TATA IBADAH TUTUP TAHUN
31 DESEMBER 2011
C:\BG natal 1\reindeer3.gif C:\BG natal 1\reindee
JEMAAT GKPI Se Jabodetabek
TATA IBADAH TUTUP TAHUN 31 DESEMBER 2011
LITURGIS: PNT.
1. NYANYIAN KJ No. 329 : 1 – 3 “Tinggal Sertaku”
- Tingggal sertaku, hari t’lah senja. Glap ,makin turun.
Tuhan, tinggalah ! Lain pertolongan tiada kutemu,
Maha penolong, tinggal sertaku.
- Hidupku surut, ajal mendekat, nikmat duniawi hanyut melenyap
Tiada yang tahan, tiada yang teguh
Kau yang abadi, tinggal sertaku.
- Aku perlukan Dikua tiap jam dalam cobaan Kaulah kupegang
Siapa penuntun yang setaraMu ?
Siang dan Malam tinggal sertaku.
2. VOTUM /INTROITUS (BERDIRI)
P : Ibadah Tutup Tahun ini berlangsung di dalam nama Allah Bapa dan nama
Anak-Nya Tuhan Yesus Kristus dan nama Roh Kudus. Amin.
J : Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, ingatlah akan apa yang dahulu
telah dikatakan kepada kamu oleh Rasul-rasul Tuhan kita, Yesus Kristus.
P : Sebab mereka telah mengatakan kepada kamu : “Menjelang akhir zaman akan
tampil pengejek-pengejek yang akan hidup menuruti hawa nafsukefasikan
mereka”.
J : Mereka adalah pemecah belah yang dikuasai hanya oleh keinginan-keinginan
dunia ini dan yang hidup tanpa Roh Kudus.
P : Akan Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri
diatas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah Dalam Roh Kudus.
J : Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat
Tuhan kita, Yesus Kristus untuk hidup yang kekal.
P : Tunjukanlah belaskasihan kepada mereka yang ragu-ragu.
J : Selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi
tunjukanlah belas kasihanyang disertai ketakutan kepada orang-orang
lainjuga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-
keinginan dosa.
P : Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya kamu jangan kamu tersandung dan
yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan dihadapan
kemuliaanNya.
J : Allah yang Esa, Juru Selamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia
adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan
sekarang dan sampai selama-lamanya. amin
P : Mari kita berdoa : Ya Tuhan Allah, Bapa Yang Maha Pengasih Engkautelah
menempatkan anakMu yang kekasih itu kebawah hukum Taurat, agar dia
menyelamatkan semua orang yang berada dibawah genggaman TauratMu.
Tolonglah kami ya Tuhan, agar kami menerima keselamatan itu, dan tetap
tinggal didalam kerajaanMu. Engkau menyelamatakan kami sampai akhir Tahun
ini. Terimakasih Tuhan, didalam kasih anakMu Yesus Kristus. Amin
3. NYANYIAN KJ No. 401 : 1+3 “MAKIN DEKAT, TUHAN”
• Makin dekat, Tuhan, kepadaMu ; walaupun saliblah mengangkatku, inilah laguku
: Dekat kepadaMu ; makin dekat, Tuhan, kepadaMu.
• Buatlah tanganMu tampak jelas, dan para malaikatMu yang bergegas mengimbau
diriku dekat kepadaMu ; makin dekat, Tuhan, KepadaMu.
4. EPISTEL : (Dibacakan oleh 4 org Penatua)
a. Lukas 13 : 6 – 9 :
b. Yesaya 30 : 15 – 17 :
c. Roma 8 : 37 – 39 :
d. 2 Timotius 3 : 16 – 17 :
5. KOOR :
6. RESPONSORIA (DOA PENGAKUAN DOSA DAN IKRAR HIDUP BARU)
P : Ya Tuhan, tatkala mulut dan hati kami mengaku Engkaulah Tuhan
pencipta dan pemelihara hidup ini, serempak kami mengaku dosa kami.
J : Ya Tuhan, kami mengakui dosa dan pelanggaran kami sepanjang tahun ini.
P : Dengan sadar dan sengaja kami berpaling dari hadapanMu dan menuruti
keinginan hati kami.
J : Ampunilah kami, Ya Tuhan !
P : Kami sering menyia-nyiakan berkat dan anugerahMu, termasuk waktu, tenaga
dan berbagai karunia rohani yang telah kami terima dariMu.
J : Kasihanilah kami ya Tuhan !
P : Kami kurang sungguh-sungguh memperlihatkan kasih dan kesetiaan kami
kepadaMu maupun terhadap sesama kami, kami lebih suka mementingkan diri
sendiri.
J : Hapuskanlah semua dosa kami ya Tuhan !
P : Dipenghujung tahun 2011 ini dan diambang tahun 2012 ini kami berjanji
membaharui hidup, kasih kesetiaan, ketatan, semangat dan ketekunan. Kami
bertekad meninggalkan seluruh sifat-sifat, watak dan tabiat kami yang
bertentangan dengan kehendakMu, serta mengenakan kemanusiaan baru yang
telah Tuhan tetapkan bagi kami.
J : Kuatkan dan perbaharuilah kami, ya Tuhan !
P+J : Dengarlah seruan permohonan dan ikrar kami ini, ya Tuhan. Amin
7. NYANYIAN 261 : 1 “YERUSALEM, MULIA DAN KUDUS”
Yerusalem, mulia dan kudus, rinduan hatiku !
Ku tergerak hendak terbang terus ke puncak bukitmu,
di atas hutan rimba dan gunung dan lembah,
supaya aku tiba di negeri baka.
8. PETUNJUK HIDUP BARU : Wahyu 3 : 10 – 13
P : Karena engkau menuruti firmanKu, untuk tekun menantikan Aku, maka akupun
akan melindungi engkaudari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh
dunia untuk mencobai mereka yang diam dibumi.
J : Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun
mengambil mahkotamu.
P : Barang siapa menang, ia akan Kujadikan sokoguru didalam Bait suci Allahku,
dan ia tidak akan keluar lagi dari situ, dan padanya akan kutuliskan nama
Allahku, nama kota Allahku, yaitu Yerusalem baru, yang turun dari sorga
dari Allahku, dan namaku yang baru.
J : Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada
jemaat-jemaat.
9. NYANYIAN 358 : 1+4 “SEMUA YANG LETIH LESU”
• Semua yang letih lesu, berdosa, bercela,terima rahmat Tuhanmu, percaya
sabdaNya. Datang saja pada Yesus; kini saatnya! Datang saja pada Yesus,
t’rima rahmatnya.
• Bersama, mari ikutlah kesorga mulia, tempat kekal sejahtera, penuh bahagia.
10. PEMBACAAN IKHTISAR LAPORAN TAHUNAN JEMAAT
- GURU JEMAAT & SEKRETARIS
11. NYANYIAN 402 : 1 – 2 “KUPERLUKAN JURU S’LAMAT”
• Ku perlukan juru s’lamat, kalau tidak, kusesat ; s’lalu harus kurasakan
bahwa Tuhanku dekat. Maka jiwaku tenang, takan takut dan enggan ; bila
Tuhanku membimbing,’ku dimalampun tent’ram.
• Kuperlukan juru s’lamat, kar’na imanku lemah. HiburanNya menguatkan ;
sungguh tiada bandingnya.
12. SAMBUTAN : KESAN & PESAN ATAS LAPORAN TAHUNAN
- Mewakili Warga Jemaat Wanita :
- Mewakili Warga Jemaat Pria :
13. NYANYIAN KJ 408 : 2 “DIJALANKU KUDIIRINGI”
Dijalanku yang berliku dihiburNya hatiku ; bila tiba pencobaan, dikuatkan
imanku. Jika aku kehausan dan langkahku tak tetap, dari cadas didepanku
datang air yang sedap ; dari cadas didepanku datang air yang sedap.
14. DOA SYAFAAT
15. NYANYIAN KIDUNG BARU NO. 188. 1 (ES =DO)
0 5 1 3 5 5 6 5 2 3 3
Tiap langkahku diatur oleh Tuhan,
Dan tangan kasihNya membimbingku.
Ditengah badai dunia menakutkan
Hatiku tetap tenang teduh.
Tiap langkahku kutahu Tuhan yang pimpin
Ketempat tinggi ku diantarNya
Hingga sekali nanti aku tiba
Dirumah Bapa, Surga yang baka.
16. RENUNGAN :
17. KOOR
18. NYANYIAN KJ No. 266 : 1 “ADA KOTA YANG INDAH CERAH”
Ada kota yang indah cerah, nampaklah bagi mata iman : rumah Bapa di Sorga
baka bagi orang yangsudah menang
Refrein : “ Indahnya saatnya kita jumpa di kota permai. Indahnya saatnya
kita jumpa di kota permai.
19. PERSEMBAHAN (Lagu Persembahan KJ. 392 : 3) “KU BERBAHAGIA”
Aku serahkan diri penuh, dalam Tuhanku hatiku teduh.
Sambil menyongsaong kembaliNya, “kudiliputi anugerah.
Aku bernyanyi bahagia, memuji Yesus selamanya 2x
20. DOA PENUTUP/BERKAT
Disambut jemaat dengan Amin 3x
II. KEBAKTIAN KELUARGA
tgl. 01 Januari 2012 pkl. 00.00 Wib
Petunjuk
:
P
=
Pemimpin
OT
=
Orangtua
J = Jemaat
A
=
Anak-Anak
PERSIAPAN :
• Anggota keluarga mempersiapkan diri . . . saat teduh ( 3 menit)
• Ajakan beribadah
KEBAKTIAN :
Buku Ende NO. 64 : 1 - 2 “Naung moru do muse sa-taon ”
Ayat-1
Setahun sudah lewat lagi, makin bertambah umurku.
Adakah baik sehari hari, tindakan dan perangaiku?
Apakah imanku bertambah, dan rasa kasih sayangku
terhadap Yesus serta Allah maupun pada sesamaku?
Ayat-2
Kalau harus kub’ri jawaban, tentulah malu diriku
Mengingat sifat kelancangan, buruknya perbuatanku
Sebab tanganku penuh dosa, hatiku jahat durhaka
Baik kaki lidah serta mata membuat salah semua
RESPONSORIA
P : AdalAdalah baik untuk menyanyikan syukur kepada Tuhan
J : Dan untuk menyanyikan mazmur bagi namaMu yang Mahatinggi
P : Untuk memberitakan kasih setia-Mu di waktu pagi
J : Dan juga kesetiaan-Mu di waktu malam
P : Halleluya Berbahagialah orang yang takut akan Tuhan; yang sangat suka
kepada perintah-Nya.
A : Anak cucunya akan perkasa di bumi;
J : Angkatan orang benar akan diberkati.
P : Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya
J : Kebajikannya tetap untuk selamanya
P+J : Betapa besarnya pekerjaan-pekerjaan-Mu, yaTuhan; dan sangat dalamnya
rancangan-rancangan-Mu. Sungguh segala hari-hari kami berlalu karena
gemas-Mu
OT : Kami mengahabiskan tahun-tahun kami seperti keluh; masa
hidup kami tujuh puluh tahun, dan jika kami kuat delapan puluh
tahun.Dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan
P+J : Ajar Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian rupa,
hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
BERNYANYI BE No. 66 : 1 – 3 “Debata baen donganmi! ”
Ayat-1
:
Debata baen donganmi! Lao mangula ulaonmu
Baen Ibana haposanmu, sai paserep rohami
Debata baen donganmi, Debata baen donganmi
Ayat-2
:
Debata baen donganmi, molo Debata donganmu
Ndang tarbahen ho be lilu, sai ture do langkami
Debata baen donganmi, Debata baen donganmi
Ayat-3
:
Debata baen donganmi, sai na saut do ulaonmu
Sai na tulus do sangkapmu, jala sonang rohami
Debata baen donganmi, Debata baen donganmi
RENUNGAN SINGKAT : Mateus 18: 21-35 (Dibacakan secara responsoria)
Bernyanyi: BE 70 : 1 – 3 “O Jesus Sipangolu Au”
Naung salpu taon na buruk i , Ho ma hupuji Tuhanki
Ai diramoti Ho tongtong tondingku dohot dagingkon 2X
O Jesus sai asi roham, paian denggan ni basam
Muse di taon naimbaru on, di nasa huriam tongtong 2X
Sai tong paian hatami, na mangapuli roha i
Alai pangago sasude, padao ma sian hami be 2X
DOA SYAFAAT
BERNYANYI KJ No. 393 : 1-3 “Tuhan, Betapa Banyaknya”
Ayat-1
Tuhan betapa banyaknya berkat yang Kau beri
Teristimewa rahmatMu dan hidup abadi
Ref. Trimakasih, ya Tuhanku atas keselamatanku
Padaku telah Kau beri hidup bahagia abadi
Ayat-2
Sanak saudara dan teman Kau bri kepadaku
Berkat terindah ialah:’Ku jadi anakMu.
Ref.: Trimakasih…
Ayat-3
Setiap hari rahmatMu tiada putusnya:
Hendak kupuji namaMu tetap selamanya.
Ref.: Trimakasih…
KATA-KATA NASEHAT ORANGTUA
PERSEMBAHAN (MATIUS 6: 3-4)
BERNYANYI KJ. No. 302 : 1 - 2 “Ku’bri Persembahan”
(sambil mengumpulkan persembahan)
Ku’bri persembahan pada Tuhanku
Sambil puji Yesus Juru s’lamatku
Dengan sukaria kub’ri padaMu
dan merasa kaya dalam Tuhanku
DOA PENUTUP
“PENGAMPUNAN DAN REKONSILIASI”
Mateus 6: 12
“Prinsip mendasar dalam rekonsiliasi adalah pengampunan, dengan adanya pengampunan, segala masalah dapat diselesaikan, dan bersama-sama membangun masa depan yang penuh harapan”. Tahun 2012 kita buka dengan memulai prinsip dasar ini, baik di tengah-tengah keluarga, masyarakat dan gereja, agar berkat Tuhan mengalir sepanjang tahun ini. Sebagai orang Kristen, kita harus dapat mengajarkan ajaran tentang pengampunan (forgiveness) sebagai prasyarat untuk rekonsiliasi. Sebab penemu ajaran tentang pengampunan ini adalah Yesus Kristus Juru selamat kita. Dalam Khotbah di Bukit Dia mengajarkan murid-muridNya berdoa“, “dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat 6:12).
Allah akan mengampuni dosa seseorang bila orang itu sudah mengampuni orang lain yang bersalah kepadanya. Ketika Petrus menanyakan kepada Yesus, apakah sudah cukup mengampuni seseorang sebanyak tujuh kali(sesuai aturan Jahudi), Yesus mengatakan tidak cukup sampai tujuh kali, tetapi tujuh puluh kali tujuh kali, artinya tidak ada batas untuk pengampunan.
Kuasa pengampunan yang diajarkan Tuhan Yesus itu memang luar biasa, ini dapat kita lihat sewaktu Ia disalibkan (Luk 23:35) pada puncak penghinaan yang diterimaNya, Yesus berdoa “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”, dan mendengar Doa yang “aneh” inilah sehingga seorang penjahat yang berada disebelah kanan-Nya ‘bertobat, dan memohon kepada Yesus, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja”. Mengapa penjahat itu berubah dan bertobat...? Dia terharu karena Yesus mendoakan musuh-musuh-Nya Bagi orang Jahudi dan bagi peradaban dunia pada waktu itu, hukum yang berlaku adalah hukum pembalasan. Mata ganti mata, gigi ganti gigi, dasarnya adalah hukum pembalasan demi keadilan (Kel 21:24). Tetapi Yesus mengajarkan hukum yang baru, ...kasihilah musuhmu, berbuat baiklah kepada orang yang membenci kamu, mintalah berkat kepada orang yang mengutuk kamu, berdoalah bagi orang yang mencaci kamu, (Luk 6:27-28). Dalam konteks kuasa pengampunan inilah kita hendaknya menjalani tahun 2012 ini, jika ada perselisihan antara bapak kepada isterinya, antara bapak/ibu terhadap anaknya, antara anak dengan saudaranya, pakailah senjata “kuasa pengampunan Yesus ini”.
Tentu saja mengampuni musuh sangat sulit, tetapi Yesus telah memulainya dan harus kita wujudkan sebagai ahli waris-Nya di dunia ini.
Salib adalah lambang kemenangan. Kemenangan yang telah lebih dahulu diperjuangkan Yesus. Kemenangan yang diperjuangkan dengan cara penyerahan. Jika demikian, bagi mereka yang memiliki lambang kemenangan, daripanya dituntut penyerahan kepada Yesus.
Ada satu ceritera dimana suatu ketika diadakan perlombaan menghabiskan sepiring bubur kacang hijau dengan menggunakan sebuah sendok yang panjangnya satu meter, setelah hitungan dimulai para peserta berusaha untuk menghabiskannya, tetapi sampai selesai tidak ada yang jadi pemenang, hanya tertawaan dari para penonton yang menjadi pemenang, sebab pemenang hanya ada jika diantara mereka ada kerja sama, seharusnya keinginan untuk jadi pemenang secara pribadi harus diurungkan. Jika ingin menjadi pemenang, maka kerja sama dengan seorang teman harus dilaksanakan. Oleh karena itu tidak perlu ngotot dan tetap bertahan pada keakuan menanggung bebanmu. Tidak perlu mancari jalan yang tidak benar untuk menjadi pemenang. Rasul Paulus berkata kepada jemaat Galatia 6:2 :”bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu, demikian kamu memenuhi hukum Kristus”. Sejalan dengan ucapan Paulus, Dietrich Bonhoeffer mengatakan: “seperti Kristus menanggung beban kita, demikian jugalah kita harus menanggung beban saudara-saudara kita”.
Memilih kerjasama berarti berusaha menghindarkan atau paling tidak mengurangi persoalan atau beban. Memilih kerjasama berarti mengutamakan kebersamaan, yang juga mengutamakan tugas panggilan. Dalam melaksanakan tugas panggilan, perlu ada kerjasama untuk mewujudkan suatu tujuan bersama. Amin.
Selamat Tahun Baru. Pdt. R.H.L. Tobing.
Pendeta Resort, Majelis Jemaat, dan Para Pelayan GKPI se Jabodetabek
mengucapkan :
Selamat Hari Natal 2011
&
Tahun Baru 2012
Perdamaian sangat dibutuhkan pada jaman ini, bagaimana kita bisa berdamai dengan sesama, dengan Tuhan dan diri sendiri.Semua ini hanya dapat kita peroleh dari Dia dan FirmanNya sebagai Madu Surgawi.
