Kamis, 29 Desember 2016

Belajar dari Bendahara yang tidak jujur Lukas 16;1-13

Mengapa Tuhan Yesus memuji bendahara yang kelihatannya tidak jujur ini dalam perumpamaanNya? Mengapa ia dikatakan telah melakukan sesuatu yang baik? Apakah ini berarti Yesus setuju dengan tindakan menipu? Apakah Yesus berpihak kepada ketidak jujuran?
Untuk memahami bagian ini kita perlu memahami budaya pada masa itu dalam hal pengelolaan keuangan yang dipercayakan kepada seorang bendahara. Pada masa itu, si pemilik modal hanya menyediakan suatu dana agar manajer yang diangkatnya mampu mengelola uang tersebut sehingga usaha tersebut menghasilkan keuntungan. Karena itu manager yang disebutnya sebagai bendahara yang menentukan tingkat besarnya suatu bunga. Sehingga risiko kerugian harus ditanggung penuh oleh bendahara; tetapi kalau dia berhasil, maka dia akan memperoleh keuntungan lebih. Dalam perumpamaan tersebut si pemilik modal mengetahui bahwa bendaharanya telah menghambur-hamburkan uang. Oleh sebab itu, sang bendahara ini segera dipanggil oleh tuannya untuk mempertanggungjawabkan  seluruh keuangan yang telah dikelolanya. Apa yang kemudian dilakukan oleh bendahara tersebut?
Di Luk. 16:5-7, bendahara tersebut mengurangi jumlah hutang dari para krediturnya. Dengan pengurangan jumlah hutang tersebut para kreditur dapat membayar hutangnya dan pada akhirnya sang bendahara dapat membayar apa yang menjadi kewajibannya kepada sang pemilik  modal sehingga dia akhirnya dapat menyelamatkan masa depan dan kariernya. Uang yang menjadi hak tuannya tidak berkurang sedikit pun sehingga ia tidak jadi dipecat. Yang dia potong sebenarnya adalah apa yang menjadi hak keuntungannya dari menjalankan usaha tersebut. Dari perumpamaan Tuhan Yesus ini, kita dapat belajar bagaimana sang bendahara memikirkan masa depannya secara cerdik. Walaupun dia pernah berbuat kesalahan besar, tetapi dia segera memperbaikinya.
Apa yang dapat kita pelajari dari kehidupan sang bendahara dalam perumpamaan ini bagi kehidupan kita?
Di dalam situasi kritis ia mengambil langkah yang tepat untuk masa depannya. Ia tidak mudah menyerah dan berputus asa saat menghadapi kegagalan. Ia tidak jatuh dalam keputusasaan atau meratapi keadaan melainkan berpikir taktis dan kreatif untuk mengatasi masalah yang ada dihadapannya.
Ia tidak sembunyi dari masalah atau mencari kambing hitam dari masalahnya, melainkan menghadapinya dan menyelesaikannya.
Ia adalah pribadi yang berorientasi pada penyelesaian masalah, bukan berfokus pada  masalah. Ia menggunakan uang yang ada dalam pengelolaannya untuk menjadi modal dalam membangun pertemanan, atau lebih tepatnya membeli pertemanan, dengan sesama yang dapat menolongnya kelak jika ia mendapat masalah, dipecat dari pekerjaannya, seperti ia pernah menolong mereka.
Meskipun Yesus memuji bendahara yang tidak jujur ini dalam memikirkan masa depan kehidupannya, Yesus pun memberikan kritiknya terhadap bendahara ini. Ayat ke-9 dapat kita lihat sebagai teguran Yesus. Bagi Yesus membangun persahabatan dengan berdasarkan materi/uang adalah sebuah kesia-siaan. Hubungan itu dibangun di atas dasar yang rapuh. Ucapan Yesus di ayat ini merupakan sindiran yang halus tetapi tajam menghujam. Barangsiapa membangun persahabatan dengan mamon (materi) yang tidak jujur akan menghasilkan perbuatan yang licik dan mendapatkan persahabatan yang semu sifatnya.
Bagi Yesus, apabila mereka yang tidak mengenal Tuhan, di saat-saat yang sulit dan kritis mampu berpikir kreatif, bukankah anak-anak Allah harusnya juga mampu berpikir lebih cerdik dan kreatif dalam menghadapi masalah dengan tetap berpedoman pada iman kita kepada Yesus Kristus.  Kreatif dan cerdik tanpa berlandaskan iman hanya akan menghasilkan tindakan memperdaya dan merugikan orang lain demi kepentingan diri sendiri. Ia akan menjadi pribadi yang cerdik tetapi licik, lihai tetapi jahat. Sikap kritis dan kreatif yang berlandaskan sikap iman akan membawa kita pada kemampuan untuk menghadapi dan mengatasi masalah dengan tetap memerhatikan apa yang menjadi hak orang lain dan kewajiban kita kepada sesama.
Iman kepada Kristus seharusnya mendorong kita untuk selalu berpikir kritis, kreatif, dan dinamis. Iman kepada Kristus Yesus adalah iman yang mampu mengalahkan pencobaan dan pergumulan hidup tanpa harus kehilangan hati nurani pada sesama, pada diri sendiri, dan kesetiaan kepada Kristus.
Tuhan memberkati.


