Selasa, 25 Mei 2010

"BUDAYA BERIBADAH"



Bacaan: Matius;15:1-20

Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan. - Matius 15:2
Makan itu ada budayanya sendiri. Tiap daerah memiliki budaya yang berbeda. Pergilah ke daratan Cina, Anda harus bersiap-siap menggunakan sumpit sebagai ganti sendok dan jangan kaget atau merasa aneh kalau mereka yang duduk semeja dengan Anda bersendawa dengan bebasnya. Budaya Latin juga berbeda, kalau Anda menghabiskan semua makanan di piring Anda tanpa sisa, itu sama saja memberitahukan kepada tuan rumah bahwa Anda masih lapar. Di Italia, para bangsawan selalu meletakkan pisau dan garpu bersilang setelah selesai makan. Budaya Yahudi berbeda lagi. Ada aturan mutlak yang harus mereka patuhi soal makan, yaitu membasuh tangan lebih dulu sebelum makan.
Suatu ketika murid-murid Yesus mengindahkan tata cara makan ala Yahudi ini. Akibatnya, Yesus ditegur habis-habisan oleh orang-orang Farisi dan ahli taurat hanya karena para murid tidak membasuh tangan lebih dulu sebelum makan. Jawaban Yesus sungguh bijak menanggapi pertanyaan Farisi, bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.
Saya mau beritahu, tapi jangan kaget. Kita seringkali bertindak seperti para Farisi dan ahli taurat itu. Kekristenan tak lebih dari sekedar tata cara dan aturan, bukan kehidupan. Kening kita mengkerut dan tidak suka kalau tata cara beribadah yang dilakukan tidak seperti aturan baku dalam gereja kita. Kita lebih memusingkan soal bertepuk tangan atau tidak. Kita lebih memusingkan antara memakai musik lengkap ataukah hanya menggunakan organ tua. Bagi yang biasa beribadah dengan tenang akan marah kalau suasana ibadah meriah dan hiruk pikuk. Bagi yang biasa beribadah dengan meriah akan mengecam kalau ibadah itu tidak ada urapan, seandainya dilakukan dengan cara yang tenang.
Kekristenan lebih penting hanya dari sekedar tata cara atau budaya saja. Kekristenan bukan hanya sekedar ritual belaka, tapi sungguh merupakan kehidupan nyata. Jadi, bagaimanapun beraneka ragam budaya saat beribadah itu tak terlalu penting, tak perlu dipusingkan, apalagi dipeributkan. Tuhan kita adalah Tuhan diatas segala budaya. Jadi, apakah kita akan memegahkan diri kalau merasa bahwa tata cara ibadah kita lah yang paling berkenan di hadapan Tuhan?
Lebih fokus kepada gaya hidup kita sebagai orang Kristen daripada ritual yang kita lakukan.

Sabtu, 15 Mei 2010

"BAHAGIA TANPA................!


Seorang filsuf Yunani Kuno, yakni socrates (469-399 S.M.), percaya bahwa jika anda sungguh-sungguh bijak, anda tidak akan terobsesi oleh kekayaan. Untuk mempraktekkan secara ekstrim apa yang telah ia kotbahkan itu, ia bahkan menolak untuk mengenakan sepatu.
Socrates suka mengunjungi tempat perbelanjaan, tetapi ia hanya memandang beraneka ragam pakaian yang dipamerkan dengan penuh kekaguman. Saat seorang teman bertanya mengapa ia demikian terpesona, ia menjawab: “Saya pergi ke sana dan menyadari betapa saya bahagia meski tak memiliki banyak hal yang ada di sana”.
Sikap di atas bertentangan dengan iklan-iklan komersial yang terus menerus menyerang mata dan telinga kita. Para pemasang iklan telah menghabiskan jutaan rupiah untuk mengatakan bahwa kita takkan bahagia bila tidak memiliki produk-produk terbaru mereka.
Rasul Paulus menasihati anak rohaninya, Timotius, demikian, “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apapun ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah”. (I Timotius 6:6-8). Jika kita terpikat pada harta benda, Paulus memperingatkan, kita bisa melenceng dari iman dan frustasi karena keinginan daging (ayat 9-10).
Marilah kita bertanya pada diri kita sendiri, “Hal-hal apakah yang walau tidak kumiliki tetapi tidak mengurangi kebahagiaanku?” Jawaban atas pertanyaan ini akan mengungkapkan banyak tentang hubungan kita dengan Tuhan dan kepuasan kita bersama Dia. Tuhan, tolong aku untuk tidak menetapkan hatiku
Pada hal-hal yang akan berlalu;
Buatlah aku puas dengan milikku,
Dan mengucap syukur kepada-Mu setiap waktu. Amin