Jumat, 18 November 2011
Kamis, 17 November 2011
Khotbah dari Roma 12: 12-21
Pendahuluan
Dalam kitab Roma pasal 1-11 Paulus banyak sekali membicarakan masalah-masalah dogmatika, namun dalam pasal 12 ini Paulus mengajak jemaat di Roma untuk mempraktekkan teori yang sudah di dapat. Paulus memberikan perintah-perintah yang bersifat ajakan dengan harapan bahwa mereka mulai mencoba untuk hidup bersama dengan orang-orang lain dan tetap menerapkan kebenaran-kebenaran firman Tuhan.Dari bacaan tersebut diatas, sepintas keadaan di kota Roma memang tidak mendukung keberadaan orang-orang yang percaya Tuhan Yesus, bahkan ada indikasi bahwa banyak orang Kristen yang diperlakukan tidak baik dan tidak adil (ay 12-15, 17-21). Dalam keadaan yang sulit bagi orang Kristen ini maka Paulus menasihati, supaya mereka bertahan dalam iman yang benar dan mereka justru harus tetap mempraktekkan kasih itu. Karena bagi Paulus kasih itu bukan sekedar perkataan saja namun tindakan kasih itu jauh lebih penting. Ada 2 hal yang sedang diperjuangkan oleh Paulus, yang pertama berkaitan dengan kehidupan di dalam jemaat sendiri. Paulus mengharapkan jemaat saling mengasihi, memberi hormat, membantu orang lain yang kekurangan, memberikan tumpangan, sehati sepikir, bertekun dalam doa dan tetap melayani Tuhan. Kedua, berkaitan dengan masyarakat atau orang luar. Paulus menasehatkan untuk bersabar dalam kesesakan, minta berkat untuk orang-orang yang menganiayanya, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, mengasihi seterunya dengan tindakan yang nyata. Paulus melihat bahwa akan ada orang-orang yang tidak suka dengan orang Kristen, bagi Paulus yang pertama harus dilakukan orang percaya adalah hidupnya berkenan dulu kepada Tuhan,biarkan Tuhan terlebih dahulu mengubah hidupnya, kemudian Paulus mengharapkan agar orang Kristen menjadi berkat bagi orang lain, dengan cara jangan membalas kejahatan mereka dengan melakukan kejahatan pula. Paulus mendorong jemaatnya untuk melawan mereka dengan cara yang berbeda yaitu melakukan kebaikan bagi mereka. Paulus ingin orang yang percaya mempunyai inisiatif aktif untuk terwujudnya perdamaian, apalagi kalau hal itu bergantung pada kita sebagai orang Kristen. Maka melakukan hal yang baik bagi semua orang merupakan ciri hidup orang yang percaya kepada Tuhan Yesus.
Bagi orang percaya hidup bukanlah kebetulan. Kehidupan diberikan sang Maha Kuasa. Dan hal ini disaksikan dalam kitab Kejadian. Berarti hidup adalah anugrah yang seharusnya disyukuri. Wujud syukur dapat sangat beragam, namun satu hal yang sama menjadikan hidup sesuai dengan kehendak Allah menciptakan masing-masing kita. Setiap orang juga tidak sama kemampuannya, potensinya atau talentanya. Mungkin seseorang diberi lima, yang lain dua, atau ada yang satu. Itu hak Allah. Dan kalau kita menyelami lebih dalam itu juga merupakan pengenalan Allah terhadap kita. Ia memberikan sesuai dengan kesanggupan kita. Oleh karena itu yang penting di dalam menjalankan hidup sebagaimana yang dikemukakan Paulus dalam nas renungan kita mengambil hidup tersebut sebagai persembahan yang hidup yang berkenan kepada Allah. Kata kunci disini ialah bagaimana kita dengan setia menjadikan hidup kita secara totalitas sesuai dengan kehendak Allah - menjadi persembahan yang hidup.
Penjelasan
Bagaimana kita menghindari konflik dan mewujudkan bahwa orang Kristen adalah surat Kristus yang kelihatan....?
Pertama, tetaplah berpengharapan, bersabar dan berdoa, apa pun konflik yang sedang dihadapi (ayat 12). Paulus mengajak jemaat untuk tidak menyerah kepada konflik yang pahit, tetapi bertekun dan bersikap positif dalam menggapai penyelesaian. Ketika dunia tidak lagi memberikan harapan yang baik kepada manusia, kita diminta untuk tetap bersukacita, sabar dan senantiasa tekun dalam doa. Itulah sikap orang Kristen yang benar dalam menyikapi situasi sesulit apapun, sehingga kita tidak jatuh kepada keputusasaan.
Kedua, kemurahan hati adalah prinsip penting dalam mencegah konflik, bahkan mengobati jika konflik ini terjadi (ayat 13). Sebab kesombongan dan kecongkakan malah akan memperbesar konflik yang sedang terjadi bukan meredamnya. Perhatikan konflik-konflik yang terjadi di Indonesia, bukankah kecongkakan adalah salah satu akar yang paling utama?
Ketiga, bangkitkanlah semangat menjunjung tinggi persatuan dan kesehatian (14-16). Kita harus selalu menunjukkan kebaikan, meskipun kepada orang yang menganiaya kita. Ketika orang lain sedang bersusah hati, kita ikut bersusah hati, demikian pula sebaliknya, ketika orang lain bersukacita, kita pun larut di dalamnya. Simpati dan empati adalah dua kata yang amat dalam dan penting artinya di dalam memelihara kesatuan. Kita diminta untuk tidak merasa lebih unggul, lebih pandai, atau lebih penting daripada orang lain. Sikap demikian adalah penghancur kesatuan dan kesehatian.
Keempat, berusahalah hidup damai dengan semua orang; Bukan dengan hantu/begu (17-20). Bahkan dengan musuh yang paling menyakitkan pun, orang Kristen harus berinisiatif untuk hidup damai dan berdamai. Pelayanan yang kita lakukan kepada teman dan sahabat kita, harus kita lakukan juga kepada mereka yang telah berbuat jahat. Tugas kita adalah memberkati dan berbuat kebaikan. Pembalasan adalah hak Tuhan.
Refleksi
Kita tentu mengenal - setidaknya - satu orang, yang lebih sering berkonflik daripada berdamai dengan kita. Ketidakserasian bisa muncul dalam berbagai bentuk: dua kepribadian bisa tidak cocok; sistem kepercayaan dan ideologi yang berbeda bisa menimbulkan perdebatan; kata dan perbuatan bisa disalahpahami. Tetapi melalui Yesus Kristus, hampir semua perbedaan dapat diatasi. Orang yang menerima Dia sebagai Juruselamat memiliki kemampuan untuk menjalani kehidupan yang damai. Tuhan Yesus memanggil setiap orang percaya untuk menjadi sumber penghiburan dan pertolongan bagi orang lain, bukan menjadi sumber konflik.
Konflik timbul akibat hidup di dalam `daging’ (keinginan dasar manusia untuk memuaskan diri sendiri dengan segala cara). Tetapi orang percaya sudah diberi Roh Kudus agar bisa bertindak dalam Roh, bukan dalam daging. Jika kita menyerahkan kendali hidup kita kepada Tuhan, kebajikan dan anugerah-Nya akan mengalir melalui hidup kita, dan menciptakan keharmonisan.
Anugerah-Nya itu akan terungkap melalui doa, ketika kita melakukan kebiasaan untuk membawa orang lain kepada Bapa. Kemudian, kita akan dengan tulus membicarakan masalah relasi itu dengannya, entah itu berupa luka lama, anggapan yang salah, maupun pola pikir yang tidak sehat. Hanya ada satu cara untuk mengatasi sumber konflik: kita harus bersedia menunjukkan perhatian kita dan mendengarkan sudut pandang orang lain. Kadang mungkin diperlukan bantuan konselor yang baik untuk melakukan langkah ini. Akhirnya, jika akar persoalan sudah ditemukan, kedua pihak bisa sama-sama memulihkan keharmonisan dengan bersedia menyelesaikan masalah baru jika diperlukan.
Allah menghendaki orang percaya hidup dalam perdamaian, tetapi Dia tahu kita tidak akan dapat mencapai keharmonisan itu sendirian. Karena itulah Dia memberi kita Penolong, yaitu Roh Kudus. Amin.
Dalam kitab Roma pasal 1-11 Paulus banyak sekali membicarakan masalah-masalah dogmatika, namun dalam pasal 12 ini Paulus mengajak jemaat di Roma untuk mempraktekkan teori yang sudah di dapat. Paulus memberikan perintah-perintah yang bersifat ajakan dengan harapan bahwa mereka mulai mencoba untuk hidup bersama dengan orang-orang lain dan tetap menerapkan kebenaran-kebenaran firman Tuhan.Dari bacaan tersebut diatas, sepintas keadaan di kota Roma memang tidak mendukung keberadaan orang-orang yang percaya Tuhan Yesus, bahkan ada indikasi bahwa banyak orang Kristen yang diperlakukan tidak baik dan tidak adil (ay 12-15, 17-21). Dalam keadaan yang sulit bagi orang Kristen ini maka Paulus menasihati, supaya mereka bertahan dalam iman yang benar dan mereka justru harus tetap mempraktekkan kasih itu. Karena bagi Paulus kasih itu bukan sekedar perkataan saja namun tindakan kasih itu jauh lebih penting. Ada 2 hal yang sedang diperjuangkan oleh Paulus, yang pertama berkaitan dengan kehidupan di dalam jemaat sendiri. Paulus mengharapkan jemaat saling mengasihi, memberi hormat, membantu orang lain yang kekurangan, memberikan tumpangan, sehati sepikir, bertekun dalam doa dan tetap melayani Tuhan. Kedua, berkaitan dengan masyarakat atau orang luar. Paulus menasehatkan untuk bersabar dalam kesesakan, minta berkat untuk orang-orang yang menganiayanya, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, mengasihi seterunya dengan tindakan yang nyata. Paulus melihat bahwa akan ada orang-orang yang tidak suka dengan orang Kristen, bagi Paulus yang pertama harus dilakukan orang percaya adalah hidupnya berkenan dulu kepada Tuhan,biarkan Tuhan terlebih dahulu mengubah hidupnya, kemudian Paulus mengharapkan agar orang Kristen menjadi berkat bagi orang lain, dengan cara jangan membalas kejahatan mereka dengan melakukan kejahatan pula. Paulus mendorong jemaatnya untuk melawan mereka dengan cara yang berbeda yaitu melakukan kebaikan bagi mereka. Paulus ingin orang yang percaya mempunyai inisiatif aktif untuk terwujudnya perdamaian, apalagi kalau hal itu bergantung pada kita sebagai orang Kristen. Maka melakukan hal yang baik bagi semua orang merupakan ciri hidup orang yang percaya kepada Tuhan Yesus.
Bagi orang percaya hidup bukanlah kebetulan. Kehidupan diberikan sang Maha Kuasa. Dan hal ini disaksikan dalam kitab Kejadian. Berarti hidup adalah anugrah yang seharusnya disyukuri. Wujud syukur dapat sangat beragam, namun satu hal yang sama menjadikan hidup sesuai dengan kehendak Allah menciptakan masing-masing kita. Setiap orang juga tidak sama kemampuannya, potensinya atau talentanya. Mungkin seseorang diberi lima, yang lain dua, atau ada yang satu. Itu hak Allah. Dan kalau kita menyelami lebih dalam itu juga merupakan pengenalan Allah terhadap kita. Ia memberikan sesuai dengan kesanggupan kita. Oleh karena itu yang penting di dalam menjalankan hidup sebagaimana yang dikemukakan Paulus dalam nas renungan kita mengambil hidup tersebut sebagai persembahan yang hidup yang berkenan kepada Allah. Kata kunci disini ialah bagaimana kita dengan setia menjadikan hidup kita secara totalitas sesuai dengan kehendak Allah - menjadi persembahan yang hidup.
Penjelasan
Bagaimana kita menghindari konflik dan mewujudkan bahwa orang Kristen adalah surat Kristus yang kelihatan....?
Pertama, tetaplah berpengharapan, bersabar dan berdoa, apa pun konflik yang sedang dihadapi (ayat 12). Paulus mengajak jemaat untuk tidak menyerah kepada konflik yang pahit, tetapi bertekun dan bersikap positif dalam menggapai penyelesaian. Ketika dunia tidak lagi memberikan harapan yang baik kepada manusia, kita diminta untuk tetap bersukacita, sabar dan senantiasa tekun dalam doa. Itulah sikap orang Kristen yang benar dalam menyikapi situasi sesulit apapun, sehingga kita tidak jatuh kepada keputusasaan.
Kedua, kemurahan hati adalah prinsip penting dalam mencegah konflik, bahkan mengobati jika konflik ini terjadi (ayat 13). Sebab kesombongan dan kecongkakan malah akan memperbesar konflik yang sedang terjadi bukan meredamnya. Perhatikan konflik-konflik yang terjadi di Indonesia, bukankah kecongkakan adalah salah satu akar yang paling utama?
Ketiga, bangkitkanlah semangat menjunjung tinggi persatuan dan kesehatian (14-16). Kita harus selalu menunjukkan kebaikan, meskipun kepada orang yang menganiaya kita. Ketika orang lain sedang bersusah hati, kita ikut bersusah hati, demikian pula sebaliknya, ketika orang lain bersukacita, kita pun larut di dalamnya. Simpati dan empati adalah dua kata yang amat dalam dan penting artinya di dalam memelihara kesatuan. Kita diminta untuk tidak merasa lebih unggul, lebih pandai, atau lebih penting daripada orang lain. Sikap demikian adalah penghancur kesatuan dan kesehatian.
Keempat, berusahalah hidup damai dengan semua orang; Bukan dengan hantu/begu (17-20). Bahkan dengan musuh yang paling menyakitkan pun, orang Kristen harus berinisiatif untuk hidup damai dan berdamai. Pelayanan yang kita lakukan kepada teman dan sahabat kita, harus kita lakukan juga kepada mereka yang telah berbuat jahat. Tugas kita adalah memberkati dan berbuat kebaikan. Pembalasan adalah hak Tuhan.
Refleksi
Kita tentu mengenal - setidaknya - satu orang, yang lebih sering berkonflik daripada berdamai dengan kita. Ketidakserasian bisa muncul dalam berbagai bentuk: dua kepribadian bisa tidak cocok; sistem kepercayaan dan ideologi yang berbeda bisa menimbulkan perdebatan; kata dan perbuatan bisa disalahpahami. Tetapi melalui Yesus Kristus, hampir semua perbedaan dapat diatasi. Orang yang menerima Dia sebagai Juruselamat memiliki kemampuan untuk menjalani kehidupan yang damai. Tuhan Yesus memanggil setiap orang percaya untuk menjadi sumber penghiburan dan pertolongan bagi orang lain, bukan menjadi sumber konflik.
Konflik timbul akibat hidup di dalam `daging’ (keinginan dasar manusia untuk memuaskan diri sendiri dengan segala cara). Tetapi orang percaya sudah diberi Roh Kudus agar bisa bertindak dalam Roh, bukan dalam daging. Jika kita menyerahkan kendali hidup kita kepada Tuhan, kebajikan dan anugerah-Nya akan mengalir melalui hidup kita, dan menciptakan keharmonisan.
Anugerah-Nya itu akan terungkap melalui doa, ketika kita melakukan kebiasaan untuk membawa orang lain kepada Bapa. Kemudian, kita akan dengan tulus membicarakan masalah relasi itu dengannya, entah itu berupa luka lama, anggapan yang salah, maupun pola pikir yang tidak sehat. Hanya ada satu cara untuk mengatasi sumber konflik: kita harus bersedia menunjukkan perhatian kita dan mendengarkan sudut pandang orang lain. Kadang mungkin diperlukan bantuan konselor yang baik untuk melakukan langkah ini. Akhirnya, jika akar persoalan sudah ditemukan, kedua pihak bisa sama-sama memulihkan keharmonisan dengan bersedia menyelesaikan masalah baru jika diperlukan.
Allah menghendaki orang percaya hidup dalam perdamaian, tetapi Dia tahu kita tidak akan dapat mencapai keharmonisan itu sendirian. Karena itulah Dia memberi kita Penolong, yaitu Roh Kudus. Amin.
Kamis, 08 September 2011
"Hubungan Mertua dan Menantu"
Hubungan Yang Benar antara Mertua dan Menantu
Kel. 18: 1-27 dan Rut 1: 11-19
POUK Kota Wisata 11 Sep 2011.
Ada sebuah pepatah mengatakan: "Setajam-tajamnya duri lidah buaya,
masih lebih tajam lidah ibu mertua." Pepatah ini menggambarkan
hubungan yang tidak akur antara menantu dan mertua. Untuk itu, bila
ada seorang istri yang menceritakan hubungannya dengan ibu mertuanya
cukup harmonis, maka komentar yang muncul adalah, "Wah hebat, kasus
langka!" Sebaliknya, jika diceritakan sang menantu perempuan yang
sering konflik dengan ibu mertuanya, maka komentar yang akan keluar
adalah "Ah itu sih, biasa!"
Sebuah studi mengatakan bahwa 60 persen hubungan mertua perempuan
dengan menantu perempuan berada di dalam ketegangan.Beda dengan Hub Mertua Laki2 dengan Menantu laki2 seperti Musa dan Yitro. Mengapa banyak hubungan mertua dan menantu kurang baik? Alasannya adalah:
1. Ibu mertua merasa anak lelakinya "diambil" oleh menantunya.
2. Ibu mertua merasa telah "disia-siakan" oleh anak lelakinya.
3. Ibu mertua merasa tidak "dirawat" karena anaknya memilih hidup
dengan orang lain.
Karena perasaan-perasaan itu, sering kali ibu mertua bersikap sinis,
galak, dan selalu mengkritik menantu perempuannya. Segala hal mengenai
menantu perempuannya dinilai kurang. Semua yang dilakukan menantunya
tidak memenuhi kualifikasinya. Sementara itu, istri merasa bahwa ibu
mertuanya terlalu ikut campur urusan rumah tangga mereka, selalu
mengkritik pekerjaannya, tidak pantas untuk anaknya, dsb.. Sikap ibu
mertua semakin menjadi-jadi jika dulu pernikahan anaknya itu tidak
direstui olehnya. Hal ini dapat menjadi alasan bagi ibu mertua untuk
"menjatuhkan" menantu perempuannya itu. Dalam kasus seperti ini sering
kali menantu perempuan menjadi pihak yang "kalah". Akibatnya menantu
perempuan sering mengeluh bahwa hidup dengan mertua perempuan bagaikan hidup dengan ibu tiri.