RENUNGAN SINGKAT ( KEPALA RUMAH TANGGA ) Bacaan : Mazmur 23 : 1-6

            Tema             : ALLAH BESERTA KITA

RENUNGAN :
Puji dan syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yesus Raja Gereja karena Dia memberi waktu dan kesempatan bagi kita menjalani tahun 2016 dan masih diberi kesempatan untuk menikmati perjalanan hidup di tahun yang baru  2017. 01 Januari 2016 s/d 31 Desember 2016 telah kita lewati dengan beragam peristiwa/tantangan, baik ditengah-tengah gereja keluarga dan masyarakat, gempa bumi di Pidie Aceh yang menelan korban yang tidak sedikit, sunami sampai kepada ledakan gunung Sinabung yang tak henti2nya sampai saat ini . Namun tahun 2016 kita lewati dengan penuh sukacita.  Banyak hal yang tidak pernah kita harapkan harus terjadi…akhirnya terjadi juga.  Lalu, saat tahun 2016 kita tinggalkan, dengan lega dan lapang dada  kita mungkin berucap “ Syukur dan terimakasih Tuhan tahun 2016 berakhir – syukurlah tahun yang pahit itu berlalu…”  Sementara itu, bagi beberapa orang mungkin berucap, “ Mudah-mudahan tahun 2017”, keberuntungan tetap menjadi milikku, seperti tahun sebelumnya – atau tahun 2017, kutunggu kebahagiaan yang akan Engkau berikan padaku…”  Inilah kalimat-kalimat yang menjadi perenungan kita untuk menampakkan kepada dunia, apakah kita cukup bersyukur….atau menjadi pesimis akan hidup selanjutnya.
Saudara-saudara yang terkasih, pemazmur 23 malah menceritakan sesuatu hal yang patut kita ketahui – sesuatu hal yang sangat penting.  “Tuhanlah Gembalaku, takkan kekurangan aku…kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah Tuhan, sepanjang masa.”  Mungkin kita bertanya-tanya, “ Mengapa tahun 2016 merupakan tahun yang buruk bagiku kalau memang benar Tuhan menyertaiku…atau, Mengapa hidupku hancur di tahun 2016 kalau memang Tuhan menjanjikan seperti apa yang Ia firmankan dalam Mazmur 23 ini?…atau, apalagi bencana yang akan kuhadapi di tahun 2017 nanti???
Saudara-saudara yang terkasih, memang benar, sulit untuk memahami rencana Tuhan kalau semuanya itu kita tempatkan sesuai pemikiran/kehendak kita.  Dan, tepat sekali, kalau sesungguhnya tidak satu manusiapun menginginkan yang buruk terulang/lebih parah terjadinya di tahun 2017.  Yang pasti, selama kita masih hidup di dunia ini, …persoalan..tantangan…bahkan peristiwa apapun…semuanya harus kita hadapi.
Hanya tak perlu cemas dan takut.  Bukankah Allah sudah membuktikan penyertaanNya di sepanjang tahun 2016..?  Setidaknya, kita tidak dipermalukan – karena Dia – Allah Immauel, selalu beserta kita.  Sebab itu, janganlah takut!  Hadapilah tahun 2017 ini dengan iman yang kuat dan teguh.  Percayalah selalu kepada Dia dan setialah bersekutu kepadaNya.  Sebab Dialah, Gembala yang baik, yang tidak pernah meninggalkan domba-dombaNya, sedetikpun di dalam hidup para dombaNya.  Karena Ia kasih pada domba-dombaNya dan Dialah pemilik kita Maz 100:3.
Selamat datang tahun 2017, kusambut engkau dengan penuh sukacita karena kami punya Yesus yang selalu menyertaii kami, baik suka maupun duka sebab Roma 8 : 28 menjanjikan.


