Pelajaran 6
Keluaran
(Kitab Mengenai Penebusan)
Penulis dan Judul Kitab: Kitab ini ditulis oleh Musa. Kata “Exodus” (Keluaran) adalah bahasa Latin yang diambil dari bahasa Yunani EXODOS, dan kitab tersebut diberikan nama yang oleh mereka diterjemahkan ke dalam bahasa Septuaginta Yunani (LXX). Kata tersebut bermakna “keluar”.
Tahun Penulisan: 1450–1410 S.M.
Tema dan Tujuan: Ada dua tema yang tersingkap dari Keluaran ini: (1) Penebusan sebagaimana digambarkan di dalam Paskah, dan (2) pelepasan dari perbudakan Mesir sebagaimana digambarkan keluar dari tanah Mesir dan menyeberangi Laut Merah.
Setelah lebih dari dua ratus tahun bertumbuh di Mesir, Kitab Keluaran terus menceritakan sejarah bangsa pilihan Allah, bangsa Israel, dan menjelaskan penyelamatan mereka keluar dari Mesir dan pemberian hukum Taurat. Ini menjelaskan tentang kelahiran, sejarah, dan panggilan Musa dari Tuhan untuk memimpin umat itu keluar dari perbudakan mereka di Mesir dan masuk ke dalam Tanah Perjanjian, yaitu tanah Kanaan. Melalui domba Paskah, penyelamatan anak sulung, bersamaan dengan mujizat dari sepuluh tulah, dan penyeberangan Laut Merah, Allah menunjukkan kepada umat-Nya bahwa Ia tidak hanya berkuasa dari para Firaun Mesir, namun Ia adalah TUHAN yang Berdaulat, YAHWE, Allah yang menebus dan pemberi wahyu.
Setelah bangsa itu menyeberang Laut Merah dan tiba di padang gurun, Allah memberikan kepada mereka hukum kebenaran-Nya dan mengumumkan bahwa mereka adalah milik berharga bagi Dia dan menjadi imamat rajani, bangsa yang kudus sebagai saksi bagi bangsa-bangsa (Keluaran 19:4-7). Hukum Taurat ini, termasuk di dalamnya Sepuluh Perintah, yang mendemonstrasikan kesucian Allah, mengajar mereka bagaimana mengasihi Allah dan mengasihi sesame, namun dalam prosesnya, itu juga mendemonstrasikan betapa semua orang telah jatuh dan kehilangan kemuliaan Allah dan memerlukan jalan akses kepada Allah yang memberikan pengampunan. Inilah perlunya dibuat Kemah Suci, persembahan korban-korban bakaran, dan Keimamatan Lewi.
Tokoh Penting: Musa, Harun, Miriam, dan Firaun
Kristus seperti yang Tergambar dalam Keluaran: Walaupun Kitab Keluaran tidak berisi nubuatan langsung tentang Kristus, namun ada sejumlah type yang indah tentang sang Juruselamat. Dalam berbagai cara, Musa ditunjukkan sebagai type Kristus. Ulangan 18:15 menunjukkan bahwa Musa, sebagai nabi, menggambarkan Kristus. Baik penyelamatannya ketika ada dalam bahaya pembunuhan pada waktu ia masih bayi, kuasanya untuk menyelamatkan yang lain, dan fungsinya sebagai perantara, pemberi hukum, dan penyelamat.
Pasakh adalah type spesifik tentang Kristus sebagai anak Domba Allah yang tanpa dosa (Yohanes 1:29; 36; 1 Korintus 5:7).
Tujuh hari raya besar, masing-masing merupakan gambaran dari beberapa aspek sang Juruselamat.
Kisah Keluaran sendiri, yang Paulus hubungkan dengan baptisan, menggambarkan persekutuan kita dengan Kristus dalam kematian, penguburan, dan kebangkitan-Nya (1 Korintus 10:1-2; Roma 6:2-3)
Manna dan Air keduanya digambarkan sebagai gambaran-gambaran Kristus (Yohanes 6:31-35, 48-63; 1 Korintus 10:3-4).
Kemah Suci menggambarkan sang Juruselamat dalam hal peralatan, warna, furnitur, pengaturan, dan korban-korban yang dipersembahkan di sana (Ibrani 9:1–10:18).
Imam besar merupakan bayangan yang sangat jelas dari pribadi dan pelayanan Kristus (Ibrani 4:14-16; 9:11-12, 24-28).
Untuk Pelajaran Pribadi: ttg Garis Besar
1. Pembebasan dari Mesir (1:1-18:27)
A. Dalam Masa Perhambaan (Perbudakan) (1:1–12:32)
1:1-7 5:1-23 9:8-17
1:8-14 6:1-13 9:18-35
1:15-22 6:14-30 10:1-20
2:1-14 7:1-7 10:21-29
2:15-25 7:8-13 11:1-10
3:1-9 7:14-25 12:1-13
3:10-22 8:1-15 12:14-22
4:1-13 8:16-32 12:23-32
4:14-31 9:1-7
Perdamaian sangat dibutuhkan pada jaman ini, bagaimana kita bisa berdamai dengan sesama, dengan Tuhan dan diri sendiri.Semua ini hanya dapat kita peroleh dari Dia dan FirmanNya sebagai Madu Surgawi.
Senin, 12 Desember 2011
"Pembinaan Cln Pnt GKPI Rw. Lumbu"
Pelajaran 5
Lima Kitab Pertama
Lima kitab pertama di dalam Alkitab kadang-kadang disebut Pentateuch, yang berarti “lima kitab”. Kitab ini juga dikenal sebagai kitab hukum karena berisi hukum dan perintah-perintah yang disampaikan Tuhan melalui Musa untuk bangsa Israel. Kitab-kitab ini ditulis oleh Musa, kecuali bagian terakhir kitab Ulangan, karena bagian tersebut menceritakan tentang kematiannya. Kelima kitab ini meletakkan dasar mengenai kedatangan Kristus, yang mana Allah memilih dan membawanya menjadi bangsa Israel. Sebagai umat pilihan Allah, Israel menjadi pemelihara Perjanjian Lama, penerima perjanjian, dan bapa leluhur Mesias (Roma 3:2; 9:1-5).
Kejadian
(Kitab Permulaan)
Penulis dan Judul Kitab: Kitab ini ditulis oleh Musa. Sebutan Kejadian berarti “yang awal” dan diambil dari Septuaginta (LXX), yang merupakan penerjemahan bahasa Yunani dari Perjanjian Lama bahasa Ibrani.
Tahun Penulisan: 1450–1410 S.M.
Tema dan Tujuan: Bahkan membaca Kitab Kejadian secara sambil lalu saja sudah mengungkapkan tema utamanya, yaitu berkat dan kutuk. Untuk yang patuh dan beriman, ada berkat seperti di Taman Eden, namun untuk yang tidak patuh, ada kutuk. Seluruh kitab berbicara mengenai tema ini. Tetapi mungkin tema utama merupakan pilihan dari suatu bangsa melalui Abraham dan perjanjian Abraham. Melalui Abraham, Allah berjanji untuk memberkati bangsa itu (Kejadian 12:1-3; 15:1-21).
Kitab Kejadian tidak hanya berarti “permulaan”, namun juga merupakan kitab permulaan. Kitab Kejadian menjadi pusat referensi sejarah bagi kita, dari mana pewahyuan yang berikut dimulai. Di dalam kitab Kejadian, semua tema-tema utama di dalam Alkitab bermula. Inilah kitab yang banyak berisi hal-hal yang permulaan : di dalamnya kita melihat permulaan penciptaan semesta alam ini, pria dan wanita, dosa manusia dan jatuhnya umat manusia, mulanya perjanjian Allah akan keselamatan, dan mulanya bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah, karena tujuan khusus-Nya untuk mereka sebagai bapa leluhur Mesias dan Juruselamat. Di dalam Kejadian kita belajar tentang Adam dan Hawa, tentang Setan si penggoda, tentang Nuh, Air Bah, Abraham, Ishak, Yakub, dan Yusuf beserta saudara-saudaranya. Kita juga belajar tentang awalnya pernikahan, keluarga, pekerjaan, dosa, pembunuhan, hukuman mati, pengorbanan, bangsa-bangsa, bahasa-bahasa, peradaban, hari Sabat, pencobaan pertama membentuk pemerintahan satu dunia, dan Babilonia (agama disebarkan di Menara Babel). Alkitab merupakan pewahyuan historis. Catatan kegiatan Allah dalam sejarah.
Sebuah kalimat yang umum ditemukan di dalam Kejadian adalah “inilah generasi dari”. Kalimat tersebut ditulis sebelas kali untuk memperkenalkan bagian berikutnya kepada pembaca, yang memberikan informasi mengenai apa yang terjadi sehubungan dengan peristiwa-peristiwa penting dan manusia, mulai dari penciptaan langit dan bumi hingga ke segenap kepala keluarga Israel.
Tokoh Penting: Adam, Hawa, Nuh, Abraham, Sarah, Ishak, Ribka, Esau, Yakub, Rahel, Yusuf.
Kristus seperti yang Tergambar dalam Kejadian–Secara nubuatan: segera setelah kejatuhan, janji keselamatan diberikan kepada keturunan perempuan itu (3:15), namun kemudian hubungan Mesias disampaikan dengan jelas di seluruh Kejadian : garis keturunan Set (4:25), keturunan Sem (9:26), keluarga Abraham (12:3), keturunan Ishak (26:3), anak-anak Yakub (46:3), dan suku Yehuda (49:10).
Di dalam Kejadian, ada beberapa “tipologi-tipologi” utama yang menggambarkan Juruselamat. Adam adalah tipologi dari Kristus (Roma 5:14).
Adam adalah yang pertama dari penciptaan yang lama, dan Kristus adalah yang pertama dari penciptaan baru secara rohani.
Korban darah Habel merujuk pada Kristus yang mati bagi kita. Pembunuhan Habel yang dilakukan Kain juga dapat menggambarkan kematian Kristus.
Melkisedek sebagai raja dan imam juga sebagai tipologi Kristus (Ibrani 7:3).
Yusuf, yang sangat disayangi oleh ayahnya, dikhianati oleh saudara-saudaranya, namun menjadi jalan keselamatan yang melambangkan Kristus.
Untuk Pelajaran Pribadi: ttg Garis Besar
Berikanlan judul untuk bagian-bagian yang tidak diberi judul. Dengan judul yang anda berikan, cobalah untuk menunjukkan hubungan dari satu bagian ke bagian yang lain. Misalnya, di dalam bagian “C” dari yang berikut, murid dapat memberikan judul :
1) Persiapan Nuh menghadapi Air Bah
2) Nuh selama Air Bah
3) Air Bah surut
4) Perjanjian dengan Nuh
5) Keluarga Nuh
1. Empat Peristiwa (1:1–11:32)
A. Penciptaan Bumi dan Manusia (1:1–2:25)
1:1–2:3 2:4-25
B. Kerusakan Manusia, Kejatuhan (3:1–5:32)
3:1-24 4:1-24 4:25–5:32
C. Manusia dimusnahkan, Air Bah (6:1–9:29)
6:1-22 8:1-22 9:18-29
7:1-24 9:1-17
D. Penyebaran Manusia, Bangsa-bangsa (10:1–11:32)
10:1-32 11:1-9
11:10-31
2. Empat Orang : Pemilihan suatu Bangsa dan Persiapan Sang Penebus (12:1–50:26)
A. Abraham (Bapa orang beriman dan Bangsa Israel) (12:1–23:20)
12:1-20 17:1-27 21:1-34
13:1-18 18:1-33 22:1-24
14:1-16 19:1-29 23:1-20
14:17-21 19:30-38
16:1-16 20:1-18
B. Ishak (Anak Perjanjian) (24:1–26:35)
24:1-67 25:19-34 26:26-35
25:1-11 26:1-17
25:12-18 26:18-25
C. Yakub (Rencana dan Penghukuman) (27:1-36:43)
27:1-46 31:1-55 34:1-31
28:1-22 32:1-23 35:1-8
29:1-35 32:24-32 35:9-29
30:1-43 33:1-20 36:1-43
D. Yusuf (Penderitaan dan Kemuliaan) (37:1–50:26)
37:1-36 40:1-41:57 49:1-50:21
38:1-30 42:1-45:28 50:22-26
39:1-23 46:1-48:22
Lima Kitab Pertama
Lima kitab pertama di dalam Alkitab kadang-kadang disebut Pentateuch, yang berarti “lima kitab”. Kitab ini juga dikenal sebagai kitab hukum karena berisi hukum dan perintah-perintah yang disampaikan Tuhan melalui Musa untuk bangsa Israel. Kitab-kitab ini ditulis oleh Musa, kecuali bagian terakhir kitab Ulangan, karena bagian tersebut menceritakan tentang kematiannya. Kelima kitab ini meletakkan dasar mengenai kedatangan Kristus, yang mana Allah memilih dan membawanya menjadi bangsa Israel. Sebagai umat pilihan Allah, Israel menjadi pemelihara Perjanjian Lama, penerima perjanjian, dan bapa leluhur Mesias (Roma 3:2; 9:1-5).
