Senin, 17 Januari 2011

"MAKNA BULAN KELUARGA"


Apa Makna Bulan Keluarga...?
Rumah adalah tempat kita bertumbuh. Rumah adalah sekolah utama di mana seorang manusia menjadi manusia. Di situ kita dibentuk untuk mengenal apa itu kasih, kebenaran, dan keadilan. Di situ juga kita mengenal kebencian, kebohongan, dan ketidakadilan. Selain menjadi tempat bertumbuh, rumah juga merupakan tempat berteduh. Di situ kita mendapatkan rasa aman dari ancaman dan tantangan dunia. Memang, tidak ada tempat lain di dunia ini seperti rumah kita. Bagi orang percaya, rumah adalah tempat di mana Allah hadir untuk membentuk kita. Di sana Allah menyatakan kasih dan berkat-Nya. Di dalam kasih dan berkat Tuhan tersebut terdapat didikan dan teguran-Nya.
Kesadaran akan tanggungjawab manusia sebagai perpanjangan tangan Allah dalam pembentukan tatanan dunia yang teratur, damai dan sejahtera menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan dunia ini. Bahkan, itulah yang seharusnya menjadi titik berangkat pembentukan keluarga Kristen. Setiap keluarga Kristen dibangun dari pribadi yang bertanggungjawab kepada Allah sebagai alat pembentukan tatanan dunia (keluarga) yang teratur, damai dan sejahtera. Kesadaran yang demikian akan membentuk anggota keluarga yang juga bertanggungjawab terhadap anggota keluarga lainnya sebagai bagian dari dunia ciptaan Allah. Anggota keluarga yang memberi apresiasi terhadap pemahaman yang demikian niscaya akan memandang setiap anggota keluarga sebagai pribadi yang harus dihormati dan dibahagiakan. Dan itu dinyatakan atas kesadaran dan tanggungjawabnya sebagai ciptaan Allah yang istimewa.
Tanggungjawab tersebut dimulai melalui tanggungjawab pribadi yang dijalankan oleh setiap pribadi, kemudian oleh pasangan suami istri, serta bagaimana keluarga mampu membangun keluarga dalam iman kepada Tuhan lewat didikan yang diberikan orang tua kepada anak-anaknya, sehingga pada akhirnya keluarga akan menjalankan tanggungjawabnya di masyarakat dengan bekal dan didikan yang didapatkan melalui persekutuan dalam keluarga.
Mengapa Gereja Mencanangkan Bulan Keluarga?
Mari kita melihat sejenak sejarah perkembangan kekristenan. Tentu kita ingat bahwa bahwa gereja perdana bermula dari sebuah perkumpulan rumah tangga. Pada waktu itu belum ada gedung gereja. Orang berkumpul di rumah-rumah, maka disebut pula jemaat rumah (lihat Roma 16:5). Rumah bukan hanya tempat untuk berkumpul, tapi dalam rumah itu ada keluarga yang membentuk persekutuan berdoa dan belajar. Siapa yang hadir? Selain tuan rumah, hadir pula orang-orang yang bekerja di rumah itu, para tetangga dan sanak keluarga lainnya. Intinya adalah keluarga itu sendiri yaitu orang tua dan anak-anak mereka. Siapa yang memimpin dan mengajar persekutuan itu? Ayah dalam keluarga itulah yang memimpin. Hal ini meneruskan kebiasaan keluarga Yahudi dimana seorang ayah memberikan pendidikan iman kepada anak-anaknya.
Pada waktu itu belum ada kelas katekisasi seperti yang kita kenal sekarang. Keluargalah yang menjadi kelas katekisasi. Anak-anak belajar katekisasi di rumah mereka. Gurunya adalah ayah dan ibu mereka sendiri. Kehidupan keluarga sehari-hari dijadikan kelas katekisasi. Dengan demikian ayah dan ibu memiliki peranan penting dalam pendidikan iman. Ayah dan ibu menjadi “guru dan pendeta” bagi anak-anaknya. Keluarga menjadi wadah utama pendidikan agama. Persekutuan keluarga tersebut juga menjadi wadah bagi orang-orang yang belum Kristen untuk mengenal pokok-pokok dasar ajaran Kristen. Dengan demikian keluarga menjadi sebuah gereja kecil.
Sejarah menunjukkan kepada kita bahwa keluarga memiliki peran penting dalam kehidupan gereja. Kekristenan berkembang mulai dari gereja dalam keluarga. Dalam rangka mengingatkan kembali betapa pentingnya kehidupan keluarga dalam perkembangan gereja, maka diadakanlah masa penghayatan khusus yang disebut bulan keluarga.
Bagaimanakah Identitas Keluarga sebagai “Gereja Kecil”?
Sama seperti hakikat gereja adalah persekutuan orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus yang dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia, demikian pulalah hakikat keluarga sebagai sebuah gereja kecil. Dalam penghayatan sebagai gereja kecil, keluarga Kristen seharusnya memiliki identitas sebagai berikuit:
a. Melakukan Kehendak Allah
Keluarga sebagai gereja kecil memiliki identitas melakukan kehendak Allah, yaitu dengan mendengarkan Firman Allah dan melakukannya. Identitas keluarga yang melakukan kehendak Allah penting untuk dihayati, teristimewa dalam menyikapi perubahan-perubahan jaman. Firman Allah menjadi dasar dalam menyikapi pelbagai tuntutan perubahan. Dalam rangka melakukan kehendak ALLAH, keluarga perlu membangun kedekatan relasi dengan TUHAN dan sesama.
Keluarga yang melakukan kehendak Allah juga bisa dilihat perwujudannya antara lain dalam komunikasi satu dengan yang lain serta solidaritas. Jika dalam keluarga tidak terjadi komunikasi yang baik, biasanya akan mudah muncul kesalahpahaman, saling mencurigai dan tidak mempercayai hingga terjadilah konflik yang berkepanjangan. Dengan demikian keluarga sebagai gereja kecil yang melakukan kehendak Allah perlu menerjemahkan kehendak Allah dalam komunikasi yang penuh kasih dan membangun, sehingga tercipta suasana hidup bersama yang akrab dan rukun. Dengan hidup dalam kehendak Allah, maka tiap anggota dapat saling memahami dan menghargai. Satu dengan yang lain akan dapat merendahkan hati, menempatkan kepentingan orang lain lebih utama daripada kepentingannya sendiri, sehingga semakin hari semakin menyerupai kehidupan Kristus (Filipi 2:1-8).
Dalam rangka melakukan kehendak Allah, maka penting pula keluarga membangun solidaritas satu dengan yang lain. Solidaritas itu tampak dalam segala peristiwa yang menggembirakan atau menyedihkan. Solidaritas terungkap antara lain dalam sikap empati dan murah hati. Hal ini bukan saja merupakan sikap kepada sesama anggota keluarga tapi juga berkembang dalam solidaritas kepada semua orang dalam rangka membangun persaudaraan sejati. Persaudaraan sejati adalah wujud pelaksanaan perintah mengasihi Tuhan dan sesama (Matius 22:34-40).
Keluarga Kristen yang otentik adalah keluarga yang membuka diri dengan penuh cinta kasih dan komitmen baik kepada masyarakat maupun gereja. Dengan demikian, kehangatan kasih dan persaudaraan bukan hanya untuk anggota keluarga tapi juga bagi masyarakat sekitarnya. Ini berarti keluarga tidak membangun persekutuan yang eksklusif tapi sebuah persekutuan yang inklusif. Dalam hal ini keluarga terbuka untuk siapa saja yang ingin melakukan kehendak Allah. Keterbukaan mau menerima dan menghargai siapa saja terwujud pula dalam penerimaan, penghargaan bahkan dialog dan kerjasama dengan keluarga-keluarga lain yang ada di masyarakat yang memiliki itikad baik untuk melakukan kehendak Allah dalam membangun dunia atau masyarakat menuju masa depan yang lebih baik, penuh damai dan sejahtera.
b. Berkumpul dan Menyebar
Dalam melakukan kehendak Allah, keluarga berada di tengah masyarakat yang sedang mengalami gejolak perubahan jaman yang pesat. Perubahan-perubahan jaman ini dapat digambarkan seperti persekutuan para murid yang berkumpul sebagai satu keluarga bersama Yesus. Dalam persekutuan itu para murid menikmati kedamaian dan kenyamanan hidup dekat dengan Sang Guru namun sewaktu-waktu juga menghadapi tantangan-tantangan dan kesulitan bahkan ada saatnya mereka harus meninggalkan kenyamanan persekutuan untuk menyebar dalam karya melakukan perintah Sang Guru (Matius 10:5-15). Mereka diutus untuk masuk dalam kehidupan masyarakat, mem¬beritakan kerajaan Sorga yang membawa kesembuhan, kebangkitan, pemulihan dan kedamaian. Mereka diutus untuk berkarya dalam masyarakat yang sedang menghadapi pelbagai persoalan. Mereka mengalami banyak tantangan dan kesulitan bahkan penolakan di perjalanan, namun tak menghentikan karya membawa kabar baik bagi dunia dan melayani orang lain.
Dalam gambaran kehidupan para murid ini ada dinamika kehidupan yang berkumpul dan menyebar. Hal ini memberikan inspirasi pada dinamika kehidupan keluarga yang berkumpul dan menyebar di dunia. Dalam panggilannya untuk melakukan kehendak Allah, keluarga dipanggil untuk bersekutu dengan Allah namun juga siap menyebar menjadi pelayan masyarakat, menunjukkan kasihnya pada sesama, menjadi garam dan terang dunia (Matius 22:37-39).
c. Solider Pada Yang Lemah
Keluarga tidak bisa dipisahkan dari tanggung jawab untuk hidup solider terhadap mereka yang lemah. Solidaritas bukan hanya bagi anggota keluarga yang lemah tapi juga semua kaum lemah di tengah masyarakat. Inilah keluarga yang menyatu dengan sesama. Kalau kita melihat kehidupan Yesus Kristus, maka kita melihat bahwa Kristus senantiasa memberikan perhatian dan pelayanannya pada mereka yang lemah.
Penghayatan identitas keluarga sebagai gereja kecil mestinya menyatu dalam kehidupan keluarga Kristen. Dalam bulan keluarga, kita diingatkan akan hal itu. Jadi penghayatan mendasar dalam bulan keluarga sebenarnya bukanlah sekedar senang membuat atau mengikuti rangkaian acara lomba, seminar dan bazar melainkan bagaimana gereja memampukan keluarga-keluarga Kristen hidup sebagai gereja kecil atau sebaliknya bagaimana keluarga menghayati hakikatnya sebagai gereja kecil. Acara-acara yang diadakan dalam bulan keluarga mestinya memberikan semangat baru bagi kita untuk membangun keluarga menjadi persekutuan gereja yang hidup.
Jika keluarga kita terbangun dengan baik, maka gereja pun akan maju dengan pesat serta menjadi berkat bagi masyarakat. Itulah hubungan yang erat antara keluarga dan gereja. Keluarga adalah gereja kecil dan gereja adalah keluarga besar.
Ketika bulan keluarga telah berlalu, masihkah Anda bersemangat membangun keluarga yang menyatu dengan TUHAN dan sesama?

