Bacaan: Lukas,12:41-48
Orang yang dapat dipercaya mendapat banyak berkat, tetapi orang yang ingin cepat menjadi kaya, tidak akan luput dari hukuman.- Amsal 28:20
Siapa yang tak ingin menjadi orang yang dipercaya? Siapa yang tak suka menjadi orang kepercayaan Sang Big Boss? Orang yang ingin meningkatkan karirnya selalu ingin menjadi orang yang dipercaya. Masalahnya menjadi orang yang dipercaya bukanlah hal yang mudah. Lamanya kita bekerja, kepandaian kita, gelar ijazah kita, atau pengalaman kerja kita belumlah cukup untuk menjadikan kita orang yang dipercaya. Lalu bagaimana caranya supaya kita bisa menjadi orang kepercayaan atasan kita?
Satu, milikilah integritas. Kepercayaan dan integritas adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Tanpa integritas jelas kita tidak akan dipercaya. Integritas berarti memiliki karakter yang baik. Di jaman ini, karakter yang baik tetap jadi modal utama agar kita bisa dipercaya.
Dua, milikilah komitmen yang kuat. Tanpa komitmen, jelas kita tidak dipercaya. Bagaimana mungkin seorang atasan akan mempercayakan hal yang lebih besar kepada orang yang bermalas-malasan dalam bekerja?
Ketiga, jadilah orang yang berkompeten. Kompetensi artinya memiliki kualitas unggul dan andal. Tingkatkan terus kinerja kita. Gali potensi diri dan munculkan ide serta gagasan-gagasan baru. Orang yang berkompetensi biasanya menjadi kontributor utama dalam sebuah perusahaan. Itu sebabnya orang yang memiliki kompetensi akan selalu diprioritaskan dan dipercaya.
Keempat, miliki tanggung jawab. Maukah Anda memberi kepercayaan kepada orang yang tak bertanggung jawab? Jelas tidak! Bertanggung jawab adalah syarat mutlak agar kita bisa dipercaya. Jika kita masih diberikan tanggung jawab yang kecil, jangan meremehkan atau malah berputus asa. Kerjakan itu dengan sebaik-baiknya. Percayalah, jika kita bisa dipercaya dengan tanggung jawab kecil, pasti kita akan diberi tanggung jawab yang lebih besar. Ini sejalan dengan prinsip Alkitab yang mengajak kita untuk setia dalam perkara kecil karena dari situlah akan lahir perkara-perkara yang lebih besar.
Salah satu ciri orang sukses adalah bisa dipercaya.
Perdamaian sangat dibutuhkan pada jaman ini, bagaimana kita bisa berdamai dengan sesama, dengan Tuhan dan diri sendiri.Semua ini hanya dapat kita peroleh dari Dia dan FirmanNya sebagai Madu Surgawi.
Rabu, 17 Maret 2010
Senin, 08 Februari 2010
"OBAT UNTUK HIDUP BENAR"
Kita kini hidup di era yang menganut nilai relativisme, suatu masa di mana berlaku ungkapan, “Tidak ada kemutlakan!” Dalam banyak hal, garis pemisah antara kebenaran dan kekeliruan telah menjadi kabur, jika tidak ingin dikatakan terhapus sama sekali. Tetapi, jauh di dalam lubuk hati, kebanyakan dari kita masih tetap dapat membedakan mana yang benar dan yang salah - paling tidak dalam beberapa aspek kehidupan.
Misalnya, tidak ada satu pun di antara kita yang rela seseorang mengambil sesuatu yang menjadi milik kita. Kita tidak suka dibohongi, dan ketidakjujuran cenderung menghancurkan hubungan di tempat kerja, di rumah, dalam jalinan persahabatan, dan dalam organisasi kemasyarakatan. Tak seorangpun dapat menerima apabila kerusakan mesin mobil dijadikan alasan pengalih kecerobohan pengemudi mabuk yang mengakibatkan seseorang cedera atau meninggal dunia. Kita sepakat memandang sebagai hal yang tercela, bila seorang eksekutif menjual rahasia perusahaan demi keuntungan pribadi. Atlet yang “bermain sabun” merekayasa skor pertandingan juga dikategorikan melakukan tindakan yang salah. Dan masih banyak hal salah lainnya yang dapat kita sebutkan. Mungkin tidak semua orang sependapat dalam setiap kasus, namun tampaknya kita semua mempunyai perasaan naluriah mengenai cara yang benar menjalani hidup - apa yang oleh Alkitab disebut sebagai, “kebenaran”.
Memandang perasaan tersebut secara positif, menyebabkan kebanyakan dari kita sependapat bahwa menolong seseorang yang sedang menghadapi masalah kesehatan, keuangan atau masalah-masalah lain adalah hal yang “benar”. Jika kita melihat seseorang sedang berada dalam ancaman serangan secara fisik, adalah tindakan tepat jika kita menolong orang tersebut. Demikian juga, kebajikan dan kasih, serta kalimat penghiburan dan dukungan, kita anggap sebagai hal yang “benar” dan dibutuhkan.
Namun, dalam banyak aspek kehidupan masalah benar dan salah tidak selalu dapat dengan mudah dibedakan. Lalu bagaimana kita merumuskan apa yang diperlukan untuk membangun suatu “hidup yang benar” manakala hal yang awalnya terpisah secara jelas dalam pola hitam-putih bergeser menjadi daerah “abu-abu” yang meragukan? Kitab Amsal memang tidak secara eksplisit memberikan panduan rinci menghadapi setiap kondisi, namun Kitab ini menyediakan prinsip dan panduan yang sangat membantu, yaitu:
Hidup dengan benar ditandai oleh pemilihan jalan yang benar. Seseorang yang menjalani kehidupan pribadi dan pekerjaannya berdasarkan standar moral dan etika yang tinggi dapat menjadi inspirasi bagi kita. Tidak jarang kita berusaha mencontoh perilaku terpuji para tokoh panutan karena bagi kita mereka telah meletakkan standar menjalani kehidupan dengan benar. Seperti diungkapkan dalam Amsal 4:18-19, “Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari. Jalan orang fasik itu seperti kegelapan; mereka tidak tahu apa yang menyebabkan mereka tersandung.”