Kejadian
(Kitab Permulaan)
Penulis dan Judul Kitab: Kitab ini ditulis oleh Musa. Sebutan Kejadian berarti “yang awal” dan diambil dari Septuaginta (LXX), yang merupakan penerjemahan bahasa Yunani dari Perjanjian Lama bahasa Ibrani.
Tahun Penulisan: 1450–1410 S.M.
Tema dan Tujuan: Bahkan membaca Kitab Kejadian secara sambil lalu saja sudah mengungkapkan tema utamanya, yaitu berkat dan kutuk. Untuk yang patuh dan beriman, ada berkat seperti di Taman Eden, namun untuk yang tidak patuh, ada kutuk. Seluruh kitab berbicara mengenai tema ini. Tetapi mungkin tema utama merupakan pilihan dari suatu bangsa melalui Abraham dan perjanjian Abraham. Melalui Abraham, Allah berjanji untuk memberkati bangsa itu (Kejadian 12:1-3; 15:1-21).
Kitab Kejadian tidak hanya berarti “permulaan”, namun juga merupakan kitab permulaan. Kitab Kejadian menjadi pusat referensi sejarah bagi kita, dari mana pewahyuan yang berikut dimulai. Di dalam kitab Kejadian, semua tema-tema utama di dalam Alkitab bermula. Inilah kitab yang banyak berisi hal-hal yang permulaan : di dalamnya kita melihat permulaan penciptaan semesta alam ini, pria dan wanita, dosa manusia dan jatuhnya umat manusia, mulanya perjanjian Allah akan keselamatan, dan mulanya bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah, karena tujuan khusus-Nya untuk mereka sebagai bapa leluhur Mesias dan Juruselamat. Di dalam Kejadian kita belajar tentang Adam dan Hawa, tentang Setan si penggoda, tentang Nuh, Air Bah, Abraham, Ishak, Yakub, dan Yusuf beserta saudara-saudaranya. Kita juga belajar tentang awalnya pernikahan, keluarga, pekerjaan, dosa, pembunuhan, hukuman mati, pengorbanan, bangsa-bangsa, bahasa-bahasa, peradaban, hari Sabat, pencobaan pertama membentuk pemerintahan satu dunia, dan Babilonia (agama disebarkan di Menara Babel). Alkitab merupakan pewahyuan historis. Catatan kegiatan Allah dalam sejarah.
Sebuah kalimat yang umum ditemukan di dalam Kejadian adalah “inilah generasi dari”. Kalimat tersebut ditulis sebelas kali untuk memperkenalkan bagian berikutnya kepada pembaca, yang memberikan informasi mengenai apa yang terjadi sehubungan dengan peristiwa-peristiwa penting dan manusia, mulai dari penciptaan langit dan bumi hingga ke segenap kepala keluarga Israel.
Tokoh Penting: Adam, Hawa, Nuh, Abraham, Sarah, Ishak, Ribka, Esau, Yakub, Rahel, Yusuf.
Kristus seperti yang Tergambar dalam Kejadian–Secara nubuatan: segera setelah kejatuhan, janji keselamatan diberikan kepada keturunan perempuan itu (3:15), namun kemudian hubungan Mesias disampaikan dengan jelas di seluruh Kejadian : garis keturunan Set (4:25), keturunan Sem (9:26), keluarga Abraham (12:3), keturunan Ishak (26:3), anak-anak Yakub (46:3), dan suku Yehuda (49:10).
Di dalam Kejadian, ada beberapa “tipologi-tipologi” utama yang menggambarkan Juruselamat. Adam adalah tipologi dari Kristus (Roma 5:14).
Adam adalah yang pertama dari penciptaan yang lama, dan Kristus adalah yang pertama dari penciptaan baru secara rohani.
Korban darah Habel merujuk pada Kristus yang mati bagi kita. Pembunuhan Habel yang dilakukan Kain juga dapat menggambarkan kematian Kristus.
Melkisedek sebagai raja dan imam juga sebagai tipologi Kristus (Ibrani 7:3).
Yusuf, yang sangat disayangi oleh ayahnya, dikhianati oleh saudara-saudaranya, namun menjadi jalan keselamatan yang melambangkan Kristus.
Untuk Pelajaran Pribadi: ttg Garis Besar
Berikanlan judul untuk bagian-bagian yang tidak diberi judul. Dengan judul yang anda berikan, cobalah untuk menunjukkan hubungan dari satu bagian ke bagian yang lain. Misalnya, di dalam bagian “C” dari yang berikut, murid dapat memberikan judul :
1) Persiapan Nuh menghadapi Air Bah
2) Nuh selama Air Bah
3) Air Bah surut
4) Perjanjian dengan Nuh
5) Keluarga Nuh
1. Empat Peristiwa (1:1–11:32)
A. Penciptaan Bumi dan Manusia (1:1–2:25)
1:1–2:3 2:4-25
B. Kerusakan Manusia, Kejatuhan (3:1–5:32)
3:1-24 4:1-24 4:25–5:32
C. Manusia dimusnahkan, Air Bah (6:1–9:29)
6:1-22 8:1-22 9:18-29
7:1-24 9:1-17
D. Penyebaran Manusia, Bangsa-bangsa (10:1–11:32)
10:1-32 11:1-9
11:10-31
2. Empat Orang : Pemilihan suatu Bangsa dan Persiapan Sang Penebus (12:1–50:26)
A. Abraham (Bapa orang beriman dan Bangsa Israel) (12:1–23:20)
12:1-20 17:1-27 21:1-34
13:1-18 18:1-33 22:1-24
14:1-16 19:1-29 23:1-20
14:17-21 19:30-38
16:1-16 20:1-18
B. Ishak (Anak Perjanjian) (24:1–26:35)
24:1-67 25:19-34 26:26-35
25:1-11 26:1-17
25:12-18 26:18-25
C. Yakub (Rencana dan Penghukuman) (27:1-36:43)
27:1-46 31:1-55 34:1-31
28:1-22 32:1-23 35:1-8
29:1-35 32:24-32 35:9-29
30:1-43 33:1-20 36:1-43
D. Yusuf (Penderitaan dan Kemuliaan) (37:1–50:26)
37:1-36 40:1-41:57 49:1-50:21
38:1-30 42:1-45:28 50:22-26
39:1-23 46:1-48:22
Minggu, 27 November 2011
"KATA - KATA BIJAK"
1. Belajar tersenyum bila masalah datang
2. Tulus seperti merpati supaya jangan menipu, cerdik seperti ular supaya jangan ditipu (berhikmat)
3. Boleh lupa dompet asal jangan lupa doa.
4. Punyailah iman yang dapat melihat kesempatan dalam kesulitan dan bukan melihat kesulitan dalam kesempatan
5. Layanilah Tuhan dengan karunia yang Tuhan berikan, karena banyak yang mampu (melayani) tetapi tidak mau dan banyak yang mau tapi tidak mampu.
6. Jadikan persembahan saudara menjadi penyembahan dan bukan penyesalan
7. Layanilah Tuhan dengan sukacita dan bukan dengan suka-suka
8. Pilihlah makanan saudara sesuai dengan kebutuhan, bukan keinginan
9. Jadilah Kristen yang kritis tetapi jangan penuh kritik
10. Jadikanlah Alkitab sebagai "Obat Kuat" dan bukan "Obat Tidur"
11. Lakukanlah yang benar, bukan apa yang kamu rasa benar
12. Terimalah orang lain apa adanya, bukan "ada apanya".
Humor tentang Korup.
Ada saat2 di mana logika kita sebagai manusia begitu menguasai, sehingga kita akan berkata "tidak mungkin" akan banyak hal.
Tidak mungkin mencapai target yg sudah ditetapkan.
Tidak mungkin mendapatkan apa yang dirindukan.
Tidak mungkin melakukan sesuatu yg besar.
Jangan lupa bahwa kuasa TUHAN bisa membuat segala sesuatu menjadi mungkin. Jika di tahun ini kita sering berada dalam keragu-raguan, apakah sesuatu benar2 bisa terjadi, itu tandanya logika kita sebagai manusia yg sedang berbicara. Di tahun mendatang, yaitu 2012, biarkan TUHAN yg berbicara & biarkan DIA bekerja dgn cara-Nya sendiri untuk menyatakan kuasa-Nya melalui perkara2 yg ajaib & besar.
Ada serombongan manusia yang sedang menunggu pintu masuk neraka.
Mereka dipanggil masuk satu persatu oleh pejabat malaikat yang
bertugas di sana. Di dinding belakang, tergantung puluhan jam dinding
sebagaimana biasa terlihat di bandara. Meski begitu, jam-jam itu
berbeda dengan jam-jam yang ada di dunia. Kalau jam di dunia
menunjukkan posisi waktu yang berbeda-beda untuk berbagai kota tujuan,
jam dinding di neraka berputar lebih cepat dan tidak berfungsi sebagai
penunjuk waktu kota tujuan.
Salah seorang yang agak bingung bertanya kepada malaikat di sana
tentang jam itu. “Oh itu, jam yang tergantung di sana menunjukkan
tingkat kejujuran pejabat pemerintah yang ada di dunia sewaktu Anda
hidup,” jawab sang malaikat.
Sang malaikat menjelaskan, “Semakin jujur pemerintah negara Anda, jam
negara Anda di sini semakin lambat. Sebaliknya, semakin korup pejabat
pemerintah negara Anda, semakin cepat pula jalannya.”
“Coba lihat,” kata seorang yang sedang antri kepada yang lainnya. “Jam negara A berputar kencang. Berarti memang pejabat di negara A itu
banyak yang korupsi.”
“Itu lagi, itu lagi,” seru yang lainnya, “Jam negara B, putaran jamnya
tidak kalah cepat dari jam negara A.”
Mereka semua terlihat menikmati pengetahuan baru itu. Tetapi mereka
mencari-cari, di mana gerangan jam negara C, yang memang terkenal
dengan tingkat korupsinya yang tinggi. Salah seorang dari mereka
memberanikan diri bertanya kepada malaikat tadi.
“Oh, jam negara C …, kami taruh di belakang dapur. Sangat cocok
dijadikan kipas angin!” jawab sang malaikat.
2. Tulus seperti merpati supaya jangan menipu, cerdik seperti ular supaya jangan ditipu (berhikmat)
3. Boleh lupa dompet asal jangan lupa doa.
4. Punyailah iman yang dapat melihat kesempatan dalam kesulitan dan bukan melihat kesulitan dalam kesempatan
5. Layanilah Tuhan dengan karunia yang Tuhan berikan, karena banyak yang mampu (melayani) tetapi tidak mau dan banyak yang mau tapi tidak mampu.
6. Jadikan persembahan saudara menjadi penyembahan dan bukan penyesalan
7. Layanilah Tuhan dengan sukacita dan bukan dengan suka-suka
8. Pilihlah makanan saudara sesuai dengan kebutuhan, bukan keinginan
9. Jadilah Kristen yang kritis tetapi jangan penuh kritik
10. Jadikanlah Alkitab sebagai "Obat Kuat" dan bukan "Obat Tidur"
11. Lakukanlah yang benar, bukan apa yang kamu rasa benar
12. Terimalah orang lain apa adanya, bukan "ada apanya".
Humor tentang Korup.