Rabu, 05 Januari 2011

"Khotbah Minggu Advend"

“TUHAN AKAN DATANG
PERSIAPKANLAH JALAN BAGINYA”
Lukas 21:7-13
Bacaan:Jes 45:22-24


Tahun gereja merupakan suatu barisan yang teratur dari hari raya dan hari minggu yang tiap-tiap tahun berulang kembali.
Tahun gereja itu ditentukan oleh tiga hari raya yang terpenting di kalangan orang Kristen yaitu:
1. Hari Kelahiran Tuhan Yesus Kristus
2. Hari Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus
3. Hari Pentakosta atau turunnya Roh Kudus.

Tahun gereja tidak sama dengan tahun Negara yang memulai dari 1 Januari, tetapi tahun gereja dimulai dengan Minggu “Advent” yang pertama. Advent artinya “persiapan akan kedatangan”, empat minggu berturut-turut dipergunakan untuk menyiapkan Hari Kelahiran Tuhan Yesus Kristus. Jadi Advent adalah masa persiapan menyambut datangnya Kristus, yang mempunyai dua makna: Pertama, Sebagai peringatan kelahiran Tuhan Yesus dan kedua, sebagai penantian kedatangan-Nya kembali.
Kita diajak menghayati kedua makna itu sebagai pribadi dan sebagai jemaat melalui ibadah minggu-minggu Advent. Tiap minggu Advent dinyalakan satu lilin sampai minggu Advent keempat. Keempat lilin berturut-turut dinyalakan sebagai tanda semakin kuatnya iman, pengharapan dan kasih kita dalam berjuang menantikan kedatangan-Nya kembali. Dalam minggu Advent sebagai minggu permulaan Tahun Gereja, wajarlah setiap warga gereja mengetahui dan menghayati prinsip dasar dari gereja yaitu:

1. Bahwa prinsip dasar gereja bukanlah ciptaan atau buatan tangan manusia, melainkan Kasih Allah yang tak terhingga dan Anugerah Allah yang maha besar, yang dinyatakan pada manusia yang penuh dosa, penderitaan dan maut, agar setiap orang yang percaya beroleh keselamatan.
2. Setiap warga gereja harus menunjukkan rasa syukur dengan komitmen untuk tetap beriman kepada-Nya, karena kita adalah anak maka kita adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah.
3. Tuhan Allah, adalah Penyayang Ia tidak akan meninggalkan kita dan tidak akan melupakan perjanjian yang telah diucapkan-Nya, karena itu kita harus tetap berpengharapan dan beriman yang hidup akan kedatangan-Nya.

