Bacaan: Filipi3:13-17
Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka- Amsal 4:25
Mark Twain pernah mengatakan, “Kalau seekor kucing pernah duduk di atas tungku panas, kucing itu tidak akan duduk di atas tungku panas lagi. Kucing itu juga tidak akan duduk lagi di atas tungku dingin.” Kesimpulannya adalah kucing tersebut mengasosiasikan tungku dengan pengalaman yang buruk dan panas. Pengalaman yang buruk tersebut dibawanya terus, hingga ia menganggap setiap tungku (tidak peduli bahwa tungku itu dingin) adalah panas dan berbahaya.
Sedikit banyak kita juga seperti kucing tersebut. Sikap kita pada hari ini terbentuk dari pengalaman-pengalaman yang terjadi di waktu lalu. Jika dalam sebuah situasi yang terjadi di masa lalu kita mengalami kegagalan, maka pada situasi yang sama di waktu yang berbeda pun, kita sering percaya bahwa kita akan gagal lagi.
Sederet pengalaman buruk di masa lalu mungkin pernah kita alami. Kegagalan-kegagalan yang terjadi di sepanjang perjalanan hidup kita. Kesalahan-kesalahan fatal yang sebenarnya bisa dihindarkan. Pengambilan keputusan yang salah, yang menyisakan sederet akibat sampai hari ini. Juga masa kecil yang buruk, tindakan-tindakan kekerasan yang kita terima, baik secara fisik maupun psikis, ucapan atau tindakan yang merendahkan, miskinnya kasih sayang dari orang tua dan masih banyak hal yang menimbulkan kepahitan dalam hati.
Jadikan pengalaman masa lalu sebagai pelajaran berharga bagi kita. Namun jangan pernah biarkan diri kita hidup di masa lalu. Jangan sampai pengalaman buruk di masa lalu menghantui dan membayangi kehidupan kita di masa kini. Jika tidak, hidup kita hanya akan dikuasai oleh ketakutan dan kekuatiran. Kita takut untuk mencoba hal-hal yang baru (yang mirip dengan kejadian buruk yang pernah kita alami). Kita takut untuk melihat masa depan, karena hidup kita masih dikuasai buruknya masa lalu. Kita takut untuk bersikap optimis. Kita takut menatap hidup dengan keberanian. Tapi, orang yang hidup dengan ketakutan tidak akan pernah sukses. Jadi, tinggalkan pengalaman buruk di masa lalu kita.
Saya lebih menyukai mimpi masa depan daripada sejarah masa lalu
Perdamaian sangat dibutuhkan pada jaman ini, bagaimana kita bisa berdamai dengan sesama, dengan Tuhan dan diri sendiri.Semua ini hanya dapat kita peroleh dari Dia dan FirmanNya sebagai Madu Surgawi.
Senin, 05 Juli 2010
"PETA PELAYANAN GEREJA DI JAWA BARAT"
PETA PELAYANAN GEREJA
DAN PERMASALAHANNYA
DI JAWA BARAT
I. PETA GEREJA DI JAWA BARAT
1. Luas Wilayah : 16 Kab, 8 Kota
2. Jumlah Umat Kristen : 1.998.342 Orang
3. Jumlah Gereja : 1.956 Gereja
4. Sinode Gereja di Jawa Barat : 41 Buah
5. Organisasi Gereja yg hadir di
Jawa Barat : 120 organisasi
dari 329 yang ada di Indonesia
6. Aliran Gereja : 14 Aliran
II. PELAYANAN GEREJA DI MASYARAKAT
1. TK KRISTEN : 32
2. SD KRISTEN : 42