Ada saat2 di mana logika kita sebagai manusia begitu menguasai, sehingga kita akan berkata "tidak mungkin" akan banyak hal.
Tidak mungkin mencapai target yg sudah ditetapkan.
Tidak mungkin mendapatkan apa yang dirindukan.
Tidak mungkin melakukan sesuatu yg besar.
Jangan lupa bahwa kuasa TUHAN bisa membuat segala sesuatu menjadi mungkin. Jika di tahun ini kita sering berada dalam keragu-raguan, apakah sesuatu benar2 bisa terjadi, itu tandanya logika kita sebagai manusia yg sedang berbicara. Di tahun mendatang, yaitu 2012, biarkan TUHAN yg berbicara & biarkan DIA bekerja dgn cara-Nya sendiri untuk menyatakan kuasa-Nya melalui perkara2 yg ajaib & besar.
Ada serombongan manusia yang sedang menunggu pintu masuk neraka.
Mereka dipanggil masuk satu persatu oleh pejabat malaikat yang
bertugas di sana. Di dinding belakang, tergantung puluhan jam dinding
sebagaimana biasa terlihat di bandara. Meski begitu, jam-jam itu
berbeda dengan jam-jam yang ada di dunia. Kalau jam di dunia
menunjukkan posisi waktu yang berbeda-beda untuk berbagai kota tujuan,
jam dinding di neraka berputar lebih cepat dan tidak berfungsi sebagai
penunjuk waktu kota tujuan.
Salah seorang yang agak bingung bertanya kepada malaikat di sana
tentang jam itu. “Oh itu, jam yang tergantung di sana menunjukkan
tingkat kejujuran pejabat pemerintah yang ada di dunia sewaktu Anda
hidup,” jawab sang malaikat.
Sang malaikat menjelaskan, “Semakin jujur pemerintah negara Anda, jam
negara Anda di sini semakin lambat. Sebaliknya, semakin korup pejabat
pemerintah negara Anda, semakin cepat pula jalannya.”
“Coba lihat,” kata seorang yang sedang antri kepada yang lainnya. “Jam negara A berputar kencang. Berarti memang pejabat di negara A itu
banyak yang korupsi.”
“Itu lagi, itu lagi,” seru yang lainnya, “Jam negara B, putaran jamnya
tidak kalah cepat dari jam negara A.”
Mereka semua terlihat menikmati pengetahuan baru itu. Tetapi mereka
mencari-cari, di mana gerangan jam negara C, yang memang terkenal
dengan tingkat korupsinya yang tinggi. Salah seorang dari mereka
memberanikan diri bertanya kepada malaikat tadi.
“Oh, jam negara C …, kami taruh di belakang dapur. Sangat cocok
dijadikan kipas angin!” jawab sang malaikat.
Pelajaran 4 Cln Pnt GKPI
Persiapan Mempelajari Alkitab
Pada dua bagian terakhir, kita diperkenalkan akan pentingnya mengetahui kejadian-kejadian penting yang terjadi di masa lalu (Bagian 3), serta urutan kapan peristiwa-peristiwa tersebut terjadi (Bagian 4). Kita sedang meletakkan sebuah dasar untuk membantu menjawab sebuah pertanyaan penting yang pasti akan ditanyakan oleh murid yang sedang belajar Alkitab : “Kapan?” Saat kita mencoba mengerti Alkitab, kita mendapatkan diri kita sendiri tidak henti-hentinya mencari jawaban terhadap pertanyaan penting untuk “berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu” (2 Timotius 2:15). Allah mengundang kita untuk membawa semua pertanyaan kita kepada-Nya (Matius 7:7-8).
Pertanyaan-pertanyaan dasar yang pasti akan kita tanyakan dari setiap ayat sangat sederhana: siapa, apa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana? Jawaban-jawabannya harus dipertimbangkan sementara kita tetap harus mengingat dua pertanyaan utama mengenai Kehidupan Kristen: Bagaimana hal ini membantu kita mengembangkan hubungan pribadi yang akrab dengan Tuhan Yesus Kristus kita (Filipi 3:10), dan bagaimana kita seharusnya hidup (Yohanes 7:17)?
A. Enam Pertanyaan Dasar atas Setiap Ayat
1. Siapa?
Saat kita mengajukan pertanyaan “siapa”, ktia sedang berusaha menentukan siapa yang berbicara dan kepada siapa hal itu disampaikan. Satu contoh terlihat di dalam Genesis 22:2, ketika Allah memerintahkan Abraham untuk mengorbankan putranya, anak tunggalnya kepada-Nya. Dalam hal ini, Allah berbicara langsung kepada Abraham, bukan kepada orang lain. Oleh sebab itu, kita, sebagai pendengar Firman, tidak berkewajiban untuk melakukan perintah tersebut.
2. Apa?
Pertanyaan “apa ?” berhubungan dengan realita dari hal yang sedang dikatakan. Yesus Kristus dikatakan sebagai “Anak Domba” dalam Wahyu 5. Itu tidak berarti bahwa Dia adalah seekor mahluk berbulu, berkaki empat, tetapi merujuk kepada pengorbanan-Nya bagi dosa (Yohanes 1:29), itulah “kenyataan” nya.
3. Kapan?
Pertanyaan “kapan” mengarahkan kita kepada batasan waktu di mana suatu ayat tertentu dikatakan. Sebagai contoh, perkawinan Abraham dengan adik tirinya bisa diinterpretasikan sebagai hal yang tidak bermoral sampai pembaca mengerti bahwa perkawinan ini terjadi sebelum Hukum Taurat, yang melarang tindakan seperti itu, diberikan. Karena dosa pribadi bukan menjadi masalah karena tidak adanya hukum (Roma 4:15), kita menyimpulkan bahwa dalam kasus Abraham, perkawinannya itu bukanlah dosa. Jawaban yang jelas terhadap pertanyaan “kapan” ini penting untuk melengkapi pemahaman.
4. Di mana?
Pertanyaan “di mana” berhubungan dengan letak geografis dan kebudayaan di mana suatu ayat ditulis pada saat itu. Seringkali di dalam Alkitab kita menemukan kalimat “sampai ke Yerusalem”. Di dalam banyak kebudayaan, kalimat “sampai ke Yerusalem” berarti mengadakan perjalanan ke arah utara. Namun, maksud secara Alkitabiah berhubungan dengan tingkat dan bukan arah. Ketika Yesus baru tiba dari Galilea dan sedang “menujuk ke Yerusalem”, Dia sebenarnya sedang menuju ke selatan, namun berjalan dengan tingkat yang lebih tinggi.
5. Mengapa?
Pertanyaan “mengapa?” seringkali merupakan pertanyaan yang paling sulit dijawab. Jawabannya paling sering ditemukan saat sedang mempelajari ayat-ayat lainnya. Apabila seseorang membaca ayat di dalam Yesaya 7:14, yang berbunyi, “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel”, suatu pertanyaan yang nyata adalah “mengapa seorang perempuan muda?” Kita mungkin menjawab pertanyaan tersebut dengan, “itu meamng sudah kehendak Allah.” Jawaban itu meskipun benar, namun tidak lengkap.
Ketika kita mencari jawaban, kita akan menemukan ayat di dalam Roma 5 yang menyampaikan pengaruh dosa Adam terhadap umat manusia. Kita menemukan bahwa melalui manusia tersebut, Adam, setiap anggota dari umat manusia mendapatkan Dosa Alami. Apabila Yesus memiliki ayah duniawi, maka Dia juga memiliki Dosa Alami. Jawaban atas pertanyaan “mengapa” dalam hal ini penting sebagai persyaratan Kristus untuk menebus dosa.
6. Bagaimana?
Pertanyaan “bagaimana” juga seringkali sulit untuk dijawab. Kita mungkin bertanya, “Bagaimana Yesus berjalan di atas air ?” Jawabannya sederhana karena Dia berjalan dalam Roh Kudus (Lukas 4:18). Kita juga mungkin bertanya, “Bagaimana Tuhan mengendalikan sejarah ketika umat manusia memiliki kebebasan untuk memilih?” Pertanyaan tersebut tidaklah mudah dijawab, dan kita akan menyelidikanya nanti dalam pelajaran kita.
B. Dua Pertanyaan Pribadi Penting
1. Bagaimana hal ini membantu kita mengembangkan hubungan pribadi yang akrab dengan Tuhan Yesus Kristus kita?
Ini salah satu pertanyaan-pertanyaan penting yang kita ajukan. Pengetahuan yang kita dapatkan dari pelajaran Firman Tuhan harus bersatu dengan iman (Ibrani 11:6), sehingga hubungan kita dengan Tuhan akan bertumbuh. Kita harus mempercayai Firman Tuhan dan bergantung padanya. Hasilnya adalah hubungan dengan Tuhan yang didasarkan pada kasih-Nya dan di luar dari pemahaman manusia. Rasul Paulus mengatakan hal ini dengan jelas dalam Efesus 3:14-19 saat dia menulis :
Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, yang daripada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya. Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.
Apabila kita mempelajari Firman Tuhan hanya untuk alasan intelektual dan bukannya untuk bertumuh di dalam kasih untuk Tuhan dan sesama (Markus 12:29-31), kita menjadi sombong (1 Korintus 8:1). Rasul Paulus, yang mengetahui lebih banyak mengenai ilmu agama dari pada orang lain di bumi ini (2 Korintus 12:1-4), mengungkapkan keinginannya yang terdalam untuk, “mengenal Dia” (Filipi 3:10). Paulus, sebagai seorang Farisi, adalah orang yang sudah melalui pendidikan tinggi, namun sebagai seorang Kristen, dia baru mulai mengejar suatu hubungan penting dengan Allah yang Hidup.
Nantikanlah janji-janji Tuhan, dan yakinlah, sehingga anda dapat “bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus” (2 Petrus 3:18).
2. Kalau begitu, bagaimana kita harus hidup?
Begitu kita mengerti makna dari ayat-ayat yang kita pelajari, kita harus berusaha memahami bagaimana ayat-ayat tersebut berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita diberikan suatu contoh yang indah mengenai konsep ini di dalam Ibrani 12:1-3. Ayat 1 dan 2 berbunyi:
Karena kita mempunyai banyak saksi bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan, tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.
Ilustrasi yang dipilih oleh penulis Ibrani dalam dua ayat ini adalah ikut dalam suatu pertandingan. Orang orang yang berada di panggung menonton (pahlawan-pahlawan di Bab 11). Pertandingan tersebut untuk kecepatan dan jarak, dan bagi pemenang akan diberikan bangku kehormatan. Peserta harus melepaskan beban tambahan yang dapat memperlambat gerakannya, atau setiap gangguan yang dapat membuatnya tersandung. Matanya tertuju pada garis akhir, dimana Dia (Yesus Kristus) yang sudah menjalankan pertandingan-Nya, dan sudah menang, berdiri. Sukacita besar menjadi lebih penting dari pada pengalaman yang melelahkan, sehingga si pelari dapat bertahan.
Kemudian, di dalam ayat 3, penulis menerapkan kedua ayat tersebut kepada hidup kita saat dia menulis:
Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya kamu jangan menjadi lemah dan putus asa.
Ketika kita menghadapi pencobaan dan tantangan, kepedihan dan kesedihan, dipermalukan dan aib karena Kristus, ingatlah selalu akan Pemimpin kita dan kita akan mendapatkan keberanian oleh karena-Nya ! Sadarilah bahwa, “Imam besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya, sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibrani 4:15).
C. Bagaimana Jika Kita Tidak Dapat Menjawab Semua Pertanyaan?
Pertanyaan-pertanyaan dan jawabannya adalah penting. Namun, kita harus ingat, bahwa hubungan kita dengan Allah Yang Hidup adalah didasarkan oleh iman (Efesus 2:8-9; Kolose 2:6), jadi kita tidak bisa mendapatkan seluruh jawaban yang kita cari seumur hidup kita. Namun, Allah telah berjanji bahwa akhirnya seluruh pertanyaan kita akan dijawab (1 Korintus 13:12). Alkitab memberikan informasi yang cukup untuk memimpin hidup kita.