Khotbah Akhir Tahun 31 Desember 2016 Yoh 8;12-19

         “Mengikut Yesus Memperoleh Terang Hidup”
 Puji syukur kita naikkan ke hadirat Tuhan yang Maha Kuasa sang pencipta langit bumi dan segala yang ada, karena oleh karena kuasa dan kasihNya kita sudah diantar sampai pada penghujung tahun ini. Mari sejenak merenungkan perjalanan kehidupan kita, mungkin ketika mengawali tahun 2016 ada tekad yang mau kita kerjakan, kita sudah menetapkan resolusi dari setiap persoalan yang kita hadapi di tahun 2015, dan saat ini kita mau mengevaluasi seberapa efisen resolusi yang sudah kita lakukan, seberapa banyak tekad kita yang terrealisasi di tahun 2016 ini.
Menjalani tahun 2016 ini kehidupan kita mungkin tidak ada yang mulus, tanpa masalah, suka, duka silih berganti. Perlu kita mengevaluasi semua perjalanan kehidupan kita apakah semua berjalan seperti yang kita “rencanakan?” kalau iya puji Tuhan, tapi kalau tidak, coba kita renungkan apakah lebih baik atau lebih buruk dari yang kita bayangkan. Tetapi menurut saya terlalu kecil kepala kita untuk memikirkan semuanya itu, semua harus kita respons dengan iman, bahwa rancangan Tuhan bukan rancangan kecelakanan tetapi rancangan damai sejahtera, suka dan duka Tuhan pakai mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihiNya. Buntung atau untung dalam hidup kita, semuanya misteri bagi kita (seperti ilustrasi pak tua punya kuda yang mahal), bagi kita manusia semuanya misteri jika belum segala sesuatu itu berakhir.
Coba bayangkan bila dunia ini gelap gulita, tanpa secercah cahaya sedikit pun.  Pasti tidak akan ada kehidupan karena manusia tidak bisa melakukan apa-apa, dan tidak ada makhluk yang dapat hidup.  Karena itu berfirmanlah Tuhan,  "Jadilah terang. Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam."  (Kejadian 1:3-5a).  Tuhan pun melengkapi dengan benda-benda langit:  matahari, bulan dan bintang.  Dengan adanya terang, makhluk hidup dapat bertumbuh dan ada kehidupan, manusia pun dapat melakukan aktivitasnya.  Sungguh, semua orang membutuhkan terang atau cahaya.  Memang, kita memiliki mata yang berfungsi untuk melihat, tetapi apabila tidak ada terang atau cahaya, mata kita pun tidak dapat berfungsi untuk melihat.
     Saat ini dunia masih diliputi oleh kegelapan rohani karena dunia telah dipenuhi oleh segala macam kejahatan dan dosa.  Akibatnya banyak orang mata rohaninya menjadi buta sehingga mereka tidak dapat melihat kebenaran.  Kegelapan inilah yang menuntun manusia kepada kematian kekal.  Itulah sebabnya dunia sangat membutuhkan terang sejati.  Adapun terang sejati itu adalah Tuhan Yesus kristus:  "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup."  (ayat nas).  Dua ribu tahun silam Yesus menyinari dunia ini dengan terangNya yang ajaib.  Seluruh waktu, tenaga dan hidupnya Dia curahkan untuk melayani jiwa-jiwa dengan penuh kasih:  mengajar, menyembuhkan orang sakit, bahkan membangkitkan orang mati.  Bukan hanya itu, ia pun rela menyerahkan nyawaNya, mati di atas Kalvari untuk menebus dosa seluruh umat manusia.
     Kini Tuhan Yesus menyerahkan tongkat estafet itu kepada kita, anak-anakNya, untuk melanjutkan tugasNya menyinari dunia ini dengan terang sorgawi.  Tuhan Yesus berkata,  "Kamu adalah terang dunia. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."  (Matius 5:14, 16).
Tuhan Yesus adalah Terang Sejati bagi dunia!
 Yesus mengatakan bahwa diriNya adalah Terang dunia.
   Pernyataan Yesus sebagai terang dunia, secara implicit menunjukkan bahwa dunia ini gelap.
·        Gelap berhubungan dengan:
*        bahaya.
*        ketidak-nyamanan.
*        ketakutan.
·        Kegelapan juga merupakan simbol dari macam-macam hal, seperti:
*        Dosa (Ef 5:8-13  1Yoh 1:6).
*        Dosa specific, seperti kebencian (1Yoh 2:11).
