan.
Saat kita mengasihi saudara seiman menunjukkan bahwa kita memiliki iman yang mengalahkan dunia. Tunjukkanlah bahwa Anda memiliki iman yang mengalahkan dunia.
Berbagai macam bentuk tantangan kita hadapi dalam arena pertandingan dunia, yang bertujuan mengalahkan kita, supaya kita tetap bertahan dalam kehidupan lama, agar tidak mampu memperjuangkan kehidupan yang berkemenangan dalam iman. Kegagalan demi kegagalan dosa membuat kita lelah, putus harapan, dan kehilangan daya juang untuk mengambil peran sebagai pahlawan iman. Arus dunia semakin deras menentang iman kekristenan, bukan saja dari kalangan non kristen, tetapi justru dari kalangan kita sendiri. Banyak kita temui siswa kristen yang terimbas narkoba, tawuran, pergaulan bebas; banyak karyawan kristen yang memanipulasi waktu, uang, dan jabatan; banyak pedagang kristen yang tidak jujur; banyak suami kristen yang tidak setia kepada keluarganya; banyak aktivis kristen yang menjadi batu sandungan; banyak hamba Tuhan yang mengejar popularitas dan kesuksesan. Terbuka pada kenyataan ini kita menyadari betapa lebih beratnya perjuangan anak-anak Allah di tengah dunia sekuler, menentang kristen-kristen yang berkompromi dengan dosa. Masih sanggupkah bertahan dalam arus dunia yang akan semakin deras dan gencar? Sesungguhnya ini bukan pilihan tetapi konsekuensi anak-anak Allah yang memang rindu mempertahankan imannya dan jaminan kepastian kemenangan sudah disediakan bagi yang mau setia melakukan perintah-perintah-Nya. Jangan mundur dan menyerah kalah sebelum perjuangan ini selesai, kehidupan kekal menanti di sana, hidup selamanya bersama Dia yang mengasihi kita.
Sebagai anak-anak Allah, kita memiliki Tuhan Yesus Kristus yang telah mengalahkan dunia. Jangan biarkan salib Kristus sia-sia karena kita menyerah dalam peperangan iman. Amin.
Pdt. Anthony
Jumat, 04 Mei 2012
"Kotbah Minggu Kantate 06 Mei 2012" Yakobus 2:8-13
Pendahuluan
1. Kedewasaan Rohani adalah menjadi inti pengajaran dalam surat Jakobus ini, jika kita benar-benar di dalam Kristus maka harus : belajar bersabar; menang terhadap pencobaan; kita harus mempraktekkan ajaran-ajaran Alkitab; mampu mengendalikan lidah; menciptakan perdamaian bukan persoalan dan harus hidup dalam Doa.
2. Surat Yakobus (1:1) ini adalah surat yang dikirim oleh rasul Yakobus kepada jemaat yang berada di diaspora (perantauan), yang secara umum berisi petunjuk dan nasehat praktis bagaimana melakukan suatu tindakan/perbuatan kristiani.
3. Sifat praktis ini kelihatan dalam Yakobus 2:14-26 yakni bagaimana iman dan perbuatan harus seiring dan sejalan. Tidak hanya perkataan atau janji, atau pengakuan verbal yang utama (2:19) tetapi bagaimana ‘karya nyata’ kerja yang sesuai kepada pengakuan, iman tanpa perbuatan adalah mati (2:26), tidak mendua hati (1:8), standar ganda, terpisah iman dan perbuatan.
4. Yakobus 2 ini menegaskan hubungan iman secara khusus dengan cara pandang kepada sesama manusia. Perbuatan yang benar adalah orang yang mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri.
II. Keterangan
1. Sikap kepada sesama
• Dalam ayat 1, Yakobus mengkritik praktek “memandang muka” (prosopolempsia; ) yakni suatu sikap menentukan prioritas, favoritisme, penghargaan yang berbeda, yang berhubungan dengan status, jabatan dan sosial ekonomi,dsb.
• Iman sangat erat berhubungan dengan sesama, sehingga segala sikap dan perbuatan kita yang berhubungan dengan sesama, khususnya dalam menghargai seseorang hendaknya di dasarkan dengan ‘iman’ . Sebutan, ‘saudaraku’ dalam surat Yakobus ini, hendak memperlihatkan bahwa semua mereka sama di hadapan Tuhan.
• Dasar untuk tidak ‘memandang muka’ adalah karena hukum utama (basilikos/nomos/royal law) yakni Mengasihi sesama seperti dirimu sendiri (bnd Mat 22:39), hormat dan tidak memandang muka, itulah sikap orang yang beriman, sebab Tuhan kita adalah Tuhan yang mengasihi (1 Joh 4:7-8).
• Selaku warga kerajaan Allah, aturan yang berlaku ialah kasih, dan salah satu dari kasih itu adalah tidak memandang muka.
• Sehingga orang yang memandang muka berarti ia tidak memperlakukan sikap seorang yang beriman (warga kerajaan Allah), sebab memandang muka adalah bukan sikap orang yang mengasihi (ayat 8-9).
• Jika ada seseorang melakukan perbuatan kasih kepada orang kaya, pejabat, atau yang lainnya dengan cara berlebihan oleh karena maksud tertentu, maka ia telah berdosa, karena seorang yang beriman seharusnya mengasihi sesamanya tanpa pilih bulu. Sama dengan hukum utama / aturan (titah) itu adalah merupakan satu kesatuan yang utuh, yang tidak dapat dipisahkan.
• Semua manusia sama di hadapan Allah, tidak ada bedanya, sama-sama warga kerajaan Allah.
2. Penghakiman
• Yakobus mengingatkan supaya melakukan suatu perbuatan hendaknya dilakukan dalam perspektif kepada penghakiman Allah (Ibr 4:13). Sebab kita semua akan bertanggung jawab kepada Allah pada hari yang akan datang.
• Bagi mereka yang memandang muka, sesungguhnya mereka sendiri sudah bertindak sebagai hakim kepada sesamanya, padahal mereka adalah sama, yang juga akan dihakimi oleh Allah pada hari penghakiman kelak, tidak ada seorang pun yang luput dari penghakiman tersebut. Dengan demikian setiap orang hendaknya waspada (hati-hati) di dalam perkataan dan perbuatannya. Yesus mengatakan dalam Mat 12:36, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman”
• Orang yang beriman seharusnya tetap melakukan perbuatan yang baikHa, penuh dengan kasih, sebab orang yang beriman itu telah menerima kemerdekaan dari keterikatan dosa, yang telah dianugerahkan Allah melalui kasih dan pengorbanannya yang besar itu. Kita melakukan perbutan yang baik karena Tuhan telah lebih dahulu melakukan hal yang demikian kepada kita.
• Setiap orang yang melakukan perbuatan kasih (berbelas kasihan) kepada orang lain, maka ia akan menerima penghakiman yang berbelas kasihan yang sempurna pada hari penghakiman terakhir kelak (13b) Sebaliknya jika kita masih tetap bersikap keras terhadap orang lain (memandang sebelah mata, anggap enteng, memandang muka, dsb), Tuhan juga akan bersikap keras pada hari penghakiman (13a)
III. Aplikasi
1. Nama minggu kita adalah “kantate” artinya bernyanyi. Bernyanyi maksudnya adalah bukan sekedar syair atau lagunya, tetapi lebih daripada itu yakni seiring, harmonis dan senada; hendaknya perkataan dan perbuatan kita selaku orang yang beriman selaras, seiring dan sejalan. Orang yang beriman akan kelihatan dalam praktek hidupnya sehari-hari dalam perkataan dan sikapanya yang mengasihi sesamanya.
2. Praktek ‘memandang muka’ sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga bukan manusianya lagi yang kita butuhkan tetapi adalah status, jabatan dan kekayaannya. Sehingga jika demikian maka sulit bagi kita untuk ber kantate, sebab ada orang yang bernyanyi di atas penderitaan orang lain, dan ada yang merintih dan kesakitan dipijak oleh orang lain.
3. Marilah kita saling mengasihi, tanpa dibatasi oleh muka tetapi mengasihi karena sudah menjadi orang yang beriman kepada Yesus yang mati demi keselamatan kita bersama dan yang tidak memandang muka.
4. Kita patut bernyanyi dan bersorak-sorak sebab kita telah menerima ‘kemerdekaan” . Kemerdekaan itu hendaknya diteruskan dan dipraktekkan dalam kehidupan kita sehari-hari, melalui perbuatan yang memerdekakan sesama kita, agar mereka juga dapat menikmati kemerdekaan itu dengan saling mengasihi, saling menghargai satu dengan lain, saling perduli dan memperhatikan, dan tidak ditemukan adanya praktek yang saling menekan, dan mengecilkan satu dengan lainnya.
Pdt. Jaksen Saragih, MTh
Jumat, 27 April 2012
TUHAN ADALAH GEMBALAKU - Mazmur 23:1-6 (Khotbah Minggu 29 April 2012)
Daud mengalami masa-masa yang berat sejak ia masih berusia muda. Perjalanan hidup yang penuh liku-liku kian membentuk karakter Daud menjadi sosok pemuda yang kuat dan bersahaja, dan satu hal yang terpatri di hati Daud adalah Tuhan tidak pernah meninggalkannya sendiri. Oleh karena itu, dalam mazmurnya Dauh mengungkapkan isi hatinya sebagai perwujudan pujian syukur bagi Tuhan yang adalah Gembala yang baik bagi dia: “Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” (Mazmur 23:2-3)
Daud tahu benar pekerjaan seorang gembala karena memang sejak muda hari-harinya dihabiskan di padang menggembalakan kambing domba ayahnya (Isai). Sesungguhnya tugas dan tanggung jawab seorang gembala sangat berat, apalagi di kawasan Timur Tengah, menemukan daerah yang berumput hijau tidaklah mudah karena daerah tersebut adalah padang tandus dan penuh bebatuan. Dengan demikian, seroang gembala harus tekun, sabar dan kuat mengembara menyusur gurun dengan berpindah-pindah tempat untuk mencari rerumputan bagi domba-dombanya; belum lagi ia harus mencari air yang teang agar domba-dombanya dapat minum sebab domba-domba tersebut tidak dapat minum di air yang alirannya deras.