Untuk Pelajaran Pribadi: dari Bab 1, Bagian 5
1. Bacalah ayat Yeremia 39:1-2 dan jawablah enam pertanyaan dasar yang pasti akan kita tanyakan untuk setiap ayat.
Siapa? =
Apa? =
Kapan? =
Di mana? =
Mengapa? =
Bagaimana? =
2. Bacalah Markus 12:29-31. Dengan keempat hal apakah kita mengasihi Tuhan?
3. Bacalah Ibrani 11:6 dan 1 Yohanes 2:7-11. Apakah dua hal yang penting bagi kehidupan orang Kristen?
Persiapan Mempelajari Alkitab
Pada dua bagian terakhir, kita diperkenalkan akan pentingnya mengetahui kejadian-kejadian penting yang terjadi di masa lalu (Bagian 3), serta urutan kapan peristiwa-peristiwa tersebut terjadi (Bagian 4). Kita sedang meletakkan sebuah dasar untuk membantu menjawab sebuah pertanyaan penting yang pasti akan ditanyakan oleh murid yang sedang belajar Alkitab : “Kapan?” Saat kita mencoba mengerti Alkitab, kita mendapatkan diri kita sendiri tidak henti-hentinya mencari jawaban terhadap pertanyaan penting untuk “berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu” (2 Timotius 2:15). Allah mengundang kita untuk membawa semua pertanyaan kita kepada-Nya (Matius 7:7-8).
Pertanyaan-pertanyaan dasar yang pasti akan kita tanyakan dari setiap ayat sangat sederhana: siapa, apa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana? Jawaban-jawabannya harus dipertimbangkan sementara kita tetap harus mengingat dua pertanyaan utama mengenai Kehidupan Kristen: Bagaimana hal ini membantu kita mengembangkan hubungan pribadi yang akrab dengan Tuhan Yesus Kristus kita (Filipi 3:10), dan bagaimana kita seharusnya hidup (Yohanes 7:17)?
A. Enam Pertanyaan Dasar atas Setiap Ayat
1. Siapa?
Saat kita mengajukan pertanyaan “siapa”, ktia sedang berusaha menentukan siapa yang berbicara dan kepada siapa hal itu disampaikan. Satu contoh terlihat di dalam Genesis 22:2, ketika Allah memerintahkan Abraham untuk mengorbankan putranya, anak tunggalnya kepada-Nya. Dalam hal ini, Allah berbicara langsung kepada Abraham, bukan kepada orang lain. Oleh sebab itu, kita, sebagai pendengar Firman, tidak berkewajiban untuk melakukan perintah tersebut.
2. Apa?
Pertanyaan “apa ?” berhubungan dengan realita dari hal yang sedang dikatakan. Yesus Kristus dikatakan sebagai “Anak Domba” dalam Wahyu 5. Itu tidak berarti bahwa Dia adalah seekor mahluk berbulu, berkaki empat, tetapi merujuk kepada pengorbanan-Nya bagi dosa (Yohanes 1:29), itulah “kenyataan” nya.
3. Kapan?
Pertanyaan “kapan” mengarahkan kita kepada batasan waktu di mana suatu ayat tertentu dikatakan. Sebagai contoh, perkawinan Abraham dengan adik tirinya bisa diinterpretasikan sebagai hal yang tidak bermoral sampai pembaca mengerti bahwa perkawinan ini terjadi sebelum Hukum Taurat, yang melarang tindakan seperti itu, diberikan. Karena dosa pribadi bukan menjadi masalah karena tidak adanya hukum (Roma 4:15), kita menyimpulkan bahwa dalam kasus Abraham, perkawinannya itu bukanlah dosa. Jawaban yang jelas terhadap pertanyaan “kapan” ini penting untuk melengkapi pemahaman.
4. Di mana?
Pertanyaan “di mana” berhubungan dengan letak geografis dan kebudayaan di mana suatu ayat ditulis pada saat itu. Seringkali di dalam Alkitab kita menemukan kalimat “sampai ke Yerusalem”. Di dalam banyak kebudayaan, kalimat “sampai ke Yerusalem” berarti mengadakan perjalanan ke arah utara. Namun, maksud secara Alkitabiah berhubungan dengan tingkat dan bukan arah. Ketika Yesus baru tiba dari Galilea dan sedang “menujuk ke Yerusalem”, Dia sebenarnya sedang menuju ke selatan, namun berjalan dengan tingkat yang lebih tinggi.
5. Mengapa?
Pertanyaan “mengapa?” seringkali merupakan pertanyaan yang paling sulit dijawab. Jawabannya paling sering ditemukan saat sedang mempelajari ayat-ayat lainnya. Apabila seseorang membaca ayat di dalam Yesaya 7:14, yang berbunyi, “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel”, suatu pertanyaan yang nyata adalah “mengapa seorang perempuan muda?” Kita mungkin menjawab pertanyaan tersebut dengan, “itu meamng sudah kehendak Allah.” Jawaban itu meskipun benar, namun tidak lengkap.
Ketika kita mencari jawaban, kita akan menemukan ayat di dalam Roma 5 yang menyampaikan pengaruh dosa Adam terhadap umat manusia. Kita menemukan bahwa melalui manusia tersebut, Adam, setiap anggota dari umat manusia mendapatkan Dosa Alami. Apabila Yesus memiliki ayah duniawi, maka Dia juga memiliki Dosa Alami. Jawaban atas pertanyaan “mengapa” dalam hal ini penting sebagai persyaratan Kristus untuk menebus dosa.
6. Bagaimana?
Pertanyaan “bagaimana” juga seringkali sulit untuk dijawab. Kita mungkin bertanya, “Bagaimana Yesus berjalan di atas air ?” Jawabannya sederhana karena Dia berjalan dalam Roh Kudus (Lukas 4:18). Kita juga mungkin bertanya, “Bagaimana Tuhan mengendalikan sejarah ketika umat manusia memiliki kebebasan untuk memilih?” Pertanyaan tersebut tidaklah mudah dijawab, dan kita akan menyelidikanya nanti dalam pelajaran kita.
B. Dua Pertanyaan Pribadi Penting
1. Bagaimana hal ini membantu kita mengembangkan hubungan pribadi yang akrab dengan Tuhan Yesus Kristus kita?
Ini salah satu pertanyaan-pertanyaan penting yang kita ajukan. Pengetahuan yang kita dapatkan dari pelajaran Firman Tuhan harus bersatu dengan iman (Ibrani 11:6), sehingga hubungan kita dengan Tuhan akan bertumbuh. Kita harus mempercayai Firman Tuhan dan bergantung padanya. Hasilnya adalah hubungan dengan Tuhan yang didasarkan pada kasih-Nya dan di luar dari pemahaman manusia. Rasul Paulus mengatakan hal ini dengan jelas dalam Efesus 3:14-19 saat dia menulis :
Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, yang daripada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya. Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.
Apabila kita mempelajari Firman Tuhan hanya untuk alasan intelektual dan bukannya untuk bertumuh di dalam kasih untuk Tuhan dan sesama (Markus 12:29-31), kita menjadi sombong (1 Korintus 8:1). Rasul Paulus, yang mengetahui lebih banyak mengenai ilmu agama dari pada orang lain di bumi ini (2 Korintus 12:1-4), mengungkapkan keinginannya yang terdalam untuk, “mengenal Dia” (Filipi 3:10). Paulus, sebagai seorang Farisi, adalah orang yang sudah melalui pendidikan tinggi, namun sebagai seorang Kristen, dia baru mulai mengejar suatu hubungan penting dengan Allah yang Hidup.
Nantikanlah janji-janji Tuhan, dan yakinlah, sehingga anda dapat “bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus” (2 Petrus 3:18).
2. Kalau begitu, bagaimana kita harus hidup?
Begitu kita mengerti makna dari ayat-ayat yang kita pelajari, kita harus berusaha memahami bagaimana ayat-ayat tersebut berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita diberikan suatu contoh yang indah mengenai konsep ini di dalam Ibrani 12:1-3. Ayat 1 dan 2 berbunyi:
Karena kita mempunyai banyak saksi bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan, tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.
Ilustrasi yang dipilih oleh penulis Ibrani dalam dua ayat ini adalah ikut dalam suatu pertandingan. Orang orang yang berada di panggung menonton (pahlawan-pahlawan di Bab 11). Pertandingan tersebut untuk kecepatan dan jarak, dan bagi pemenang akan diberikan bangku kehormatan. Peserta harus melepaskan beban tambahan yang dapat memperlambat gerakannya, atau setiap gangguan yang dapat membuatnya tersandung. Matanya tertuju pada garis akhir, dimana Dia (Yesus Kristus) yang sudah menjalankan pertandingan-Nya, dan sudah menang, berdiri. Sukacita besar menjadi lebih penting dari pada pengalaman yang melelahkan, sehingga si pelari dapat bertahan.
Kemudian, di dalam ayat 3, penulis menerapkan kedua ayat tersebut kepada hidup kita saat dia menulis:
Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya kamu jangan menjadi lemah dan putus asa.
Ketika kita menghadapi pencobaan dan tantangan, kepedihan dan kesedihan, dipermalukan dan aib karena Kristus, ingatlah selalu akan Pemimpin kita dan kita akan mendapatkan keberanian oleh karena-Nya ! Sadarilah bahwa, “Imam besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya, sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibrani 4:15).
C. Bagaimana Jika Kita Tidak Dapat Menjawab Semua Pertanyaan?
Pertanyaan-pertanyaan dan jawabannya adalah penting. Namun, kita harus ingat, bahwa hubungan kita dengan Allah Yang Hidup adalah didasarkan oleh iman (Efesus 2:8-9; Kolose 2:6), jadi kita tidak bisa mendapatkan seluruh jawaban yang kita cari seumur hidup kita. Namun, Allah telah berjanji bahwa akhirnya seluruh pertanyaan kita akan dijawab (1 Korintus 13:12). Alkitab memberikan informasi yang cukup untuk memimpin hidup kita.
Untuk Pelajaran Pribadi: dari Bab 1, Bagian 5
1. Bacalah ayat Yeremia 39:1-2 dan jawablah enam pertanyaan dasar yang pasti akan kita tanyakan untuk setiap ayat.
Siapa? =
Apa? =
Kapan? =
Di mana? =
Mengapa? =
Bagaimana? =
2. Bacalah Markus 12:29-31. Dengan keempat hal apakah kita mengasihi Tuhan?
3. Bacalah Ibrani 11:6 dan 1 Yohanes 2:7-11. Apakah dua hal yang penting bagi kehidupan orang Kristen?
Pelajaran 3 Cln. Pnt. GKPI Rw. Lumbu
Ringkasan Kronologis
Murid-murid yang belajar Alkitab harus mengetahui rangkaian, tahun dan hubungan dari beberapa peristiwa-peristiwa sejarah penting. Maka, di bagian ini diberikan tiga urutan waktu. Sepuluh daftar pertama yang utama ditemukan dalam Alkitab dan tahun-tahunnya, meringkas pentingnya masing-masing tahun tersebut.
Tahun “S.M.” yang diberikan di belakang masing-masing peristiwa tersebut, merujuk pada tahun “sebelum Masehi”. Masing-masing peristiwa dengan tahun “M.” merujuk pada tahun “setelah Masehi”.
Tahun-tahun yang ditampilkan berdasarkan pada penafsiran dari Firman Allah. Banyak orang yang sudah belajar Firman Tuhan mempunyai kesimpulan dengan tahun-tahun yang berbeda untuk berbagai alasan guna menyebutkan waktu itu. Janganlah dikacaukan dengan hal ini. Mempelajari rangkaian peristiwa adalah hal yang paling penting dari bagian ini.
