Rabu, 17 Maret 2010

ROH KUDUS

ROH KUDUS ( HOLY SPIRIT)

Pendahuluan:

Tuhan Allah mencurahkan RohNya dan bekerja serta berdiam dalam hidup kita. Kehadiran Roh Kudus dalam hidup kita menuntut pembaharuan, tidak hanya dalam teori tetapi dalam praktek hidup, dalam perilaku sehari-hari dan dalam kesaksian hidup.
Kehadiran Roh Kudus dalam hidup kita hendaknya memberi dampak positif bagi hidup kita dan lingkungan kita, pembawa Kasih, Sukacita, Damai Sejahtera serta menjadi saluran berkat Tuhan bagi setiap orang.
Dari hidup orang Kristen yang telah menerima berkat keselamatan/kesembuhan Ilahi (Blessing Divine Healing) dari Allah melalui pengorbanan Tuhan Yesus oleh karena Kasih-Nya yang tiada taranya, haruslah kita menjadi berkat dan pelita bagi orang lain, dan ini dapat kita lakukan hanya melalui bimbingan Roh Kudus.
Mungkin timbul dalam hati kita satu pertanyaan atau suatu kerinduan, bagaimana agar pekerjaan Roh Kudus atau agar Tuhan Yesus hidup dalam hati kita dan kita hidup di dalam Dia..? Jawabannya singkat “ Dia harus tinggal dan hidup di dalam kita”, berarti kita harus memberi tempat dalam hati kita untuk Dia berkarya dan kita harus tinggal dan hidup dalam Dia. Kristus yang berkuasa dalam hidup kita, sehingga kita dapat berkata “not I but Christ” Gal 2:20.

Peranan roh kudus mutlak diakui baik dalam Perj. Lama dan Perj. Baru. Namun banyak orang kristen melalaikan bahkan menyia-yiakan Pribadi, Kuasa dan Manifestasi Roh Kudus. Jemaat Tuhan yang tidak menghargai Roh Kudus menjadi jemaat yang mati, sebaliknya kalau jemaat Tuhan menghormati Roh Kudus akan menjadi jemaat yang hidup, karena Roh Kudus dapat membangkitkan KUASA- Kuasa untuk sukses, Kuasa untuk hidup berkemenangan.

Satu teladan yang baik dari kehidupan Daud dalam menghormati dan menghargai Roh Kudus tertulis dalam Maz. 51:13, …”janganlah mengambil RohMu yang kudus dari padaku…!” Daud sadar tanpa Roh Kudus hidupnya akan berantakan, sebab itu ia mengutamakan Roh Kudus diatas segala-galanya.

Dalam Perjanjian Baru, kita temukan penekanan yang sangat penting berkatian degan pokok Roh Kudus.
“Kamu akan beroleh Kuasa, kalau Roh Kudus turun atas kamu…” Kisah 1:8. oleh karena Roh Kudus menyertai hidup seseorang maka orang itu dapat memiliki Kuasa untuk mengalahkan yang jahat, Kuasa untuk menghancurkan musuh dan kuasa untuk memasuki hidup yang sukses dan bahagia. Roh kudus mutlak kita perlukan dalam hidup dan Pelayanan kita. Tanpa Roh Kudus kita tidak mempunyai kuasa.
Roh Kudus adalah Roh Kebenaran yang diberikan oleh Allah dan Roh itu akan bersaksi tentang Yesus dan Dia akan menolong, menyertai dan tinggal didalam setiap orang percaya. sejak pada awalnya, Alkitab memperkenalkan kepada kita Roh Allah itu. Dalam kejadian 1:1-2: “pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong (tak didiami): gelap gulita menutupi samudra raya (lautan yang mula-mula) dan ROH ALLAH melayang-layang diatas permukaan air”.

Di sini kita lihat bahwa Roh Kudus bukan sekedar suatu “Kuasa” atau “Pengaruh” yang sewaktu-waktu digunakan. Roh kudus adalah satu oknum ilahi yang mempunyai PRIBADI sama derajatnya dengan Allah Bapa dan Allah Anak. Roh kudus adalah pribadi ketiga dari Ketritunggalan Allah. Ia layak dihormati dan dihargai sama seperti menghormati Allah Bapa dan Tuhan Yesus.

Kurang pengertian mendalam mengenai Pribadi Roh Kudus, menyebabkan banyak orang kurang menghargai dan menghormati keberadaan Roh Kudus.
Pada hal “kunci utama kepada perkembangan dan pertumbuhan Gereja” adalah pada penghormatan dan penghargaan yang tinggi pada pribadi Roh Kudus ( Respect to personality of Holy Spirit)”. Memang masih banyak orang yang masih meragukan keberadaan Roh Kudus, akan tetapi sebagai anak-anak Allah, kita harus mengenal Dia dengan benar. ( Rom 8 : 9, 15 dan Johannes 14 : 16 – 17).

