Kebenaran
Bacaan: Amsal;13:6,14:34,16:8,3:27
Kebenaran menjaga orang yang saleh jalannya, tetapi kefasikan mencelakakan orang berdosa.- Amsal 13:6
Dalam Principled-centered Leadership, Stephen R. Covey mengadaptasi pandangan Mahatma Gandhi tentang tujuh dosa maut yang bila dibiarkan akan merusakkan tatanan sebuah masyarakat, bahkan sebuah bangsa. Ketujuh dosa maut tersebut adalah :
1. Wealth without work (Kekayaan tanpa usaha).
2. Pleasure without conscience (Kesenangan tanpa nurani).
3. Knowledge without character (Pengetahuan tanpa karakter).
4. Commerce without morality (Bisnis tanpa moralitas).
5. Science without humanity (Sains tanpa nilai kemanusiaan)
6. Religion without sacrifice (Agama tanpa pengorbanan).
7. Politics without principles (Politik tanpa prinsip).
Ketujuh dosa maut yang telah diadaptasi oleh Stephen R. Covey tersebut sebenarnya bermuara pada satu hal saja, yaitu ketiadaan kebenaran! Kebenaran harus menjadi dasar yang paling hakiki dalam setiap sisi kehidupan. Dalam kita bekerja atau berbisnis, kebenaran sudah seharusnya menjadi fondasi bagi kita. Jika bisnis atau pekerjaan kita tidak berdasar pada kebenaran, maka cara-cara curang, tidak jujur, ilegal, praktik kotor pun akan kita lakukan.
Jika dunia bisnis tanpa kebenaran, maka manusia akan menjadi serigala bagi sesamanya (homo homini lupus). Hingga tak heran kalau yang kuat akan bertindak semena-mena terhadap yang lemah, tanpa mengindahkan nurani dan tanpa berbelas kasihan. Sebagai orang Kristen, bisnis kita bukanlah sekadar berorientasi kepada keuntungan tanpa memperhatikan keadilan bagi orang lain. Bisnis juga berorientasi pada hubungan antar manusia. Dan akhirnya, apakah Anda seorang pimpinan atau bawahan, ingatlah bahwa kita semua memiliki seorang pimpinan di Sorga yang akan meminta pertanggung jawaban atas bagaimana cara kita bekerja selama di dunia (Kol 4:1, Ef 6:5-8).
Bisnis bukan hanya tentang keuntungan tapi juga soal hubungan antar manusia
Perdamaian sangat dibutuhkan pada jaman ini, bagaimana kita bisa berdamai dengan sesama, dengan Tuhan dan diri sendiri.Semua ini hanya dapat kita peroleh dari Dia dan FirmanNya sebagai Madu Surgawi.
Minggu, 15 Maret 2009
"Jangan anggap enteng pada yg terkecil"
Kisah Baut Kecil
Bacaan: Filipi2:1-11
Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; - Filipi 2:3
Sebuah baut kecil bersama ribuan baut seukurannya dipasang untuk menahan lempengan-lempengan baja di lambung sebuah kapal besar. Saat melintasi samudera Hindia yang ganas, baut kecil itu terancam lepas. Hal itu membuat ribuan baut lain terancam lepas pula. Baut-baut kecil lain berteriak menguatkan, "Awas! Berpeganglah erat-erat! Jika kamu lepas kami juga akan lepas!" Teriakan itu didengar oleh lempengan-lempengan baja yang membuat mereka menyerukan hal yang sama. Bahkan seluruh bagian kapal turut memberi dorongan semangat pada satu baut kecil itu untuk bertahan. Mereka mengingatkan bahwa baut kecil itu sangat penting bagi keselamatan kapal. Jika ia menyerah dan melepaskan pegangannya, seluruh isi kapal akan tenggelam. Dukungan itu membuat baut kecil kembali menemukan arti penting dirinya di antara komponen kapal lainnya. Dengan sekuat tenaga, ia pun berusaha tetap bertahan demi keselamatan seisi kapal.
Sayang, dunia kerja seringkali berkebalikan dengan ilustrasi di atas. Kita malah cenderung girang melihat rekan sekerja "jatuh", bahkan kita akan merasa bangga apabila kita sendiri yang membuat rekan kerja gagal dalam tanggung jawabnya. Jika itu dibiarkan, artinya perpecahan sedang dimulai dan tanpa sadar kita menggali lubang kubur sendiri. Apa yang disebut gaya hidup seorang Kristen seakan tidak berlaku di tempat kerja. Padahal setiap tindakan yang kita lakukan akan selalu disorot oleh Sang Atasan.
Bagaimana sikap kita dengan rekan kerja? Mungkin saat rekan kerja menghadapi masalah, kita menganggap itu risiko yang harus ia hadapi sendiri. Tapi sebagai tim, kegagalan satu orang akan selalu membawa dampak pada keseluruhan. Jadi mengapa kita harus saling menjatuhkan? Bukankah hasilnya tentu jauh lebih baik jika kita saling mendukung dan bekerjasama menghadapi persoalan? Kristus mengajarkan bahwa kita adalah satu tubuh. Jika satu anggota mengalami masalah, yang lainnya harus mendorong dan menguatkannya. Jangan sampai masalah yang dialami rekan kerja malah membuat kita senang. Tapi baiklah kita berseru, "Berpeganglah erat-erat! Tanpa kamu, kami akan tenggelam!"
Kegagalan atau kesuksesan rekan sekerja akan selalu mempengaruhi diri kita juga
Kamis, 05 Maret 2009
KERENDAHAN HATI
Sdr/I yg dikasihi Tuhan Yesus…!