Itulah gambaran tentang apa yang sudah diperbuat Tuhan terhadap Daud, juga terhadap kita. Kasih Yesus kepada kita seperti seorang gembala yang begitu peduli dan sangat mengasihi domba-dombanya. Dia tidak pernah lelah untuk membimbing dan menuntun kita meskipun kadang-kadang kita yang memberontak. Sebagai Gembala yang baik, Tuhan Yesus sangat bertanggung jawab atas hidup kita, Dia sanggup memenuhi segala kebutuhan yang kita perlukan. Firman Tuhan berkata, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:19). Dia juga menjadi perlindungan bagi kita, sebagaimana Daud dapat berkata “…aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” (Mazmur 23:4)
Mazmur 23 adalah salah satu Mazmur yang sangat banyak dikhotbahkan dan dikutip oleh para pengajar, penginjil dan orang Kristen. Mengapa? Karena di dalam Mazmur ini, terdapat bukan saja kata-kata yang indah sebagaimana layaknya puisi Orang Ibrani, melainkan mengandung kekayaan teologis yang tidak ternilai tentang janji pemeliharaan Tuhan atas umatNya.
Mazmur ini ditulis oleh Daud dan digolongkan ke dalam mazmur nyanyian. Disebut demikian karena Daud menyusun puisi ini sebagai ekspresi murni berupa ucapan syukur atas pemeliharaan Tuhan di dalam dan sepanjang hidupnya. Daud merasa bahwa tanpa Tuhan, dia bukan apa-apa ! Keyakinan yang samalah, yang seharusnya menjadi alasan dan mendorong kita untuk terhubung pada Tuhan, sebagaimana Daud telah melakukannya.
Kita akan belajar mengenai menjadi ungkapan isi hati Daud di dalam Mazmur 23
Tuhan adalah gembalaku, tak-kan kekurangan aku
Daud memberikan satu penegasan bahwa, dalam hidupnya, Tuhan digambarkan sebagai sosok gembala. Kita mengamati bahwa seorang gembala tidak pernah jauh dari domba-dombanya. Gembala mengenal dombanya dan demikian sebaliknya. Tugas seorang gembala sangatlah penting. Dia tidak saja mencukupi kebutuhan domba dengan memberi mereka makan, juga berjaga-jaga dari ancaman musuh. Gembala selalu bersama-sama dengan domba-dombanya. Itulah sebabnya dari sisi domba, dirinya akan merasa aman selama dia berada disamping gembalanya.
Daud menyadari bahwa hubungannya dengan Tuhan bukanlah sebuah hubungan simbiosis mutualisme, sebuah hubungan saling menguntungkan antara dua belah pihak. Hubungan Daud dengan Tuhan jauh melebihi kebutuhan-kebutuhan di dalam diri Daud sendiri dan itulah yang disebut dengan intimacy (keintiman). Daud mau menjelaskan bahwa Tuhan yang digambarkannya sebagai gembala itu adalah Tuhan yang selalu menuntun hidup Daud dan selalu berjalan bersamanya dan memenuhi apapun yang menjadi kebutuhannya. Itulah sebabnya, ketika spiritual connection ini berlangsung, maka kebutuhan akan terpenuhi dengan sendirinya. Tak-kan kekurangan aku, adalah ‘sebab-akibat’ dari pernyataan Daud yang menjadikan Tuhan sebagai gembalanya.
Pesan yang disampaikan di dalam kidung pembuka ini sangat jelas bagi kita, bahwa selama kita menjadikan Tuhan sebagai gembala dan selama kita juga mau menjadi domba yang baik bagi gembala itu, maka apapun yang menjadi kebutuhan kita, tersedia, sebagaimana seorang gembala menjamin kebutuhan domba-dombanya, mulai dari kebutuhan fisik, rasa aman, ketentraman dan hal-hal lainnya yang non material. Bagaimana dengan anda? Sudahkah anda menjadikan Tuhan sebagai gembala, sebagaimana Daud lakukan? Sudahkah anda menjadi domba yang baik?
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku.
Terlihat ada paralel di dalam kalimat tersebut. Perhatikan kata ‘Ia membimbing’ dan kata ‘ Ia menuntun’. Keduanya menjelaskan fungsi memandu atau mengarahkan. Daud memberikan metafora bahwa pengarahan dari Tuhan di dalam hidupnya membawanya pada padang yang berumput hijau. Maksudnya sebetulnya bukanlah berumput hijau tetapi berumput segar! Coba seandainya itu adalah makanan, maka kesegaran makanan itu akan memulihkan banyak hal di dalam stamina tubuh. Berbeda jika makanan itu basi atau layu. Demikian juga jika yang segar itu adalah sebuah tempat beristirahat. Kenyamanan menjadi salah satu standard kualitasnya. Itulah yang Daud rasakan di dalam hidupnya, pemberian terbaik dari Tuhan, dalam sebuah padang penggembalaan terbaik. Sesuatu yang selalu baru diterimanya disana. Bahkan Daud menegaskannya Tuhan yang menjadi gembalanya itu tidak pernah membawanya ke air yang bergolak melainkan ke air yang tenang. Mengapa Daud mengatakan demikian? Air tenang menunjukkan tempat peristirahatan yang menyegarkan seperti ketika seorang musafir menemukan oase di tengah padang pasir dari perjalanannya yang melelahkan. Tujuan Daud dalam baris nyanyian ini adalah kalimat terakhir. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena namaNya. Perhatikan frasa ‘menuntun di jalan yang benar’. Inilah hal luar biasa yang menjadi pengalaman Daud bersama Tuhan. Jika melihat pengalaman hidupnya, ditengah kesulitan hidup sekalipun, saat terjepit, saat dihadang musuh, saat dalam pelarian, tidak sedikitpun Daud meninggalkan Tuhan. Dia selalu mencari kehendak Tuhan sebelum mengambil keputusan di saat-saat seperti itu. Kontrasnya terlihat saat dia gegabah melangkah memenuhi keinginan dagingnya sewaktu menghampiri Batsyeba. Keputusan di luar Tuhan menghasilkan sejumlah konsekuensi yang harus dipikulnya. Daud menyadari bahwa tanpa Tuhan, maka jalan yang dilaluinya adalah jalan yang pasti salah. Nama Tuhan menjadi penting di dalam kalimat tersebut. Ada dua alasan penting. Nama Tuhan disebut sebagai tanda mengenali-Nya dan sebagai tanda seruan kepada-Nya. Daud mengenal Allah-nya sehingga berseru kepada-Nya.
Bagaimana dengan kita? Seringkali kita mengambil keputusan yang salah di dalam hidup dan melalui jalan yang menurut kita benar. Akibatnya, sejumlah konsekuensi telah menanti untuk kita tanggung. Hal itu terjadi karena kita meninggalkan Tuhan dan bertindak sendiri. Dalam kelelahan karena menjalani hidup dengan sejumlah persoalannya, kita dapat semakin ‘tenggelam’ sewaktu meninggalkan Tuhan. Energi menjadi terkuras habis dan kita tidak mendapat tempat dimana kita disegarkan kembali. Itulah konsekuensi jika tidak terhubung dengan Tuhan. Sebaliknya, dalam kelelahan dan segala daya yang mungkin terkuras habis, Tuhan memberikan satu tempat yang mere-fresh kita kembali dan mengarahkan ‘jalan’ hidup kita yang mungkin melenceng.
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gadaMu dan tongkatMu, itulah yang menghibur aku
Apakah lembah kekelaman? Kita harus mengerti jalan pikiran Daud akan hal itu. Berkali-kali di dalam hidupnya, Daud diperhadapkan pada situasi atau kondisi dimana satu-satunya pilihannya adalah berhadapan dengan situasi tersebut. Dimana orang lain bisa menghindar atau memilih lari, Daud justru sebaliknya, tidak punya pilihan selain berada di sana. Lembah kekelaman memiliki arti tentang sebuah tempat yang tidak pasti, menantang bahaya, berada di dalam persoalan, penuh dengan resiko dan musuh bisa saja datang secara tiba-tiba. Sungguh rentan berada di dalam lembah semacam itu. Berkali-kali saja Daud di dalam perjalanan hidupnya ditempatkan di dalam situasi demikian. Tetapi Daud tidak takut. Mengapa? Ada keyakinan yang sangat kuat di dalam dirinya bahwa Allah tidak pernah meninggalkannya. Itu sebabnya Daud berkata ‘aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku’. Kata ‘beserta’ artinya ‘ada bersama-sama’. Artinya, Allah senantiasa ada bersama-sama dengan Daud di dalam situasi apapun.
Melalui puisi tersebut Daud bahkan membeberkan bahwa Allah yang ada bersama-sama dengan dia tersebut memiliki gada, senjata yang digunakan di dalam pertempuran satu lawan satu, jarak pendek, dan meneguhkan bahwa di dalam situasi yang unpredictable itu, otoritas (dilambangkan dengan tongkat), berada di tangan Allah.
Kekuatan Daud terletak pada keyakinannya dan itulah menjadi pelajaran bagi kita, bagaimana membangun satu strong conviction terhadap Tuhan di dalam segala aspek. Keyakinan itu hendaknya bukan saja di dalam situasi yang baik tetapi juga di dalam situasi buruk. Tetap percaya kepada Allah sekalipun berada di dalam situasi tak terjelaskan ! Maka, kita perlu merujuk kembali pada bagian awal perikop ini, bahwa hanya dengan intimacy-lah sebuah strong conviction bisa terbangun dan terbentuk.
Engkau menyediakan hidangan bagiku, dihadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.
Bermegah di dalam Tuhan, itulah tepatnya maksud Daud di dalam kalimat tersebut di atas. Bahkan, kemegahan itu dibangun dan ditegakkan dihadapan musuh. Bukan untuk mengejek atau mendiskreditkan tetapi untuk menjadi kesaksian yang menguatkan tema orang pilihan Allah. Perikop ini dimulai dengan kesimpulan ‘takkan kekurangan aku’. Maka di dalam ayat ini kembali ada penegasan dari Daud bahwa bahkan dihadapan lawanpun, apa yang menjadi kebutuhannya disediakan oleh Tuhan. Bukan saja itu, Daud memposisikan diri sebagai orang yang dipilih Tuhan sehingga berkata ‘Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak’. Pengurapan di zaman Daud bicara tentang orang yang terpilih, yang kepadanya Allah berkenan memberikan mandat tertentu.