Waktu 60 tahun yang disebutkan di dalam Kejadian 11:26–12:5, namun diterangkan dalam Kisah Para Rasul 7:4. Ayat-ayat dalam Kisah Para Rasul menyebutkan bahwa Abraham meninggalkan Haran setelah Terah mati. Terah mati di Haran pada usia 205 tahun (Kejadian 11:32), dan Abraham meninggalkan Haran pada usia 75 tahun setelah Terah mati (Kisah Para Rasul 7:4). Ini berarti Terah berusia 130 tahun ketika Abraham lahir. Masa 70 tahun yang disebutkan di dalam Kejadian 11:26 pasti mengacu baik pada kelahiran Nahor atau Haran, kemungkinan Haran (Kejadian 11:28). Diharapkan, hal ini menjadi prinsip-prinsip yang menguatkan sehingga setiap murid harus terus membandingkannya secara Alkitabiah dan biarlah Alkitab sendiri yang menyatakannya.
A. Sepuluh Peristiwa Penting dan Tahun-Tahunnya
1. Jatuhnya Adam (3958 S.M.)
Penafsiran secara harafiah secara silsilah (rangkaian kelahiran) yang disampaikan melalui Firman Tuhan membuat kita menyimpulkan bahwa tahun jatuhnya Adalam adalah sekitar 3958 S.M. Kronologis secara Alkitabiah disampaikan sedemikian rumpa sehingga kita harus maju ke depan dari titik awal zaman Adam, dan juga mundur 4 tahun ke belakang dari zaman Salomo (1 Raja-Raja 6:1). Alkitab memberikn kita informasi mengenai tahun-tahun antara peristiwa-peristiwa utama. Ketika kita menghubungkan peristiwa-peristiwa di dalam Alkitab dengan tahun-tahun yang diketahui dalam sejarah sekular, maka kita dapat menggabungkan tahun secara sekular dan secara Alkitab.
2. Air Bah Nuh (2302 S.M.)
Ketika kita mengikuti silsilah dalam Kejadian 5, kita temukan adanya jangka waktu 1,656 tahun telah lewat sejak jatuhnya Adam sampai kepada Air Bah Nuh. Sehingga kita dapat menyimpulkan tahun 2302 S.M.
3. Janji kepada Abraham (1875 S.M.)
Silsilah yang diberikan kepada kita di dalam Kejadian 11:10-26 membuktikan bahwa Abraham lahir 352 tahun setelah Air Bah, atau 2,008 tahun setelah Adam. Hal ini menunjukkan bahwa dia lahir pada tahun 1950 S.M. Kita belajar dari Kejadian 12:4 bahwa Abraham berusia 75 tahun ketika dia menerima janji dari Allah yang menjadi Perjanjian Abraham. Ini berarti bahwa janji terebut diberikan pada tahun 1875 S.M.
4. Keluarnya Bangsa Israel (1445 S.M.)
Keluaran 12–50 memberikan informasi kepada kita mengenai keturunan-keturunan langsung Abraham. Anak-anak Yakub (cucu Abraham) pindah ke Mesir di mana akhirnya mereka diperbudak oleh orang Mesir (Keluaran 1). Allah membebaskan mereka dari perbudakan Mesir melalui Musa. Rasul Paulus menceritakan kepada kita bahwa jangka waktu 430 tahun telah lewat dari janji kepada Abraham sampai kepada penyampian Hukum Taurat (Galatia 3:17). Hal ini menyimpulkan bahwa tahun-tahun terjadinya Keluaran adalah 1445 S.M., atau 2.438 tahun setelah Adam.
5. Tahun Keempat Zaman Salomo (965 S.M.)
Salomo adalah raja Israel ketiga, setelah ayahnya, Daud, dan Raja Saul. Di dalam 1 Raja-Raja 6:1, kita mendapatkan bahwa 480 tahun telah lewat sejak Keluaran sampai kepada tahun keempat zaman Salomo, ketika dia mulai membangun Bait Allah. Dengan ini kita dapat memperhitungkan bahwa tahunnya adalah tahun 965 S.M., atau 2.918 tahun setelah Adam.
Kita dapat menyimpulkan tahun keempat zaman Salomo dari catatan-catatan sejarah lainnya. Dengan ini kita dapat memastikan tahun di mana kita dapat melihat ke belakang dan menentukan tahun-tahun sebelumnya yang disebutkan dalam Keluaran, Janji kepada Abraham, Air Bah Nuh dan Adam. Manusia dipaksa membuat beberapa penyesuaian terhadap tahun-tahun zaman S.M. menurut sejarah secara sekular oleh penemuan-penemuan arkeologi yang diadakan 100 tahun terakhir ini. Hal ini merupakan bagian dari alasan perbedaan-perbedaan yang ditemukan dalam sistim-sistim penentuan waktu yang bervariasi.
6. Jatuhnya Kerajaan Utara (721 S.M.)
Setelah kematian Salomo, Israel terbagi menjadi dua kerajaan terpisah, yang kemudian dikenal dengan “Kerajaan Utara” atau Israel, dan “Kerajaan Selatan” atau Yehuda. Kerajaan Utara jatuh ke tangan Kerajaan Asyur pada tahun 721 S.M. dan tidak lagi menjadi sebuah kerajaan.
7. Jatuhnya Kerajaan Selatan (586 S.M.)
Kerajaan Selatan jatuh ke tangan Kerajaan Babel pada tahun 586 S.M., dan dibuang ke pengasingan selama 70 tahun sebelum bangsa Israel diperbolehkan kembali ke kampung halaman mereka pada tahun 516 S.M.
8. Kelahiran Yesus Kristus (1 S.M.)
Sistim penanggalan “S.M.” dan “M.” tidak dibuat sampai abad keenam setelah hadirnya Tuhan kita. Tahun tersebut dirancang untuk memberikan referensi kepada semua tahun-tahun bersejarah mengenai kelahiran-Nya. Ketika Gereja menentukan sistim ini, hal itu didasarkan pada pemahaman yang tidak benar pada jaman Raja Herodes (yang disebutkan di dalam Alkitab sedang berkuasa ketika Yesus lahir, Lukas 1:5). Lama setelah itu ditemukan bahwa suatu kesalahan 1 atau 2 tahun terjadi, namun sistimnya sudah terbentuk baik, maka dari pada mencoba mengubah semua tahun yang sudah ditentukan sebelumnya dengan tahun-tahun baru, diputuskanlah untuk menyebutkan bahwa Yesus lahir pada tahun 1 atau 2 S.M.
Ada perbedaan antara Penanggalan Julian yang dimulai dari 1 Januari dan Kalendar Yahudi yang dimulai dari bulan September. Itulah alasan anda melihat tanggal-tanggal ditulis dengan “1-2 S.M” atau “966-965 S.M.”
9. Kematian, Penguburan dan Kebangkitan Yesus Kristus (32–33 S.M.)
Sebagian besar ahli Alkitab menentukan tanggal kematian, penguburan dan kebangkitan Yesus Kristus adalah 32–33 S.M.
10. Kitab Terakhir Injil (96 S.M.)
Tanggal ini dihubungkan dengan pengasingan rasul Yohanes di Pulau Patmos (Wahyu 1:9), selama pemerintahan Kerajaan Roma, di mana Alkitab diselesaikan (Wahyu 22:18-19).
B. Kronologis Kitab-Kitab Perjanjian Lama
1. Adam sampai ke Air Bah (3898–2242 S.M.)
Kejadian 1-5
2. Air Bah hingga Perjanjian kepada Abraham (2242–1875 S.M.)
Kejadian 6–12
3. Janji kepada Abraham sampai Keluaran (1875–1445 S.M.)
Kejadian 12–50. Kitab Ayub.
4. Keluaran hingga tahun ke-4 pemerintahan Raja Salomo (1445–965 S.M.)
a. Keluaran e. Yosua i. 2 Samuel
b. Imamat f. Hakim-Hakim j. 1 Raja-Raja 1-5
c. Bilangan g. Rut k. Mazmur
d. Ulangan h. 1 Samuel l. 1 Tawarikh
5. Tahun ke-4 Pemerintahan Raja Salomo sampai Jatuhnya Yehuda (965–586 S.M.)
a. 1 Raja-Raja 6–22 g. Obaja m. Yesaya
b. 2 Raja-Raja h. Yoel n. Nahum
c. 2 Tawarikh i. Yunus o. Zefanya
d. Amsal j. Amos p. Habakuk
e. Pengkhotbah k. Hosea
f. Kidung Agung l. Mikha
6. Masa dalam Pembuangan ke Babel (586–516 S.M.)
a. Yeremia c. Yehezkiel
b. Ratapan d. Daniel
7. Setelah Pembuangan ke Babel sampai Akhirnya Perjanjian Lama (516–400 S.M.)
a. Ezra c. Zakaria e. Maleakhi
b. Nehemia d. Hagai
C. Kronologis Kitab-Kitab Perjanjian Baru
Rangkaian di mana para penulis diberi ilhma untuk menulis beragam kitab-kitab Perjanjian Baru (disebut sebagai tidak tertulis) umumnya digambarkan sebagai berikut :
1. Sejarah Kehidupan Kristus dan Gereja Mula-Mula (55–85 S.M.)
a. Matius c. Markus e. Kisah Para Rasul
b. Lukas d. Yohanes
2. Rasul-Rasul Gereja (46–85 S.M.)
a. Yakobus h. Filemon o. Ibrani
b. Galatia i. Efesus p. 1 Petrus
c. 1 Tesalonika j. Kolose q. 2 Petrus
d. 2 Tesalonika k. Filipi r. Yudas
e. 1 Korintus l. 1 Timotius s. 1 Yohanes
f. 2 Korintus m. Titus t. 2 Yohanes
g. Roma n. 2 Timotius u. 3 Yohanes
3. Nubuatan (96 S.M.)
Wahyu
Ringkasan Kronologis
Murid-murid yang belajar Alkitab harus mengetahui rangkaian, tahun dan hubungan dari beberapa peristiwa-peristiwa sejarah penting. Maka, di bagian ini diberikan tiga urutan waktu. Sepuluh daftar pertama yang utama ditemukan dalam Alkitab dan tahun-tahunnya, meringkas pentingnya masing-masing tahun tersebut.
Tahun “S.M.” yang diberikan di belakang masing-masing peristiwa tersebut, merujuk pada tahun “sebelum Masehi”. Masing-masing peristiwa dengan tahun “M.” merujuk pada tahun “setelah Masehi”.
Tahun-tahun yang ditampilkan berdasarkan pada penafsiran dari Firman Allah. Banyak orang yang sudah belajar Firman Tuhan mempunyai kesimpulan dengan tahun-tahun yang berbeda untuk berbagai alasan guna menyebutkan waktu itu. Janganlah dikacaukan dengan hal ini. Mempelajari rangkaian peristiwa adalah hal yang paling penting dari bagian ini.
Waktu 60 tahun yang disebutkan di dalam Kejadian 11:26–12:5, namun diterangkan dalam Kisah Para Rasul 7:4. Ayat-ayat dalam Kisah Para Rasul menyebutkan bahwa Abraham meninggalkan Haran setelah Terah mati. Terah mati di Haran pada usia 205 tahun (Kejadian 11:32), dan Abraham meninggalkan Haran pada usia 75 tahun setelah Terah mati (Kisah Para Rasul 7:4). Ini berarti Terah berusia 130 tahun ketika Abraham lahir. Masa 70 tahun yang disebutkan di dalam Kejadian 11:26 pasti mengacu baik pada kelahiran Nahor atau Haran, kemungkinan Haran (Kejadian 11:28). Diharapkan, hal ini menjadi prinsip-prinsip yang menguatkan sehingga setiap murid harus terus membandingkannya secara Alkitabiah dan biarlah Alkitab sendiri yang menyatakannya.