Krisis multi dimensi yang berkepanjangan bisa mengakibatkan banyak anggota masyarakat di berbagai tempat mengalami goncangan dalam kehidupan dan status sosialnya. Tekanan zaman akibat globalisasi menyebabkan pendapatan banyak orang mengalami penurunan dan kehilangan pekerjaan. Akibatnya angka kriminalitas naik secara tajam dan lebih jauh kekerasan menjadi budaya bangsa. Di tengah2 hilangnya rasa aman dan situasi kehidupan yang serba tidak menentu menyebabkan banyak orang akan mudah mempercayai ajaran2 atau ajakan untuk mendapatkan kebahagiaan. Hal seperti inilah yang terjadi di jemaat Tesalonika, dimana banyak pengajar2 palsu mengkhotbahkan bahwa hari Tuhan sudah dekat, sehingga tidak perlu lagi bekerja, cukuplah mempersiapkan penantian kedatangan itu (Seperti Mangampin Sibuea 10 Nop 03). Kita tidak perlu heran, karena sejak Kematian dan Kebangkitan Tuhan Yesus, sepanjang sejarah ada saja dikalangan Umat Kristen yang mempercayai bahwa Yesus akan datang pada tahun2 tertentu. Seperti tahun 500; 1000; 1260; 1420; 1533; 1843; 1844; 1914; 1918; 1925; 1941; 1975; 1992; 2003. Ada banyak Tokoh2nya mulai dari William Milen sampai Mangampin. Tahun 54 seorang Mesir menyatakan dirinya sebagagai nabi di Yerusalem, ia membujuk 37.000 pengikutnya ke Bukit Zaitun, dan disana ia akan menghancurkan tembok Yerusalem dengan firman yang keluar dari mulutnya, namun yang terjadi tembok kota tersebut masih tetap berdiri sampai saat ini. Tetapi berbeda dengan yang satu ini yaitu:
Muder Teresa
Kerendahan Hati
Berbicara sesedikit mungkin tentang diri sendiri
Uruslah sendiri persoalan-persoalan
Hindarilah rasa ingin tahu
Janganlah mencampuri urusan orang lain
Terimalah pertentangan dengan kegembiraan
Jangan memusatkan perhatian kepada kesalahan orang lain
Terimalah hinaan dan caci maki
Terimalah perasaan tak diperhatikan, dilupakan dan dipandang rendah
Mengalah terhadap kehendak orang lain
Terimalah celaan walaupun anda tidak layak menerimanya
Bersikap sopan dan peka, seklipun seseorang memancing amarah anda
Janganlah mencoba agar dikagumi dan dicintai
Bersikap mengalah dalam perbedaan pendapat, walaupun anda benar
Pilihlah selalu yang tersulit
Sekilas Biografi :
Dilahirkan di Skopje, Yugoslavia, dengan nama Agnes Boyakhul, pada tanggal 26 Agustus 1910. Ia memilih tanggal 27 Agustus 1910, saat Ia dipermandikan menjadi hari ulang tahunnya. la masuk Biara Loretto di Irlandia 1928. Setahun sesudahnya dikirim ke India untuk menjalankan novisiatnya di sana dan memulai karya sebagai guru, mengajar di SMP St.Mary Calcuta.
Ia mengajar di situ hampir 20 tahun. Pada tahun 1946 dalam perjalanan menuju retret tahunannya, ia berkata: "Aku mendengar panggilan untuk meninggalkan segalanya dan mengikuti DIA ke lorong-lorong kumuh untuk melayani orang-orang miskin dan terlantar. ......Selanjutnya klik disini !!!
Karya Tulisan, Doa dan Renungannya :
Ia banyak menuliskan doa-doa serta tulisan mengenai pengalaman dia bersama orang-orang dimana ia berkata, di dalam diri manusia dia menemukan Tuhan.
Dia menuliskan doa-doanya bersama dengan Bruder Roger dari Taize. Tulisan itu dikumpulkan dalam sebuah buku yang berjudul 'Doa : Mengetuk Hati Manusia'.
Dia juga menuliskan pengalamannya dalam buku 'Mutiara Cinta'.
Untuk melihat tulisan-tulisan Doa Ibu Teresa, lihat dalam kumpulan Doa berikut ini .........Selanjutnya klik disini !!!
Kerabat Kerja Ibu Teresa:
Seorang Kerabat Kerja Ibu Teresa adalah seorang yang melihat kehadiran Tuhan di dalam diri setiap orang dan memilih untuk mengambil bagian dalam pelayanan nyata bagi kaum miskin dengan munggunakan tangan mereka untuk melayani dan menyerahkan hati mereka untuk mencintai.
Bagi saudara yang ingin mengetahui lebih lanjut dan juga ingin bergabung bersama menjadi Kerabat Kerja Ibu Teresa
Kerabat Kerja Ibu Teresa
Apakah Kerabat Kerja itu?
Seorang Kerabat Kerja Ibu Teresa adalah seorang yang melihat kehadiran Tuhan di dalam diri setiap orang dan memilih untuk mengambil bagian dalam pelayanan nyata bagi kaum miskin dengan menggunakan tangan mereka untuk melayani dan menyerahkan hati mereka untuk mencintai.
Ibu Teresa menginginkan agar para Kerabat Kerjanya memelihara ikatan cinta kasih yang mendalam di dalam rumah mereka, di samping itu juga mencari orang-orang yang membutuhkan bantuan di tetangga, kota dan negara mereka sendiri serta di dunia.
Jbu Teresa meminta agar kami mencari orang-orang yang membutuhkan diri kami dan mengenal mereka secara pribadi. Hanya dengan berkenalan secara pribadi kami dapat mengerti dan mencintai mereka. Ibu Teresa meminta para Kerabat Kerja untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan kecil, di mana orang lain tidak mempunyai waktu untuk melakukannya.
Ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makanan,
Ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum,
Ketika Aku seorang asing, kamu menyambut Aku,
Ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian,
Ketika Aku sakit, kamu melawat Aku,
Ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku........
Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya segala sesuatu yang kainu lakukan kepada salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.
(Matius 25:35 - 36, 40)
Saudaraku Yang Paling Hina
SaudaraKu yang paling hina (yang termiskin di antara kaum miskin) ialah mereka
• yang lapar dan kesepian - tidak hanya lapar akan makanan, tetapi juga akan Sabda Allah.