Hidup dengan benar berarti setia berada pada jalan yang benar. Mereka yang sudah memutuskan untuk melakukan apa yang benar tidak terusik oleh hal-hal sepele atau menyimpang karena memilih jalan alternatif yang tampaknya lebih menggiurkan. Komitmen untuk hidup dengan benar menyebabkan mereka tetap berjalan di jalan yang sempit, dan tidak memilih jalan yang lebih menarik atau menguntungkan. Sebagaimana dicatat dalam Amsal 4:26-27, “Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan.”
Hidup dengan benar membuahkan imbalan. Meski imbalan yang diterima tidak selalu merupakan hasil hubungan sebab-akibat – yaitu kita menerima imbalan yang baik sebagai hasil melakukan sesuatu yang benar – sering juga imbalan dari menjalankan hidup yang benar kita terima dalam wujud yang kelihatan. Di samping imbalan nyata, kita juga berkesempatan mengenyam perasaan bebas dari rasa bersalah, kepuasan karena pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik, dan rasa hormat dari rekan sekerja sebagai “imbalan”. Hal ini ditulis dalam Amsal 21:21, “Siapa mengejar kebenaran dan kasih akan memperoleh kehidupan, kebenaran dan kehormatan”.
Hidup dengan benar tidak dibangun di atas dasar perasaan. Ungkapan masa kini berbunyi, “Jika Anda rasa baik, lakukan saja.” Emosi, tidak selalu dapat diandalkan. Emosi tak jarang memberi arahan yang keliru. Amarah dapat menyebabkan kita menyerang seseorang, dan itu bukan hal yang benar. Mungkin perasaan bahwa besar gaji yang kita terima tidak memadai itu benar, tetapi tidak berarti kita diperkenankan mencuri uang perusahaan. Amsal 16:25 mengingatkan: “Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut.”
Misalnya, tidak ada satu pun di antara kita yang rela seseorang mengambil sesuatu yang menjadi milik kita. Kita tidak suka dibohongi, dan ketidakjujuran cenderung menghancurkan hubungan di tempat kerja, di rumah, dalam jalinan persahabatan, dan dalam organisasi kemasyarakatan. Tak seorangpun dapat menerima apabila kerusakan mesin mobil dijadikan alasan pengalih kecerobohan pengemudi mabuk yang mengakibatkan seseorang cedera atau meninggal dunia. Kita sepakat memandang sebagai hal yang tercela, bila seorang eksekutif menjual rahasia perusahaan demi keuntungan pribadi. Atlet yang “bermain sabun” merekayasa skor pertandingan juga dikategorikan melakukan tindakan yang salah. Dan masih banyak hal salah lainnya yang dapat kita sebutkan. Mungkin tidak semua orang sependapat dalam setiap kasus, namun tampaknya kita semua mempunyai perasaan naluriah mengenai cara yang benar menjalani hidup - apa yang oleh Alkitab disebut sebagai, “kebenaran”.
Memandang perasaan tersebut secara positif, menyebabkan kebanyakan dari kita sependapat bahwa menolong seseorang yang sedang menghadapi masalah kesehatan, keuangan atau masalah-masalah lain adalah hal yang “benar”. Jika kita melihat seseorang sedang berada dalam ancaman serangan secara fisik, adalah tindakan tepat jika kita menolong orang tersebut. Demikian juga, kebajikan dan kasih, serta kalimat penghiburan dan dukungan, kita anggap sebagai hal yang “benar” dan dibutuhkan.
Namun, dalam banyak aspek kehidupan masalah benar dan salah tidak selalu dapat dengan mudah dibedakan. Lalu bagaimana kita merumuskan apa yang diperlukan untuk membangun suatu “hidup yang benar” manakala hal yang awalnya terpisah secara jelas dalam pola hitam-putih bergeser menjadi daerah “abu-abu” yang meragukan? Kitab Amsal memang tidak secara eksplisit memberikan panduan rinci menghadapi setiap kondisi, namun Kitab ini menyediakan prinsip dan panduan yang sangat membantu, yaitu:
Hidup dengan benar ditandai oleh pemilihan jalan yang benar. Seseorang yang menjalani kehidupan pribadi dan pekerjaannya berdasarkan standar moral dan etika yang tinggi dapat menjadi inspirasi bagi kita. Tidak jarang kita berusaha mencontoh perilaku terpuji para tokoh panutan karena bagi kita mereka telah meletakkan standar menjalani kehidupan dengan benar. Seperti diungkapkan dalam Amsal 4:18-19, “Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari. Jalan orang fasik itu seperti kegelapan; mereka tidak tahu apa yang menyebabkan mereka tersandung.”
Hidup dengan benar berarti setia berada pada jalan yang benar. Mereka yang sudah memutuskan untuk melakukan apa yang benar tidak terusik oleh hal-hal sepele atau menyimpang karena memilih jalan alternatif yang tampaknya lebih menggiurkan. Komitmen untuk hidup dengan benar menyebabkan mereka tetap berjalan di jalan yang sempit, dan tidak memilih jalan yang lebih menarik atau menguntungkan. Sebagaimana dicatat dalam Amsal 4:26-27, “Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan.”
Hidup dengan benar membuahkan imbalan. Meski imbalan yang diterima tidak selalu merupakan hasil hubungan sebab-akibat – yaitu kita menerima imbalan yang baik sebagai hasil melakukan sesuatu yang benar – sering juga imbalan dari menjalankan hidup yang benar kita terima dalam wujud yang kelihatan. Di samping imbalan nyata, kita juga berkesempatan mengenyam perasaan bebas dari rasa bersalah, kepuasan karena pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik, dan rasa hormat dari rekan sekerja sebagai “imbalan”. Hal ini ditulis dalam Amsal 21:21, “Siapa mengejar kebenaran dan kasih akan memperoleh kehidupan, kebenaran dan kehormatan”.