"KASIH SANGAT LUAR BIASA"


YOHANES 3:16

Pada suatu malam bersalju yang dingin dan gelap di Chicago, seorang
bocah laki-laki sedang menjual koran di pojok jalan, orang-orang
berlalu lalang dalam dinginnya malam itu. Bocah laki-laki itu sangat
kedinginan sampai-sampai ia tidak bersemangat menjual dagangannya.

Ia berjalan menghampiri seorang polisi dan berkata, "Pak, apakah
Anda tahu sebuah tempat di mana seorang bocah miskin dapat tidur
malam ini? Anda tahu? Saya tidur dalam sebuah peti kayu di ujung
jalan menuju lorong kecil itu, dan di sana sangat dingin malam ini.
Pasti akan sangat nyaman jika saya dapat tidur di tempat yang
hangat." Polisi itu menatap bocah laki-laki itu dan berkata, "Susuri
jalan ini menuju rumah besar bercat putih itu dan ketuklah pintunya.
Saat mereka membuka pintu, katakan saja `Yohanes 3:16`, dan mereka
akan mengizinkanmu masuk dalam rumah."

Demikianlah ia melakukannya. Ia menaiki tangga, mengetuk pintu rumah
tersebut, dan dibukanyalah pintu rumah itu oleh seorang wanita.
Bocah itu menengadah dan berkata, "Yohanes 3:16." Kemudian kata
wanita itu, "Masuklah, Nak." Wanita itu membawanya masuk dan
mendudukkannya di sebuah kursi goyang di depan sebuah perapian kuno
yang besar, dan kemudian ia berlalu. Bocah itu duduk di kursi goyang
itu selama beberapa waktu sambil berkata dalam hati: "Yohanes 3:16
.... Aku tidak paham, tapi jelas hal itu telah menghangatkan seorang
bocah yang kedinginan."

Kemudian wanita itu kembali dan bertanya, "Apa kamu lapar?"
Jawabnya, "Yah, tidak terlalu. Saya belum makan selama beberapa
hari, dan rasanya sedikit makanan saja sudah cukup untukku." Wanita
itu membawanya ke dapur dan menyuruhnya duduk di depan sebuah meja
yang penuh dengan makanan enak. Ia makan dan makan sampai-sampai ia
kekenyangan. Lalu ia berkata dalam hatinya: "Yohanes 3:16 .... Wah,
aku benar-benar tidak paham, tapi jelas hal itu telah mengenyangkan
seorang bocah yang kelaparan."

Wanita itu membawanya ke loteng menuju sebuah kamar mandi dengan bak
mandi besar yang penuh dengan air hangat, dan bocah itu pun berendam
di bak mandi itu selama beberapa saat. Saat ia berendam, ia berkata
dalam hatinya: "Yohanes 3:16 .... Wow, Aku jelas tidak mengerti,
tapi kata-kata itu jelas telah membuat seorang bocah yang kotor
menjadi bersih. Aku tidak pernah mandi -- benar-benar mandi --
seumur hidupku. Aku mandi hanya sekali saat dulu berdiri di depan
sebuah pipa air besar kuno yang menyemburkan air."

Wanita itu masuk dan kemudian membawanya keluar menuju sebuah
ruangan, lalu menidurkannya di atas sebuah kasur kuno besar yang
terbuat dari kulit, menyelimutinya hingga sebatas leher, menciumnya
sambil berucap selamat malam, dan mematikan lampu kamar. Saat bocah
itu terbaring dalam gelap dan melihat salju yang turun di malam
gelap itu melalui jendela, ia berkata dalam hatinya: "Yohanes 3:16
.... Aku sungguh tidak memahaminya, tapi jelas kata-kata itu telah
membuat seorang bocah yang kelelahan dapat beristirahat."