3. SLTP KRISTEN : 22
4. SMU KRISTEN : 18
5. KEJURUAN : 3
6. PT SWASTA KRISTEN : 2
7. STT : 37
8. POLIKLINIK : 25 BUAH
9. RUMAH SAKIT : 5 BUAH
10. PANTI ASUHAN : 9 BUAH
11. RUMAH JOMPO : 3 BUAH
12. REHABILITASI : 7 BUAH
13. PUSAT KONSELING : 3 BUAH
14. YAYASAN KRISTEN : 106 BUAH
KATEGORI GEREJA
1. GEREJA PERMANEN
2. GEREJA SEMI PERMANEN
3. GEREJA SEMENTARA
A. RUMAH
B. RUKO PALING TINGGI PERMASALAHAN
C. MALL
D. HOTEL
PETA PENUTUPAN GEREJA DI JAWA BARAT KAB
BDG (2) KOTA BDG (4) KAB. BOGOR (3) KAB BEKASI (3)
• HAMBATAN PENDIRIAN GEREJA
HAMBATAN SOSIOLOGIS
HAMBATAN BIROKRASI
HAMBATAN KEAGAMAAN
HAMBATAN PERATURAN PEMERINTAH
PROVOKASI KELOMPOK LSM AGAMA
(FBI , GAP, AGAP , DLL)
* PENYEBAB PENUTUPAN GEREJA
PENGARUH TOKOH AGAMA DAN MASYARAKAT
HUBUNGAN YANG KURANG HARMONIS DGN LINGKUNGAN; GEREJA KURANG MENJADI BERKAT
ISU-ISU KEAGAMAAN DI JAWA BARAT
Pendirian rumah ibadah
Penyalah gunaan fungsi bangunan
Isu Kristenisasi
Munculnya kelompok-kelompok keagamaan radikal
HUBUNGAN YANG HARUS DIBANGUN
1.SOSIOLOGIS 2. LINTAS AGAMA 3. PEMERINTAH 4. KESATUAN GEREJA
PRIORITAS GEREJA
1. KUALITAS PELAYANAN 2. KUALITAS KEPEMIMPINAN 3. KUALITAS HUBUNGAN SOSIAL 4.KUALITAS ORGANISASI
Kegiatan aliran sempalan agama
DAN PERMASALAHANNYA
DI JAWA BARAT
I. PETA GEREJA DI JAWA BARAT
1. Luas Wilayah : 16 Kab, 8 Kota
2. Jumlah Umat Kristen : 1.998.342 Orang
3. Jumlah Gereja : 1.956 Gereja
4. Sinode Gereja di Jawa Barat : 41 Buah
5. Organisasi Gereja yg hadir di
Jawa Barat : 120 organisasi
dari 329 yang ada di Indonesia
6. Aliran Gereja : 14 Aliran
II. PELAYANAN GEREJA DI MASYARAKAT
1. TK KRISTEN : 32
2. SD KRISTEN : 42
3. SLTP KRISTEN : 22
4. SMU KRISTEN : 18
5. KEJURUAN : 3
6. PT SWASTA KRISTEN : 2
7. STT : 37
8. POLIKLINIK : 25 BUAH
9. RUMAH SAKIT : 5 BUAH
10. PANTI ASUHAN : 9 BUAH
11. RUMAH JOMPO : 3 BUAH
12. REHABILITASI : 7 BUAH
13. PUSAT KONSELING : 3 BUAH
14. YAYASAN KRISTEN : 106 BUAH
KATEGORI GEREJA
1. GEREJA PERMANEN
2. GEREJA SEMI PERMANEN
3. GEREJA SEMENTARA
A. RUMAH
B. RUKO PALING TINGGI PERMASALAHAN
C. MALL
D. HOTEL
PETA PENUTUPAN GEREJA DI JAWA BARAT KAB
BDG (2) KOTA BDG (4) KAB. BOGOR (3) KAB BEKASI (3)
• HAMBATAN PENDIRIAN GEREJA
HAMBATAN SOSIOLOGIS
HAMBATAN BIROKRASI
HAMBATAN KEAGAMAAN
HAMBATAN PERATURAN PEMERINTAH
PROVOKASI KELOMPOK LSM AGAMA
(FBI , GAP, AGAP , DLL)
* PENYEBAB PENUTUPAN GEREJA
PENGARUH TOKOH AGAMA DAN MASYARAKAT
HUBUNGAN YANG KURANG HARMONIS DGN LINGKUNGAN; GEREJA KURANG MENJADI BERKAT
ISU-ISU KEAGAMAAN DI JAWA BARAT
Pendirian rumah ibadah
Penyalah gunaan fungsi bangunan
Isu Kristenisasi
Munculnya kelompok-kelompok keagamaan radikal
HUBUNGAN YANG HARUS DIBANGUN
1.SOSIOLOGIS 2. LINTAS AGAMA 3. PEMERINTAH 4. KESATUAN GEREJA
PRIORITAS GEREJA
1. KUALITAS PELAYANAN 2. KUALITAS KEPEMIMPINAN 3. KUALITAS HUBUNGAN SOSIAL 4.KUALITAS ORGANISASI
Kegiatan aliran sempalan agama