Hidup dengan benar tidak dibangun di atas dasar perasaan. Ungkapan masa kini berbunyi, “Jika Anda rasa baik, lakukan saja.” Emosi, tidak selalu dapat diandalkan. Emosi tak jarang memberi arahan yang keliru. Amarah dapat menyebabkan kita menyerang seseorang, dan itu bukan hal yang benar. Mungkin perasaan bahwa besar gaji yang kita terima tidak memadai itu benar, tetapi tidak berarti kita diperkenankan mencuri uang perusahaan. Amsal 16:25 mengingatkan: “Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut.”
Minggu, 07 Februari 2010
"Sebelum Bekerja mulailah dengan Firman"
Yohanes 1 : 1 - 3 -- Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikannya.
Yohanes 1 : 1, Indonesia sedang meng- alami carut-marut dalam segala bidang dan Tuhan sedang mencurahkan hatiNya bagi bangsa kita. Rasul Paulus katakan dalam surat Korintus bahwa kita adalah mitra kerja Allah. Oleh sebab itu pikiran jangan mau direbut Iblis, berpikir yang positif. Pada awal kita melakukan aktivitas ingatlah Firman Tuhan, itulah dasar. Jangan salah melangkah agar bisa sampai ke garis akhir. Itu sebabnya Tuhan katakan/menitik beratkan pada start awal yaitu Firman Allah, seperti dalam Kejadian 1 : 1. Waktu kita bangun pagi pikirkan Firman lalu renungkan Firman. Kalau belum menyembah Allah tapi memikirkan yang negatif, startnya salah.
Yohanes 1 : 2, kalau sang Firman identik dengan Allah sendiri bisa bekerja sama dengan terpadu, bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah bekerja sama dengan Allah ?
Yohanes 1 : 3, segala sesuatu meliputi banyak hal termasuk obsesi kehidupan dijadikan oleh Dia. Kalau awal dimulai dengan Firman, startnya benar. Sang Firman itu yang akan meneruskan cita-cita, obsesi kita. Kejadian 1 : 1, Allah mendesain segala sesuatu oleh Firman.
Yohanes 15 : 7 - Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firmanKu tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Kalau kita melibatkan Firman dalam kehidupan sehari-hari hasilnya dahsyat. Matius 5 : 5 - Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Orang yang memiliki hati yang lembut, setiap mendengar Firman pasti melakukan dengan baik. Hidup kekristenan harus lembut hati kalau keras hati tidak akan mendapat apa-apa, orang yang lembut hati akan memiliki bumi.
I Kortintus 3 : 16 - 17 -- Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu ?... kita dibawa menyatu, manunggal dengan Tuhan, kalau kita tempatkan posisi Kristus pada kehidupan sehari-hari, Iblis tidak akan suka. Kita punya Yesus yang luar biasa. Mazmur 37 : 3 - 4 -- Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Ciri khas orang Kristen tidak boleh lemah, inilah rentetan orang yang manunggal dengan Firman, bergembiralah oleh karena kita punya Tuhan Yesus.
Mulailah dengan Firman, segala sesuatu (kebutuhan masa depan sekalipun) dijadikan Tuhan, Tuhan yang menyediakan, Allah yang menjadikan semua dan tidak ada yang mustahil bagi Dia. Kita adalah mitra kerja Allah, Ia ingin kemuliaanNya ada dalam hidup kita.
Amin
Yohanes 1 : 1, Indonesia sedang meng- alami carut-marut dalam segala bidang dan Tuhan sedang mencurahkan hatiNya bagi bangsa kita. Rasul Paulus katakan dalam surat Korintus bahwa kita adalah mitra kerja Allah. Oleh sebab itu pikiran jangan mau direbut Iblis, berpikir yang positif. Pada awal kita melakukan aktivitas ingatlah Firman Tuhan, itulah dasar. Jangan salah melangkah agar bisa sampai ke garis akhir. Itu sebabnya Tuhan katakan/menitik beratkan pada start awal yaitu Firman Allah, seperti dalam Kejadian 1 : 1. Waktu kita bangun pagi pikirkan Firman lalu renungkan Firman. Kalau belum menyembah Allah tapi memikirkan yang negatif, startnya salah.
Yohanes 1 : 2, kalau sang Firman identik dengan Allah sendiri bisa bekerja sama dengan terpadu, bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah bekerja sama dengan Allah ?
Yohanes 1 : 3, segala sesuatu meliputi banyak hal termasuk obsesi kehidupan dijadikan oleh Dia. Kalau awal dimulai dengan Firman, startnya benar. Sang Firman itu yang akan meneruskan cita-cita, obsesi kita. Kejadian 1 : 1, Allah mendesain segala sesuatu oleh Firman.
Yohanes 15 : 7 - Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firmanKu tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Kalau kita melibatkan Firman dalam kehidupan sehari-hari hasilnya dahsyat. Matius 5 : 5 - Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Orang yang memiliki hati yang lembut, setiap mendengar Firman pasti melakukan dengan baik. Hidup kekristenan harus lembut hati kalau keras hati tidak akan mendapat apa-apa, orang yang lembut hati akan memiliki bumi.
I Kortintus 3 : 16 - 17 -- Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu ?... kita dibawa menyatu, manunggal dengan Tuhan, kalau kita tempatkan posisi Kristus pada kehidupan sehari-hari, Iblis tidak akan suka. Kita punya Yesus yang luar biasa. Mazmur 37 : 3 - 4 -- Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Ciri khas orang Kristen tidak boleh lemah, inilah rentetan orang yang manunggal dengan Firman, bergembiralah oleh karena kita punya Tuhan Yesus.
Mulailah dengan Firman, segala sesuatu (kebutuhan masa depan sekalipun) dijadikan Tuhan, Tuhan yang menyediakan, Allah yang menjadikan semua dan tidak ada yang mustahil bagi Dia. Kita adalah mitra kerja Allah, Ia ingin kemuliaanNya ada dalam hidup kita.