Peranan Roh Kudus dalam kehidupan orang Percaya:

Dalam I. Korint 3: 16; 6: 19 diterangkan bahwa tubuh kita adalah BaitNya, jika kita dipenuhi Roh Kudus, maka Dia tinggal dalam kita.
 Roh Kudus menyembuhkan I. Kor 12:9, Roma 8:11.
 Roh Kudus membebaskan orang percaya dari ikatan dosa. Roma 8: 2.
 Mengubah kita sehingga kita memiliki karakter Yesus. Menghasilkan buah. Gal 5:22-23.
 Penolong dan Mengajar segala Kebenaran. Joh 14: 16-17; 26.
 Memimpin anak-anak Allah. Roma 8:16.
 Menyucikan I. Pet 1: 2; II Tes 2: 13.
 Menolong dan membimbing dalam doa. Roma. 8: 26-27.
 Roh Kudus itu memberi dorongan bagi kita untuk bersaksi. Kisah 1: 8; 5: 32, I. Kor 12:3. Dan masih banyak lagi yang dapat diungkapkan oleh Alkitab, Karena itu hargailah dan terimalah Roh Kudus sebagai pribadi Allah dan sambut Dia dalam hidupmu.

Bagaimana kita Menghidupkan Roh Kudus itu dalam kehidupan kita…?

1. Bertobat dan taati Dia Kis 2: 38; 5: 32.
2. Serahkan dirimu menjadi persembahan yang Kudus. Roma 12: 1-3.
3. Terapkan 5 M.
4. Jangan padamkan Roh I. Tes 5: 19
5. Jangan mendukakan Roh Kudus. Efesus 4: 30.
6. Jangan menentang Roh Kudus. Kis 7: 51.

Amin. RHL. Tobing.