Rabu, 23 Juni 2010
"MENCIPTAKAN MOTIVASI"
Bacaan: Keluaran;17:8-13; Ulangan 11: 11-22
Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.- Amsal 22:6
Jika Anda adalah seorang pemimpin, entahkah pemimpin kelompok, pemimpin organisasi, pemimpin perusahaan, atau bahkan Anda adalah pemilik perusahaan, menciptakan motivasi dalam sebuah tim adalah hal mutlak. Tanpa motivasi, bisa jadi organisasi atau perusahaan yang kita pimpin akan mengalami kemandegan atau bahkan kelumpuhan. Hal-hal apa yang mempengaruhi motivasi dalam sebuah teamwork?
Satu, visi, misi dan tujuan yang jelas. Dengan menetapkan hal tersebut kita akan tahu di mana posisi kita sekarang ini dan ke mana tim kita akan pergi. Jika visi dan tujuan kita kabur, bisa dipastikan tim kita akan kehilangan motivasi. Karena tidak ada tujuan yang hendak dicapai dan tidak ada target yang hendak diraih. Dua, tanggung jawab. Pendelegasian tanggung jawab akan menjadi motivasi tersendiri bagi orang yang menerimanya. Dengan adanya tanggung jawab yang ia pikul, ia akan berusaha untuk memenuhi, melakukan dan menyelesaikannya dengan kualitas terbaik.
Tiga, tantangan. Pada dasarnya setiap manusia suka dengan hal-hal yang baru. Dengan kita memberikan pekerjaan yang menantang, maka mereka akan termotivasi. Hanya saja berikan tantangan dalam porsi yang tepat. Jika tantangan kita berlebihan, mereka juga akan berpikir bahwa hal tersebut mustahil untuk dilakukan. Namun jika tantangan kita terlalu mudah, mereka juga akan malas melakukannya karena dianggap tidak akan menimbulkan kebanggaan bagi yang melakukannya.
Empat, ciptakan suasana kerja yang kondusif. Jika suasana kerja tidak nyaman, jelas satu sama lain tidak akan termotivasi. Mengusahakan keakraban di dalam tim adalah salah satu cara efektif untuk menciptakan suasana kerja yang kondusif. Jika semua orang yang ada di dalam tim menjadi kompak, mereka akan menikmati apa yang mereka kerjakan dan akan terus termotivasi. Selain itu, setiap orang hendaknya diberikan kesempatan untuk maju. Suasana kerja akan jadi kondusif dan tim kita pun akan termotivasi terus.
Setiap pemimpin sudah seharusnya menciptakan motivasi dalam timnya.
"BISA DIPERCAYA"
Bacaan: Lukas,12:41-48
Orang yang dapat dipercaya mendapat banyak berkat, tetapi orang yang ingin cepat menjadi kaya, tidak akan luput dari hukuman.- Amsal 28:20
Siapa yang tak ingin menjadi orang yang dipercaya? Siapa yang tak suka menjadi orang kepercayaan Sang Big Boss? Orang yang ingin meningkatkan karirnya selalu ingin menjadi orang yang dipercaya. Masalahnya menjadi orang yang dipercaya bukanlah hal yang mudah. Lamanya kita bekerja, kepandaian kita, gelar ijazah kita, atau pengalaman kerja kita belumlah cukup untuk menjadikan kita orang yang dipercaya. Lalu bagaimana caranya supaya kita bisa menjadi orang kepercayaan atasan kita?