Amin
Minggu, 31 Januari 2010
IMAN YANG MENGHASILKAN KEPATUHAN
Lukas 11: 28 — Tetapi Ia berkata: ”Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”
Kita bisa berdiri dengan baik kalau kita mempunyai sepasang kaki yang sama tinggi dan sama kuat. Demikian juga kita bisa berdiri di hadapan Tuhan dengan baik kalau kaki yang satu suka mendengar dan membaca firman Tuhan dan kaki yang lain senang melakukan-nya. Betapa sedih hati Tuhan karena banyak orang Kristen di akhir zaman yang tidak menyadari ia cacat di hadapan Tuhan, suka mendengar tapi tidak suka melakukan firman Allah. Ketika mendengar Tuhan berjanji kita menjadi pemenang, tapi orang itu tidak mungkin menjadi pemenang kalau tidak menghadapi pertempuran - ini yang orang Kristen tidak sukai- , peperangan yang terjadi itu akan menentukan orang Kristen itu menjadi pemenang atau tidak. Jika ingin menjadi pemenang pasti ada harga yang harus dibayar, peperangan Tuhan ijinkan untuk melatih agar kita memiliki otot-otot rohani yang kuat. Ia tidak jauh dari kita, Ia begitu kagum kalau kita bisa melewatinya (menjadi lebih dari seorang pemenang) bukan mundur dan tinggalkan Tuhan.
Ada beberapa jenis iman :
- Iman yang menyelamatkan Efesus 2 : 10, 8.
Allah sudah persiapkan pekerjaan yang baik sebelum kita lahir, itu sebabnya kita harus mempunyai iman. Iman yang timbul waktu mendengar firman Allah, menyambut dan percaya kepada firman Allah disebut iman pistis. Penjahat yang disalib disebelah kanan Yesus diselamatkan karena imannya telah menyucikan kesalahan. Firman yang ia imani menghasilkan keselamatan. Ini iman yang menyenangkan, hanya mendengar ia diselamatkan.
- Iman yang menghadirkan mujizat Matius 17:20.
Iman ini juga cukup menyenangkan, banyak orang yang ingin meraihnya. Ketika
berhadapan dengan gunung permasalahan, kita berkata pindah maka gunung ini akan pindah. Iman semacam ini sangat dibutuhkan setiap hari dan betapa bangganya kalau kita memiliki iman semacam ini.
- Iman yang menghasilkan ketaatan.
Tuhan tidak ingin kita hanya memiliki iman yang menyelamatkan dan iman yang meng-hasilkan mujizat. Tuhan senang kalau kita menjadi gandum unggul tapi betapa kecewa kalau gandum yang ada di atas meja per-jamuan tidak pernah memberi kesempatan untuk diolah menjadi roti. Dalam pesta Tuhan membutuhkan roti dari gandum yang bersedia digiling sampai halus. Yesaya 28: 28 ...gandum harus digiling untuk membuat roti... (Terjemahan Baru Internasional), di sini membutuhkan iman yang menghasilkan kepatuhan. Banyak yang tidak senang, proses iman yang menghasilkan kepatuhan sering merupakan jalan penderitaan, siksaan tapi berujung kepada sukacita, pesta kemenangan yang luar biasa.
Ayub 23:10. Tuhan yang paling tahu bagaimana mengelola hidup kita. Untuk memperoleh iman yang menghasilkan kepatuhan kita tidak bisa mengelak dari ujian. Jangan berharap menjadi emas murni kecuali harus menerima sekalipun api itu merugikan kita, bagian diri kita berubah ketika api menjilat sehingga kita tidak punya kebanggaan lagi tapi kita keluar sebagai emas murni. Waktu api melumat sampai habis kita tidak sendiri karena Tuhan ada di sana, Ia mengendalikan api itu.
II Raja-raja 8 : 1 - 6. Perempuan Sunem yang telah mengalami mujizat ketika ia mengimani perkataan nabi Elisa, ia yang semula mandul telah melahirkan bahkan ia sudah menikmati iman yang menghasilkan keselamatan, ia sudah bertanya kepada nabi Elisa untuk meninggalkan Sunem dan pergi ke Filistin selama masa paceklik 7 tahun dan Alkitab tidak pernah mencatat perempuan ini menderita di sana karena kepatuhan dan ketaatannya. Tapi justru pada waktu ia kembali ke Sunem, rumah dan ladangnya telah dirampas. Mungkin kita berpikir apakah ini hasil kepatuhan? Jangan berhenti sampai di situ karena ketika kita memiliki iman yang menghasilkan kepatuhan Tuhan menyedia-kan jalan keluar. Sementara raja Yoram mendengar kisahnya melalui Gehazi datanglah perempuan Sunem ini mengadukan masalahnya pada raja dan raja memerintah-kan pegawainya agar mereka yang merampas rumahnya mengosongkan rumah itu, membersihkan dan mengatur rapi, mereka yang merampas ladangnya harus diusir, dan hasil ladang selama tujuh tahun dikembalikan.
Iman yang menghasilkan ketaatan adalah iman yang akan mengangkat kita. Adakah kita terpuruk dalam soal iman, semangat, sukacita, pengharapan, kesehatan? Mungkin telah terbenam tapi ketika kita mengatakan Tuhan saya ingin memiliki iman yang menghasilkan kepatuhan sekalipun saya dirugikan, diper-katakan orang, Dia akan mengangkat kita dan mengadakan mujizat.
Kita bisa berdiri dengan baik kalau kita mempunyai sepasang kaki yang sama tinggi dan sama kuat. Demikian juga kita bisa berdiri di hadapan Tuhan dengan baik kalau kaki yang satu suka mendengar dan membaca firman Tuhan dan kaki yang lain senang melakukan-nya. Betapa sedih hati Tuhan karena banyak orang Kristen di akhir zaman yang tidak menyadari ia cacat di hadapan Tuhan, suka mendengar tapi tidak suka melakukan firman Allah. Ketika mendengar Tuhan berjanji kita menjadi pemenang, tapi orang itu tidak mungkin menjadi pemenang kalau tidak menghadapi pertempuran - ini yang orang Kristen tidak sukai- , peperangan yang terjadi itu akan menentukan orang Kristen itu menjadi pemenang atau tidak. Jika ingin menjadi pemenang pasti ada harga yang harus dibayar, peperangan Tuhan ijinkan untuk melatih agar kita memiliki otot-otot rohani yang kuat. Ia tidak jauh dari kita, Ia begitu kagum kalau kita bisa melewatinya (menjadi lebih dari seorang pemenang) bukan mundur dan tinggalkan Tuhan.
Ada beberapa jenis iman :
- Iman yang menyelamatkan Efesus 2 : 10, 8.