Apa maksud Daud dengan piala? Dalam konteks ini, Allah digambarkan sebagai tuan rumah yang menjamu tamu-Nya. Pada waktu itu piala biasa digunakan untuk menampung sesuatu. Biasanya, sesuatu itu berharga dan terlihat di mata orang lain. Dengan mengatakan ‘pialaku penuh melimpah’ maka Daud menjadi sebuah kesaksian hidup dihadapan banyak orang, teman dan musuh-musuhnya, bagaimana ia menjadi satu pribadi yang hidupnya berada di dalam kemurahan Allah sepanjang waktu. Kemurahan itu menyebabkan Daud tidak saja mendapatkan sesuatu yang cukup, tetapi melimpah.
Pemenuhan secara berkelimpahan, terutama secara fisik, adalah tema penting di bagian ini. Melalui pemenuhan itu, kehidupan Daud dan juga kita menjadi sebuah kesaksian di hadapan kawan dan lawan. Sebagai orang-orang pilihan, ada sebuah hak istimewa (privilege) yang kita terima dan nikmati dari Allah.
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku seumur hidupku.
Daud memberikan satu kesimpulan dari apa yang dikemukakannya di ayat pertama, sebagai akibat dari Tuhan yang menjadi gembalanya. Kebajikan dan kemurahan mengikutinya. Jaminan itu bukan hanya sesaat, atau dalam rentang waktu tertentu. Melainkan seumur hidupnya !
Bagaimana dengan kita? Orang yang seperti ini artinya orang yang pergi kemanapun, selalu diikuti dengan hal-hal baik dan berhadapan dengan kemurahan. Apa yang dikerjakannya menjadi baik dan mendatangkan berkat. Sementara orang lain menemukan kesialan, atau diikuti dengan kegagalan, kita sebaliknya. Pernahkah anda membayangkan, sementara orang lain berusaha dan gagal, anda justru mencoba sedikit tetapi berhasil. Sementara orang lain mendapat hukuman atas kesalahan yang dilakukannya, anda malah diperingan. Sementara orang lain berhadapan dengan pintu yang tertutup, saat anda lewat justru pintu-pintu menjadi terbuka. Bukankah ini luar biasa?
Dan aku akan diam di dalam rumah Tuhan sepanjang masa.
Ini adalah sebuah kerinduan. Rumah Tuhan pada waktu itu adalah bait suci. Di dalam rumah-Nya, Tuhan berdiam. Siapa yang berada di dalam rumah-Nya, itulah yang bertemu dan bergaul dengan Dia. Kerinduan Daud terungkap di dalam perikop ini bahwa Tuhan menjadi segala-galanya di dalam hidupnya. Banyak orang menggambarkan ayat ini sebagai penutup eskatologis. Tetapi, tidak seperti itu. Rumah Tuhan yang dimaksud Daud adalah bangunan Bait Allah yang tak kunjung terwujud selama masa pemerintahannya.
Sungguh indah bukan? Tidak bosan-bosannya saya mengkhotbahkan Mazmur 23 ini. Selalu ada yang baru ! Amen
Selasa, 24 April 2012
"Khotbah Ke. R. Tangga Lukas 24:36-48"
I. Pendahuluan
1. Tentang apa yang akan terjadi pada diri Tuhan Yesus, sebenarnya telah dinubuatkan dan tersurat dalam buku Musa. Hal inilah yang tidak disadari dan diketahui oleh murid-murid Yesus, membuat Yesus harus mengulangi dan menjelaskan apa yang telah dikatakannya sebelumnya (ay 27).
2. Dalam ayat 44 disebut tentang kitab taurat Musa, kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur. Ketiga kitab ini dianggap sebagai kitab suci, dan dimengerti sebagai kitab yang memuat dan menghunjuk kepada kematian dan kebangkitan Kristus, sebagai pemenuhan nubuatan Allah. Dengan kata lain, kematian dan kebangkitan Kristus dilihat sebagai suatu kunci untuk mengerti tentang rencana Allah yakni keselamatan umat manusia, yang telah diberitakan oleh kitab suci (ay 46; Kis 2:23) inilah yang diproklamirkan oleh murid-murid Yesus sebagai agen proklamasi itu.
II. Penjelasan
1. Kasih Karunia Tuhan
• Tuhan Allah adalah Tuhan yang berkarya, karya Tuhan itu tidak sembarangan, Dia selalu merencanakan dan merancang segala sesuatu itu dengan baik dan sempurna. Tentang kedatangan Yesus Kristus ke dunia ini juga adalah merupakan rancangan karya Tuhan Allah sendiri, dan itu bukan suatu kebetulan.
• Seandainya penderitaan, kematian, kebangkitan dan kenaikan Yesus tidak diberitakan oleh Musa, nabi-nabi dan mazmur, maka segala peristiwa itu sebenarnya tidak memiliki makna apapun sebab tidak menjadi bagian dari karya keselamatan Allah
• Hal ini kelihatan dalam diri Yesus sendiri, bahwa segala sesuatu tentang Dia telah ada dalam kitab Musa, nabi-nabi dan kitab Mazmur (ay 27, 44). Dalam kitab itu tertera dengan jelas kedatangan, kematian dan kebangkitan serta kenaikanNya.
• Seluruh karya Tuhan yang ada dalam Perjanjian Lama adalah bermuara kepada Perjanjian Baru, yang dapat disimpulkan dalam satu kunci yakni kematian dan kebangkitan Kristus. Melalui karya inilah nyata dengan jelas rencana kasih karunia Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia.
• Kasih karunia Tuhan jugalah yang membukakan hati murid-murid yang diselimuti oleh katakutan dan keragu-raguan tentang kebangkitan Yesus. Yesus sendiri yang mengupayakan sehingga murid-murid percaya akan kebangkitanNya, bukan hasil usaha murid-murid itu sendiri, atau hasil daya analitis teologis mereka (ay 39-43)
2. Keberadaan Murid-murid
• Hingga Tuhan Yesus bangkit dari kematian, murid-murid masih tetap dalam keraguan dan ketidak percayaan akan kebangkitannya dari kematian, padahal Yesus sudah memberitahukan itu jauh sebelumnya (Mrk 9:31; 14:58; Yoh 2:19)
• Sikap murid-murid yang terkejut dan takut dan menganggap Yesus adalah hantu, merupakan hal yang normal sebagai manusia. Tetapi pada sisi yang lain, hal ini merupakan indikasi yang nyata bahwa murid-murid belum bisa memahami sepenuhnya tentang siapa Yesus itu sesungguhnya.
• Pertanyaan retorika dari Yesus yang mengatakan, “mengapa terkejut...mengapa ragu-ragu’ adalah merupakan penelanjangan diri murid-murid, dan memberitahukan sebatas mana keberadaan murid-murid dalam memahami kehadiran dan pengertian mereka tentang ke Mesiasan Yesus itu sendiri.
3. Bukti-bukti kebangkitan Yesus
• Yesus benar-benar telah bangkit, hal ini dibuktikan dengan bukti secara badani (ay 39-42). Bukti ini nyata diperlihatkan oleh peranan rabaan dan tatapan mata, suatu bukti yang bukan halusinasi tetapi fakta. Bahkan memperkuat hal itu Tuhan Yesus memakan ikan goreng. Hal ini memperlihatkan bahwa Yesus benar-benar telah bangkit dan memiliki tubuh yang utuh bukan mahluk halus (hantu) dan Dia dapat berdialog dengan mereka.
• Yesus benar-benar telah bangkit, Ia adalah Mesias yang mengalami penderitaan, mati disalibkan, dan bangkit dari kematian.
• Murid-murid akhirnya dapat percaya, dan mengaku bahwa apa yang disebut oleh Musa, nabi-nabi juga kitab mazmur benar adanya.
4. Hasil
• Melalui kehadiran Yesus di tengah-tengah murid-muridnya membuahkan hasil, dimana murid-murid mulai mengerti dan memahami bahwa apa yang dikatakan oleh nabi Musa, nabi-nabi dan kitab Mazmur benar adanya.
• Murid-murid percaya dan mengimani Kristus bukan karena usaha mereka tetapi Yesuslah yang mambuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti kitab suci.
• Murid-murid memahami bahwa Yesus adalah Mesias, Yuruselamat dunia. Yesus adalah inti pemberitaan tentang keselamatan dan hidup (bnd Yoh 14:6)
• Tumbuhlah semangat dan pengharapan baru bagi murid-murid Yesus.
• Murid-murid menjadai saksi yang hidup tentang kebangkitan Yesus. (ay 48) Yesus yang bangkit ini adalah Yesus yang mati tersalib (bnd Yoh 20:27)
• Melalui kehadiran Yesus di tengah murid-muridnya, menyatakan bahwa Yesus sungguh-sungguh hidup (ay 39)
5. Tugas missi (Amanat Agung)
Kebangkitan Yesus tidak cukup hanya diberitakan dan dipelajari melalui bukti-bukti sejarah tetapi murid-murid harus memberitakan semuanya itu ke seluruh dunia, dimulai dari Yerusalem sebagai pusat pengajaran Yesus.
• Berita tentang kebangkitan Kristus (berita keselamatan) dapat diterima dan dipercayai oleh setiap orang apabila ada pertobatan dan pengampunan dosa (ay 47)
• Orang yang mau bertobat dan menyesali dosa-dosanya, berarti mengaku bahwa Yesus adalah Mesias, dan ini membuat perubahan secara otomatis dalam hidup seseorang. Orang demikian akan menikmati kebesaran kasih sayang Yesus dalam hidupnya (kuat, semangat dan penuh sukacita).
• Dalam kitab Yesaya 49:6 disebut tentang posisi keberadaan murid sebagai saksi yakni sebagai “ terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari padaKu sampai ke ujung bumi”, inilah yang menjadi basis perintah missi Yesus yang terakhir kepada orang yang percaya (Kis 1:8; Mat 28:18-28).
III. Jamita
Tuhan sudah bangkit dan telah memperlihatkan dirinya kepada kita, inilah bukti kasih dan kemenangan Yesus yang tidak pernah putus, dan habis-habisnya. Tuhan selalu perduli dengan kita, oleh karena itu kita patut memuji dan memuliakan namaNya.