Keesokan harinya, wanita tadi masuk ke kamar dan kemudian membawanya
turun menuju ke meja besar yang penuh dengan makanan. Setelah bocah
itu makan, wanita itu kembali membawanya ke kursi goyang di depan
sebuah perapian besar dan mengambil sebuah Alkitab kuno yang besar.
Wanita itu duduk di depannya dan menatap wajah muda bocah laki-laki
itu.

"Apakah kamu memahami arti kata-kata Yohanes 3:16?" tanyanya lembut.

Bocah itu menjawab, "Tidak, Bu, saya tidak paham. Saya baru pertama
kali mendengarnya saat seorang polisi mengatakannya." Wanita itu
membuka Alkitab pada Yohanes 3:16 dan mulai menjelaskan padanya soal
Yesus. Di situ, di depan perapian kuno yang besar itu, bocah
laki-laki itu menyerahkan hati dan hidupnya pada Yesus. Ia duduk di
sana dan berpikir: "Yohanes 3:16 .... Aku tidak memahaminya, tapi
jelas hal ini telah menyelamatkan seorang bocah yang tersesat."

Anda tahu, saya harus mengaku bahwa saya pun juga tidak memahaminya,
bagaimana Tuhan bersedia mengirimkan anak-Nya untuk mati demi saya,
dan bagaimana Yesus mau melakukan pengorbanan seperti itu. Saya
tidak mengerti penderitaan Bapa dan setiap malaikat di surga saat
mereka melihat Yesus menderita dan mati. Saya tidak memahami
besarnya kasih Yesus padaku yang tetap membuat Yesus bertahan di
kayu salib sampai pada kesudahannya.

Saya tidak memahami semuanya itu, tapi semuanya itu jelas membuat
hidup ini layak untuk dijalani.

(Yohanes 3:16)
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini,
sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,
supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa,
melainkan beroleh hidup yang kekal.

"KELUMPUHAN KARIR"

Bacaan: Lukas;5:37-39

Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?-
Kita merasa jenuh dengan pekerjaan. Kita bermalas-malasan pergi ke tempat kerja. Selalu saja ada alasan untuk ijin atau mengambil cuti. Kita tidak memiliki antusias dalam bekerja. Kinerja kita tidak meningkat tapi menurun. Grafik kita statis dan bukan dinamis. Kreatifitas kita mati dan miskin inovasi. Bisa jadi semua tanda-tanda di atas menunjukkan bahwa kita sedang mengalami gejala Career Paralyse ( kelumpuhan karir). Kalau tidak segera diatasi, bisa-bisa karir kita akan mandeg atau bahkan tamat! Bagaimana cara mengatasinya?
Satu, tentukan target baru. Banyak orang mengalami kelumpuhan karir karena ia sudah kehilangan target. Bisa karena target yang ingin ia capai sangat kabur tapi bisa juga karena targetnya sudah terpenuhi . Jika target sudah sangat kabur, ada baiknya kita menata ulang lagi target macam apa yang ingin kita capai. Dalam menetapkan targetnya, hendaknya target tersebut benar-benar jelas dan masuk akal. Kalau kelumpuhan karir tersebut disebabkan target yang sudah dipenuhi, kita harus membuat target baru yang lebih besar dan lebih menantang untuk peningkatan karir kita.
Dua, temukan motivasi baru. Kelumpuhan karir juga disebabkan hilangnya motivasi. Kita perlu mendapatkan kembali hal-hal yang bisa memotivasi kita. Membahagiakan keluarga, menciptakan masa depan yang lebih baik, dan memaksimalkan potensi diri bisa menjadi sumber motivasi bagi kita.
Tiga, tidak berpuas diri. Jika kita sudah berpuas diri dengan apa yang kita kerjakan, puas dengan posisi kita dalam pekerjaan, dan puas dengan hasil kerja kita, bisa-bisa kita akan mengalami kelumpuhan karir, sebab tanda awal dari kelumpuhan karir adalah berpuas diri. Memang Alkitab mengajarkan kepada kita untuk mengucap syukur dalam segala hal. Namun hal tersebut bukan berarti membuat kita berhenti dan berpuas diri. Masih ada kesuksesan besar yang perlu kita raih. Masih ada jenjang karir yang lebih tinggi yang perlu kita capai. Masih ada potensi dalam diri yang perlu kita tingkatkan.
Kelumpuhan karir hanya akan membuat potensi diri kita mati dan tidak berkembang.