Allah sudah persiapkan pekerjaan yang baik sebelum kita lahir, itu sebabnya kita harus mempunyai iman. Iman yang timbul waktu mendengar firman Allah, menyambut dan percaya kepada firman Allah disebut iman pistis. Penjahat yang disalib disebelah kanan Yesus diselamatkan karena imannya telah menyucikan kesalahan. Firman yang ia imani menghasilkan keselamatan. Ini iman yang menyenangkan, hanya mendengar ia diselamatkan.
- Iman yang menghadirkan mujizat Matius 17:20.
Iman ini juga cukup menyenangkan, banyak orang yang ingin meraihnya. Ketika
berhadapan dengan gunung permasalahan, kita berkata pindah maka gunung ini akan pindah. Iman semacam ini sangat dibutuhkan setiap hari dan betapa bangganya kalau kita memiliki iman semacam ini.
- Iman yang menghasilkan ketaatan.
Tuhan tidak ingin kita hanya memiliki iman yang menyelamatkan dan iman yang meng-hasilkan mujizat. Tuhan senang kalau kita menjadi gandum unggul tapi betapa kecewa kalau gandum yang ada di atas meja per-jamuan tidak pernah memberi kesempatan untuk diolah menjadi roti. Dalam pesta Tuhan membutuhkan roti dari gandum yang bersedia digiling sampai halus. Yesaya 28: 28 ...gandum harus digiling untuk membuat roti... (Terjemahan Baru Internasional), di sini membutuhkan iman yang menghasilkan kepatuhan. Banyak yang tidak senang, proses iman yang menghasilkan kepatuhan sering merupakan jalan penderitaan, siksaan tapi berujung kepada sukacita, pesta kemenangan yang luar biasa.
Ayub 23:10. Tuhan yang paling tahu bagaimana mengelola hidup kita. Untuk memperoleh iman yang menghasilkan kepatuhan kita tidak bisa mengelak dari ujian. Jangan berharap menjadi emas murni kecuali harus menerima sekalipun api itu merugikan kita, bagian diri kita berubah ketika api menjilat sehingga kita tidak punya kebanggaan lagi tapi kita keluar sebagai emas murni. Waktu api melumat sampai habis kita tidak sendiri karena Tuhan ada di sana, Ia mengendalikan api itu.
II Raja-raja 8 : 1 - 6. Perempuan Sunem yang telah mengalami mujizat ketika ia mengimani perkataan nabi Elisa, ia yang semula mandul telah melahirkan bahkan ia sudah menikmati iman yang menghasilkan keselamatan, ia sudah bertanya kepada nabi Elisa untuk meninggalkan Sunem dan pergi ke Filistin selama masa paceklik 7 tahun dan Alkitab tidak pernah mencatat perempuan ini menderita di sana karena kepatuhan dan ketaatannya. Tapi justru pada waktu ia kembali ke Sunem, rumah dan ladangnya telah dirampas. Mungkin kita berpikir apakah ini hasil kepatuhan? Jangan berhenti sampai di situ karena ketika kita memiliki iman yang menghasilkan kepatuhan Tuhan menyedia-kan jalan keluar. Sementara raja Yoram mendengar kisahnya melalui Gehazi datanglah perempuan Sunem ini mengadukan masalahnya pada raja dan raja memerintah-kan pegawainya agar mereka yang merampas rumahnya mengosongkan rumah itu, membersihkan dan mengatur rapi, mereka yang merampas ladangnya harus diusir, dan hasil ladang selama tujuh tahun dikembalikan.
Iman yang menghasilkan ketaatan adalah iman yang akan mengangkat kita. Adakah kita terpuruk dalam soal iman, semangat, sukacita, pengharapan, kesehatan? Mungkin telah terbenam tapi ketika kita mengatakan Tuhan saya ingin memiliki iman yang menghasilkan kepatuhan sekalipun saya dirugikan, diper-katakan orang, Dia akan mengangkat kita dan mengadakan mujizat.
PENINGKATAN KUALITAS IMAN
Yakobus 1:12 - Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.
Pencobaan, gambarannya sama dengan anak-anak sekolah yang tepat pada waktunya mereka akan terima ulangan-ulangan dan ujian-ujian, semua akan mengalaminya. Bagaimana bisa dikenal kapasitas, potensi seseorang kalau tidak ada ujian? Demikian juga dengan perjalanan iman kita harus menghadapi ujian, suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju setiap hari ada ‘ulangan’. Tiap hari memang ada pencobaan bukan berarti Tuhan biarkan tapi supaya kekristenan kita meningkat. Yakobus sedang memberi gambaran tentang orang percaya/gereja dalam perjalanan iman melewati lorong-lorong penderitaan bahkan dalam perjalanan iman dijemput oleh binatang buas (orang-orang yang mengusik kita), tapi inilah warna perjalanan iman orang percaya, kalau mereka tidak mengerti firman Allah mereka akan seperti bunga rumput layu.
Yakobus didorong oleh Roh Kudus berkata berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan di sepanjang perjalanan mereka, kalau demikian orang percaya sebagai apa di mata dunia?
Kejadian 23:1-4, menurut pengakuan Abraham statusnya di mata orang-orang Kanaan adalah orang asing dan pendatang; orang percaya adalah orang pendatang, orang perjalanan. Sebagai orang perjalanan, istrinya mati ia tidakAbraham adalah orang yang taat pada Tuhan, ketika Sara mempunyai tanah untuk menguburkannya. Sekalipun Abraham sebagai orang pendatang dan ia sangat dihormati oleh bani Het (Kejadian 23:6) tapi Abraham tetap berlaku sopan, di mana pun Abraham berada kemuliaan Allah turun dan daerah itu menjadi daerah keberkatan. Pada waktu ditawarkan tanah untuk menguburkan istrinya, Abraham tidak mau gratis tapi mau membayar penuh tanah untuk menguburkan istrinya (Kejadian 23:5-9). Sebagai orang perjalanan kalau ingin memiliki sesuatu yang sangat berarti, kita harus bayar harga dengan pengorbanan kita, orang perjalanan yang memiliki ‘iman gratisan’ tidak akan tahan bantingan.