Dunia kita saat ini sedang DALAM BAHAYA, demikian kata Raplh. J. Bunche, kita sedang bergerak maju menuju suatu situasi dimana lebih banyak manusia hidup dalam planet ini, sehingga tidak dapat ditampung lagi. Dengan pertambahan penduduk dunia dua persen setahun, maka dunia ini akan semakin padat dan akan cakar-cakaran satu dengan yang lain. Benarkah dunia ini akan kiamat..? demikian pertanyaan yang timbul dalam pikiran banyak orang. Sebahagian orang percaya dan sebahagian lagi tidak percaya, bahkan lebih jauh ada yang menganggap bahwa kiamat itu hanyalah ceritera hayalan belaka. Namun bagaimanapun juga sebagai orang yang beriman kita harus percaya akan apa yang dikatakan firman Tuhan dalam II Petrus 3: 7 ; “ Tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik”.
Sesungguhnya dunia ini sedang berada dalam krisis. Frank L. Bland, melihat gejala-gejala yang terjadi dalam dunia ini dan menamakannya sebagai “the lawless age” atau satu abad yang tidak beraturan. Apakah abad kita ini akan disusul oleh masa yang lebih baik dan lebih normal…? Tidak ada seorangpun yang dapat memberikan jawaban yang pasti. Orang mengatakan bahwa kita hidup dalam satu generasi dan abad yang sangat berbahaya dalam sejarah. Segala keadaan dalam bumi ini tampaknya tidak dapat dikontrol. Didalam tangan manusia terdapat senjata-senjata untuk saling membunuh dan membinasakan tiap jejak kehidupan dalam dunia ini. Apa kata Alkitab tentang krisis dunia ini..? “Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang” (Luk 21:25-26). Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang, kejahatan semakin meraja lela, kedurhakaan, dan kasih akan semakin dingin. (Mat 24: 11-12),sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan, tetapi orang yang percaya akan tetap berpegang pada kebenaran. (2. Tim 3: 13-14). Yesus telah mengetahui segala peristiwa yang akan menimpa dunia ini, sehingga Ia berkata: “Tetapi segala perkara ini mulai berlaku, tegaklah kamu serta menengadah, karena kelepasan bagimu sudah dekat”. Karena itu daripada mengarahkan pandangan kita kepada segala daya tarik dunia yang penuh dosa ini, kita diminta agar memandang keatas, mencari Tuhan dan menantikan janji penghiburan-Nya, itulah “Adven” penantian akan janji, kerinduan akan kedatangan Kristus untuk membawa keselamatan. Keselamatan adalah hal yang meliputi segala kebutuhan kita dan meluas dari kekal sampai kekal. Di dalamnya termasuk pengampunan atas dosa-dosa daripada masa yang lalu, pembebasan dari pada kuasa dosa pada masa yang akan datang (Yudas 24,25). Keselamatan merupakan harapan pada masa mendatang dan kesenangan pada masa sekarang ini (Titus 2:11-13). Dan semua ini hanya dapat kita peroleh dengan “Pertobatan” dan “Beriman kepada-Nya”, pertobatan merupakan hal yang mendahului iman, Oleh karena kita melihat belas kasihan Allah sehingga Ia memberikan anak-Nya mati karena kita, maka kita didorong untuk bertobat dan mengakui dosa-dosa kita kepada-Nya. Iman bukan percaya hal-hal mengenai Kristus tetapi percaya akan Kristus itu sendiri. Iman bukanlah melangkah ke dalam kegelapan, tetapi iman didukung oleh Firman Allah yang kekal. Iman tidak sama dengan pengharapan, walaupun memang hal itu berhubungan. Pengharapan merupakan keinginan kita, iman merupakan alas (dasar) kita. Tanpa pengharapan kehidupan Kristen akan sangat membosankan, tanpa iman hal itu akan hancur. Pengharapan membawa kita ke masa depan dan kesabaran merupakan budaknya: “Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun” (Roma 8:25). Iman membawa masa depan kepada kita dan melalui ujian-ujian menimbulkan kesabaran: “Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan” (Jak 1:3).
Merayakan Advent ketiga dengan tekad agar lilin Advent pertama yang dinyalakan menjadi lambang kerinduan dan harapan kita yang semakin besar akan kedatangan Kristus, karena itu Persiapkanlah Jalan Bagi-Nya. Amen. Ds. R.H.L. Tobing.
1. Mengampuni Itu Indah
Seorang guru membawa sekeranjang kentang ke dalam kelas. Setiap anak diminta untuk mengambil kentang. Masing-masing satu kentang untuk setiap orang yang pernah membuat mereka sakit hati. “Bawalah kentang ini kemanapun kalian pergi; ke sekolah, ke gereja, mandi,tidur. Pokoknya jangan dilepas. Sampai minggu depan,” perintah sang guru.
Para murid melakukannya. Seminggu kemudia mereka kembali ke kelas. Sang guru bertanya, “bagaimana perasaan kalian dengan kentang itu?”. Para murid komplain. Ada yang bilang tidak enak. Bikin repot. Kentangnya jadi busuk dan berbau tidak sedap. Pokoknya semua murid sangat terganggu dengan kehadiran kentang itu. Gurunya berkata, “begitulah juga kalau kita terus memendam rasa sakit hati. Kita sendiri yang tidak enak. Seperti membawa kentang-kentang itu”.
Pernah dibuat kesal sama seseorang? Pernah merasakan sakit hati? Dikecewakan? Kebencian? Amarah yang sampai ke ubun-ubun? Pada saat seperti itu, kata maaf seolah lenyap dari kamus hidup kita. Tiada maaf bagimu. Seperti diungkap oleh grup musik Chicago: “It’s hard to say I’m sorry”. Tidak jarang yang terlintas malah keinginan untuk balas dendam. Bahkan kerap menggunakan istilah yang rohani: “biar Tuhan yang membalas semua perbuatan jahatnya”. Tuhan malah diajak “berkolusi” dalam dendam.
Kekecewaan, kesedihan, kebencian, amarah, dan sakit hati adalah rasa yang paling mengobrak-abrik jiwa. Ada sebuah ungkapan bernada canda dalam sebuah lagu: lebih baik sakit gigi, daripada sakit hati. Sakit fisik seolah lebih mudah dihadapi daripada sakit batin. Konon orang lebih gampang kurus kalau makan hati.
Dalam doa Bapa Kami, ada bagian “dan ampunilah kami atas segala kesalahan kami, seperti kamu juga telah mengampuni yang bersalah kepada kami”. Mungkin saking terbiasanya orang mengucapkan doa Bapa Kami, termasuk bagian ini. Sehingga kurang terhayati. Terucap tanpa tekad untuk melaksanakan.
Tapi ada juga yang rada “sadar diri”. Karena masih punya dendam dengan sesama, masih tidak bisa memaafkan saudara, kolega, atau sahabatnya, maka ketika diajak mengucapkan doa Bapa Kami, dan sampai pada bagian tersebut, ia memilih tidak menyebutkannya. Biar tidak merasa berdosa kepada Tuhan.
Padahal megampuni adalah panggilan kita orang percaya. Mengapa? Karena Tuhan sudah lebih dulu mengampuni. Dengan kata lain, kalau saat ini kita tidak dapat mengampuni orang lain, maka pastikan dulu diri kita adalah orang yang sama sekali tidak pernah berbuat dosa.

"Menjadi Guru yang rendah hati"


Khotbah Persekutuan Guru-guru BPK Penabur Jakarta
Thema: “Menjadi Guru yang Rendah Hati” (modesty)
Matius 23:12 (Amsal 15:33) Amsal 29:23
Dalam Perjanjian Lama (PL), kerendahan hati (modesty) diperlihatkan dengan sikap menangis, berpuasa dan mengoyakkan jubah (1 Raj. 21:29; 2 Raj. 22:11-20; Amsal 3:34).
Kesombongan adalah lawan dari kerendahan Hati.
Karena itu tidak mengherankan jikalau dosa kesombongan merupakan jenis dosa maut nomor wahid alias nomor satu, karena kesombongan mampu menyelinap dalam berbagai hal yang tampaknya mulia dan suci umpamanya: Pendeta, Penatua, Guru dllsbg. Untuk mencari dan menemukan orang-orang yang sombong, kita tidak perlu pergi ke pusat perbelanjaan atau mall. Justru kita akan mudah menemukan orang-orang yang berlaku sombong dan tidak peduli dengan sesama, saat kita berada di tempat ibadat dan pelayanan. Karena di tempat-tempat ibadah itulah umat akan berupaya untuk menyembunyikan kesombongannya dengan berlaku rendah-hati dan penuh simpati.

Kesombongan Dan Citra Diri
Kesombongan merupakan jenis dosa yang terbesar (the great sin) dan melahirkan dosa-dosa yang lain (Ilustrasi seorg Pnt/Pdt dapat PIN atas prestasinya di Gereja setiap minggu dipakainya ke gereja =Dia menyombongkan Kerendahan Hatinya). Dari sikap sombong, kita mengembangkan menjadi dosa iri-hati karena kita menjumpai bahwa sesama ternyata memiliki suatu kelebihan yang tidak kita miliki. Kesombongan juga melahirkan sikap puas diri dan meremehkan orang lain sehingga dia enggan mengembangkan karunia dan talenta. Selain itu dosa kesombongan akan membentuk citra diri yang salah, sehingga dia menganggap dirinya sebagai orang yang terpenting. Sikap sombong secara prinsipial membutakan mata hati dan akal sehatnya, seakan-akan dia telah berhasil melampaui keterbatasan manusiawinya. Pernah dikisahkan tentang Muhammad Ali, seorang petinju legendaris, yang sedang bepergian dengan sebuah pesawat. Selama perjalanan udara itu, tiba-tiba pesawat yang ditumpanginya mengalami gangguan cuaca hingga berguncang-guncang. Dengan cepat pilot menginstruksikan seluruh penumpang untuk memasang sabuk pengaman. Dan semua penumpang mematuhi perintah pilot tersebut, kecuali Muhammad Ali. Ketika pramugari mendatanginya, Ali berkata dengan suara keras, “Superman tidak membutuhkan sabuk pengaman.” Tanpa berpikir lama pramugari itu segera berkata, “Benar, tapi Superman juga tidak membutuhkan pesawat terbang.” Kalau Muhammad Ali memang seorang superman, mengapa dia harus menumpang pesawat? Kemenangannya bertinju telah membutakan mata Muhammad Ali seakan-akan dia telah menjadi satu-satunya penghuni bumi yang paling jagoan dan bebas dari hukum gravitasi bumi. Dia mungkin jago di atas ring tinju, tetapi di dalam pesawat terbang yang sedang berguncang dan mungkin dapat jatuh, dia hanyalah seorang insan yang tidak berdaya apa-apa.