• yang haus dan disingkirkan - tidak hanya untuk segelas air tetapi juga untuk pengetahuan, perdamaian dan kebenaran serta keadilan dan cinta.
• yang telanjang dan tak dicintai - tidak hanya untuk pakaian, melainkan juga untuk harga diri.
• yang tak dikehendaki, bayi-bayi yang digugurkan, korban diskriminasi, tuna wisma bukan hanya membutuhkan sebuah rumah dari bata, tetapi juga sebuah hati yang penuh pengertian, melindungi dan mencintai.
• orang miskin yang sakit, sekarat dan para tahanan, juga yang sakit jiwanya, tak bersemangat hidup.
• semua yang telah kehilangan harapan dan iman.
• pecandu obat bius dan minuman keras.
• dan mereka semua yang telah kehilangan Tuhannya (bagi mereka Tuhan adalah masa lampau, padahal Tuhan selalu ada) dan mereka yang telah kehilangan harapan akan kekuatan Roh.
Pedoman Kerabat Kerja Ibu Teresa
• Bawalah doa kedalam keluargamu. Cinta kasih dimulai di rumah. Anda harus memulainya di sana dengan melayani keluarga sendiri dan para tetangga.
• Semua Kerabat Kerja bekerja bersama dengan para Suster, Pastor, Bruder Misionaris Cinta Kasih yang paling dekat dengan rumah anda. Bila tidak ada yang dekat, tetap lakukan aksi cinta kasihmu dan selalu berhubungan dengan Regional Superior Misionaris Cinta Kasih.
• 3. Para Kerabat Kerja harus berusaha berkumpul bersama di lingkungannya untuk berdoa, melayani dan berbagi rasa bersama dengan para Misionaris Cinta Kasih.
• Tidak ada pengurus di semua tingkatan. Tidak ada rekening koran atas nama Kerabat Kerja untuk keperluan apapun. Semua sumbangan harus diserahkan langsung kepada Misionaris Cinta Kasih.
• Tidak ada newsletter atau "family" letters. Superior Jenderal Misionaris Cinta Kasih akan berkomunikasi dengan para Kerabat Kerja diia kali dalam setahun.
Doa Harian Kerabat Kerja
Ya Tuhan, JADIKANLAH KAMI berguna untuk melayani sesama manusia di seluruh dunia, yang hidup dan mati dalam kemiskinan dan kelaparan.
BERIKANLAH KEPADA MEREKA melalui tangan-tangan kami rejeki pada hari ini dan melalui cinta kasih kami yang penuh pengertian, berikanlah kepada mereka rasa damai dan gembira di hati.
TUHAN, jadikanlah aku pembawa DAMAI. Bila terjadi kebencian,.jadikanlah akupembawa Cinta Kasih.
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan.
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan.
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran.
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian.
Bila terjadi keputusasaan, jadikanlah aku pembawa harapan.
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang.
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku pembawa kegembiraan.
Tuhan, semoga aku lebih ingin menghibur daripada dihibur.
Memahami daripada dipahami, mencintai daripada dicintai.
Sebab dengan memberi kami menerima, dengan mengampuni kami diampuni.
Dengan mati suci, kami akan bangkit lagi untuk selama-lamanya, AMIN.
Pancaran Cinta Kasih Tuhan
Ya Allah Tuhanku, tolonglah aku menyebarka keharumanMu kemana saja aku pergi. Penuhilah jiwaku dengan semangat dan hidupMu.
Resapilah dan kuasailah seluruh pribadik sedemikian rupa sehingga seluruh hidupk hanyalah merupakan Pancaran Cinta KasihMu Bersinarlah sepenuhnya dalam diriku sedemikia rupa sehing-a setiap jiwa yang berhubunga
Semoga mereka tidak melihat diriku lagi, melainkan menengadah memandang Engkau sendiri oh Tuhanku! Tinggallah selalu dalam jiwaku sehingga Engkau sendiri yang memancarkan sinarmu melalui diriku, sedemikian rupa sehingga memancarkan sinarmu menerangi sesamaku. Sinar itu, oh Tuhan akan datang seluruhnya daripadamu, tak satupun milikku, hanya Dikaulah saja yang memancarkan sinarmu menembusiku menerangi sekelilingku.
Biarkan aku memujimu dengan cara yang paling berkenan di hatimu, dengan membawa sinarmu menerangi orang-orang di lingkunganku.
Biarkan aku mewartakanmu tanpa mengkhotbahi, bukan dengan kata-kata melainkan dengan suri teladanku, dengan daya tarik dan pengaruh yang lembut dari apa yang kulakukan, yang menjadi bukti nyata kebulatan cinta kasihku kepadamu. Amin.
ROH KUDUS ( HOLY SPIRIT)
Pendahuluan:
Tuhan Allah mencurahkan RohNya dan bekerja serta berdiam dalam hidup kita. Kehadiran Roh Kudus dalam hidup kita menuntut pembaharuan, tidak hanya dalam teori tetapi dalam praktek hidup, dalam perilaku sehari-hari dan dalam kesaksian hidup.
Kehadiran Roh Kudus dalam hidup kita hendaknya memberi dampak positif bagi hidup kita dan lingkungan kita, pembawa Kasih, Sukacita, Damai Sejahtera serta menjadi saluran berkat Tuhan bagi setiap orang.
Dari hidup orang Kristen yang telah menerima berkat keselamatan/kesembuhan Ilahi (Blessing Divine Healing) dari Allah melalui pengorbanan Tuhan Yesus oleh karena Kasih-Nya yang tiada taranya, haruslah kita menjadi berkat dan pelita bagi orang lain, dan ini dapat kita lakukan hanya melalui bimbingan Roh Kudus.
Mungkin timbul dalam hati kita satu pertanyaan atau suatu kerinduan, bagaimana agar pekerjaan Roh Kudus atau agar Tuhan Yesus hidup dalam hati kita dan kita hidup di dalam Dia..? Jawabannya singkat “ Dia harus tinggal dan hidup di dalam kita”, berarti kita harus memberi tempat dalam hati kita untuk Dia berkarya dan kita harus tinggal dan hidup dalam Dia. Kristus yang berkuasa dalam hidup kita, sehingga kita dapat berkata “not I but Christ” Gal 2:20.