Sebagai orang pendatang sering kali dunia memperlakukan semena-mena. Kejadian 26:15 - Segala sumur, yang digali dalam zaman Abraham ... telah ditutup oleh orang Filistin dan ditimbun dengan tanah padahal jauh sebelumnya Abraham telah memberikan meterai dalam bentuk 7 anak domba kepada Abimelekh sebagai tanda bahwa sumur itu miliknya (Kejadian 21:30). Orang Filistin cemburu kepada Abraham karena di areal yang sama mereka melakukan penggalian tapi air tidak keluar lalu mereka menimbun sumur yang sudah digali Abraham dengan tanah. Hubungkan dengan Yosua 6:1 - Dalam pada itu Yerikho telah menutup pintu gerbangnya... inilah perlakuan dari dunia terhadap orang-orang perjalanan, bukan hanya sumur yang ditimbun tapi pintu ditutup. Kalau ini merupakan ‘ulangan’ dari Tuhan, terima dan kerjakan karena Ia adalah Maha Guru yang tahu persis kapan waktunya berhenti untuk ‘ulangan’, dan Ia selalu memperhatikan kita, Ia tidak membiarkan kita bahkan Ia memberikan jaminan apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka (Wahyu 3:7).
Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, namun Allah punya cara untuk memimpin perjalanan kita, caranya: Keluaran 23:23 - Sebab malaikat-Ku akan berjalan di depanmu dan membawa engkau kepada orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Kanaan, orang Hewi dan orang Yebus, dan Aku akan melenyapkan mereka. Dalam rangka ‘ulangan-ulangan’ di perjalanan untuk meningkatkan kualitas iman sebagai orang perjalanan, malaikat Tuhan yang berjalan di depan, malaikat ini menyediakan pengalaman-pengalaman yang manis, pengalaman mujizat, seiring dengan itu malaikat ini membawa ke tengah 6 permasalahan, Matius 10:16 - Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala... Saat yang paling istimewa adalah saat Tuhan mendemonstrasikan bagaimana Ia menyertai kita (Keluaran 23:28).
Ketika kita dalam perjalanan menghadapi ‘ulangan-ulangan’, ujian, Tuhan tidak biarkan kita, Untuk apa kita dihentar ke tengah 6 suku bangsa, ke tengah serigala? Mazmur 144:1, inilah tujuannya, untuk melatih tangan kita supaya kita trampil, menang dalam peperangan. Tangan berbicara tentang aktivitas kita sebagai apapun, hubungkan dengan Matius 7:25, sering kali ada hujan dari atas = punya masalah dengan orang atasan, angin = teman sejawat, banjir = dari orang bawah; tangan juga berbicara tentang hubungan kita dengan Tuhan dan dengan sesama, semua dilatih supaya trampil.
Ketika kita trampil, kita berhasil dalam ujian, kembali ke Yakobus 1:12 kita akan menerima mahkota kehidupan (= imbalan/upah sekarang ini selama kita ada di dunia dan waktu kita menghembuskan nafas yang terakhir).
Amin.
Pencobaan, gambarannya sama dengan anak-anak sekolah yang tepat pada waktunya mereka akan terima ulangan-ulangan dan ujian-ujian, semua akan mengalaminya. Bagaimana bisa dikenal kapasitas, potensi seseorang kalau tidak ada ujian? Demikian juga dengan perjalanan iman kita harus menghadapi ujian, suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju setiap hari ada ‘ulangan’. Tiap hari memang ada pencobaan bukan berarti Tuhan biarkan tapi supaya kekristenan kita meningkat. Yakobus sedang memberi gambaran tentang orang percaya/gereja dalam perjalanan iman melewati lorong-lorong penderitaan bahkan dalam perjalanan iman dijemput oleh binatang buas (orang-orang yang mengusik kita), tapi inilah warna perjalanan iman orang percaya, kalau mereka tidak mengerti firman Allah mereka akan seperti bunga rumput layu.
Yakobus didorong oleh Roh Kudus berkata berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan di sepanjang perjalanan mereka, kalau demikian orang percaya sebagai apa di mata dunia?
Kejadian 23:1-4, menurut pengakuan Abraham statusnya di mata orang-orang Kanaan adalah orang asing dan pendatang; orang percaya adalah orang pendatang, orang perjalanan. Sebagai orang perjalanan, istrinya mati ia tidakAbraham adalah orang yang taat pada Tuhan, ketika Sara mempunyai tanah untuk menguburkannya. Sekalipun Abraham sebagai orang pendatang dan ia sangat dihormati oleh bani Het (Kejadian 23:6) tapi Abraham tetap berlaku sopan, di mana pun Abraham berada kemuliaan Allah turun dan daerah itu menjadi daerah keberkatan. Pada waktu ditawarkan tanah untuk menguburkan istrinya, Abraham tidak mau gratis tapi mau membayar penuh tanah untuk menguburkan istrinya (Kejadian 23:5-9). Sebagai orang perjalanan kalau ingin memiliki sesuatu yang sangat berarti, kita harus bayar harga dengan pengorbanan kita, orang perjalanan yang memiliki ‘iman gratisan’ tidak akan tahan bantingan.
Sebagai orang pendatang sering kali dunia memperlakukan semena-mena. Kejadian 26:15 - Segala sumur, yang digali dalam zaman Abraham ... telah ditutup oleh orang Filistin dan ditimbun dengan tanah padahal jauh sebelumnya Abraham telah memberikan meterai dalam bentuk 7 anak domba kepada Abimelekh sebagai tanda bahwa sumur itu miliknya (Kejadian 21:30). Orang Filistin cemburu kepada Abraham karena di areal yang sama mereka melakukan penggalian tapi air tidak keluar lalu mereka menimbun sumur yang sudah digali Abraham dengan tanah. Hubungkan dengan Yosua 6:1 - Dalam pada itu Yerikho telah menutup pintu gerbangnya... inilah perlakuan dari dunia terhadap orang-orang perjalanan, bukan hanya sumur yang ditimbun tapi pintu ditutup. Kalau ini merupakan ‘ulangan’ dari Tuhan, terima dan kerjakan karena Ia adalah Maha Guru yang tahu persis kapan waktunya berhenti untuk ‘ulangan’, dan Ia selalu memperhatikan kita, Ia tidak membiarkan kita bahkan Ia memberikan jaminan apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka (Wahyu 3:7).
Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, namun Allah punya cara untuk memimpin perjalanan kita, caranya: Keluaran 23:23 - Sebab malaikat-Ku akan berjalan di depanmu dan membawa engkau kepada orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Kanaan, orang Hewi dan orang Yebus, dan Aku akan melenyapkan mereka. Dalam rangka ‘ulangan-ulangan’ di perjalanan untuk meningkatkan kualitas iman sebagai orang perjalanan, malaikat Tuhan yang berjalan di depan, malaikat ini menyediakan pengalaman-pengalaman yang manis, pengalaman mujizat, seiring dengan itu malaikat ini membawa ke tengah 6 permasalahan, Matius 10:16 - Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala... Saat yang paling istimewa adalah saat Tuhan mendemonstrasikan bagaimana Ia menyertai kita (Keluaran 23:28).
Ketika kita dalam perjalanan menghadapi ‘ulangan-ulangan’, ujian, Tuhan tidak biarkan kita, Untuk apa kita dihentar ke tengah 6 suku bangsa, ke tengah serigala? Mazmur 144:1, inilah tujuannya, untuk melatih tangan kita supaya kita trampil, menang dalam peperangan. Tangan berbicara tentang aktivitas kita sebagai apapun, hubungkan dengan Matius 7:25, sering kali ada hujan dari atas = punya masalah dengan orang atasan, angin = teman sejawat, banjir = dari orang bawah; tangan juga berbicara tentang hubungan kita dengan Tuhan dan dengan sesama, semua dilatih supaya trampil.
Ketika kita trampil, kita berhasil dalam ujian, kembali ke Yakobus 1:12 kita akan menerima mahkota kehidupan (= imbalan/upah sekarang ini selama kita ada di dunia dan waktu kita menghembuskan nafas yang terakhir).
Amin.
Kamis, 24 September 2009
"KACAMATA ANDA"
Bacaan: IIRaja-raja;6:8-23
Ya Tuhan :Bukalah kiranya matanya supaya ia melihat ... - II Raja-raja 6:17
Baik atau buruk itu tergantung dari cara kita memandang. Masalah bisa menjadi buruk tapi bisa juga menjadi baik, itu juga tergantung dari cara kita memandang. Lihatlah hal yang baik dengan cara pandang yang buruk, maka hal itu akan terlihat sedemikian negatif. Sebaliknya, lihatlah hal yang buruk dengan cara pandang yang baik, secara mengejutkan kita akan melihat hal-hal yang positif.
Dean Black menceritakan dua kisah nyata mengenai hal ini dalam buku Frogship Perspective. Seorang pemain bola basket berbakat, ketika berusia 16 tahun kehilangan kedua kakinya dalam sebuah kecelakaan. Ini hal yang buruk bagi Curt Brinkman, pebasket muda tersebut yang akhirnya menjadi atlet kursi roda terkenal. Ia berkata, “Segera sesudah kecelakaan itu saya bangkit. Saya justru tidak tahu seperti apa kalau kaki saya masih ada.” Seorang pria setengah baya melihat kembali dari kebutaan matanya semenjak lahir. Lalu seorang psikolog yang menanganinya berkomentar tentang mantan pria buta ini, “Waktu buta, dia hebat sekali. Tapi waktu dia sembuh, prestasinya merosot drastis, bahkan seperti orang bodoh.” *
Bagi kita kehilangan kedua kaki adalah masalah besar, tapi bagi Curt Brinkman justru adalah kunci kesuksesan. Bagi kita mendapat kembali penglihatan adalah hadiah, tapi bagi pria separuh baya tersebut adalah masalah besar. Mengapa bisa demikian? Ini bukan soal masalahnya, tapi soal bagaimana kita melihat sebuah masalah. Perlu saya tekankan sekali lagi, lihatlah hal yang baik dengan cara pandang yang buruk, maka hal itu akan terlihat sedemikian negatif. Sebaliknya, lihatlah hal yang buruk dengan cara pandang yang baik, maka kita akan melihat hal-hal yang positif.
Apakah hari ini kita sedang mengalami masalah? Bagaimana cara kita memandang masalah tersebut? Tuhan selalu mengajar agar kita melihat segala masalah dari sudut pandang yang positif. Ini seperti orang yang memakai kacamata. Memakai kacamata hitam akan membuat obyek yang paling terangpun akan terlihat gelap. Jadi jika hari ini hidup Anda terlihat begitu suram dan gelap untuk dijalani, jangan-jangan yang salah adalah kacamata Anda.
Lihatlah setiap masalah yang paling buruk sekalipun dengan kacamata positif.
Ya Tuhan :Bukalah kiranya matanya supaya ia melihat ... - II Raja-raja 6:17
Baik atau buruk itu tergantung dari cara kita memandang. Masalah bisa menjadi buruk tapi bisa juga menjadi baik, itu juga tergantung dari cara kita memandang. Lihatlah hal yang baik dengan cara pandang yang buruk, maka hal itu akan terlihat sedemikian negatif. Sebaliknya, lihatlah hal yang buruk dengan cara pandang yang baik, secara mengejutkan kita akan melihat hal-hal yang positif.
Dean Black menceritakan dua kisah nyata mengenai hal ini dalam buku Frogship Perspective. Seorang pemain bola basket berbakat, ketika berusia 16 tahun kehilangan kedua kakinya dalam sebuah kecelakaan. Ini hal yang buruk bagi Curt Brinkman, pebasket muda tersebut yang akhirnya menjadi atlet kursi roda terkenal. Ia berkata, “Segera sesudah kecelakaan itu saya bangkit. Saya justru tidak tahu seperti apa kalau kaki saya masih ada.” Seorang pria setengah baya melihat kembali dari kebutaan matanya semenjak lahir. Lalu seorang psikolog yang menanganinya berkomentar tentang mantan pria buta ini, “Waktu buta, dia hebat sekali. Tapi waktu dia sembuh, prestasinya merosot drastis, bahkan seperti orang bodoh.” *
Bagi kita kehilangan kedua kaki adalah masalah besar, tapi bagi Curt Brinkman justru adalah kunci kesuksesan. Bagi kita mendapat kembali penglihatan adalah hadiah, tapi bagi pria separuh baya tersebut adalah masalah besar. Mengapa bisa demikian? Ini bukan soal masalahnya, tapi soal bagaimana kita melihat sebuah masalah. Perlu saya tekankan sekali lagi, lihatlah hal yang baik dengan cara pandang yang buruk, maka hal itu akan terlihat sedemikian negatif. Sebaliknya, lihatlah hal yang buruk dengan cara pandang yang baik, maka kita akan melihat hal-hal yang positif.