A. Sepuluh Peristiwa Penting dan Tahun-Tahunnya
1. Jatuhnya Adam (3958 S.M.)
Penafsiran secara harafiah secara silsilah (rangkaian kelahiran) yang disampaikan melalui Firman Tuhan membuat kita menyimpulkan bahwa tahun jatuhnya Adalam adalah sekitar 3958 S.M. Kronologis secara Alkitabiah disampaikan sedemikian rumpa sehingga kita harus maju ke depan dari titik awal zaman Adam, dan juga mundur 4 tahun ke belakang dari zaman Salomo (1 Raja-Raja 6:1). Alkitab memberikn kita informasi mengenai tahun-tahun antara peristiwa-peristiwa utama. Ketika kita menghubungkan peristiwa-peristiwa di dalam Alkitab dengan tahun-tahun yang diketahui dalam sejarah sekular, maka kita dapat menggabungkan tahun secara sekular dan secara Alkitab.
2. Air Bah Nuh (2302 S.M.)
Ketika kita mengikuti silsilah dalam Kejadian 5, kita temukan adanya jangka waktu 1,656 tahun telah lewat sejak jatuhnya Adam sampai kepada Air Bah Nuh. Sehingga kita dapat menyimpulkan tahun 2302 S.M.
3. Janji kepada Abraham (1875 S.M.)
Silsilah yang diberikan kepada kita di dalam Kejadian 11:10-26 membuktikan bahwa Abraham lahir 352 tahun setelah Air Bah, atau 2,008 tahun setelah Adam. Hal ini menunjukkan bahwa dia lahir pada tahun 1950 S.M. Kita belajar dari Kejadian 12:4 bahwa Abraham berusia 75 tahun ketika dia menerima janji dari Allah yang menjadi Perjanjian Abraham. Ini berarti bahwa janji terebut diberikan pada tahun 1875 S.M.
4. Keluarnya Bangsa Israel (1445 S.M.)
Keluaran 12–50 memberikan informasi kepada kita mengenai keturunan-keturunan langsung Abraham. Anak-anak Yakub (cucu Abraham) pindah ke Mesir di mana akhirnya mereka diperbudak oleh orang Mesir (Keluaran 1). Allah membebaskan mereka dari perbudakan Mesir melalui Musa. Rasul Paulus menceritakan kepada kita bahwa jangka waktu 430 tahun telah lewat dari janji kepada Abraham sampai kepada penyampian Hukum Taurat (Galatia 3:17). Hal ini menyimpulkan bahwa tahun-tahun terjadinya Keluaran adalah 1445 S.M., atau 2.438 tahun setelah Adam.
5. Tahun Keempat Zaman Salomo (965 S.M.)
Salomo adalah raja Israel ketiga, setelah ayahnya, Daud, dan Raja Saul. Di dalam 1 Raja-Raja 6:1, kita mendapatkan bahwa 480 tahun telah lewat sejak Keluaran sampai kepada tahun keempat zaman Salomo, ketika dia mulai membangun Bait Allah. Dengan ini kita dapat memperhitungkan bahwa tahunnya adalah tahun 965 S.M., atau 2.918 tahun setelah Adam.
Kita dapat menyimpulkan tahun keempat zaman Salomo dari catatan-catatan sejarah lainnya. Dengan ini kita dapat memastikan tahun di mana kita dapat melihat ke belakang dan menentukan tahun-tahun sebelumnya yang disebutkan dalam Keluaran, Janji kepada Abraham, Air Bah Nuh dan Adam. Manusia dipaksa membuat beberapa penyesuaian terhadap tahun-tahun zaman S.M. menurut sejarah secara sekular oleh penemuan-penemuan arkeologi yang diadakan 100 tahun terakhir ini. Hal ini merupakan bagian dari alasan perbedaan-perbedaan yang ditemukan dalam sistim-sistim penentuan waktu yang bervariasi.
6. Jatuhnya Kerajaan Utara (721 S.M.)
Setelah kematian Salomo, Israel terbagi menjadi dua kerajaan terpisah, yang kemudian dikenal dengan “Kerajaan Utara” atau Israel, dan “Kerajaan Selatan” atau Yehuda. Kerajaan Utara jatuh ke tangan Kerajaan Asyur pada tahun 721 S.M. dan tidak lagi menjadi sebuah kerajaan.
7. Jatuhnya Kerajaan Selatan (586 S.M.)
Kerajaan Selatan jatuh ke tangan Kerajaan Babel pada tahun 586 S.M., dan dibuang ke pengasingan selama 70 tahun sebelum bangsa Israel diperbolehkan kembali ke kampung halaman mereka pada tahun 516 S.M.
8. Kelahiran Yesus Kristus (1 S.M.)
Sistim penanggalan “S.M.” dan “M.” tidak dibuat sampai abad keenam setelah hadirnya Tuhan kita. Tahun tersebut dirancang untuk memberikan referensi kepada semua tahun-tahun bersejarah mengenai kelahiran-Nya. Ketika Gereja menentukan sistim ini, hal itu didasarkan pada pemahaman yang tidak benar pada jaman Raja Herodes (yang disebutkan di dalam Alkitab sedang berkuasa ketika Yesus lahir, Lukas 1:5). Lama setelah itu ditemukan bahwa suatu kesalahan 1 atau 2 tahun terjadi, namun sistimnya sudah terbentuk baik, maka dari pada mencoba mengubah semua tahun yang sudah ditentukan sebelumnya dengan tahun-tahun baru, diputuskanlah untuk menyebutkan bahwa Yesus lahir pada tahun 1 atau 2 S.M.
Ada perbedaan antara Penanggalan Julian yang dimulai dari 1 Januari dan Kalendar Yahudi yang dimulai dari bulan September. Itulah alasan anda melihat tanggal-tanggal ditulis dengan “1-2 S.M” atau “966-965 S.M.”
9. Kematian, Penguburan dan Kebangkitan Yesus Kristus (32–33 S.M.)
Sebagian besar ahli Alkitab menentukan tanggal kematian, penguburan dan kebangkitan Yesus Kristus adalah 32–33 S.M.
10. Kitab Terakhir Injil (96 S.M.)
Tanggal ini dihubungkan dengan pengasingan rasul Yohanes di Pulau Patmos (Wahyu 1:9), selama pemerintahan Kerajaan Roma, di mana Alkitab diselesaikan (Wahyu 22:18-19).
B. Kronologis Kitab-Kitab Perjanjian Lama
1. Adam sampai ke Air Bah (3898–2242 S.M.)
Kejadian 1-5
2. Air Bah hingga Perjanjian kepada Abraham (2242–1875 S.M.)
Kejadian 6–12
3. Janji kepada Abraham sampai Keluaran (1875–1445 S.M.)
Kejadian 12–50. Kitab Ayub.
4. Keluaran hingga tahun ke-4 pemerintahan Raja Salomo (1445–965 S.M.)
a. Keluaran e. Yosua i. 2 Samuel
b. Imamat f. Hakim-Hakim j. 1 Raja-Raja 1-5
c. Bilangan g. Rut k. Mazmur
d. Ulangan h. 1 Samuel l. 1 Tawarikh
5. Tahun ke-4 Pemerintahan Raja Salomo sampai Jatuhnya Yehuda (965–586 S.M.)
a. 1 Raja-Raja 6–22 g. Obaja m. Yesaya
b. 2 Raja-Raja h. Yoel n. Nahum
c. 2 Tawarikh i. Yunus o. Zefanya
d. Amsal j. Amos p. Habakuk
e. Pengkhotbah k. Hosea
f. Kidung Agung l. Mikha
6. Masa dalam Pembuangan ke Babel (586–516 S.M.)
a. Yeremia c. Yehezkiel
b. Ratapan d. Daniel
7. Setelah Pembuangan ke Babel sampai Akhirnya Perjanjian Lama (516–400 S.M.)
a. Ezra c. Zakaria e. Maleakhi
b. Nehemia d. Hagai
C. Kronologis Kitab-Kitab Perjanjian Baru
Rangkaian di mana para penulis diberi ilhma untuk menulis beragam kitab-kitab Perjanjian Baru (disebut sebagai tidak tertulis) umumnya digambarkan sebagai berikut :
1. Sejarah Kehidupan Kristus dan Gereja Mula-Mula (55–85 S.M.)
a. Matius c. Markus e. Kisah Para Rasul
b. Lukas d. Yohanes
2. Rasul-Rasul Gereja (46–85 S.M.)
a. Yakobus h. Filemon o. Ibrani
b. Galatia i. Efesus p. 1 Petrus
c. 1 Tesalonika j. Kolose q. 2 Petrus
d. 2 Tesalonika k. Filipi r. Yudas
e. 1 Korintus l. 1 Timotius s. 1 Yohanes
f. 2 Korintus m. Titus t. 2 Yohanes
g. Roma n. 2 Timotius u. 3 Yohanes
3. Nubuatan (96 S.M.)
Wahyu
Bagian 2 Pelajaran Calon Penatua GKPI Rw. Lumbu
Alkitab
A.Apakah yang dimaksud dengan Alkitab?
1.Firman Allah Yang Tertulis
Alkitab tidak hanya sekedar sebuah buku seperti pada umumnya. Alkitab ditulis lebih dari empat-puluh penulis yang rentang hidupnya lebih dari 1.500 tahun. Yesus Kristus menyebutnya “Kitab” (Ibrani 10:7). Tanpanya manusia tidak dapat mengetahui standar mutlak kebenaran, maupun kebutuhan kasih karunia di dalam hidupnya. Tuhan memilih memerintahkan firman-firman-Nya ditulis, sehingga standar-standar dari-Nya jelas. Firman yang ditulis itu diterima dengan iman dan dibuktikan melalui sejarah (peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi). Manusia berbicara kepada Tuhan melalui doa. Tuhan terutama berbicara kepada manusia melalui firman-Nya yang tertulis.
Sebagian besar orang menggunakan versi-versi terjemahan Alkitab dari bahasa aslinya. Sebagian besar Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani. Satu kekecualian adalah yang terdapat dalam Kitab Daniel – bab 2 sampai bab 7, dan dalam Kitab Ezra – bab 4 sampai bab 7. Bab-bab ini ditulis dalam bahasa saudara perempuan Ibrani, yaitu bahasa Aram, bahasa yang digunakan oleh sebagian besar orang Yahudi pada waktu kitab-kitab ini ditulis. Seluruh isi Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani Koine (umum).
Selingan-selingan bab dan ayat ditambahkan oleh manusia setelah mendapatkan inspirasi terlebih dahulu untuk memudahkan pencarian berbagai ayat. Dengan demikian, ayat-ayat selingan tersebut bukan diinsipirasikan oleh Allah, namun ayat-ayat tersebut jelas memiliki tujuan yang baik di dalam membantu kita memahami bagian-bagian ini untuk dapat dimengerti secara tradisi.
2.Firman Yang Diinspirasikan Allah
Setiap bagian dari Alkitab diinspirasikan oleh Allah (2 Timotius 3:16-17), dan menguntungkan. “Inspirasi” lebih dari kejeniusan, iluminasi dan penyingkapan manusia, karena Allahlah yang memprakarsainya. “Napas Allah” sendiri yang mengekspresikannya melalui kepribadian manusia.
3.Penyingkapan Firman Allah Yang Hidup
Alkitab adalah penyingkapan dari Firman Allah Yang Hidup –Tuhan Yesus Kristus kita. “Penyingkapan” berarti memberi informasi baru. “Iluminasi” terjadi ketika Roh Kudus yang bekerja di dalam kita membuat “Penyingkapan” dapat dimengerti oleh murid yang belajar firman Tuhan. Firman yang ditulis bukan Firman Yang Hidup; itu penggambaran ilahi mengenai Tuhan Yesus Kristus (Ibrani 4:12 bandingkan Yohanes 5:39-47).
Perbedaan-perbedaan ini penting dilakukan. Kertas dan tinta tidak mengandung kuasa, namun Kuasa di balik kertas dan tinta adalah Roh Allah yang mengerjakan perbedaan itu di dalam kehidupan manusia. Tanpa adanya sang Penulis yang mengerjakannya (Ibrani 12:2) untuk melihat bahwa firman-firman tersebut memiliki kuasa di dalam dan darinya sendiri, hal itu tidak mungkin.