Bagaimana menjalin sebuah hubungan yang baik dengan mertua? Apa yang
harus dilakukan oleh menantu? Mari, kita belajar dari teladan Musa dan Yitro Rut dan Naomi tentang sikapnya terhadap mertuanya.
a. Rut menganggap mertuanya sebagai orang tuanya sendiri yang perlu
ditemani, dirawat, dan dikasihi. Perhatikanlah perkataan Rut kepada
Naomi, "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan
tidak mengikuti engkau; ...." (Rut 1:16-17) Sikap Rut yang demikian
manis kepada mertuanya, diketahui dan dipuji-puji oleh banyak orang,
termasuk oleh Boas (Rut 2:11). Mertua Rut memang baik, tidak seperti
kebanyakan mertua sekarang. Namun, sikap yang menganggap mertua
sebagai orang tua sendiri perlu ditiru. Jadi, anggaplah mertua Anda
sebagai ibu Anda sendiri. Kasih ini harus Anda tunjukkan dengan
mengunjunginya secara teratur, dan menerimanya dengan ramah jika dia
datang berkunjung. Dengan demikian, ibu mertua Anda tidak merasa
disisihkan, apalagi disingkirkan. Jika Anda mengalami masalah,
terutama menyangkut kehidupan rumah tangga, cobalah meminta nasihat
kepada ibu mertua Anda. Tindakan ini akan membuat ibu mertua Anda
merasa dihargai. Di samping itu, dengan berkonsultasi kepadanya,
komunikasi Anda akan terjalin dengan indah dan harmonis, dan Anda akan disayangi mertua. Seperti Rut, ia mau mendengar nasihat mertuanya (Rut 3:5). Kita Bandingkan Sikap Musa terhadap Yitro…Ay. 7 Sujudlah Musa dan menciumnya.
b. Hargailah mertua Anda. Ingatlah bahwa mertua Anda adalah orang yang sudah membesarkan pasangan Anda. Oleh karena itu, berikanlah kepadanya penghargaan dan penghormatan, bagaimanapun buruknya dia. Kita harus menyadari bahwa orang tua sudah banyak berkorban dan kita harus menghargai pengorbanan mereka. Misalnya, kita mengingat ulang
tahunnya. Prinsipnya adalah buatlah hal-hal yang membuat mertua merasa dihargai. Bandingkan dengan Musa Atas petunjuk Yitro, Musa mendelegasikan tugas pelayanan kepada orang lain. Ada bagian yang tetap ia pegang sesuai kapasitasnya sebagai pemimpin utama, yang lain ia delegasikan kepada mereka yang memenuhi kriteria tertentu. Orang-orang tersebut perlu diperlengkapi dengan kebenaran firman Tuhan (ayat 20) serta memiliki kualitas karakter yang sepadan dengan tugas kepemimpinan itu (ayat 21). Kualitas itu antara lain: cakap atau terampil melayani, takut akan Tuhan, dapat dipercaya dan diandalkan, serta memiliki integritas tinggi.
Seperti Tuhan memercayakan tugas pelayanan dan memperlakukan kita sebagai partner-Nya, mari kita mengga-lang kemitraan dengan sesama anak Tuhan. Mereka yang memerlukan bimbingan, perlu kita dampingi dan beri kepercayaan. Mereka yang sudah mampu, perlu kita utus dan beri tanggung jawab. Mari bahu membahu melayani Tuhan kita.
c. Bijaksanalah terhadap tuntutan mertua. Mungkin mertua Anda benar
karena dia lebih banyak makan asam garam. Tuntutannya perlu
dipertimbangkan. Jika terjadi konflik, ingatlah bahwa mertua Anda
bukan musuh. Dia adalah ibu pasangan Anda.
d. Bersabar dan berdoa. Sebenarnya, ibu mertua tidak ingin sinis
terhadap Anda. Koreksi diri juga penting. Mungkin selama ini ada sikap
Anda yang membuat ibu mertua tidak berkenan. Ingat, jika Anda dapat
bersabar, selalu memberi perhatian, dan bersikap positif terhadap ibu
mertua, lama-lama ibu mertua pun akan lunak hatinya. Jika perilaku
negatif dibalas negatif, maka sering kali hasilnya tidak
menggembirakan. Membalas kebaikan dengan kejahatan adalah sikap Iblis. Membalas kebaikan dengan kebaikan adalah sikap dunia. Tetapi membalas kejahatan dengan kebaikan adalah sikap anak-anak Tuhan.
=+Kisah ini berasal dari tradisi Elohista dan bersangkutan dengan ceritera tentang Musa di tanah Midian, Kel 2:11-4:31. Ada sementara ahli yang berpendapat bahwa tradisi Yahwista berasal dari Midian: di tanah Midian nama TUHAN (YHWH) dinyatakan kepada Musa, Kel 3:1 dst; Yitro adalah "imam di Midian", Kel 18:1, ia menyeru nama TUHAN, Kel 18:10, mempersembahkan korban kepadaNya dan mengetuai perjamuan yang menyusul, Kel 18:12. Tetapi apa yang dimaksudkan ialah: Yitro mengakui kebesaran dan kuasa TUHAN, hal mana tidak berarti bahwa YHWH adalah allahnya Yitro atau bahwa Yitro selanjutnya memeluk agama TUHAN meskipun tradisi barangkali mengartikan keterangannya begitu rupa sehingga Yitro dijadikan pemuja YHWH, Kel 18:12. "Gunung Allah", Yitro hanya datang ke situ mendapatkan Musa, lalu kembali ke negerinya sendiri,
Kel 18:2 - disuruh pulang Tidak ada ayat lain yang berkata bahwa Musa menyuruh isterinya pulang. Ini sebuah tradisi yang tidak bersangkutan dengan tradisi yang tercantum dalam Kel 4:19-20,24-26.
Fasal ini memuat tradisi tentang kaum-kerabat Musa serta hubungannja dengan suku Madianit, dan bermaksud djuga melukiskan terbentuknja susunan kemasjarakatan.
Pertemuan dengan Jetro ditjeritakan disini, kiranja karena umat Israel telah sampai dekat gunung Sinai (aj.5 jadi dalam wilajah kediaman Jetro .Mungkin sekali djuga sebelum Perwahjuan digunung Sinai sudah terasa kebutuhan adanja organisasi (walaupun amat sederhana), dan beberapa peraturan.
Dalam Kitab Sutji Musa terutama tampil kemuka dalam hubungannja dengan Tuhan. Hidup kekeluargaannja hampir-hampir tidak berperanan. Bahwa ia telah menjuruh isterinja pulang kerumah ajahnja, hingga kini belum pernah disebutkan.
Ada dua hal yang menjadi penyebab. Pertama, ternyata orang-orang Israel pada masa itu belum atau kurang mengerti firman Tuhan. Hal ini wajar karena Taurat belum ditulis waktu itu. Karena itu Musalah yang mengajarkan kepada mereka segala ketetapan dan perintah yang dia terima langsung dari Allah. Kedua, Musa adalah satu-satunya hakim bagi bangsa Israel, sehingga setiap permasalahan di antara mereka harus diselesaikan oleh Musa. Musa memang seorang pemimpin jempolan yang mampu mengurus bangsa secara keseluruhan sekaligus memperhatikan masalah perseorangan juga. Hal ini menunjukkan kasih dan perhatian seorang pemimpin kepada setiap pribadi yang dia pimpin. Namun di sini Musa harus belajar mengenali batas-batas kapasitas dirinya.
Kita telah banyak mendengar ketidakcocokan dan pertengkaran antara menantu dengan ibu mertua, ipar, dan saudara-saudara lainnya. Tetapi, marilah kita tinjau sebentar cerita Rut dan Naomi yang terdapat di dalam Alkitab (Rut 1:1-9). Mari kita melihat sebab-sebabnya sehingga hubungan yang luar biasa ini dapat terjadi. Peristiwa ini tidaklah mustahil dapat terjadi pada masa sekarang apabila kita hayati inti dari kebenaran cerita.
1. Iman Naomi yang tetap teguh
Naomi adalah seorang ibu yang beriman. Rut, menantunya, belum mengenal Allah yang benar. Naomi tinggal di negeri Moab yang kafir setelah ia pindah dari Israel. Imannya kepada Allah dilihat oleh menantunya. Kita tidak tahu bagaimana ia menunjukkan imannya kepada Allahnya, tetapi yang kita tahu dengan pasti ialah bahwa hati Rut telah diserahkan pada Tuhan. Naomi membuktikan iman yang tetap teguh meskipun di dalam kesulitan di tengah-tengah bangsa yang tidak mengenal Allah yang hidup.
2. Kasih yang memenangkan
Kasih Naomi terhadap menantunya membuktikan imannya kepada Tuhan. Tidak ada kesempatan yang lebih besar lagi bagi seorang ibu Kristen untuk bersaksi tentang ibadahnya kepada Tuhan yang disembahnya di hadapan istri anaknya supaya terang keselamatan Tuhan bercahaya di dalam hati menantunya yang masih gelap.
Tidak ada cara lain yang lebih baik untuk menguji kerohanian seorang ibu selain dari mengasihi istri anaknya. Dan tiada cara lagi yang lebih baik untuk menguji keteguhan iman seorang ibu selain dari kasih yang diberikan menantunya.
Kasih yang memenangkan ini dapat dibuktikan kebenarannya, namun memerlukan waktu yang lama serta menghadapi berbagai kesulitan. Kasih dengan sendirinya tidak dapat dibatasi oleh keadaan-keadaan apa pun juga dari hubungan keluarga, karena Allah sendiri tidak dapat dibatasi. Manusia yang menutup hatinyalah yang membatasi kasih itu.
Amin. Pdt. R.H.L. Tobing
Kel. 18: 1-27 dan Rut 1: 11-19
POUK Kota Wisata 11 Sep 2011.
Ada sebuah pepatah mengatakan: "Setajam-tajamnya duri lidah buaya,
masih lebih tajam lidah ibu mertua." Pepatah ini menggambarkan
hubungan yang tidak akur antara menantu dan mertua. Untuk itu, bila
ada seorang istri yang menceritakan hubungannya dengan ibu mertuanya
cukup harmonis, maka komentar yang muncul adalah, "Wah hebat, kasus
langka!" Sebaliknya, jika diceritakan sang menantu perempuan yang
sering konflik dengan ibu mertuanya, maka komentar yang akan keluar
adalah "Ah itu sih, biasa!"
Sebuah studi mengatakan bahwa 60 persen hubungan mertua perempuan
dengan menantu perempuan berada di dalam ketegangan.Beda dengan Hub Mertua Laki2 dengan Menantu laki2 seperti Musa dan Yitro. Mengapa banyak hubungan mertua dan menantu kurang baik? Alasannya adalah:
1. Ibu mertua merasa anak lelakinya "diambil" oleh menantunya.
2. Ibu mertua merasa telah "disia-siakan" oleh anak lelakinya.
3. Ibu mertua merasa tidak "dirawat" karena anaknya memilih hidup
dengan orang lain.
Karena perasaan-perasaan itu, sering kali ibu mertua bersikap sinis,
galak, dan selalu mengkritik menantu perempuannya. Segala hal mengenai
menantu perempuannya dinilai kurang. Semua yang dilakukan menantunya
tidak memenuhi kualifikasinya. Sementara itu, istri merasa bahwa ibu
mertuanya terlalu ikut campur urusan rumah tangga mereka, selalu
mengkritik pekerjaannya, tidak pantas untuk anaknya, dsb.. Sikap ibu
mertua semakin menjadi-jadi jika dulu pernikahan anaknya itu tidak
direstui olehnya. Hal ini dapat menjadi alasan bagi ibu mertua untuk
"menjatuhkan" menantu perempuannya itu. Dalam kasus seperti ini sering
kali menantu perempuan menjadi pihak yang "kalah". Akibatnya menantu
perempuan sering mengeluh bahwa hidup dengan mertua perempuan bagaikan hidup dengan ibu tiri.
Bagaimana menjalin sebuah hubungan yang baik dengan mertua? Apa yang
harus dilakukan oleh menantu? Mari, kita belajar dari teladan Musa dan Yitro Rut dan Naomi tentang sikapnya terhadap mertuanya.
a. Rut menganggap mertuanya sebagai orang tuanya sendiri yang perlu
ditemani, dirawat, dan dikasihi. Perhatikanlah perkataan Rut kepada
Naomi, "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan
tidak mengikuti engkau; ...." (Rut 1:16-17) Sikap Rut yang demikian
manis kepada mertuanya, diketahui dan dipuji-puji oleh banyak orang,
termasuk oleh Boas (Rut 2:11). Mertua Rut memang baik, tidak seperti
kebanyakan mertua sekarang. Namun, sikap yang menganggap mertua
sebagai orang tua sendiri perlu ditiru. Jadi, anggaplah mertua Anda
sebagai ibu Anda sendiri. Kasih ini harus Anda tunjukkan dengan
mengunjunginya secara teratur, dan menerimanya dengan ramah jika dia
datang berkunjung. Dengan demikian, ibu mertua Anda tidak merasa
disisihkan, apalagi disingkirkan. Jika Anda mengalami masalah,
terutama menyangkut kehidupan rumah tangga, cobalah meminta nasihat
kepada ibu mertua Anda. Tindakan ini akan membuat ibu mertua Anda
merasa dihargai. Di samping itu, dengan berkonsultasi kepadanya,
komunikasi Anda akan terjalin dengan indah dan harmonis, dan Anda akan disayangi mertua. Seperti Rut, ia mau mendengar nasihat mertuanya (Rut 3:5). Kita Bandingkan Sikap Musa terhadap Yitro…Ay. 7 Sujudlah Musa dan menciumnya.
b. Hargailah mertua Anda. Ingatlah bahwa mertua Anda adalah orang yang sudah membesarkan pasangan Anda. Oleh karena itu, berikanlah kepadanya penghargaan dan penghormatan, bagaimanapun buruknya dia. Kita harus menyadari bahwa orang tua sudah banyak berkorban dan kita harus menghargai pengorbanan mereka. Misalnya, kita mengingat ulang
tahunnya. Prinsipnya adalah buatlah hal-hal yang membuat mertua merasa dihargai. Bandingkan dengan Musa Atas petunjuk Yitro, Musa mendelegasikan tugas pelayanan kepada orang lain. Ada bagian yang tetap ia pegang sesuai kapasitasnya sebagai pemimpin utama, yang lain ia delegasikan kepada mereka yang memenuhi kriteria tertentu. Orang-orang tersebut perlu diperlengkapi dengan kebenaran firman Tuhan (ayat 20) serta memiliki kualitas karakter yang sepadan dengan tugas kepemimpinan itu (ayat 21). Kualitas itu antara lain: cakap atau terampil melayani, takut akan Tuhan, dapat dipercaya dan diandalkan, serta memiliki integritas tinggi.
Seperti Tuhan memercayakan tugas pelayanan dan memperlakukan kita sebagai partner-Nya, mari kita mengga-lang kemitraan dengan sesama anak Tuhan. Mereka yang memerlukan bimbingan, perlu kita dampingi dan beri kepercayaan. Mereka yang sudah mampu, perlu kita utus dan beri tanggung jawab. Mari bahu membahu melayani Tuhan kita.
c. Bijaksanalah terhadap tuntutan mertua. Mungkin mertua Anda benar
karena dia lebih banyak makan asam garam. Tuntutannya perlu
dipertimbangkan. Jika terjadi konflik, ingatlah bahwa mertua Anda
bukan musuh. Dia adalah ibu pasangan Anda.
d. Bersabar dan berdoa. Sebenarnya, ibu mertua tidak ingin sinis
terhadap Anda. Koreksi diri juga penting. Mungkin selama ini ada sikap
Anda yang membuat ibu mertua tidak berkenan. Ingat, jika Anda dapat
bersabar, selalu memberi perhatian, dan bersikap positif terhadap ibu
mertua, lama-lama ibu mertua pun akan lunak hatinya. Jika perilaku
negatif dibalas negatif, maka sering kali hasilnya tidak
menggembirakan. Membalas kebaikan dengan kejahatan adalah sikap Iblis. Membalas kebaikan dengan kebaikan adalah sikap dunia. Tetapi membalas kejahatan dengan kebaikan adalah sikap anak-anak Tuhan.
=+Kisah ini berasal dari tradisi Elohista dan bersangkutan dengan ceritera tentang Musa di tanah Midian, Kel 2:11-4:31. Ada sementara ahli yang berpendapat bahwa tradisi Yahwista berasal dari Midian: di tanah Midian nama TUHAN (YHWH) dinyatakan kepada Musa, Kel 3:1 dst; Yitro adalah "imam di Midian", Kel 18:1, ia menyeru nama TUHAN, Kel 18:10, mempersembahkan korban kepadaNya dan mengetuai perjamuan yang menyusul, Kel 18:12. Tetapi apa yang dimaksudkan ialah: Yitro mengakui kebesaran dan kuasa TUHAN, hal mana tidak berarti bahwa YHWH adalah allahnya Yitro atau bahwa Yitro selanjutnya memeluk agama TUHAN meskipun tradisi barangkali mengartikan keterangannya begitu rupa sehingga Yitro dijadikan pemuja YHWH, Kel 18:12. "Gunung Allah", Yitro hanya datang ke situ mendapatkan Musa, lalu kembali ke negerinya sendiri,
Kel 18:2 - disuruh pulang Tidak ada ayat lain yang berkata bahwa Musa menyuruh isterinya pulang. Ini sebuah tradisi yang tidak bersangkutan dengan tradisi yang tercantum dalam Kel 4:19-20,24-26.
Fasal ini memuat tradisi tentang kaum-kerabat Musa serta hubungannja dengan suku Madianit, dan bermaksud djuga melukiskan terbentuknja susunan kemasjarakatan.
Pertemuan dengan Jetro ditjeritakan disini, kiranja karena umat Israel telah sampai dekat gunung Sinai (aj.5 jadi dalam wilajah kediaman Jetro .Mungkin sekali djuga sebelum Perwahjuan digunung Sinai sudah terasa kebutuhan adanja organisasi (walaupun amat sederhana), dan beberapa peraturan.
Dalam Kitab Sutji Musa terutama tampil kemuka dalam hubungannja dengan Tuhan. Hidup kekeluargaannja hampir-hampir tidak berperanan. Bahwa ia telah menjuruh isterinja pulang kerumah ajahnja, hingga kini belum pernah disebutkan.
Ada dua hal yang menjadi penyebab. Pertama, ternyata orang-orang Israel pada masa itu belum atau kurang mengerti firman Tuhan. Hal ini wajar karena Taurat belum ditulis waktu itu. Karena itu Musalah yang mengajarkan kepada mereka segala ketetapan dan perintah yang dia terima langsung dari Allah. Kedua, Musa adalah satu-satunya hakim bagi bangsa Israel, sehingga setiap permasalahan di antara mereka harus diselesaikan oleh Musa. Musa memang seorang pemimpin jempolan yang mampu mengurus bangsa secara keseluruhan sekaligus memperhatikan masalah perseorangan juga. Hal ini menunjukkan kasih dan perhatian seorang pemimpin kepada setiap pribadi yang dia pimpin. Namun di sini Musa harus belajar mengenali batas-batas kapasitas dirinya.
Kita telah banyak mendengar ketidakcocokan dan pertengkaran antara menantu dengan ibu mertua, ipar, dan saudara-saudara lainnya. Tetapi, marilah kita tinjau sebentar cerita Rut dan Naomi yang terdapat di dalam Alkitab (Rut 1:1-9). Mari kita melihat sebab-sebabnya sehingga hubungan yang luar biasa ini dapat terjadi. Peristiwa ini tidaklah mustahil dapat terjadi pada masa sekarang apabila kita hayati inti dari kebenaran cerita.
1. Iman Naomi yang tetap teguh
Naomi adalah seorang ibu yang beriman. Rut, menantunya, belum mengenal Allah yang benar. Naomi tinggal di negeri Moab yang kafir setelah ia pindah dari Israel. Imannya kepada Allah dilihat oleh menantunya. Kita tidak tahu bagaimana ia menunjukkan imannya kepada Allahnya, tetapi yang kita tahu dengan pasti ialah bahwa hati Rut telah diserahkan pada Tuhan. Naomi membuktikan iman yang tetap teguh meskipun di dalam kesulitan di tengah-tengah bangsa yang tidak mengenal Allah yang hidup.