BERPIKIR POSITIF

Khotbah Pembukaan Sidang MPL PGIW Jabar

Salah satu dari fakta paling penting dan kuat mengenai diri kita diekspresikan di dalam pernyataan berikut ini oleh William James, yang merupakan salah satu dari sedikit orang bijaksana yang pernah dihasilkan oleh Amerika. William James berkata: “Penemuan terbesar dari generasi saya adalah bahwa manusia dapat mengubah hidup mereka dengan mengubah sikap pikiran mereka.” Sebagaimana Anda berpikir, begitulah Anda jadinya.
Jauh sebelum penemuan William James, mengubah hidup dapat dilakukan dengan pembaharuan budi seperti yang tertulis dalam Alkitab, Roma 12: 2; “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Artinya, dengan pembaharuan budi, sikap-perilaku kita akan berubah ke arah sikap-perilaku yang berkenan kepada Allah. Berkenan kepada Allah berarti sikap pikiran kita positif menerima keadaan kita dalam kondisi apapun di kehidupan ini. Sebagaimana Anda berpikir, begitulah budi Anda, begitu jugalah akhlak/watak/tabiat Anda, itulah gambaran siapa Anda sesungguhnya.
Secara teoritis, ungkapan ini memberikan pengertian bahwa budi – akal/nalar – merupakan pola pikir: alat batin yang merupakan panduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk; yang melahirkan sikap-perilaku. Sikap-perilaku ini akan tercermin dalam perbuatan dan tindakan, yang menggambarkan siapa kita sebenarnya. Secara praktis, pola pikir merupakan cara seseorang mengeluarkan (mengungkapkan) pendapatnya dalam ucapan, perbuatan dan tindakan untuk merespons lingkungannya dan orang lain di sekitarnyasuatu cara tindak (course of action) dalam menyampaikan sesuatu dalam ucapan (kata-kata), perbuatan dan tindakan. Oleh karena itu, seseorang dapat dinilai apakah ia baik, buruk, elegan, smart, bijak, keras kepala, sombong, egois, emosional, dsb dari sikap-perilakunyadari perbuatan dan tindakannya.
Kurt Lewis, seorang psikolog terkenal dari Amerika Serikat menyatakan: “Seseorang akan berperilaku menurut apa yang menguntungkan bagi dirinya untuk merespons keadaan lingkungannya dan orang-orang di sekitarnya.” Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa pada dasarnya seseorang akan melakukan tindakan apa saja yang mendatangkan keuntungan bagi dirinya dan kelompoknya, dan ia juga akan berbuat apa saja untuk mempertahankan eksistensi dirinya maupun kelompoknya dari serangan luar (orang lain/komunitas lain di sekitarnya). Oleh karena itu, apabila ada seseorang menyatakan bahwa Si A bersalah, Si A akan berupaya berbuat dan bertindak menurut pola pikirannya sendiri untuk mengungkapkan bahwa ia tidak bersalah, walaupun sebenarnya ia bersalah. Dalam keadaan terjepit dan terpojok (mendapat kritikan atau serangan dari orang lain), Si A akan berupaya untuk mempertahan diri dengan mengemukakan kebenarannya menurut pola pikirnya. Dalam mengharapkan sesuatu atau dukungan dari orang-orang di sekitarnya, Si A akan memunculkan watak silumannya dengan menyembunikan watak aslinyamenunjukkan siapa ia dari sisi baiknya, bahkan bila perlu dengan menggunakan potensifund and forces yang ia miliki untuk menampakkan siapa dirinya bagi orang-orang di sekitarnya. Hal lain adalah, bila Si A tidak mendapatkan dari orang-orang di sekitarnya sesuai dengan apa yang diinginkannya dari mereka, Si A dapat bertindak apatis, menunjukkan tidak bersahabat, mengungkapkan sisi negatif mereka yang tidak disenangi tanpa instropeksi diri dengan bertanya pada diri sendiri: mengapa mereka tidak memberikan/mendukung/melakukan yang sesuai dengan keinginan saya? Hal inilah yang menciptakan ketidakharmonisan, saling curiga, ketidakpercayaan, kedengkian dan sebagainya di tengah pergaulan dan di kehidupan sehari-hari, juga di tengah organisasi (pekerjaan), yang pada akhirnya bermuara pada penghancuran kepentingan bersamakepentingan yang lebih besar dan utama.
Pola pikir dapat membawa kita ke arah keselamatan dan kebahagiaan di satu sisi, dan ke arah ketidaknyamanan dan kehancuran diri sendiri dan kelompok di sisi yang lain. Pola pikir yang membawa kita ke arah kedamaian dan kebahagian adalah pola pikir dengan prinsip “berpikir positif (positive thinking)”penuh kedamaian, persahabatan, care-ness, dan tidak impulsif. Sementara pola pikir ke arah kehancuran adalah berpikir negatifsarat dengan kecurigaan, tidak peduli, tidak bersahabat, dan impulsif.
Menurut Norman Vincent Peale, seorang pendeta dari Amerika Serikat, dalam bukunya “Berpikir Positif” (The Power of Positive Thinking)” – terjual lebih dari 15 juta eksemplar – menyatakan: “Pikiran yang damai menghasilkan kekuatan.” Kedamaian merupakan kekuatan (energi) yang memberikan kita suatu ketenangan batin dan kewaspadaan. Dalam keadaan batin/perasaan kita tenang, kita akan mampu mengkaji dan menganalisis suatu keputusan apa – perbuatan dan tindakan – yang sepatutnya kita lakukan. Konteksnya adalah: kita akan mampu memahami apa yang kita lakukan, bagaimana kita melakukan, dan memahami risiko apa yang mungkin muncul sebagai konsekuensi logis dari perbuatan dan tindakan kita tersebut bagi diri sendiri dan orang lain.
Sejalan dengan pemikiran Peale, Stephen R. Covey dalam bukunya “Kepemimpinan yang Berprinsip” menyatakan: “Orang-orang berprinsip menikmati hidup. Oleh karena rasa aman mereka datang dari dalam, tidak dari luar, mereka tidak perlu mengkotak-kotakkan orang dan menyamaratakan segala sesuatu dan semua orang dalam hidup ini untuk memperoleh rasa pasti. Mereka pada dasarnya tidak dapat dipengaruhi dan mampu untuk menyesuaikan diri pada hampir semua hal yang sedang terjadi. Salah satu prinsip baku mereka adalah fleksibilitas. Mereka menjalani kehidupan yang berkelimpahan.” Pernyataan ini sejalan dengan konsep berpikir positif. Artinya, banyaknya harta, kedudukan/jabatan yang tinggi, dan pekerjaan yang mapan bukan jaminan untuk mendapatkan kedamaian, rasa pasti, dan kehidupan berkelimpahan. Akan tetapi, untuk mendapatkan kesemuanya itu bersumber dari sikap pemikiran positif yang muncul dari dalambersumber dari pola pikir manusia yang positif dalam menyikapi (menerima) keadaannya.
Berpikir positif berarti memiliki sikap mental positif (SMP) dalam menanggapi dan merespons berbagai situasi/keadaan, apakah situasinya baik atau tidak, menyenangkan atau menyakitkan, bukan persoalan dan kendala yang tidak bisa diatasi bagi mereka yang berpikir positif. Seseorang yang berpikiran positif akan mampu menghargai pendapat orang lain dan tidak menganggap dirinya, pendapatnya, eksistensinya lebih berharga (lebih penting) daripada orang lain. Hal lain, orang yang berpikiran positif akan mampu menerima kritikan, dan menciptakan kritikan ini sebagai masukan (input) – sebagai stimulus – untuk memperbaiki dirinya. Oleh karena itu, seseorang dengan pikiran positif berarti ia mampu bersikap kritis-positif, kreatif-inovatif, dan logis-realistis dalam berbuat dan bertindak. Akan tetapi, persoalannya terletak pada: bagaimanakah cara tindak (course of action) agar kita mampu berpikir positif?
Banyak para psikolog terkenal di dunia seperti Sigmund Freud, Gordon Allport (1897 – 1967), Carl Rogers (1902- ), Erich Fromm (1900- ), Abraham Maslow (1909 – 1970), Carl Jung (1875 – 1961), Viktor Frankl (1905- ), Fritz Perls (1893 – 1970) menggali penemuan mereka dengan bersumber dari pemahaman keagamaan dan pengalaman hidup mereka masing-masing. Penemuan mereka di bidang “psikologi pertumbuhan” atau “psikologi kesehatan” pada dasarnya bertujuan bukan untuk merawat korban-korban neurosis dan psikosis, tetapi untuk membuka dan melepaskan potesi manusia yang sangat hebat supaya mengaktualisasikan dan memenuhi bakat-bakatnya serta menemukan dalam kehidupan ini suatu arti yang lebih dalam. Singkatnya, penemuan ini berusaha memperluas, memperbesar, dan memperkaya kepribadian manusia, benar-benar suatu perubahan dari tekanan sebelumnya. Yang menarik dari penemuan-penemuan mereka adalah suatu simpulan bahwa sikap pikiran manusia tumbuh dan berkembang bukan oleh obyek perubahan yang terjadi di tengah kehidupan manusia. Akan tetapi, pertumbuhan dan perkembangan pola pikir manusia terjadi oleh karena manusia – sebagai subyek perubahan – harus menghadapi tantangan perubahan itu sendiri untuk memenuhi kebutuhannya.
Dalam menghadapi tantangan perubahan, pola pikir – sikap pemikiran – manusia harus bertumbuh dan berkembang mengikuti sesuai dengan perkembangan dari perubahan itu sendiri. Sebab, sesuatu hal yang terjadi dahulu tidak sama dimensi persoalannya dengan hal yang terjadi pada sekarang ini. Suatu sikap pemikiran yang tidak sesuai dengan perkembangan perubahan akan memetik buah kegagalan. Contoh faktual adalah kegagalan sistem pendidikan tinggi di Indonesia yang lahir dari pemikiran lama, tidak positif menanggapi perubahan yang terjadi di tengah masyarakat Indonesia. Semakin banyak sarjana ekonomi bukan berarti perekonomian Indonesia semakin maju, malah semakin terpuruk ke dunia ketidakpastian. Semakin banyak sarjana hukum, bukan berarti sistem peradilan dan penegakan hukum di Indonesia semakin baik, bahkan hukum bisa diperjualbelikan. Semakin banyak sarjana teknik, bukan berarti semakin banyak produk-produk teknologi Indonesia yang masuk pasar global, bahkan Indonesia sangat tergantung dengan teknologi bangsa lain. Contoh ini memberi bukti kepada kita bahwa sikap pemikiran yang tidak mau berubah mengikuti perkembangan perubahan akan terbelenggu oleh pemikiran itu sendiri.
Menurut Firman Tuhan, cara tindak untuk melahirkan pikiran positif ada tertulis dalam Injil Lukas 6: 31, 38; yaitu, ayat 31: “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” Dan ayat 38: “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah keluar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”