Peranan roh kudus mutlak diakui baik dalam Perj. Lama dan Perj. Baru. Namun banyak orang kristen melalaikan bahkan menyia-yiakan Pribadi, Kuasa dan Manifestasi Roh Kudus. Jemaat Tuhan yang tidak menghargai Roh Kudus menjadi jemaat yang mati, sebaliknya kalau jemaat Tuhan menghormati Roh Kudus akan menjadi jemaat yang hidup, karena Roh Kudus dapat membangkitkan KUASA- Kuasa untuk sukses, Kuasa untuk hidup berkemenangan.
Satu teladan yang baik dari kehidupan Daud dalam menghormati dan menghargai Roh Kudus tertulis dalam Maz. 51:13, …”janganlah mengambil RohMu yang kudus dari padaku…!” Daud sadar tanpa Roh Kudus hidupnya akan berantakan, sebab itu ia mengutamakan Roh Kudus diatas segala-galanya.
Dalam Perjanjian Baru, kita temukan penekanan yang sangat penting berkatian degan pokok Roh Kudus.
“Kamu akan beroleh Kuasa, kalau Roh Kudus turun atas kamu…” Kisah 1:8. oleh karena Roh Kudus menyertai hidup seseorang maka orang itu dapat memiliki Kuasa untuk mengalahkan yang jahat, Kuasa untuk menghancurkan musuh dan kuasa untuk memasuki hidup yang sukses dan bahagia. Roh kudus mutlak kita perlukan dalam hidup dan Pelayanan kita. Tanpa Roh Kudus kita tidak mempunyai kuasa.
Roh Kudus adalah Roh Kebenaran yang diberikan oleh Allah dan Roh itu akan bersaksi tentang Yesus dan Dia akan menolong, menyertai dan tinggal didalam setiap orang percaya. sejak pada awalnya, Alkitab memperkenalkan kepada kita Roh Allah itu. Dalam kejadian 1:1-2: “pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong (tak didiami): gelap gulita menutupi samudra raya (lautan yang mula-mula) dan ROH ALLAH melayang-layang diatas permukaan air”.
Di sini kita lihat bahwa Roh Kudus bukan sekedar suatu “Kuasa” atau “Pengaruh” yang sewaktu-waktu digunakan. Roh kudus adalah satu oknum ilahi yang mempunyai PRIBADI sama derajatnya dengan Allah Bapa dan Allah Anak. Roh kudus adalah pribadi ketiga dari Ketritunggalan Allah. Ia layak dihormati dan dihargai sama seperti menghormati Allah Bapa dan Tuhan Yesus.
Kurang pengertian mendalam mengenai Pribadi Roh Kudus, menyebabkan banyak orang kurang menghargai dan menghormati keberadaan Roh Kudus.
Pada hal “kunci utama kepada perkembangan dan pertumbuhan Gereja” adalah pada penghormatan dan penghargaan yang tinggi pada pribadi Roh Kudus ( Respect to personality of Holy Spirit)”. Memang masih banyak orang yang masih meragukan keberadaan Roh Kudus, akan tetapi sebagai anak-anak Allah, kita harus mengenal Dia dengan benar. ( Rom 8 : 9, 15 dan Johannes 14 : 16 – 17).
Peranan Roh Kudus dalam kehidupan orang Percaya:
Dalam I. Korint 3: 16; 6: 19 diterangkan bahwa tubuh kita adalah BaitNya, jika kita dipenuhi Roh Kudus, maka Dia tinggal dalam kita.
Roh Kudus menyembuhkan I. Kor 12:9, Roma 8:11.
Roh Kudus membebaskan orang percaya dari ikatan dosa. Roma 8: 2.
Mengubah kita sehingga kita memiliki karakter Yesus. Menghasilkan buah. Gal 5:22-23.
Penolong dan Mengajar segala Kebenaran. Joh 14: 16-17; 26.
Memimpin anak-anak Allah. Roma 8:16.
Menyucikan I. Pet 1: 2; II Tes 2: 13.
Menolong dan membimbing dalam doa. Roma. 8: 26-27.
Roh Kudus itu memberi dorongan bagi kita untuk bersaksi. Kisah 1: 8; 5: 32, I. Kor 12:3. Dan masih banyak lagi yang dapat diungkapkan oleh Alkitab, Karena itu hargailah dan terimalah Roh Kudus sebagai pribadi Allah dan sambut Dia dalam hidupmu.
Bagaimana kita Menghidupkan Roh Kudus itu dalam kehidupan kita…?
1. Bertobat dan taati Dia Kis 2: 38; 5: 32.
2. Serahkan dirimu menjadi persembahan yang Kudus. Roma 12: 1-3.
3. Terapkan 5 M.
4. Jangan padamkan Roh I. Tes 5: 19
5. Jangan mendukakan Roh Kudus. Efesus 4: 30.
6. Jangan menentang Roh Kudus. Kis 7: 51.
Amin. RHL. Tobing.
Tuhan Allah mencurahkan RohNya dan bekerja serta berdiam dalam hidup kita. Kehadiran Roh Kudus dalam hidup kita menuntut pembaharuan, tidak hanya dalam teori tetapi dalam praktek hidup, dalam perilaku sehari-hari dan dalam kesaksian hidup.
Kehadiran Roh Kudus dalam hidup kita hendaknya memberi dampak positif bagi hidup kita dan lingkungan kita, pembawa Kasih, Sukacita, Damai Sejahtera serta menjadi saluran berkat Tuhan bagi setiap orang.
Dari hidup orang Kristen yang telah menerima berkat keselamatan/kesembuhan Ilahi (Blessing Divine Healing) dari Allah melalui pengorbanan Tuhan Yesus oleh karena Kasih-Nya yang tiada taranya, haruslah kita menjadi berkat dan pelita bagi orang lain, dan ini dapat kita lakukan hanya melalui bimbingan Roh Kudus.