B.Susunan Alkitab
1.Dua Bagian Utama
Alkitab dibagi menjadi dua Perjanjian, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Keseluruhannya ada 66 kitab, 39 di dalam Perjanjian Lama, yang ditulis oleh lebih dari 30 penulis yang berbeda, dan ada 27 kitab di dalam Perjanjian Baru, yang ditulis oleh 10 penulis. Ada 1.189 bab, 929 di dalam Perjanjian Lama, dan ada 260 bab di dalam Perjanjian Baru. Perjanjian Lama berisi 23.214 ayat; Perjanjian Baru berisi 7.959 ayat (keseluruhannya ada 31.173 ayat Alkitab).
Suatu “Perjanjian” adalah suatu kesepakatan di mana nilai-nilai ditawarkan oleh seseorang, dan diterima oleh orang lainnya. Sebagai contoh, ketika seseorang ingin membeli suatu produk, dibuatlah suatu penawaran, kemudian diterima atau ditolak. Begitu penawaran tersebut diterima, maka dibuatlah suatu kesepakatan atau kontrak. Kesepakatan itu berisi perjanjian-perjanjian untuk menata hubungan antara kedua belah pihak. Suatu contoh kesepakatan yang baik ada di dalam sumpah pernikahan. Sumpah ini merupakan kesepakatan antara mempelai pria dan mempelai wanita yang bertindak sebagai dasar suatu hubungan.
Perjanjian Lama berisi kesepakatan-kesepakatan semula yang Allah adakan dengan manusia mengenai Mesias yang akan datang. Kita akan mempelajari perjanjian-perjanjian ini kemudian.
2.Lima Bagian dari Perjanjian Lama
Perjanjian Lama dikelompokkan sebagai berikut :
A.Hukum, yang disebut “Torah” (dalam bahasa Ibrani) atau “Pentateuch” (dalam bahasa Yunani artinya “lima kitab”), terdiri dari lima kitab : Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan atau Ulangan.
B.Kitab-kitab sejarah (dua belas kitab) : Yosua, Hakim-Hakim, Ruth, 1 Samuel, 2 Samuel, 1 Raja-Raja, 2 Raja-Raja, 1 Tawarikh, 2 Tawarikh, Ezra, Nehemia, dan Ester.
C.Kitab-kitab puisi (lima kitab) : Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, dan Kidung Salomo.
D.Nabi-nabi besar (lima kitab) : Yesaya, Yeremia, Ratapan, Yehezkiel dan Daniel.
E.Nabi-nabi kecil (dua-belas kitab) : Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, dan Maleakhi.
3.Tiga Bagian dari Perjanjian Baru
Perjanjian Baru membuktikan kedatangan Mesiah, dan berisi perjanjian baru yang dibuat setelahnya.
Tentu saja, ada keberagaman topik di dalam kitab-kitab tersebut. Kitab- kitab sejarah, misalnya, berisi beberapa nubuatan (Matius 24, Markus 13, Lukas 21), demikian juga dengan kitab nubuatan yang berisi beberapa surat yang ditulis oleh murid-murid Tuhan Yesus (Wahyu 2-3). Tujuan umum dari kitab yang manapun semata-mata didasarkan pada keseluruhan isinya. Perjanjian Baru dikelompokkan menjadi tidak bagian sebagai berikut:
A.Lima Kitab Sejarah: Matius, Markus, Lukas, Yohanes dan Kisah Para Rasul.
B.Kitab-kitab Sejarah dilanjutkan dengan 21 Surat: Roma, 1 Korintus, 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 Tesalonika, 2 Tesalonika, 1 Timotiues, 2 Timotius, Titus, Filemon, 1 Yohanes, 2 Yohanes, 3 Yohanes, 1 Petrus, 2 Petrus, Ibrani, Yakobus dan Yudas.
C.Ada satu kitab Nubuatan: Wahyu.
Alkitab
A.Apakah yang dimaksud dengan Alkitab?
1.Firman Allah Yang Tertulis
Alkitab tidak hanya sekedar sebuah buku seperti pada umumnya. Alkitab ditulis lebih dari empat-puluh penulis yang rentang hidupnya lebih dari 1.500 tahun. Yesus Kristus menyebutnya “Kitab” (Ibrani 10:7). Tanpanya manusia tidak dapat mengetahui standar mutlak kebenaran, maupun kebutuhan kasih karunia di dalam hidupnya. Tuhan memilih memerintahkan firman-firman-Nya ditulis, sehingga standar-standar dari-Nya jelas. Firman yang ditulis itu diterima dengan iman dan dibuktikan melalui sejarah (peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi). Manusia berbicara kepada Tuhan melalui doa. Tuhan terutama berbicara kepada manusia melalui firman-Nya yang tertulis.
Sebagian besar orang menggunakan versi-versi terjemahan Alkitab dari bahasa aslinya. Sebagian besar Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani. Satu kekecualian adalah yang terdapat dalam Kitab Daniel – bab 2 sampai bab 7, dan dalam Kitab Ezra – bab 4 sampai bab 7. Bab-bab ini ditulis dalam bahasa saudara perempuan Ibrani, yaitu bahasa Aram, bahasa yang digunakan oleh sebagian besar orang Yahudi pada waktu kitab-kitab ini ditulis. Seluruh isi Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani Koine (umum).
Selingan-selingan bab dan ayat ditambahkan oleh manusia setelah mendapatkan inspirasi terlebih dahulu untuk memudahkan pencarian berbagai ayat. Dengan demikian, ayat-ayat selingan tersebut bukan diinsipirasikan oleh Allah, namun ayat-ayat tersebut jelas memiliki tujuan yang baik di dalam membantu kita memahami bagian-bagian ini untuk dapat dimengerti secara tradisi.
2.Firman Yang Diinspirasikan Allah
Setiap bagian dari Alkitab diinspirasikan oleh Allah (2 Timotius 3:16-17), dan menguntungkan. “Inspirasi” lebih dari kejeniusan, iluminasi dan penyingkapan manusia, karena Allahlah yang memprakarsainya. “Napas Allah” sendiri yang mengekspresikannya melalui kepribadian manusia.
3.Penyingkapan Firman Allah Yang Hidup
Alkitab adalah penyingkapan dari Firman Allah Yang Hidup –Tuhan Yesus Kristus kita. “Penyingkapan” berarti memberi informasi baru. “Iluminasi” terjadi ketika Roh Kudus yang bekerja di dalam kita membuat “Penyingkapan” dapat dimengerti oleh murid yang belajar firman Tuhan. Firman yang ditulis bukan Firman Yang Hidup; itu penggambaran ilahi mengenai Tuhan Yesus Kristus (Ibrani 4:12 bandingkan Yohanes 5:39-47).
Perbedaan-perbedaan ini penting dilakukan. Kertas dan tinta tidak mengandung kuasa, namun Kuasa di balik kertas dan tinta adalah Roh Allah yang mengerjakan perbedaan itu di dalam kehidupan manusia. Tanpa adanya sang Penulis yang mengerjakannya (Ibrani 12:2) untuk melihat bahwa firman-firman tersebut memiliki kuasa di dalam dan darinya sendiri, hal itu tidak mungkin.
B.Susunan Alkitab
1.Dua Bagian Utama
Alkitab dibagi menjadi dua Perjanjian, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Keseluruhannya ada 66 kitab, 39 di dalam Perjanjian Lama, yang ditulis oleh lebih dari 30 penulis yang berbeda, dan ada 27 kitab di dalam Perjanjian Baru, yang ditulis oleh 10 penulis. Ada 1.189 bab, 929 di dalam Perjanjian Lama, dan ada 260 bab di dalam Perjanjian Baru. Perjanjian Lama berisi 23.214 ayat; Perjanjian Baru berisi 7.959 ayat (keseluruhannya ada 31.173 ayat Alkitab).
Suatu “Perjanjian” adalah suatu kesepakatan di mana nilai-nilai ditawarkan oleh seseorang, dan diterima oleh orang lainnya. Sebagai contoh, ketika seseorang ingin membeli suatu produk, dibuatlah suatu penawaran, kemudian diterima atau ditolak. Begitu penawaran tersebut diterima, maka dibuatlah suatu kesepakatan atau kontrak. Kesepakatan itu berisi perjanjian-perjanjian untuk menata hubungan antara kedua belah pihak. Suatu contoh kesepakatan yang baik ada di dalam sumpah pernikahan. Sumpah ini merupakan kesepakatan antara mempelai pria dan mempelai wanita yang bertindak sebagai dasar suatu hubungan.
Perjanjian Lama berisi kesepakatan-kesepakatan semula yang Allah adakan dengan manusia mengenai Mesias yang akan datang. Kita akan mempelajari perjanjian-perjanjian ini kemudian.
2.Lima Bagian dari Perjanjian Lama
Perjanjian Lama dikelompokkan sebagai berikut :
A.Hukum, yang disebut “Torah” (dalam bahasa Ibrani) atau “Pentateuch” (dalam bahasa Yunani artinya “lima kitab”), terdiri dari lima kitab : Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan atau Ulangan.
B.Kitab-kitab sejarah (dua belas kitab) : Yosua, Hakim-Hakim, Ruth, 1 Samuel, 2 Samuel, 1 Raja-Raja, 2 Raja-Raja, 1 Tawarikh, 2 Tawarikh, Ezra, Nehemia, dan Ester.
C.Kitab-kitab puisi (lima kitab) : Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, dan Kidung Salomo.
D.Nabi-nabi besar (lima kitab) : Yesaya, Yeremia, Ratapan, Yehezkiel dan Daniel.
E.Nabi-nabi kecil (dua-belas kitab) : Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, dan Maleakhi.
3.Tiga Bagian dari Perjanjian Baru
Perjanjian Baru membuktikan kedatangan Mesiah, dan berisi perjanjian baru yang dibuat setelahnya.
Tentu saja, ada keberagaman topik di dalam kitab-kitab tersebut. Kitab- kitab sejarah, misalnya, berisi beberapa nubuatan (Matius 24, Markus 13, Lukas 21), demikian juga dengan kitab nubuatan yang berisi beberapa surat yang ditulis oleh murid-murid Tuhan Yesus (Wahyu 2-3). Tujuan umum dari kitab yang manapun semata-mata didasarkan pada keseluruhan isinya. Perjanjian Baru dikelompokkan menjadi tidak bagian sebagai berikut:
A.Lima Kitab Sejarah: Matius, Markus, Lukas, Yohanes dan Kisah Para Rasul.
B.Kitab-kitab Sejarah dilanjutkan dengan 21 Surat: Roma, 1 Korintus, 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 Tesalonika, 2 Tesalonika, 1 Timotiues, 2 Timotius, Titus, Filemon, 1 Yohanes, 2 Yohanes, 3 Yohanes, 1 Petrus, 2 Petrus, Ibrani, Yakobus dan Yudas.
C.Ada satu kitab Nubuatan: Wahyu.
"Pembinaan Calon Penatua"
Pendidikan Dasar calon Penatua GKPI.
Bagian 1
Persiapan Pribadi
A.Enam Prinsip Persiapan Pribadi untuk Pelajaran Alkitab
1.Percaya kepada Yesus Kristus
Persiapan pribadi di dalam pelajaran Kitab Injil tidak dapat ditekankan terlalu berlebihan. Murid pertama-tama harus menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya, karena “manusia duniawi” (orang yang tidak menerima Kristus) tidak dapat menerima atau memahami hal-hal mengenai Tuhan (1 Korintus 2:14). Oleh karena itu, keselamatan adalah oleh iman dalam Kristus sendiri (Efesus 2:8-9). Roh Allah membuat murid yang mempelajari Firman Tuhan dapat melihat hal-hal yang rohani.
2.Percaya Bahwa Alkitab Diilhami oleh Allah
Firman Allah yang menyatakan sendiri bahwa Alkitab diilhami oleh Allah (2 Timotius 3:16-17). Pelajaran Alkitab harus dimulai dengan mengakui fakta tersebut. “Lompatan” iman tidak perlu; hanya menerima bulat-bulat fakta bahwa Alkitab adalah benar dan cermat.