Selain itu karena seseorang menganggap dirinya terpenting, maka orang yang sombong akan cenderung untuk selalu merendahkan orang lain. Kesombongan menghasilkan sikap superioritas yang ingin selalu menundukkan sesama sehingga segala hal yang dilakukan oleh sesama tidak pernah dianggap berharga dan berkualitas. Sikap sombong yang demikian selalu memposisikan keberadaan dan kemampuan orang lain dalam kategori yang lebih rendah dan hina. Karena itu tidaklah mengherankan jikalau kesombongan selalu merusak semua hal yang bernilai dalam kehidupan ini. Kesombongan merupakan kanker spiritual yang menghancurkan ikatan dan nilai-nilai persahabatan dan persaudaraan dengan sesama sekaligus menghancurkan relasi kasih dengan Allah.
Suatu sikap atau tingkah-laku senantiasa dilandasi oleh sistem nilai, prinsip spiritulitas dan teologi tertentu. Demikian pula sikap sombong yang meremehkan sesama bukanlah sekedar suatu perilaku yang spontan dan alamiah. Sikap sombong muncul karena pemahaman teologis tertentu yang diejahwantahkan menjadi pola hidup seseorang. Karena sikap sombong mendorong seseorang untuk menganggap dirinya lebih tinggi dan lebih baik dari pada sesamanya, itu sebabnya teologi orang-orang sombong sering disebut dengan teologi vertikalis. Dia menempatkan orang lain dalam hubungan “komando” dari atas ke bawah sehingga meniadakan hubungan yang horisontal dan setara dengan sesama. Dengan teologi vertikalis, seseorang menempatkan dirinya di puncak yang paling ujung dan menganggap dirinya hampir sejajar dengan Allah. Kesombongan menjadi dosa maut nomor satu karena dengan sikap angkuhnya seseorang tidak hanya mengangkat dirinya di atas sesama, tetapi juga suatu upaya untuk menempatkan dirinya sejajar dengan Allah. Ungkapan yang menarik hati bagi manusia pertama dengan godaan ular adalah: "Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat" (Kej. 3:4-5). Karena itu dosa kesombongan selalu memisahkan manusia dari kasih-karunia Allah. Mungkin seseorang yang sombong tetap mampu beribadat dan berdoa dengan khusuk, tetapi ibadah dan doanya bukanlah bertujuan untuk mempermuliakan Allah dan menghadirkan kasihNya. Jadi model teologi vertikalis pada prinsipnya merupakan suatu keyakinan dogmatis yang berupaya mengubah esensi iman yang mempermuliakan Allah dengan suatu tindakan yang melecehkan kemuliaan Allah.
Sebenarnya para penganut teologi vertikalis juga mengenal dan mempraktekkan “kasih persaudaraan”. Tetapi kasih persaudaraan yang mereka maksudkan hanyalah sebatas persaudaraan di lingkungan internal mereka saja. Kasih yang mereka maksudkan bukanlah kasih yang universal, yaitu kasih yang tertuju kepada setiap orang tanpa memandang keyakinan, agama dan suku atau bangsa. dalam surat Ibrani memberi nasihat: “Peliharalah kasih persaudaraan!” (Ibr. 13:1). Tetapi kasih persaudaraan yang dimaksudkan oleh penulis surat Ibrani ternyata tidak eksklusif dan terbatas hanya kepada suatu lingkungan internal jemaat Kristen saja. Sebab di Ibr. 13:2 firman Tuhan berkata: “Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat”. Pemberian tumpangan yang dimaksudkan dalam Ibr. 13:2 ternyata bukan hanya ditujukan kepada orang-orang yang kita telah kenal, tetapi justru diingatkan agar kita mau peduli dengan orang-orang asing yang membutuhkan pertolongan. Di Kej. 18:1-15 disaksikan bagaimana sikap Abraham yang menunjukkan kemurahan hati dan keramahannya saat dia menyambut 3 orang tamu asing di kemahnya. Abraham segera menyediakan makanan dan minuman kepada para tamunya serta membasuh kaki mereka. Akhirnya diketahui oleh Abraham bahwa ketiga orang tamunya itu sesungguhnya adalah para malaikat Tuhan. Tradisi dari kisah Abraham ini menyampaikan suatu pesan teologis bahwa Allah kadang-kadang menyatakan diriNya sebagai tamu-tamu asing yang hadir di tengah-tengah kehidupan kita.
Dalam Perjanjian Baru (PB), kerendahan hati adalah merasa tidak berdaya seperti “anak-anak” (Mat. 18:4); tidak mempertahankan kedudukan (Flp. 2:8-9); tidak merendahkan martabat orang lain (Luk. 14:11; 18:4). Dengan demikian kerendahan hati adalah bersikap ramah, terbuka, tidak sombong/tinggi hati, mampu menghargai martabat dan kelebihan orang lain, dan mudah menyesuaikan diri. Kerendahan hati seperti ini berkenan kepada Allah (Ef. 4:2). Itulah sebabnya mengapa dalam Yakobus 4:6b dikatakan, bahwa “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”
Dalam Filipi 2:7 Paulus menggunakan istilah “kenosis” (pengosongan diri atau pengingkaran diri dari segala arogansi insani). Menurut Paulus, Yesus telah mengosongkan dirinya. Ia menerima rupa seorang hamba. Merendahkan diri dan mati. Ketakjuban Paulus akan pengorbanan Kristus di kayu salib telah melenyapkan segala bentuk kesombongan dirinya.

Hidup dengan kerendahan hati justru akan membuat seseorang lebih menghargai dirinya dan bebas dari perangkap kesombongan. Dengan bersikap rendah hati orang dapat menerima dan menghargai dirinya serta menghargai orang lain, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Jika kita menginginkan kehidupan bersama kita lebih baik, mulailah melakukan perubahan dari diri kita lebih dulu. Kita dapat melakukan sesuatu yang baik bagi orang lain, ketika kita sudah mengalami pembaharuan hati, pikiran dan tindakan kita. Itulah transformasi kehidupan yang seutuhnya. Karena kita harus mengubah dunia ini menjadi lebih baik, dengan kerendahan hati. Mulailah dari diri kita. Memang bukan hal yang mudah, tetapi sangat mungkin untuk dilakukan.....jadi, bagaimana dengan kita...???!!!
Kerendahan Hati
1 Petrus 5:5
Orang percaya hendaknya menunjukkan sikap rendah hati dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu diperlukan usaha untuk mencari sikap rendah hati ini [Zef 2:3]. Namun ada juga orang sombong yang berpura-pura menjadi rendah hati [Kol 2:18]. Paulus menuliskan hal ini dalam sikap rendah hati yang sejati, yaitu untuk meninggikan orang lain [2 Kor 11:7].
Surat yang ditulis Paulus kepada Filemon, salah seorang anak rohaninya mencatat nasihat-nasihat Paulus yang meminta dengan kerendahan hati bukan dengan menggunakan perintah dan kedudukannya [Flm 1:8-9]. Orang yang lebih tua hendaknya hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan [Tit 2:2].
Tinggi hati mendahului kehancuran, namun kerendahan hati mendahului kehormatan. Allah menghormati setiap orang yang rendah hati dan takut akan Dia [Ams 18:12; 22:4]. Bukanlah hal yang mudah untuk memiliki sikap rendah hati dalam kehidupan kita. Oleh sebab itu carilah sikap rendah hati untuk diterapkan di dalam kehidupan kita.
Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian. Amsal 29:23
TAK ADA PAKAIAN YANG LEBIH PANTAS BAGI ANAK ALLAH
SELAIN JUBAH KERENDAHAN HATI

Mateus 14: 22 - 33

Rancangan Khotbah Keb. Rumah
Mateus 14 : 22 – 33

Pendahuluan/Penjelasan:

Sebelum perikop ini, sudah lebih dahulu diuraikan tentang kuasa-kuasa yang diperbuat Yesus
( menyembuhkan seorang yang sakit kusta 8:1-4; hamba seorang perwira 5-13; ibu mertua Petrus 14-17 angin ribut diredakan 23-27 dua orang yg kerasukan 28-34 orang yg lumpuh disembuhkan 9:1-8 anak kepala rumah ibadat-perempuan yang sakit pendarahan memberi kuasa kepada murid-murid-Nya atas roh-roh jahat 10:5-15 dan lain2), yang menjelaskan bahwa Dia berkuasa atas sakit penyakit, atas kematian atas roh-roh jahat atau setan, dan dibalik penyembuhan ilahi itu terkandung inti dari pengajaran-Nya yaitu: memperhatikan kehidupan kita baik pribadi-pribadi maupun kelompok dan massa. Dengan semua peristiwa itu orang semakin mengenal siapa Dia. Ia adalah anak manusia yang dijanjikan Allah lewat para nabi, Ia datang untuk memberikan pengampunan dosa.
Dalam perikop khotbah ini, lebih dahulu dijelaskan bahwa Ia segera memerintahkan para murid-muridNya naik ke perahu untuk menyeberangi danau, dan sementara itu Ia menyuruh orang banyak itu pulang; mengapa Tuhan Yesus memaksa mereka demikian....? Menurut Yoh 6:15 bahwa orang banyak itu menghendaki supaya Ia menjadi raja, raja orang Jahudi, begitu juga maksud para murid-Nya menjadikan Dia seorang raja. Namun, bagi Yesus rencana itu adalah rencana yang berbahaya. Suatau cobaan dari iblis untuk mencobai Dia dari segi kuasa dan kemuliaan duniawi. Oleh sebab itu, Ia berpisah, mereka disuruh sendirian naik perahu untuk menyeberangi danau itu, dan Ia masih tinggal sendirian di daratan sendirian. Setelah Ia berdoa, maka Ia melihat perahu para murid-Nya telah berada di tengah danau. Perahu itu sedang digoncang oleh gelombang laut karena angin sakal. Mereka kepayahan mendayung perahu supaya jangan tenggelam. Dan kira-kira jam tiga malam, ketika itulah Ia datang menolong dengan kualitas yang prima, Ia berjalandiatas air, mereka terkejut dan menyangka itu hantu sehingga menimbulkan ketakutan, namun setelah Yesus berseru “tenanglah” mereka baru percaya. Petrus segera menginginkan peristiwa ajaib itu dialaminya, tetapi karena rasa ketakutan dan keyakinan yang masih kurang ia tenggelam.

Penerapan/Kesimpulan:

Dari peristiwa Yesus berjalan di atas air dan meredakan angin sakal, nyatalah beberapa pelajaran tentang pribadi Yesus:
1. Ia berkuasa atas angin sakal seperti halnya terhadap kuasa-kuasa jahat atau setan.
2. Iman murid-murid (teristimewa Petrus) yang kurang itu, dituntut untuk lebih percaya terhadap kuasa yang diperbuat-Nya.
3. Yesus tidak saja melayani orang banyak, tetapi juga memberi perhatian terhadap individu (Petrus) bahkan kepada kelompok murid-Nya di dalam perahu di tengah danau, bagiNya nilai pribadi-pribadi dan nilai orang banyak adalah sama. Ia bukan hanya mengajar dengan baik dan penuh hikmat seperti khotbah di atas bukit, tetapi juga mempraktekkan apa yang diucapkan-Nya.
Ada beberapa yang dapat kita terapkan dalam kehidupan Gereja dari peristiwa ini:
1. Kita harus senantiasa mengucap syukur kepada Dia, percaya dan menyembah Dia, karena Yesus berkuasa atas segala kuasa, atas angin sakal yang melanda kehidupan ini dan juga penyakit yang melanda hidup kita.
2. Janganlah Gereja dan kita bersandar kepada kemampuan dan kekuatan kita, tetapi hendaklah Gereja dan kita semata-mata bersandar kepada kuasa Yesus Kristus, sebagai Tuhan dan Juruselamat kita.
Amin RHL

Kamis, 21 Oktober 2010

Khotbah

Thema : TERANG YANG BERCAHAYA DALAM HATI KITA
II Rj 2: 1 – 12; (Bacaan I) II Kor 4: 3 -6( Bacaan II); Mar 9: 2 -9
Berita Anugrah: Maz 50: 1 – 6


Sdr2 yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus..!
Rick Warren menulis dlm bukunya : The Purpose Driven Life: Pdt yg mempertemukan MicCain dan Barak Obama
1. Untuk apa kita ada atau hidup di dunia ini: Bukan secara kebetulan ttp ada rencana Allah yaitu direncanakan bagi Kesenangan Allah. Dia mengambil nats Amsal 11:28 dan Yer 17:7-8 (Tolong dibaca). Tujuan hidup jauh lebih besar daripada prestasi. Jika kita ingin tau mengapa Allah menempatkan kita di Planet ini, kita hrs memulainya dengan Allah; kita dilahirkan oleh tujuanNya dan untuk tujuanNya.

2. Kehidupan ini adalah suatu penugasan sementara yaitu untuk mengembangkan Persahabatan dgn Allah dan sesama dan semua penyembahan kita hrs yg menyenangkan Allah. Jak 4: 8
3. Kita diciptakan utk menjadi serupa dgn Kristus. Rom 8:29
-Dlm hal KasihNya (ill.Khotbah Pdt ttg Kasih)
-KesetiaanNya, sampai mati di kayu Salib. (Ill. Seorang Suami berjanji dihadapan Istrinya yg sdh sekarat bhw ia akan setia walau isterina meninggal; Isteriya berkata sayang sekali sepatuku itu begitu byk padahal abang ngak nikah lagi; si suami menjawab ngak muat itu sama dia...)
Sdr/i Yg dikasihi Tuhan Yesus Kristus...!
Elia adalah seorang Nabi yg sangat setia dan taat melakukan kehendak Allah; sebelum dia terangkat ke Sorga, ia taat dan rela menjalani proses yg Allah perintahkan; pergi ke Betel, Jeriko dan terakhir ke Jordan; Kesetiaan lawan dari sungut-sungut (Ill; Masih ingat sdr2 ttg: Kambing dan Kuda..? Imamat 4 :23 dan Henry Matew..?). Disatu sisi kita juga dapat melihat kesetiaan Elisa mengikuti Elia kemanapun Elia pergi; sehingga Elia memberi kesempatan kepadanya untuk meminta sesuatu ...! Dan Elisa meminta 2 bagian Roh dari Elia yaitu Kuasa utk memerintah dan menjadi penggantinya ; Elia mengarahkan Elisa kepada kehendak Allah; dan akhirnya dia memperoleh apa yg dimintanya kepada Elia; Allah memberi Kuasa kepadanya utk memerintah sebagai Nabi.
Sdr, Persoalan kepribadian Yesus yg telah menjadi Kristus, adalah persoalan yg sulit dipecahkan. Sebab pribadi Yesus tdk dapat dikenal dan dipahami oleh pikiran dan kata-kata tetapi mudah dimengerti dan dilukiskan oleh Iman. Bukan pikiran yg menjadi sumber utama informasi tentang Yesus; melainkan Firman Allah yang disampaikan. Karena itu R. Paulus mengatakan dalam Rom 1:16; “bahwa Injil adalah kekuatan Allah utk menyelamatkan setiap org yang percaya..sehingga dia tidak pernah merasa takut dan tawar hati untuk menyampaikan Terang Injil itu, walaupun dia mengalami banyak tantangan; sebab dia sadar bahwa kerasulannya bukan utk dirinya sendiri melainkan utk orang banyak dan untuk Kristus. Karena itu bila ada orang yg mengeraskan hatinya dan tetap tidak percaya, ini tidak dapat menghalangi pengajarannya; karena Allah akan menyatakan kehendakNya kepada semua orang, agar semua manusia dapat melihat dan merasakan Kemuliaan Allah dalam kehidupan mereka.

Bapak/ibu sdr/i Yang dikasi Tuhan Yesus
Hidup tidak dapat didefenisikan, ttp dapat dirasakan; walaupun sdh sekian pelita dan sdh 64 tahun kita merdeka , kita masih bergelut dgn upaya membentuk hidup, jangankan kita , negara yg sdh ultra majupun rupanya gelisah juga, menghadapi pertanyaan: “Bagaimana hidup ini hrs dibentuk”.
Belum tentu jika standart hidup seseorang sudah terpenuhi, akan memperoleh kebahagiaan. Karena kemakmuran, keberadaan, kekayaan tdk sama dengan kebahagiaan. Yesus menetapkan hidupNya, untuk melakukan kehendak Bapa; ini berarti bahwa satu-satunya tujuan hidup ini, agar bermakna adalah mengikuti kehendak Tuhan , bukan kehendak manusia atau selera manusia. Kalau selera kita sampai pintu sorgapun mau berkarya.