2. Kasih yang memenangkan
Kasih Naomi terhadap menantunya membuktikan imannya kepada Tuhan. Tidak ada kesempatan yang lebih besar lagi bagi seorang ibu Kristen untuk bersaksi tentang ibadahnya kepada Tuhan yang disembahnya di hadapan istri anaknya supaya terang keselamatan Tuhan bercahaya di dalam hati menantunya yang masih gelap.
Tidak ada cara lain yang lebih baik untuk menguji kerohanian seorang ibu selain dari mengasihi istri anaknya. Dan tiada cara lagi yang lebih baik untuk menguji keteguhan iman seorang ibu selain dari kasih yang diberikan menantunya.
Kasih yang memenangkan ini dapat dibuktikan kebenarannya, namun memerlukan waktu yang lama serta menghadapi berbagai kesulitan. Kasih dengan sendirinya tidak dapat dibatasi oleh keadaan-keadaan apa pun juga dari hubungan keluarga, karena Allah sendiri tidak dapat dibatasi. Manusia yang menutup hatinyalah yang membatasi kasih itu.
Amin. Pdt. R.H.L. Tobing
Selasa, 28 Juni 2011
"PERHIASAN WANITA"
Khotbah Pada Keb. Sie Perempuan GKPI se Jabodetabek di GKPI Res Khusus Rawalumbu.
1 Tim 2: 9-15; 1 Pet 3:1-4
Thema: Perhiasan Batiniah yg berasal dari Roh yg Lemah Lembut dan Tentram sangat berharga di mata Allah.
Sub. Thema: Bagaimana Perempuan Pilihan Allah yg telah di Kuduskan dan dikasihiNya terus menerus dibaharui untuk memperoleh Pengetahuan yg benar menurut gambar Khalik kita.
Peran perempuan tak kalah pentingnya dalam hidup keluarga maupun bergereja. Contoh tugas ibu2: Selain seorang istri dan ibu yg harus memperhatikan kebutuhan keluarga besarnya, baik dari pihaknya maupun pihak suaminya. Ngak cuma ngurusin keluarga intinya saja. Bisa kebayang kan berapa banyak orangnya? Kemudian, dia juga harus memperhatikan kondisi rumah (ya kalo ada yang bocor, ada yang retak, rusak.. intinya maintenance alat-alat rumah tangga) serta melakukan pembayaran listrik, air, gas. Jadi seorang istri dan ibu itu artinya: jadi dokter iya, ahli gizi iya, guru iya, pendengar setia iya, koki iya, tukang listrik/ledeng/gas iya dan juga Karena para suami sibuk di tempat kerja, para istrilah yang punya kepedulian tinggi terhadap pelayanan gereja. Mengurus konsumsi. Melawat yang sakit dan berduka. Mengatur rumah tangga gereja. Bahkan, memimpin jemaat. Sungguh, peran perempuan tak boleh dipandang sebelah mata, namun bukan berarti perempuan itu jadi kepala di tengah-tengah keluarga. Ibu-ibu yang dikasihi Tuhan….!
Allah menghendaki wanita Kristen berdandan dengan pantas dan sopan. Kata "pantas" (Yun. –aidos-) mengandung arti merasa malu bila menampakkan bagian tubuh. Kata ini meliputi penolakan untuk berdandan sedemikian rupa sehingga menarik perhatian kepada tubuh dan melewati batas-batas kesenonohan yang patut. Sumber kesenonohan seseorang terletak di dalam sifat atau batin. Dengan kata lain, kesenonohan adalah manifestasi lahir dari kemurnian batin.
• Berdandan secara tidak pantas yang mungkin menggairahkan keinginan yang tidak suci merupakan kesalahan yang sama besarnya dengan keinginan mesum yang terangsang. Tidak ada aktivitas atau keadaan yang membenarkan hal berpakaian secara tidak pantas yang akan memperlihatkan tubuh sehingga merangsang hawa nafsu dalam orang lain (bd. Gal 5:13; Ef 4:27; Tit 2:11-12; lihat juga Mat 5:28).
• Adalah suatu kesaksian yang menyedihkan jikalau gereja mengabaikan standar alkitabiah untuk berdandan dengan pantas dan malah menerima mode duniawi. Pada dewasa ini yang serba membolehkan di bidang seksual, gereja harus bertindak dan berdandan berbeda dari masyarakat yang bobrok yang mengabaikan dan mencemoohkan keinginan Roh untuk kesenonohan, kemurnian, dan pengekangan yang saleh (bd. Rom 12:1-2).
Saat ini kalau kita lihat di kota-kota bahkan di desa makin banyak dibuka salon-salon kecantikan, beauty salon. Beauty salon dan klinik-klinik kecantikan itu menawarkan tidak hanya potong rambut biasa,tapi juga ribonding, cream bath, mandi lulur, tatoalis, menghilangkan bekas jerawat, memutihkan wajah, memancungkan hidung, sampai operasi plastic?.
Ternyata kaum wanita saat ini semakin suka berdandan, bahkan rela membayar dengan ongkos yg mahal agar kelihatan semakin cantik. Bagi istri-isti kelihatan cantik dihadapan suami sendiri okey2 saja tidak masalah, wajar. Asal jangan ingin kelihatan cantik dengan pria lain. Bahaya.
Memang salah satu cara agar suami betah di rumah adalah sang istri tetap menjaga penampilannya, tetap kelihatan menarik dan cantik. Jangan istri kelihatan cantik pada waktu baru nikah saja, setelah sekian tahun menikah, tidak mau merawat badan lagi, bisa-bisa sang suami bosan. Memang kecantikan secara fisik bagi wanita itu penting dan juga umumnya kaum pria suka melihat wanita yang cantik, bersih, dan harum. Namun kecantikan secara fisik itu tidak akan bertahan lama. Secara alami kita semua akan semakin tua. Waktu gadis kulit masih kencang, sudah punya 2 atau 3 anak pipi mulai kendor, badannya tidak langsing lagi, mulai muncul keriput di wajah, Operasi plastic tidak bisa menyembunyikan proses penuaan, umur terus bertambah. Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi istri yang takut akan Tuhan dipuji-puji ( Ams 31: 30). Pasti kaum ibu senang menjadi istri yang dipuji-puji suami, walaupun tidak cantik lagi seperti waktu pacaran dulu?
Bagaimana caranya ? Yaitu dengan mengembangkan kecantikan batiniah atau inner beauty seperti yg Alkitab ajarkan : Berdandan dengan pantas bandingkan dengan:
1 Pet 3 : ay. 4 Tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yg tersembunyi , dengan perhiasan yg tidak binasa yg berasal dari roh yg lemah lembut dan tenteram.
Memiliki roh yang lemah lembut dan tenteram adalah sumber kecantikan batiniah yang memancar dari dalam hati. Kecantikan fisik yang eksternal tidak menjamin terpancarnya kecantikan batiniah.
Ada manusia batiniah ada manusia lahiriah. Manusia batiniah yg tersembunyi adalah kualitas hati yg tidak bisa dilihat secara langsung. Manusia lahiriah adalah bisa dilihat secara fisik. Rasul Paulus menjelakan dalam 2 Kor 4 : 16 bahwa dalam diri seorang manusia ada dua dimensi : “ Sebab itu kami tidak tawar hati, meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari kesehari.”
Menjadi wanita atau istri yg cantik hatinya pada ay. 4 diibaratkan mengenakan perhiasan batiniah yg tidak bisa binasa. merosot. Pada ayat 3 sebelumnya, perhiasan batiniah dibandingkan dengan perhiasan yg secara lahiriah, yang eksternal, dari luar, bisa dilihat secara langsung , bisa binasa, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau mengenakan pakaian-pakaian ygn indah-indah. Model rambut, perhiasan emas dan fashion ini adalah mengacu kepada fashion dan model rambut yg sangat mahal dan mewah dari wanita-wanita di abad pertama di Roma Yunani. Wanita Kristen harus bijaksana dalam membelanjakan uang. Jangan sampai karena tergoda dgn kemewahan uang belanja untuk biaya sekolah anak-anak, keperluan dapur, dikorbankan. Dan juga jangan sebagai istri menekan suami untuk membeli barang-barang mewah yg tidak dibutuhkan tapi karena gengsi, latah, sehingga suami bisa – bisa jadi korupsi, karena lebih besar pengeluaran dari pada pendapatan, lebih besar pasak daripada tiang.
Bagaimana seseorang itu bisa menjadi manusia batiniah yg memiliki roh yg lemah lembut dan tentram? Manusia batiniah yg tersembunyi ini adalah pribadi baru yg telah diubahkan secara supranatural oleh Roh Kudus ketika mengalami kelahiran baru dalam Kristus Yesus. Barang siapa di dalam Kristus ia adalah ciptaan baru , yg lama sudah berlalu yg baru sudah datang. ( 2 kor 5: 17). Seperti janji Allah dalam Yehz 36: 26: Kamu akan Ku berikan hati yg baru, dan roh yg baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yg keras dan Kuberikan kepadamu hati yg taat. Setelah diselamatkan oleh Yesus, kita memiliki hati yg baru, roh yg baru dan mengenakan perhiasan yg tidak binasa yg berasal dari roh yg lemah lembut dan tenteram. Kalau Yesus Kristus sifatnya lemah lembut, wanita Kristen haruslah lemah lembut. Lemah lembut sebagai istri terhadap suami yakni sabar, tidak mendendam, tidak cepat marah, tersinggung kalau suami marah. Lemah lembut bukan berarti diam saja kalau suami salah, tetapi bisa menegor, menasihati suami dengan kasih. Wanita yang rohnya tenteram, itu tenang dalam mengasuh rumah tangganya, damai, tidak suka ribut, taat sama suami, bisa menguasai diri , yang penting baginya adalah anak-anak bisa dirawat dengan baik, dikasihi, diperhatikan, suaminya diperhatikan makannya, kesehatannya, ia memikirkan bagaimana suaminya betah di rumah setelah bekerja.dll.
Seperti firman Tuhan ini katakan :
“ Demikian juga kamu, hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada diantara mereka yg tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan istrinya, jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup istri mereka itu.” (1 Pet 3 : 1-2)
Maksudnya ayat 1 dan 2 ini dikaitkan dengan ayat 4 adalah dengan memiliki roh yg lemah lembut dan tenteram seorang istri dari suami yg belum percaya atau tidak seiman ( atau suami yg belum bertobat sungguh-sungguh) pasti dengan rela tunduk kepada suaminya, memiliki kelakuan sehari-hari dengan murni dan saleh akan menjadi kesaksian Injil yg lebih kuat daripada kesaksian secara verbal semata.
Kecantikan hati yang berasal dari roh yg lemah lembut dan tentram yang dikembangkan melalui hubungan yg dekat dengan Tuhan akan membuat istri-istri tetap menarik bagi suami-suami , meskipun kecantikan fisik semakin meredup sepanjang tahun.
Bagaimana dengan 1 Timotius 2:12?
Istri-istri dilarang mengajar jika ajaran mereka bisa diartikan oleh seseorang sebagai dia memerintah atau menjadi tuan atas suaminya! Isteri yang cakap adalah mahkota suaminya, tetapi yang membuat malu adalah seperti penyakit yang membusukkan tulang suaminya.
Istri yang baik adalah kebanggaan dan kebahagiaan suaminya, istri yang membuat suaminya malu adalah bagaikan penyakit tulang yang menggerogoti.
Istri yang baik adalah sukacita dan mahkota suaminya, tetapi istri yang merongrong hidup suaminya dan menghambat segala pekerjaannya sangat memalukan.
Seorang istri yang baik budi, seolah-olah makota suaminya, tetapi istri yang mendatangkan malu, seperti bisa dalam tulang-tulangnya.
“…perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.” 1 Petrus 3:4
Alkitab jelas menyatakan bahwa yang menjadi perhiasan bagi wanita bukanlah ‘penampilan luarnya’ semisal tata rias wajah, rambut, pakaian indah atau pun perhiasan yang ia kenakan (emas, berlian, permata) yang mengundang decak kagum siapa saja yang memandangnya, tetapi perhiasan seorang wanita adalah manusia batiniah atau kecantikan batiniahnya (inner beauty)! Penulis amsal berkata, “Seperti anting-anting emas di jungur babi, demikianlah perempuan cantik yang tidak susila.” (Amsal 11:22). Kecantikan fisik (lahiriah) wanita tak akan berarti apa-apa. “Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia,” (Amsal 31:30a) bila tidak diimbangi dengan moral yang baik. Wanita yang berbudi harus memiliki roh yang lemah lembut dan penguasaan diri dalam segala hal sehingga keberadaannya senantiasa menjadi berkat, karena “Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya.” (Amsal 31:26).
Banyak contoh wanita-wanita dalam Alkitab yang hidupnya menjadi teladan karena cantik batinnya. Ester adalah perempuan Yahudi yang berani mempertaruhkan reputasi dan juga nyawanya demi keselamatan bangsanya dari rencana jahat Haman; ia berjuang menegakkan kebenaran dan dengan tegas melawan ketidakadilan. Debora dipilih Tuhan untuk membebaskan bangsanya dari tangan Yabin, raja Kanaan. Ia pun mendukung dan memberi semangat kepada Barak menghadapi panglima perang raja Yabin yaitu Sisera. Kata Debora, “Baik, aku turut! Hanya, engkau tidak akan mendapat kehormatan dalam perjalanan yang engkau lakukan ini, sebab Tuhan akan menyerahkan Sisera ke dalam tangan seorang perempuan.” (Hakim-Hakim 4:9).
Seorang wanita tidak hanya pandai berbicara, tetapi ia juga akan memberi semangat, berdoa dan turut merasakan pergumulan yang dialami suami atau keluarga, serta mau membuka telinga terhadap keluh-kesah orang lain dan memiliki hati yang penuh dengan belas kasih dan pengampunan.
Jangan bangga karena kecantikan fisik, berbanggalah bila hidup kita bisa menjadi berkat dan teladan bagi orang lain!
4 langkah untuk membangun manusia batiniah :
1. Batin kita harus dibersihkan
Pada saat kita jatuh dalam dosa, maka batin kita rusak dan kita tidak punya kemampuan untuk berhubungan dengan Tuhan.
Ibrani 9 : 14 “betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.”
Hanya darah Yesus yang bisa membersihkan batin dan roh kita dari dari dosa.
2. Batin kita harus diberi makan
Matius 4 : 4 “Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."
Ada 2 jenis makanan, yaitu roti sebagai makanan jasmani, dan makanan rohani yaitu setiap Firman yang keluar dari mulut Allah.
Jika kita memberi makan jasmani kita setiap hari, maka kitapun harus memberi makan rohani kita setiap hari.
3. Batin kita harus diperbaharui
Rohani kita bisa mengalami kemunduran, tetapi rohani jugabisa diperbaharui sehingga kita makin maju dan makin kuat dalam Tuhan.
2 Korintus 4 : 16 -17
4:16 Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.
4:17 Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.
4. Batin kita harus dilatih
1 Tim 4 : 7-8
4:7 Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.
4:8 Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.
Dalam melakukan Ibadah, kita perlu latihan. Memberi dan berbuat baik itu juga perlu dilatih, agar menjadi kebiasaan. Awalnya terpaksa, lama-lama jadi biasa, namun akhirnya jadi sukacita.
Jika kita berhasil melakukan keempat hal di atas, maka :
1. Manusia batiniah dapat melihat
Roh yang tadinya lemah akan menjadi kuat, jika roh jadi kuat maka penglihatan rohani juga menjadi kuat.
Efesus 3 : 8 “Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu,”
2. Manusia batiniah dapat mendengar
Matius 13: 9 “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"
Pada akhir zaman ini penuh dengan suara, suara yang membingungkan dan nasihat yang menyesatkan, tetapi jika kita punya roh yang hidup dan bangkit, kita akan mendengar suara Tuhan.
3. Manusia batiniah dapat merasakan
Mazmur 34 : 9 “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!”
Jika kita mampu membangun batin kita, maka kita akan merasakan dan menikmati kebaikan Tuhan yang luar biasa.
Pdt. R.H.L. Tobing, S.Th.MA
1 Tim 2: 9-15; 1 Pet 3:1-4
Thema: Perhiasan Batiniah yg berasal dari Roh yg Lemah Lembut dan Tentram sangat berharga di mata Allah.
Sub. Thema: Bagaimana Perempuan Pilihan Allah yg telah di Kuduskan dan dikasihiNya terus menerus dibaharui untuk memperoleh Pengetahuan yg benar menurut gambar Khalik kita.
Peran perempuan tak kalah pentingnya dalam hidup keluarga maupun bergereja. Contoh tugas ibu2: Selain seorang istri dan ibu yg harus memperhatikan kebutuhan keluarga besarnya, baik dari pihaknya maupun pihak suaminya. Ngak cuma ngurusin keluarga intinya saja. Bisa kebayang kan berapa banyak orangnya? Kemudian, dia juga harus memperhatikan kondisi rumah (ya kalo ada yang bocor, ada yang retak, rusak.. intinya maintenance alat-alat rumah tangga) serta melakukan pembayaran listrik, air, gas. Jadi seorang istri dan ibu itu artinya: jadi dokter iya, ahli gizi iya, guru iya, pendengar setia iya, koki iya, tukang listrik/ledeng/gas iya dan juga Karena para suami sibuk di tempat kerja, para istrilah yang punya kepedulian tinggi terhadap pelayanan gereja. Mengurus konsumsi. Melawat yang sakit dan berduka. Mengatur rumah tangga gereja. Bahkan, memimpin jemaat. Sungguh, peran perempuan tak boleh dipandang sebelah mata, namun bukan berarti perempuan itu jadi kepala di tengah-tengah keluarga. Ibu-ibu yang dikasihi Tuhan….!
Allah menghendaki wanita Kristen berdandan dengan pantas dan sopan. Kata "pantas" (Yun. –aidos-) mengandung arti merasa malu bila menampakkan bagian tubuh. Kata ini meliputi penolakan untuk berdandan sedemikian rupa sehingga menarik perhatian kepada tubuh dan melewati batas-batas kesenonohan yang patut. Sumber kesenonohan seseorang terletak di dalam sifat atau batin. Dengan kata lain, kesenonohan adalah manifestasi lahir dari kemurnian batin.
• Berdandan secara tidak pantas yang mungkin menggairahkan keinginan yang tidak suci merupakan kesalahan yang sama besarnya dengan keinginan mesum yang terangsang. Tidak ada aktivitas atau keadaan yang membenarkan hal berpakaian secara tidak pantas yang akan memperlihatkan tubuh sehingga merangsang hawa nafsu dalam orang lain (bd. Gal 5:13; Ef 4:27; Tit 2:11-12; lihat juga Mat 5:28).
• Adalah suatu kesaksian yang menyedihkan jikalau gereja mengabaikan standar alkitabiah untuk berdandan dengan pantas dan malah menerima mode duniawi. Pada dewasa ini yang serba membolehkan di bidang seksual, gereja harus bertindak dan berdandan berbeda dari masyarakat yang bobrok yang mengabaikan dan mencemoohkan keinginan Roh untuk kesenonohan, kemurnian, dan pengekangan yang saleh (bd. Rom 12:1-2).