Merujuk pada Firman Tuhan ini, bahwa untuk mendapatkan pikiran positif, ada beberapa “langkah tindakan” yang harus kita lakukan untuk membaharui sikap-perilaku kita ke arah sikap-perilaku positif, yaitu:
1). Berupayalah untuk selalu bersahabat dengan orang-orang di sekitar Anda, lingkungan Anda dan di manapun Anda berada;
2). Berupayalah untuk memahami mereka (orang lain di sekitar Anda) terlebih dahulu sebelum mereka memahami Anda;
3). Perbuatlah kepada mereka akan apa yang ingin mereka perbuat untuk Anda;
4). Berupayalah agar Anda tetap dalam keadaan terkontrolon going track, tidak mudah terpancing dan terpengaruh oleh hal-hal yang dapat merusak keadaan atau hal-hal yang menyakitkan bagi Anda;
5). Berupayalah untuk bersikap-perilaku bahwa mereka sangat penting bagi Andamereka sangat Anda butuhkan untuk mendapatkan keberhasilan bersama;

6). Berupayahlah untuk mengkomunikasikan tindakan dan perbuatan Anda adalah dalam rangka mendatangkan kebaikan bagi sesama, dan Anda harus terbuka untuk menerima kritikan dan menganggapnya sebagai masukan berharga untuk perbaikan; dan

7). Berupayalah untuk mengaplikasikan sikap pemikiran positif Anda dalam perbuatan dan tindakan sebagai (merupakan) pengejawantahan kasih, yakni suatu proses memberikan pencerahan bagi mereka untuk mendatangkan kekuatan dan keberhasilan bersamauntuk memperoleh kesuksesan sesuai dengan kepentingan dan tujuan bersama; the spirit of diversity.

Keberhasilan terapi ini sangat tergantung pada diri kita masing-masing, bukan pada orang lain. Akan tetapi, yang menjadi question mark-nya adalah: apakah kita mau berubah atau tidak? Apakah kita mau melakukan terapi tersebut? Hidup ini ibarat kita berada di tengah hutan belantara yang penuh dengan binatang berbisa dan buas yang siap melumatkan kita sebagai santapannya. Apakah kita takut menghadapi keadaan seperti itu? Tentu, namun semuanya sangat tergantung pada kita. Jika kita ingin berhasil keluar dari dalam hutan tersebut dengan selamat, kita harus berpikir positif, karena dengan pikiran kita yang positif, kita akan mampu menyikapi keadaan lingkungan kita yang banyak dengan binatang berbisa dan buas. Berpikir positif dalam menyikapi keadaan berarti kita mampu mendatangkan kekuatan dari dalam yang membuat kita tidak takut menghadapi datangnya ancaman. Melalui kekuatan dari dalam inilah yang memampukan kita untuk mencari solusi cara tindak – perbuatan dan tindakan – yang sesuai dengan keadaan untuk keluar dari keadaan (ancaman). Sekali lagi, semuanya terpulang pada diri kita masing-masing. Dengan pikiran positiftenang menghadapi berbagai tantangan dan ancaman, akan muncul kekuatan pada diri kita yang memampukan kita untuk mencari solusi dalam menerobos hambatan sehingga terbuka peluang ke luar dari tengah hutan tersebut dengan selamat. Sekali lagi, semuanya terpulang pada diri kita masing-masing.
Akhirnya, jangan pernah mengukur tinggi sebuah gunung sebelum Anda mencapai puncaknya. Karena, Anda kemudian akan melihat betapa rendahnya gunung itu (Dag Hammarskjold).