Inilah yg belum disadari oleh ke 3 murid Yesus secara khusus Petrus ketika mereka mengikuti Yesus ke atas gunung Tabor untuk berdoa. Dalam Injil Luk 9: 28 – 33 dikatakan bahwa: Sewaktu Yesus berdoa ke 3 murid itu tertidur, ini juga yg terjadi kemudian pada saat Yesus berdoa di taman Getsemane sebelum Ia disalibkan (Luk 22: 45-46).
Sdr/i yang dikasi Tuhan Yesus Kristus..!
Adakalanya kehidupan kita saat ini sama seperti murid2 Yesus ini; Iman yg tertidur, org yg tdk mensyukuri segala sesuatu yg diterimanya dlm hidup ini, dan hanya tau bersungut-sungut sama dgn iman yg tertidur. Orng yg tidak sabar dalam hidup ini, adalah org yg memliki Pengharapan yg tertidur, org yg hanya memandang bahwa berkat Tuhan adalah segala yg kita miliki di dunia ini, adalah org yg memiliki iman dan pengharapan yg tertidur.
Ada warga jemaat datang ke gereja, pada saat mendengar Firman Tuhan dia malah tertidur sampai mengorok, ada warga yg datang ke gereja tetapi hatinya diluar gereja ( bawa mobil rolroys..sampai lehernya sakit) bukankah ini sama dgn Petrus dan murid2 yg lain..?
Namun ketika mereka terbangun mereka melihat Kemuliaan Yesus yg duduk bersama Musa dan Elia yaitu mereka yg mewakili “Taurat” dan Nabi-nabi (P. Lama) yg menubuatkan mengenai Mesias atau Kristus, menurut tradisi Yahudi bahwa mereka mengharapkan bahwa baik Musa maupun Elia akan muncul kembali pada zaman akhir; Meraka terhenyak, matanya mulai terbuka untuk melihat apa yg terjadi ketika Yesus bersekutu dengan BapaNya di sorga.
Sdr/i yg kekasih didalam Yesus Kristus..! mata rohani kita akan terbuka jika kita benar2 menyadari apa makna Doa bagi kehidupan rohani kita..! jika kita benar-benar menyadari betapa pentingnya hidup dalam Doa, karena doa adalah nafas kehidupan Rohani kita. Illustrasi: Doa yg terjawab.
Namun keheranan dan kekaguman mereka itu hanya sejenak, Petrus mulai memakai seleranya, memakai pikirannya untuk menalar peristiwa itu; sebenarnya dia telah menyadari bahwa Yesus adalah sang Mesias;
tetapi bukan Mesias yg akan memerintah di dunia; dia berkata kepada Yesus betapa bahagianya berada di tempat ini.....! bahwa kebahagiaan yg diinginkan Petrus adalah kebahagiaan dunia....!
Petrus memang selalu memakai logika dalam bertindak: Ingat perkataannya ketika diperjamuan malam bersama Yesus (Luk 22:33) Masih ingat Illustrasi PETRUS Dan ANDREAS.
Karena itu sdr/i yg dikasihi Tuhan.! Jangan pakai logika atau pikiranmu untuk memandang perbuatan Tuhan dalam kehidupan ini; tetapi bagaimana agar TERANG YANG BERCAHAYA DALAM HATI KITA yg disinari oleh Terang Injil itu dapat merubah cara hidup kita atau pola hidup kita sebagai anak-anak Tuhan yaitu: Hidup menjadi Terang atau lilin kecil bagi banyak orang (Ingat Bunda Theresa di Calcuta); Hidup dalam Doa, mengucap syukur dalam segala hal dan bersukacita senantiasa dalam Tuhan. Rejois...in the Lord always. Amin. RHL. Tobing
Khotbah
Tema : “MENGERJAKAN PEKERJAAN YANG DIKEHENDAKI ALLAH”

MEMAKAN ROTI ATAU DIMAKAN ROTI
Matius 4:1-11

Kepada kita, sebagai manusia ciptaan Tuhan, Yesus mengatakan bahwa manusia hidup bukan hanya dari roti, tetapi juga dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah (Mat. 4:4). Kata-kata ini dikutip Yesus dari Ulangan 8:3 yang selengkapnya berbunyi: “Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kau kenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.”
Pastilah suatu pelajaran yang sangat berharga jika Tuhan butuh 40 tahun lamanya untuk mengajarkan satu filsafat dan prinsip hidup kepada umat-Nya, sebelum mereka masuk ke tanah perjanjian. Tidak satu sekolah atau universitas pun yang dapat menerapkan metode ini, yang memakai waktu sedemikian lama untuk satu pelajaran.
Akan tetapi, kita jangan salah mengerti. Yesus tidak mengajarkan bahwa manusia dapat hidup tanpa makan (roti). Yesus tahu bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa roti, tetapi Yesus menegaskan bahwa makanan manusia bukan hanya roti. Manusia yang diciptakan Tuhan terdirii dari tubuh dan roh juga membutuhkan makanan untuk pertumbuhan tubuh dan rohnya. Maka untuk menjadi manusia yang sehat jasmani dan rohani, kita harus memakan menu kita yang sesungguhnya. Makanan jasmani adalah roti, makanan rohani adalah Firman Tuhan. Kita harus mengkonsumsi keduanya setiap hari. Jika tidak, kita akan menjadi manusia yang lemah.
Kita mungkin mempunyai makanan yang melimpah dii rumah. Kita mungkin sangat kaya. Tetapi itu tidak akan membawa kita pada hidup yang sesungguhnya, yang penuh sukacita dan kebahagiaan. Ingatlah, uang tidak dapat membeli segala-galanya. Uang tidak dapat membeli sukacita ( Ill: Tukang sepatu dan org kaya+ si pincang di Sedan dan tukang semir sepatu)
Sering sekali manusia menguatirkan perkara-perkara duniawi dalam hidupnya. Kuatir tentang uang, karir, harga diri, kedudukan, pangkat, dan sebagainya. Tetapi sering sekali manusia melupakan kebutuhan hidup yang terutama, yaitu firman Allah, persekutuan dengan Allah dan pengampunan dosa.
Oleh karena itu, jika kita merasa hidup kita lemah, tedak sehat, tidak sejahtera dan tidak berguna, kita perlu mencek apakah kita sedang mengkonsumsi makanan yang salah. Allah berkata bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah,makanya ”Yesus berkata Akulah roti hidup”.
Begitu juga dengan hidup Gereja kita pada masa kini. Kadang-kadang bahkan sering, pemahaman orang Kristen terhadap gereja dicemari oleh konsep-konsep duniawi yang ada di lingkungan kita. Kita sering membuat organisasi politik, organisasi ekonomi dan organisasi sosial sebagai model organisasi gereja. Akibatnya, gereja sering dipandang sebagai satu institusi di antara banyak institusi sosial, atau sebagai satu organisasi di antara banyak organisasi.
Jika kita memandang gereja demikian, maka pemahaman kita tentang gereja sudah salah dan gereja kita sudah diadopsi oleh lingkungannnya.
Alkitab berkata, bahwa gereja adalah tubuh Kristus, persekutuan orang-orang kudus, bangsa yang kudus, garam dan terang dunia. Kita (gereja) diutus ke dalam dunia. Kita bukan dari dunia. Sama seperti Kristus datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan banyak orang, demikianlah gereja terpanggil untuk melayani bukan untuk dilayani.
Paulus memberikan gambaran yang sangat indah tentang hakikat gereja dengan sebuah metafora gereja sebagai Tubuh Kristus. Kristus adalah kepala gereja dan kita anggota-anggotanya. Kristus adalah pemilik dan penguasa gereja. Kita masing-masing adalah anggota tubuh yang mempunyai fungsi tertentu dalam tubuh itu sesuai dengan karunia roh yang kita terima dari roh yang sama. Tidak seorang pun di antara kita yang direndahkan dari tubuh itu. Alkitab berkata: “Daripada-Nyalah seluruh tubuh, - yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota – menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih” (Ef. 4:16). Karena itu, gereja adalah gereja jika semua anggota tubuh itu mengambil bagian aktif dalam semua kegiatan gereja. Gereja adalah gereja jika ia tersusun dengan rapi dan semua anggota tersusun dengan rapi. Masing-masing melaksanakan fungsi sesuai dengan panggilannya. Kita adalah bagian yang sangat penting dan istimewa dalam Tubuh Kristus itu.
• Sdr/i yg dikasihi Tuhan Yesus...! Dalam Nats kita minggu ini dijelaskan bahwa: Orang banyak menuntut tanda mujizat, supaya mereka dapat percaya seperti pada waktu memberikan roti manna di tengah gurun pasir,....mereka diberiNya makan roti dari sorga”. Mereka menilai bahwa tanda mujizat manna lebih besar daripada semua mujizat yang dilakukan Yesus. Tetapi Yesus menjawab, bukan Musa yang memberikan roti dari surga , melainkan Bapanya yang memberikan roti yang benar dari sorga. Karena roti yang turun dari sorga ialah roti yang memberi hidup kepada dunia. Seterusnya mereka meminta, supaya Yesus memberikan roti itu kepada mereka senantiasa. Dengan tegas dan jelas Yesus memberikan: “Akulah roti hidup, barang siapa datang kepadaKu, ia tiadak akan lapar lagi, dan barang siapa percaya kepadaKu ia tidak akan haus lagi” (ay. 30-35). Roti manna yang turun dari gurun pasir pada Zaman Musa, yang cukup untuk semua bangsa Israel, hanyalah sebuah simbol dari roti yang sebenarnya, yaitu Yesus Kristus yang cukup untuk semua orang percaya.