Saat ini kalau kita lihat di kota-kota bahkan di desa makin banyak dibuka salon-salon kecantikan, beauty salon. Beauty salon dan klinik-klinik kecantikan itu menawarkan tidak hanya potong rambut biasa,tapi juga ribonding, cream bath, mandi lulur, tatoalis, menghilangkan bekas jerawat, memutihkan wajah, memancungkan hidung, sampai operasi plastic?.
Ternyata kaum wanita saat ini semakin suka berdandan, bahkan rela membayar dengan ongkos yg mahal agar kelihatan semakin cantik. Bagi istri-isti kelihatan cantik dihadapan suami sendiri okey2 saja tidak masalah, wajar. Asal jangan ingin kelihatan cantik dengan pria lain. Bahaya.
Memang salah satu cara agar suami betah di rumah adalah sang istri tetap menjaga penampilannya, tetap kelihatan menarik dan cantik. Jangan istri kelihatan cantik pada waktu baru nikah saja, setelah sekian tahun menikah, tidak mau merawat badan lagi, bisa-bisa sang suami bosan. Memang kecantikan secara fisik bagi wanita itu penting dan juga umumnya kaum pria suka melihat wanita yang cantik, bersih, dan harum. Namun kecantikan secara fisik itu tidak akan bertahan lama. Secara alami kita semua akan semakin tua. Waktu gadis kulit masih kencang, sudah punya 2 atau 3 anak pipi mulai kendor, badannya tidak langsing lagi, mulai muncul keriput di wajah, Operasi plastic tidak bisa menyembunyikan proses penuaan, umur terus bertambah. Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi istri yang takut akan Tuhan dipuji-puji ( Ams 31: 30). Pasti kaum ibu senang menjadi istri yang dipuji-puji suami, walaupun tidak cantik lagi seperti waktu pacaran dulu?
Bagaimana caranya ? Yaitu dengan mengembangkan kecantikan batiniah atau inner beauty seperti yg Alkitab ajarkan : Berdandan dengan pantas bandingkan dengan:
1 Pet 3 : ay. 4 Tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yg tersembunyi , dengan perhiasan yg tidak binasa yg berasal dari roh yg lemah lembut dan tenteram.
Memiliki roh yang lemah lembut dan tenteram adalah sumber kecantikan batiniah yang memancar dari dalam hati. Kecantikan fisik yang eksternal tidak menjamin terpancarnya kecantikan batiniah.
Ada manusia batiniah ada manusia lahiriah. Manusia batiniah yg tersembunyi adalah kualitas hati yg tidak bisa dilihat secara langsung. Manusia lahiriah adalah bisa dilihat secara fisik. Rasul Paulus menjelakan dalam 2 Kor 4 : 16 bahwa dalam diri seorang manusia ada dua dimensi : “ Sebab itu kami tidak tawar hati, meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari kesehari.”
Menjadi wanita atau istri yg cantik hatinya pada ay. 4 diibaratkan mengenakan perhiasan batiniah yg tidak bisa binasa. merosot. Pada ayat 3 sebelumnya, perhiasan batiniah dibandingkan dengan perhiasan yg secara lahiriah, yang eksternal, dari luar, bisa dilihat secara langsung , bisa binasa, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau mengenakan pakaian-pakaian ygn indah-indah. Model rambut, perhiasan emas dan fashion ini adalah mengacu kepada fashion dan model rambut yg sangat mahal dan mewah dari wanita-wanita di abad pertama di Roma Yunani. Wanita Kristen harus bijaksana dalam membelanjakan uang. Jangan sampai karena tergoda dgn kemewahan uang belanja untuk biaya sekolah anak-anak, keperluan dapur, dikorbankan. Dan juga jangan sebagai istri menekan suami untuk membeli barang-barang mewah yg tidak dibutuhkan tapi karena gengsi, latah, sehingga suami bisa – bisa jadi korupsi, karena lebih besar pengeluaran dari pada pendapatan, lebih besar pasak daripada tiang.
Bagaimana seseorang itu bisa menjadi manusia batiniah yg memiliki roh yg lemah lembut dan tentram? Manusia batiniah yg tersembunyi ini adalah pribadi baru yg telah diubahkan secara supranatural oleh Roh Kudus ketika mengalami kelahiran baru dalam Kristus Yesus. Barang siapa di dalam Kristus ia adalah ciptaan baru , yg lama sudah berlalu yg baru sudah datang. ( 2 kor 5: 17). Seperti janji Allah dalam Yehz 36: 26: Kamu akan Ku berikan hati yg baru, dan roh yg baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yg keras dan Kuberikan kepadamu hati yg taat. Setelah diselamatkan oleh Yesus, kita memiliki hati yg baru, roh yg baru dan mengenakan perhiasan yg tidak binasa yg berasal dari roh yg lemah lembut dan tenteram. Kalau Yesus Kristus sifatnya lemah lembut, wanita Kristen haruslah lemah lembut. Lemah lembut sebagai istri terhadap suami yakni sabar, tidak mendendam, tidak cepat marah, tersinggung kalau suami marah. Lemah lembut bukan berarti diam saja kalau suami salah, tetapi bisa menegor, menasihati suami dengan kasih. Wanita yang rohnya tenteram, itu tenang dalam mengasuh rumah tangganya, damai, tidak suka ribut, taat sama suami, bisa menguasai diri , yang penting baginya adalah anak-anak bisa dirawat dengan baik, dikasihi, diperhatikan, suaminya diperhatikan makannya, kesehatannya, ia memikirkan bagaimana suaminya betah di rumah setelah bekerja.dll.
Seperti firman Tuhan ini katakan :
“ Demikian juga kamu, hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada diantara mereka yg tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan istrinya, jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup istri mereka itu.” (1 Pet 3 : 1-2)
Maksudnya ayat 1 dan 2 ini dikaitkan dengan ayat 4 adalah dengan memiliki roh yg lemah lembut dan tenteram seorang istri dari suami yg belum percaya atau tidak seiman ( atau suami yg belum bertobat sungguh-sungguh) pasti dengan rela tunduk kepada suaminya, memiliki kelakuan sehari-hari dengan murni dan saleh akan menjadi kesaksian Injil yg lebih kuat daripada kesaksian secara verbal semata.
Kecantikan hati yang berasal dari roh yg lemah lembut dan tentram yang dikembangkan melalui hubungan yg dekat dengan Tuhan akan membuat istri-istri tetap menarik bagi suami-suami , meskipun kecantikan fisik semakin meredup sepanjang tahun.
Bagaimana dengan 1 Timotius 2:12?
Istri-istri dilarang mengajar jika ajaran mereka bisa diartikan oleh seseorang sebagai dia memerintah atau menjadi tuan atas suaminya! Isteri yang cakap adalah mahkota suaminya, tetapi yang membuat malu adalah seperti penyakit yang membusukkan tulang suaminya.
Istri yang baik adalah kebanggaan dan kebahagiaan suaminya, istri yang membuat suaminya malu adalah bagaikan penyakit tulang yang menggerogoti.
Istri yang baik adalah sukacita dan mahkota suaminya, tetapi istri yang merongrong hidup suaminya dan menghambat segala pekerjaannya sangat memalukan.
Seorang istri yang baik budi, seolah-olah makota suaminya, tetapi istri yang mendatangkan malu, seperti bisa dalam tulang-tulangnya.
“…perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.” 1 Petrus 3:4
Alkitab jelas menyatakan bahwa yang menjadi perhiasan bagi wanita bukanlah ‘penampilan luarnya’ semisal tata rias wajah, rambut, pakaian indah atau pun perhiasan yang ia kenakan (emas, berlian, permata) yang mengundang decak kagum siapa saja yang memandangnya, tetapi perhiasan seorang wanita adalah manusia batiniah atau kecantikan batiniahnya (inner beauty)! Penulis amsal berkata, “Seperti anting-anting emas di jungur babi, demikianlah perempuan cantik yang tidak susila.” (Amsal 11:22). Kecantikan fisik (lahiriah) wanita tak akan berarti apa-apa. “Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia,” (Amsal 31:30a) bila tidak diimbangi dengan moral yang baik. Wanita yang berbudi harus memiliki roh yang lemah lembut dan penguasaan diri dalam segala hal sehingga keberadaannya senantiasa menjadi berkat, karena “Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya.” (Amsal 31:26).
Banyak contoh wanita-wanita dalam Alkitab yang hidupnya menjadi teladan karena cantik batinnya. Ester adalah perempuan Yahudi yang berani mempertaruhkan reputasi dan juga nyawanya demi keselamatan bangsanya dari rencana jahat Haman; ia berjuang menegakkan kebenaran dan dengan tegas melawan ketidakadilan. Debora dipilih Tuhan untuk membebaskan bangsanya dari tangan Yabin, raja Kanaan. Ia pun mendukung dan memberi semangat kepada Barak menghadapi panglima perang raja Yabin yaitu Sisera. Kata Debora, “Baik, aku turut! Hanya, engkau tidak akan mendapat kehormatan dalam perjalanan yang engkau lakukan ini, sebab Tuhan akan menyerahkan Sisera ke dalam tangan seorang perempuan.” (Hakim-Hakim 4:9).
Seorang wanita tidak hanya pandai berbicara, tetapi ia juga akan memberi semangat, berdoa dan turut merasakan pergumulan yang dialami suami atau keluarga, serta mau membuka telinga terhadap keluh-kesah orang lain dan memiliki hati yang penuh dengan belas kasih dan pengampunan.
Jangan bangga karena kecantikan fisik, berbanggalah bila hidup kita bisa menjadi berkat dan teladan bagi orang lain!
4 langkah untuk membangun manusia batiniah :
1. Batin kita harus dibersihkan
Pada saat kita jatuh dalam dosa, maka batin kita rusak dan kita tidak punya kemampuan untuk berhubungan dengan Tuhan.
Ibrani 9 : 14 “betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.”
Hanya darah Yesus yang bisa membersihkan batin dan roh kita dari dari dosa.
2. Batin kita harus diberi makan
Matius 4 : 4 “Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."
Ada 2 jenis makanan, yaitu roti sebagai makanan jasmani, dan makanan rohani yaitu setiap Firman yang keluar dari mulut Allah.
Jika kita memberi makan jasmani kita setiap hari, maka kitapun harus memberi makan rohani kita setiap hari.
3. Batin kita harus diperbaharui
Rohani kita bisa mengalami kemunduran, tetapi rohani jugabisa diperbaharui sehingga kita makin maju dan makin kuat dalam Tuhan.
2 Korintus 4 : 16 -17
4:16 Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.
4:17 Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.
4. Batin kita harus dilatih
1 Tim 4 : 7-8
4:7 Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.
4:8 Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.
Dalam melakukan Ibadah, kita perlu latihan. Memberi dan berbuat baik itu juga perlu dilatih, agar menjadi kebiasaan. Awalnya terpaksa, lama-lama jadi biasa, namun akhirnya jadi sukacita.
Jika kita berhasil melakukan keempat hal di atas, maka :
1. Manusia batiniah dapat melihat
Roh yang tadinya lemah akan menjadi kuat, jika roh jadi kuat maka penglihatan rohani juga menjadi kuat.
Efesus 3 : 8 “Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini, untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus, yang tidak terduga itu,”
2. Manusia batiniah dapat mendengar
Matius 13: 9 “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"
Pada akhir zaman ini penuh dengan suara, suara yang membingungkan dan nasihat yang menyesatkan, tetapi jika kita punya roh yang hidup dan bangkit, kita akan mendengar suara Tuhan.
3. Manusia batiniah dapat merasakan
Mazmur 34 : 9 “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!”
Jika kita mampu membangun batin kita, maka kita akan merasakan dan menikmati kebaikan Tuhan yang luar biasa.
Pdt. R.H.L. Tobing, S.Th.MA
Jumat, 18 Maret 2011
"Pembinaan Guru SM"
MENGAJARKAN CERITA ALKITAB YANG EFEKTIF
KEPADA ANAK SEKOLAH MINGGU
(Sebuah Pedoman Sederhana)
1. Pengantar
Pembinaan Guru SM
Pelayanan Sekolah Minggu (SM) adalah dasar dari seluruh pelayanan gereja. Demikian juga dengan GKPI yang meletakkan dasar pelayanan kepada anak-anak. Karena anak-anak adalah masa depan gereja dan juga penerus warga Kerajaan Allah. Itu sebabnya guru SM memiliki peranan yang sangat penting dalam pertumbuhan iman anak-anak. Kita tahu bersama bahwa Anak Sekolah Minggu kelak akan menjadi gereja yang akan dating.
Hanya saja, para pelayan gereja kurang memberi perhatian kepada pelayanan SM. Hal ini disebabkan merasa bahwa pelayanan kepada anak-anak adalah tugas para guru SM. Selain itu lebih memberi kesibukan pada pelayanan mimbar dan pembinaan orang dewasa. Padahal tanpa disadari kebiasaan orang dewasa ditentukan mulai dari tingkah laku pada masa kecil. Untuk itu sebagai Pendeta kami sangat mengucapkan terimakasih kepada seluruh Guru-guru Sekolah Minggu, yang telah rela member perhatian kepada anak-anak Sekolah Minggu.
2. Mengapa Kita Mengajar Anak-Anak?.
Pertanyaan ini sebenarnya adalah pertanyaan mendasar kepada kita guru Sekolah Minggu sebelum kita memahami kenapa kita menjadi guru SM. Hal itu dimulai dari:
Pertama, Panggilan dari Allah sendiri. Ul. 6:4-9, yang juga panggilan kita dalam peneguhan guru SM menekankan agar kita mengakui dan mengasihi Tuhan yang esa. Seterusnya pengakuan dan mengasihi Tuhan ini kita teruskan kepada anak-anak kita (dan juga yang lain – termasuk anak SM) baik ketika tidur, bangun, makan, dijalan, dan terlebih di rumah Tuhan di Gereja.
Kedua, membawa anak-anak mencintai dan disayangi Yesus. Mark. 10:14, Yesus berkata ”biarkanlah anak-anak itu datang kepadaku…”. Saya yakin dan percaya, bahwa Firman Tuhan di atas sudah sangat sering bahkan termasuk dalam satu Firman Tuhan ketika seseorang yang percaya Yesus Kristus dibaptiskan. Ya, ini adalah bagian ketika anak-anak kecil (sekitar 14 tahun ke bawah) datang kepada Yesus di antarkan orangtua atau saudara. Namun kenyataan, murid-murid Yesus justru melarang mereka datang menjumpai Yesus. Tindakan murid Yesus pada satu pihak justru betul!. Karena mereka tidak ingin anak-anak yang nota bene sangat mengganggu, ribut, suka bermain-main, tidak tahu etika lingkungan, mengganggu Yesus yang sedang serius mengajar orang banyak. Tapi justru sebaliknya, Yesus justru menganggap tindakan murid-Nya kurang tepat. Karena Yesus sendiri menganggap bahwa anak-anak juga adalah bagian dari murid-murid-Nya yang juga mesti disayangi, dikasihi dan diajarkan tentang Kerajaan Allah (band. Ul. 6:4-9).
Ketiga, agar anak dapat bertumbuh ke arah Kristus dan dapat diselamatkan. Yesus meyakini bahwa diri-Nya sendiri juga pernah mengalami kehidupan sebagai seorang anak kecil. Dan sepanjang itu Dia selalu menerima bimbingan, arahan, ajaran dari orangtua bahkan juga dari guru-guru atau ahli taurat di rumah Allah dan terlebih Allah sendiri (Luk. 2:41-52). Dan hasilnya memang sangat sangat luar biasa. Tuhan Yesus pada akhirnya penuh hikmat, tumbuh dengan sangat dikasihi Tuhan dan manusia (Luk. 2:52). Ini juga yang memotivasi Tuhan Yesus untuk mengajak mereka hidup di dalam naungan kasih-Nya bahkan menjanjikan bahwa merekalah yang empunya Kerajaan Allah. Itu sebabnya Paulus mengajarkan Timotius agar belajar kepada Firman Tuhan yang telah diterima dari kecil karena itu bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (I. Tim. 3:15-17).
Keempat, perintah dari Yesus Kristus sendiri untuk mengajar. Mat. 28:19-20 dikatakan “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”. Dalam teks di atas jelas dikatakan bahwa yang memerintahkan diri kita untuk pergi adalah Yesus sendiri. Pergi untuk memuridkan dan mengajar.
Keempat hal di atas juga akan nampak dalam tujuan Kurikulum Sekolah Minggu yang telah ditetapkan oleh Persekutuan Gereja Indonesia yang disebut ”Kurikulum 88” yakni: ”Pendidikan Agama Kristen (PAK) sebagai tugas panggilan gereja adalah usaha untuk menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan peserta didik agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati Kasih Allah dalam Yesus Kristus, yang dinyatakannya dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan lingkungannya”
3. Apa Persiapan Kita Sebelum Bercerita (Mengajar) Kepada Anak SM?.
• Persiapan rohani : ini sangat penting berhubungan dengan kesiapan kita dalam mengajar SM. Tentu ini berasal dari tugas panggilan kita. Ada guru SM mau menjadi guru SM bukan karena keinginan rohani (karena menjadi berkat bagi anak-anak), melainkan keinginan jasmani, agar dapat tugas dan jabatan di gereja. Padahal ini yang paling penting. Selain itu juga perlu berdoa sebelum memulai tugas tersebut.
• Persiapan informasi : dalam hal ini pertama, melihat jadwal dan tempat kita masing-masing mengajar SM. Kedua, melihat dan membaca teks alkitab yang diajarkan, juga ayat hafalan, Ketiga, melihat dan membaca apa tujuan teks tersebut, Keempat, melihat situasi anak yang kita ajarkan (biasanya ini untuk pembagian kelas – kecil, menengah dan besar)Persiapan diri/mental : ini tidak kalah penting, karena menentukan keberhasilan kita. Ada orang baru membaca teks pagi sebelum mengajar. Ini tidak baik!. Dapat menyebabkan ketidaksiapan kita untuk mengajar. Lebih baik dipersiapkan selama seminggu. Mis. Senin, kita membaca teks berulang-ulang dan menemukan kerangka dan garis besar cerita dengan memberikan catatan-catatan kecil, Selasa, mencari sudut pandang mana yang paling baik kita bercerita, Rabu, mencari alat-alat peraga yang mendukung, Kamis, memikirkan contoh aplikasi Firman Tuhan yang dapat diterapkan secara konkret kepada anak SM, Jum’at, mematangkan semua dengan mencoba bercerita di rumah, Sabtu, menutup persipan mental dengan berdoa kepada Tuhan sekaligus menguduskan diri.
4. Tekhnik Bercerita
4.1 Persiapan Diri Pembawa Cerita
• Cara berpakaian: harus rapi, bersih, anggun, leluasa, wajar, dan sesuai dengan keadaan/situasi.
• Sikap: sikap yang baik adalah mengendalikan tubuh dengan wajar, misalnya mimik, nafas dan lain-lain harus santai, jangan tegang. Usahakan penampilan yang sopan dan leluasa.