RHL. Tobing

BISA DIPERCAYA

Bacaan: Lukas,12:41-48

Orang yang dapat dipercaya mendapat banyak berkat, tetapi orang yang ingin cepat menjadi kaya, tidak akan luput dari hukuman.- Amsal 28:20
Siapa yang tak ingin menjadi orang yang dipercaya? Siapa yang tak suka menjadi orang kepercayaan Sang Big Boss? Orang yang ingin meningkatkan karirnya selalu ingin menjadi orang yang dipercaya. Masalahnya menjadi orang yang dipercaya bukanlah hal yang mudah. Lamanya kita bekerja, kepandaian kita, gelar ijazah kita, atau pengalaman kerja kita belumlah cukup untuk menjadikan kita orang yang dipercaya. Lalu bagaimana caranya supaya kita bisa menjadi orang kepercayaan atasan kita?
Satu, milikilah integritas. Kepercayaan dan integritas adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Tanpa integritas jelas kita tidak akan dipercaya. Integritas berarti memiliki karakter yang baik. Di jaman ini, karakter yang baik tetap jadi modal utama agar kita bisa dipercaya.
Dua, milikilah komitmen yang kuat. Tanpa komitmen, jelas kita tidak dipercaya. Bagaimana mungkin seorang atasan akan mempercayakan hal yang lebih besar kepada orang yang bermalas-malasan dalam bekerja?
Ketiga, jadilah orang yang berkompeten. Kompetensi artinya memiliki kualitas unggul dan andal. Tingkatkan terus kinerja kita. Gali potensi diri dan munculkan ide serta gagasan-gagasan baru. Orang yang berkompetensi biasanya menjadi kontributor utama dalam sebuah perusahaan. Itu sebabnya orang yang memiliki kompetensi akan selalu diprioritaskan dan dipercaya.
Keempat, miliki tanggung jawab. Maukah Anda memberi kepercayaan kepada orang yang tak bertanggung jawab? Jelas tidak! Bertanggung jawab adalah syarat mutlak agar kita bisa dipercaya. Jika kita masih diberikan tanggung jawab yang kecil, jangan meremehkan atau malah berputus asa. Kerjakan itu dengan sebaik-baiknya. Percayalah, jika kita bisa dipercaya dengan tanggung jawab kecil, pasti kita akan diberi tanggung jawab yang lebih besar. Ini sejalan dengan prinsip Alkitab yang mengajak kita untuk setia dalam perkara kecil karena dari situlah akan lahir perkara-perkara yang lebih besar.
Salah satu ciri orang sukses adalah bisa dipercaya.

Senin, 08 Februari 2010

"OBAT UNTUK HIDUP BENAR"

Kita kini hidup di era yang menganut nilai relativisme, suatu masa di mana berlaku ungkapan, “Tidak ada kemutlakan!” Dalam banyak hal, garis pemisah antara kebenaran dan kekeliruan telah menjadi kabur, jika tidak ingin dikatakan terhapus sama sekali. Tetapi, jauh di dalam lubuk hati, kebanyakan dari kita masih tetap dapat membedakan mana yang benar dan yang salah - paling tidak dalam beberapa aspek kehidupan.
Misalnya, tidak ada satu pun di antara kita yang rela seseorang mengambil sesuatu yang menjadi milik kita. Kita tidak suka dibohongi, dan ketidakjujuran cenderung menghancurkan hubungan di tempat kerja, di rumah, dalam jalinan persahabatan, dan dalam organisasi kemasyarakatan. Tak seorangpun dapat menerima apabila kerusakan mesin mobil dijadikan alasan pengalih kecerobohan pengemudi mabuk yang mengakibatkan seseorang cedera atau meninggal dunia. Kita sepakat memandang sebagai hal yang tercela, bila seorang eksekutif menjual rahasia perusahaan demi keuntungan pribadi. Atlet yang “bermain sabun” merekayasa skor pertandingan juga dikategorikan melakukan tindakan yang salah. Dan masih banyak hal salah lainnya yang dapat kita sebutkan. Mungkin tidak semua orang sependapat dalam setiap kasus, namun tampaknya kita semua mempunyai perasaan naluriah mengenai cara yang benar menjalani hidup - apa yang oleh Alkitab disebut sebagai, “kebenaran”.
Memandang perasaan tersebut secara positif, menyebabkan kebanyakan dari kita sependapat bahwa menolong seseorang yang sedang menghadapi masalah kesehatan, keuangan atau masalah-masalah lain adalah hal yang “benar”. Jika kita melihat seseorang sedang berada dalam ancaman serangan secara fisik, adalah tindakan tepat jika kita menolong orang tersebut. Demikian juga, kebajikan dan kasih, serta kalimat penghiburan dan dukungan, kita anggap sebagai hal yang “benar” dan dibutuhkan.
Namun, dalam banyak aspek kehidupan masalah benar dan salah tidak selalu dapat dengan mudah dibedakan. Lalu bagaimana kita merumuskan apa yang diperlukan untuk membangun suatu “hidup yang benar” manakala hal yang awalnya terpisah secara jelas dalam pola hitam-putih bergeser menjadi daerah “abu-abu” yang meragukan? Kitab Amsal memang tidak secara eksplisit memberikan panduan rinci menghadapi setiap kondisi, namun Kitab ini menyediakan prinsip dan panduan yang sangat membantu, yaitu:
Hidup dengan benar ditandai oleh pemilihan jalan yang benar. Seseorang yang menjalani kehidupan pribadi dan pekerjaannya berdasarkan standar moral dan etika yang tinggi dapat menjadi inspirasi bagi kita. Tidak jarang kita berusaha mencontoh perilaku terpuji para tokoh panutan karena bagi kita mereka telah meletakkan standar menjalani kehidupan dengan benar. Seperti diungkapkan dalam Amsal 4:18-19, “Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari. Jalan orang fasik itu seperti kegelapan; mereka tidak tahu apa yang menyebabkan mereka tersandung.”
Hidup dengan benar berarti setia berada pada jalan yang benar. Mereka yang sudah memutuskan untuk melakukan apa yang benar tidak terusik oleh hal-hal sepele atau menyimpang karena memilih jalan alternatif yang tampaknya lebih menggiurkan. Komitmen untuk hidup dengan benar menyebabkan mereka tetap berjalan di jalan yang sempit, dan tidak memilih jalan yang lebih menarik atau menguntungkan. Sebagaimana dicatat dalam Amsal 4:26-27, “Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan.”
Hidup dengan benar membuahkan imbalan. Meski imbalan yang diterima tidak selalu merupakan hasil hubungan sebab-akibat – yaitu kita menerima imbalan yang baik sebagai hasil melakukan sesuatu yang benar – sering juga imbalan dari menjalankan hidup yang benar kita terima dalam wujud yang kelihatan. Di samping imbalan nyata, kita juga berkesempatan mengenyam perasaan bebas dari rasa bersalah, kepuasan karena pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik, dan rasa hormat dari rekan sekerja sebagai “imbalan”. Hal ini ditulis dalam Amsal 21:21, “Siapa mengejar kebenaran dan kasih akan memperoleh kehidupan, kebenaran dan kehormatan”.
Hidup dengan benar tidak dibangun di atas dasar perasaan. Ungkapan masa kini berbunyi, “Jika Anda rasa baik, lakukan saja.” Emosi, tidak selalu dapat diandalkan. Emosi tak jarang memberi arahan yang keliru. Amarah dapat menyebabkan kita menyerang seseorang, dan itu bukan hal yang benar. Mungkin perasaan bahwa besar gaji yang kita terima tidak memadai itu benar, tetapi tidak berarti kita diperkenankan mencuri uang perusahaan. Amsal 16:25 mengingatkan: “Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut.”