Aplikasi
1. Yesus dapat melihat bukan saja apa yang kita lakukan, tapi Dia dapat melihat ke dalam hati kita yang paling dalam. Yang masih kita pikirkan, rencanakan, bahkan segala motivasi dibalik perbuatan kita dapat diketahui olehNya. Motivasi orang banyak yang mencari Dia lebih untuk “makanan” bukan untuk “kasih”. Dalam Zaman kita ini pun barangkali banyak orang Kristen yang aktif di gereja bukan mencari kasih dan pengajaran Kristus, tapi mencari “makanan” yang bersifat dunia. Bahkan banyak orang yang mengaku sebagai “hamba Tuhan” tapi motivasi yang sebenarnya bukanlah melayani, tetapi mendapatkan untung materi dan popularitas.
2. Yesus memperingatkan, agar kita bekerja bukan untuk mendapatkan hal-hal yang dapat binasa seperti harta dan kehormatan. Bagi orang-orang yang memiliki banyak harta duniawi, juga tidak dapat memanfaatkan semuanya selama mereka hidup. Bahkan pasti, mereka akan tinggalkan kehidupan itu semua pada saat mereka mati. Tetapi carilah makanan rohani yang tahan sampai kehidupan yang kekala, yaitu melalui kepercayaan kepada Yesus Kristus.
3. Bagi orang-orang yang sudah percaya dirapkan tidak hanya pandai berbicara tentanga Firman Tuhan, tetapi berusaha untuk bisa mengerjakan Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Kalau kita melihat kehidupan beragama di negeri kita, jelas tampak betapa giatnya orang-orang menjalankan aktivitas agamanya. Tapi hanya sebatas menjalankan ritual dan tidak ada pengaruh ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-hari. Rumah-rumah ibadah penuh, tapi korupsi, kriminaltas, perusakan lingkungan merajalela dimana-mana. Jadi apa tujuan kita aktif dalam peribadatan, kalau sama sekali tidak menyentuh kehidupan sehari-hari..?
Setiap manusia, siapapun orangnya selama dia tetap berdiri diatas Dasar yang kuat dan Kokoh yaitu Yesus Kristus (I. Kor 3: 11), pasti Berbahagia dan akan dapat membagikan Kebahagiaan itu kepada orang lain. gereja yang kuat adalah gereja yang memiliki barisan hamba2 Tuhan yang cakap (excelen spirit and character nobel) dan trampil dalam pelayanan. Mantap dalam hal spiritual, mental dan moral. Peter Wagner mengatakan, bahwa Pertumbuhan gereja, selain Tuhan, di topang oleh kekuatan devosional hamba Tuhan atau Persekutuan yang ketat dan kontiniu dengan Dia sipemberi kerja itu. Tugas yang kita terima bukanlah jabatan/pangkat melainkan Pengabdian dan Pelayanan yang membutuhkan kemauan dan kepasrahan.
Ada tiga(3) arah/tujuan dari penciptaan manusia itu:
1. Memuliakan nama Allah dan Melayani Allah ( I. Kor 10: 31; Roma 12:11); artinya segala pekerjaan kita haruslah terlaksana demi dan untuk Kemuliaan nama Tuhan (Mat 5:16). Mengapa sdr/i…..? Karena manusia adalah mahluk yang paling mulia dari segala ciptaan lainnya. Allah sendiri yang menciptakan dengan tangan-Nya, sedang yang lain hanya dengan firman( kita baca Kej 1:27, bandingkan dengan Kej 1:11-25), Allah telah menyediakan segala sesuatu untuk dikelola (Kej 2: 4-6), lalu manusia itu diciptakan menjadi mahluk yang hidup (ay 7), dan menjadi gambar-Nya (Kej 1:27).
2. Mengasihi sesama, demi terbinanya kehidupan yang baik. Kita bekerja untuk mengasihi sesama (Kisras 20:34-35; Gal 5:13-14) Artinya, jangan sampai ada orang yang hanya mengejar kepentingannya sendiri (Roma 15:1-2; I. Kor 10:24 +33).
3. Untuk memelihara dan mempertahankan kelangsungan hidup sendiri (Kej 1: 26-28), artinya manusia tetap diberi hak untuk bekerja bagi dirinya sendiri, namun hanya pada tingkatan ke 3.
Karena itu mari kita pergunakan waktu yang diberikan Tuhan pada kita, 12 jam untuk bekerja dengan maksimal (Joh 11: 9-10) , maksudnya ialah agar kita mempergunakan waktu itu dengan baik (siang) agar kita tidak terantuk/terpeleset dalam bekerja, dan kita tidak perlu takut karena terang yang dari pada Yesus akan menerangi pekerjaan kita, itulah Aleteia=Kebenaran yang sebenarnya, Aleteia berarti: Anti samar-samar.

Pdt. R.H.L. Tobing.
Khotbah di GKI Gejayan
“GIVE THE BEST To The LORD”
I. Taw 29: 10-19; Jak 2:18-23