Satu, milikilah integritas. Kepercayaan dan integritas adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Tanpa integritas jelas kita tidak akan dipercaya. Integritas berarti memiliki karakter yang baik. Di jaman ini, karakter yang baik tetap jadi modal utama agar kita bisa dipercaya.
Dua, milikilah komitmen yang kuat. Tanpa komitmen, jelas kita tidak dipercaya. Bagaimana mungkin seorang atasan akan mempercayakan hal yang lebih besar kepada orang yang bermalas-malasan dalam bekerja?
Ketiga, jadilah orang yang berkompeten. Kompetensi artinya memiliki kualitas unggul dan andal. Tingkatkan terus kinerja kita. Gali potensi diri dan munculkan ide serta gagasan-gagasan baru. Orang yang berkompetensi biasanya menjadi kontributor utama dalam sebuah perusahaan. Itu sebabnya orang yang memiliki kompetensi akan selalu diprioritaskan dan dipercaya.
Keempat, miliki tanggung jawab. Maukah Anda memberi kepercayaan kepada orang yang tak bertanggung jawab? Jelas tidak! Bertanggung jawab adalah syarat mutlak agar kita bisa dipercaya. Jika kita masih diberikan tanggung jawab yang kecil, jangan meremehkan atau malah berputus asa. Kerjakan itu dengan sebaik-baiknya. Percayalah, jika kita bisa dipercaya dengan tanggung jawab kecil, pasti kita akan diberi tanggung jawab yang lebih besar. Ini sejalan dengan prinsip Alkitab yang mengajak kita untuk setia dalam perkara kecil karena dari situlah akan lahir perkara-perkara yang lebih besar.
Salah satu ciri orang sukses adalah bisa dipercaya.RHLT
Orang yang dapat dipercaya mendapat banyak berkat, tetapi orang yang ingin cepat menjadi kaya, tidak akan luput dari hukuman.- Amsal 28:20
Siapa yang tak ingin menjadi orang yang dipercaya? Siapa yang tak suka menjadi orang kepercayaan Sang Big Boss? Orang yang ingin meningkatkan karirnya selalu ingin menjadi orang yang dipercaya. Masalahnya menjadi orang yang dipercaya bukanlah hal yang mudah. Lamanya kita bekerja, kepandaian kita, gelar ijazah kita, atau pengalaman kerja kita belumlah cukup untuk menjadikan kita orang yang dipercaya. Lalu bagaimana caranya supaya kita bisa menjadi orang kepercayaan atasan kita?
Satu, milikilah integritas. Kepercayaan dan integritas adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Tanpa integritas jelas kita tidak akan dipercaya. Integritas berarti memiliki karakter yang baik. Di jaman ini, karakter yang baik tetap jadi modal utama agar kita bisa dipercaya.
Dua, milikilah komitmen yang kuat. Tanpa komitmen, jelas kita tidak dipercaya. Bagaimana mungkin seorang atasan akan mempercayakan hal yang lebih besar kepada orang yang bermalas-malasan dalam bekerja?
Ketiga, jadilah orang yang berkompeten. Kompetensi artinya memiliki kualitas unggul dan andal. Tingkatkan terus kinerja kita. Gali potensi diri dan munculkan ide serta gagasan-gagasan baru. Orang yang berkompetensi biasanya menjadi kontributor utama dalam sebuah perusahaan. Itu sebabnya orang yang memiliki kompetensi akan selalu diprioritaskan dan dipercaya.
Keempat, miliki tanggung jawab. Maukah Anda memberi kepercayaan kepada orang yang tak bertanggung jawab? Jelas tidak! Bertanggung jawab adalah syarat mutlak agar kita bisa dipercaya. Jika kita masih diberikan tanggung jawab yang kecil, jangan meremehkan atau malah berputus asa. Kerjakan itu dengan sebaik-baiknya. Percayalah, jika kita bisa dipercaya dengan tanggung jawab kecil, pasti kita akan diberi tanggung jawab yang lebih besar. Ini sejalan dengan prinsip Alkitab yang mengajak kita untuk setia dalam perkara kecil karena dari situlah akan lahir perkara-perkara yang lebih besar.