Mungkin timbul dalam hati kita satu pertanyaan atau suatu kerinduan, bagaimana agar pekerjaan Roh Kudus atau agar Tuhan Yesus hidup dalam hati kita dan kita hidup di dalam Dia..? Jawabannya singkat “ Dia harus tinggal dan hidup di dalam kita”, berarti kita harus memberi tempat dalam hati kita untuk Dia berkarya dan kita harus tinggal dan hidup dalam Dia. Kristus yang berkuasa dalam hidup kita, sehingga kita dapat berkata “not I but Christ” Gal 2:20.
Peranan roh kudus mutlak diakui baik dalam Perj. Lama dan Perj. Baru. Namun banyak orang kristen melalaikan bahkan menyia-yiakan Pribadi, Kuasa dan Manifestasi Roh Kudus. Jemaat Tuhan yang tidak menghargai Roh Kudus menjadi jemaat yang mati, sebaliknya kalau jemaat Tuhan menghormati Roh Kudus akan menjadi jemaat yang hidup, karena Roh Kudus dapat membangkitkan KUASA- Kuasa untuk sukses, Kuasa untuk hidup berkemenangan.
Satu teladan yang baik dari kehidupan Daud dalam menghormati dan menghargai Roh Kudus tertulis dalam Maz. 51:13, …”janganlah mengambil RohMu yang kudus dari padaku…!” Daud sadar tanpa Roh Kudus hidupnya akan berantakan, sebab itu ia mengutamakan Roh Kudus diatas segala-galanya.
Dalam Perjanjian Baru, kita temukan penekanan yang sangat penting berkatian degan pokok Roh Kudus.
“Kamu akan beroleh Kuasa, kalau Roh Kudus turun atas kamu…” Kisah 1:8. oleh karena Roh Kudus menyertai hidup seseorang maka orang itu dapat memiliki Kuasa untuk mengalahkan yang jahat, Kuasa untuk menghancurkan musuh dan kuasa untuk memasuki hidup yang sukses dan bahagia. Roh kudus mutlak kita perlukan dalam hidup dan Pelayanan kita. Tanpa Roh Kudus kita tidak mempunyai kuasa.
Roh Kudus adalah Roh Kebenaran yang diberikan oleh Allah dan Roh itu akan bersaksi tentang Yesus dan Dia akan menolong, menyertai dan tinggal didalam setiap orang percaya. sejak pada awalnya, Alkitab memperkenalkan kepada kita Roh Allah itu. Dalam kejadian 1:1-2: “pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong (tak didiami): gelap gulita menutupi samudra raya (lautan yang mula-mula) dan ROH ALLAH melayang-layang diatas permukaan air”.
Di sini kita lihat bahwa Roh Kudus bukan sekedar suatu “Kuasa” atau “Pengaruh” yang sewaktu-waktu digunakan. Roh kudus adalah satu oknum ilahi yang mempunyai PRIBADI sama derajatnya dengan Allah Bapa dan Allah Anak. Roh kudus adalah pribadi ketiga dari Ketritunggalan Allah. Ia layak dihormati dan dihargai sama seperti menghormati Allah Bapa dan Tuhan Yesus.
Kurang pengertian mendalam mengenai Pribadi Roh Kudus, menyebabkan banyak orang kurang menghargai dan menghormati keberadaan Roh Kudus.
Pada hal “kunci utama kepada perkembangan dan pertumbuhan Gereja” adalah pada penghormatan dan penghargaan yang tinggi pada pribadi Roh Kudus ( Respect to personality of Holy Spirit)”. Memang masih banyak orang yang masih meragukan keberadaan Roh Kudus, akan tetapi sebagai anak-anak Allah, kita harus mengenal Dia dengan benar. ( Rom 8 : 9, 15 dan Johannes 14 : 16 – 17).
Peranan Roh Kudus dalam kehidupan orang Percaya:
Dalam I. Korint 3: 16; 6: 19 diterangkan bahwa tubuh kita adalah BaitNya, jika kita dipenuhi Roh Kudus, maka Dia tinggal dalam kita.
Roh Kudus menyembuhkan I. Kor 12:9, Roma 8:11.
Roh Kudus membebaskan orang percaya dari ikatan dosa. Roma 8: 2.
Mengubah kita sehingga kita memiliki karakter Yesus. Menghasilkan buah. Gal 5:22-23.
Penolong dan Mengajar segala Kebenaran. Joh 14: 16-17; 26.
Memimpin anak-anak Allah. Roma 8:16.
Menyucikan I. Pet 1: 2; II Tes 2: 13.
Menolong dan membimbing dalam doa. Roma. 8: 26-27.
Roh Kudus itu memberi dorongan bagi kita untuk bersaksi. Kisah 1: 8; 5: 32, I. Kor 12:3. Dan masih banyak lagi yang dapat diungkapkan oleh Alkitab, Karena itu hargailah dan terimalah Roh Kudus sebagai pribadi Allah dan sambut Dia dalam hidupmu.
Bagaimana kita Menghidupkan Roh Kudus itu dalam kehidupan kita…?
1. Bertobat dan taati Dia Kis 2: 38; 5: 32.
2. Serahkan dirimu menjadi persembahan yang Kudus. Roma 12: 1-3.
3. Terapkan 5 M.
4. Jangan padamkan Roh I. Tes 5: 19
5. Jangan mendukakan Roh Kudus. Efesus 4: 30.
6. Jangan menentang Roh Kudus. Kis 7: 51.
Amin. RHL. Tobing.
Rabu, 25 Februari 2009
JADILAH TELADAN DALAM BEKERJA
Jadilah Teladan dalam Bekerja
Bacaan : 2 Tesalonika 3:10-13
Menurut kebanyakan orang kita bekerja adalah supaya kita mendapatkan ‘berkat’, jika kita tidak bekerja maka besar kemungkinan kita tidak akan memperoleh ‘berkat’. Benarkah sebuah pekerjaan hanya sesuatu usaha untuk mendapat berkat ? Apakah itu tujuan utama kita bekerja ? Untuk itukah Tuhan menyuruh kita bekerja ?