Inti
• GKI Gejayan sedang melakukan Program Renovasi pembangunan ruangan pembinaan /menambah sarana dan prasarana.
• Seluruh rencana ini adalah tanggung jawab bersama; terwujud hanya melalui “Iman bersama”.
• Kebutuhan dana ini aka ringan jika di tanggung bersama.
• Pekerjaan ini adalah “Pekerjaan Iman” krn itu disamping dukungan Dana juga Doa.
Ilustrasi : Pemb: Thema: Give....dht give which...!
1. Panjat kelapa. 2. Jual mangga di Samosir
Give which is the best to God, because He has given us the most precious His only, therefor offer to God the best you can give. Berikanlah yang terbaik buat Tuhan, krn Dia telah memberikan yg sangat berharga buat kita,yaitu anakNya sendiri. Krn itu persembahkan yg paling harum.
2. Menurut Reymon Olson seorang Ahli Teologia ada 5 macam pemberian KurbAN pERSEMBAHAN. a. The Tip Level; Small change for God . Tip utk pengangkat barang2 art; berikan pecahan kecil kpd. Tuhan. b. The Emosional Level. Give when I feel, I like it. Pemberian Emosional, tergantung situasi, apakah ia senang atau simpatik terhadap Pengkhotbah. c.The entertainment Level; Seperti membayar karcis bioskop; kebaktian di Hotel pakai ac..jadi hrs bayar besar persembahannya. d. The good intention Level: I will do better when I have got more.Penghasilan besar ya pemberian besar; masih berniat baik..e. The Christian Level. I Will give as I. have been Given. Pemberian secara Kristiani. Saya memberi krn saya telah diberi......Masuk na di ginjang i...!
3. Henry Matew. Pengulas Alkitab/ucapan syukur/ Unang songon Pdt na marjamita Kasih. Ir dan pedagang berjalan ke sorga.
Kata “Tawarikh” berarti kejadian sehari-hari; sejarah atau “tarikh”= Buku tawarikh adalah berisikan kejadian sehari-hari sejarah dari Umat Allah.Byk isi Tawarikh ini sdh diceriterakan dlm kitab Samuel dan Raja2.(Molo dang porlu dang pola)
Perikope kita hari ini adalah tentang nyanyian Pujian Daud, yang merupakan Doa penutup serta Ucapan Syukur atas perbuatan Allah terhadap umatNya serta kebersamaan umat dalam berbakti melalui pembangunan Rumah Tuhan. Dan juga kesadaran bangsa itu akan peranan bait Suci dan Pelayanan2 yang dipercayakan kepada bangsa itu. Daud bersama Umat memuji Tuhan karena pengalaman mereka berdiam dihadapan Tuhan Allah Israel adalah aman, tentram dan Damai.
Jemaah yang dimaksudkan disini ialah para kepala puak, kepala suku Israel, para pasukan dan pemimpin dan orang2 kaya yang rela memberikan persembahan kepada Tuhan (ay 6-7); mereka ini secara tulus dan sukarela turut dalam rencana Pembangunan Rumah Tuhan. Dibawah kepemimpinan Daud, mereka bersama-sama memuji Tuhan; karena Dia yang senantiasa bertindak dalam sejarah Israel, Tuhan yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu karena itu segala Pujian dan Pelayanan di Rumah Tuhan adalah untuk Dia...mengapa sdr2....?
1. Tuhan Allah Israel dan Tuhan kita; Maha Agung, karena Dialah yg memiliki Kebesaran; Kejayaan; Kehormatan; Kemashuran dan Kekayaan.Ket> Org2 kaya di AS termasuk Indonesia sdh mulai sadar makna Harta Kekayaan itu.
2. Kemurahan Tuhan sungguh tak terkirakan.Ket> Asal kekayaan yg kita miliki dan yg paling istimewa nafas kehidupan ini.Segala yg kita miliki; kesehatan harta; kejayaan; kuasa dll adalah berasal dari Tuhan.
3. Karena Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Ket> Abraham mempersembahkan harta yg paling dia sayangi...Kalau Abraham salah memberi tau Isak ttg siapa yg akan dipersembahkan...gagallah rencana penyelamatan itu...!

Adakah di dunia ini kita temui seorang manusia yang benar-benar bahagia karena harta...? Apakah
Makna Harta Kekayaan itu...?
1. Allah memberi Mandat kepada manusia untuk mensejahterakan umat manusia – Disalurkan untuk kedua belah pihak atau harus sama2 diuntungkan; baik pengelola maupun penerima ( Kuasailah bumi dan taklukkanlah).
2. Bill Gates; Jimmy Carter mantan Presiden AS= Mengembangkan penelitian tentang pelanggaran2 HAM; Lindon Jhonson (Wkl Presiden AS masa Nixon) Mendirikan Habitat Internasional; Jhon Rokepeller mendirikan Ford Foundation / Pendidikan dan Kesehatan; Ciputra dan Jems Riady pengusaha terkenal mendirikan Rumah Sakit dan Sekolah2.
3. Kekayaan yang hanya diberikan atau diwariskan kepada keturunan saja akan sia-sia, sebab bisa kaya tetapi tidak menikmatinya; Bukti Michael Jocson; Elvis Presley untuk tidur sajapun harus menelan pil.

Setiap orang yang bekerja atau menjalankan bisnis tentu sudah memiliki mimpi-mimpi yang menjadi tujuan hidupnya. Sebagian dari mereka memiliki visi atau tujuan yang jauh kedepan berdasarkan nilai-nilai suara hati nuraninya, sedangkan yang lain hanya berkeinginan menjadi seorang wirausahawan terkenal dan kaya raya. Sukses dinilai dari produksi, tetapi itu bukan kesuksesan yang lengkap atau utuh tetapi itu parsial tetapi harus untuk mensejahterakan manusia.
Bagi mereka yang berbisnis dengan hati nurani, menjadi wirausahawan kaya raya bukanlah menjadi tujuan akhirnya.
Memiliki kekayaan berlimpah bukanlah tujuan utamanya, melainkan sebagai sarana untuk memperbanyak kebaikan dan memperkaya jiwanya. Bill Gates pemilik Microsoft...tidak merasa puas akan kekayaannya, sehingga ia mendirikan Penelitian/risert tentang HIV, Jimmy Carter mendukung HAM, Jhon Rokefeller mendirikan Pendidikan dan kesehatan, Ciputra dan Jems Riady..... juga menyisihkan hartanya buat Pendidikan dan Kesehatan dengan pendirian Sekolah-sekolah dan Rumah Sakit.
Keuntungan atau “profit” adalah penting dalam berbisnis, meski demikian keuntungan bukanlah tujuan akhirnya. Karena keuntungan dipandang sebagai sarana memberikan manfaat bagi orang lain sebanyak-banyaknya. Dengan kata lain mereka memiliki keinginan memperkaya harta dan memperkaya jiwanya secara seimbang. Karena berbisnis adalah bagian dari ibadah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan.
Bisnis sesungguhnya memiliki bentangan makna yang luas, bukan semata-mata dinilai dari keuntungan uang, namun ada makna yang lebih tinggi dari keuntungan materi. Karenanya dalam berbisnis selain untuk meraih kesejahteraan materi, sebaiknya mempertimbangkan agar Bisnis yang kita lakukan, produk yang kita hasilkan dapat memberikan kontribusi kebaikan dan manfaat bagi orang lain sebesar-besarnya; khususnya buat Rumah Tuhan.

Pemimpin2 Israel dan orang2 kaya pada zaman nabi-nabi lebih mengasihi uang dari pada sesama manusia ( Amos 2: 6; 4:1). Demikian juga pada zaman Tuhan Yesus hidup di tengah2 orang Jahudi hal sedemikian masih menguasai hati dan pikiran manusia, kaya dalam hal harta dunia dianggap sebagai puncak keberhasilan hidup. Karena itu banyak orang-orang yang telah dikuasai uang/harta, sehingga satu2nya tujuan hidup mereka adalah menjadi orang kaya harta dunia, tanpa perduli akan harta kerajaan Sorga. Dan mereka lupa bahwa manusia hidup bukan bergantung kepada makanan dan pakaian atau uang, teapi kepada Allah (Mat 4:4).
Dalam Alkitab, kita tahu ada perikop Firman Tuhan tentang orang kaya yang sukar masuk Kerajaan Allah ( Markus 10 : 17-27 ). Akan tetapi, jika kita cermati, Yesus di situ sebenarnya berbicara tentang orang kaya yang menempatkan kekayaannya di atas Tuhan dan pelayanan kepada orang lain. Itu sebabnya, kita juga perlu meneladani kisah-kisah Abraham, Yakub, Daud, Salomo, Ayub dsbnya, mereka adalah orang-orang yang mau dipakai Tuhan dan Tuhanpun memberi mereka kekayaan agar dapat melayani Dia dan sesama.

Jadi, Tuhan tidak pernah melarang kita menjadi kaya. Sebaliknya, IA justru akan menganugerahkan berkat kekayaan bagi mereka yang hidup berkenan di dalam Dia.
Kekayaan sejati menurut pandangan manusia sangatlah berbeda dengan pandangan Tuhan. Dalam Alkitab, Tuhan tidak memandang kekayaan dalam hal harta benda sebagai suatu kekayaan sejati. IA memperingatkan bahwa harta benda adalah hal yang fana ( Matius 6 : 19-20 ). Tapi meskipun begitu, Ia juga menjanjikan bahwa siapa yang setia kepadaNya juga akan memperoleh kekayaan dalam dunia ini menurut kemuliaanNya ( Filipi 4 : 19 ). Jadi ukuran kekayaan menurut Tuhan bukanlah pada besarnya harta yang dimiliki seseorang, melainkan sejauh mana ia mempergunakan kekayaannya itu untuk melayani Tuhan dan sesamanya.

Jika kita adalah kehidupan yang diberkati Tuhan dengan kekayaan, mari muliakan Tuhan dengan harta kita. Mari kita menjadi orang kaya yang menyenangkan Tuhan.

Pdt. RHL. Tobing.