3.Berdoa
Berdoa diperlukan untuk dapat memahami Kitab Injil. Firman Allah memerintahkan bahwa apabila seseorang kurang berhikmat, dan memintanya kepada Tuhan, maka Tuhan akan memberikannya dengan cuma-cuma (Yakobus 1:5). Doa yang tulus untuk meminta pengenalan yang benar akan diberikan, karena hal-hal ini jelas merupakan kehendak Allah (1 Yohanes 5:14 bandingkan dengan Matius 7:7-8).
4.Belajar Secara Sungguh-Sungguh dan Bersabar
Karena banyak ayat-ayat dari Firman Allah yang belum dimengerti, maka kesungguh-sungguhan dan kesabaran diperlukan saat belajar (2 Timotius 2:15). Saat kita, sebagai mahluk hidup yang terbatas, berusaha untuk memahami pikiran Allah yang tidak terbatas, kita harus menyadari bahwa bahkan seorang juru bahasa yang cakap pun membutuhkan waktu lama.
5.Akui Dosa-Dosa Anda Secara Terus Menerus
Mengakui dosa anda secara terus menerus juga penting, mengijinkan Allah membersihkan kehidupan kita, sehingga persekutuan yang lebih akrab dengan-Nya dapat dicapai (1 Yohanes 1:6-10). Dengan menyadari perlunya mengakui dosa-dosa kita, membuat kita terus menerus peka terhadap pikiran, bicara, atau tindakan yang tidak sejalan dengan kehendak Allah.
6.Bersedia Hidup Sejalan Dengan Kehendak Allah
Tuhan Yesus Kristus berfirman, “Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu ajaran-Ku” (Yohanes 7:17). Apabila tujuannya untuk mengembangkan hubungan dengan Allah Yang Hidup, maka setiap pengetahuan yang didapat hendaknya mendukung dan memperjelas hubungan tersebut. Pengetahuan tanpa kasih mengakibatkan kesombongan (1 Korintus 8:1). Apabila tujuan anda sekedar merupakan suatu penyelidikan intelektual dan bukannya hubungan dengan Allah Yang Hidup, maka pengetahuan yang anda dapatkan itu akan berkurang dan menyimpang.
B.Lima Keuntungan dari Pelajaran Kitab Perorangan dari Firman Tuhan
1.Iman Yang Lebih Besar
Teolog terbesar Gereja, Rasul Paulus, berkata mengenai dirinya sendiri bahwa dia, “hidup karena percaya, bukan karena melihat” (2 Korintus 5:7). Kita semua masuk ke dalam keselamatan oleh karena kasih karunia melalui iman (Efesus 2:8-9); dan menurut Paulus, karena kita sudah menerima Kristus, hendaklah kita hidup di dalam Dia (Kolose 2:6-7).
2.Pengetahuan Baru
Ada pengetahuan baru yang kita dapatkan dari Firman Tuhan karena kita “bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus” (2 Petrus 3:14-18). Pengetahuan ini menuntun kita kepada pengertian yang lebih besar lagi akan kasih karunia-Nya. Namun, seiring dengan bertumbuh dalam pengetahuan, kita bertumbuh dalam iman karena kita “mendengar” Firman Tuhan melalui Kitab Injil (Roma 10:17) dan mempercayai-Nya dalam segala hal.
3.Hidup Yang Dimurnikan
Firman Tuhan perlu bagi pemurnian hidup kita karena Firman-Nya adalah Kebenaran (Yohanes 17:17). Meskipun kita Orang-Orang Percaya, kita mempunyai masalah dengan dosa-dosa kita (1 Yohanes 1:6-10), jadi kita harus mempelajari Firman Tuhan untuk mengenali dosa yang mungkin akan terjadi. Dengan demikian kita dapat berdoa dengan sungguh-sungguh memohon kesembuhan dan penyucian (Mazmur 51). Harap catat bahwa Orang-orang Kristen seringkali “menambahkan kepada” Firman Tuhan dan membuat penambahan-penambahan itu sebagai dasar dari kebenaran. Hal ini disebut “legalisme”, yang artinya bahwa manusia telah membuat hukumnya sendiri sebagai standar kebenaran. Tuhan Yesus Kristus jelas menentang tindakan ini (Markus 7:1-13), jadi kita harus berhati-hati untuk memperhatikan dengan benar kepada standar-standar yang ditetapkan Tuhan.
4.Kekuatan Dalam Pelayanan
Dengan Roh Kudus yang bekerja di dalam hidup kita saat kita belajar memiliki “pikiran Kristus” (1 Korintus 2:14-16), akan ada kuasa di dalam pelayanan kami (Efesus 2:10). Kita berada dalam peperangan dengan iblis dan kekuatan-kekuatannya, oleh karena itu kita membutuhkan kuasa di luar kekuatan dan kemampuan kita sendiri (Efesus 6:10-18). Kuasa berasal dari kepatuhan kita kepada kehendak Tuhan, karena Tuhanlah yang bekerja di dalam kita, “baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Filipi 2:13).
5.Perlengkapan Untuk Pelayanan
Dengan pengetahuan akan Firman Tuhan, kita dapat mempraktekkan kebenaran tersebut di dalam nama Tuhan Yesus (Kolose 3:16-17), dan menyatakannya kepada dunia yang hilang dan akan binasa ini (Yohanes 17:17-19; Ibrani 5:12). Tujuan utama untuk memberitakan Firman Tuhan adalah, “untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus” (Efesus 4:11-13). Untuk “memperlengkapi” orang-orang lainnya, maka kita harus memperlengkapi diri kita sendiri terlebih dahulu.
Pdt. R.H. Lumbantobing, S.Th.MA
Bagian 1
Persiapan Pribadi
A.Enam Prinsip Persiapan Pribadi untuk Pelajaran Alkitab
1.Percaya kepada Yesus Kristus
Persiapan pribadi di dalam pelajaran Kitab Injil tidak dapat ditekankan terlalu berlebihan. Murid pertama-tama harus menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya, karena “manusia duniawi” (orang yang tidak menerima Kristus) tidak dapat menerima atau memahami hal-hal mengenai Tuhan (1 Korintus 2:14). Oleh karena itu, keselamatan adalah oleh iman dalam Kristus sendiri (Efesus 2:8-9). Roh Allah membuat murid yang mempelajari Firman Tuhan dapat melihat hal-hal yang rohani.
2.Percaya Bahwa Alkitab Diilhami oleh Allah
Firman Allah yang menyatakan sendiri bahwa Alkitab diilhami oleh Allah (2 Timotius 3:16-17). Pelajaran Alkitab harus dimulai dengan mengakui fakta tersebut. “Lompatan” iman tidak perlu; hanya menerima bulat-bulat fakta bahwa Alkitab adalah benar dan cermat.
3.Berdoa
Berdoa diperlukan untuk dapat memahami Kitab Injil. Firman Allah memerintahkan bahwa apabila seseorang kurang berhikmat, dan memintanya kepada Tuhan, maka Tuhan akan memberikannya dengan cuma-cuma (Yakobus 1:5). Doa yang tulus untuk meminta pengenalan yang benar akan diberikan, karena hal-hal ini jelas merupakan kehendak Allah (1 Yohanes 5:14 bandingkan dengan Matius 7:7-8).
4.Belajar Secara Sungguh-Sungguh dan Bersabar
Karena banyak ayat-ayat dari Firman Allah yang belum dimengerti, maka kesungguh-sungguhan dan kesabaran diperlukan saat belajar (2 Timotius 2:15). Saat kita, sebagai mahluk hidup yang terbatas, berusaha untuk memahami pikiran Allah yang tidak terbatas, kita harus menyadari bahwa bahkan seorang juru bahasa yang cakap pun membutuhkan waktu lama.
5.Akui Dosa-Dosa Anda Secara Terus Menerus
Mengakui dosa anda secara terus menerus juga penting, mengijinkan Allah membersihkan kehidupan kita, sehingga persekutuan yang lebih akrab dengan-Nya dapat dicapai (1 Yohanes 1:6-10). Dengan menyadari perlunya mengakui dosa-dosa kita, membuat kita terus menerus peka terhadap pikiran, bicara, atau tindakan yang tidak sejalan dengan kehendak Allah.
6.Bersedia Hidup Sejalan Dengan Kehendak Allah
Tuhan Yesus Kristus berfirman, “Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu ajaran-Ku” (Yohanes 7:17). Apabila tujuannya untuk mengembangkan hubungan dengan Allah Yang Hidup, maka setiap pengetahuan yang didapat hendaknya mendukung dan memperjelas hubungan tersebut. Pengetahuan tanpa kasih mengakibatkan kesombongan (1 Korintus 8:1). Apabila tujuan anda sekedar merupakan suatu penyelidikan intelektual dan bukannya hubungan dengan Allah Yang Hidup, maka pengetahuan yang anda dapatkan itu akan berkurang dan menyimpang.
B.Lima Keuntungan dari Pelajaran Kitab Perorangan dari Firman Tuhan
1.Iman Yang Lebih Besar
Teolog terbesar Gereja, Rasul Paulus, berkata mengenai dirinya sendiri bahwa dia, “hidup karena percaya, bukan karena melihat” (2 Korintus 5:7). Kita semua masuk ke dalam keselamatan oleh karena kasih karunia melalui iman (Efesus 2:8-9); dan menurut Paulus, karena kita sudah menerima Kristus, hendaklah kita hidup di dalam Dia (Kolose 2:6-7).
2.Pengetahuan Baru
Ada pengetahuan baru yang kita dapatkan dari Firman Tuhan karena kita “bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus” (2 Petrus 3:14-18). Pengetahuan ini menuntun kita kepada pengertian yang lebih besar lagi akan kasih karunia-Nya. Namun, seiring dengan bertumbuh dalam pengetahuan, kita bertumbuh dalam iman karena kita “mendengar” Firman Tuhan melalui Kitab Injil (Roma 10:17) dan mempercayai-Nya dalam segala hal.
3.Hidup Yang Dimurnikan
Firman Tuhan perlu bagi pemurnian hidup kita karena Firman-Nya adalah Kebenaran (Yohanes 17:17). Meskipun kita Orang-Orang Percaya, kita mempunyai masalah dengan dosa-dosa kita (1 Yohanes 1:6-10), jadi kita harus mempelajari Firman Tuhan untuk mengenali dosa yang mungkin akan terjadi. Dengan demikian kita dapat berdoa dengan sungguh-sungguh memohon kesembuhan dan penyucian (Mazmur 51). Harap catat bahwa Orang-orang Kristen seringkali “menambahkan kepada” Firman Tuhan dan membuat penambahan-penambahan itu sebagai dasar dari kebenaran. Hal ini disebut “legalisme”, yang artinya bahwa manusia telah membuat hukumnya sendiri sebagai standar kebenaran. Tuhan Yesus Kristus jelas menentang tindakan ini (Markus 7:1-13), jadi kita harus berhati-hati untuk memperhatikan dengan benar kepada standar-standar yang ditetapkan Tuhan.
4.Kekuatan Dalam Pelayanan
Dengan Roh Kudus yang bekerja di dalam hidup kita saat kita belajar memiliki “pikiran Kristus” (1 Korintus 2:14-16), akan ada kuasa di dalam pelayanan kami (Efesus 2:10). Kita berada dalam peperangan dengan iblis dan kekuatan-kekuatannya, oleh karena itu kita membutuhkan kuasa di luar kekuatan dan kemampuan kita sendiri (Efesus 6:10-18). Kuasa berasal dari kepatuhan kita kepada kehendak Tuhan, karena Tuhanlah yang bekerja di dalam kita, “baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Filipi 2:13).
5.Perlengkapan Untuk Pelayanan
Dengan pengetahuan akan Firman Tuhan, kita dapat mempraktekkan kebenaran tersebut di dalam nama Tuhan Yesus (Kolose 3:16-17), dan menyatakannya kepada dunia yang hilang dan akan binasa ini (Yohanes 17:17-19; Ibrani 5:12). Tujuan utama untuk memberitakan Firman Tuhan adalah, “untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus” (Efesus 4:11-13). Untuk “memperlengkapi” orang-orang lainnya, maka kita harus memperlengkapi diri kita sendiri terlebih dahulu.
Pdt. R.H. Lumbantobing, S.Th.MA
Langganan:
Postingan (Atom)