• Gerak-gerik: segalanya harus wajar, hindari gerak-gerik yang berlebihan. Jangan selalu mengulang gerakan yang sama. Jangan menjadi terkenal karena suatu gerakan yang aneh. Tenang dan jangan tergesa-gesa.
• Pandangan mata: harus memperhatikan semua murid, juga reaksi mereka. Jangan hanya menatap pada satu arah yang sama saja.
• Suara: jangan terlalu diperhatikan, tapi juga jangan melalaikan penggunaan suara. Pada waktu berbicara, longgarkanlah bagian tenggorokan, tarik nafas yang dalam, kemudian kumpulkanlah suara. Karena hanya dengan berbuat demikian, barulah dapat diperoleh hasil yang paling ideal.
• Nada suara: perhatikan saat kapan nada suara harus tinggi, rendah, besar, kecil, cepat, lambat, berubah, berhenti dan sebagainya. Adakalanya perlu memakai suara tiruan.
• Ekspresi: harus dapat mengekspresikan perasaan suka, marah, sedih, gembira, takut, murung, dan lain-lain yang terdapat dalam cerita.
• Penggunaan istilah: pilihlah penggunaan istilah yang sesuai dengan usia murid, supaya mereka dapat mengerti isi pelajaran. Boleh menggunakan banyak bentuk dialog langsung, dan usahakan sedikit mungkin pemakaian orang ketiga atau pernyataan yang tidak langsung.
4.2. Trik Membuat Anak-Anak Tenang Selama Cerita : Dalam hal ini sebelum memulai bercerita perlu menenangkan anak-anak.
1. Simulasi : Kunci Mulut yaitu memperagakan ”penguncian mulut”. Minta anak-anak mengikuti gerakan mengunci mulut tanpa suara dengan tangan dan kemudian kunci itu dimasukkan dalam kantung masing-masing.
2. Ikrar bersama mis, buatlah satu janji yang diikuti anak-anak, ”saya siap mendengar Firman Tuhan dengan tenang”. ”jika saya anak Yesus, saya mendengar perkataan-Nya”, dll.
3. Lomba : Pendengar setia. Ini membagi kelompok, dengan dipilih ketua kelompok dan diminta menenangkan kelompoknya masing-masing dalam kurun waktu 2 menit.
4. Kuis : Cobalah Tebak mis 5+2 = 5000 sisa berapa (Yesus memberi makan 5000 orang)
5. Mendekati anak yang gelisah/tidak tenang : kita tetap bercerita, dan kita menatap anak-anak yang gelisah/tidak tenang atau kita mendatanginya dengan memegangnya
6. Gerakan/tindakan/kata singkat penarik perhatian mis : memberikan suara keras, membuat gerakan sesuai dengan teks, mimik yang sesuai dengan emosi yang diceritakan, dll.
4.3. Metode Guru Bercerita
v Kreasi ”Boom kejutan di awal cerita” mis. Membuat ilustrasi singkat, mengajak mereka membuat satu kata yang bersemangat mis. Syalom, merdeka, amin, dll.
v Kreasi ”Alur Cerita” mis. Dari awal – tengah – akhir atau sebaliknya
v Kreasi ”Alat peraga” mis. Guru sendiri menjadi alat peraga (mengekspresikan wajah), papan tulis, gambar-gambar, kartu, batu dan daun, boneka, atau juga anak itu sendiri.
v Penghayatan Cerita : olah vokal dan olah tubuh mis. Olah vokal Suara keras – berteriak – lembut – lirih; cepat – lambat – amat lambat; marah – percakapan biasa – sedih; memohon – meratap. Olah tubuh santai – tenang – rileks; lemah – loyo – lesu; seperti orang gemetaran; seperti orang menangis, menjerit, dll.
v Olah suasana : melibatkan anak dalam cerita; berdiri di tempat yang terlihat semua anak; jangan diam di satu tempat selama cerita
v Misi penutup ; ajakan atau nasehat beserta pesan-pesan kepada mereka.
4.4. Metode Anak Aktif
• Kreasi ”Anak terlibat langsung” dalam arti mereka yang memperagakan teks cerita
• Kreasi ”Acara kelompok” mis. Membuat gambar atau guntingan koran disusun dan dicari artinya
• Kreasi ”Diskusi Kelompok” mis. Guru bercerita dan anak-anak diberi kebebasan untuk mendiskusikan apa yang diceritakan.
4.5. Penggunaan Sarana Modern : video, film, tape, hp, dll.
5. Langkah-langkah mempersiapkan cerita Alkitab
a. Mengetahui macam-macam cerita dalam Alkitab
& Cerita sejarah (Penciptaan s/d menara babel, Raja-Raja Israel – I Samuel s/d II Tawarikh)
& Cerita penggembaraan (Abraham, Ishak dan Yakub Rut, Elia, Elisa,)
& Cerita kehidupan seseorang (Yesus Kristus, Ayub, Paulus)
& Cerita Perjuangan (Hakim-Hakim, Daud, Salomo)
& Cerita Pahlawan (Daud, Ester, Daniel dll)
& Cerita Kisah Percintaan
& Cerita Kejadian Yang Menakutkan (Daniel, Wahyu)
& Cerita Kejadian Yang Lucu, dll.
& Cerita Mujijat, Perumpamaan yang bisa dibuat dalam bentuk dongeng.
b. Prinsip dalam mengolah cerita
• Baca teks secara utuh, juga melihat kaitan di depan teks dan di belakang teks. Kenali tokoh, tempat kejadian, waktunya, dan urutan peristiwa
• Ketahuai tujuan dan inti cerita (lihat perikopen atau buku pedoman)
• Buatlah catatan-catatan tersendiri kata-kata kunci mis, mengajar, dosa, menyanyi dll
• Sebuah cerita tidak harus disampaikan secara utuh. Hanya bagian tertentu
• Bahasakan cerita itu dengan bahasa sendiri
• Gunakan cara tersendiri dalam menyampaikan cerita (lihat metode guru bercerita di atas)
• Pahami usia yang diajar dan perhatikan kemampuan mereka:
Perkembangan Balita(2 – 5 tahun) Anak Kecil (6-8 tahun) Anak Tanggung (9-11 tahun) Remaja (12-14 tahun)
Fisik Suka melakukan peran dan bermain,Otot belum tumbuh sempurna,Mudah terserang penyakit Suka PadaKegiatan Aktif;Tumbuh tetapi tidak mulai tidak cepat Umumnya kesehatan baik;Pertumbuhan perempuan lebih cepatSuka Kegiatan Aktif dan kegiatan kelompok Mengalami Perubahan Fisik baik laki dan perempuan;Perubahan pita suara
Mental Rasa Ingin Tahu sangat besar,Ingatan tak baik perlu sering diingatkan;Belajar berhubugan dengan panca indra Suka bertanya tentang banyak hal; Daya khayal sangat tinggi;Penuh rasa prihatin;Mudah mencetuskan perasaan Suka menyelidiki hal yang ingin diketahui;Suka bertanya;Mempunyai daya ingat yang baik;
Penuh daya kreatif; Suka menguasai, baik dalam percakapan atau dalam melakukan kegiatan;Suka mengeritik
Sosial Suka bermain sendiri. Egosentris Belajar bermain bersama;Mudah bergaul;Senang bekerjasama tetapi sering bertengkar Suka berkelompok;Setia kepada kawan daripada orangtua dan guru;Lebih suka aktivitas yang bersifat lomba Menghargai persahabatan;Menuntut kebebasan;Mulai memberontak
Spritual Suka meniru, percaya pada orang dekatnya (orangtua, saudara, dll) Suka membandingkan dengan orang lain Suka beribadah Berada dalam kondisi jiwa yang tidak sta
6. Waktu bercerita
Menurut ilmu jiwa perkembangan anak bahwa seorang anak mampu mendengar dengan baik cerita orang lain adalah 2 menit x umurnya. Jadi ketika seorang anak 5 tahun, dia hanya sanggup mendengar dengan baik 10 menit saja. Demikian seterusnya
7. 10 Prinsip Yang Dimiliki Oleh Seorang Guru SM dan 10 Yang Mesti Dihindari
10 Prinsip Yang Dimiliki 10 Hal Yang Mesti Dihindari
C Meyakini panggilan-Nya sebagai guru penuh waktu D Jangan merusak kekudusan hidup anda
C Memahami visi dan misinya sebagai guru D Jangan mengajar tanpa persiapan
C Hidup dipimpin dan mengandalkan Tuhan melalui Roh Kudus D Jangan meremehkan anak-anak
C Rela mempersembahkan totalitas dirinya bagi pelayanan anak D Jangan berpenampilan yang tidak pantas (pakaian, gaya dan sikap)
C Selalu berdoa syafaat bagi anak-anak D Jangan datang terlambat
C Hadir dan mengajar dengan cinta dan kasih sayang D Jangan asal bicara
C Menjadi seorang gembala yang baik (teladan) bagi anak didik D Jangan bertingkah laku memalukan (marah-marah, tidak peduli, dll)
C Peduli dengan anak didik dimana dan kapan saja D Jangan membuka mata sewaktu berdoa
C Selalu belajar dalam mengembangkan kemampuan yang dimiliki D Jangan berbicara sendiri saat kegiatan di kelas
C Menjadi mitra yang baik bagi pelayan lainnya dan orang tua anak didik D Jangan melupakan janji kepada anak-ana
8. Sebuah Contoh Mengolah Cerita : ”Yesus Memberi Makan 5000 orang” (Luk 9:10-17)
Tujuan Umum : Agar anak dapat mengetahui tentang cerita Yesus memberi makan 5000 orang
Tujuan Khusus :
@ Agar anak dapat menceritakan kembali tentang Yesus memberi makan 5000 orang
@ Agar anak dapat menyebutkan beberapa cara ketika berada dalam kesulitan
@ Agar dapat menyebutkan cara mengasihi sesama yang kesulitan
@ Agar anak dapat menyebutkan bagian cerita yang berkesan kepadanya
Tokoh di dalam cerita : Yesus, Murid-murid, orang banyak, anak pemilik roti dan ikan
Alat peraga: gambar orang banyak, gambar ikan & roti.
Tahapan kegiatan mengajar:
Kegiatan I Pada awal cerita, anak-anak dapat ditanyakan bagaimana perasaan mereka ketika merasakan lapar.
Kegiatan 2 Menceritakan tentang Yesus memberi makan 5000 orang
Kegiatan 3 Menekankan kepada bagian seorang anak yang membantu Yesus dengan memberi makanan yang dimilikinya (dapat membawa gambar roti dan ikan)
Kegiatan 4 Dapat menanyakan kepada murid tentang apa yang dilakukan seperti cerita alkitab (dapat diperankan oleh anak-anak)
Kegiatan 5 Mengajak anak-anak berdoa untuk peduli kepada sesama dan saling mengasihi.
9. Penutup
Menjadi Guru SM adalah tugas yang mulia. Karena ditangan kitalah perkembangan anak-anak berada untuk ke depan. Untuk itu marilah kita melaksanakannya dengan penuh sukacita sambil penyerahan diri di dalam tangan Tuhan.
________________________________________
Reverenci:
1. Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran & Praktek PAK: Dari Dari Yohanes Comenius – Perkembangan PAK di Indonesia, (Jakarta:BPK-GM, 1997), hlm. 801-802. Kurikulum 88 ini adalah hasil dari Konsultasi Tentang Pendidikan Kristen di Salatiga, tanggal 11-13 September 1986 & Seminar PAK yang berapat di Jakarta, tanggal 22-23 Februari 1988.
2. Mary Go Setiawani, Pembaruan Mengajar (Bandung:Yayasan Kalam Hidup), hlm. 92-94
3. Ruth. S. Kadarmanto, Tuntunlah Ke Jalan Yang Benar:Panduan Mengajar Anak di Jemaat (Jakarta:BPK-GM, 2004), hlm. 89-105
4. Paulus Lie, Mereformasi SM:8 Kiat Praktis Menjadikan SM Berpusat Pada Anak, (Yogyakarta:ANDI, 2003), hlm. 93-108)
KEPADA ANAK SEKOLAH MINGGU
(Sebuah Pedoman Sederhana)
1. Pengantar
Pembinaan Guru SM
Pelayanan Sekolah Minggu (SM) adalah dasar dari seluruh pelayanan gereja. Demikian juga dengan GKPI yang meletakkan dasar pelayanan kepada anak-anak. Karena anak-anak adalah masa depan gereja dan juga penerus warga Kerajaan Allah. Itu sebabnya guru SM memiliki peranan yang sangat penting dalam pertumbuhan iman anak-anak. Kita tahu bersama bahwa Anak Sekolah Minggu kelak akan menjadi gereja yang akan dating.
Hanya saja, para pelayan gereja kurang memberi perhatian kepada pelayanan SM. Hal ini disebabkan merasa bahwa pelayanan kepada anak-anak adalah tugas para guru SM. Selain itu lebih memberi kesibukan pada pelayanan mimbar dan pembinaan orang dewasa. Padahal tanpa disadari kebiasaan orang dewasa ditentukan mulai dari tingkah laku pada masa kecil. Untuk itu sebagai Pendeta kami sangat mengucapkan terimakasih kepada seluruh Guru-guru Sekolah Minggu, yang telah rela member perhatian kepada anak-anak Sekolah Minggu.
2. Mengapa Kita Mengajar Anak-Anak?.
Pertanyaan ini sebenarnya adalah pertanyaan mendasar kepada kita guru Sekolah Minggu sebelum kita memahami kenapa kita menjadi guru SM. Hal itu dimulai dari:
Pertama, Panggilan dari Allah sendiri. Ul. 6:4-9, yang juga panggilan kita dalam peneguhan guru SM menekankan agar kita mengakui dan mengasihi Tuhan yang esa. Seterusnya pengakuan dan mengasihi Tuhan ini kita teruskan kepada anak-anak kita (dan juga yang lain – termasuk anak SM) baik ketika tidur, bangun, makan, dijalan, dan terlebih di rumah Tuhan di Gereja.
Kedua, membawa anak-anak mencintai dan disayangi Yesus. Mark. 10:14, Yesus berkata ”biarkanlah anak-anak itu datang kepadaku…”. Saya yakin dan percaya, bahwa Firman Tuhan di atas sudah sangat sering bahkan termasuk dalam satu Firman Tuhan ketika seseorang yang percaya Yesus Kristus dibaptiskan. Ya, ini adalah bagian ketika anak-anak kecil (sekitar 14 tahun ke bawah) datang kepada Yesus di antarkan orangtua atau saudara. Namun kenyataan, murid-murid Yesus justru melarang mereka datang menjumpai Yesus. Tindakan murid Yesus pada satu pihak justru betul!. Karena mereka tidak ingin anak-anak yang nota bene sangat mengganggu, ribut, suka bermain-main, tidak tahu etika lingkungan, mengganggu Yesus yang sedang serius mengajar orang banyak. Tapi justru sebaliknya, Yesus justru menganggap tindakan murid-Nya kurang tepat. Karena Yesus sendiri menganggap bahwa anak-anak juga adalah bagian dari murid-murid-Nya yang juga mesti disayangi, dikasihi dan diajarkan tentang Kerajaan Allah (band. Ul. 6:4-9).
Ketiga, agar anak dapat bertumbuh ke arah Kristus dan dapat diselamatkan. Yesus meyakini bahwa diri-Nya sendiri juga pernah mengalami kehidupan sebagai seorang anak kecil. Dan sepanjang itu Dia selalu menerima bimbingan, arahan, ajaran dari orangtua bahkan juga dari guru-guru atau ahli taurat di rumah Allah dan terlebih Allah sendiri (Luk. 2:41-52). Dan hasilnya memang sangat sangat luar biasa. Tuhan Yesus pada akhirnya penuh hikmat, tumbuh dengan sangat dikasihi Tuhan dan manusia (Luk. 2:52). Ini juga yang memotivasi Tuhan Yesus untuk mengajak mereka hidup di dalam naungan kasih-Nya bahkan menjanjikan bahwa merekalah yang empunya Kerajaan Allah. Itu sebabnya Paulus mengajarkan Timotius agar belajar kepada Firman Tuhan yang telah diterima dari kecil karena itu bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (I. Tim. 3:15-17).
Keempat, perintah dari Yesus Kristus sendiri untuk mengajar. Mat. 28:19-20 dikatakan “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”. Dalam teks di atas jelas dikatakan bahwa yang memerintahkan diri kita untuk pergi adalah Yesus sendiri. Pergi untuk memuridkan dan mengajar.
Keempat hal di atas juga akan nampak dalam tujuan Kurikulum Sekolah Minggu yang telah ditetapkan oleh Persekutuan Gereja Indonesia yang disebut ”Kurikulum 88” yakni: ”Pendidikan Agama Kristen (PAK) sebagai tugas panggilan gereja adalah usaha untuk menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan peserta didik agar dengan pertolongan Roh Kudus dapat memahami dan menghayati Kasih Allah dalam Yesus Kristus, yang dinyatakannya dalam kehidupan sehari-hari, terhadap sesama dan lingkungannya”
3. Apa Persiapan Kita Sebelum Bercerita (Mengajar) Kepada Anak SM?.
• Persiapan rohani : ini sangat penting berhubungan dengan kesiapan kita dalam mengajar SM. Tentu ini berasal dari tugas panggilan kita. Ada guru SM mau menjadi guru SM bukan karena keinginan rohani (karena menjadi berkat bagi anak-anak), melainkan keinginan jasmani, agar dapat tugas dan jabatan di gereja. Padahal ini yang paling penting. Selain itu juga perlu berdoa sebelum memulai tugas tersebut.
• Persiapan informasi : dalam hal ini pertama, melihat jadwal dan tempat kita masing-masing mengajar SM. Kedua, melihat dan membaca teks alkitab yang diajarkan, juga ayat hafalan, Ketiga, melihat dan membaca apa tujuan teks tersebut, Keempat, melihat situasi anak yang kita ajarkan (biasanya ini untuk pembagian kelas – kecil, menengah dan besar)Persiapan diri/mental : ini tidak kalah penting, karena menentukan keberhasilan kita. Ada orang baru membaca teks pagi sebelum mengajar. Ini tidak baik!. Dapat menyebabkan ketidaksiapan kita untuk mengajar. Lebih baik dipersiapkan selama seminggu. Mis. Senin, kita membaca teks berulang-ulang dan menemukan kerangka dan garis besar cerita dengan memberikan catatan-catatan kecil, Selasa, mencari sudut pandang mana yang paling baik kita bercerita, Rabu, mencari alat-alat peraga yang mendukung, Kamis, memikirkan contoh aplikasi Firman Tuhan yang dapat diterapkan secara konkret kepada anak SM, Jum’at, mematangkan semua dengan mencoba bercerita di rumah, Sabtu, menutup persipan mental dengan berdoa kepada Tuhan sekaligus menguduskan diri.
4. Tekhnik Bercerita
4.1 Persiapan Diri Pembawa Cerita
• Cara berpakaian: harus rapi, bersih, anggun, leluasa, wajar, dan sesuai dengan keadaan/situasi.