Selasa, 20 April 2010

"PERSAUDARAAN YANG RUKUN"

“DAMAI ITU INDAH”


Saya mengawali khotbah ini dengan sebuah ceritera dongeng, suatu hari dewa wisnu, yang sudah bosan mendengarkan permohonan seorang penyembah, lalu ia menampakkan diri dan berkata: “ Sudah kuputuskan . Aku akan memberikan kepadamu 3 hal, apapun yang kau minta. Sesudah itu, tidak ada sesuatupun yang akan kuberikan kepadamu lagi. Dengan gembira, penyembah itu mengajukan permohonan yang pertama. Ia meminta isterinya mati krn sangat cerewet, supaya ia dapat menikah lagi dengan wanita yang lebih muda dan baik. Permohonannya dikabulkan dengan segera. Tetapi ketika teman-teman dan sanak saudaranya dating menghadiri pemakaman isterinya, mereka memuji-muji kebaikan isterinya itu, mendengar semua pujian itu ia mengingat kembali sifat isterinya. Kemudian ia menyesal karena telah bertindak gegabah. Saat itu ia menyadari bahwa dulu ia buta terhadap segala kebaikan isterinya. Maka ia memohon, agar dewa menghidupkan kembali isterinya itu. Sesuai dengan janji, sang dewa mengabulkan permintaannya dan isterinya hidup kembali. (namanya pun dongeng). Kini kesempatan hanya tinggal satu. Dia bermaksud tidak melakukan kesalahan untuk kedua kalinya, karena ia sudah tidak sempat memperbaikinya lagi. Lalu ia meminta nasehat dengan bertanya kemana-mana. Beberapa kawan menasehatkan agar ia meminta diluputkan dari kematian. Semula ia setuju dengan itu, tetapi seorang teman mengatakan, untuk apa hidup terus kalau sakit, karena itu lebih baik memohon kesehatan. Ada yang menasehatkan bahwa yang paling penting dalam hidup adalah uang. Uang dapat mengatur segala-galanya kata temannya itu.
Bulan demi bulan, tahun demi tahun berlalu tanpa ada keputusan mengenai apa yang harus dimintanya. Akhirnya, ia menyerah dan berkata kepada dewa: “ berkenanlah kiranya dewa memberi nasehat, dewa tertawa dan berkata: hai manusia, mintalah hati yang damai, entah apapun yang terjadi, yang penting ada damai”.
Begitu pentingnya “damai itu”. Aplikasi dan implikasi ceritera diatas menunjukkan bahwa; tua atau muda, kaya atau miskin, pejabat atau rakyat, dokter atau pasien, sama-sama membutuhkan hati yang damai.
Ingat orang muda yang kaya dalam Mateus 19: 16-26. Dia masih muda dan kaya. Namun dia tidak merasakan damai di hatinya. Itulah sebabnya dia datang kepada Yesus dan bertanya: “Guru yang baik, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal..?” Dalam pertanyaan

itu tersirat kehausan akan damai dan kepastian akan keselamatan. Karena tidak adanya jaminan keselamatan, maka hatinya tidak aman dan tidak damai.
Ingat juga tentang Zakeus dalam Lukas 19: 1 – 10, Zakeus adalah kepala pemungut cukai yang sangat kaya. Tetapi rupanya ia tidak bahagia dengan segala kedudukan dan kekayaannya itu. Karena itu, dia mencari hati yang damai. Ketika Yesus lewat dari kotanya Yeriko, Zakeus berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu. Dia sudah mendengar tentang segala pekerjaan dan keajaiban yang dilakukan Yesus. Karena dia pendek dia memanjat pohon supaya dapat melihat Yesus secara langsung. Disini harga diri sudah ditinggalkan, gengsi tidak perlu lagi dipertahankan, yang penting “penyakit” dapat disembuhkan. Tanpa di sangka-sangka Yesus