Salah satu ciri orang sukses adalah bisa dipercaya.RHLT
Selasa, 25 Mei 2010
"KISAH BAUT KECIL"
Bacaan: Filipi2:1-11
Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; - Filipi 2:3
Sebuah baut kecil bersama ribuan baut seukurannya dipasang untuk menahan lempengan-lempengan baja di lambung sebuah kapal besar. Saat melintasi samudera Hindia yang ganas, baut kecil itu terancam lepas. Hal itu membuat ribuan baut lain terancam lepas pula. Baut-baut kecil lain berteriak menguatkan, "Awas! Berpeganglah erat-erat! Jika kamu lepas kami juga akan lepas!" Teriakan itu didengar oleh lempengan-lempengan baja yang membuat mereka menyerukan hal yang sama. Bahkan seluruh bagian kapal turut memberi dorongan semangat pada satu baut kecil itu untuk bertahan. Mereka mengingatkan bahwa baut kecil itu sangat penting bagi keselamatan kapal. Jika ia menyerah dan melepaskan pegangannya, seluruh isi kapal akan tenggelam. Dukungan itu membuat baut kecil kembali menemukan arti penting dirinya di antara komponen kapal lainnya. Dengan sekuat tenaga, ia pun berusaha tetap bertahan demi keselamatan seisi kapal.
Sayang, dunia kerja seringkali berkebalikan dengan ilustrasi di atas. Kita malah cenderung girang melihat rekan sekerja "jatuh", bahkan kita akan merasa bangga apabila kita sendiri yang membuat rekan kerja gagal dalam tanggung jawabnya. Jika itu dibiarkan, artinya perpecahan sedang dimulai dan tanpa sadar kita menggali lubang kubur sendiri. Apa yang disebut gaya hidup seorang Kristen seakan tidak berlaku di tempat kerja. Padahal setiap tindakan yang kita lakukan akan selalu disorot oleh Sang Atasan.
Bagaimana sikap kita dengan rekan kerja? Mungkin saat rekan kerja menghadapi masalah, kita menganggap itu risiko yang harus ia hadapi sendiri. Tapi sebagai tim, kegagalan satu orang akan selalu membawa dampak pada keseluruhan. Jadi mengapa kita harus saling menjatuhkan? Bukankah hasilnya tentu jauh lebih baik jika kita saling mendukung dan bekerjasama menghadapi persoalan? Kristus mengajarkan bahwa kita adalah satu tubuh. Jika satu anggota mengalami masalah, yang lainnya harus mendorong dan menguatkannya. Jangan sampai masalah yang dialami rekan kerja malah membuat kita senang. Tapi baiklah kita berseru, "Berpeganglah erat-erat! Tanpa kamu, kami akan tenggelam!"
Kegagalan atau kesuksesan rekan sekerja akan selalu mempengaruhi diri kita juga, karena itu mari kita ciptakan kerjasama yang baik di tengah-tengah gereja, jangan bawakan egoisme pribadi. Pakailah teologia sapulidi; sapu lidi kalau diikat menjadi satu akan dapat dipergunakan untuk membersihkan yang kotor, walau dari tempat yang paling sulit di jangkau, tetapi kalau hanya satu sapu lidi tidak akan berguna.
"BUDAYA BERIBADAH"
Bacaan: Matius;15:1-20
Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan. - Matius 15:2
Makan itu ada budayanya sendiri. Tiap daerah memiliki budaya yang berbeda. Pergilah ke daratan Cina, Anda harus bersiap-siap menggunakan sumpit sebagai ganti sendok dan jangan kaget atau merasa aneh kalau mereka yang duduk semeja dengan Anda bersendawa dengan bebasnya. Budaya Latin juga berbeda, kalau Anda menghabiskan semua makanan di piring Anda tanpa sisa, itu sama saja memberitahukan kepada tuan rumah bahwa Anda masih lapar. Di Italia, para bangsawan selalu meletakkan pisau dan garpu bersilang setelah selesai makan. Budaya Yahudi berbeda lagi. Ada aturan mutlak yang harus mereka patuhi soal makan, yaitu membasuh tangan lebih dulu sebelum makan.