Minggu, 07 Februari 2010

"Sebelum Bekerja mulailah dengan Firman"

Yohanes 1 : 1 - 3 -- Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikannya.
Yohanes 1 : 1, Indonesia sedang meng- alami carut-marut dalam segala bidang dan Tuhan sedang mencurahkan hatiNya bagi bangsa kita. Rasul Paulus katakan dalam surat Korintus bahwa kita adalah mitra kerja Allah. Oleh sebab itu pikiran jangan mau direbut Iblis, berpikir yang positif. Pada awal kita melakukan aktivitas ingatlah Firman Tuhan, itulah dasar. Jangan salah melangkah agar bisa sampai ke garis akhir. Itu sebabnya Tuhan katakan/menitik beratkan pada start awal yaitu Firman Allah, seperti dalam Kejadian 1 : 1. Waktu kita bangun pagi pikirkan Firman lalu renungkan Firman. Kalau belum menyembah Allah tapi memikirkan yang negatif, startnya salah.
Yohanes 1 : 2, kalau sang Firman identik dengan Allah sendiri bisa bekerja sama dengan terpadu, bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah bekerja sama dengan Allah ?
Yohanes 1 : 3, segala sesuatu meliputi banyak hal termasuk obsesi kehidupan dijadikan oleh Dia. Kalau awal dimulai dengan Firman, startnya benar. Sang Firman itu yang akan meneruskan cita-cita, obsesi kita. Kejadian 1 : 1, Allah mendesain segala sesuatu oleh Firman.
Yohanes 15 : 7 - Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firmanKu tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Kalau kita melibatkan Firman dalam kehidupan sehari-hari hasilnya dahsyat. Matius 5 : 5 - Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Orang yang memiliki hati yang lembut, setiap mendengar Firman pasti melakukan dengan baik. Hidup kekristenan harus lembut hati kalau keras hati tidak akan mendapat apa-apa, orang yang lembut hati akan memiliki bumi.
I Kortintus 3 : 16 - 17 -- Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu ?... kita dibawa menyatu, manunggal dengan Tuhan, kalau kita tempatkan posisi Kristus pada kehidupan sehari-hari, Iblis tidak akan suka. Kita punya Yesus yang luar biasa. Mazmur 37 : 3 - 4 -- Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Ciri khas orang Kristen tidak boleh lemah, inilah rentetan orang yang manunggal dengan Firman, bergembiralah oleh karena kita punya Tuhan Yesus.
Mulailah dengan Firman, segala sesuatu (kebutuhan masa depan sekalipun) dijadikan Tuhan, Tuhan yang menyediakan, Allah yang menjadikan semua dan tidak ada yang mustahil bagi Dia. Kita adalah mitra kerja Allah, Ia ingin kemuliaanNya ada dalam hidup kita.
Amin