menawarkan kepada Zakeus, lebih dari yang ia cari, Yesus berkata: Zakes, segeralah turun, sebab hari ini, Aku harus menumpang di rumahmu”. Pucuk dicinta ulam tiba, sesudah Yesus dating dan makan dirumahnya, Zakeus berubah menjadi manusia baru. dst
Ingat juga ceritera tentang Simeon yang tua, yang benar dan yang soleh itu ( Luk 2: 21-40). Ketika Maria dan Yusuf membawa Yesus ke bait Allah, sesuai dengan hokum Musa, Simeon menantang anak itu sambil berkata:”sekarang, Tuhan, biarkanlah hambaMu ini pergi dalam Damai Sejahtera, sesuai dengan FirmanMu, sebab mataku telah melihat Keselamatan yang dari padaMu”. Jadi Simeon yang sudah sangat tua itu juga mencari Damai di hati, dan hanya dia peroleh setelah bertemu dengan Yesus.
Jadi, sekali lagi, kita tanpa kecuali: tua atau muda, kaya atau miskin, pelacur, penjahat, perampok, orang percaya atau tidak percaya, semua membutuhkan hati yang damai.

Pada sat Gusdur menjabat Presiden, dalam pembukaan Konfrensi tentang Rekonsiliasi pernah mengatakan:
“Prinsip mendasar dalam merekonsiliasi adalah pengampunan terhadap lawan politik. Dengan adanya pengampunan, segala masalah dapat diselesaikan dan bersama-sama membangun masa depan suatu bangsa.”
Bahwa dasar rekonsiliasi adalah pengampunan, dan hal ini sudah terbukti ampuh. Di Afrika Selatan ketika Nelson Mandela, yang disiksa lawan-lawan politiknya selama berpuluh-puluh tahun terpilih menjadi presiden, dia justru mengampuni musuh-musuhnya itu, Pengampunan terhadap lawan-lawan politik seperti itu, di praktekkan juga di Korea Selatan, segera sesudah Kim Da Jung terpilih menjadi presiden, dia memberikan grasi kepada dua mantan

presiden yang pernah menindas dan memenjarakannya. Tindakan pengampunan kepada musuh-musuh yang dilakukan kedua pemimpin diatas sangat penting artinya dalam rangka rekonsiliasi.
Agama Kristen dapat menyumbangkan ajaran tentang Pengampunan (forgiveness) sebagai prasarat rekonsiliasi, apalagi di tengah-tengah gereja. Hannah Arendt, seorang ahli filsafat politik Jahudi menegaskan bahwa: “The discoverer of the role of forgiveness in the realm of human affairs was Jesus of Nazareth” ( penemu ajaran tentang pengampunan dalam hubungan antar manusia adalah Yesus dari Nazaret). Salah satu inti pengajaran Yesus adalah pengampunan (Mat 6: 12). Kuasa pengampunan yang diajarkan Yesus itu memang luar biasa, ini dapat kita lihat sewaktu Yesus disalibkan. Disekitar bukit tengkorak (Golgata) tempat Yesus disalibkan, serdadu-serdadu itu mengolok-olok Dia, Pemimpin Jahudi mengolok-olok mengejek Dia (Luk 23:35). Tetapi pada puncak penghinaan dan penderitaan itu Yesus mengucapkan sebuah doa kepada BapaNya “ Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Mendengar doa yang “aneh” ini seorang penjahat yang tersalib di sebelah kananNya langsung berubah (bertobat), dan memohon kepada Yesus, “Yesus, ingatlah akan daku, apabila Engkau dating sebagai Raja.” Mengapa penjahat itu berubah( bertobat)…? Dia terharu karena Yesus mendoakan musuh-musuhNya. Bagi orang Jahudi dan bagi peradaban dunia pada waktu itu, hokum yang berlaku adalah hokum pembalasan: mata ganti mata, gigi ganti gigi (Kel 21:24). Tetapi Yesus mengajarkan hokum yang baru:..” Kasihilah musuhmu, berbuat baiklah kepada orang yang

membeci kamu, mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu, berdoalah bagi orang yang mencaci kamu” (Luk 6: 27-28).