1. Nama minggu kita adalah Misericordias Domini artinya bumi penuh dengan kasih setia Tuhan (Mzm 33:5b). Kasih setia Tuhan itu tidak berkesudahan, terus menerus mengalir bagi seluruh ciptaanNya. Hal itu kelihatan dan nyata dengan pengorbanan Kristus yang mati di kayu salib demi kasihnya kepada dunia dan seluruh isinya (ingat hari ini adalah hari bumi se-dunia). Bumi adalah penampakan kasih setia Tuhan bagi kita, oleh karena itu mari kita rawat dan pelihara bumi ini karena di situ banyak berkat Tuhan yang dapat kita gali untuk kehidupan kita sekarang dan untuk anak cucu kita pada masa-masa yang akan datang.
2. Missi orang yang percaya adalah memberitahukan kepada semua manusia bahwa Tuhan itu penuh dengan kasih, kasihnya memenuhi bumi ini. Tuhan Yesus juga mati dan bangkit untuk segala ciptaanNya (termasuk bumi dan segala isinya’ Mrk 16:15; Rm 8:22). Dengan missi ini semua mahluk di bumi ini merasakan dan menikmati keselamatan dari Yesus Kristus
3. Peristiwa kebangkitan Kristus, senantiasa memotivasi kita untuk menumbuhkembangkan iman kita, agar semakin bergairah, semangat untuk menjalankan perintah Tuhan dalam hidup kita sehari-hari.
4. Selaku manusia kita membutuhkan karya Kristus yang ‘membuka dan menyingkapkan pikiran” sehingga kita dimampukan untuk mengerti tentang karya penyelamatan Allah (memiliki spritualitas yang tinggi; bnd Ef 1:18) Sehingga kita mampu menjalani hidup ini walaupun apa yang terjadi, suka dan duka...............!
blogg gkps
Rabu, 18 April 2012
"JAMITA MINGGU, 22 April 2012 Minggu Misecordias Domini"
Rom 8: 14-18 (Ep.: Lukas 24: 36-48)
I. Patujolo
Sude do halak di portibion songon jolma biasa mangharingkothon siteanon sian natuatuana, jala natuatua ni sasahalak pe tarsomal do mambahen padan testamen (surat wasiat) taringot tu parartaonna asa molo dung marujung ngoluna haduan boi ma dapotan bagian sude angka ianakkonna. Ido umbahen diharingkothon halak Batak marianakhon asa adong do panean haduan. Pola do sada-sada keluarga mangadopsi sahalak dakdanak gabe ianakhonna molo so adong ianakhonna sandiri asa adong muse manorushon angka siteonon i. Sahalak natuatua boi manghaposi ianakhonna gabe panean ala naung porsea do ibana halak na boi haposan do ianakhonna i. Autsura ndang haposan iankhonna i ndang olo natuatua mambahen gabe panean. Songon i do nang na pinatorang ni turpkta sadarion, ima na ni angkat ni Debata hita gabe ianakhonNa asa gabe panean di harajaonNa.
II. Hatorangan ni Turpuk
2.1. Tondi ni Debata
Tondi na ni lehon ni Debata tu manisia ndang sarupa songon tondi na sian portibion. Molo tondi na sian Debata ima tondi na pabotohon angka ulaon na denggan di parngoluon ni manisia, marhite tondi on ma boi ta alo angka hagiot ni daging na sai maralo tu lomo ni roha ni Debata. Tondi ni Debata ndang boi dituhor manang dilului alai Debata sandiri do na mangalehon tondi i tu hadirionta asa tondi i na mangajari tondi pardagingonta mangoloi Debata. Tondion ma na mangajari manisia mananda Debata, marhite panjounta di Ibana na mandok: Abba, lapatanna gabe adong ma terbina hubungan na jonok dohot Debata ala nungnga tatanda marhite pangajarion ni tondi i. Tondi naung ni lehon ni Debata tu manisia gabe maringanan ma di ngolunta alai ndang na gabe lomonta di tondi i. Ndang gabe guru di manisia anggo tondi i justru sabalikna, tondi na mian di ngolu ni manisia i do na gabe guru di hita. Kegiatan roh bukan menghilangkan pekerjaan manusia tetapi mencetuskan pekerjaan manusia. Roh kudus inilah yang menjamin kita bahwa kita telah melakukan kehendak Bapa, alai dengan catatan molo olo hita ditogihon tondi (membiarkan diri dipimpin) songon na ni dok ni ayat 14. Naingkon olo do hita manisia membiarkan diri dipimpin tondi, memberikan roh Allah di depan manusia, asa boi hita gabe haposan ni Debata songon ianakhonNa.
2.2. Anak ni Debata
Molo anak ni Debata di hata gorik didokma i huios, lapatanna anak yang dipimpin. Artina molo nga gabe anak ni Debata manisia berarti ingkon gabe anak na olo sitogihonon ni Debata do hita. Jabatan ni manisia sebagai anak mamuhai hubungan yang intim dengan Allah. Unikna muse jabatan ni manisia sebagai anak ni Debata ndang alani dalan manang usaha ni manisia justru Debata sandiri do na ro mangalehon tondiNa tu manisia gabe boi manisia ianakhonNa, lapatanna adong anugerah sian Debata na mamboan hita sahat tu kedudukan i. Anak ni Debata ndang na gabe anak secara biologis hita alai lobi sian status biologis, gabe anak hita songon Kristus na gabe anak ni Debata. Berarti molo anak ni Debata do hita nungnga ingkon mian be Debata di ngolunta, berarti ingkon nga sarupa be parulaonta nang pingkiranta songon parulaon dohot pingkiran ni Debata. Ndang marimbar be anak sian bapana (Luk. 20:34, 36; Joh. 5:17-27). Asa gabe boi manisia manjouhon Abba tu Debata. Molo abba di tradisi ni halak Jahudi ima panjouon ni sahalak dakdanak na poso na jonok dohot amana. Panjouonon holan dijouhon ianakhonna tu amana molo sahalak ama na burju do amana i, alai molo so burju amana i ndang dijou abba. Dibuat Debata do hita gabe ianakhonNa ndang na laho mangalului keuntungan di Ibana sambing, justru naeng mamboan manisia i do tu hangoluan.
2.3. Panean di Debata
Songon sahalak anak hita manisia, berarti gabe adong ma hak di hita gabe panean di Debata. Panean na dimaksud di turpukon ndang songon panean di portibi na dijalo di tingki dung mate natuatuana. Ala ndang he mate Debata jala ndang mate Kristus paduahalihon. Na dimaksud gabe panean di Debata di son, ima na dilehon Debata tu manisia hamuliaon na adong di Ibana asa dapotan hangoluan na salelenglelengna manisia i. Panean lapatanna adong pangkirimon tu ari sogot na nilehon ni Debata tu hita, alai molo ta oloi panogihonon ni tondi ni Debata di ngolunta jala molo tahaporseai ulaon ni Jesus di ngolunta. Ai angka halak na tinogihon ni tondi do dohot halak na porsea do na digoari sipanean ni Debata (Rom 4:13-18; Gal. 3:29: 4:7). Na adong di Debata i do na dilehon tu manisia naung gabe ianakhonNa i. Adong keistimewaan ni manisia di son; ima nungnga diangkat Debata hita gabe ianakhonNa marhite tondi, dibahen muse manisia i gabe panean. Diayat 17 didok manisia na tinogihon ni tondi ni Debata gabe panean di Debata dongan panean ni Kristus lapatanna: ahli waris bersama dengan kristus, yang mewarisi bersama dengan Kristus, lapatanna nungnga gabe sarupa hita dibahen Debata dohot ianakhonNa na sasada i, ima Jesus Kristus, gabe sederajat hita di adopan ni Debata taringot tu panean di Ibana. Tung mansai arga do manisia i di adopanNa asa diangkat hita gabe sarupa dohot Jesus, ima ala naung ditobus Jesus hita sian dosa gabe boi hita sada dohot Ibana, on ma dalanna gabe dongan panean ni Kristus hita ala naung sada hita di bagasan panobusanNa.
2.4. Sitaonon na manjangkon hasangapon
Di ayat parpudion boi do berengonta sada peneguhan sian si Paulus tu huria Rom na di hatiha i na di bagasan haporsuhon. Ai pola do adong penyiksaan tu saluhut halak Kristen na adong di Rom di hatiha i. Jala dipaksa angka pangomgomi do saluhut halak Kristen gabe hatoban ima na ingkon marsomba do nasida tu angka raja na manggomgomi di Rom, molo so dioloi parentaon na ingkon hona uhum ma nasida. Alai didok si Pauilus do asa tong satia saluhut angka Kristen na di Rom tung pe hansit dihilala nasida, ai gabe panean di Debata ma nasida sogot. Ai sasintongna nungnga diparade Debata hamonangan ni manisia na porsea, na olo mangalo portibion alai naeng diida Debata boha do jolma i tetap satia tu Debata di hamaolon ni portibion.
III. Aplikasi
1. Sahalak dakdanak na asing ndatung mungkin sah gabe ianakhon ni sahalak keluarga molo so disyahhon langsung keluarga na mangangkat nasida, songon i do nang status ni jolma na gabe ianakhon ni Debata, ndang sah molo so disahhon Debata sandiri.
2. Dalan laho manjalo tondi ni Debata di parngoluon ni halak Kristen ima marhite pandidion na badia, jadi angka halak naung tardidi nungnga gabe anak ni Debata be i (Ul. Ap. 10:47, 19:2, 1 Kor 6:11, 2 Kor 1:22, 1 Ptr 1:2)
3. Marasing do tondi ni Debata dohot tondi na ni luluan ni manisia sian portibion, isarana songon tondi ni begu ganjang na gok masa saonarion (tarsongononma gombaran ni tondi na so sian Debata). Godang do saonarion na mamiaro tondi begu ganjang alai ingkon gabe hatoban ma ibana tu tondi i, jala ingkon olo ma na mamiaro i mangulahon angka pinangido ni tondi i nangpe maralo tu hata ni Debata. Molo tondi ni Debata berarti Debata na mian di bagasan hita (Rom 8:9, 11; 1 Kor 3:16, 6:19, 2 Kor. 6:16, Joh 14:17, 2 Tim. 1:7). Tondi ni Debata ndang mangkorhon tondi hatoban. Molo hatoban adong sada biar di hatoban tu tuanna, alai molo tondi ni Debata ima tondi ha-anakon do. Tondion ma na palumehon tu hita bahwa hita nungnga gabe anak ni Debata.