Minggu, 31 Januari 2010

IMAN YANG MENGHASILKAN KEPATUHAN

Lukas 11: 28 — Tetapi Ia berkata: ”Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”
Kita bisa berdiri dengan baik kalau kita mempunyai sepasang kaki yang sama tinggi dan sama kuat. Demikian juga kita bisa berdiri di hadapan Tuhan dengan baik kalau kaki yang satu suka mendengar dan membaca firman Tuhan dan kaki yang lain senang melakukan-nya. Betapa sedih hati Tuhan karena banyak orang Kristen di akhir zaman yang tidak menyadari ia cacat di hadapan Tuhan, suka mendengar tapi tidak suka melakukan firman Allah. Ketika mendengar Tuhan berjanji kita menjadi pemenang, tapi orang itu tidak mungkin menjadi pemenang kalau tidak menghadapi pertempuran - ini yang orang Kristen tidak sukai- , peperangan yang terjadi itu akan menentukan orang Kristen itu menjadi pemenang atau tidak. Jika ingin menjadi pemenang pasti ada harga yang harus dibayar, peperangan Tuhan ijinkan untuk melatih agar kita memiliki otot-otot rohani yang kuat. Ia tidak jauh dari kita, Ia begitu kagum kalau kita bisa melewatinya (menjadi lebih dari seorang pemenang) bukan mundur dan tinggalkan Tuhan.
Ada beberapa jenis iman :
- Iman yang menyelamatkan Efesus 2 : 10, 8.
Allah sudah persiapkan pekerjaan yang baik sebelum kita lahir, itu sebabnya kita harus mempunyai iman. Iman yang timbul waktu mendengar firman Allah, menyambut dan percaya kepada firman Allah disebut iman pistis. Penjahat yang disalib disebelah kanan Yesus diselamatkan karena imannya telah menyucikan kesalahan. Firman yang ia imani menghasilkan keselamatan. Ini iman yang menyenangkan, hanya mendengar ia diselamatkan.
- Iman yang menghadirkan mujizat Matius 17:20.
Iman ini juga cukup menyenangkan, banyak orang yang ingin meraihnya. Ketika
berhadapan dengan gunung permasalahan, kita berkata pindah maka gunung ini akan pindah. Iman semacam ini sangat dibutuhkan setiap hari dan betapa bangganya kalau kita memiliki iman semacam ini.
- Iman yang menghasilkan ketaatan.
Tuhan tidak ingin kita hanya memiliki iman yang menyelamatkan dan iman yang meng-hasilkan mujizat. Tuhan senang kalau kita menjadi gandum unggul tapi betapa kecewa kalau gandum yang ada di atas meja per-jamuan tidak pernah memberi kesempatan untuk diolah menjadi roti. Dalam pesta Tuhan membutuhkan roti dari gandum yang bersedia digiling sampai halus. Yesaya 28: 28 ...gandum harus digiling untuk membuat roti... (Terjemahan Baru Internasional), di sini membutuhkan iman yang menghasilkan kepatuhan. Banyak yang tidak senang, proses iman yang menghasilkan kepatuhan sering merupakan jalan penderitaan, siksaan tapi berujung kepada sukacita, pesta kemenangan yang luar biasa.
Ayub 23:10. Tuhan yang paling tahu bagaimana mengelola hidup kita. Untuk memperoleh iman yang menghasilkan kepatuhan kita tidak bisa mengelak dari ujian. Jangan berharap menjadi emas murni kecuali harus menerima sekalipun api itu merugikan kita, bagian diri kita berubah ketika api menjilat sehingga kita tidak punya kebanggaan lagi tapi kita keluar sebagai emas murni. Waktu api melumat sampai habis kita tidak sendiri karena Tuhan ada di sana, Ia mengendalikan api itu.
II Raja-raja 8 : 1 - 6. Perempuan Sunem yang telah mengalami mujizat ketika ia mengimani perkataan nabi Elisa, ia yang semula mandul telah melahirkan bahkan ia sudah menikmati iman yang menghasilkan keselamatan, ia sudah bertanya kepada nabi Elisa untuk meninggalkan Sunem dan pergi ke Filistin selama masa paceklik 7 tahun dan Alkitab tidak pernah mencatat perempuan ini menderita di sana karena kepatuhan dan ketaatannya. Tapi justru pada waktu ia kembali ke Sunem, rumah dan ladangnya telah dirampas. Mungkin kita berpikir apakah ini hasil kepatuhan? Jangan berhenti sampai di situ karena ketika kita memiliki iman yang menghasilkan kepatuhan Tuhan menyedia-kan jalan keluar. Sementara raja Yoram mendengar kisahnya melalui Gehazi datanglah perempuan Sunem ini mengadukan masalahnya pada raja dan raja memerintah-kan pegawainya agar mereka yang merampas rumahnya mengosongkan rumah itu, membersihkan dan mengatur rapi, mereka yang merampas ladangnya harus diusir, dan hasil ladang selama tujuh tahun dikembalikan.
Iman yang menghasilkan ketaatan adalah iman yang akan mengangkat kita. Adakah kita terpuruk dalam soal iman, semangat, sukacita, pengharapan, kesehatan? Mungkin telah terbenam tapi ketika kita mengatakan Tuhan saya ingin memiliki iman yang menghasilkan kepatuhan sekalipun saya dirugikan, diper-katakan orang, Dia akan mengangkat kita dan mengadakan mujizat.