Jika ajaran Yesus ini dapat kita terapkan dalam persekutuan gereja dan persekutuan dalam pekerjaan, alangkah indahnya PERSAUDARAAN YANG RUKUN, sebagai mana diungkapkan pemazmur dalam Maz 133: 1 . Tugas kesaksian (marturia) gereja tidak terlepas dari kualitas persekutuan (koinonia). Dalam nats ini kehidupan persekutuan dan persaudaraan yang rukun digambarkan dengan menggunakan 2 zat cair; yaitu minyak yang baik dan embun gunung.
Penggunaan minyak sering kita jumpai dalam Perjanjian Lama, dipakai untuk melaksanakan pengurapan dalam peristiwa ibadah kepada seseorang yang akan memangku jabatan istimewa. Misalnya dalam 1 Samuel 10:1; Samuel menuangkan minyak atas kepala Saul ketika ia memangku jabatan sebagai raja. Minyak juga dipakai untuk menahbiskan seseorang untuk jabatan imam. Itu berarti bahwa

minyak dipakai sebagai lambang pengurapan dari Roh Kudus, sehingga melalui minyak yang dituangkan dalam persekutuan ibadat menandai kehidupan yang diurapi sebagai seorang hamba Tuhan ditengah-tengah jemaat.

Kerukunan tidak akan dapat terwujud dalam kehidupan manusia, jika kehidupan persekutuan kita belum menjadi kehidupan yang diurapi oleh Tuhan Allah.
Embun gunung secara umum dipakai untuk menggambarkan kesegaran dalam kehidupan ini. Bukankah kini banyak orang setelah melewatkan hari-hari kerja yang penat, ingin

berekreasi di daerah pegunungan yang sejuk…? Sapuan embun gunung dapat memacu semangat dan kesegaran untuk melanjutkan tugas yang baru. Dalam Hosea 14: 6; Allah digambarkan sebagai embun bagi Israel, yaitu: Aku akan seperti embun bagi Israel, maka ia akan berbunga seperti pohon hawar.” Berarti, embun gunung juga mempunyai fungsi untuk menyuburkan tanaman. Dalam konteks ini kerukunan tidak akan dapat terwujud, jika masing-masing individu tidak mampu hadir seperti embun gunung. Sering kehadiran kita seperti panasnya api atau bara api; sehingga dalam setiap kali kehadiran kita, jusstru membawa Suasana antipati. Di tengah-tengah persekutuan kita sering tidak mampu untuk membawa perasaan dan suasana yang segar. Kehadiran kita menjadi kehadiran yang tidak diharapkan orang lain. Itulah sebabnya dengan keadaan yang demikian, kehadiran kita tidak mungkin dapat menghasilkan sesuatu yang membangun dan produktif bagi kehidupan sesama.

Kerukunan dalam persekutuan persaudaraan juga tidak akan dapat terwujud, jika kita kurang rendah-hati. Kita perlu belajar dari kecenderungan gterak minyak maupun embun gunung. Kedua-nya senantiasa bergerak “turun”. Disebutkan dalam ayat2-3, bahwa minyak yang baik diatas kepala meleleh ke janggut… dan leher jubah Harun. Dan embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion.

Kita mengetahui bahwa umat Israel terdiri dari duabelas suku. Jumlah suku tersebut dapat dipakai untuk mengambarkan kemajemukan (pluralitas) dalam kehidupan persekutuan umat Allah. Jika hidup kita merupakan kehidupan yang diurapi dan membawa kesegaran bagi sesame, maka kita akan mampu hidup bersama secara

rukun dalam kemajemukan. Bik kemajemukan dalam pandangan hidup, adapt-istiadat, pendidikan, keyakinan agama, maupun usia dan pengalaman. Sebab masaing-masing insane bersedia untuk saling mengakui dan menerima keunikan dan keberagamaan itu dihayati sebagai bagian yang utuh dari kehidupan ini. Amin
Pdt. R.H.L. Tobing.