*        Keadaan dikuasai oleh setan atau tunduk kepada setan, karena setan dikatakan sebagai pemerintah / penguasa / penghulu dunia yang gelap ini (Ef 6:12).
*        Ketidaktahuan / kebodohan rohani (Ef 4:18).
*        Jalan yang salah / berbahaya (Maz 35:6  Amsal 4:19).
*        Kematian tanpa harapan (1Sam 2:9  Ayub 10:21-22).
*        Neraka (Mat 8:12  22:13  25:30).
Kalau kegelapan dalam 5 arti pertama saudara biarkan dalam diri saudara, maka kegelapan dalam arti ke 6 dan ke 7 akan menyusul! Karena itu janganlah biarkan semua itu, dan datanglah kepada Yesus, yang adalah Terang dunia! Kalau saudara lakukan itu, maka saudara akan bebas dari semua kegelapan itu!
 Yesus adalah Terang dalam arti yang sesungguhnya (bdk. Yoh 1:4-9).
Sebagai orang percaya, kita juga disebut sebagai terang dunia (Mat 5:14-16  Fil 2:15), tetapi dalam arti: Kita hanya memantulkan terang dari Kristus, sama seperti bulan memantulkan terang dari matahari.
Penetrapan;
Apakah saudara meletakkan ‘dunia’ di tengah-tengah diri saudara dan Kristus? Apakah uang / pekerjaan / TV / kesenangan dunia lainnya menyebabkan saudara sering tidak berbakti, belajar Firman Tuhan, bersaat teduh, melayani, ataupun mentaati Tuhan? Kalau ya, bertobatlah! Janganlah seperti Demas yang mencintai dunia ini dan lalu meninggalkan Paulus / pelayanan (2Tim 4:10)!
Kita tidak pernah mau tinggal di suatu tempat yang gelap dan tanpa cahaya. Kita berusaha menghindarinya. Kegelapan membuat kita takut, khawatir, dan gelisah. Kegelapan juga mengingatkan kita pada kejahatan, kekuatan yang merusak, Iblis, dan dosa. Kegelapan dunia memperlihatkan kegelapan hati manusia yang rusak karena dosa. Kekerasan, pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, dan lain-lain menunjukkan kerusakan sosial yang terus meningkat. Iri hati, dengki, dendam, cemburu, marah, serakah, munafik, dan lain-lain juga sering merasuk ke dalam kehidupan kita sendiri.
Disadari atau tidak, manusia merindukan dan mencari “Terang” untuk mengatasi “kegelapan” di dalam dirinya dan di sekitarnya. Mungkin hal ini menegaskan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang dicipta menurut gambar dan rupa-Nya. Pencarian manusia kembali kepada kesadaran yang bermula dari penciptaan. Hal yang pertama-tama Allah lakukan dalam penciptaan adalah menghadirkan terang di dalam dunia karena dunia membutuhkan terang. Gambaran “terang” yang Allah firmankan saat penciptaan adalah memisahkan terang dari kegelapan.
Sejak dari awal Injil Yohanes sudah menyaksikan bahwa Yesus adalah Terang (Yoh. 1). Terang itu adalah Allah. “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya” (1:5). “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia” (1:9). Apa yang diulang kembali di sini adalah Allah sedang menciptakan kembali apa yang sudah rusak karena dosa. Penciptaan pertama diawali dengan hadirnya terang yang memisahkan kegelapan. Penciptaan kembali atau “lahir baru” diawali dengan datangnya Sang Terang ke dalam dunia atau kehidupan manusia (Yoh. 3:3-7; 2Kor. 5:17).
Yohanes dapat bersaksi tentang Sang Terang itu (1:7) karena Sang Terang, dan juga Bapa di sorga, sudah bersaksi tentang diri-Nya (8:18). Kesaksian itu benar adanya karena Saksi menyaksikan tentang diri-Nya yang berasal dari kekekalan sampai pada kekekalan. Kehadiran Sang Terang melampaui mereka yang mendengar kesaksian tersebut. Ada dua sikap bagi penerima kesaksian, apakah seperti Yohanes yang menerima kesaksian tersebut atau orang-orang Farisi yang menolaknya. Karena itu, Ia berhak untuk menghakimi atas mereka yang percaya, mengikuti dan menerima-Nya dan juga atas mereka yang tidak percaya dan menolaknya.
Kita percaya dan menerima Yesus, Sang Terang Dunia, maka kita disebut anak-anak terang (Ef. 5:8). Marilah kita selalu mengingat dan menjalankan ajaran Yesus: “kamu adalah terang dunia” (Mat. 5:14). Amen