4. Angka hamaolon na ta adopi di parngoluonta ima sada dalan na dipangke Debata manguji hasatiaonta tu Debata. Nangpe tataon na hansit di portibion, molo satia do hita pasti do dipamonang Debata hita.
IV. Pangarimpunan
Nungnga hape dilehon Debata tu ngolunta TondiNa asa diajari hita di ngolunta mangalo hagiot ni daging jala mangihuthon lomo ni roha ni Debata. Jala marhite tondi i nungnga hape hita diangkat gabe ianakhonNa, na marlapatan boi hita membina hubungan na jonok dohot Debata. Asa taihuthon ma parange ni Debata di parngoluonta songon anak hita na patut mangihuthon amana asa tarbahen hita gabe panean di Debata, songon panean ni Kristus. Tungpe ta adopi hamaolon di portibion na ingkon ma ta hajugulhon mangulahon lomo ni roha ni Debata, ai ndang sadia sitaonon di hasianganon martimbangkon hasangapon sipapataron tu hita sogot ima na gabe panean na manjalo padan sian Jahowa. Amen
Pdt. Herwin Harianja
I. Patujolo
Sude do halak di portibion songon jolma biasa mangharingkothon siteanon sian natuatuana, jala natuatua ni sasahalak pe tarsomal do mambahen padan testamen (surat wasiat) taringot tu parartaonna asa molo dung marujung ngoluna haduan boi ma dapotan bagian sude angka ianakkonna. Ido umbahen diharingkothon halak Batak marianakhon asa adong do panean haduan. Pola do sada-sada keluarga mangadopsi sahalak dakdanak gabe ianakhonna molo so adong ianakhonna sandiri asa adong muse manorushon angka siteonon i. Sahalak natuatua boi manghaposi ianakhonna gabe panean ala naung porsea do ibana halak na boi haposan do ianakhonna i. Autsura ndang haposan iankhonna i ndang olo natuatua mambahen gabe panean. Songon i do nang na pinatorang ni turpkta sadarion, ima na ni angkat ni Debata hita gabe ianakhonNa asa gabe panean di harajaonNa.
II. Hatorangan ni Turpuk
2.1. Tondi ni Debata
Tondi na ni lehon ni Debata tu manisia ndang sarupa songon tondi na sian portibion. Molo tondi na sian Debata ima tondi na pabotohon angka ulaon na denggan di parngoluon ni manisia, marhite tondi on ma boi ta alo angka hagiot ni daging na sai maralo tu lomo ni roha ni Debata. Tondi ni Debata ndang boi dituhor manang dilului alai Debata sandiri do na mangalehon tondi i tu hadirionta asa tondi i na mangajari tondi pardagingonta mangoloi Debata. Tondion ma na mangajari manisia mananda Debata, marhite panjounta di Ibana na mandok: Abba, lapatanna gabe adong ma terbina hubungan na jonok dohot Debata ala nungnga tatanda marhite pangajarion ni tondi i. Tondi naung ni lehon ni Debata tu manisia gabe maringanan ma di ngolunta alai ndang na gabe lomonta di tondi i. Ndang gabe guru di manisia anggo tondi i justru sabalikna, tondi na mian di ngolu ni manisia i do na gabe guru di hita. Kegiatan roh bukan menghilangkan pekerjaan manusia tetapi mencetuskan pekerjaan manusia. Roh kudus inilah yang menjamin kita bahwa kita telah melakukan kehendak Bapa, alai dengan catatan molo olo hita ditogihon tondi (membiarkan diri dipimpin) songon na ni dok ni ayat 14. Naingkon olo do hita manisia membiarkan diri dipimpin tondi, memberikan roh Allah di depan manusia, asa boi hita gabe haposan ni Debata songon ianakhonNa.
2.2. Anak ni Debata
Molo anak ni Debata di hata gorik didokma i huios, lapatanna anak yang dipimpin. Artina molo nga gabe anak ni Debata manisia berarti ingkon gabe anak na olo sitogihonon ni Debata do hita. Jabatan ni manisia sebagai anak mamuhai hubungan yang intim dengan Allah. Unikna muse jabatan ni manisia sebagai anak ni Debata ndang alani dalan manang usaha ni manisia justru Debata sandiri do na ro mangalehon tondiNa tu manisia gabe boi manisia ianakhonNa, lapatanna adong anugerah sian Debata na mamboan hita sahat tu kedudukan i. Anak ni Debata ndang na gabe anak secara biologis hita alai lobi sian status biologis, gabe anak hita songon Kristus na gabe anak ni Debata. Berarti molo anak ni Debata do hita nungnga ingkon mian be Debata di ngolunta, berarti ingkon nga sarupa be parulaonta nang pingkiranta songon parulaon dohot pingkiran ni Debata. Ndang marimbar be anak sian bapana (Luk. 20:34, 36; Joh. 5:17-27). Asa gabe boi manisia manjouhon Abba tu Debata. Molo abba di tradisi ni halak Jahudi ima panjouon ni sahalak dakdanak na poso na jonok dohot amana. Panjouonon holan dijouhon ianakhonna tu amana molo sahalak ama na burju do amana i, alai molo so burju amana i ndang dijou abba. Dibuat Debata do hita gabe ianakhonNa ndang na laho mangalului keuntungan di Ibana sambing, justru naeng mamboan manisia i do tu hangoluan.
2.3. Panean di Debata
Songon sahalak anak hita manisia, berarti gabe adong ma hak di hita gabe panean di Debata. Panean na dimaksud di turpukon ndang songon panean di portibi na dijalo di tingki dung mate natuatuana. Ala ndang he mate Debata jala ndang mate Kristus paduahalihon. Na dimaksud gabe panean di Debata di son, ima na dilehon Debata tu manisia hamuliaon na adong di Ibana asa dapotan hangoluan na salelenglelengna manisia i. Panean lapatanna adong pangkirimon tu ari sogot na nilehon ni Debata tu hita, alai molo ta oloi panogihonon ni tondi ni Debata di ngolunta jala molo tahaporseai ulaon ni Jesus di ngolunta. Ai angka halak na tinogihon ni tondi do dohot halak na porsea do na digoari sipanean ni Debata (Rom 4:13-18; Gal. 3:29: 4:7). Na adong di Debata i do na dilehon tu manisia naung gabe ianakhonNa i. Adong keistimewaan ni manisia di son; ima nungnga diangkat Debata hita gabe ianakhonNa marhite tondi, dibahen muse manisia i gabe panean. Diayat 17 didok manisia na tinogihon ni tondi ni Debata gabe panean di Debata dongan panean ni Kristus lapatanna: ahli waris bersama dengan kristus, yang mewarisi bersama dengan Kristus, lapatanna nungnga gabe sarupa hita dibahen Debata dohot ianakhonNa na sasada i, ima Jesus Kristus, gabe sederajat hita di adopan ni Debata taringot tu panean di Ibana. Tung mansai arga do manisia i di adopanNa asa diangkat hita gabe sarupa dohot Jesus, ima ala naung ditobus Jesus hita sian dosa gabe boi hita sada dohot Ibana, on ma dalanna gabe dongan panean ni Kristus hita ala naung sada hita di bagasan panobusanNa.
2.4. Sitaonon na manjangkon hasangapon
Di ayat parpudion boi do berengonta sada peneguhan sian si Paulus tu huria Rom na di hatiha i na di bagasan haporsuhon. Ai pola do adong penyiksaan tu saluhut halak Kristen na adong di Rom di hatiha i. Jala dipaksa angka pangomgomi do saluhut halak Kristen gabe hatoban ima na ingkon marsomba do nasida tu angka raja na manggomgomi di Rom, molo so dioloi parentaon na ingkon hona uhum ma nasida. Alai didok si Pauilus do asa tong satia saluhut angka Kristen na di Rom tung pe hansit dihilala nasida, ai gabe panean di Debata ma nasida sogot. Ai sasintongna nungnga diparade Debata hamonangan ni manisia na porsea, na olo mangalo portibion alai naeng diida Debata boha do jolma i tetap satia tu Debata di hamaolon ni portibion.
III. Aplikasi
1. Sahalak dakdanak na asing ndatung mungkin sah gabe ianakhon ni sahalak keluarga molo so disyahhon langsung keluarga na mangangkat nasida, songon i do nang status ni jolma na gabe ianakhon ni Debata, ndang sah molo so disahhon Debata sandiri.
2. Dalan laho manjalo tondi ni Debata di parngoluon ni halak Kristen ima marhite pandidion na badia, jadi angka halak naung tardidi nungnga gabe anak ni Debata be i (Ul. Ap. 10:47, 19:2, 1 Kor 6:11, 2 Kor 1:22, 1 Ptr 1:2)
3. Marasing do tondi ni Debata dohot tondi na ni luluan ni manisia sian portibion, isarana songon tondi ni begu ganjang na gok masa saonarion (tarsongononma gombaran ni tondi na so sian Debata). Godang do saonarion na mamiaro tondi begu ganjang alai ingkon gabe hatoban ma ibana tu tondi i, jala ingkon olo ma na mamiaro i mangulahon angka pinangido ni tondi i nangpe maralo tu hata ni Debata. Molo tondi ni Debata berarti Debata na mian di bagasan hita (Rom 8:9, 11; 1 Kor 3:16, 6:19, 2 Kor. 6:16, Joh 14:17, 2 Tim. 1:7). Tondi ni Debata ndang mangkorhon tondi hatoban. Molo hatoban adong sada biar di hatoban tu tuanna, alai molo tondi ni Debata ima tondi ha-anakon do. Tondion ma na palumehon tu hita bahwa hita nungnga gabe anak ni Debata.
4. Angka hamaolon na ta adopi di parngoluonta ima sada dalan na dipangke Debata manguji hasatiaonta tu Debata. Nangpe tataon na hansit di portibion, molo satia do hita pasti do dipamonang Debata hita.