Dalam kedua surat Paulus kepada jemaat di Tesalonika tertulis banyak ucapan syukur karena Jemaat Tesalonika yang menjadi teladan karena kasih dan perilakunya di seluruh wilayah Makedonia. Paulus mengucap syukur dan berdoa agar Jemaat makin giat dalam pelayanan keteladanan dan kasih diantara sesama jemaat agar nama Tuhan dipermuliakan dan kebenaran Firman Tuhan makin diketahui semua orang. Dalam mencapai tujuan mulia itu, salah satu tugas yang diajarkan oleh Paulus adalah “kita semua harus bekerja”.
Beberapa hal yang dapat di definisikan dari esensi sebuah pekerjaan adalah :
1. Bekerja adalah wujud ucapan syukur
Pekerjaan adalah sebuah bentuk ucapan syukur kita kepada Bapa yang telah lebih dahulu ‘bekerja’ untuk kita. Bukankah Tuhan, Allah Bapa telah mengerjakan banyak hal kepada kita, lewat kesehatan, keluarga, tubuh yang sempurna, kawan kawan bahkan sebuah keselamatan yang tak terkira bagi kita. Tidakkah kita sepatutnya bersyukur dan mewujudkannya dengan menggunakan semuanya itu untuk sebuah pekerjaan yang berguna? Ketika sebuah pekerjaan disadari sebagai sebuah ucapan syukur, kita akan melihat betapa menyenangkannya sebuah pekerjaan. Adalah penting memiliki kesadaran tentang apa sebab kita bekerja, beberapa orang merasa pekerjaan sebagai sebuah ‘kutukan’. Aktivitas yang berulang tiap tiap hari sepanjang tahun dianggap sebuah nasib yang harus ditanggung dengan sabar. Kesadaran seperti ini membuat bekerja menjadi melelahkan, penuh keluhan dan sebuah kompetisi tanpa akhir untuk mengejar ‘berkat’ yang tidak pernah mencapai kata ‘cukup’. Pekerjaan menjadi menegangkan dan penuh kompetisi untuk mengejar pengakuan yang dinamakan ‘keberhasilan’. Masing masing baik sadar dan tidak sadar memandang penuh iri atas ‘berkat’ orang lain, lalu menjadi berusaha lebih keras bahkan dengan segala cara untuk menandingi ‘keberhasilan’ tersebut, besar kemungkinan mereka lupa untuk kapan dan dimana harus berhenti.
Lain cerita jika kita menganggap pekerjaan sebagai sebuah ucapan syukur kepada Allah Bapa. Kita hanya ingin bekerja yang terbaik untuk Bapa, karena Dia sudah baik kepada kita. Bekerja tidak didorong untuk tuntutan memperoleh ‘berkat’ lebih banyak ataupun pengakuan; karena kita sadar bahwa kita telah lebih dahulu terberkati oleh Sang Pemberi Berkat. 100% kita akan yakin jika kita bekerja pasti Tuhan memberikan berkat, karena Dia yang memberi berkat, susah payah tidak akan menambahinya ( amsal 10:22). Besaran berkat tidak lagi menjadi ukuran keberhasilan. Sedikit disyukuri, banyak tidak membuat sombong, karena kesadaran bahwa berkat adalah datangnya dari Bapa. Dalam Kejadian 26:12-13, jelas terlihat bahwa Ishak menjadi kaya bahkan sangat kaya karena berkat Tuhan, bukan karena berapa besarnya dia bekerja. Jadi bekerjalah dengan sukacita dan ucapan syukur, karena Tuhan memberkati kita, bukan karena kita berlelah mencari berkat.
2. Bekerja sebagai sebuah Teladan
Pekerjaan kita harus menjadi teladan, sehingga pada akhirnya orang lain melihat kemurahan Tuhan lewat pekerjaan yang kita lakukan. Ini berkaitan dengan kualitas, integritas dan etos kerja kita. Menjadi teladan tentu harus menjadi yang terbaik dengan cara yang seturut perintah Tuhan. Ketika kita bersih dilingkungan yang korup, ketika kita setia saat Boss tidak ada, ketika kita tidak mencuri di lingkungan yang penuh dengan pencurian, ketika kita hormat kepada atasan ketika banyak orang menggosip di belakang, dan hal hal yang menjadikan kita berbeda, pelan pelan keteladanan itu akan muncul dan diakui oleh lingkungan kita. Keteladanan membutuhkan sebuah konsistensi terus menerus dan tidak mudah terpengaruh, sebuah kesetiaan yang biasanya membutuhkan waktu yang panjang. Namun dengan dengan hati yang melihat pekerjaan sebagai sebuah ungkapan rasa syukur pasti tidak sulit melakukannya. Toh kita tidak perlu takut dan khawatir, karena sadar bahwa berkat datang dari Tuhan bukan dari boss, customer, pemerintah ataupun perusahaan.
Lalu dimanakah ukuran keberhasilan kita dalam bekerja? Beberapa pertanyaan ini bisa menjadi ukuran kita apakah kita sudah berhasil dalam bekerja atau belum.
a. Apakah kita lebih banyak bersyukur atau mengeluh dalam bekerja ?
b. Apakah kita lebih banyak memberi atau menerima ?
c. Sudahkah orang lain melihat kita berbeda dan menjadi teladan ?
Bacaan : 2 Tesalonika 3:10-13
Menurut kebanyakan orang kita bekerja adalah supaya kita mendapatkan ‘berkat’, jika kita tidak bekerja maka besar kemungkinan kita tidak akan memperoleh ‘berkat’. Benarkah sebuah pekerjaan hanya sesuatu usaha untuk mendapat berkat ? Apakah itu tujuan utama kita bekerja ? Untuk itukah Tuhan menyuruh kita bekerja ?