"EMOSI"

Amsal 16: 32

Kitab Amsal adalah nasehat yang praktis dalam kehidupan, suatu kumpulan peribahasa yang penuh hikmat yang ditulis oleh Salomo yang tujuannya ialah – untuk mengetahui hikmat dan didikan (1.2) – pendidikan bagi orang-orang yang belum berpengalaman …1:4 - menambah ilmu bagi yang bijaksana 1:5. j. Sitlow Baxter dalam bukunya menggali isi alkitab menyatakan bahwa Amsal ini adalah yang menjungjung tinggi hikmat, yang dirangkai sebagai perumpamaan orang pandai yang menggunakan kata-kata yang terpilih guna merumuskan suatu hikmat dalam kalimat pendek. Hikmat disembunyikan dalam perumpamaan atau kiasan yang sifatnya sebagai sumur yang dalam atau seperti tambang yang kaya raya. Amsal berbeda dengan Mazmur :
• Mazmur digunakan untuk peribadatan
• Amsal diperuntukan buat peoman sehari-hari.
Dimana dipergunakan untuk mengajar orang agar bijak karena mengetahui hukum. Dapat kita baca bahwa kitab amsal ini dimulai dengan nasehat yang mengatakan: untuk memperoleh pengetahuan dan hikmat pertama-tama harus mempunyai rasa hormat dan takut akan Tuhan (1:7) kitab ini juga mempunyai makna menata tatanan kehidupan manusia baik secara pribadi, keluarga, dan masyarakat. Kebenaran dan keadilan serta kejujuran diharapkan oleh pengamsal menjadi bagian dari tatanan kehidupan manusia. Harapan tersebut merupakan renungan dan pengamalan yang dalam terhadap Situasi yang tidak kondusif, Situasi penderitaan, penindasan dan sikap ketidak pedulian terhadap sesama, sehingga munculnya tatanan masyarakat yang buruk (Amsal 5; 6:20-35). Terhadap kebobrokan dan situasi yang kurang menyenangkan tersebut maka dicari solusi yang benar dan tepat dalam neraca : Takut akan Tuhan (1:7). Jika takut akan Tuhan akan memiliki sifat-sifat seperti: rendah hati, sabar, menghargai orang lain dan setia terhadap teman.
Dari manakah datangnya kekerasan, sengketa dan perselisihan dan perpecahan..? Dalam 1 Kor 1: 10-13; 6:1-8 dijelaskan jemaat itu terbagi karena merebutkan Pimpinan, Dalam Galatia 5:15 orang-orang kudus di Galatia saling menggigit dan menelan. Dalam jemaat di Filipi dua wanita bertengkar dan mengakibatkan perpecahan dalam jemaat (Fil 4:1-3). Benar kata Yakobus 4: 1 bahwa datangnya pertengkaran itu adalah dari hawa nafsu yang saling berjuang didalam tubuh, itulah emosi, iri hati dan memetingkan diri sendi. Amin