• Sikap: sikap yang baik adalah mengendalikan tubuh dengan wajar, misalnya mimik, nafas dan lain-lain harus santai, jangan tegang. Usahakan penampilan yang sopan dan leluasa.
• Gerak-gerik: segalanya harus wajar, hindari gerak-gerik yang berlebihan. Jangan selalu mengulang gerakan yang sama. Jangan menjadi terkenal karena suatu gerakan yang aneh. Tenang dan jangan tergesa-gesa.
• Pandangan mata: harus memperhatikan semua murid, juga reaksi mereka. Jangan hanya menatap pada satu arah yang sama saja.
• Suara: jangan terlalu diperhatikan, tapi juga jangan melalaikan penggunaan suara. Pada waktu berbicara, longgarkanlah bagian tenggorokan, tarik nafas yang dalam, kemudian kumpulkanlah suara. Karena hanya dengan berbuat demikian, barulah dapat diperoleh hasil yang paling ideal.
• Nada suara: perhatikan saat kapan nada suara harus tinggi, rendah, besar, kecil, cepat, lambat, berubah, berhenti dan sebagainya. Adakalanya perlu memakai suara tiruan.
• Ekspresi: harus dapat mengekspresikan perasaan suka, marah, sedih, gembira, takut, murung, dan lain-lain yang terdapat dalam cerita.
• Penggunaan istilah: pilihlah penggunaan istilah yang sesuai dengan usia murid, supaya mereka dapat mengerti isi pelajaran. Boleh menggunakan banyak bentuk dialog langsung, dan usahakan sedikit mungkin pemakaian orang ketiga atau pernyataan yang tidak langsung.
4.2. Trik Membuat Anak-Anak Tenang Selama Cerita : Dalam hal ini sebelum memulai bercerita perlu menenangkan anak-anak.
1. Simulasi : Kunci Mulut yaitu memperagakan ”penguncian mulut”. Minta anak-anak mengikuti gerakan mengunci mulut tanpa suara dengan tangan dan kemudian kunci itu dimasukkan dalam kantung masing-masing.
2. Ikrar bersama mis, buatlah satu janji yang diikuti anak-anak, ”saya siap mendengar Firman Tuhan dengan tenang”. ”jika saya anak Yesus, saya mendengar perkataan-Nya”, dll.
3. Lomba : Pendengar setia. Ini membagi kelompok, dengan dipilih ketua kelompok dan diminta menenangkan kelompoknya masing-masing dalam kurun waktu 2 menit.
4. Kuis : Cobalah Tebak mis 5+2 = 5000 sisa berapa (Yesus memberi makan 5000 orang)
5. Mendekati anak yang gelisah/tidak tenang : kita tetap bercerita, dan kita menatap anak-anak yang gelisah/tidak tenang atau kita mendatanginya dengan memegangnya
6. Gerakan/tindakan/kata singkat penarik perhatian mis : memberikan suara keras, membuat gerakan sesuai dengan teks, mimik yang sesuai dengan emosi yang diceritakan, dll.
4.3. Metode Guru Bercerita
v Kreasi ”Boom kejutan di awal cerita” mis. Membuat ilustrasi singkat, mengajak mereka membuat satu kata yang bersemangat mis. Syalom, merdeka, amin, dll.
v Kreasi ”Alur Cerita” mis. Dari awal – tengah – akhir atau sebaliknya
v Kreasi ”Alat peraga” mis. Guru sendiri menjadi alat peraga (mengekspresikan wajah), papan tulis, gambar-gambar, kartu, batu dan daun, boneka, atau juga anak itu sendiri.
v Penghayatan Cerita : olah vokal dan olah tubuh mis. Olah vokal Suara keras – berteriak – lembut – lirih; cepat – lambat – amat lambat; marah – percakapan biasa – sedih; memohon – meratap. Olah tubuh santai – tenang – rileks; lemah – loyo – lesu; seperti orang gemetaran; seperti orang menangis, menjerit, dll.
v Olah suasana : melibatkan anak dalam cerita; berdiri di tempat yang terlihat semua anak; jangan diam di satu tempat selama cerita
v Misi penutup ; ajakan atau nasehat beserta pesan-pesan kepada mereka.
4.4. Metode Anak Aktif
• Kreasi ”Anak terlibat langsung” dalam arti mereka yang memperagakan teks cerita
• Kreasi ”Acara kelompok” mis. Membuat gambar atau guntingan koran disusun dan dicari artinya
• Kreasi ”Diskusi Kelompok” mis. Guru bercerita dan anak-anak diberi kebebasan untuk mendiskusikan apa yang diceritakan.
4.5. Penggunaan Sarana Modern : video, film, tape, hp, dll.
5. Langkah-langkah mempersiapkan cerita Alkitab
a. Mengetahui macam-macam cerita dalam Alkitab
& Cerita sejarah (Penciptaan s/d menara babel, Raja-Raja Israel – I Samuel s/d II Tawarikh)
& Cerita penggembaraan (Abraham, Ishak dan Yakub Rut, Elia, Elisa,)
& Cerita kehidupan seseorang (Yesus Kristus, Ayub, Paulus)
& Cerita Perjuangan (Hakim-Hakim, Daud, Salomo)
& Cerita Pahlawan (Daud, Ester, Daniel dll)
& Cerita Kisah Percintaan
& Cerita Kejadian Yang Menakutkan (Daniel, Wahyu)
& Cerita Kejadian Yang Lucu, dll.
& Cerita Mujijat, Perumpamaan yang bisa dibuat dalam bentuk dongeng.
b. Prinsip dalam mengolah cerita
• Baca teks secara utuh, juga melihat kaitan di depan teks dan di belakang teks. Kenali tokoh, tempat kejadian, waktunya, dan urutan peristiwa
• Ketahuai tujuan dan inti cerita (lihat perikopen atau buku pedoman)
• Buatlah catatan-catatan tersendiri kata-kata kunci mis, mengajar, dosa, menyanyi dll
• Sebuah cerita tidak harus disampaikan secara utuh. Hanya bagian tertentu
• Bahasakan cerita itu dengan bahasa sendiri
• Gunakan cara tersendiri dalam menyampaikan cerita (lihat metode guru bercerita di atas)
• Pahami usia yang diajar dan perhatikan kemampuan mereka:
Perkembangan Balita(2 – 5 tahun) Anak Kecil (6-8 tahun) Anak Tanggung (9-11 tahun) Remaja (12-14 tahun)
Fisik Suka melakukan peran dan bermain,Otot belum tumbuh sempurna,Mudah terserang penyakit Suka PadaKegiatan Aktif;Tumbuh tetapi tidak mulai tidak cepat Umumnya kesehatan baik;Pertumbuhan perempuan lebih cepatSuka Kegiatan Aktif dan kegiatan kelompok Mengalami Perubahan Fisik baik laki dan perempuan;Perubahan pita suara
Mental Rasa Ingin Tahu sangat besar,Ingatan tak baik perlu sering diingatkan;Belajar berhubugan dengan panca indra Suka bertanya tentang banyak hal; Daya khayal sangat tinggi;Penuh rasa prihatin;Mudah mencetuskan perasaan Suka menyelidiki hal yang ingin diketahui;Suka bertanya;Mempunyai daya ingat yang baik;
Penuh daya kreatif; Suka menguasai, baik dalam percakapan atau dalam melakukan kegiatan;Suka mengeritik
Sosial Suka bermain sendiri. Egosentris Belajar bermain bersama;Mudah bergaul;Senang bekerjasama tetapi sering bertengkar Suka berkelompok;Setia kepada kawan daripada orangtua dan guru;Lebih suka aktivitas yang bersifat lomba Menghargai persahabatan;Menuntut kebebasan;Mulai memberontak
Spritual Suka meniru, percaya pada orang dekatnya (orangtua, saudara, dll) Suka membandingkan dengan orang lain Suka beribadah Berada dalam kondisi jiwa yang tidak sta
6. Waktu bercerita
Menurut ilmu jiwa perkembangan anak bahwa seorang anak mampu mendengar dengan baik cerita orang lain adalah 2 menit x umurnya. Jadi ketika seorang anak 5 tahun, dia hanya sanggup mendengar dengan baik 10 menit saja. Demikian seterusnya
7. 10 Prinsip Yang Dimiliki Oleh Seorang Guru SM dan 10 Yang Mesti Dihindari
10 Prinsip Yang Dimiliki 10 Hal Yang Mesti Dihindari
C Meyakini panggilan-Nya sebagai guru penuh waktu D Jangan merusak kekudusan hidup anda
C Memahami visi dan misinya sebagai guru D Jangan mengajar tanpa persiapan
C Hidup dipimpin dan mengandalkan Tuhan melalui Roh Kudus D Jangan meremehkan anak-anak
C Rela mempersembahkan totalitas dirinya bagi pelayanan anak D Jangan berpenampilan yang tidak pantas (pakaian, gaya dan sikap)
C Selalu berdoa syafaat bagi anak-anak D Jangan datang terlambat
C Hadir dan mengajar dengan cinta dan kasih sayang D Jangan asal bicara
C Menjadi seorang gembala yang baik (teladan) bagi anak didik D Jangan bertingkah laku memalukan (marah-marah, tidak peduli, dll)
C Peduli dengan anak didik dimana dan kapan saja D Jangan membuka mata sewaktu berdoa
C Selalu belajar dalam mengembangkan kemampuan yang dimiliki D Jangan berbicara sendiri saat kegiatan di kelas
C Menjadi mitra yang baik bagi pelayan lainnya dan orang tua anak didik D Jangan melupakan janji kepada anak-ana
8. Sebuah Contoh Mengolah Cerita : ”Yesus Memberi Makan 5000 orang” (Luk 9:10-17)
Tujuan Umum : Agar anak dapat mengetahui tentang cerita Yesus memberi makan 5000 orang
Tujuan Khusus :
@ Agar anak dapat menceritakan kembali tentang Yesus memberi makan 5000 orang
@ Agar anak dapat menyebutkan beberapa cara ketika berada dalam kesulitan
@ Agar dapat menyebutkan cara mengasihi sesama yang kesulitan
@ Agar anak dapat menyebutkan bagian cerita yang berkesan kepadanya
Tokoh di dalam cerita : Yesus, Murid-murid, orang banyak, anak pemilik roti dan ikan
Alat peraga: gambar orang banyak, gambar ikan & roti.
Tahapan kegiatan mengajar:
Kegiatan I Pada awal cerita, anak-anak dapat ditanyakan bagaimana perasaan mereka ketika merasakan lapar.
Kegiatan 2 Menceritakan tentang Yesus memberi makan 5000 orang
Kegiatan 3 Menekankan kepada bagian seorang anak yang membantu Yesus dengan memberi makanan yang dimilikinya (dapat membawa gambar roti dan ikan)
Kegiatan 4 Dapat menanyakan kepada murid tentang apa yang dilakukan seperti cerita alkitab (dapat diperankan oleh anak-anak)
Kegiatan 5 Mengajak anak-anak berdoa untuk peduli kepada sesama dan saling mengasihi.
9. Penutup
Menjadi Guru SM adalah tugas yang mulia. Karena ditangan kitalah perkembangan anak-anak berada untuk ke depan. Untuk itu marilah kita melaksanakannya dengan penuh sukacita sambil penyerahan diri di dalam tangan Tuhan.
________________________________________
Reverenci:
1. Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pikiran & Praktek PAK: Dari Dari Yohanes Comenius – Perkembangan PAK di Indonesia, (Jakarta:BPK-GM, 1997), hlm. 801-802. Kurikulum 88 ini adalah hasil dari Konsultasi Tentang Pendidikan Kristen di Salatiga, tanggal 11-13 September 1986 & Seminar PAK yang berapat di Jakarta, tanggal 22-23 Februari 1988.
2. Mary Go Setiawani, Pembaruan Mengajar (Bandung:Yayasan Kalam Hidup), hlm. 92-94
3. Ruth. S. Kadarmanto, Tuntunlah Ke Jalan Yang Benar:Panduan Mengajar Anak di Jemaat (Jakarta:BPK-GM, 2004), hlm. 89-105
4. Paulus Lie, Mereformasi SM:8 Kiat Praktis Menjadikan SM Berpusat Pada Anak, (Yogyakarta:ANDI, 2003), hlm. 93-108)
Rabu, 02 Maret 2011
"Mengenal Kasih"
Mengenal Kasih Berdasarkan 1 Korintus 13:1-13
Khotbah Keb. R. Tangga GKPI Rw. Lumbu
10 Maret 2011
Dalam I Kor 13 tercatat beberapa prinsip kesempurnaan kasih yang memperkaya. Ayat 1-3 diawali dengan, “Sekalipun aku…” Artinya, sekalipun mempunyai banyak karunia, hikmat, materi dan berbagai hal yang layak dipersembahkan bagi pekerjaan Tuhan seperti jemaat Korintus, tetapi tanpa kasih maka semuanya sia-sia belaka dan tidak berguna karena tak ada lagi yang dapat dibanggakan selain diri sendiri. Sedangkan egoisme hanya akan menimbulkan kompetisi tak sehat yang sa¬ngat berbahaya dan tidak memuliakan Tuhan.
Paulus mengatakan, “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing” (I Kor 13:1). Dalam I Kor 12 dan 14, ia membahas betapa banyaknya jemaat yang berbahasa roh. Namun dalam I Kor 14:23 secara khusus ia mengkritik, “Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila?” Pemakaian bahasa tersebut justru membuat keributan dan bukan keteraturan dalam ibadah. Kadangkala, bahasa roh juga dimanipulasi dan direkayasa sedemikian rupa. Padahal Paulus telah menegaskan, “Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya. Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya” (I Kor 12:10-11; 14:13). Ayat inipun seringkali disalahartikan. Akibatnya, terjadi pemalsuan karena orang yang berbahasa roh sekaligus menterjemahkannya. Kekristenan percaya bahwa bahasa tersebut ada tetapi tidak mudah mempercayai mereka yang mengaku memilikinya karena Yohanes pernah mengatakan, “Saudara- saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah” (I Yoh 4:1). Paulus juga memberikan pengertian yang benar tentang bahasa roh karena jemaat Korintus memiliki tendency untuk melebih-lebihkan karunia tersebut. Selain itu, mereka cenderung menganggap diri lebih rohani daripada orang lain. Maka terjadilah perpecahan, “Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus” (I Kor 1:12).
Ada 3 aspek yang dipaparkan oleh Paulus dalam I Kor 13:4-8:
Pertama, kasih membangun kualitas dan kualifikasi orang Kristen secara pribadi hingga memancarkan kasih Kristus. Kasih yang pertama adalah cintakasih Kristus yang menyentuh hati dan kehidupan manusia. Paulus menegaskan, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.” Namun dunia yang semakin materialis, egois dan individual telah menurunkan kadar kasih Kristen. Paulus pernah mengingatkan tentang keadaan manusia pada akhir jaman dalam 2 Tim 3:2, “Manusia akan mencintai dirinya sendiri.” Jikalau Gereja tidak memperhatikan dengan baik maka tanpa disadari telah menggenapinya.
Kedua, kasih membangun kualitas relasi dengan sesama antara lain sikap, interaksi dan komunikasi. Paulus mengajarkan, “Ia tidak melakukan yang tidak sopan”. Selama bersosialisasi, setiap orang Kristen seharusnya berusaha agar ucapannya tidak terkesan kasar dan latar belakang karakternya tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan diri. Sebaliknya, ia harus mengerti perasaan sesamanya sehingga komunitas Kristen tidak saling menjatuhkan melainkan mendukung karena, “Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.”
Ketiga, kasih membangun kualitas penyelesaian masalah. Paulus mengajarkan, “Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” Hidup menggereja pasti ada masalah hingga menimbulkan cekcok karena manusia memiliki kelemahan. Maka pihak yang bertengkar harus dipertemukan untuk mencari solusi. Setelah saling mengakui dan memaafkan, mereka diharapkan untuk tidak mengungkitnya kembali agar tidak berkembang hingga menghancurkan Gereja. Memang lidah tak bertulang tapi dapat dikendalikan oleh kasih.
Keempat, kasih itu kekal. Paulus mengatakan, “Nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.” Sedangkan kasih adalah pola kehidupan surgawi. Karena itu, ia melanjutkan, “Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal” (I Kor 13:12). Dengan kata lain, di hadapan Tuhan tak ada yang tersembunyi dan semua orang akan saling terbuka.
Seorang penafsir Alkitab, gembala sekaligus pengkhotbah dengan preaching yang mantap bernama Warren William W. mengatakan: (1)Tritunggal adalah dasar kehidupan Gereja; (2)Firman adalah makanan rohani umat Tuhan; (3)doa adalah nafas hidup Gereja; (4)cintakasih adalah peredaran darah dalam tubuh Kristus. Dengan kata lain, kasih adalah fellowship yang menghangatkan suasana Gereja.
Salah satu sifat utama Allah adalah kasih. Allah pun ingin kita sebagai anak-anak-Nya juga memiliki kasih seperti yang diajarkan-Nya melalui Rasul Paulus. Ada banyak syarat yang harus dipenuhi supaya kita bisa memiliki kasih yang benar. Amen
Khotbah Keb. R. Tangga GKPI Rw. Lumbu
10 Maret 2011
Dalam I Kor 13 tercatat beberapa prinsip kesempurnaan kasih yang memperkaya. Ayat 1-3 diawali dengan, “Sekalipun aku…” Artinya, sekalipun mempunyai banyak karunia, hikmat, materi dan berbagai hal yang layak dipersembahkan bagi pekerjaan Tuhan seperti jemaat Korintus, tetapi tanpa kasih maka semuanya sia-sia belaka dan tidak berguna karena tak ada lagi yang dapat dibanggakan selain diri sendiri. Sedangkan egoisme hanya akan menimbulkan kompetisi tak sehat yang sa¬ngat berbahaya dan tidak memuliakan Tuhan.
Paulus mengatakan, “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing” (I Kor 13:1). Dalam I Kor 12 dan 14, ia membahas betapa banyaknya jemaat yang berbahasa roh. Namun dalam I Kor 14:23 secara khusus ia mengkritik, “Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila?” Pemakaian bahasa tersebut justru membuat keributan dan bukan keteraturan dalam ibadah. Kadangkala, bahasa roh juga dimanipulasi dan direkayasa sedemikian rupa. Padahal Paulus telah menegaskan, “Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya. Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya” (I Kor 12:10-11; 14:13). Ayat inipun seringkali disalahartikan. Akibatnya, terjadi pemalsuan karena orang yang berbahasa roh sekaligus menterjemahkannya. Kekristenan percaya bahwa bahasa tersebut ada tetapi tidak mudah mempercayai mereka yang mengaku memilikinya karena Yohanes pernah mengatakan, “Saudara- saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah” (I Yoh 4:1). Paulus juga memberikan pengertian yang benar tentang bahasa roh karena jemaat Korintus memiliki tendency untuk melebih-lebihkan karunia tersebut. Selain itu, mereka cenderung menganggap diri lebih rohani daripada orang lain. Maka terjadilah perpecahan, “Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus” (I Kor 1:12).