Dalam kedua surat Paulus kepada jemaat di Tesalonika tertulis banyak ucapan syukur karena Jemaat Tesalonika yang menjadi teladan karena kasih dan perilakunya di seluruh wilayah Makedonia. Paulus mengucap syukur dan berdoa agar Jemaat makin giat dalam pelayanan keteladanan dan kasih diantara sesama jemaat agar nama Tuhan dipermuliakan dan kebenaran Firman Tuhan makin diketahui semua orang. Dalam mencapai tujuan mulia itu, salah satu tugas yang diajarkan oleh Paulus adalah “kita semua harus bekerja”.
Beberapa hal yang dapat di definisikan dari esensi sebuah pekerjaan adalah :
1. Bekerja adalah wujud ucapan syukur
Pekerjaan adalah sebuah bentuk ucapan syukur kita kepada Bapa yang telah lebih dahulu ‘bekerja’ untuk kita. Bukankah Tuhan, Allah Bapa telah mengerjakan banyak hal kepada kita, lewat kesehatan, keluarga, tubuh yang sempurna, kawan kawan bahkan sebuah keselamatan yang tak terkira bagi kita. Tidakkah kita sepatutnya bersyukur dan mewujudkannya dengan menggunakan semuanya itu untuk sebuah pekerjaan yang berguna? Ketika sebuah pekerjaan disadari sebagai sebuah ucapan syukur, kita akan melihat betapa menyenangkannya sebuah pekerjaan. Adalah penting memiliki kesadaran tentang apa sebab kita bekerja, beberapa orang merasa pekerjaan sebagai sebuah ‘kutukan’. Aktivitas yang berulang tiap tiap hari sepanjang tahun dianggap sebuah nasib yang harus ditanggung dengan sabar. Kesadaran seperti ini membuat bekerja menjadi melelahkan, penuh keluhan dan sebuah kompetisi tanpa akhir untuk mengejar ‘berkat’ yang tidak pernah mencapai kata ‘cukup’. Pekerjaan menjadi menegangkan dan penuh kompetisi untuk mengejar pengakuan yang dinamakan ‘keberhasilan’. Masing masing baik sadar dan tidak sadar memandang penuh iri atas ‘berkat’ orang lain, lalu menjadi berusaha lebih keras bahkan dengan segala cara untuk menandingi ‘keberhasilan’ tersebut, besar kemungkinan mereka lupa untuk kapan dan dimana harus berhenti.
Lain cerita jika kita menganggap pekerjaan sebagai sebuah ucapan syukur kepada Allah Bapa. Kita hanya ingin bekerja yang terbaik untuk Bapa, karena Dia sudah baik kepada kita. Bekerja tidak didorong untuk tuntutan memperoleh ‘berkat’ lebih banyak ataupun pengakuan; karena kita sadar bahwa kita telah lebih dahulu terberkati oleh Sang Pemberi Berkat. 100% kita akan yakin jika kita bekerja pasti Tuhan memberikan berkat, karena Dia yang memberi berkat, susah payah tidak akan menambahinya ( amsal 10:22). Besaran berkat tidak lagi menjadi ukuran keberhasilan. Sedikit disyukuri, banyak tidak membuat sombong, karena kesadaran bahwa berkat adalah datangnya dari Bapa. Dalam Kejadian 26:12-13, jelas terlihat bahwa Ishak menjadi kaya bahkan sangat kaya karena berkat Tuhan, bukan karena berapa besarnya dia bekerja. Jadi bekerjalah dengan sukacita dan ucapan syukur, karena Tuhan memberkati kita, bukan karena kita berlelah mencari berkat.
2. Bekerja sebagai sebuah Teladan
Pekerjaan kita harus menjadi teladan, sehingga pada akhirnya orang lain melihat kemurahan Tuhan lewat pekerjaan yang kita lakukan. Ini berkaitan dengan kualitas, integritas dan etos kerja kita. Menjadi teladan tentu harus menjadi yang terbaik dengan cara yang seturut perintah Tuhan. Ketika kita bersih dilingkungan yang korup, ketika kita setia saat Boss tidak ada, ketika kita tidak mencuri di lingkungan yang penuh dengan pencurian, ketika kita hormat kepada atasan ketika banyak orang menggosip di belakang, dan hal hal yang menjadikan kita berbeda, pelan pelan keteladanan itu akan muncul dan diakui oleh lingkungan kita. Keteladanan membutuhkan sebuah konsistensi terus menerus dan tidak mudah terpengaruh, sebuah kesetiaan yang biasanya membutuhkan waktu yang panjang. Namun dengan dengan hati yang melihat pekerjaan sebagai sebuah ungkapan rasa syukur pasti tidak sulit melakukannya. Toh kita tidak perlu takut dan khawatir, karena sadar bahwa berkat datang dari Tuhan bukan dari boss, customer, pemerintah ataupun perusahaan.
Lalu dimanakah ukuran keberhasilan kita dalam bekerja? Beberapa pertanyaan ini bisa menjadi ukuran kita apakah kita sudah berhasil dalam bekerja atau belum.
a. Apakah kita lebih banyak bersyukur atau mengeluh dalam bekerja ?
b. Apakah kita lebih banyak memberi atau menerima ?
c. Sudahkah orang lain melihat kita berbeda dan menjadi teladan ?