Rabu, 07 April 2010

BERTUMBUH DALAM ANUGERAH DAN PENGENALAN AKAN TUHAN

II Petrus 3 : 18 - Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. BagiNya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.
Agar kita tidak berkutat dan hanyut dalam realita hidup yang sulit dipahami, maka kita harus bertumbuh seperti bunga bakung sekalipun tumbuh di bawah pohon yang rimbun, semua mata tertuju pada pohon yang besar, bunga bakung tidak pernah dipedulikan tapi ia tetap bertumbuh sesuai kodratnya.
Di mana lokasi/zona yang Tuhan inginkan untuk kita bertumbuh? Kita harus bertumbuh dan memiliki Kualitas di areal:
1. Kasih karunia (= anugerah-TL, grace-bahasa Inggris, kharis-bahasa Yunani).Artinya satu titik pandang/tujuan, yang di dalamnya terdapat pemberian, berisi kemurahan hati, suasana senang, keramahan, roh rasa syukur bahkan berisi makna-makna faedah/ keuntungan.Bagaimana bentuk anugerah?
Salah satu keuntungan jika kita berada di zona anugerah: Efesus 2 : 8, kita berjubahkan selamat (= sôzô-bahasa Yunani; be make whole), ketika kita berada di areal anugerah kita memiliki semua yang tampak, yang belum tampak bahkan yang tidak tampak; tapi Tuhan tahu kita memerlukannya. Di dalam gudang sôzô tersimpan semua kebutuhan kita. Betapa berbahagia kita selamat, berada di anugerah yang sebenarnya kita tidak layak untuk menerimanya tapi Allah sediakan. Namun perlu kita perhatikan Filipi 1 : 29 bahwa pemberian itu juga mempunyai warna; dimana kita harus rela juga menderita.
Mazmur 105 : 37. Pada waktu orang Mesir mulai kejam, memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat membangun kota perdagangan, mereka ditekan, dianiaya tapi apa yang mereka kerjakan dibuat berhasil oleh Tuhan, Mesir menjadi kota terkenal di seputar Laut Tengah. Pada waktu Tuhan membawa mereka keluar dari Mesir mereka membawa hampir seluruh kekayaan Mesir.
2. Pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita.
Pengenalan; knowledge = pengetahuan; gnôsis-bahasa Yunani, diangkat dari kata ginôskô yang artinya memahami dengan pasti; Daniel 2 : 11 - 16. Di tengah ancaman kematian: Daniel menyerahkan tubuh, jiwa dan rohnya kepada Tuhan, tidak ada satupun yang ia sisakan untuk dirinya dan Tuhan nikmati ginôskô dengan Daniel sehingga Tuhan bukakan semua rahasia dan dia bisa mengartikan mimpi dari raja Nebukadnezar.
Kisah Para Rasul 12 : 3 - 5, Petrus ditangkap oleh raja Herodes Agripa I dan ia meng-hadapi hukuman pancung sesudah Paskah tapi Tuhan melepaskannya dari penjara karena ia mau mengenal Tuhannya, ia lepaskan tubuh, jiwa, rohnya kepada Tuhan, ia alami ginôskô dengan Tuhan.
Di banyak kesempatan Tuhan ingin melihat sikap kita untuk menikmati persekutuan yang intim dengan Tuhan, melepaskan tubuh, jiwa, roh kita kepada Tuhan, bukan hanya sekedar percaya, mengimani dan ber-doa tapi juga melepaskan yang sebenarnya merupakan bagian Tuhan seperti seorang wanita menyerahkan kepemilikannya pada suaminya sehingga ia alami ginôskô. Ketika kita lepaskan semua bagian kita pada Tuhan dan menyerahkan kepemilikan karena kita mau wujud-nyatakan kasih kita pada Tuhan sehingga kita akan nikmati ginôskô, Tuhan bisa merasakan kalau kita tulus atau tidak. Matius 7 : 22 - 23, mereka ini aktif tapi tertinggal di luar karena kekuatiran mereka serahkan pada Tuhan tapi semua yang menyentuh jiwa, roh dan tubuh tidak mereka serahkan dan Tuhan berkata, ”Aku tidak pernah ginôskô denganmu”.
3.Kita senantiasa mau Merendahkan diri di hadapan Tuhan;jangan mengandalkan Pikiran dan Kekuatan kita. (I.Pet 5:6 Jak 4: 10)Maukah kita bertumbuh di dalam kharis dan ginôskô? Praktekkanlah 5 M dalam kehidupanmu. Mendengar(Rom10:17):Membaca(Jes 34:16):Menghayati(Rom10:9-10;IITim3:16):Mempercayai(Rom1:16):Melakukan (Yak 1:22-23; 2: 17) INTAN SURGAWI
Setiap hari kita harus memiliki kerendahan hati untuk mau diajar seperti seorang murid. Kesombongan adalah musuh berbahaya bagi perbaikan diri. Amsal 2 : 10. Memandang positif masa depan adalah lebih baik daripada mengenang perbuatan negatif masa lalu. Jadikan kegagalan masa lalu pemacu semangat meraih sukses masa depan penuh harapan. Dengan yakin kita dapat berkata Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku ? Ibrani 13 : 6.
Amin: Pdt. R.H.L. Tobing.