IV. Pangarimpunan
Nungnga hape dilehon Debata tu ngolunta TondiNa asa diajari hita di ngolunta mangalo hagiot ni daging jala mangihuthon lomo ni roha ni Debata. Jala marhite tondi i nungnga hape hita diangkat gabe ianakhonNa, na marlapatan boi hita membina hubungan na jonok dohot Debata. Asa taihuthon ma parange ni Debata di parngoluonta songon anak hita na patut mangihuthon amana asa tarbahen hita gabe panean di Debata, songon panean ni Kristus. Tungpe ta adopi hamaolon di portibion na ingkon ma ta hajugulhon mangulahon lomo ni roha ni Debata, ai ndang sadia sitaonon di hasianganon martimbangkon hasangapon sipapataron tu hita sogot ima na gabe panean na manjalo padan sian Jahowa. Amen
Pdt. Herwin Harianja
"Khotbah Minggu 22 April 2012 Roma 8:14-18"
Thema: “Hidup dalam Janji Allah”
Pendahuluan
Di dunia perfilman ada disebut FFI (Festival Film Indonesia) yang merupakan ajang/ivent penghargan tertinggi bagi dunia perfilman di Indonesia. Dalam ajang ini, bagi pemenang dianugrahkan Piala Citra (Di Amerika dikenal Piala Academy Award) . Demikian juga dalam ajang Miss Indonesia atau Miss World (Dunia), bagi pemenang tidak saja diberikan berbagai bonus, tetapi juga dianugrahi gelar wanita tercantik se Indonesia atau se duania ditandai pemberian mahkota yang gemerlap menambah keagungan dan kecantikan seorang miss. Kita menyaksikan mereka yang terpilih memperlihatkan luapan kegembiraan yang luar biasa, bahkan ada yang meneteskan air mata karena terharu dan bersyukur. Jika mereka yang dianugrahi penghargaan dunia ini yang tidak kekal, bersifat sementara, demikian bersyukur, tentu lebih-lebih lagi kita sebagai anak-anak Tuhan, sebagai orang percaya. Mengapa? Karena kepada semua orang yang percaya kepada Yesus Krisstus dianugrahkan anugrah yang paling berharga yakni Piala Keselamatan (Mahkota Kehidupan [1]). Yang luar biasa, yang membuat kita terharu dan bersyukur adalah karena sebenarnya Piala Hukuman Kekal yang seharusnya diberikan sebagai hadiah atas dosa-dosa kita, tetapi oleh karena Kasih Karunia Allah di dalam Yesus Kristus kepada kita dianugrahkan Piala Kehidupan kekal (Piala Keselamatan). Piala ini seharusnya tidak hanya disyukuri tetapi dipertahankan dengan tekad sekali menjadi milik kita tetap menjadi milik kita dengan menggenggamnya erat-erat. Bagaimana caranya?
Pendalaman Nas
Perikop kita, Roma 8:14-18 di bawah judul “Hidup oleh Roh” . Paling tidak ada dua hal yang dapat kita mengerti dari judul ini. Pertama, setiap orang yang ada dalam Kristus Yesus, sebagaimana penegasan Paulus dalam Roma 8:1, tidak ada lagi penghukuman baginya, ia akan hidup di dalam Roh . Kedua, hidup oleh Roh berarti sebagaimana yang dikemukakan Paulus dalam Galatia 2:20 “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku”.
Dalam ayat 14-16, Paulus kembali menegaskan bahwa setiap orang tanpa terkecuali yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah. Indikator bahwa seseorang adalah anak Allah jikalau hidupnya dipimpin Roh Kudus, bukan roh perbudakan. Roh Perbudakan memimpin orang hidup dalam ketakutan, kecemasan dan ketidak pastian, sebaliknya Roh Kudus memimpin orang menjadi berkemampuan untuk berdoa dan dilayakkan menyapa Allah sebagai Bapa (Ya Abba, ya Bapa)[2]. Doa kita kepada Bapa di Sorga merupakan kesaksian hati, kesaksian roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan pada saat kita berdoa, Roh Allah menolong kita dalam doa, sama seperti apa yang dikatakan dalam Roma 8:26-27. Dengan demikian Dia ikut bersaksi kepada roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah.
Jadi jika kita menerimaNya, kita yakin dapat melakukan apa yang diharapkan karena kita didiami Roh Allah[3], dan kita tahu bahwa didiami bukan hanya karena kita "berseru, 'ya Abba, ya Bapa!'", tetapi juga karena kesaksian Roh Allah yang ada di dalam diri kita sendiri. Tidak hanya itu, Roh Kudus juga memimpin kita untuk berani bersaksi, berani menyatakan dirinya sebagai anak-anak Allah bagi dunia ini. Dalam hal ini kita dapat belajar melalui kehidupan para hambanya dalam Alkitab, antara lain: (1) Stefanus. Ia berani mati, bahkan sampai mati dilampari batu ketika ia dengan berani menyatakan kesaksiannya mengenai Yesus Kristus sebagai Mesias[4]; (2) Paulus dengan tegas mengatakan “celaka aku jika tidak memberitakan Injil”[5]; (3) Nabi Jeremia mengatakan: "Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya", maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup”.[6]
Dalam ayat 17-18, Pulus juga mengemukakan dua hal penting untuk dipahami sebagai anak-anak. Pertama, kita dinyatakan sebagai ahli waris. Dalam pengangkatan kita sebagai anak Allah (adopsi) di dalam percaya kepada Yesus Kristus Sang Anak Allah yang sejati, kita sesungguhnya terhisab ke dalam keluarga yang baru, keluarga Allah bersama dengan Yesus Kristus untuk mewarisi segala kekayaan dan kemuliaan Allah di dalam Kerajaan Sorga.
Kedua, menderita bersama Kristus. Paulus juga mengingatkan bahwa kehidupan yang berkemenangan di dalam Roh bukan suatu jalan yang mudah dilewati. Yesus menderita, dan kita yang mengikuti-Nya juga akan menderita. Penderitaan ini dianggap menderita bersama dengan Dia (bd. 2Kor 1:5; Fili 3:10; Kol 1:24; 2Tim 2:11-12), dan merupakan akibat atau konsekwensi dari hubungan kita dengan Allah sebagai anak, kemanunggalan kita dengan Kristus, kesaksian kita bagi Dia, dan penolakan kita untuk menjadi serupa dengan dunia ini (bd. Rom 12:1-2). Namun hal ini seharusnya tidak membuat anak-anak Allah menjadi sedih atau kecewa, bahkan sebaliknya membuat kita semakin bergairah hidup sebagai anak-anak Allah karena penderitaan yang dialami tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan kita terima (ayat 18). Itulah yang mendorong Paulus untuk tetap setia dan sungguh-sunggung maju tak gentar dalam menjalani hidupnya sebagai pengikut Kristus.
Pointer Aplikasi
(1) Sebagai orang percaya kita semua dapat dikatakan sebagai anak-anak Allah, karena dalam percaya kepada Yesus Kristus yang telah bangkit kita sudah menerima anugrah yang mahal itu[7], yakni anugrah pengampunan sehingga kita menjadi layak di hadapanNya dan memanggil Allah ya Abba, ya Bapa. Status ini seharusnya membuat kita sangat basyukur dan bangga, lebih dari apapun. Tetapi benarkah demikian? Mari kita menguji diri kita masing-masing tentang benar tidaknya hal tersebut. Yang jelas indikator bahwa seseorang yang disebut anak-anak Allah berdasarkan Firman Tuhan yang menjadi renungan kita adalah:
1. hidupnya dipinpin oleh Roh Kudus, yakni berpikir, berbicara dan bertindak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan.
2. mau dan berani menderita karana status sebagai anak Allah, sebagai orang yang sudah menerima anugrah keselamatan;
3. mempunyai pandangan hidup bahwa kemuliaan Allah dalam hal ini Piala Mahkota Kehidupan menjadi kerinduan lebih dari apa pun, sehingga memiliki pemahaman dan iman sebagaimana Paulus dalam ayat 18 “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita”.
(2) Setiap orang percaya tentu merindukan hidup dipimpin Roh Kudus. Jika benar demikian, tips dibawah ini diharapkan memenuhi harapan kita:
1. membaca Firman Allah (Yohanes 14:26; 15:7,26; 16:13; 2 Timotius 3:16-17).
2. berdoa dengan sungguh-sungguh (Roma 8:26; Kis.Rasul 13:2-3);
3. mendengarkan khotbah dan ajaran yang saleh (2 Timotius 4:1-2; Ibrani 13:7,17);
4. menjalankan penyataan-penyataan Roh (lih. 1 Korintus 12:7-10; 14:6); dan memperhatikan nasihat orang-tua dan para pemimpin Kristen yang dapat diandalkan (Efesus 6:1; Kolose 3:20).
psbrahmana.blogspot.com
Pendahuluan
Di dunia perfilman ada disebut FFI (Festival Film Indonesia) yang merupakan ajang/ivent penghargan tertinggi bagi dunia perfilman di Indonesia. Dalam ajang ini, bagi pemenang dianugrahkan Piala Citra (Di Amerika dikenal Piala Academy Award) . Demikian juga dalam ajang Miss Indonesia atau Miss World (Dunia), bagi pemenang tidak saja diberikan berbagai bonus, tetapi juga dianugrahi gelar wanita tercantik se Indonesia atau se duania ditandai pemberian mahkota yang gemerlap menambah keagungan dan kecantikan seorang miss. Kita menyaksikan mereka yang terpilih memperlihatkan luapan kegembiraan yang luar biasa, bahkan ada yang meneteskan air mata karena terharu dan bersyukur. Jika mereka yang dianugrahi penghargaan dunia ini yang tidak kekal, bersifat sementara, demikian bersyukur, tentu lebih-lebih lagi kita sebagai anak-anak Tuhan, sebagai orang percaya. Mengapa? Karena kepada semua orang yang percaya kepada Yesus Krisstus dianugrahkan anugrah yang paling berharga yakni Piala Keselamatan (Mahkota Kehidupan [1]). Yang luar biasa, yang membuat kita terharu dan bersyukur adalah karena sebenarnya Piala Hukuman Kekal yang seharusnya diberikan sebagai hadiah atas dosa-dosa kita, tetapi oleh karena Kasih Karunia Allah di dalam Yesus Kristus kepada kita dianugrahkan Piala Kehidupan kekal (Piala Keselamatan). Piala ini seharusnya tidak hanya disyukuri tetapi dipertahankan dengan tekad sekali menjadi milik kita tetap menjadi milik kita dengan menggenggamnya erat-erat. Bagaimana caranya?