Senin, 12 Desember 2016

Khotbah Efesus 3:20-21 “Tuhan Memberikan Melebihi yang kita Pikirkan dan Doakan Kepada-Nya”



 Rasul Paulus dlm Efesus 3:14-21 sekaligus mengajarkan keagungan kasih Kristus. Memahami kasih Kristus memang bukan sesuatu yang mudah. Kasih ini begitu sempurna dan melampaui segala pengetahuan, sehingga untuk memahaminya merupakan sebuah pergumulan spiritual, bukan hanya intelektual belaka.
Dalam teks ini Rasul Paulus menunjukkan sikapnya dalam berdoa, yaitu “sujud” (ayat 14a). Ia lalu menjelaskan obyek doanya, yaitu Bapa sebagai sumber segala keturunan (ayat 14b-15). Setelah itu ia menaikkan tiga isi doa yang ditandai dengan kata sambung “supaya" di ayat 16, 18, dan 19b. Bagian terakhir dari doa ini adalah sebuah pujian (doxology) kepada Allah (ayat 20-21).
Rasul Paulus mendoakan agar jemaat di Efesus dikuatkan dan diteguhkan oleh Roh Kudus yang ada dalam hati mereka, berakar dan berdasar di dalam kasih, memahami kasih Kristus, serta dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah (3:16-19).
Roh Kudus adalah sumber kekuatan bagi orang percaya. Tanpa Roh Kudus, kita akan dipenuhi oleh ketakutan dan keragu-raguan di dalam menjalani kehidupan Kristen. Kita harus meyakini bahwa setiap orang percaya telah memiliki Roh Kudus di dalam hatinya (1:13). Bila Roh Kudus menguasai hidup kita, kita akan bertumbuh menjadi seorang Kristen yang normal. Iman kita tidak mudah tergoncang oleh kesukaran dan penderitaan. Dalam keadaan apa pun, kasih akan mewarnai kehidupan kita.
Memahami kasih Kristus merupakan sumber kekuatan dalam menghadapi kesukaran dan penderitaan, sekaligus membentuk pola dalam berinteraksi dengan orang lain. Memahami kasih Kristus akan membuat penderitaan dan kesukaran menjadi tidak terasa, karena kasih Kristus jauh lebih besar daripada semua masalah yang kita hadapi. Memahami kasih Kristus juga akan membangkitkan dorongan dalam hati kita untuk membagikan kasih Kristus kepada orang lain.
Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS), perkataan "dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah" (3:19) diterjemahkan menjadi "penuh dengan kepribadian Allah yang sempurna." Hal ini berarti bahwa seharusnya orang percaya mencerminkan kepribadian Allah di dalam kehidupannya (Bandingkan dengan Kejadian 1:26; Matius 5:48). Bila kehidupan kita memancarkan kepribadian Allah yang penuh kasih, niscaya kita akan menjadi saksi Kristus yang efektif.
Saudara, ketika saudara berdoa, reaksi apa yang saudara harapkan dari Tuhan? Kenapa hal ini penting? Karena ini akan menentukan sikap saudara terhadap doa, bagaimana saudara berdoa.
Banyak orang Kristen berdoa sekadar untuk menghilangkan rasa bersalah – karena kalau belum berdoa kok rasanya ada yang mengganjal ya; atau, ada juga yang berdoa karena kebiasaan – jadi sudah otomatis, sudah jadi refleks: lipat tangan, tundukkan kepala, tutup mata, lalu mengalirlah kata-kata yang sama dari hari ke hari, tahun demi tahun.
Saudara, ketika saudara berdoa, seberapa jauh saudara menyadari bahwa saudara tengah berdialog dengan Allah yang mahakuasa, yang dalam kasih-Nya yang besar kepada kita telah membuat rencana-rencana yang baik untuk kita dan yang dalam kemahakuasaan-Nya mampu mewujudkan rencana-rencana-Nya itu?
Masalah kita adalah, kata C.S. Lewis, “kita terlalu mudah dipuaskan.” “Kalau kita melihat janji-janji yang besar yang Allah janjikan di dalam Kitab Suci, akan jelas sekali bahwa bagi Tuhan gairah kita, keinginan-keinginan hati kita, mimpi-mimpi kita, bukannya terlalu menggebu-gebu, tetapi sebaliknya, terlalu loyo, terlalu lunglai, terlalu melempem. Kita adalah makhluk-makhluk setengah hati, terlalu mudah dipuaskan oleh kesenangan sesaat dan ambisi yang dapat terlihat oleh mata kita sementara kita mengabaikan sukacita tak terbatas yang ditawarkan kepada kita; kita seperti seorang anak yang ngambek karena dia belum puas bermain-main dengan lumpur di depan gubuknya sementara orang tuanya mau mengajak dia berlibur ke pantai. Kita terlalu mudah dipuaskan.”
Padahal, Yoh. 1:12 mengatakan, “Semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah ….” Ini yang dituliskan juga oleh Rasul Paulus dalam Ef. 3:20 yang kita baca, “seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.” Atau, dalam terjemahan Bahasa Indonesia Masa Kini, “Dengan kuasa Allah yang giat bekerja di dalam diri kita, Allah dapat melakukan jauh lebih banyak daripada apa yang dapat kita minta atau pikirkan.”
Nah, saudara, apa yang ada dalam benak saudara ketika saudara membaca kata-kata Rasul Paulus ini, “jauh lebih banyak daripada apa yang dapat kita minta atau pikirkan”? Apa yang biasanya saudara minta kepada Tuhan? Keinginan-keinginan semacam apa yang menguasai pikiran saudara? … Apakah saudara puas dengan apa yang saudara minta itu?
Mari kita bandingkan dengan apa yang ada dalam doa dan pikiran Rasul Paulus, di Ef. 1, mulai ay. 16: “[A]ku selalu mengingat kamu dalam doaku, dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia (1) memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan (2) supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya.”
Ini yang penting bagi Rasul Paulus. Ini satu hal yang bisa memuaskan dia. sama seperti Rasul Paulus, ketika pandangan kita tertuju kepada Kristus, maka perspektif kita akan berubah. Kita akan melihat dunia dengan lebih jelas dari perspektifnya Tuhan. Apa yang penting bagi Tuhan menjadi penting bagi kita; apa yang kecil di mata Tuhan akan menjadi kecil di mata kita; apa yang menjadi prioritas di mata Tuhan akan menjadi prioritas di mata kita. Dan karena tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, maka kita bisa percaya bahwa ketika kita menerima Yesus yang datang ke dalam dunia untuk mati di kayu salib bagi kita sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat kita – ketika saudara menerima Dia yang menjanjikan bahwa Roh Kudus akan hadir dan tinggal di dalam saudara untuk selama-lamanya (Yoh. 14:16-17) – Amen RHL