PENINGKATAN KUALITAS IMAN

Yakobus 1:12 - Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.
Pencobaan, gambarannya sama dengan anak-anak sekolah yang tepat pada waktunya mereka akan terima ulangan-ulangan dan ujian-ujian, semua akan mengalaminya. Bagaimana bisa dikenal kapasitas, potensi seseorang kalau tidak ada ujian? Demikian juga dengan perjalanan iman kita harus menghadapi ujian, suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju setiap hari ada ‘ulangan’. Tiap hari memang ada pencobaan bukan berarti Tuhan biarkan tapi supaya kekristenan kita meningkat. Yakobus sedang memberi gambaran tentang orang percaya/gereja dalam perjalanan iman melewati lorong-lorong penderitaan bahkan dalam perjalanan iman dijemput oleh binatang buas (orang-orang yang mengusik kita), tapi inilah warna perjalanan iman orang percaya, kalau mereka tidak mengerti firman Allah mereka akan seperti bunga rumput layu.
Yakobus didorong oleh Roh Kudus berkata berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan di sepanjang perjalanan mereka, kalau demikian orang percaya sebagai apa di mata dunia?
Kejadian 23:1-4, menurut pengakuan Abraham statusnya di mata orang-orang Kanaan adalah orang asing dan pendatang; orang percaya adalah orang pendatang, orang perjalanan. Sebagai orang perjalanan, istrinya mati ia tidakAbraham adalah orang yang taat pada Tuhan, ketika Sara mempunyai tanah untuk menguburkannya. Sekalipun Abraham sebagai orang pendatang dan ia sangat dihormati oleh bani Het (Kejadian 23:6) tapi Abraham tetap berlaku sopan, di mana pun Abraham berada kemuliaan Allah turun dan daerah itu menjadi daerah keberkatan. Pada waktu ditawarkan tanah untuk menguburkan istrinya, Abraham tidak mau gratis tapi mau membayar penuh tanah untuk menguburkan istrinya (Kejadian 23:5-9). Sebagai orang perjalanan kalau ingin memiliki sesuatu yang sangat berarti, kita harus bayar harga dengan pengorbanan kita, orang perjalanan yang memiliki ‘iman gratisan’ tidak akan tahan bantingan.
Sebagai orang pendatang sering kali dunia memperlakukan semena-mena. Kejadian 26:15 - Segala sumur, yang digali dalam zaman Abraham ... telah ditutup oleh orang Filistin dan ditimbun dengan tanah padahal jauh sebelumnya Abraham telah memberikan meterai dalam bentuk 7 anak domba kepada Abimelekh sebagai tanda bahwa sumur itu miliknya (Kejadian 21:30). Orang Filistin cemburu kepada Abraham karena di areal yang sama mereka melakukan penggalian tapi air tidak keluar lalu mereka menimbun sumur yang sudah digali Abraham dengan tanah. Hubungkan dengan Yosua 6:1 - Dalam pada itu Yerikho telah menutup pintu gerbangnya... inilah perlakuan dari dunia terhadap orang-orang perjalanan, bukan hanya sumur yang ditimbun tapi pintu ditutup. Kalau ini merupakan ‘ulangan’ dari Tuhan, terima dan kerjakan karena Ia adalah Maha Guru yang tahu persis kapan waktunya berhenti untuk ‘ulangan’, dan Ia selalu memperhatikan kita, Ia tidak membiarkan kita bahkan Ia memberikan jaminan apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka (Wahyu 3:7).
Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, namun Allah punya cara untuk memimpin perjalanan kita, caranya: Keluaran 23:23 - Sebab malaikat-Ku akan berjalan di depanmu dan membawa engkau kepada orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Kanaan, orang Hewi dan orang Yebus, dan Aku akan melenyapkan mereka. Dalam rangka ‘ulangan-ulangan’ di perjalanan untuk meningkatkan kualitas iman sebagai orang perjalanan, malaikat Tuhan yang berjalan di depan, malaikat ini menyediakan pengalaman-pengalaman yang manis, pengalaman mujizat, seiring dengan itu malaikat ini membawa ke tengah 6 permasalahan, Matius 10:16 - Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala... Saat yang paling istimewa adalah saat Tuhan mendemonstrasikan bagaimana Ia menyertai kita (Keluaran 23:28).
Ketika kita dalam perjalanan menghadapi ‘ulangan-ulangan’, ujian, Tuhan tidak biarkan kita, Untuk apa kita dihentar ke tengah 6 suku bangsa, ke tengah serigala? Mazmur 144:1, inilah tujuannya, untuk melatih tangan kita supaya kita trampil, menang dalam peperangan. Tangan berbicara tentang aktivitas kita sebagai apapun, hubungkan dengan Matius 7:25, sering kali ada hujan dari atas = punya masalah dengan orang atasan, angin = teman sejawat, banjir = dari orang bawah; tangan juga berbicara tentang hubungan kita dengan Tuhan dan dengan sesama, semua dilatih supaya trampil.
Ketika kita trampil, kita berhasil dalam ujian, kembali ke Yakobus 1:12 kita akan menerima mahkota kehidupan (= imbalan/upah sekarang ini selama kita ada di dunia dan waktu kita menghembuskan nafas yang terakhir).
Amin.