Pendalaman Nas
Perikop kita, Roma 8:14-18 di bawah judul “Hidup oleh Roh” . Paling tidak ada dua hal yang dapat kita mengerti dari judul ini. Pertama, setiap orang yang ada dalam Kristus Yesus, sebagaimana penegasan Paulus dalam Roma 8:1, tidak ada lagi penghukuman baginya, ia akan hidup di dalam Roh . Kedua, hidup oleh Roh berarti sebagaimana yang dikemukakan Paulus dalam Galatia 2:20 “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku”.
Dalam ayat 14-16, Paulus kembali menegaskan bahwa setiap orang tanpa terkecuali yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah. Indikator bahwa seseorang adalah anak Allah jikalau hidupnya dipimpin Roh Kudus, bukan roh perbudakan. Roh Perbudakan memimpin orang hidup dalam ketakutan, kecemasan dan ketidak pastian, sebaliknya Roh Kudus memimpin orang menjadi berkemampuan untuk berdoa dan dilayakkan menyapa Allah sebagai Bapa (Ya Abba, ya Bapa)[2]. Doa kita kepada Bapa di Sorga merupakan kesaksian hati, kesaksian roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan pada saat kita berdoa, Roh Allah menolong kita dalam doa, sama seperti apa yang dikatakan dalam Roma 8:26-27. Dengan demikian Dia ikut bersaksi kepada roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah.
Jadi jika kita menerimaNya, kita yakin dapat melakukan apa yang diharapkan karena kita didiami Roh Allah[3], dan kita tahu bahwa didiami bukan hanya karena kita "berseru, 'ya Abba, ya Bapa!'", tetapi juga karena kesaksian Roh Allah yang ada di dalam diri kita sendiri. Tidak hanya itu, Roh Kudus juga memimpin kita untuk berani bersaksi, berani menyatakan dirinya sebagai anak-anak Allah bagi dunia ini. Dalam hal ini kita dapat belajar melalui kehidupan para hambanya dalam Alkitab, antara lain: (1) Stefanus. Ia berani mati, bahkan sampai mati dilampari batu ketika ia dengan berani menyatakan kesaksiannya mengenai Yesus Kristus sebagai Mesias[4]; (2) Paulus dengan tegas mengatakan “celaka aku jika tidak memberitakan Injil”[5]; (3) Nabi Jeremia mengatakan: "Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya", maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup”.[6]
Dalam ayat 17-18, Pulus juga mengemukakan dua hal penting untuk dipahami sebagai anak-anak. Pertama, kita dinyatakan sebagai ahli waris. Dalam pengangkatan kita sebagai anak Allah (adopsi) di dalam percaya kepada Yesus Kristus Sang Anak Allah yang sejati, kita sesungguhnya terhisab ke dalam keluarga yang baru, keluarga Allah bersama dengan Yesus Kristus untuk mewarisi segala kekayaan dan kemuliaan Allah di dalam Kerajaan Sorga.
Kedua, menderita bersama Kristus. Paulus juga mengingatkan bahwa kehidupan yang berkemenangan di dalam Roh bukan suatu jalan yang mudah dilewati. Yesus menderita, dan kita yang mengikuti-Nya juga akan menderita. Penderitaan ini dianggap menderita bersama dengan Dia (bd. 2Kor 1:5; Fili 3:10; Kol 1:24; 2Tim 2:11-12), dan merupakan akibat atau konsekwensi dari hubungan kita dengan Allah sebagai anak, kemanunggalan kita dengan Kristus, kesaksian kita bagi Dia, dan penolakan kita untuk menjadi serupa dengan dunia ini (bd. Rom 12:1-2). Namun hal ini seharusnya tidak membuat anak-anak Allah menjadi sedih atau kecewa, bahkan sebaliknya membuat kita semakin bergairah hidup sebagai anak-anak Allah karena penderitaan yang dialami tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan kita terima (ayat 18). Itulah yang mendorong Paulus untuk tetap setia dan sungguh-sunggung maju tak gentar dalam menjalani hidupnya sebagai pengikut Kristus.
Pointer Aplikasi
(1) Sebagai orang percaya kita semua dapat dikatakan sebagai anak-anak Allah, karena dalam percaya kepada Yesus Kristus yang telah bangkit kita sudah menerima anugrah yang mahal itu[7], yakni anugrah pengampunan sehingga kita menjadi layak di hadapanNya dan memanggil Allah ya Abba, ya Bapa. Status ini seharusnya membuat kita sangat basyukur dan bangga, lebih dari apapun. Tetapi benarkah demikian? Mari kita menguji diri kita masing-masing tentang benar tidaknya hal tersebut. Yang jelas indikator bahwa seseorang yang disebut anak-anak Allah berdasarkan Firman Tuhan yang menjadi renungan kita adalah:
1. hidupnya dipinpin oleh Roh Kudus, yakni berpikir, berbicara dan bertindak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan.
2. mau dan berani menderita karana status sebagai anak Allah, sebagai orang yang sudah menerima anugrah keselamatan;
3. mempunyai pandangan hidup bahwa kemuliaan Allah dalam hal ini Piala Mahkota Kehidupan menjadi kerinduan lebih dari apa pun, sehingga memiliki pemahaman dan iman sebagaimana Paulus dalam ayat 18 “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita”.
(2) Setiap orang percaya tentu merindukan hidup dipimpin Roh Kudus. Jika benar demikian, tips dibawah ini diharapkan memenuhi harapan kita:
1. membaca Firman Allah (Yohanes 14:26; 15:7,26; 16:13; 2 Timotius 3:16-17).
2. berdoa dengan sungguh-sungguh (Roma 8:26; Kis.Rasul 13:2-3);
3. mendengarkan khotbah dan ajaran yang saleh (2 Timotius 4:1-2; Ibrani 13:7,17);
4. menjalankan penyataan-penyataan Roh (lih. 1 Korintus 12:7-10; 14:6); dan memperhatikan nasihat orang-tua dan para pemimpin Kristen yang dapat diandalkan (Efesus 6:1; Kolose 3:20).
psbrahmana.blogspot.com
Jumat, 13 April 2012
"1 Yohanes 1:1-7 (Khotbah Minggu, 15 April 2012)"
Gereja Adalah Persekutuan Dalam Hidup Yang Kekal
Pendahuluan
Dalam setiap persidangan yang dilakukan di Pengadilan Negeri, harus memenuhi unsur: Hakim, Panitera, Jaksa Penuntut, Pembela (Pengacara), Terdakwa dan Saksi. Saksi dalam persidangan biasanya adalah orang yang mendengar atau melihat langsung suatu perkara atau kejadian. Namun adakalanya, seorang saksi diminta keterangannya sebagai narasumber karena keahliannya dalam suatu bidang, inilah yang disebut sebagai saksi ahli. Keterangan para saksi ini perlu didengar, bahkan merupakan suatu hal yang sangat penting karena menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi hakim untuk memutuskan perkara.
Demikian juga dengan Yohanes, dia menuliskan kesaksian-nya kepada setiap orang tentang Yesus yang bangkit dari kematian. Agar melalui kesaksiannya ini, Jemaat yang semula pro dan kontra tentang kebangkitan Yesus menjadi memiliki pertimbangan untuk percaya bahwa Tuhan Yesus adalah benar-benar Mesias yang telah bangkit dari kematian.
Penjelasan
(Ayat 1-4) Saksi Kristus
Dalam kesaksiannya Yohanes menuliskan; “…kami dengar,…kami lihat,…kami saksikan,…kami raba… tentang Firman Hidup…” (ay. 1). Hal ini berarti dia merupakan saksi yang dapat dipercaya sebab dia mendengar langsung, melihat langsung, bahkan meraba secara langsung Firman Hidup itu, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Sehingga orang tidak perlu lagi meragukan kesaksiannya.
Friman Hidup akan membimbing, mengarahkan dan menuntun manusia dalam perjalanan waktu yang ia miliki. Apa yang selama ini telah rusak oleh dosa, sekarang di dalam Firman Hidup telah diperbaiki maka manusia akan menghasilkan persekutuan yang baik antara manusia dengan manusia dan manusia dengan Allah. Firman Hidup juga telah mengubah kematian kekal menjadi kehidupan kekal.
(Ayat 5) Terang dan Kegelapan
Yohanes mau menegur, mengutuk para pendusta yang mengatakan bahwa ia mengenal Allah namun tidak melakukan perintah-perintah Allah. Mereka mengklaim bahwa mereka mempunyai pengetahuan yang khusus tentang Allah tetapi tingkah-lakunya sama sekali jauh dari tuntutan etika Kristen. Dengan tegas Yohanes mengatakan bahwa Allah adalah terang, sehingga anak-anak terang tidak dapat hidup dalam dua dunia, yaitu terang sekaligus gelap. Sebab di dalam terang tidak ada kegelapan, tidak ada yang tersembunyi.
Terang berfungsi menuntun, membimbing perjalanan hidup manusia. Terang juga menunjukkan segala perbuatan manusia yang salah dan mengarahkannya ke dalam kebenaran. Dalam tulisan lain, Rasul Paulus menerangkan arti terang dan kegelapan itu sebagai berikut: “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,” (Ef. 5:8-9).
Kegelapan menunjukkan kepada kehidupan yang terisah dari Yesus. Orang yang berjalan dalam kegelapan adalah orang yang tidak tahu dan tidak mengerti kemana ia harus pergi (Yoh. 12:35). Orang yang hidup dalam kegelapan adalah orang yang hidup dalam kekacau-balauan, ia tidak punya aturan, makna hidup dan tanpa moral.
(Ayat 6-7) Hidup Dalam Persekutuan
Ada orang yang menganggap dirinya sudah berkembang secara intelektual dan spiritual tetapi dalam hidupnya sehari-hari tidak menunjukkan perkembangan intelektual dan spiritualnya. Orang-orang seperti inilah yang dikecam Yohanes dalam kesaksiannya ini, orang seperti itu adalah pendusta. Allah adalah terang maka orang-orang yang bersekutu dengan Dia haruslah berjalan di dalam terang.