Khotbah Awal Tahun Ibu2 Kel. Tobing Jakarta Selatan. " Istri yang bagaimanakah anda" ?



Ilustrasi: Istri yg bijak sana akan selalu menerapkan  5.M

Saudari-saudari perempuan yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus! Wanita Kristen mempunyai peranan yang sangat penting ditengah-tengah keluarga, masyarakat dan gereja. Benar wanita itu harus menduduki tempat yang sederajat dengan pria/suami. Hawa dijadikan dari tulang rusuk adam, dia bukanlah kepala atau kaki atau telunjuk adam. Karena itu perempuan/istri adalah teman, sahabat dan jodoh dari pria/suami. Sebab itu istri harus berdiri berdampingan atau sederajat dengan suami, mempunyai tanggung jawab yang sama dan sangat penting ditengah-tengah keluarga. Namun yang menjadi masalah perempuan/istri tidak pernah menyadari kedudukannya ini baik ditengah-tengah keluarga masyarakat maupun gereja sehingga sering terjadi kekerasan oleh karena tidak ada saling pengertian. Gereja-gereja di seluruh dunia telah menyepakati tahun 2001-2010 sebagai dasa warsa mengatasi kekerasan, dasa warsa ini merupakan respons gereja-gereja terhadap meningkatnya kekerasan secara global, bukan saja ragam bentuknya atau cara-cara yang digunakan tetapi juga skalanya. Dilihat dari segi skala, kekerasan kini dilakukan secara terorganisir dan mengglobal dengan menggunakan jaringan teknologi yang sangat canggih. Dengan menyepakati dasa warsa ini berarti gereja-gereja di seleruh dunia bertekad untuk ambil bagian dalam mengerahkan daya, dana dan waktu untuk mengatasi kekerasan dalam semua bidang kehidupan termasuk kekerasan terhadap perempuan. Untuk itu kita perlu menyadari apa fungsi kita sebagai perempuan/ibu dan tergolong istri yang bagaimanakah kita ? dimata suami, anak, mertua dan saudara-saudari lainnya agar kekerasan ini dapat semakin ditekan. Sdi.. Melalui kebaktian persekutuan perempuan kristen Asia ini kita akan mencba memaparkan peranan, sikap perempuan yang dilihat dari kacamata kristen. Sehingga kita tahu tergolong istri yang bagaimanakah kita ?
  1. Sarah (Istri Abraham) : Kejadian 12 ;
Istri yang bagaimanakah sarah ini ? pada waktu Allah memerintahkan kepada Abraham untuk meninggalkan tanah kelahirannya, saudaranya, rumahnya, hartanya dan segalanya disinilah nampak Sarah adalah istri yang sangat setia sebab dia yakin bahwa Tuhan akan memberikan janji-Nya kepadanya.Dia tdk menolak utk ikut Abraham.
  1. Delilah (istri Simson yang jelita) Hakim-hakim 14 ;
Kecantikan delilah membuat simson jadi gelap mata ia silau karena paras yang jelita padahal delilah adalah istri yang matrealistis. Simson tidak menyadari bahwa sesungguhnya delilah lebih mencintai harta daripada dirinya sendiri. Delilah istri yang menghianati suami, istri yang memperalat air matanya untuk mengadu harta dan mencelakakan suami.
  1. Maria (Ibunda Yesus) Lukas 2 : 19;
Wanita yang rendah hati yang pasrah yang menyimpan segala perkara di dalam hatinya, yang tidak suka membeberkan mengenai keluarganya kepada orang lain.
  1. Martha & saudara Maria (Wanita yang rajin dan cekatan) Lukas 10
Pada situasi sekarang ini sering kita dengar apa yang dikatakan wanita karir dan juga eman sipasi perempuan. Karena tuntutan eman sipasi tadi maka banyak kaum ibu menghabiskan waktunya di luar rumah, sibuk dengan segala macam urusan, arisan, salon kegiatan sosial dan lain-lain, karena kesibukan ini dan ikut menggalakan emansipasi maka segala urusan rumahtangga diserahkan kepada pembantu.Anak2 akhirnya lebih dekat dgn pembantu, bahkan merindukan pembantu dari ibunya.Ill. ONAN
  1. Monica (Ibunda Agustinus Bapa Gereja yg terkenal itu) ;
Monica mempunyai penderitaan batin yang amat sangat. Suaminya seorang kafir anaknya Agustinus selalu menyusahkannya sedangkan monica sendiri pengikut kristus yang setia. Didalam keputusannya menghadapi anak dan suaminya yang selalu menyusahkannya ia hanya pasrah kepada Tuhan dan berdoa. Dengan kekuatan itu dan iman yang ada padanya yang tidak jemu-jemu berdoa kepada Tuhan agar suami dan anaknya berobah sikap, doanya dikabulkan Tuhan yang akhirnya agustinus menjadi Bapak Gereja yang terkenal.
  1. Chatarina Vonbora (Istri dari Martin Luther Bapak Reformator) ;
Vonbora yang terus menerus berjuang untuk mendukung suaminya agar menegakkan kebenaran sehingga perjuangan Marthin Luther berhasil.
Dari keenam contoh ini di pihak manakah saudari ? jawablah didalam hatimu masing-masing.