Rabu, 28 Januari 2009
Jawaban Tuhan Selalu Positif
"Tuhan selalu memberikan jawab positif"
Anda berkata: “Itu tidak mungkin”Tuhan berkata: “Semuanya mungkin.” (Lukas 18:27)
Anda berkata: “Aku terlalu letih.”Tuhan berkata: “Aku memberimu kelegaan.” (Matius 11:28)
Anda berkata: “Tak ada orang yang mengasihiku.”Tuhan berkata: “Aku mengasihimu.” (Yoh 3:16 & 13:34)
Anda berkata: “Aku tak dapat terus.”Tuhan berkata: “Cukuplah kasih karuniaKu bagimu.” (2 Korintus 12:9)
Anda berkata: “Aku tak tahu yang harus aku lakukan.”Tuhan berkata: “Aku akan meluruskan jalanmu ” (Amsal 3:5)
Anda berkata: “Aku tak dapat melakukan itu.”Tuhan berkata: “Segala perkara dapat Kutanggung.” (Filipi 4:13)
Anda berkata: “Aku tidak sanggup.”Tuhan berkata: “Aku sanggup.” (2 Korintus 9:8)
Anda berkata: “Itu tak berharga.”Tuhan berkata: “Itu akan mendatangkan kebaikan bagimu.” (Roma 8:28)
Anda berkata: “Aku tak dapat memaafkan diriku sendiri.”Tuhan berkata: “Aku akan mengampuni segala dosa kamu.” (1 Yohanes 1:9)
Anda berkata: “Aku tidak sanggup.”Tuhan berkata: “Aku sanggup.” (2 Korintus 9:8)
Anda berkata: “Itu tak berharga.”Tuhan berkata: “Itu akan mendatangkan kebaikan bagimu.” (Roma 8:28)
Anda berkata: “Aku tak dapat memaafkan diriku sendiri.”Tuhan berkata: “Aku akan mengampuni segala dosa kamu.” (1 Yohanes 1:9)
Anda berkata: “Aku tak dapat mengatasinya.”Tuhan berkata: “Aku memenuhi segala keperluanmu.” (Filipi 4:19)
Anda berkata: “Aku takut.”Tuhan berkata: “Aku tidak memberikan roh ketakutan.” (2 Timotius 1:17)
Aku berkata: “Aku selalu khawatir.”Tuhan berkata: “Serahkan segala kekhawatiranmu kepadaKu.” (1 Petrus 5:7)
Aku berkata: “Aku tidak memiliki iman yang cukup.”Tuhan berkata: “Aku telah memberikan ukuran iman.” (Roma 12:3)
Aku berkata: “Aku tak cukup bijaksana.”Tuhan berkata: “Aku memberikan hikmat bagimu.” (1 Korintus 1:30)Aku berkata: “Aku merasa sendirian.”Tuhan berkata: “Aku tak akan meninggalkan dan membiarkan engkau sendirian.” (Ibrani 13:5)
Aku berkata: “Aku selalu khawatir.”Tuhan berkata: “Serahkan segala kekhawatiranmu kepadaKu.” (1 Petrus 5:7)
Aku berkata: “Aku tidak memiliki iman yang cukup.”Tuhan berkata: “Aku telah memberikan ukuran iman.” (Roma 12:3)
Aku berkata: “Aku tak cukup bijaksana.”Tuhan berkata: “Aku memberikan hikmat bagimu.” (1 Korintus 1:30)Aku berkata: “Aku merasa sendirian.”Tuhan berkata: “Aku tak akan meninggalkan dan membiarkan engkau sendirian.” (Ibrani 13:5)
Rabu, 07 Januari 2009
Quovadis...?

Kita harus menyadari bahwa manusia ini lemah, layu dan fana. Walaupun manusia dapat menaklukkan gunung yang tinggi, menguasai teknologi, ia tetap manusia yang tidak dapat menghindar jika berhadapan dengan maut. Walaupun ia seorang pemimpin yang sangat terkenal dan sangat ditakuti, sebagai manusia ia tetap memiliki rasa takut, walaupun ia seorang milliarder yang memiliki harta berlimpah, sebagai manusia tidak terlepas dari rasa cemas dan kuatir. Andaikata ia seorang ilmuwan yang demikian banyak mengadakan penelitian-penelitian, baik itu dibidang ilmu kedokteran, sebagai manusia tetap memiliki denyut jantung yang biasa dan normal, yang pada satu ketika denyutan jantung itu akan berhenti dan kehidupanpun berakhir. Persoalan kefanaan ini memang telah menimbulkan banyak pertanyaan yangmeminta jawaban. Apakah arti kehidupan manusia itu.........? Mengapa ada penderitaan......? Apa gunanya manusia hidup......? Ada orang ketika menghadapi segala fakta-fakta kehidupan akhirnya menyesali kelahirannya kedunia ini.
Jalan mana yang harus kita tempuh........!
Kita harus menyadari bahwa kehidupan yang harus kita pikirkan meliputi dua bagian :
1. Jalan kehidupan duniawi: kesenangan, kemewahan, prestise....namun...."hidup ini hanya satu uap/asap yang kelihatan sekejap lalu hilang (Jak 4: 14).
2. Jalan kehidupan rohani: penderitaan, tantangan, cobaan, hinaan; namun ada sukacita yang sempurna, sebab Ia membawa kita sertaNya (1 Tes 4:14-16).
Ada satu waktu dimana setiap manusia harus berdiri seperti dipersimpangan jalan untuk memilih; jalan kehidupan duniawi atau jalan kehidupan rohani. Banyak orang yang belum mempunyai tujuan yang pasti dalam kehidupannya, ada yang masih bimbang bahkan ada yang tidak sama sekali, dan menganggap bahwa jalan yang menentukan dalam kehidupan ini ialah memperjuangkan soal-soal materi dan menikmati segala kesenangan dalam dunia ini.
Benar sekali apa yang dikatakan Albert Einstein "Science without religion ia lame, religion without science is blind"; jelas sekali dari ungkapan ini, bahwa kehidupan manusia dengan ilmu pengetahuan saja tanpa agama tidaklah sempurna, lumpuh dan agama tanpa ilmu pengetahuan adalah buta.
Jalan kehidupan mana yang sedang kita tempuh.....?
Adakah diantara kita yang mengikuti jalan kehidupan duniawi tanpa memperduliakn agama, atau kita berada di tengah jalan rohani yang sedang menuntun kita kepada kehidupan yang kekal abadi.....?
Pertanyaan ini adalah suatu kebenaran yang harus kita jawab segera dan memperingatkan kita bahwa pemikiran manusia selalu keliru dan salah dan harus kita minta pertolongan dariNya.
Langganan:
Postingan (Atom)