Suatu ketika murid-murid Yesus mengindahkan tata cara makan ala Yahudi ini. Akibatnya, Yesus ditegur habis-habisan oleh orang-orang Farisi dan ahli taurat hanya karena para murid tidak membasuh tangan lebih dulu sebelum makan. Jawaban Yesus sungguh bijak menanggapi pertanyaan Farisi, bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.
Saya mau beritahu, tapi jangan kaget. Kita seringkali bertindak seperti para Farisi dan ahli taurat itu. Kekristenan tak lebih dari sekedar tata cara dan aturan, bukan kehidupan. Kening kita mengkerut dan tidak suka kalau tata cara beribadah yang dilakukan tidak seperti aturan baku dalam gereja kita. Kita lebih memusingkan soal bertepuk tangan atau tidak. Kita lebih memusingkan antara memakai musik lengkap ataukah hanya menggunakan organ tua. Bagi yang biasa beribadah dengan tenang akan marah kalau suasana ibadah meriah dan hiruk pikuk. Bagi yang biasa beribadah dengan meriah akan mengecam kalau ibadah itu tidak ada urapan, seandainya dilakukan dengan cara yang tenang.
Kekristenan lebih penting hanya dari sekedar tata cara atau budaya saja. Kekristenan bukan hanya sekedar ritual belaka, tapi sungguh merupakan kehidupan nyata. Jadi, bagaimanapun beraneka ragam budaya saat beribadah itu tak terlalu penting, tak perlu dipusingkan, apalagi dipeributkan. Tuhan kita adalah Tuhan diatas segala budaya. Jadi, apakah kita akan memegahkan diri kalau merasa bahwa tata cara ibadah kita lah yang paling berkenan di hadapan Tuhan?
Lebih fokus kepada gaya hidup kita sebagai orang Kristen daripada ritual yang kita lakukan.
Sabtu, 15 Mei 2010
"BAHAGIA TANPA................!
Seorang filsuf Yunani Kuno, yakni socrates (469-399 S.M.), percaya bahwa jika anda sungguh-sungguh bijak, anda tidak akan terobsesi oleh kekayaan. Untuk mempraktekkan secara ekstrim apa yang telah ia kotbahkan itu, ia bahkan menolak untuk mengenakan sepatu.
Socrates suka mengunjungi tempat perbelanjaan, tetapi ia hanya memandang beraneka ragam pakaian yang dipamerkan dengan penuh kekaguman. Saat seorang teman bertanya mengapa ia demikian terpesona, ia menjawab: “Saya pergi ke sana dan menyadari betapa saya bahagia meski tak memiliki banyak hal yang ada di sana”.
Sikap di atas bertentangan dengan iklan-iklan komersial yang terus menerus menyerang mata dan telinga kita. Para pemasang iklan telah menghabiskan jutaan rupiah untuk mengatakan bahwa kita takkan bahagia bila tidak memiliki produk-produk terbaru mereka.
Rasul Paulus menasihati anak rohaninya, Timotius, demikian, “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apapun ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah”. (I Timotius 6:6-8). Jika kita terpikat pada harta benda, Paulus memperingatkan, kita bisa melenceng dari iman dan frustasi karena keinginan daging (ayat 9-10).
Marilah kita bertanya pada diri kita sendiri, “Hal-hal apakah yang walau tidak kumiliki tetapi tidak mengurangi kebahagiaanku?” Jawaban atas pertanyaan ini akan mengungkapkan banyak tentang hubungan kita dengan Tuhan dan kepuasan kita bersama Dia. Tuhan, tolong aku untuk tidak menetapkan hatiku
Pada hal-hal yang akan berlalu;
Buatlah aku puas dengan milikku,
Dan mengucap syukur kepada-Mu setiap waktu. Amin
Langganan:
Postingan (Atom)