Apakah hari ini kita sedang mengalami masalah? Bagaimana cara kita memandang masalah tersebut? Tuhan selalu mengajar agar kita melihat segala masalah dari sudut pandang yang positif. Ini seperti orang yang memakai kacamata. Memakai kacamata hitam akan membuat obyek yang paling terangpun akan terlihat gelap. Jadi jika hari ini hidup Anda terlihat begitu suram dan gelap untuk dijalani, jangan-jangan yang salah adalah kacamata Anda.
Lihatlah setiap masalah yang paling buruk sekalipun dengan kacamata positif.
MENCIPTAKAN MOTIVASI
Bacaan: Keluaran;17:8-13
Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.- Amsal 22:6
Jika Anda adalah seorang pemimpin, entahkah pemimpin kelompok, pemimpin organisasi, pemimpin perusahaan, atau bahkan Anda adalah pemilik perusahaan, menciptakan motivasi dalam sebuah tim adalah hal mutlak. Tanpa motivasi, bisa jadi organisasi atau perusahaan yang kita pimpin akan mengalami kemandegan atau bahkan kelumpuhan. Hal-hal apa yang mempengaruhi motivasi dalam sebuah teamwork?
Satu, visi, misi dan tujuan yang jelas. Dengan menetapkan hal tersebut kita akan tahu di mana posisi kita sekarang ini dan ke mana tim kita akan pergi. Jika visi dan tujuan kita kabur, bisa dipastikan tim kita akan kehilangan motivasi. Karena tidak ada tujuan yang hendak dicapai dan tidak ada target yang hendak diraih. Dua, tanggung jawab. Pendelegasian tanggung jawab akan menjadi motivasi tersendiri bagi orang yang menerimanya. Dengan adanya tanggung jawab yang ia pikul, ia akan berusaha untuk memenuhi, melakukan dan menyelesaikannya dengan kualitas terbaik.
Tiga, tantangan. Pada dasarnya setiap manusia suka dengan hal-hal yang baru. Dengan kita memberikan pekerjaan yang menantang, maka mereka akan termotivasi. Hanya saja berikan tantangan dalam porsi yang tepat. Jika tantangan kita berlebihan, mereka juga akan berpikir bahwa hal tersebut mustahil untuk dilakukan. Namun jika tantangan kita terlalu mudah, mereka juga akan malas melakukannya karena dianggap tidak akan menimbulkan kebanggaan bagi yang melakukannya.
Empat, ciptakan suasana kerja yang kondusif. Jika suasana kerja tidak nyaman, jelas satu sama lain tidak akan termotivasi. Mengusahakan keakraban di dalam tim adalah salah satu cara efektif untuk menciptakan suasana kerja yang kondusif. Jika semua orang yang ada di dalam tim menjadi kompak, mereka akan menikmati apa yang mereka kerjakan dan akan terus termotivasi. Selain itu, setiap orang hendaknya diberikan kesempatan untuk maju. Suasana kerja akan jadi kondusif dan tim kita pun akan termotivasi terus.
Setiap pemimpin sudah seharusnya menciptakan motivasi dalam timnya.
Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.- Amsal 22:6
Jika Anda adalah seorang pemimpin, entahkah pemimpin kelompok, pemimpin organisasi, pemimpin perusahaan, atau bahkan Anda adalah pemilik perusahaan, menciptakan motivasi dalam sebuah tim adalah hal mutlak. Tanpa motivasi, bisa jadi organisasi atau perusahaan yang kita pimpin akan mengalami kemandegan atau bahkan kelumpuhan. Hal-hal apa yang mempengaruhi motivasi dalam sebuah teamwork?
Satu, visi, misi dan tujuan yang jelas. Dengan menetapkan hal tersebut kita akan tahu di mana posisi kita sekarang ini dan ke mana tim kita akan pergi. Jika visi dan tujuan kita kabur, bisa dipastikan tim kita akan kehilangan motivasi. Karena tidak ada tujuan yang hendak dicapai dan tidak ada target yang hendak diraih. Dua, tanggung jawab. Pendelegasian tanggung jawab akan menjadi motivasi tersendiri bagi orang yang menerimanya. Dengan adanya tanggung jawab yang ia pikul, ia akan berusaha untuk memenuhi, melakukan dan menyelesaikannya dengan kualitas terbaik.
Tiga, tantangan. Pada dasarnya setiap manusia suka dengan hal-hal yang baru. Dengan kita memberikan pekerjaan yang menantang, maka mereka akan termotivasi. Hanya saja berikan tantangan dalam porsi yang tepat. Jika tantangan kita berlebihan, mereka juga akan berpikir bahwa hal tersebut mustahil untuk dilakukan. Namun jika tantangan kita terlalu mudah, mereka juga akan malas melakukannya karena dianggap tidak akan menimbulkan kebanggaan bagi yang melakukannya.
Empat, ciptakan suasana kerja yang kondusif. Jika suasana kerja tidak nyaman, jelas satu sama lain tidak akan termotivasi. Mengusahakan keakraban di dalam tim adalah salah satu cara efektif untuk menciptakan suasana kerja yang kondusif. Jika semua orang yang ada di dalam tim menjadi kompak, mereka akan menikmati apa yang mereka kerjakan dan akan terus termotivasi. Selain itu, setiap orang hendaknya diberikan kesempatan untuk maju. Suasana kerja akan jadi kondusif dan tim kita pun akan termotivasi terus.
Setiap pemimpin sudah seharusnya menciptakan motivasi dalam timnya.
Langganan:
Postingan (Atom)