Dengan pemikiran yang keliru tersebut maka tentang ‘kebenaran’ juga menjadi keliru. Sebab bagaimana mungkin seseorang yang berjalan dalam kegelapan mengatakan telah melakukan kebenaran. Kebenaran bukan hanya bagaimana berpikir benar (kekristenan dalam diskusi) tetapi bagaimana seorang Kristen berpikir benar dan melakukan yang benar kepada Allah dan kepada sesama. Orang yang berpikir dan melakukan yang benar; maka yang terjadi dalam hidupnya sehari-hari adalah proses pembersihan dalam dirinya dari segala macam dosa. Yohanes mengingatkan; pengorbanan Kristus sebagai suatu yang tidak saja menebus dosa-dosa manusia di masa lampau tetapi juga memperlengkapi manusia di dalam kekudusan hari demi hari, bahkan sampai hari kesudahan.
Refleksi
Bersaksi adalah amanat Tuhan Yesus kepada orang-orang percaya (band. Mat. 28:19-20), hal ini berarti bahwa setiap orang Kristen HARUS menjadi saksi-saksi Kristus dimana pun berada. Cara menjadi saksi Kristus bukan hanya dalam bentuk verbal (kata-kata) semata, namun menyampaikan Firman juga harus dilakukan dalam bentuk nyata, yaitu perbuatan atau aksi.
Dalam sebuah seminar yang mendiskusikan tentang “Yesus Kristus” panitia mengundang tiga orang pembicara (narasumber). Dalam diskusi yang hangat tersebut panitia memberikan waktu satum jam untuk setiap pembicara untuk menyampaikan paparannya. Setelah para pembicara menyampaikan paparannya, langsung dilanjutkan dengan tanya-jawab. Dari ketiga pembicara itu ada seorang yang sangat baik menyampaikan paparannya mengenal Yesus Kristus, bahkan dalam diskusi, ia mampu menjawab semua pertanyaan peserta dengan baik dan memuaskan. Ia memndapat ‘applaus’ dan ucapa selamat dari para peserta yang terkagum-kagum oleh kepandaian dan keahliannya. Namun ketika salah seorang peserta bertanya kepadanya, “Bapak berasal dari jemaat mana?” Pembicara itu menjawab, “Saya tidak menjadi anggota jemaat gereja mana pun!” mendengar jawaban itu, seketika para peserta terkejut dan terperanjat.
Ada banyak orang yang tahu tentang Firman Tuhan tetapi hidupnya tidak melakukan Firman itu. Dalam hal ini; anank-anak terang harus hidup dalam persekutuan dengan Allah dan dengan sesama. Ada banyak orang yang menjadikan Firman Tuhan itu sebagai pelajaran intelektual semata, padahal seharusnya pengetahuan tentang Firman itu diberlakukan juga dalam hidup sehari-hari.
Pada zaman Tuhan Yesus; ahli-ahli Taurat sungguh memahami arti dan makna hukum Taurat namun tidak ditunjukkan dalam hidup kesehariannya. Berbeda dengan orang Samaria yang baik hati itu. Ia tidak hanya mengerti namun ia juga melakukannya (Luk. 10:25-37). Saksi Kristus bararti melakukan kasih kepada sesama manusia. Amin.
Di Cophy dari Marparbue
Pendahuluan
Dalam setiap persidangan yang dilakukan di Pengadilan Negeri, harus memenuhi unsur: Hakim, Panitera, Jaksa Penuntut, Pembela (Pengacara), Terdakwa dan Saksi. Saksi dalam persidangan biasanya adalah orang yang mendengar atau melihat langsung suatu perkara atau kejadian. Namun adakalanya, seorang saksi diminta keterangannya sebagai narasumber karena keahliannya dalam suatu bidang, inilah yang disebut sebagai saksi ahli. Keterangan para saksi ini perlu didengar, bahkan merupakan suatu hal yang sangat penting karena menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi hakim untuk memutuskan perkara.
Demikian juga dengan Yohanes, dia menuliskan kesaksian-nya kepada setiap orang tentang Yesus yang bangkit dari kematian. Agar melalui kesaksiannya ini, Jemaat yang semula pro dan kontra tentang kebangkitan Yesus menjadi memiliki pertimbangan untuk percaya bahwa Tuhan Yesus adalah benar-benar Mesias yang telah bangkit dari kematian.
Penjelasan
(Ayat 1-4) Saksi Kristus
Dalam kesaksiannya Yohanes menuliskan; “…kami dengar,…kami lihat,…kami saksikan,…kami raba… tentang Firman Hidup…” (ay. 1). Hal ini berarti dia merupakan saksi yang dapat dipercaya sebab dia mendengar langsung, melihat langsung, bahkan meraba secara langsung Firman Hidup itu, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Sehingga orang tidak perlu lagi meragukan kesaksiannya.
Friman Hidup akan membimbing, mengarahkan dan menuntun manusia dalam perjalanan waktu yang ia miliki. Apa yang selama ini telah rusak oleh dosa, sekarang di dalam Firman Hidup telah diperbaiki maka manusia akan menghasilkan persekutuan yang baik antara manusia dengan manusia dan manusia dengan Allah. Firman Hidup juga telah mengubah kematian kekal menjadi kehidupan kekal.
(Ayat 5) Terang dan Kegelapan
Yohanes mau menegur, mengutuk para pendusta yang mengatakan bahwa ia mengenal Allah namun tidak melakukan perintah-perintah Allah. Mereka mengklaim bahwa mereka mempunyai pengetahuan yang khusus tentang Allah tetapi tingkah-lakunya sama sekali jauh dari tuntutan etika Kristen. Dengan tegas Yohanes mengatakan bahwa Allah adalah terang, sehingga anak-anak terang tidak dapat hidup dalam dua dunia, yaitu terang sekaligus gelap. Sebab di dalam terang tidak ada kegelapan, tidak ada yang tersembunyi.
Terang berfungsi menuntun, membimbing perjalanan hidup manusia. Terang juga menunjukkan segala perbuatan manusia yang salah dan mengarahkannya ke dalam kebenaran. Dalam tulisan lain, Rasul Paulus menerangkan arti terang dan kegelapan itu sebagai berikut: “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,” (Ef. 5:8-9).
Kegelapan menunjukkan kepada kehidupan yang terisah dari Yesus. Orang yang berjalan dalam kegelapan adalah orang yang tidak tahu dan tidak mengerti kemana ia harus pergi (Yoh. 12:35). Orang yang hidup dalam kegelapan adalah orang yang hidup dalam kekacau-balauan, ia tidak punya aturan, makna hidup dan tanpa moral.
(Ayat 6-7) Hidup Dalam Persekutuan
Ada orang yang menganggap dirinya sudah berkembang secara intelektual dan spiritual tetapi dalam hidupnya sehari-hari tidak menunjukkan perkembangan intelektual dan spiritualnya. Orang-orang seperti inilah yang dikecam Yohanes dalam kesaksiannya ini, orang seperti itu adalah pendusta. Allah adalah terang maka orang-orang yang bersekutu dengan Dia haruslah berjalan di dalam terang.
Dengan pemikiran yang keliru tersebut maka tentang ‘kebenaran’ juga menjadi keliru. Sebab bagaimana mungkin seseorang yang berjalan dalam kegelapan mengatakan telah melakukan kebenaran. Kebenaran bukan hanya bagaimana berpikir benar (kekristenan dalam diskusi) tetapi bagaimana seorang Kristen berpikir benar dan melakukan yang benar kepada Allah dan kepada sesama. Orang yang berpikir dan melakukan yang benar; maka yang terjadi dalam hidupnya sehari-hari adalah proses pembersihan dalam dirinya dari segala macam dosa. Yohanes mengingatkan; pengorbanan Kristus sebagai suatu yang tidak saja menebus dosa-dosa manusia di masa lampau tetapi juga memperlengkapi manusia di dalam kekudusan hari demi hari, bahkan sampai hari kesudahan.
Refleksi
Bersaksi adalah amanat Tuhan Yesus kepada orang-orang percaya (band. Mat. 28:19-20), hal ini berarti bahwa setiap orang Kristen HARUS menjadi saksi-saksi Kristus dimana pun berada. Cara menjadi saksi Kristus bukan hanya dalam bentuk verbal (kata-kata) semata, namun menyampaikan Firman juga harus dilakukan dalam bentuk nyata, yaitu perbuatan atau aksi.
Dalam sebuah seminar yang mendiskusikan tentang “Yesus Kristus” panitia mengundang tiga orang pembicara (narasumber). Dalam diskusi yang hangat tersebut panitia memberikan waktu satum jam untuk setiap pembicara untuk menyampaikan paparannya. Setelah para pembicara menyampaikan paparannya, langsung dilanjutkan dengan tanya-jawab. Dari ketiga pembicara itu ada seorang yang sangat baik menyampaikan paparannya mengenal Yesus Kristus, bahkan dalam diskusi, ia mampu menjawab semua pertanyaan peserta dengan baik dan memuaskan. Ia memndapat ‘applaus’ dan ucapa selamat dari para peserta yang terkagum-kagum oleh kepandaian dan keahliannya. Namun ketika salah seorang peserta bertanya kepadanya, “Bapak berasal dari jemaat mana?” Pembicara itu menjawab, “Saya tidak menjadi anggota jemaat gereja mana pun!” mendengar jawaban itu, seketika para peserta terkejut dan terperanjat.
Ada banyak orang yang tahu tentang Firman Tuhan tetapi hidupnya tidak melakukan Firman itu. Dalam hal ini; anank-anak terang harus hidup dalam persekutuan dengan Allah dan dengan sesama. Ada banyak orang yang menjadikan Firman Tuhan itu sebagai pelajaran intelektual semata, padahal seharusnya pengetahuan tentang Firman itu diberlakukan juga dalam hidup sehari-hari.
Pada zaman Tuhan Yesus; ahli-ahli Taurat sungguh memahami arti dan makna hukum Taurat namun tidak ditunjukkan dalam hidup kesehariannya. Berbeda dengan orang Samaria yang baik hati itu. Ia tidak hanya mengerti namun ia juga melakukannya (Luk. 10:25-37). Saksi Kristus bararti melakukan kasih kepada sesama manusia. Amin.
Di Cophy dari Marparbue
Langganan:
Postingan (Atom)