DR. Emili Hartshorn Mudd dalam artikelnya Woman Finest Role dalam buku Succesfull Mariage (Perkawinan yang sukses)  untuk memenuhi syarat sebagai seorang istri yang sukses maka perlu :
  1. Harus memiliki kualitas sebagai diplomat wanita :
Sebab ada saja permasalahan yang sulit atau timbul ditengah-tengah keluarga dan gereja yang satu melapor begini dan sepihak melapor begitu, sehingga si istri harus pandai mendamaikan, bertindak serba bijaksana dan sikap itulah yang disebut diplomat.
  1. Keterampilan sebagai seorang pengusaha :
Mengatur hidangan keluarga, perbelanjaan anak dan memenuhi segala pembayaran rumah tangga seperti, Listri, air, sampah memerlukan keahlian mengatur keuangan. Seorang pungusaha harus berhemat karena hemat itu pangkal kaya dan boros itu ujung dari kemiskinan.
  1. Kemampuan sebagai juru masak yang baik :
Mungkin sebagai juru masak yang bisa menghidangkan makan siang yang penting dapat menitikan selera di tengah-tengah keluarga. Biarlah wajah tidak secantik; Listailor tidak seayu; ayu azhari, suaranya tidak semerdu; Krisdayanti tetapi masakannya sedap dilahap niscaya kalah kecantikan dan keayuan tadi seorang suami.
  1. Seorang perawat yang terlatih :
Kecermatan sebagai perawat perlu dimiliki seorang istri yang mengharapkan sukses dan berlanjut dalam perkawinan, sebab pada waktu suami jatuh sakit dan anak-anaknya perlu kesabaran sebagai perawat.
  1. Kesanggupan sebagai guru :
Yang mampu mendidik, membimbing mengajar dan memberi semangat kepada suami dan anak.
  1. Kecantikan sebagai Ratu ayu :
Suami mana yang tidak mencari istri yang cantik, menarik dan ramping yang dapat menyambut suami dengan senyum rapi dan bergairah.

Keenam syarat ini jika dapat dilaksanakan akan menghasilkan keluarga yang bahagia semoga Tuhan memberkati kita. Amin
 Pdt. R.H.L. Tobing.S.Th. MA

Khotbah Natal Tahun 2016 Thema: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud”.