Ada 3 aspek yang dipaparkan oleh Paulus dalam I Kor 13:4-8:
Pertama, kasih membangun kualitas dan kualifikasi orang Kristen secara pribadi hingga memancarkan kasih Kristus. Kasih yang pertama adalah cintakasih Kristus yang menyentuh hati dan kehidupan manusia. Paulus menegaskan, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.” Namun dunia yang semakin materialis, egois dan individual telah menurunkan kadar kasih Kristen. Paulus pernah mengingatkan tentang keadaan manusia pada akhir jaman dalam 2 Tim 3:2, “Manusia akan mencintai dirinya sendiri.” Jikalau Gereja tidak memperhatikan dengan baik maka tanpa disadari telah menggenapinya.
Kedua, kasih membangun kualitas relasi dengan sesama antara lain sikap, interaksi dan komunikasi. Paulus mengajarkan, “Ia tidak melakukan yang tidak sopan”. Selama bersosialisasi, setiap orang Kristen seharusnya berusaha agar ucapannya tidak terkesan kasar dan latar belakang karakternya tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan diri. Sebaliknya, ia harus mengerti perasaan sesamanya sehingga komunitas Kristen tidak saling menjatuhkan melainkan mendukung karena, “Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.”
Ketiga, kasih membangun kualitas penyelesaian masalah. Paulus mengajarkan, “Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” Hidup menggereja pasti ada masalah hingga menimbulkan cekcok karena manusia memiliki kelemahan. Maka pihak yang bertengkar harus dipertemukan untuk mencari solusi. Setelah saling mengakui dan memaafkan, mereka diharapkan untuk tidak mengungkitnya kembali agar tidak berkembang hingga menghancurkan Gereja. Memang lidah tak bertulang tapi dapat dikendalikan oleh kasih.
Keempat, kasih itu kekal. Paulus mengatakan, “Nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.” Sedangkan kasih adalah pola kehidupan surgawi. Karena itu, ia melanjutkan, “Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal” (I Kor 13:12). Dengan kata lain, di hadapan Tuhan tak ada yang tersembunyi dan semua orang akan saling terbuka.
Seorang penafsir Alkitab, gembala sekaligus pengkhotbah dengan preaching yang mantap bernama Warren William W. mengatakan: (1)Tritunggal adalah dasar kehidupan Gereja; (2)Firman adalah makanan rohani umat Tuhan; (3)doa adalah nafas hidup Gereja; (4)cintakasih adalah peredaran darah dalam tubuh Kristus. Dengan kata lain, kasih adalah fellowship yang menghangatkan suasana Gereja.
Salah satu sifat utama Allah adalah kasih. Allah pun ingin kita sebagai anak-anak-Nya juga memiliki kasih seperti yang diajarkan-Nya melalui Rasul Paulus. Ada banyak syarat yang harus dipenuhi supaya kita bisa memiliki kasih yang benar. Amen
" Khotbah Minggu 06 Maret 2011"
Minggu 06 Maret 2011
K h o t b a h: Lukas 10 : 38 - 42
Th e m a :
Bekerja dan Mendengarkan Firman Tuhan
PENDAHULUAN
Saudara tentu pernah menyambut tamu di rumah, bukan? Masih ingatkah apa yang saudara lakukan saat itu? Banyak orang sengaja merepotkan diri berbelanja, memasak, pulang kerja lebih cepat dan merapikan rumah yang selama ini berantakan, hanya agar dapat menyambut tamu dengan kehangatan maksimal. Jelas ini wujud kasih yang besar terhadap tamu-tamu kita.
Ketika dikunjungi Tuhan Yesus di rumahnya, Marta melakukan hal yang sama pula. Sebagai tuan rumah yang baik, Marta juga sibuk menghidangkan sesuatu untuk Tuhan Yesus.
Siapapun akan senang menerima sambutan hangat seperti ini. Saya yakin Tuhan Yesus pun demikian. Lalu kenapa kemudian nampak ada persoalan di dalam pertemuan itu? Kenapa di akhir cerita Tuhan Yesus nampak lebih menghargai Maria daripada Marta?
Rasanya Marta dan Maria masing-masing telah melakukan tugas dengan benar. Yang seorang menemani Tuhan Yesus, yang lain menyiapkan hidangan. Bayangkan betapa hausnya Tuhan Yesus jika Maria dan Marta hanya mendengarkan-Nya berbicara. Tetapi juga betapa kasihannya Dia jika ditinggal sendirian di ruang tamu, sementara tuan rumah sibuk memasak di dapur. Jadi, baik Maria maupun Marta patut dihargai karena kesigapan masing-masing. Sambutan dan pelayanan mereka itu sudah hampir sempurna.
Hanya saja ada satu kekurangan, dan itu muncul dari Marta. Bukan karena pekerjaannya, tetapi sikapnya yang terlalu sibuk. Ketika mulai kewalahan melayani, mulai jugalah Marta cemburu dan iri kepada adiknya, Maria, yang hanya duduk mendengar Tuhan Yesus. Ia merasa bekerja sendiri, sibuk sendiri dan capek sendiri, sementara yang lain santai seolah tak peduli. Cemburu dan iri hati ini kemudian melahirkan kemarahan. Sekalipun halus, namun dirasakan Yesus sehingga Ia menasehati dengan lembut: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara". Paduan cemburu, iri hati dan kemarahan itulah yang kemudian merenggut sukacita dan kerelaan Marta dalam melayani. Sukacitanya berganti sungut-sungut. Kerelaan menjadi tuntutan. Pelayanan berubah menjadi pekerjaan, yang dilakukan separuh hati.
Menganalisa pengalaman ini, kita bisa menemukan beberapa pencuri sukacita itu. Pertama, sukacita hilang ketika kita merasa tidak ada yang peduli dengan pelayanan kita. Kita seolah bekerja sendiri, tidak dipandang dan juga tidak mendapat pertolongan. Hati kita menjadi hambar. Kedua, sukacita hilang ketika kita merasa pelayanan orang lain lebih ringan daripada pelayanan kita. Kita suka membanding-bandingkan. Kita mulai berpikir iri: "Mereka hanya rapat dan rapat, sementara kami yang menjalankan. Eeh... malah enak-enakan kasih komentar". Ketiga, sukacita hilang ketika hati kita tidak lagi fokus pada pihak yang kita layani. Sukacita Marta hilang karena ia hanya memikirkan berat pekerjaannya, yang tidak mampu dihadapinya sendiri. Akibatnya, penghargaannya berkurang pada Tuhan Yesus yang hanya duduk dan ngobrol dengan Maria.
Sikap Marta ini dinilai sebagai tindakan menyusahkan diri sendiri, sebab bukan makanan yang dicari Tuhan Yesus, melainkan makna persekutuan. Persekutuan itu terjalin antara Tuhan Yesus dan Maria, dan itu lebih utama daripada makanan jasmani; sebab manusia hidup bukan dari roti saja tetapi terlebih oleh firman Tuhan yang mampu menghidupkan jiwa-jiwa yang telah mati.
Saudara, melayani tanpa sukacita itu melelahkan. Melayani tanpa kerelaan itu merugikan. Melayani tanpa memandang kepada Tuhan tentulah juga sia-sia. Jika begini terus kita hanya mendapat kekecewaan dan kepahitan hati. Oleh karena itu, mari berikan hati kita kepada Tuhan sepenuhnya. Hanya dengan begitu, kita akan mampu melakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan, bukan semata untuk manusia. Dengan begitu pula, maka tidak ada lagi ruang untuk kecemburuan, iri hati dan kemarahan. Selamat melayani dengan rela dan sukacita.
Ada ungkapan dalam bahasa Indonesia “Oleh karena mengejar yang akan ditinggalkan, akibatnya lupa yang perlu dikejar”. Yang perlu dipertanyakan sebagai orang yang percaya apakah sudah jelas bagi kita, apa yang seharusnya kita “kejar” dalam kehidupan kita dan apakah yang perlu kita tinggalkan???
Peristiwa Yesus singgah dirumah Maria dan Marta memberikan gambaran, bahwa ditengah-tengah segala kesibukan, kerajinan dan aktifitas kita baik dalam hidup kita sehari-hari maupun dalam hidup pelayanan kita, janganlah kita lalaikan atau langkahi yang paling penting.
POKOK-POKOK KHOTBAH
1. Maria dan Marta sama-sama mempunyai kesempatan menerima/menjamu Yesus, namun ada perbedaan yang mendasar yakni cara mereka merespon kehadiran Yesus. Hal ini juga menjadi perenungan bagi kita apa dan bangaimana sikap kita merespon kehadiran Yesus, mungkin kita lebih sering melakukan dan berharap hanya masalah-masalah duniawi. Marta digambarkan sebagai seorang wanita yang aktif dalam mengurus hal-hal yang praktis, sedangkan Maria sanggup duduk tenang, mendengarkan, dan merenungkan tentang perkara-perkara keronianian.
2. Kesalahan Marta sebenarnya tidak hanya karena dia menyibukkan diri sebagai pelayanan Sekwilda (Sekitar Wilayah Dapur) namun Sikap Protes dan menyalahkan, Marta tidak hanya menyalahkan Maria namun juga menyalahkan Yesus. “ Tuhan tidakkah Engkau peduli,bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri?” Salah satu yang sering terjadi bahwa orang-orang yang Rajin/aktif menyalahkan orang lain.
3. Pekerjaan/Pelayanan yang dilakukan dengan berat hati atau sungut-sungut tidak akan menjadi berkat bagi kita dan juga bagi orang lain.
4. Pada sisi yang lain kita juga membutuhkan “Marta-Marta” masa kini, pada saat-saat tertentu kita juga membutuhkan orang-orang tertentu yang memberikan waktu dan tenaganya. Misalnya dalam kepanitian untuk Seksi Tempat/Peralatan, Seksi Konsumsi bukankah yang kita perlukan seperti sosok Marta?
5. Dalam pelaksanaan Kebaktian Rumah Tangga Tuan Rumah sangat direpotkan dalam hal mempersiapkan Snack atau Makan-Minum, sehingga sering terlupakan mempersiapkan diri untuk mendengarkan Firman Tuhan.
6. Secara institusi, kita perlu mengevaluasi, seberapa banyak dana yang kita pergunakan untuk hal-hal “dunia” dibanding dengan hal-hal “Rohani”, seberapa banyak Dana untuk Sidang-Sidang Gerejawi atau perayaan-Perayaan yang pada umumya Dana tersebut dipergunakan untuk yang tidak esensi, dibanding dana untuk Peningkatan Mutu Ibadah ?
KESIMPULAN
Pelayanan yg aktif dan praktis kepada Allah itu penting dan baik, namun kita harus menyadari bahwa tugas kita yang pertama dan yang terpenting adalah Kasih dan Pengabdian yang terungkap dalam penyembahan, Doa dan Persekutuan bersama Tuhan.
“Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”. Matius 6 : 33
“Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup dengan demikian Tuhan, Allah semesta alam akan menyertai kamu, seperti yang kamu katakan” .Amos 5 : 14a
“Pikirkanlah perkara yang diatas, bukan yang dibumi”.Kol 3 : 2.
Pdt. RHL. Tobing
K h o t b a h: Lukas 10 : 38 - 42
Th e m a :
Bekerja dan Mendengarkan Firman Tuhan
PENDAHULUAN
Saudara tentu pernah menyambut tamu di rumah, bukan? Masih ingatkah apa yang saudara lakukan saat itu? Banyak orang sengaja merepotkan diri berbelanja, memasak, pulang kerja lebih cepat dan merapikan rumah yang selama ini berantakan, hanya agar dapat menyambut tamu dengan kehangatan maksimal. Jelas ini wujud kasih yang besar terhadap tamu-tamu kita.
Ketika dikunjungi Tuhan Yesus di rumahnya, Marta melakukan hal yang sama pula. Sebagai tuan rumah yang baik, Marta juga sibuk menghidangkan sesuatu untuk Tuhan Yesus.
Siapapun akan senang menerima sambutan hangat seperti ini. Saya yakin Tuhan Yesus pun demikian. Lalu kenapa kemudian nampak ada persoalan di dalam pertemuan itu? Kenapa di akhir cerita Tuhan Yesus nampak lebih menghargai Maria daripada Marta?
Rasanya Marta dan Maria masing-masing telah melakukan tugas dengan benar. Yang seorang menemani Tuhan Yesus, yang lain menyiapkan hidangan. Bayangkan betapa hausnya Tuhan Yesus jika Maria dan Marta hanya mendengarkan-Nya berbicara. Tetapi juga betapa kasihannya Dia jika ditinggal sendirian di ruang tamu, sementara tuan rumah sibuk memasak di dapur. Jadi, baik Maria maupun Marta patut dihargai karena kesigapan masing-masing. Sambutan dan pelayanan mereka itu sudah hampir sempurna.
Hanya saja ada satu kekurangan, dan itu muncul dari Marta. Bukan karena pekerjaannya, tetapi sikapnya yang terlalu sibuk. Ketika mulai kewalahan melayani, mulai jugalah Marta cemburu dan iri kepada adiknya, Maria, yang hanya duduk mendengar Tuhan Yesus. Ia merasa bekerja sendiri, sibuk sendiri dan capek sendiri, sementara yang lain santai seolah tak peduli. Cemburu dan iri hati ini kemudian melahirkan kemarahan. Sekalipun halus, namun dirasakan Yesus sehingga Ia menasehati dengan lembut: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara". Paduan cemburu, iri hati dan kemarahan itulah yang kemudian merenggut sukacita dan kerelaan Marta dalam melayani. Sukacitanya berganti sungut-sungut. Kerelaan menjadi tuntutan. Pelayanan berubah menjadi pekerjaan, yang dilakukan separuh hati.
Menganalisa pengalaman ini, kita bisa menemukan beberapa pencuri sukacita itu. Pertama, sukacita hilang ketika kita merasa tidak ada yang peduli dengan pelayanan kita. Kita seolah bekerja sendiri, tidak dipandang dan juga tidak mendapat pertolongan. Hati kita menjadi hambar. Kedua, sukacita hilang ketika kita merasa pelayanan orang lain lebih ringan daripada pelayanan kita. Kita suka membanding-bandingkan. Kita mulai berpikir iri: "Mereka hanya rapat dan rapat, sementara kami yang menjalankan. Eeh... malah enak-enakan kasih komentar". Ketiga, sukacita hilang ketika hati kita tidak lagi fokus pada pihak yang kita layani. Sukacita Marta hilang karena ia hanya memikirkan berat pekerjaannya, yang tidak mampu dihadapinya sendiri. Akibatnya, penghargaannya berkurang pada Tuhan Yesus yang hanya duduk dan ngobrol dengan Maria.
Sikap Marta ini dinilai sebagai tindakan menyusahkan diri sendiri, sebab bukan makanan yang dicari Tuhan Yesus, melainkan makna persekutuan. Persekutuan itu terjalin antara Tuhan Yesus dan Maria, dan itu lebih utama daripada makanan jasmani; sebab manusia hidup bukan dari roti saja tetapi terlebih oleh firman Tuhan yang mampu menghidupkan jiwa-jiwa yang telah mati.
Saudara, melayani tanpa sukacita itu melelahkan. Melayani tanpa kerelaan itu merugikan. Melayani tanpa memandang kepada Tuhan tentulah juga sia-sia. Jika begini terus kita hanya mendapat kekecewaan dan kepahitan hati. Oleh karena itu, mari berikan hati kita kepada Tuhan sepenuhnya. Hanya dengan begitu, kita akan mampu melakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan, bukan semata untuk manusia. Dengan begitu pula, maka tidak ada lagi ruang untuk kecemburuan, iri hati dan kemarahan. Selamat melayani dengan rela dan sukacita.
Ada ungkapan dalam bahasa Indonesia “Oleh karena mengejar yang akan ditinggalkan, akibatnya lupa yang perlu dikejar”. Yang perlu dipertanyakan sebagai orang yang percaya apakah sudah jelas bagi kita, apa yang seharusnya kita “kejar” dalam kehidupan kita dan apakah yang perlu kita tinggalkan???
Peristiwa Yesus singgah dirumah Maria dan Marta memberikan gambaran, bahwa ditengah-tengah segala kesibukan, kerajinan dan aktifitas kita baik dalam hidup kita sehari-hari maupun dalam hidup pelayanan kita, janganlah kita lalaikan atau langkahi yang paling penting.
POKOK-POKOK KHOTBAH
1. Maria dan Marta sama-sama mempunyai kesempatan menerima/menjamu Yesus, namun ada perbedaan yang mendasar yakni cara mereka merespon kehadiran Yesus. Hal ini juga menjadi perenungan bagi kita apa dan bangaimana sikap kita merespon kehadiran Yesus, mungkin kita lebih sering melakukan dan berharap hanya masalah-masalah duniawi. Marta digambarkan sebagai seorang wanita yang aktif dalam mengurus hal-hal yang praktis, sedangkan Maria sanggup duduk tenang, mendengarkan, dan merenungkan tentang perkara-perkara keronianian.
2. Kesalahan Marta sebenarnya tidak hanya karena dia menyibukkan diri sebagai pelayanan Sekwilda (Sekitar Wilayah Dapur) namun Sikap Protes dan menyalahkan, Marta tidak hanya menyalahkan Maria namun juga menyalahkan Yesus. “ Tuhan tidakkah Engkau peduli,bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri?” Salah satu yang sering terjadi bahwa orang-orang yang Rajin/aktif menyalahkan orang lain.
3. Pekerjaan/Pelayanan yang dilakukan dengan berat hati atau sungut-sungut tidak akan menjadi berkat bagi kita dan juga bagi orang lain.
4. Pada sisi yang lain kita juga membutuhkan “Marta-Marta” masa kini, pada saat-saat tertentu kita juga membutuhkan orang-orang tertentu yang memberikan waktu dan tenaganya. Misalnya dalam kepanitian untuk Seksi Tempat/Peralatan, Seksi Konsumsi bukankah yang kita perlukan seperti sosok Marta?
5. Dalam pelaksanaan Kebaktian Rumah Tangga Tuan Rumah sangat direpotkan dalam hal mempersiapkan Snack atau Makan-Minum, sehingga sering terlupakan mempersiapkan diri untuk mendengarkan Firman Tuhan.
6. Secara institusi, kita perlu mengevaluasi, seberapa banyak dana yang kita pergunakan untuk hal-hal “dunia” dibanding dengan hal-hal “Rohani”, seberapa banyak Dana untuk Sidang-Sidang Gerejawi atau perayaan-Perayaan yang pada umumya Dana tersebut dipergunakan untuk yang tidak esensi, dibanding dana untuk Peningkatan Mutu Ibadah ?
KESIMPULAN
Pelayanan yg aktif dan praktis kepada Allah itu penting dan baik, namun kita harus menyadari bahwa tugas kita yang pertama dan yang terpenting adalah Kasih dan Pengabdian yang terungkap dalam penyembahan, Doa dan Persekutuan bersama Tuhan.
“Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”. Matius 6 : 33
“Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup dengan demikian Tuhan, Allah semesta alam akan menyertai kamu, seperti yang kamu katakan” .Amos 5 : 14a
“Pikirkanlah perkara yang diatas, bukan yang dibumi”.Kol 3 : 2.
Pdt. RHL. Tobing
Langganan:
Postingan (Atom)