Gempar,Sibuk.Repot.Pada saat Kelahiran Yesus Juru Selamat itu.
Setiap merayakan Natal hati kita dipenuhi rasa syukur dan sukacita. Allah berkenan turun ke dunia, masuk ke dalam hiruk-pikuk kehidupan kita. Allah bertindak memperbaiki situasi hidup umat-Nya. Berita sukacita itulah yang diserukan oleh Malaikat: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Luk 2:11).
Natal menjadi momen di mana tidak hanya orang Kristen yang merayakan Natal, orang-orang non-Kristen pun “merayakan” Natal. Caranya, dengan memasang pohon Natal dan aksesoris Natal lainnya di toko mereka atau menggelar diskon besar-besaran di toko/swalayan/dll mereka (tidak ada bedanya dengan hari raya lainnya). Natal sepertinya sudah menjadi tradisi setiap tahun yang tidak ada bedanya dengan hari raya lainnya.
Inti Natal adalah Kristus yang lahir. Jika kita memperhatikan Lukas 2:11, secara konteks, para malaikat Tuhan memberitahukan kepada para gembala di situ bahwa pada hari itu telah lahir bagi mereka Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Para malaikat TIDAK memberitakan bahwa pada hari itu telah lahir bagi mereka: Penolong kaum tertindas, Pembebas mereka yang terbelenggu penjajah, pemberi berkat, dll, seperti konsep “Natal” ala postmodern sekarang. Mengapa para malaikat tidak memberitakan hal tersebut? Karena itu TIDAK penting dan berpusat kepada manusia (antroposentris), sedangkan maksud Kristus diutus adalah menggenapkan kehendak Allah (Theosentris), sehingga yang diberitakan oleh para malaikat adalah berita Theosentris, bukan antroposentris  atheis.
Mari kita menyelidiki berita Theosentris tersebut. Ada tiga jabatan yang langsung dikenakan kepada Tuhan Yesus di dalam Lukas 2:11 ini, yaitu: Juruselamat, Kristus, dan Tuhan. Mari kita menelusuri ketiga jabatan ini beserta implikasinya.
Sebagai Juruselamat, kelahiran Kristus dan karya-Nya di dunia adalah menyelamatkan umat pilihan Allah dari dosa-dosa yang membelenggu mereka. Sejak zaman Perjanjian Lama, bangsa Israel menantikan kedatangan Juruselamat yang dapat membebaskan mereka dari penjajahan. Konsep mereka tentang Juruselamat adalah konsep antroposentris humanis yang tidak ada bedanya dengan konsep “Natal” ala postmodern sekarang. Akibatnya ketika Kristus hadir di tengah-tengah mereka sebagai Pribadi yang “lemah,” seolah-olah “tidak berkuasa,” tidak berpasukan, dll, mereka akhirnya banyak yang menolak-Nya. Kedatangan Kristus bukan bermakna fisik/jasmaniah (membebaskan Israel dari penjajahan), tetapi rohani, yaitu menyelamatkan umat pilihan Allah dari dosa-dosa yang membelenggu mereka. Hal ini terus ditekankan oleh Tuhan Yesus kepada para murid-Nya, tetapi sayangnya, menjelang Tuhan Yesus naik ke Sorga, para murid-Nya masih bertanya, kapan Dia akan memulihkan Kerajaan Israel (Kis. 1:6). Hari ini, di hari Natal, kita diingatkan kembali, bahwa Kristus yang lahir bagi kita adalah Kristus, Sang Juruselamat, yang menyelamatkan kita dari belenggu dosa. Sejak kita masih seteru/musuh Allah, Allah telah mengasihi kita dengan mengutus Kristus sebagai Juruselamat yang mendamaikan Allah yang Mahakudus dengan kita yang berdosa (Rm. 5:10). Kelahiran Kristus ini memberikan pengharapan kepada kita bahwa ada jalan keluar dari dosa, yaitu penebusan Kristus. Dosa manusia tidak bisa diselesaikan dengan cara manusia melalui perbuatan baik (amal), karena semakin manusia berbuat “baik” (supaya diselamatkan dan masuk “sorga”), manusia semakin berbuat dosa. Sebagai Kristus, Ia adalah yang Diurapi oleh Allah (Messiah). Kedua, Tuhan Yesus bukan hanya sebagai Juruselamat, Ia juga adalah Kristus yang berarti yang Diurapi oleh Allah (anointed). Sebagai Yang Diurapi oleh Allah, Kristus yang diutus oleh Allah Bapa mengemban mandat penting yaitu menggenapkan karya penebusan bagi umat pilihan yang berdosa. Berarti, Kristus sendiri adalah Utusan Allah sekaligus Pribadi kedua Allah Trinitas. Sebagai Tuhan, Ia adalah Tuhan yang harus disembah dan ditinggikan. Setelah para malaikat mengatakan hal ini, mereka bersama-sama menaikkan puji-pujian yang memuliakan Allah (baca ayat 14). Jika kita membaca kisah orang-orang Majus dari Timur di Matius 2, Matius mencatat bahwa di hadapan bayi Kristus, mereka sujud menyembah dan memberikan persembahan (Mat. 2:11). Semuanya ini membuktikan bahwa Kristus adalah Tuhan yang harus disembah dan ditinggikan. Kata “Tuhan” yang dipakai di dalam Lukas 2:11 menggunakan bahasa Yunani kurios yang berarti Tuan (Lord) atau Master (Guru).
Di bawah ini saya mengutip sebuah Doa yang dipanjatkan oleh salah seorang Bapa Gereja yang bernama Francis De Asisi :
Tuhan, Jadikan aku alat bagi Kedamaian Mu,
Di mana ada kebencian, biarlah aku menabur Kasih
Di mana ada luka hati, biarlah aku menabur pengampunan
Di mana ada kebimbangan, biarlah aku menabur iman
Di mana ada keputus-asaan biarlah aku menabur pengharapan
Di mana ada kegelapan , biarlah aku menabur terang
Dan di mana ada kesedihan, biarlah aku menabur suka-cita
Oh Tuhan, tolonglah agar aku tidak mencari untuk dihibur, tetapi aku ingin menghibur, aku
tidak mencari untuk dimengerti tetapi mengerti.
Tidak mencari untuk dikasihi, tetapi mengasihi,
Karena hanya dalam memberilah, kami menerima; dan mengampunilah kami diampuni. Dalam kematianlah, kami lahir kehidupan yang kekal. Amin